Skip to content

Yulianto Terlacak di Surabaya, Pukulan Telak Polri & Pengacara Anggoro

November 9, 2009
https://i2.wp.com/suaramerdeka.com/foto_smcetak/49381fc7367d3.jpg

Devid dan Kemat

Pendahuluan

Pertengahan 2008 silam, kita dikejutkan dengan kasus “Ryan Jombang” yang membunuh (dan sebagian dimutilasi) setidaknya 11 korban. Dalam penyelidikan kasus mutilasi, pada Agustus 2008 Ryan mengaku bahwa salah satu mayat di pekarangan orang tua Ryan di Desa Jatiwates, Tembelang, Jombang adalah Asrori. Padahal 3 bulan sebelumnya, Mei 2008, PN Jombang telah memvonis Imam Hambali alias Kemat (26 th) 17 tahun penjara  dan Devid Eko Priyanto (17 th) 12 tahun penjara. Mereka didakwa karena telah membunuh Asrori yang mana mayat Asrori ditemukan dikebun tebu di Desa Bandarkedungmulyo – Jombang.

Setelah uji DNA, ternyata mayat di kebun tebu adalah Fauzin Suyanto (warga Nganjuk)  yang dibunuh oleh Rudi alias Rangga. Dengan begitu meyakinkan, PN Jombang menyampaikan ‘fakta-fakta’ hukum di persidangan bahwa mayat “Asrori” di kebun tebu (seharusnya Fauzin) dibunuh oleh Kemat dan Devid serta dibantu oleh Maman Sugianto. Dengan begitu meyakinkan pula, Polsek Bandarkedungmulyo dan Polres Jombang bahwa mereka telah melakukan penyelidikan dan penyidikan yang benar dan memastikan bahwa mayat di kebun tebu beserta pembunuhnya melalui PN Jombang.

Namun, pada akhirnya fakta penyelidikan dan penyidikan pihak kepolisian Jombang penuh dengan rekayasa dan intimidasi. Dalam wawancara dengan Surya Online di penjara Agustus 2008 silam, terungkap bahwa Kemat,  David dan Sugik dipaksa dan diancam untuk mengakui “rekayasa” telah membunuh “Asrori”. Tubuh dan kepala Kemat dipukul, lalu dibawah todongan senjata api, Kemat maupun David harus mengiyakan bahwa mereka melakukan aksi pembunuhan, suatu tindakan yang tidak pernah mereka lakukan. Dengan intimidasi dan kekerasan, BAP direkayasa oleh para penyidik Bareskrim Polsek Bandar Kedungmulyo Jombang. (Selengkanya: Kompas – Pengakuan Imam Hambali dari Penjara)

Dipaksa mengakui sesuatu yang tidak pernah dilakukan terlebih tindakan pembunuhan membuat Kemat depresi. Dan selama di tahanan polres, karena dipaksa dengan intimidasi dan kekerasan,  Kemat dalam satu kesempatan mencoba bunuh diri (Okezone). Selama lebih 1/2 tahun kebebasan hidup Kemat dan David dikerangkeng oleh oknum polisi, dan kejaksaan yang menangani kasus “Fauzin” Jombang yang tidak profesional dan bejat. Selama lebih 6 bulan dipenjara atas ketidakprofesional dan kebejatan Polres Jombang, akhirnya David dan Kemat dibebaskan pada Desember 2008 (Okezone).

Jangan Sampai Ari Muladi (Bibit-Chandra) Jadi “Kemat Jombang cs”

Kisah Kemat cs diawal mengingatkan kita dan juga pak polisi agar tidak mengulangi skenario yang sama pada kasus Bibit dan Chandra. Nasib tragis yang dialami Kemat cs bukanlah satu-satunya “bencana kiriman” aparat Polri. Ada banyak kasus serupa yang dialami oleh rakyat hanya karena polisi malas! Polisi malas mengusut tuntas suatu kasus secara profesional dan jujur. Polisi malas mencari bukti yang memadai. Justru sebaliknya, mereka memaksa tersangka untuk mengikuti skenario para penyidik. Dengan kuasa dan gelar  “penegak hukum” yang dimiliki, oknum polisi bisa merekayasa penyidikan suatu kasus.

Indikasi bahwa “tragedi Kemat Jombang cs” akan terulang kembali pada Ary Muladi (saksi kunci kasus Bibit-Chandra) semakin tampak. Dibawah tekanan, Ary Muladi, tersangka kasus penggelapan uang Anggodo Widjojo, pada Berita Acara Perkara (BAP) 15 Juli 2009  mengakui bahwa dia menyerahkan langsung aliran dana Rp 5,1 miliar kepada pimpinan KPK.  Namun beberapa saat setelah menjalani penahanan, Ary mencabut berita acara itu.

Pada BAP Agustus 2009, Ary Muladi mengatakan bahwa ia menerima uang dari Anggodo, lalu menyerahkan langsung kepada rekannya lagi, Anto Yulianto, warga Jalan Dharma Husada Indah.

“Saya tegaskan di sini sosok Yulianto itu benar-benar ada. Tidak seperti yang dikatakan sebelumnya (oleh kepolisian), bahwa dia tidak pernah ada…. Saya akan mencarinya….
Yuliatno memiliki ciri-ciri memiliki alis lurus, dan wajahnya mirip keturunan Tionghoa. Namun sesungguhnya Yulianto adalah pribumi. Kulitnya lebih bersih, berbadan atlteis dan lebih tinggi sekitar 5 cm dari saya.”
(Ary Muladi)

Ary mengungkapkan penyerahan dana kepada Yulianto itu dilaksanakan dalam tiga paket.

  1. Anggodo menyerahkan uang senilai Rp 3,75 miliar. Uang itu diserahkan di Karaoke Deluxe, Hotel Peninsula. Dan uang itu lalu langsung diserahkan ke Yulianto di Bakoel Coffee. Uang itu diduga diteruskan lagi kepada Wakil Ketua KPK M Jasin dan Ade Rahardja di apartemen Bellagio.
  2. Penyerahan senilai Rp 400 juta. Pecahan uang tersebut dalam bentuk dolar Singapura.  Namun, Ary tidak melihat sendiri penyerahan uang Yulianto ke pihak akhir.
  3. Penyerahan senilai Rp 1 miliar. Yulianto menyuruh Ary menunggu di sekitar kantor Rajawali Nusantara Indonesia (RNI), Jalan Denpasar. Penyerahan ketiga ini untuk mantan Direktur Penindakan KPK Bambang Widaryatmo di Trattoria kafe di Wisma Karya.

Terkait penyerahan dana itu, Anggodo pernah mengajak Ary bertemu Kabareskrim Susno Duadji. Pertemuan berlangsung dua kali. Ini untuk meyakinkan Susno, bahwa ada penyerahan dana kepada pimpinan KPK sesuai yang dibikin sebelumnya.

Pada penyidik pada BAP Agustus tersebut, Ary menegaskan bahwa ia tidak pernah bertemu dengan dua Wakil Ketua KPK (non aktif) Bibit Samad Rianto dan Chandra M Hamzah, serta Deputi Penindakan Ade Rahardja. Dia juga mengaku hanya sekali ke KPK. Itu karena  diminta tolong Anggodo menyampaikan bahwa Anggoro tak bisa menghadiri pemeriksaan sebagai saksi korupsi. Ary mengenal Yulianto itu sejak 1999 melalui seorang sehabatnya lagi bernama H. Labid (sudah meninggal 9 Juli silam) di Surabaya.

Karena pengakuan barunya itu, pihak penyidik menjadi gerah dan berusaha mempengaruhi Ary agar kembali pada BAP 15 Juli.  Tidak tanggung-tanggung, Ary Muladi dijanjikan dibebaskan kalau mau kembali ke BAP yang pertama. “Tapi malamnya saya tidak bisa tidur. Nurani saya harus mengatakan yang sebenarnya,” ucapnya (jambi).

Sayangnya, pengakuan terbaru (BAP Agustus) Ary Muladi tidak ditanggapi serius oleh penyidik Direktorat III Mabes Polri. Para penyidik tidak berusaha mencari sosok Anto Yulianto yang disebut-sebut Ary Muladi pernah tinggal di kompleks Darmahusada Permai III Blok V Nomor 411/19, Kelurahan Mulyorejo, Kecamatan Mulyorejo, Surabaya.

Pihak penyidik Polri justru bereuforia memenangkan pertarungan “cicak vs buaya” dengan menekan Ari Muladi kembali ke BAP 15 Juli agar Bibit dan Chandra dapat dijebloskan penjara. Sayangnya, Kapolri Bambang Hendarso Danui larut dalam ketidakprofesional anggotanya dengan membeberkan pernyataan-pernyataan yang jauh dari realitas (5 Fakta Kebohongan Polri dalam RDP Komisi III DPR). Dalam beberapa kesempatan pihak Polri dengan enteng menyebut bahwa Ary Muladi berbohong karena tokoh “Yulianto” adalah misterius bahkan menurut pengacara Anggoro adalah fiktif.

Meskipun Ary Muladi telah menyebut identitas yang relatif cukuo (ciri-ciri dan domisili si Yulianto), namun Kapolri ‘berseloroh’ bahwa sosok Yulianto tidak ketemu (Kalau tidak ada upaya maksimum mencari, apakah mungkin menemukannya pak?!!). Setelah media menyoroti hal ini, barulah Tim Mabes Polri turun ke Surabaya untuk mencari Yulianto dan Latif yang disebut-sebut Ary Muladi. Hal itu terungkap dari pernyataan Kabid Humas Polda Jatim Kombes Pol Pudji Astuti di Surabaya, Sabtu 7 November 2009 (vivanews). Jadi, bukankah polri telah melakukan kebohongan kepada publik pada pers konferensi sebelumnya yang menyatakan bahwa mereka telah  mencari namun tidak menemukan sosok Yulianto? Yang menjadi pertanyaan, apakah benar-benar telah mencari atau hanya sekadar “mencari”?

Mengapa pihak polri lebih yakin bahwa dana Rp 5.1 miliar mengalir langsung dari Ari ke pimpinan/pejabat KPK? Mengapa pihak polri tidak menerapkan asas praduga tak bersalah pada Bibit dan Chandra? Mengapa dalam kasus ini, tampak sekali polri berusaha ‘menembak’ dua pimpinan KPK ini? Mengapa pihak polri selama berbulan-bulan berusaha tidak memeriksa pengakuan terbaru Ary Muladi? Jangan salahkan publik tidak percaya pada polri, jika kami memiliki analisa sederhana ini.

Yulianto Terlacak di Surabaya, Pukulan Telak Buat Polri dan Pengacara Anggoro

Nama Yulianto yang disebut-sebut oleh Ari Muladi telah diserahi uang miliaran rupiah untuk diberikan kepada dua pimpinan Komisi Pemberantasan Korupsi non Aktif Bibit dan Candra setidaknya bukanlah nama fiktif. Dari penelusuran Tempo, Minggu (8/11) ada sebuah rumah di Kompleks Darmahusada Permai III Blok V Nomor 411/19, Kelurahan Mulyorejo, Kecamatan Mulyorejo, Surabaya, setidaknya merupakan rumah Yulianto. Ketika Tempo menanyakan ke 118 tentang nomor telpon di rumah ini dijawab jika rumah itu atas nama Yulianto dengan nomor telpon 0315943XXX.

Ketika Tempo melacak kepada ketua RW setempat, ternyata nomor telpon sudah berganti ke 0315933XXX. Ketua RW XI keluarahan Mulyorejo, Prapto Wardoyo menambahkan, dari daftar Kartu Keluarga yang ada di tangannya, rumah itu saat ini dihuni oleh keluarga Kho Yohanes Kosuma yang merupakan warga asal Ternate. Istri Yohanes, Tjie Lenny Tjiemanto, mengatakan keluarganya merupakan pemilik sah rumah itu.  Menurut Lenny, rumah itu asalnya memang milik Yulianto. Pemilik rumah lama pernah menyulap rumah itu menjadi tempat usaha konfeksi. Pengelolanya adalah istri kedua Yulianto. Kebetulan, yang bertransaksi untuk membeli rumah dengan istri kedua Yulianto juga bukanlah dirinya melainkan adiknya yang bernama Doni Kosuma.

Ketua Ikatan Penasihat Hukum Indonesia (IPHI) Jawa Timur R Henry Rusdijanto, SH, mengatakan, pada 1997 Yulianto pernah terlibat kasus penipuan tanah. “Ia dikenai hukuman selama satu tahun, namun mulai dari Polwiltabes hingga ke Pengadilan Negeri Surabaya tidak sempat dimasukkan ke penjara,” katanya.

Sosok Yulianto tersebut akhirnya muncul kembali pada 2005. Saat itu Yulianto sempat mengontak dirinya dan mengajaknya bergabung di kantornya untuk membentuk sebuah kantor biro jasa di sebuah daerah di Jakarta. Namun, sejak tahun 2005 hingga saat ini ia kehilangan kontak dengan sosok Yulianto.

Ia meyakini sosok Yulianto yang pernah dikenalnya itu melalui ciri-ciri yang disebutkan Ary Muladi di depan Tim Delapan atau Tim Pencari Fakta (TPF) pada beberapa hari yang lalu. “Yulianto memang berbadan atletis dan bermata sipit,” katanya. Ia menambahkan, Yulianto adalah keponakan seorang menteri di era Orde Baru, tetapi penasihat hukum itu enggan menyebutkan namanya.

(Sumber Tempo 1Tempo 2Kompas)

Dengan ditemukanya alamat rumah yang pernah menjadi milik Yulianto, maka setidaknya menjadi pukulan telak bagi pihak Polri dan Anggoro karena terlalu a priori menyebut sosok “Yulianto” misterius dan fiktif (tidak ada).

Setidaknya, dengan berhasilnya Jurnalis Tempo membuktikan bahwa Yulianto pernah eksis (ada, bukan fiktif) di Kompleks Darmahusada Permai III Blok V Nomor 411/19, Kelurahan Mulyorejo,Surabaya, maka berkurang pula izin seorang pengacara di Indonesia. Dia adalah Bonaran Situmeang, kuasa hukum Anggodo Widjojo, adik bos PT Masaro Radiokom Anggoro Widjojo.

Dalam berbagai media, Bonaran S menganggap sosok Yulianto yang diakui Ari Muladi fiktif. “Kalau ada sosok Yulianto, saya akan sobek kartu pengacara saya.” (Kompas)

Kita tunggu, kapan dia akan merobek kartu pengacara Pak Bonaran. Dan kita tunggu, kapan pula petinggi polri dan jajaran penyidik “belajar” bersikap seperti  pejabat negara maju. Contoh Dua Menteri Taiwan yang Mundur karena Lamban Menangani Badai. Ingat mereka cuman lamban, bukan malas dan tidak profesional.

Semoga Yulianto masih ada di muka bumi dan tidak “dihilangkan”. Dan semoga “Ari Muladi” tidak dijadikan Kemat (BAP rekayasa oleh penyidik).

Salam Nusantaraku,
ech-wan (9 Nov 2009)

Update (11-11-09) : Ketua Gaki Ade RF Manurung : Yulianto Ternyata Memang Ada Sebagai Makelar Kasus

53 Komentar leave one →
  1. taddo permalink
    November 16, 2009 8:18 PM

    sebaiknya polisi bisa nrimo yang kami inginkan bukan membubarkan Polri Tapi kinerjanya yang mesti di perbaiki

  2. hadi permalink
    November 21, 2009 9:24 AM

    saya sarankan,,ke pak polisi ato siapapun…kalo mencari yulianto gimana..kalo pake program termehek-mehek trans tv dan di filmkan juga…lalu gimana..untuk uji kebohongan jangan kepada ari muladi aja..tp kepada bibit candra..susno..anggodo…aritonga wisnu..dan yang terkait..tapi jagan pake alat uji kebohongan punya kepolisian..ntar ,,biar ga ada kesan memihak,,gmn..kalo didatengkan si raja hipnotis,,,tommy rafael..ato yg biasa cek keboongan oleh SI UYA emang Kuya yang ada di sctv.dan difilmkan…pasti seru….coba deh..

  3. Desember 10, 2009 1:28 AM

    duiiit…masa segitu banyak gak kelacak ?

  4. Juni 4, 2014 4:32 PM

    teman saya juga sekarang ini sedang jadi korban kebobrokan instansi ini.. tapi sayang, karena dia orang “kecil”, ga ada yang mau menolong.. instansi sudah dibayar untuk menangkap.. ya salah ga salah, tangkep dulu dh.. hepeng masuk, yg laen urusan belakang..

Trackbacks

  1. Bibit – Chandra Belum Tentu Benar ( Ataupun Salah ) : Tedy dalam tulisan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: