Skip to content

Amerika Serikat dan Penggulingan Soekarno, 1965-1967 (2)

Agustus 14, 2009

Lanjutan dari Amerika Serikat dan Penggulingan Soekarno, 1965-1967 (1)

Slide Bung Karno

Jadi, dengan demikian apapapun motivasi Gestapu (G 30 S) oleh personal-personal seperti Untung, Gestapu ini ber”mata dua”. Baik pidato maupun gerakan-gerakan bukan merupakan hal-hal yang janggal, justru merupakan tindakan yang terencana yang dipersiapkan untuk menghadapi pertanyaan-pertanyaan ‘bermata dua” ini. Sebagai contoh, keputusan Gestapu untuk menjaga semua sisi Istana Merdeka Jakarta, kecuali Markas Kostrad (Soeharto) adalah konsisten dengan keputusan personal Gestapu untuk menjadikan jenderal-jenderal Angkatan Darat (AD) sebagai sasaran tunggal, yaitu para jenderal yang diperkirakan akan menentang usaha-usaha kudeta oleh Soeharto.

Ditambah lagi, pengumuman pengambilalihan kekuasaan yang diumumkan oleh Gestapu atas nama “Dewan Revolusi” yang penuh khayalan didesain untuk mengucilkan Soekarno, dan sebaliknya Soeharto diberi peluang seolah-olah membela Soekarno, padahal pada masa-masa selanjutnya, justru Soeharto menggulingkan Soekarno agar Bung Karno tidak dapat memegang kembali roda pemerintahan. Yang lebih penting adalah pembunuhan para Jenderal secara serampangan  oleh Gestapu di dekat pangkalan AURI, yang mana sebelumnya menjadi tempat latihan bagi pemuda PKI, menjadikan alasan untuk melegalkan Soeharto manuvernya, yang mengalihkan tanggungjawab pembunuhan itu dari pasukan-pasukan yang di bawah komandonya sendiri (Soeharto tahu sendiri gerakan Untung, pasukan dibawahnya) yang telah menculik orang AURI dan PKI.

Dari laporan CIA tahun 1968, disebutkan bahwa hanya sedikit pasukan yang terlibat dalam pemberontakan Gestapu yang ‘terselubung’. Dan yang lebih penting bahwa baik di Jakarta maupun Jawa Tengah, sebelum Gestau CIA menyebutkan bahwa terdapat batalyon-batalyon yang dipersiapkan untuk melakukan pemberontakan. Namun, pada faktanya, justru pasukan-pasukan inilah yang membunuh ratusan ribu orang simpatisan dan yang terlibat dalam PKI.
Namun perlu dicatat bahwa 2/3 dari pasukan Paramiliter (yang telah diinspeksi langsung oleh Soeharto 1 hari sebelum G 30 S terjadi), ditambah 1 kompi pleton merupakan seluruh kekuatan Gestapu di ibukota Jakarta. Semua kesatuan itu (kecuali ada satu unit), semuanya dipimpin oleh para perwira atau mantan perwira dari Divisi Diponegoro, yang mana Soeharto sebelumnya menjadi Panglima Divisi Diponegoro...(!!!) Dan kesatuan yang  memback-up dibawah langsung oleh Brigjend Basuki Rahmat, seorang loyalis Soeharto.

Amerika Serikat dan Pasukan Khusus AD

Perlu diulas kembali (baca : bagian 1), sejak tahun 1962, dua pasukan elit Raider yakni Batalyon 454 dan Batalyon 530 merupakan salah satu pasukan utama Indonesia yang mendapat  bantuan militer dari Amerika Serikat. Pasukan-pasukan yang mendapat dukungan  bantuan AS inilah yang menjadi motor Gestapu sekaligus menjadi penumpas Gestapu. Dan dibawah komando Soeharto, gerakan Gestapu yang diberitakan begitu ‘dahsyat’, ternyata dapat dikendalikan Soeharto dalam kurun waktu kurang 24 jam tanpa melepaskan tembakan di ibukota (tidak ada pertumbahan darah), kecuali tembak-menembak yang terjadi antara Batalyon 454 (Baret Hijau) dengan RPKAD (Baret Merah) di kawasan Halim – Jakarta Timur. (???!!!)

Dari fakta ini, kita dapat melihat adanya keterlibatan Amerika dalam Gestapu dan penumpasan Gestapu  sekaligus menyebarkan ke media sebagai kejahatan ideologi komunis (ketika itu, Amerika dan Soviet sedang perang ideologi : liberalisme vs komunisme). Fakta yang lebih jelas : sebagian besar  pemimpin G 30 S adalah lulusan pendidikan dari Amerika Serikat. Pemimpin G 30 S di Jawa Tengah, Suherman, baru saja pulang dari latihan Front Leaveworth AS dan Okinawa Jepang, lalu bertemu dengan Letnan Kolonel Untung dan Mayor Sukirno serta Batalyon 454 pada pertengahan Agustus 1965. Dan berdasarkan analisis Ruth McVey, diterimanya Suherman untuk mengikuti latihan militer di Fort Leavenworth berarti bahwa Suherman telah lulus (welcome) dari para pejabat CIA.

Jadi, ada konektivitas antara usaha Gestapu dengan penumpasan Gestapu oleh Soeharto, yang mana dengan dalih menyelamatkan Presiden Soekarno, Soeharto sebenarnya meneruskan tugas Gestapu menghabisi anggota-anggota SUAD (Staf Umum Angkatan Darat) yang pro-Letnan Jenderal A Yani. Kemudian, langkah yang tak kalah hebohnya adalah menyingkirkan sisa-sisa pendukung Bung Karno. Dari 6 perwira SUAD yang telah diangkat Letjend A Yani, tiga orang pertama yakni Suprapto, DI Pandjaitan dan S Parman dibunuh pada G 30 S. Dari 3 orang yang ‘selamat’, 2 dari 3 orang lainnya yakni yakni Mursyid dan Pranoto  akhirnya disingkirkan oleh Soeharto 8 bulan pasca G 30 S. Dan orang terakhir dari Staf Letjend A Yani yakni Jamin Ginting, digunakan Soeharto selama menegakkan Orde Baru dan kemudian akhirnya diabaikan.

Bagian terbesar yang sesungguhnya dari tugas-tugas konspirasi ini adalah melengapkan PKI dan pendukung-pendukungnya, melalui pertumbahan darah yang memakan lebih dari 1/2 juta jiwa, yang telah diakui oleh beberapa sekutu Soeharto. Ketiga peristiwa ini – Gestapu, Penumpasan Gestapu oleh Soeharto serta pertumbuhan darah — hampir selalu ditulis dalam sejarah dengan jalan cerita masing-masing dengan motivasi sendiri-sendiri.

Meskipun beberapa jurnalis internasional berusaha memberitakan kejadian pembantaian para simpatisan PKI apa adanya, tulisan mereka yang di fax lalu diedit oleh kantor cabang di Singapura sebelum dikirim ke Eropa dan Amerika. Dan pada kenyataan ini, ada sejumlah pejabat, jurnalis dan peneliti Amerika yang berafilisiasi dengan CIA, secara langsung maupun tidak langsung pada dasarnya bertanggungjawab terhadap pertumbahan darah melalui propaganda sehingga menimbulkan reaksi rakyat secara spontan. Dan dalam salah satu kesempatan, Dube Amerika Serikat di Indonesia, Howard Jones mengakui bahwa terjadi pembantaian PKI secara besar-besaran  (carnage), dan Amerika Serikat mengaminin hal tersebut.

Nusantaraku

Meskipun ada keterlibatan PKI dalam krisis politik 1965, Crouch menunjukkan bahwa terjadi pemberitaan yang berlebihan atas aktivitas  PKI, disisi lain fakta pembantaian yang 1/2 juta orang tidak pernah diberitakan ke publik. Pembunuhan secara sistem kepada ratusan ribu rakyat tanpa sistem pengadilan menciptakan trauma psikologis bagi masyarakat yang mendukung atau menjadi loyalis Bung Karno. Aksi-aksi pembantaian para petani, buruh yang pernah mendapat bantuan dari organisasi PKI (yang tidak tahu-menahu kasus G 30 S) menjadi korban pembantaian. [Download Video Dokumentasi : Shadow Play]

Sementara, aksi Kolonel Sarwo Edhie, sebagai Komando RPKAD dari Jakarta menuju Jawa Tengah, Jawa Timur dan akhirnya Bali  sudah semestinya menjadi catatan tersendiri dalam sejarah. Dalam pembantaian di Bali, seorang jurnalis yang dekat dengan sumber resmi AD, mendapat pengakuan bahwa “AD-lah (RPKAD) yang telah mencetus pembantaian”-ini. Gerakan ini sangat jelas ketika RPKAD tiba di Jatim, maka menjadi titik awal pembantaian di provinsi tersebut. Orang-orang sipil yang terlibat dalam pembunuhan massal ini dikerahkan dari kelompok-kelompok setempat yang dilatih dan/atau diback-up oleh AD (sebagai contoh: SOKSI yang mendapat sponsor dari AD dan CIA, serta gerakan politik dari organisasi kemahasiswaan), yang mana selama bertahun-tahun telah bekerja sama dengan AD mengenai masalah-masalah politik.

Dari catatan Sundhaussen, sangat jelas terjadi pembunuhan massal yang terorganisir du sebagian besar daerah seperti Sumatera Utara, Aceh, Cirebo, seluruh Jawa Tengah dan Jawa Timur. Pengorganisasian ini dilakukan melalui komando AD setempat yang sangat anti dengan PKI. Masih dalam laporan Sundhaussen, diketahui pula bahwa banyak diantara komandan AD di daerah-daerah yang disebut di atas sebelumnya selama bertahun-tahun telah bekerja sama dengan orang-orang sipil, melalui apa yang dinamakan “Civic Action” (Gerakan Rakyat) yang didanai oleh Amerika Serikat, yang ditujukan untuk operasi kepada PKI dan beberapa diantaranya ditujukan ke  Soekarno.  Dengan demikian, bisa dicurigai adanya suatu konspirasi dengan melihat banyaknya kenyataan bahwa ‘respon sipil’ yang anti-PKI telah dimulai pada 1 Oktober yang mana Angkatan Darat mulai membagi-bagikan senjata kepada mahasiswa Islam dan anggota Serikat Buruh Islam. [Informasi Dokumentasi  Video dapat dilihat SINI], sebelum adanya pembuktian yang benar tentang tersangkutnya PKI dalam Gestapu.

Meskipun Sundhaussen berusaha menunjukkan peranan AD sekecil mungkin dalam mempersenjatai dan menghasut kelompok pembunuh rakyat secara massal, Sundhaussen menyimpullkan bahwa bagaimanapun kuat rasa benci dan rasa takut terhadap PKI, namun tanpa propaganda anti PKI oleh AD, maka pembunuhan massal terhadap rakyat-rakyat yang tidak tahu menahu dengan G30S itu tidak akan terjadi.

Dan dalam tulisan ini selanjutnya akan menelusuri pendapat bahwa rangkaian 3-peristiwa (Gestapu, respons Soeharto, dan pembantaian) merupakan bagian dari konspirasi besar dalam pengambilalih kekuasaan oleh militer, menjadi bagian awal dari skenario AS dalam meruntuhkan pengaruh komunisme dunia dengan terjadinya kembali Penggulingan Presiden Allende oleh Jenderal Pinnochet pada tahun 1970-1973 di Chile. (dan kasus yang mungkin terjadi juga di Kamboja 1970 ).

Dalam analisis ini, Soeharto menjadi tokoh penting dalam skenario ini : peran ganda (berwajah dua) Soeharto seolah berdiri sebagai penegak konstitusi dalam status quo, namun pada kenyataannya justru bergerak secara terencana untuk merebut kekuasaan Soekarno. Kondisi yang dapat dipersamakan dengan perebutan kekuasaan oleh Jenderal Pinochet yang menggulingkan sosok pemimpin populis Chile yakni Presiden Allende. Namun, peran yang lebih langsung dalam mengatur pertumpahan darah telah dimainkan oleh orang-orang sipil dan perwira yang dekat dengan kader-kader pemberontakan CIA yang gagal pada tahun 1958 (pemberontakan PRRI-Semesta), yang kemudian beralih dala program “Civic Action” yang dibiayai dan dilatih oleh Amerika Serikat.

Selain dari data-data diatas, Peter Dale Scott juga membuktikan bahwa ada unsur-unsur negara lain (selain Amerika Serikat) yang mendukung gerakan Soeharto. Beberapa negara yang ikut dalam penumpasan PKI dan penggulingan Soekarno adalah Japan, Inggris, Jerman, dan terakhir ada kemungkinan Australia. Pada tahun 1965, Badan Intelijen Jerman membantu Badan Intelijen Militer Indonesia untuk menumpas sayap kiri “Putsch” di Jakarta dengan mengirim senapan-senapan, perlengkapan radio dan uang bernilai 300.00 Mark. (Heinz Hoehne and Hermann Zolling, The General Was a Spy [New York: Bantam, 1972], p. xxxiii). Peter Dale Scott dalam hal ini hanya fokus pada pada pembantaian massal dari angkatan darat yang mendapat dukungan dan dorongan dari Amerika Serikat, CIA, militer, RAND, Ford Foundation, dan individu perseorangan.

Salam Perjuangan, 14 Agustus 2009
ech-wan @nusantaraku

Bersambung………bagian 3

Nusantaraku

Sekilas Tentang Penulis dan Tulisannya

Peter Dale Scott adalah seorang diplomat dan juga Profesor Sastra di Universitas California Berkeley serta menjadi anggota  Dewan Penasehat “Public Informatioan Research”.. Ia seorang sastrawan sekaligus peneliti dalam berbagai kasus sosial dunia yang dibukukan, seperti Perang Irak dengan kaitan Minyak dan Bush-Cheney, Vietnam, kematian Presiden F Kennedy, dan termasuk Konspirasi CIA dalam pengulingan Soekarno. Ia adalah seorang aktivis yang menentang peperangan, dan salah satu pendiri dari Peace and Conflict Studies Program di UC Berkeley,dan Coalition on Political Assassinations (COPA).

Tulisan ini merupakan investigasi mendalam dari berbagai sumber yang disusun bertahun-tahun dan pertama kali di publikasikan pada Desember 1984. Berbagai sumber dapat Anda lihat versi aslinya di 
Peter Dale Scott : The United States and the Overthrow of Sukarno, 1965-1967

Iklan
32 Komentar leave one →
  1. Maret 6, 2013 11:11 AM

    seandainya soekarno masih memimpin 10 tahun lebih lama pasti indonesia akan makmur melebihi singapura dan thailand… ingat bung sukses itu tidak bisa di dapat dengan cara instan… butuh kesabaran dan waktu yang lama…

Trackbacks

  1. AMERIKA MENGGULINGGKAN SOEKARNO | SANTOSO.SIDO

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: