Skip to content

Noordin Pergi Kemana?

September 19, 2009

Foto Noordin M Top[ (Vivanews)

Kesalahan media dalam merilis berita kematian Noordin M Top pada 08/08/09 cukup mengecewakan bagi sebagian orang, karena yang tewas dalam penggerebakan di desa Beji, Kedu, Temanggung, Jawa Tengah adalah Ibrohim. Sebagian masyarakat yang ‘bosan’ dengan ulah bom diri sangat menghendaki Noordin M Top yang ‘misterius’ diamankan. Namun, kematian Ibrohim yang merupakan kaki tangan Amrozi merupakan kerja Densus 88 (dan juga Polri-TNI-Intelijen) yang layak diberi apresiasi.

Setelah 7 tahun diburu di Indonesia, akhirnya pada 17 September 2009, Noordin M Top berhasil ‘dilumpuhkan’ oleh Detasemen Khusus 88 Mabes Polri dalam sebuah penyergapan selama sembilan jam di rumah Susilo di Kampung Kepuh Sari RT 3 RW 11, Kelurahan Mojosongo, Kecamatan Jebres, Solo, Jawa Tengah. Bersama tiga rekannya, Noordin ditembak dan dikenai granat bersama dengan Susilo alias Adib, Bagus Budi Pranoto alias Urwah, dan Ario Sudarso alias Aji.

Mayat kepala bagian belakang pria kelahiran 11 Agustus 1968 ini dikabarkan pecah dan ketika diseret dengan tali sejauh sekitar empat meter oleh aparat polisi, otak Noordin berceceran dan lalu dikumpulkan (karena khawatir di tubuhnya masih ada bom). Mayat Noordin ditemukan dalam posisi meringkuk miring menghadap kiri di pojok kamar mandi yang berada di bagian belakang rumah Susilo. Noordin mengenakan kaus putih kebiruan, celana kain coklat gelap, dan sandal gunung. Di punggungnya tergantung ransel berisi laptop dan kertas-kertas dokumen. Polisi juga menemukan senjata api jenis Baretta di dekat jenazah Noordin. Senjata M-16 juga ditemukan di salah satu pojok kamar mandi. Noordin sedikitnya mendapat tiga luka tembak, yakni di bagian kepala, rusuk kanan, dan paha kaki kiri.

*******************

Kisah Pilu Korban Bom Bunuh Diri

Keberhasilan Densus 88 dalam ‘menghentikan’ langkah Noordin merupakan harapan sebagian besar rakyat Indonesia, terutama para korban bom bunuh diri di Bali 2002. Noordin dipercaya bertanggung jawab atas empat bom bunuh diri yang terjadi di Indonesia, yakni:

  1. Bom JW Marriott Jakarta 2003
  2. Bom Kedutaan Besar Australia 2004
  3. Bom Bali II 2005 di tiga restoran
  4. Bom JW Marriot dan Ritz Carlon – Jakarta 2009.

Dari 4 bom diatas, korban tewas mencapai 200 orang dan ratusan orang mengalami luka. Tidak sedikit korban yang selamat dari pengeboman mengalami cacat seumur hidup atau mengalami trauma mental yang berkepenjangan. Dan yang paling terpukul tentu keluarga yang ditinggalkan seperti anak-anak, istri, orang tua atau saudara. Terutama mereka yang menjadi korban adalah tulang punggung keluarga, pencari nafkah bagi kehidupan keluarga mereka. Baik dari Bom Bali I 2002 hingga Bom JW Marriot 2009, semuanya meninggalkan kisah pilu.

Sebut saja Ni Nyoman Rencini, istri dari almarhum Ketut Sumerawat. Selama hidup, suaminya manafkahi istri dan 3 putra-putrinya dengan bermata pencaharian sebagai sopir freelance. Ketika hari naas itu, suaminya mengantar turis ke Jalan Legian, Kuta,12 Oktober 2002. Dan tidak disangka, sebuah bom berkekuatan besar meledak dan Ketut Sumerawat akhirnya tewas bersama 202 orang lainnya. Bom Bali I merupakan hasil “karya” Ustad Ali Gufron alias Mukhlas, yang notabene adalah “guru” dari Noordin M Top di Pesantren Lukmanul Hakim – Malaysia. Pesantren tersebut merupakan ‘cabang’ dari Pesantres Ngruki – Solo yang pada tahun 2002 silam telah ditutup paksa oleh pemerintahan Malaysia.

Kembali pada kisah istri Ketut Sumerawat, Ibu Ni Nyoman Rencini kini harus menjadi ibu sekaligus tulang punggung bagi ke-3 anak-anaknya yang masih kecil. Nyoman Rencini harus bangun pagi-pagi buta menyiapkan sarapan bagi Ni Luh Putu Nonik (16 tahun), Kadek Wina (11 tahun), dan Komang Sustapeni (9 tahun) yang masih duduk bangku sekolah. Siap membuat sarapan dan membangunkan putra-putrinya, Rencini mulai sibuk menata barang dagangannya. Sepeninggal suaminya, Rencini harus menghidupi juga ketiga anaknya dengan berdagang kelontong keliling.

Untungnya Rencini memiliki sepeda motor yang digunakan untuk membawa barang dagangannya di daerah sekitar Pelabuhan Benoa,Denpasar. Seorang wanita yang juga seorang ibu bagi tiga orang anaknya, kini harus berjuang begitu gentir melawan panas terik matahari untuk menyambung hidup. Praktis, waktu untuk ketiga putra-putrinya berkurang. Sudah hampir 6 tahun Rencini menjadi ‘single fighter’ dan ini akan terus dilakoninya, karena suami tercintanya telah tiada hanya karena ulah mereka yang tidak bertanggungjawab.

Awalnya, selama setahun pasca Bali I, Rencini menggantungkan hidupnya dari bantuan Yayasan Bali Hati,s ebuah LSM yang bergerak dalam bidang penyantunan dana bagi keluarga korban Bom Bali.Namun, dia sadar tak mungkin terus-terusan bertahan hidup dari belas kasihan. Sejumlah pekerjaan serabutan pun dilakoni,mulai menjual kamben, membuat manik-manik baju,hingga buruh gendong pasir. Namun, semuanya kandas. Penghasilan yang didapat tidak cukup menghidupi keluarganya. Baru satu tahun ini, Rencini membuka usaha warung kecil-kecilan setelah mendapat pinjaman dari koperasi sebesar Rp900.000.

Warung seluas 3×2 meter itu pula yang dijadikan tempat berteduh bagi dia dan tiga anaknya. Selama berkeliling berdagang, warung kecil miliknya itu dijaga Nonik yang mulai beranjak dewasa. Berkat jualan keliling itulah, dia bisa sedikit memperluas rumahnya. ”Apalagi, anak sudah makin besar.Tapi untungnya, kini mereka sudah bisa pergi-pulang sekolah sendiri. Baru malam harinya, kita berkumpul bersama,” ujar wanita kelahiran 39 tahun silam itu. Rencini sebenarnya tidak begitu peduli dengan berita-berita teroris.

*******************

Noordin Tewas, Selesai Satu Pekerjaan

Foto Noordin M Top[ (Vivanews)

Tewasnya Noordin M Top berarti selesai satu pekerjaan penting dalam menjaga stabilitas, kenyamanan dan kepercayaan dunia bisnis internasional terhadap Indonesia. Keamanan menjadi salah faktor pendukung utama dalam industri pariwisata sekaligus investasi jangka pendek yang pada akhirnya meningkatkan perekonomian bangsa. Tidak sedikit negara yang mengandalkan pariwisata, lalu berkembang menjadi negara perdagangan yang diikuti investasi dalam berbagai sektor, asal saja ada political will dari pemerintah.

Tewasnya Noordin M Top bukan berarti pekerjaan benar-benar selesai. Meskipun ia dipercaya sebagai ‘orang yang sangat penting’ dalam jaringan teroris di Indonesia, namun ada beberapa aspek yang mesti kita bangun dan cermatin bersama. Salah satunya adalah deradikalisasi paham-paham yang mengajarkan teror. Baik teror bom, teror kebencian, teror kekuasaan, termasuk didalamnya teror perekonomian (pekerjaan dan korupsi) dan hukum (diskriminasi). Hal yang lain adalah usaha bersama kita untuk membantu para korban bom dari Bali hingga Jakarta. Mereka dan kita perlu sama-sama ‘penyembuhan’ luka yang sangat dalam.

Benar Noordin M Top sudah tewas, tapi bukan berarti “energi Noordinisme” sirna di bumi pertiwi ini. Hal ini bisa dilihat antusias disertai apresiasi yang tinggi sekelompok masyarakat atas tewasnya sejumlah ‘oknum’ teroris. Sebut saja pemakaman Amrozi CS yang disambut bak pahlawan. Begitu juga pemakaman dua oknum teroris yang tewas ditembak oleh Densus 88 di Bekasi. Hal senada pemakaman salah satu pelaku bom bunuh Ritz Carlon-JW Marriot Jakarta silam. Bahwa ada masyarakat yang mengidolakan para ‘suicide bomber” merupakan fakta bahwa ‘energi Noordinisme” masih diterima oleh sebagian (kecil) masyarakat kita. Fakta bahwa semangat “Mukhlasisme atau Amroziisme” hadir dalam ‘hati’ sebagian orang merupakan modalitas bahwa perilaku teror pengeboman atau sejenisnya masih akan terus berlanjut.

Disinilah, kematian Noordin tidak berarti bahwa ia telah “pergi” dari bumi nusantara. Namun, sangat mungkin sekali “Noordin-Noordin kecil” atau “Mukhlas-Mukhlas kecil” mulai bersemi, tatkala para pemuja ‘pahlawan syahid’ mendapat ‘tanah’ dan ‘pupuk’ segar dari para ulama garis keras. Itulah mengapa, JK selaku Wapres meminta ‘saatnya ulama bekerja”. Karena JK menyadari betul bahwa energi ‘Noordinisme” maupun “Mukhlasime” masih terus bergetar.  Hal senada juga disampaikan oleh mantan kepala BIN, pak Hendropriyono.

Namun, tugas besar ini jangan hanya dilimpahkan semata kepada para ulama atau pemuka agama, tapi masyarakat (kita) memiliki peran penting mengedukasi orang sekitar kita dengan energi ‘cinta’, kedamaian dan kebenaran. Berdamai bukan berarti membiarkan kebenaran sirna. Membela kebenaran bukan berarti berontak dengan cara yang tidak damai selama ada jalur diplomasi.

***********

Eksisnya energi Noordinisme merupakan bom waktu tersendiri bagi keutuhan NKRI. Masyarakat umum harus menyadari hal ini. Dan bila ‘energi Noordinisme” masih ada, maka secara esensi ajaran, “Noordin tidak kemana-mana”. Namun, kita hanya bertanya “apakah benar si Noordin akan mendapat bidadari-bidadari di Surga”? Bukankah motivasi “perjuangannya” yang begitu besar, rela meninggalkan tanah kelahiran, melepas orang tua, anak dan istri di Malaysia merupakan hasil dari ‘keyakinan’ bahwa ‘ia (Noordin) pergi untuk kembali (surga)”?

Jadi, kemanakah si Noordin pergi….????

Salam Nusantaraku,
Hmm….selamat hari Idul Fitri yah Noordin…..
Mohon maaf lahir dan batin bagi para pembaca blog.
ech-wan (19-09-2009)

15 Komentar leave one →
  1. September 19, 2009 6:00 PM

    untung baca berita dlu 🙂
    Jadi, kemanakah si Noordin pergi….???? … Noordin yg mana yah?? … episode masih berlanjut …

  2. September 19, 2009 10:33 PM

    الله أكبرالله أكبرالله أكبرالله أكبرالله أكبرالله أكبرالله أكبر
    ..
    Allahuakbar 3x
    Lailahaillallohhu wallohu akbar
    Allahuakbar walillahilhamd
    ..
    Gemuruh takbir berkumandang di penjuru negeri, tanda hari raya akan tiba
    Bila ada salah kata mohon dilepaskan bila ada tutur yang ngawur mohon dilebur.
    Seluruh umat islam bermuhasabah dengan tetap berharap rindu akan RamadhonMu Ya Robb yang maha Menghidupkan lagi Maha Mematikan
    ..
    Salam Takzim 1430H

    الله أكبرالله أكبرالله أكبرالله أكبرالله أكبرالله أكبرالله أكبر

    • September 19, 2009 10:57 PM

      الله أكبرالله أكبرالله أكبرالله أكبرالله أكبرالله أكبرالله أكبر

  3. defrimardinsyah permalink
    September 20, 2009 12:09 AM

    Taqabballahu minna waminkum. Minal Aidin Wal Faizin…Mohon Maaf Lahir Batin…

    Nusantaraku…
    mungkin perlu dicermati juga, apakah ketidak adilan disegala bidang seperti ekonomi, pendidikan, kesehatan, lapangan kerja, politik dan lainnya juga memiliki peranan penting dan sumbangsih untuk tumbuhnya “Mukhlasisme atau Amroziisme atau Nurdinisme”.
    Oleh karena itu mari kita berantas ketidak adilan……

    perlu diwaspadai juga, agar isu terorisme ini tidak disalah gunakan oleh penguasa untuk memberangus lawan-lawan politiknya. seperti yang dilakukan oleh Orde Baru dengan Isu PKInya….

    salam Indonesiaku

  4. September 20, 2009 7:05 AM

    TIME is OUT
    SCORE= 0:0

    met idul fitri dulu buat semua

  5. September 20, 2009 8:50 AM

    wah kayak film action aja,

    masih ada lanjutan di setiap akhir

    🙂

  6. September 20, 2009 2:41 PM

    الله أكبرالله أكبرالله أكبرالله أكبرالله أكبرالله أكبرالله أكبر

    Taqabballahu minna waminkum. Minal Aidin Wal Faizin…Mohon Maaf Lahir Batin…

  7. September 21, 2009 1:33 PM

    bgus klo bgitu
    indonesiaku agak lebih aman

  8. September 22, 2009 9:30 AM

    Selamat Idul Fitri
    Mohon Maaf Lahir Dan Batin

  9. September 22, 2009 11:41 PM

    Salam Takzim
    ..
    Huruf disusun menjadi kata
    Kata ditata menjadi pesan
    Bila jumpa tidak tercipta
    Jadikan Pesan penjelma Insan
    Ntuk berucap menekuk lutut
    Ntuk berkata tapak menyatu
    Mohon Maap Lahir dan Batin
    Salah kecil maupun besar
    ..
    Salam Takzim Batavusqu

  10. September 23, 2009 12:21 PM

    Mesti hati2 dengan ideologi yang mungkin tertinggal.
    Mas Echwan, Selamat lebaran ya, mohon maaf lahir dan batin.

    salam, EKA

  11. September 24, 2009 3:08 AM

    @kopral cepot
    “Noordin” yang mana yah Jenderal? 😉

    @defrimardinsyah
    Pendidikan, ekonomi, politik dan sosial tentu memiliki peran penting.
    Mungkin Bung Defri bisa menjabarinya… he… 🙂

    @hokya
    Kayak siklus saja…. 🙂

  12. September 25, 2009 3:31 PM

    Selamat Idul Fitri, Mohon Maaf Lahir Dan Batin.
    Perkara Noordin pergi kemana, percayakan saja pada keadilan Sang Maha Kuasa. Yg penting berjuang mencegah hadirnya “Noordin” baru di negeri ini.

  13. Desember 10, 2009 2:48 AM

    udah ke alam kubur dia

Trackbacks

  1. 12 Peristiwa Penting & Populer 2009 di Nusantara « Nusantaraku

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: