Skip to content

Ternyata Ibrohim bukan Noordin M Top. Lalu?

Agustus 12, 2009

Akhirnya terkuak sudah identitas pria yang tewas ditembak dan dibom di Temanggung, Jawa Tengah, pada 08-08-2009. Polri secara resmi mengumumkan hasil tes DNA bahwa mayat pria yang disergap adalah Ibrahim alias Ibrohim (Boim) yang selama ini berprofesi sebagai florist Hotel JW Marriott. Bukan Noordin M Top.

Foto Ibrohim

Foto Ibrohim

Polri menyatakan kepastian setelah mencocokkan DNA Ibrohim dengan DNA dua anaknya yang memberikan hasil positif. Artinya almarhum adalah Ibrohim, alias A’an di rumahnya, alias Boim di antara teman-temannya.

Ibrohim merupakan pria kelahiran Jakarta pada 6 Mei 1972. Ia menikah dengan Suciwati yang sebelumnya berprofesi sebagai pengajar. Dari hasil pernikahannya, Ibrohim dianugerahu 4 orang anak, yang mana anak pertama berusia 12 tahun dan anak bungsu baru berumur 4 bulan.

Dari data investigasi kepolisian, diketahui bahwa Ibrohim Ibrohim atau Boim bertindak sebagai pengatur sekaligus pengkontrol serangan bom di Hotel JW Marriott dan Ritz Carlton. Setelah sukses menjadi koordinator bom di dua hotel asing yang menewaskan beberapa ex-patriat, Ibrohim sudah merencanakan tanggal ‘kematian‘ dan sekaligus menjadi ‘pengantin’. Berdasarkan testimoni keterangan Amir Abdilah bahwa Ibrahim sudah siap menjadi suicide bomber pada serangan berikutnya.

https://nusantaranews.files.wordpress.com/2009/08/bartextnusantaraku.gif

Pemberitaan Media

Dari kronologi penyergapan, terlihat bahwa Ibrahim yang sebatang kara di rumah kecil sangat ‘heroik’  (baca: nekad) berhadapan dengan satu kompi anggota tim Densus 88 yang dilengkapi dengan senjata lengkap dan canggih. Dengan berbekal senjata api dengan peluru terbatas, Densus 88 dengan penembak jitu melontarkan ratusan hingga ribuan peluru ke rumah terakhir Ibrahim.  Dan dengan heroik pula, Ibrahim menyatakan dirinya bernama Noordin M Top.

Dari ciri-ciri penyergapan serta tata letak, maka satu hari pasca peledakan pengamat intelijen sudah meragukan pemberitaan media yang menyebut korban yang tewas adalah Noordin M Top. Liputan media yang ‘live’ serta menyebar “informasi palsu” yang tidak proportional merupakan hal yang terlalu berlebhan, dan media harus berbenah diri. Janganlah menjual kebohongan (mengejar rating) hanya untuk meraup seonggok rupiah yang pada akhirnya saya menjadi ‘muak’ dengan pemberitaan yang tidak proportional.

Sebelum ada kepastian siapa mayat yang tewas dalam penyergapan tersebut (dari pihak berwajib), seharusnya media lebih menyiarkan berita tersebut dengan bahasa informasi sebagai ‘tersangka teroris’, bukan langsung menyebut teroris ataupun Noordin M Top.  Belum lagi dalam beberapa kesempatan beberapa  newscaster (anchor news) di TV XX membuat saya ‘bingung’. Ketika melakukan wawancara, si anchorman/anchorwoman bertanya berulang-ulang hal yang sama padahal si narasumber telah menjawabnya lebih dari satu kali.

Densus 88 dan Kelanjutannya

Pada artikel saya pada tanggal 8 Agustus  : 08-08-2009 : Tanggal Kematian Noordin M Top?,  saya tidak begitu yakin bahwa yang tewas dalam penyergapan Temanggung adalah Noordin M Top. Setidaknya ada tiga alasan dasar yang membuat saya tidak langsung percaya [baca: penjelasan].

Terkuatknya misteri “misteri X’ yang bukan Noordin M Top mungkin membuat kecewa bagi sebagian orang yang sudah ‘dihipnotis’ oleh media dan berbagai situs yang memberi informasi bahwa “Noordin M Top dalam Penyergapan”, lalu dengan porsi yang sangat sedikit menyatakan “ini diduga”. Dan dalam kesempatan ini, mau tidak mau harus dikatakan “Densus 88” bukanlah istimewa bila dibanding privilege dan anggaran yang mereka gunakan. Tampaknya Densus 88 turut terhipnotis bahwa didalam rumah tersebut adalah Noordin M Top, sehingga menggunakan cara-cara yang extra-ordinary.

Dan sayangnya dalam beberapa penayangan tersebut, media kita meliputkan secara live bagaimana aksi mengebom, menembak, menunjukkan brimob menggunakan senjata menembak dan menerjang. Padahal berdasarkan UU 32 Tahun 2002 tentang Penyiaran sudah memberi izin apa yang boleh dan mana yang tidak boleh disiarkan. Penyiaran tindakan menghancurkan, menembak dengan senjata merupakan tayangan yang berbau kekerasan meskipun itu merupakan realitas. Dan parahnya lagi, media televisi tidak memberi warning “berita ini masuk dalam kategori Dewasa atau setidaknya harus ada bimbingan orang tua”. Penayangan ini secara tidak langusng bagi sebagian orang menjadi suatu input memori alam bawah sadar bahwa adalah lumrah untuk menggunakan kekerasan untuk menyelesaikan suatu permasalahan.

https://nusantaranews.files.wordpress.com/2009/08/bartextnusantaraku.gif

Lalu Apa?

Ada beberapa catatan saya mengenai kasus ini yakni Ibrohim cs, media dan Densus 88.

Pertama
Catatan merah pada bagian awal. Ibrohim memiliki4 orang anak, yang mana anak pertama berusia 12 tahun dan anak bungsu baru berumur 4 bulan. Ibrahim siap menjadi martir hanya karena meyakini secara personal dibawah doktrinisasi bahwa tindakan membalas dendam terhadap Amerika CS akan membawa mereka ‘short-cut’ menjadi penghuni surga yang dikelilingin bidadari. Sedikit-sedikit menyelesaikan sesuatu dengan kekerasan, dan Ibrahim bukanlah satu-satunya orang yang memiliki doktrinisasi seperti ini, ada sepuluh, seratus, seribu bahkan lebih orang-orang yang berpikiran seperti ini. Lalu, bagaimana nasib anaknya yang baru berumur 4 bulan? Bagaimana perjalanan 4 orang anaknya menghadapi sinisme masyarakat Indonesia yang biasanya memberi gelar anak-anak ini “anak teroris’?

Kedua :

Media… Kita harus akui bahwa media cukup banyak membantu dalam membangun sistem demokrasi dan aspirasi rakyat. Dan ini yang saya harapkan idealisme media tetap terjaga. Namun, sangat disayangkan bahwa media saat ini sudah mulai terkontaminasi dan menjadi budak dari kapitalis. Mereka menjual apa saja yang bisa dijual. Masyarakat dipertonton hiburan dan dikat-diktat Barat, dan ketika seorang budayan atau tokoh meninggal, mereka “menjual” moment kematian para tokoh tersebut dengan iklan-iklannya. Ketika budayawan seperti WS Rendra meninggal, mereka berusaha menampillkan bahwa mereka turut berduka cita dan menghargai jasa-jasa mereka bak pahlawan. Lalu, benarkah mereka menghargai mereka?
Untuk menjawab itu, kita hanya perlu berpikir kembali sejenak kata-kata orang besar mengingatkan kita bahwa “Bukan sebuah kata atau pujian untuk menghargai saya, tapi pengajian/pelaksanaan ajaran/esensi merupakan penghargaan terbesar bagi saya”. Namun apa yang dikatakan, tidak sama dengan diucapkan.
Budayawan WS Rendra kalah pamor dengan seorang seniman Mbah Surip, dan kalah pula dengan liputan yang diberikan kepada Amrozi CS pada saat eksekusi… Ini artinya apa?

Saya harap, media kembali ke citranya yang mulia “tujuan untuk memperkukuh integrasi nasional, terbinanya watak dan jati diri bangsa yang beriman dan bertakwa, mencerdaskan kehidupan bangsa, memajukan kesejahteraan umum, dalam rangka membangun masyarakat yang mandiri, demokratis, adil dan sejahtera, serta menumbuhkan industri penyiaran Indonesia.”

Ketiga:
Untuk Densus 88, meskipun masih ada kekurangan sana sini bila dibanding privilege serta dana yang diterimanya, maka sebagai warga masyarakat saya tetap mendukung usaha kepolisian untuk memberi efek jerah bagi para ‘penteror”. Sedangkan pemuka masyarakat secara bersamaan harus terjun langsung berdialog dan memberi edukasi kepada masyarakat luas (dan bila mampu berkomunikasi dengan mereka).

Polisi dan Densus 88 pantas mendapat apresiasi karena cukup berhasil dalam serangkaian penangkapan di Jakarta Utara, pengepungan dua rumah di dua  tempat berbeda : Temanggung dan Jati Asih-Bekasi.  Di Temanggung, polisi hanya dapat melumpuhkan Ibrahim, tidak dapat menangkap hidup-hidup.  Di Bekasi, polisi mendapati sejumlah bahan peledak dalam berbagai  model siap ledak, dan kembali menembak mati dua tersangka teroris (tidak bisa menangkap hidup-hidup). Bersamaan dengan itu pula, polisi berhasil mengidentifikasi pelaku bom bunuh diri di Hotel JW Marriott dan Ritz-Carlton, Jakarta yakni Danni Dwi Permana, warga Bogor, dan Nana Maulana, warga Pandeglang.

Meski yang tewas dalam penyergapan Temanggung adalah Ibrahim bukan Noordin M Top, kita patut mengapresiasi prestasi polisi dalam serentetan perburuannya menangkap dan melumpuhkan teroris dalam beberapa minggu pasca peledakan 17 Juli silam. Kini setelah polisi gagal menangkap Noordin M Top, berarti Noordin M Top masih bebas bergerak. Ini berarti polisi harus melipatgandakan kewaspadaan, menajamkan inteligen, dan tetap bangun (jangan tidur) seperti pasca tewasnya Dr Azhari. Publik juga harus terus proaktif membantu  polisi dalam mengenali anatomi terorisme dan jaringannya.

Dan terakhir, terorisme harus berhenti di bumi Indonesia. Teror adalah perbuatan yang membuat manusia lain hidup tidak normal, dalam ketakutan, dalam ketidakpastian. Oleh karena itu, semestinya seluruh masyarakat berjuang bersama-sama memberantas terorisme baik terorisme bom bunuh diri atas nama Jihad, maupun teror dari praktik KKN, fitnah dan ketidakadilan hukum serta kemiskinan.

Salam Merdeka!
ech-wan @nusantaraku [12-08-2009]

25 Komentar leave one →
  1. callighan permalink
    Agustus 12, 2009 12:35 PM

    Analisis bioritme-nya batal dong?
    Bernyanyi lagunya Nugie nih…
    Tertipu….

    • Agustus 12, 2009 12:47 PM

      😆

    • Agustus 12, 2009 12:58 PM

      Batal….
      Kayaknya Noordin M Top terlalu kuat dalam “mental”nya.
      Ia setidaknya bisa melatih “dalam tubuh yang sakit, terdapat jiwa yang sehat”, dengan “jiwa yang sehat, maka tubuh pun tidak terasa sakit”.

    • Agustus 12, 2009 2:44 PM

      saya asalnya mo komen singkat disana
      neh aneh aja

  2. Agustus 12, 2009 12:50 PM

    Mas kemaren 11 Agustus Noordin rayain ultahnya loh… 🙂
    Klo 8-08 sejarahnya om densus … buat 09-09-09 Noordin ngasih kado apa yach ??

    • Agustus 12, 2009 1:01 PM

      O…ya…
      Yang ke-41.
      Tapi menurut saya, setelah penggerebekan ini dan ditangkapnya jaringannya, ia akan melakukan hibernasi dalam waktu 2-3 tahun ke depan.
      Dan bila Densus tidak berhasil menangkapnya hingga 2-3 ke depan, maka ia akan beraksi di tahun 2011, bisa tanggal 1-1-2011, 20-1-2011- 11-9-2011, 11-11-2011… 🙂

      • callighan permalink
        Agustus 12, 2009 6:48 PM

        Atau 2012.. hehe.. ikut-ikut demam eskatologi. 😀

  3. Agustus 12, 2009 1:55 PM

    Densus 88 dan aparat kepolisian tidak bisa bekerja sendirian. Semua elemen masyarakat perlu menjaga dan waspada terhadap “tamu” asing yang masuk kewilayah kita masing-masing RT. Saya yakin, jika pemerintah terus berupaya memutus mata rantai logistik jaringan teroris di Indonesia, perlahan namun pasti Nurdin akan tertangkap.

    Bagi saya, ada satu hal yang harus dipelajari untuk para Densus 88 dari kecerdasan Nurdin dan kawan2nya adalah tingkat kesabarannya yang begitu tinggi. See and wait..ketika kita lengah.

    Thanks atas banner Dirgahayu RI yang sangat kreatif (saya tidak bisa buat sendiri mas, Gatek aku..hahaha )
    Salam sejahtera,

  4. Agustus 12, 2009 2:28 PM

    Ibarat benang kusut yang belum diketahui ujung pangkalnya, seperti itu pula masalah terorisme yang selalu menghantui bangsa Indonesia.
    satu teka-teki terungkap, namun lainnya menunggu untuk dipecahkan segera. Masalah seperti ini butuh kerjasama dari semua elemen bangsa demi Indonesia damai yang selalu kita dambakan.
    Membuat Website

  5. Agustus 12, 2009 8:47 PM

    masalahnya, saya pikir, banyak juga (saya sih ga ada datanya) orang-orang yang menganggap tindakan noordin cs adalah tindakan yang mewakili aspirasi mereka, yg berpikir bahwa teroris sesungguhnya adalah musuhnya noordin itu.

    kalaupun semua anggota jaringan noordin tertangkap/terbunuh, rasanya bakal terus tumbuh noordin2 berikutnya, dan juga musuh2 noordin2 itu berikutnya juga.

    sy nggak berani menyimpulkan, di tengah perang ideologi dan keyakinan yang begitu dahsyat, di seluruh dunia, mana pemikiran yg benar.

    di era informasi ini, yang menguasai media kelihatannya paling berpeluang memenangkan pengaruhnya. beware, ini perang ideologi, keyakinan, semua berusaha saling mempengaruhi, bila tak hati2, kita bisa terjebak.

    pelesetan dari metallica,

    …and peace for all

    .

    • Agustus 12, 2009 9:48 PM

      Saya sependapat poin akhir, yakni kekuatan media.
      Secara tidak langsung, media telah membentuk pola pikir masyarakat kita.


      • Agustus 13, 2009 6:02 AM

        Iya, termasuk propaganda teroris sebagai pahlawan ala trio bom bali yg diliput besar-besaran oleh semua media TV. Inilah salah satu sebab yang ikut menyuburkan habitat teroris di Indonesia.

      • Agustus 14, 2009 1:24 PM

        Selama pemerintah indonesia tidak memiliki politik will untuk membatasi media yang berbau radikal, seperti buku buku islam yang mengajarkan radikalisme mustahil membdrantas kriminalitas berbau ideologi. Saya juga menyayangkan media tv yang menayangkan secara live proses penggrebekan terorist di temanggung karena bisa dimanfaatkan baca di pelajari oleh teroris kelemahan polri. Gw gak tau apa yang ada di benak teroris dengan keyakinannya yang kuat yang pasti selama 2 ideologi kapitalis barat dan radikalisme islam ga rukun mustahil terjadi perdamaian,

  6. Agustus 13, 2009 5:58 AM

    komentar untuk photo Ibrohim. Waktu kerja di hotel, keren dan ganteng. Kenapa dalam waktu 1 bulan, tampangnya stress kayak Sumanto gitu yah? Kasihan istri dan 4 orang anaknya. Semoga dia mendapat ganti istrinya dengan bidadari2 yang lebih cantik…weleh..weleh.

    • Agustus 19, 2009 1:32 PM

      Itu foto sudah menjadi mayat kan?
      Meskipun menjadi mayat tidak begitu ganteng, tapi “tetap dapat” bidadari.. 🙂

  7. Agustus 13, 2009 3:39 PM

    Semoga berbahagia di surga yah , Ibrohim !!!!
    Kamu tak punya otak !!!!
    Kamu pikirnya kesurga saja dan bidadarinya
    sedangkan anak-anakmu kamu tinggalkan menderita didunia ini !!!
    Sadarkah kamu akan apa yg telah kamu lakukan , wahai Ibrohim !!!
    Kamu nggak bakalan masuk surga !!!

  8. Agustus 13, 2009 6:36 PM

    gak papa..walaupun bukan noordin setidaknya berkurang satu jumlah teroris di Indonesia.hehehe
    tapi jika yang tertangkap Noordin tentu saja itu bisa jadi prestasi tertinggi Densus 88..

  9. herpin permalink
    Agustus 13, 2009 9:56 PM

    Lalu? Perjalanan Densus dan publik masih amat panjaaang. masih banyak tokoh penting teroris yang berkeliaran. Semakin lama dibiarkan semakin banyak tokoh baru muncul. Mereka dapat dengan cepat menginstall pola pikir orang yang labil dalam waktu cepat.

  10. Abaglane permalink
    Agustus 14, 2009 1:42 AM

    Apa mungkin yg membom JW mariot dan ritz charlton adalah jaringan nordin m top (Islam)..??
    kenapa gak di tunggu aja MU datang sore harinya.., jika mau menghabisi amerika dan sekutunya…
    padahal mereka telah 2 hari berada di kedua hotel tersebut.., tinggal ledakin aja lagi..

    Gw masing belum yakin teroris itu ada… atau memang sengaja di adakan…,

    Merdeka…!!!

    Rakyat butuh makan.., Bukan butuh film perang-perangan…

    • Agustus 19, 2009 1:35 PM

      Yang agak mudah mendapat alurnya fakta keeksisan mereka (pembom) adalah rekan-rekan mereka (Esp. Noordin M Top) terdahulu seperti Ust. Abu Wildan, Nasir Abbas dan Fahirin.
      —-
      Poin terakhir setuju : bukan film perang-perangan.

  11. Agustus 14, 2009 8:37 AM

    yang jelas kejadian inni telah membuktikan bahwa Pesantren akan jadi target untuk diawasi akan adanya gerakan teroris yang ebrasal dari sini, perintah siapa lagi kalau bukan SBY…..

    Flu Babi yang tiba-tiba nyerang pesantren hampir berbarengan telah mebuktikan akan adanya intelejen untuk menyelidiki kegiatan Pesantren…

    Sayang masyarakat kita tellah dibutakan dengan kharisma yang sebenarnya menutup kebobrokan yang ada…..

    masa kita lupa dengan pernyataan SBY Bahwa AS adalah Rumah kedua sedangkan disatu sisi hampir semua rakyat indoensia Anti AS tapi malah memilih pendukung AS…….

    Dan sebentar lagi kita akan dijerat dengan kenaikan Gas Elpiji 3Kg, kenaikan TOl, sekarang kita tinggal menyesal dengan adanya semua itu

  12. Agustus 14, 2009 10:53 AM

    selama yg menganggap bahwa para pengebom itu adalah seorang pahlawan dan mati syahid, saya kira sulit utk menenggelamkannya. liat jawapos kemaren ? “selamat datang pahlawan jihad”. di spanduk menyambut kedatangan mayat pengebom bunuh diri marriot dan carlton. tp ada yg lucu. disitu juga tertulis “TV-ONE dilarang masuk”. hehhe…

  13. dBo permalink
    Agustus 16, 2009 12:03 AM

    kalau boleh menambah catatan :

    1. Sampai saat ini, belum ada kejelasan info tentang keluarga Ibrahim, yaitu alamat jelas, orang-tua, adik/kakak kandungnya dimana?!
    Tiba2 mayatnya dikirim ke Kuningan/Ja-Bar, dan ditolak masyarakat setempat. Dan ini menurut saya sebuah Tindakan-Cerdas.
    Sementara pelaku yang lain cukup jelas diberitakan media, bahkan ada yang secara terbuka meminta maaf.

    2. Menurut saya, ketidak-jelasan ini serius aneh. Ada apa?! Apakah ada yang harus disembunyikan/ditutupi?!
    Apakah ini juga sdh menjadi bagian dari teror-sistimatis yang sangat terselubung yang penuh keculasan dan kekejian.

    3. Biasanya keculasan ditandai oleh pura2 bodoh/lupa, tapi ramah.

  14. Agustus 19, 2009 1:44 PM

    @ omiyan
    Sabar om… he..he

    @paijos
    Solusinya apa saja yah?

    @ dBo
    Kalo gak salah, orang tua Boim sudah tiada.
    Dia memiliki dua saudara, 1 di Jepang dan satu lagi di Jakarta.
    Keluarga paling dekat berasal dari keluarga istrinya.

  15. Agustus 27, 2009 12:13 AM

    GAWAT…. dan jadi Ancaman yang serius nih. juga tidak menutup kemungkinan lahirnya kelompok-kelompok baru.
    pak POLISI mesti lebih extra lagi.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: