Skip to content

Hasil Akhir KPU vs Quick Count : SBY-Boediono Menang 60.8%

Juli 24, 2009

Pada tanggal 23 Juli 2009, KPU (Pusat) sudah selesai merekapitulasi hasil pemungutan suara Pilpres 8 Juli 2009. Berikut hasil rekapitulasinya melalui Antaranews yang saya bandingkan dengan hasil Quick Count (pehitungan cepat) dari 3 lembaga survei yakni LSI, Cirrus dan LP3ES.

Pasangan

KPU

LSI (+/- Suara)

Cirrus (+/- Suara)

LP3ES (+/- Suara)

Mega-Prabowo

26.79%

26.56%

0.23%

27.49%

0.70%

27.33%

0.54%

SBY-Boediono

60.80%

60.85%

-0.05%

60.20%

-0.60%

60.36%

-0.44%

JK-Wiranto

12.41%

12.59%

-0.18%

12.30%

-0.11%

12.31%

-0.10%

Dari tabel di atas, saya hanya ingin menunjukkan bahwa hasil perhitungan cepat (quick count) tidak akan jauh berbeda dengan hasil real bila menggunakan metode statistik yang benar dan tepat. Baik lembaga seperti LSI, Cirrus maupun LP3ES, hasil kalkulasi statistik memiliki tingkat keakuratan hingga 99%.  Ini membuktikan bahwa hasil quick count  (QC) dapat dipercaya selama metode yang digunakan sesuai dengan ilmu statistik. Sebelumnya pada pileg 2009, lembaga-lembaga yang melakukan quick  count telah menunjukkan hasil dengan keakuratan tinggi. Salah satu contohnya adalah LSI yang merilis QC pileg April silam. Demokrat mendapat 20.85% (QC LSI = 20.4%), Golkar mendapat 14.45% (QC LSI = 14.0%) dan PDIP mendapat 14.0% (QC LSI = 14.65%).  [partai-partai lainnya]

SBY-Berbudi

Dari hasil rekapitulasi suara KPU di 31 provinsi Indonesia, di semua provinsi  SBY-Boediono memperoleh suara diatas 31% [untuk data lengkap hasil suara masing-masing capres-cawapres di 31 provinsi dapat dilihat di Kompas]. Suara terkecil SBY-Boediono berada di Provinsi Sulawesi Selatan dengan suara 31.62%, sedangkan SBY-Boediono mendapat kemenangan mutlak di Provinsi N. Aceh D dengan suara 93.25%. Ini berarti secara konstitusi  SBY-Boediono memenangkan pilpres Juli 2009 dalam satu putaran seperti tercantum pada pasal 6A ayat 3 UUD 1945 amademen-III :  “Pasangan calon Presiden dan wakil Presiden yang mendapatkan suara lebih dari 50% (lima puluh persen) dari jumlah suara dalam pemilihan umum dengan sedikitnya 20% (dua puluh persen suara) disetiap provinsi yang tersebar di lebih dari 1/2 (setengah) jumlah provinsi di Indonesia, dilantik menjadi Presiden dan Wakil Presiden.

Dari jumlah suara, SBY-Boediono mendapat 73.9 juta suara dari 177 juta hak pilih. Disusul Mega-Prabowo mendapat 32.5 juta suara serta JK-Wiranto 15.1 juta suara.

Pasangan

KPU

Mega-Prabowo

32,548,105

SBY-Boedionno

73,874,562

JK-Wiranto

15,081,814

Tugas Besar SBY-Boediono

Dari hasil perhitungan resmi KPU, ada begitu banyak PR atau tugas besar SBY-Boediono dalam memerintah pada periode 2009-2014 silam. Masih banyak janji-janji kampanye 2004 yang belum direalisasi yang kini masih menjadi masalah yang harus diselesaikan. Ada sekian banyak masalah multidimensi bangsa yang harus dikerjakan secara terpadu dan sebisa mungkin bebas dari kepentingan politik partai dan pribadi. Berikut beberapa poin yang akan saya bahas satu per satu.

Pertama adalah masalah kemiskinan. Angka kemiskinan Indonesia mencapai 35 juta jiwa atau 15.4% [BPS, Maret 2008] tidak mengalami penurunan signifikan seperti janji SBY-JK pada tahun 2004 yang mengatakan akan menurunkan angka kemiskinan hingga 8.2%.  SBY-Boediono harus melakukan perubahan ekonomi yang mendasar untuk menurunkan angka kemiskinan yang secara signifikan agar 35 juta orang miskin dengan penghasilan dibawah Rp 6.000 per hari jauh dari standar hidup layak. Karena selama 4 tahun lebih memerintah, SBY-JK hanya mampu menurunkan 1 juta angka kemiskinan rakyat Indonesia meski anggaran naik 300%.

Hal kedua adalah pengangguran. Berdasarkan data BPS jumlah penduduk yang menggangur Indonesia pada tahun 2008 adalah 8.4%. Ini berarti ada sekitar 9 juta orang yang menganggur dan ini menjadi cikal bakal kemiskinan. Butuh cara-cara komprehensif untuk mengatasi pengangguran ini. Salah satu adalah mengubah kebijakan yang cenderung pro pada pemodal besar (saudagar dan asing) ke arah kebijakan UKM dan koperasi. Indonesia memiliki yang luas, tapi sayang masyarakat tidak memiliki akses memberdayakannya. Begitu juga lahan-lahan nganggur, disisi lain konsumsi rakyat kita cukup progresif.

Hal ketiga adalah pendidikan dan pembentukan karakter bangsa. Kita tahu bahwa pasca gugatan para guru kepada MK, akhirnya pemerintah mau tidak mau harus memenuhi anggaran pendidikan sebesar 20% APBN. Dengan kenaikan angka anggaran ini, maka tugas utama pemerintah meningkatkan kualitas pendidikan disisi lain harus berusaha melakukan pemerataan akses pendidikan di seluruh Indonesia. Akses pendidikan di pedalaman Papua harus sama dengan dengan di ibukota Jakarta.

Hal keempat adalah masalah hukum dan pemberantasan korupsi. Jika kita mau jujur, sejumlah kasus yang berkaitan hukum di negeri ini masih diproses secara tebang pilih, disisi lain hukuman masih jauh dari keadilan. Pertama ada berbagai kasus korupsi besar yang tidak diungkap bahkan dihentikan seperti kasus aliran dana korupsi non-budgeter DKP kepada semua capres-cawapres 2004 termasuk SBY sendiri. Termasuk dalam masalah hukum adalah kasus lumpur Lapindo yang secara tidak langsung pemerintah SBY-JK melindungi para perusak lingkungan dan pelanggaran UU Amdal. Jadi kita buktikan apakah keyakinan sebagian besar masyarakat (hingga terpelajar) bahwa tidak tegasnya SBY dalam kasus Lapindo karena ada kepentingan JK sebagai Wapres melindungi Bakrie! Kita tunggu 100 hari pertama SBY-Boediono, apakah ia akan mencabut Per.Pres 14 tahun 2007. Kita tunggu bukti bagaimana niat tegas SBY kepada Ical pasca kekalahan JK.

Hal kelima adalah kedaulatan negara. Masalah pertahanan, kedaulatan Ambalat, dan perbatasan negara masih menjadi ancaman kedaulatan negara. Belum lagi kisruh diberbagai daerah konflik.

Hal keenam adalah reformasi birokrasi dan efiesiensi pegawai negeri. Sampai saat ini, kita masih melihat dilema buruknya birokrasi serta begitu banyaknya pegawai negeri yang bekerja leha-leha, tidak efesien dan korup baik waktu maupun disiplin kerja.

Hal ketujuh adalah masalah-masalah besar lain misalnya kasus pembunuhan Alm Munir yang sudah hampir 5 tahun membisu, BLBI, pemertaan pembangunan daerah, kemandirian pengelolaan sumber daya alam, peningkatan kinerja BUMN, reformasi dan rekayasa di bidang pertanian, perkebunan, hak-hak anak dan perempuan, layanan kesehatan serta banyak hal lainnya mengenai kependudukan (pengusuran, tata kota).

**********

Itulah segelintir tugas-tugas besar yang harus dikerjakakan. Dan terpilihnya pasangan ini harus diterima dan dihargai sebagai hasil demokrasi. iapapun mereka baik pendukung SBY-Boediono, pendukung Mega-Prabowo ataupun JK-Win bahkan golongan golput sebaiknya tetap mendukung kebijakan pemerintah yang akan datang selama kebijakan itu baik dan benar secara hukum maupun moral. Disisi lain, siapapun orangnya, mesti secara tegas dan berani mengatakan kekeliruan sebagai kekeliruan dan berani mengkritik apabila kebijakan tidak sesuai lagi dengan nilai hukum dasar, budaya dan moral bangsa kita.

Sebagai contoh, semua pihak terutama ketiga capres-cawapres ini harus mendukung upaya penegakan hukum terkait pelanggaran-pelanggaran pemilu presiden 2009. Siapapun yang melanggarnya harus ditindak. Namun saya cukup pesimis dengan adanya upaya hukum yang akan menghukum capres-cawapres kita apalagi kepada presiden dan wakil presiden terpilih. Salah satu memori yang masih tersimpan saya adalah pelanggaran hukum Pilpres 2004 terkait dana kampanye seperti saya utarakan dibagian atas [baca selengkapnya].

Sekali lagi selamat atas kemenangan ini (sebelumnya sudah saya sampaikan juga di tulisan terdahulu). Semoga (dan cukup pasti) bahwa ada perubahan yang lebih baik selama 5 tahun kedepan.

Salam Perubahan, 24 Juli 2009
ech-wan

Iklan
15 Komentar leave one →
  1. Juli 24, 2009 6:13 AM

    jadi inget polemik pendanaan lembaga survei… ketika salah satu lembaga survei didanai salah satu calon capres-cawapres dan lembaga survei tersebut merilis hasil survei yang menurut sebagian besar orang “mengejutkan”. ramai-ramailah masyarakat curiga jangan2 ada sesuatu.

    saya membayangkan jika survey lembaga tersebut tidak valid, gimana ya?

    tapi dengan melihat hasil quick count dan perhitungan KPU, ternyata bila penelitian dilakukan dgn prosedur yang benar, hasilnya insya allah valid. Meskipun valid, masihkah penyandang dana sebuah lembaga penelitian masih diperdebatkan? lihat dulu kasusnya 😀

    btw moga pemerintah mendatang bener2 amanah dan mampu mengatasi persoalan bangsa.

    • Juli 24, 2009 11:57 AM

      Survei elektabilitas dengan statistik perhitungan cepat tidak murni sama.
      Survei elektabilitas selain perlu memetakan sampling surveilance dimana saja, lalu mendekati surveilance dengan sejumlah pertanyaan atau kuisioner.
      Sedangkan statistik hitung cepat, hanya memetakan tempat dimana hanya “mencatat” jejak surveilance yang telah memilih di TPS.
      Sehingga tingkat keakuratan quick count layak dipercaya, hal yang berbeda jika survei statistik untuk elektabilitas.
      Satu mencari data (survei elektabiltas), yang lain adalah menginput data. Sehingga error yang ditimbulkan oleh “input data” (quick count) lebih rendah daripada yang harus “mencari data”.

    • Mei 21, 2017 10:06 AM

      Maravilha! Pena não terem entrado no estádio.Boa sorte em tudo.E, ah!, não dê os indevidos créditos ao patético Milton Neves. Foi Arrigo Sacchi, antigo técnico de Milan e seleção italiana, quem disse aquela sábia frase. No original: “Il calcio ê la cosa piú importante delle cose meno imrn#taote&p8221;.Passar bem!

  2. Juli 24, 2009 7:40 AM

    semoga BISA mewujudkan segala janjinya dengan lancar dan mudah
    info yang sangat bagus, kritis dan membangun….. trim’s

  3. KangBoed permalink
    Juli 24, 2009 8:38 AM

    Waaaakaaakaakakak.. mudah mudahan siap dengan janjinya.. jangan lalai dan meningkatkan kesejahteraan rakyat banyak

    SALAM SAYANG

  4. rivanroyono permalink
    Juli 24, 2009 10:54 AM

    Mandat publik untuk SBY-Boediono sudah jelas koq. Bahwa kinerja KPU perlu ditinjau dan bahwa kesalahan2 dalam Pemilu perlu ditindaklanjuti tidak perlu diperdebatkan. Tapi insinuasi bahwa kalau 100% pemilih melaksanakan hak pilihnya maka hasil pemilu akan berubah, saya rasa akan sulit untuk dipertahankan.

    Sekarang yang diperlukan SBY adalah satu tim public relations dan jubir yang kuat. Pidato pasca-bom beliau menurut saya merupakan kekhilafan. The president could’ve said it better.

    http://rivanroyono.wordpress.com

  5. Juli 24, 2009 11:30 AM

    Terbukti kalau hasil quick count itu hampir sama dengan manual kan?

  6. Juli 29, 2009 1:17 PM

    Salam Perubahan juga Juragan Nusantara..

    Semoga LanjutGan bukan berarti meLanjutGan penderitaan rakyat..

    Salam Anak Bangsa..

    http://celotehanakbangsa.wordpress.com/2009/07/28/foto-ayam-kampus-gan-igo-nich/

  7. kayat_se permalink
    Agustus 2, 2009 7:13 AM

    selamat untuk sby-budiyono

    putra-putra terbaik bangsa ini di percaya rakyat untuk memimpin
    mohon anda berdua jangan bohongi rakyat dengan cara apapun
    sejahterakan rakyat dengan segenggam kekuasaan yang anda peroleh dengan segala daya upaya
    ambilah beberapa kebijakan untuk kemakmuran bersama
    tegakkan hukum jangan ada pandang bulu
    sekolah geratis jangan cuma slogan,bebas spp tapi banyak pungutan
    pokoknya saya dukung kemenangan anda berdua

    salam indonesia membangun bersama sby dan budiyono

  8. Mei 21, 2017 9:31 AM

    Th’ats the best answer of all time! JMHO

Trackbacks

  1. Kisah Prof Sutandyo, Hidup Sederhana & Tidak Memiliki Rumah « Nusantaraku
  2. 12 Peristiwa Penting & Populer 2009 di Nusantara « Nusantaraku
  3. Di Tengah Tragedi Kemanusiaan Mesuji
  4. Kisah Prof Soetandyo, Hidup Sederhana & Tidak Berumah – Mobil |

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: