Skip to content

Awas Tertipu!! Beredar Alat Pemalsu Keperawanan US$ 39.9

Oktober 17, 2009

No more worry about losing your virginity. With this product, you can have your first night back anytime. Insert this artificial hymen into your vagina carefully. It will expand a little and make you feel tight. When your lover penetrate, it will ooze out a liquid that look like blood not too much but just the right amount. (Artificial Virginity Hymen)

Rangkaian kalimat tersebut menjadi ‘iklan’ pada Artificial Virginity Hymen, sebuah produk selaput dara palsu dari Jepang yang bertujuan untuk mengelabui lawan jenisnya ketika bersenggama. Dengan menggunakan selaput dara palsu ini ke alat vital wanita, maka ketika bersenggama, si wanita yang sudah tidak perawan akan mengeluarkan cairan seperti darah. Suatu produk yang memberi ruang besar untuk melakukan kebohongan dan menistakan arti sebuah kejujuran dan kesetiaan.

Informasi awal produk ini saya peroleh dari forum Berita dan Politik Kaskus. Ternyata alat pemalsu keperawanan wanita ini sudah masuk (impor) secara ‘diam-diam’ dan produk ini laris manis di  pasar Indonesia, itulah laporan wartawan Detik.com dalam situsnya. Hartarto, seorang penjual selaput dara palsu mengaku kehabisan stok alat pemalsu keperawanan padahal ia hanya menjual lewat iklan di internet. Dalam 3 hari, 100 paket selaput darah palsu ini habis terjual. Harga yang dijual pun jauh dari harga yang ia impor yakni  Rp 700 ribu.  Ia membeli lewat saudaranya di Jepang dengan harga Rp 300.000. Sehingga dalam 3 hari, Hartarto meraup keuntungan puluhan juta.

Dari situs resmi produk tersebut, Selaput Dara Palsu (Artificial Virginity Hymen) ini djual dengan harga US$ 39.9 dengan pusat marketingnya di China. Alat ini pertama kali dibuat Kyoto, Jepang pada 1993. Alat itu kemudian menyebar ke Thailand pada 1995 dan sekarang tersedia di Asia Tenggara, Asia Selatan dan di negara-negara Timur Tengah.

Hartarto mengaku, tertarik menjual Cigimo itu lantaran alat pemalsu keperawanan itu di Jepang, Thailand dan Singapura sangat laris. Akhirnya ia pun coba-coba menjualnya di Indonesia. Dan teryata responnya juga besar. Alhasil, ia pun ketagihan.

Hingga saat ini setidaknya ia sudah 4 kali mendatangkan alat bantu seks tersebut dari negeri Sakura. Jumlah yang dibawa ke Indonesia masing-masing 100 paket. Hal tersebut sengaja dilakukan supaya lebih mudah melewati pemeriksaan Bea Cukai di bandara. (Detik.com)

Indonesia, Korban Produk Kapitalis

Produk ini sebenarnya sudah dibuat di beberapa negara seperti China dan Inggris dengan merek yang berbeda.  Namun, produk ini masih belum beredar luas di pasar Indonesia. Beberapa toko alat bantu seks yang dikunjungi

detikcom mengaku tidak menjual alat tersebut.  Dan salah satu pemiliki toko alat bantu seks memprediksi bawha paling tidak 3 bulan lagi selaput dara asal Eropa tersebut bisa didatangkan ke pasaran. Itupun jika permintaan toko kepada importir sangat banyak.

Dari informasi sumber (penjual) yang menyatakan hal tersebut sengaja dilakukan supaya lebih mudah melewati pemeriksaan Bea Cukai di bandara, memberi sinyal bahwa pihak bea cukai Departeman Keuangan dapat mudah meloloskan barang-barang ini untuk dipasarkan. Apakah dikenakan bea cukai atau ‘kong-kali-kong’, saya tidak tahu.

Di awal artikel ini, saya katakan bahwa produk ini secara tidak langsung mengajarkan para pengguna untuk belajar kebohongan kepada pasangannya. Lebih daripada itu, arti keperawanan menjadi semakin pudar. Para remaja atau wanita muda akan menyepelekan makna ‘keperawanan’, toh nanti dijenjang pernikahan dapat mengibuli sang suami dengan bermodal beberapa ratus ribu (untuk membeli produk ini).

Dalam satu dasawarsa terakhir ini, moralitas para remaja dan generasi muda Indonesia mulai terkikis. Tiap hari, kita disuguhin berita faktual yang berhubungan dengan perilaku konsumtif, pemerkosaan, seks bebas,  kekerasan dan inharmoni pasangan. Jujur harus kita akui bahwa salah faktor degradasi moralitas ini karena ‘serangan’ pasar’ atau kapitalisme   yang begitu besar menghantam rakyat Indonesia yang masih belum berdiri tegak.

Moral, etika dan akhlak yang mestinya menjadi fondasi tiap individu, sudah luput dibahas didunia pendidikan kita. Dunia pendidikan kita terlalu memprioritaskan angka kelulusan UN, sementara para guru dan siswa terjebak dalam mekanisme pembelajaran cepat. Kesusksesan pendidikan seolah-olah hanya didasarkan pada “Matematika, B.Indonesia, B.Inggris, IPA/IPS”. Disissi lain, peran dan ‘sentuhan’ orang tua semakin kurang, ketika komunikasi dan pembelajaran mengandalkan teknologi semata. Padahal, “kehadiran” fisisk merupakan kunci keberhasilan interaksi batin antara orang tua dan anaknya.

Ketika krisis melanda di berbagai penjuru dunia, tatkala masih banyak keluarga hidup dalam keterbatasan, penjualan Iphone dan Blackberyy di kota-kota besar seperti Jakarta, Bandung, Surabaya mengalami peningkatan atau setidaknya stagnan. Ketika fungsi internet sebagai jaringan informasi dan pengetahuan harus ditingkatkan, namun di Indonesia perkembangan internet lebih digerakkan oleh ‘demam’ facebook.

Di sini saya tegaskan bawha semua teknologi pada awalnya netral. Teknologi bisa membawa manfaat, bisa juga membawa mudarat. Faktor utilitas ini sangat tergantung pada individu. Faktor individu sangat dipengaruhi oleh faktor masyarakat. Faktor masyarakat sangat ditentukan pula oleh sistem dan regulasi. Ketika pemerintah, media, dan masyarakat acuh tak acuh terhadap produk yang memicu potensi kemorosatan moral, maka nilai kebesaran suatu bangsa menjadi kurang berarti. Tugas pemerintah, rakyat bersama media untuk memikirkan bagaimana memanfaatkan dampak positif teknologi dengan mengurangi dampak negatif sekecil mungkin.

Sebaiknya, Tolak Dulu Sampai Indonesia Kuat Berdiri

Mengingat faktor utilitas dan fondasi masyarakat Indonesia, terutama generasi mudanya, maka secara terbuka saya menolak produk pemalsu keperawanan ini beredar bebas di Indonesia. Beredar ini produk ini secara luas akan membuat generasi muda begitu mudah ‘menjual’ atau menghabiskan keperawanan mereka.  Tentunya, hal ini akan akan merugikan pihak wanita. Kaum wanita akan menjadi obyek kapatalis konsumerisme yang secara bersamaan mengikis jati dirinya.  Dan bila saja wanita   merasakan manfaat, maka sesungguhnya mereka telah melakukan kebohongan pula. Korban kedua tentu adalah pihak pria. Jika ini terjadi degradasi kejujuran akan semakin marak terjadi.

Apabila integritas dan kejujuran digadaikan, maka secara tidak sadar mereka telah berusaha mencampakkan kehadiran kebahagiaan. Orang yang tidak jujur hidupnya akan lebih sulit, karena ia harus mengingat-ingat apa yang telah dikatakan dan dilakukannya, karena yang dikatakannya belum tentu asli atau menurut kata Bung Karno belum “satu kata, satu perbuatan”.

Dan bila cermatin sekali lagi deskripsi produk ini “When your lover penetrate, it will ooze out a liquid that look like blood not too much but just the right amount(Ketika pasanganmu melakukan penetrasi, maka akan muncul sejumlah cairan yang mirip darah dari selaput dara artifisial), maka jelas sekali bagi mereka yang menggunakan dan menjual produk tersebut (termasuk membuat), setidaknya telah melakukan dusta atau setidaknya mendukung kebohongan. Bukan semata kebohongan fisik, namun kebohongan nurani.

Oleh karena itu, bila kita menjadikan kejujuran itu indah dan cantik, maka mari kita tolak produk tersebut beredar di Indonesia. Untuk kebaikan para remaja dan para gadis Indonesia khususnya, dan masyarakat Indonesia pada umumnya.  Ingat….orang yang mulai berbohong, mengharuskan dia berbohong lagi untuk menutupi kebohongan pertama supaya kelihatan jujur. Bisa dibayangkan kalau kebohongan itu dilakukan terus menerus, maka orang akan kebingungan membedakan mana yang jujur dan mana yang tidak.

Salam Nusantaraku,
ech-wan (17 Oktober 2009)

19 Komentar leave one →
  1. Oktober 17, 2009 1:38 PM

    pertamax nih

  2. Oktober 17, 2009 5:38 PM

    Hmmm artikel ini sangat menarik untuk dicermati.
    Saya sangat setuju sekali bahwa penggunaan produk ini dapat memicu kemerosotan moral karena seolah menggangap bahwa suatu kebohongan itu wajar adanya.

    Namun yang juga perlu dikritisi, keinginan untuk memberikan keperawanan di malam pertama juga datang dari demand yang tinggi dari pria yang mau calonnya itu suci. Jangan salah, saya menjunjung tinggi paham sex after marriage. Namun yang saya sayangkan tuntutan untuk perawan hanya ditujukan kepada wanita, namun tidak kepada pria.

    Mungkin, jika si pria juga dituntut untuk perjaka dengan ditandai pendarahan pada malam pertama, saya rasa akan muncul juga produk pemalsu keperjakaan.

    Mungkin jika demand untuk kesucian itu tdk membabi buta, alat pemalsu keperawanan itu juga gak laku.

    Ah saya sudah mulai OOT 😛
    komen ngantuk plus laper hehehe

    • Oktober 18, 2009 3:14 AM

      Terima kasih Kak Eka telah memberikan pandangan terutama pandangan Mbak Eka mewakili suara wanita. Setidaknya pihak pria harus juga bisa intropeksi, untuk saling menjaga nilai kejujuran dan kesetiaan.
      Dalam berbagai kasus, pihak wanita memang senantiasa dalam posisi terjepit dibanding posisi pria. Perlu diakui pula, dibanyak negara, kaum wanita masih mengalami inferioritas. Dan khusus perihal hal ini, saya pikir jika alat ini hadir di Indonesia, maka lagi-lagi pihak wanita akan lebih banyak dirugikan ketimpang pria. Oleh karena itu, disamping aspirasi Bu Eka agar pihak pria dituntut perjaka, maka secara bersamaan kita tolak juga alat ini.
      Trims atas komentarnya.

      • Oktober 20, 2009 8:32 AM

        Penolakan tanpa diikuti sosialisasi mengapa perlu ditolak biasanya menimpulkan pro-kontra tak berujung macam debat kusir. Saya tidak mendukung alat ini. Namun soal penolakan, saya kembalikan kepada masing-masing individu.

        Btw.. diawal saya dipanggil kak, ditengah dipanggil mbak. Dan diakhir saya dipanggil bu

        Ala Makjaaaan…
        Mas’e coba baca ini deh, betapa saya sensitif dengan suatu panggilan.

        Atau beginikah tingkah seorang ibu-ibu?

        !@$#$^%%& berlalu, masuk kamar liat kaca…Liat apa udh ada kerut merut di pipi. Kayaknya belum cocok dipanggil ibu deh ^_^

      • Oktober 21, 2009 2:12 PM

        He…. saya menolak produk ini dipasarkan secara bebas di Indonesia. Jika ada yang membeli, maka silahkan mereka mengimpor untuk keperluan pribadi (dibatasi jumlahnya).
        Kalau gak salah, saya sudah pernah membaca postingan Mbak Eka tentang hal tersebut di ceritaeka.wordpress.com, bukan di ceritaeka.com
        Hm…. saya hanya mencoba menggunakan 3 sapaan, ternyata memang sensitif yah?? Selama ini saya sering menyapa Kak Eka dengan Sis (sister) kok…?
        Sorry yah…

      • Oktober 21, 2009 7:28 PM

        Begitulah wanita mas echwan 😛
        suka ngedumel kalo panggilannya gak pas hehehe.
        Iya lbh seneng dipanggil sis ajah 😉

    • Yan permalink
      Oktober 26, 2009 7:43 PM

      Kejujuran diatas segalanya, kalo jujur biarpun janda gw nikahin. tp kalo g jujur biarpun berdarah…wanita brengsek tu namanya

  3. kobra permalink
    Oktober 17, 2009 8:25 PM

    enak ndak sih rasanya? yang palsu sama yang asli bedanya gimana ya?
    *penasaran*

  4. Oktober 18, 2009 2:29 AM

    Maaf sebelumnya,
    saya kurang setuju dengan adanya barang ini,
    sekiranya sebagian dari gadis remaja sekarang masih bisa menjaga keperawanannya hingga menikah nanti.
    Dengan adanya/masuknya barang ini ke Indonesia,
    mungkin gadis remaja Indonesia yang masih perawan,
    tidak akan berpikir lagi memberi keperawanan pada pacar/pasangannya,
    dan ketika keperawanan aslinya hilang,dia dapat mengganti mengganti keperawanan aslinya tersebut dengan alat pemalsu ini dengan harga yang terjangkau,

    Kalau sampai barang ini tersebar dan gampang di dapatkan di Indonesia, mungkin moral & bangsa ini akan seperti negara bagian barat sana, yang cenderung ‘bebas’ tanpa halangan dalam melakukan hubungan seksual meskipun umur masih dikatakan belum sesuai ataupun pantas untuk melakukan hal yang dapat merusak/menghilangkan keperawanan seseor wanita yang mungkin akan jadi pendamping engkau2 nanti..

    NB : Ini Indonesia.
    seorang pemerkosa bisa di penjara, apalagi menghilangkan keperawanan?

  5. yusupman permalink
    Oktober 18, 2009 1:02 PM

    Menarik sekali nich bang…emang yg melakukannya terutama si pria tidak merasakan asli tidaknya,kan keperawanan itu tidak saja dilihat dari darah yg menetes,tapi juga dapat di rasakan ketika terjadi first coitus atau penetrasi awal…ada2 saja tekhnologi yach,,kebohongan yang di rekayasa negara2 kapitalis demi uang semua bisa diciptakan,..

  6. Oktober 18, 2009 9:02 PM

    wah….semoga produk ini dilarang masuk Indonesia. Kalo tidak, bisa berbahaya bagi generasi muda karena mereka akan menganggap enteng keperawanan.

  7. Oktober 19, 2009 11:58 AM

    Keperawanan bagi wanita adalah kehormatan yang paling tinggi dan di atas segala-galanya.

  8. taddo permalink
    Oktober 23, 2009 10:08 AM

    abis dah kalo mau nikah aja cepat2 atau perlu pendidikan sex di dalam keluarga sejak dini

  9. Richieerich16 permalink
    Oktober 26, 2009 11:18 PM

    menurut saya sah-sah aj alat itu di buat, toh tetap ketahuan kok seorang cew msh perawan ato nga, pada mlm pertama. tergantung cownya aj..

    oh y buat cow2 yang mau bedain aku bs share ma kalian bgmn crnya tp nga di t4 terbuka ky gn coz agak rahasia..

    tp top dech buat Nusantaraku…

  10. Richieerich16 permalink
    Oktober 26, 2009 11:35 PM

    oh y buat mbak, kak, or bu Eka
    gw suka gy lo!
    maksudku cara berpikir lo!
    seandainya saja ada sejuta wanita smpt lo Dunia ni pasti lebih baik dr skrg ini.

  11. Desember 10, 2009 2:07 AM

    walah, aksi tipu2 kok makin canggih yah?

  12. nayla zhelanica permalink
    Januari 14, 2011 4:54 PM

    Dunia ini dusta

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: