Skip to content

Situs Porno Menurun

Juli 13, 2009

Pendahuluan : UU Pornografi

Meskipun pada awalnya, DPR dan Pemerintah mengesahkan Undang Undang 44 tahun 2008 tentang Pornografi [30 Oktober 2008] dengan salah satu alasan utama ingin menutup situs porno, majalah porno, program porno dan lain-lain untuk menyelamatkan anak-anak dan wanita dari pengaruh pornografi, namun hingga saat ini UU ini hanya “mainan” proyek DPR+Pemerintah. Padahal disahkannya UU ini menuai pro-kontra yang luas  tatkala ada kebimbangan dari yang kontra akan disalahgunakannya UU ini dalam menekan budaya dan kebebasan masyarakat dalam berpakaian.

Namun baik pihak pro dan kontra memiliki kesamaan pandangan yakni “perlunya memberikan  kepastian  hukum  dan  perlindungan  bagi  warga  negara  dari  pornografi,  terutama  bagi  anak  dan perempuan serta mencegah berkembangnya pornografi dan komersialisasi seks di masyarakat.” Salah satu dari poin tersebut adalah pemerintah berhak untuk melakukan pencegahan pembuatan,  penyebarluasan,  dan  penggunaan pornografi [Pasal 17 UU 44/2008] dengan cara melakukan  pemutusan jaringan dan distribusi pornografi  (termasuk pemblokiran pornografi melalui internet) [Pasal 18 UU 44/2008].

Dari segi konten UU Pornografi, saya hanya setuju pada bagian ini (pemblokiran situs porno), sedangkan disisi perilaku dan budaya harus kembali pada nilai-nilai agama dan budaya yang berlaku. Dan ini menjadi tanggung jawab keluarga, agamawan, dan sesepuh masyarakat.

Situs Porno

no-porn

Berikut data peringkat situs porno yang paling sering diakses berdasarkan statistik Alexa.com pada 12 Juli 2009 dengan data sebelumnya 5 Januari 2009.

  1. *u*i**e* [Rank 51, turun dari 31]
  2. *u**8 [Rank 56, naik dari 92]
  3. *i*e*a**me [Rank 80, masuk 100 besar]
  4. *o**h*b [Rank 84, turun dari 73]
  5. *e**u*e [Rank 99, turun dari 68]
  6. a**l*f*i*n*f*n*er [Rank 108, turun dari 74]
  7. *o**or* [keluar dari 200 besar, turun dari 71]

Bandingkan dengan situs berita resmi pemerintah Indonesia, ANTARA News hanya berada di urutan 160, trafiknya jauh dibawah situs porno. Hal ini berbeda dengan China, dimana situs resmi pemerintahan China berada diperingkat 44 dan tidak ada satupun situs porno masuk dalam 100 besar website China (hal ini dikarenakan China telah Blokir Situs Porno]. Dari statistik di atas, tampak ada pengurangan akses situs porno. Ada 5 situs yang mengalami penurunan peringkat [bukan penurunan akses], namun ada 2 yang mengalami peningkatan jumlah pengunjung.

Beberapa bulan yang lalu, ada rilis info yang mengatakan Indonesia sebagai negara ke-7 pengakses situs porno terbesar. Lalu, hampir tiada hari di berbagai situs, blog dan forum tanpa berisi berita seputar porno, pencabulan dan pelanggaran mengekspos tentang hal yang cukup pribadi. Foto dan video porno yang beredar menjadi bahan postingan berbagai blog dan situs yang mana situs tersebut pasti mendapat traffic yang tinggi.

Dalam waktu sekitar 6 bulan, tulisan saya mengenai 6 Situs Porno yang Paling Banyak diakses di Indonesia telah “didatangi” lebih dari  45,000 pengunjung. Angka ini dapat secara tidak langsung Anda baca dari kategori  tiulisan “Terpopuler” di sidebar blog ini adalah tulisan mengenai 6 Situs Porno yang Paling Banyak diakses di Indonesia. Dan dalam satu bulan terakhir, jumlah pengunjung yang melihat tulisan tersebut berjumlah 19986 pengunjung dengan kata kunci (keyword) : situs porno, indonesia porn, porno indonesia, porn indonesia, situs porno indonesia, situs porn. Dari keyword pencarian, maka saya melihat bahwa mereka yang berkunjung ke blog ini melalui tulisan situs porno merupakan orang yang benar-benar ingin mengali dan mencari tahu mana saja situs yang memberi konten porno.

Dampak Situs Porno

Sampai saat ini, tidak ada penelitian dengan hasil tunggal yang menyebutkan dampak secara langsung dari eksisnya situs porno.  Belum ada “kebulatan” ilmiah mengenai dampak negatif pornografi terhadap tingkah laku manusia. Sebagian peneliti masih mengatakan bahwa tidak ada dampak psikologis secara langsung dari pornografi dengan memegang prinsip “correlation does not imply causation“. Namun, Beberapa riset mendukung pernyataan bahwa melihat materi pornografi dapat meningkatkan kejahatan seksual dan beberapa lainnya menunjukkan tidak adanya pengaruh, baik peningkatan maupun penurunan kecenderungan melakukan kejahatan seksual.

Ada sejumlah  penelitan di beberapa negara seperti Denmark, Swedia, Jerman Barat dan AS yang menunjukkan bahwa kejahatan seksual menurun ketika pornografi dilegalkan. Penelitian dilakukan oleh Berl Kutchinsky pada periode 1964-1984. Artinya, meningkatnya ketersediaan materi pornografi diikuti oleh penurunan tingkat kejahatan pemerkosaan. Penelitian itu juga menunjukkan adanya indikasi penurunan kejahatan seksual non-kekerasan dalam bentuk perilaku seksual menyimpang seiring dengan bertambahnya peredaran materi-materi pornografi di negara-negara itu.

Namun terlepas dari dua hasil yang berbeda dari penelitian di atas, saya lebih percaya bahwa ada dampak negatif dari pornografi, khususnya pada anak-anak. Sedangkan pornografi mungkin saja tidak berdampak besar pada orang dewasa, dan bahkan mungkin pornografi justru memberi dampak positif untuk kalangan dewasa seperti hasil riset tertentu. Namun, pornografi bagi anak-anak sangatlah riskan, terlebih tanpa kontrol sosial dari orang tua, masyarakat dan pendidikan sekolah.

Pergaulan bebas, seks bebas, pola konsumerisme telah menyerang generasi muda kita yang pada akhirnya merugikan kaum wanita (siswi-siswi SMP-SMA). Bagi anak-anak yang tidak  mendapat bimbingan yang cukup dari orang tua atau guru, rasa ingin tahu besar dari pornografi akan memberi  efek negatif psikologis. Efek psikologis ini bagi remaja  yang tidak “terdidik” akan mengiring tindakan kekerasan bagi remaja (generasi muda). Dan sudah menjadi tanggung jawab kita bersama untuk tetap memelihara “kultur Indonesia”.

Dan bila pornografi menjadi bagian dari kehidupan bagi generasi muda Indonesia, maka waktu dan perhatian para generasi muda kita untuk belajar dan menimba ilmu akan berkurang. Dengan kurangnya perhatian dalam bidang pendidikan, maka kualitas SDM akan menurun. Bila kualitas SDM menurun, maka tiap tahun Indonesia harus menambah beban SDM yang “keropos”, yang hanya menjadi beban negara. Dan oleh karena itu, sudah semestinya negara melindunginnya agar kemudian hari tidak membebani negara.

Oleh karena itu, pemerintah memiliki tangung jawab melindungi anak-anak dan remaja dari situs porno, disisi lain memberi akses sebesar-besarnya pemanfaatan internet bagi anak-anak dan remaja untuk peningkatan ilmu pengetahuan dan teknologi. Dan bila situs porno begitu muda diakses oleh anak-anak, maka waktu untuk menikmati ‘ilmu’ internet akan sirna.  Sudah hilang satu kesempatan berharga menggunakan teknologi dengan tepat!

Salam Nusantaraku,
ech-wan, 13 Juli 2009

Sumber Referensi:
Correlation does not imply causation ——-Social effects of pornography
Pornography in Japan ——- Bagustakwin

23 Komentar leave one →
  1. Juli 13, 2009 3:01 PM

    Selamat sore lama tak bersua
    hi hi hi
    Setujuh
    Hapuskan situs porno!
    hidup Yuma Asami!
    LOH
    Ha ha ha ha

  2. Juli 13, 2009 6:22 PM

    Belajar dari hal ini
    sekarang tulisan2 saya banyak yang saya password
    tidak mau menyesatkan soalnya 🙂

  3. callighan permalink
    Juli 13, 2009 6:47 PM

    Wah kalau dalam hal pornografi saya tidak sepaham dengan Mas Nus nih.

  4. Juli 13, 2009 7:19 PM

    @Omblog
    Selamat sore juga .om.
    Sudah lama tidak bersapa.

    @Eka S
    Tapi, tulisannya keren-keren. Bisa menghipnotis orang… 🙂

    @Callighan
    Yah…pernah dibahas di 6 situs tersebut. 🙂 😀
    Saya sependapat jika penduduk tetap diberi kebebasan individual (sebut saja diatas 17 tahun) dalam berbagai aspek termasuk askes situs porno.
    Namun, saya lebih menitikberatkan pada anak-anak. Karena menurut saya orang tua dan sekolah masih belum mampu memberikan pendidikan yang cukup bagi anak-anak, sehingga perlu diproteksi. Meskipun ada banyak faktor dan kita tidak bisa mengkambinghitamkan internet semata, namun proteksi yang lebih tinggi saya pikir jauh lebih baik, seperti berbayar.

    • callighan permalink
      Juli 13, 2009 7:41 PM

      Ngomong-ngomong, ternyata model pendidikan barat tidak baik untuk ditiru. Pandangan umum orang barat adalah sex dan pornografi adalah hal yang biasa dna alamiah, sehingga anak-anak yang baru masuk usia puber wajar untuk mencari tahu tentang pornogafi. Oleh karena itu, approach yang diambil orangtua barat adalah mendidik anak tentang reproduksi dan safe sex.
      Hasilnya bervariasi. Di Amerika dan Inggris, angka kehamilan muda cukup tinggi untuk demografi “ABG”. Sementara di negara eropa kontinental lebih terkontrol. Rupanya ada faktor “kesopanan” yang lebih menonjol di negara-negara eropa kontinental yang lebih kental sejarah aristokrasinya.
      Walaupun begitu, jumlah remaja dan “ABG” yang telah melakukan one sex act or another tinggi. Bayangkan, umur 11 tahun sudah melakukan sex oral.
      Untuk negara berbudaya luhur seperti Indonesia, sebaiknya ada two-pronged approach dimana selain ada usaha dari pemerintah, juga ada usaha dari orang tua untuk memberi pemahaman tentang sex dan pornografi. Sebisa mungkin dengan cara menanamkan nilai-nilai budaya luhur yang berdasarkan kesopanan, keajegan dan keluhuran pribadi.

      But for me, I’m way passed the age and thus entitled to have gigabytes of high definition pornography in my electronic repository! 😀

    • Juli 13, 2009 8:00 PM

      Sdr Callighan yang baik,
      Untuk ukuran dewasa, saya sependapat bahwa penyimpanan berbagai benda merupakan suatu hak selama benda tersebut digunakan dengan cara yang baik dan tidak merugikan secara langsung kepada orang lain dalam penggunaannya. Bahkan termasuk didalamnya senjata atau miras. Itu merupakan hak pribadi masing-masing. Namun, penggunaanya mestinya tepat, cermat, bertanggungjawab. Semua berpulang pada diri sendiri. Namun, ukuran anak-anak dan remaja menjadi persoalan tersendiri. Saya masih berpendapat bahwa anak-anak dan remaja masih bilang matang (mature). Mereka perlu mendapat perhatian yang tinggi, sebagai generasi masa depan.
      Dan saya pikir, negara memiliki kewajiban itu. Meskipun mestinya adalah peran dan fungsi dari orang tua dan sekolah.
      Hmm…budaya dan etika Timur perlu kita lestarikan dan jika memang butuh diadapatasi, dapat disesuaikan dengan tetap tidak kehilangan esensi mendasar.
      Terima kasih atas sharing dan informasinya..
      🙂

  5. Juli 13, 2009 9:09 PM

    hem… setuju mas ikhwan. bahkan kalau menurut saya, biarpun sudah dewasa tetap aja gak baik ngliat konten porno. kalo gak percaya, gugle aja, sebagian besar penyebab perkosaan dan pelecehan seksual adalah karena ngliat hal2 porno.

  6. Juli 13, 2009 9:51 PM

    salam kenal….
    kalo di indo diblokir emang rada2 susah ya mas…..pasalnya byk program2 utk bisa tembus tuh situs…….ya blokir plg baik emang dari diri kita sendiri yah…..btw klo bener2 diblokir…tujuan ngenet saia bisa berkurang nih……maklum lah abis aktipitas seharian nyari yg seger2 wakakakakak ……..

    • Juli 14, 2009 3:33 PM

      @Neilhoja
      Sdr Neilhoja yang baik,
      Kalau orang dewasa, ada beberapa penelitian yang memberi hasil yang berbeda. Namun, benar bahwa ada dampak secara langsung maupun tidak langsung yang menimpa sebagian orang diakibatkan menonton konten porno. Terutama pada anak-anak dan remaja. Di media massa, sering kita dengar remaja mencabuli anak-anak lantaran menonton video porno. Ini yang harus kita proteksi. Pro dan kontra untuk kalangan dewasa, memang agak sulit menemukan titik temu.. 😉

      @m4stono
      Salam kenal juga untuk MasTono yang baik,
      Memang semua kembali pada diri kita masing-masing. Sebenarnya, pemerintah dapat memblokir secara kontinyu. Karena konten porno selalu eksis ibarat “patah tumbuh, silih berganti”.
      🙂

    • callighan permalink
      Juli 14, 2009 8:43 PM

      Wah, kalau diblokir secara continuous, bakal banyak produksi lokal deh. IGO euy.. Indonesian Girls Only produksi HP dan Handycam.. which are actually bad in quality.

      Tapi bagaimanapun juga, industri tertua di muka bumi ini akan berlanjut in one form or another.

    • Juli 15, 2009 2:54 PM

      Minimal ada upaya kontinyu, mungkin secara bertahap.Mulai dari hardcore, bertahap selangkah demi selangkah.
      Ha…. “which are actually bad in quality” .. 🙂
      Kalau mutunya jelek, lama-lama orang juga bosan nontonnya?

      Yah….bisnis tertua di dunia dan kemungkinan besar tidak bisa punah.

  7. Juli 15, 2009 12:43 AM

    pornograpi akan menjadi rangsangan untuk melakukan sesuatu
    ada yang tahu resiko, mungkin ini orang dewasa
    ada pula yang tidak pikir panjang, mungkin ini anak kecil kadang yang dewasa juga

    kalau dihilangkan apa kira2 yang akan terjadi?
    setidaknya bisa mengurangai efek buruk dari orang yang tidak pikir panjang

    makin lama kita makin kehilangan apa yang baik dan apa yang buruk
    semuanya semakin sulit diukur
    semuanya semakin dilematis
    selalu saja ada alasan untuk pembenaran

    bukankah harusnya ditentukan dulu salah atau tidaknya baru kita berpikir cara terbaik mengatasinya dan mengatasi apa yang mungkin terjadi berikutnya?

  8. Juli 15, 2009 7:38 AM

    Mas, itu situs porno bintang-bintang apa ya. Ga dapat saya itu bacanya apa. Di beberapa negara memang pornografi diizinkan ya. Dan meskipun anak2 di sana ketat sekali diawasi, tp pasti bisa kecolongan juga.
    Kalo untuk Indonesia, rasanya sih di beberapa kota2 besar harusnya sudah bolehlah dibuat wilayah khusus pornografi. Tidak masalahlah, toh khusus orang dewasa kan.

    • Juli 15, 2009 3:00 PM

      Kalau nekat mau tau bintangnya, Sdr dapat cek di http://www.alexa.com di Indonesia.
      Yah…di beberapa negara, pornografi dizinkan, salah satunya di Jepang. Seperti Mas Callighan katakan, ada pendidikan ekstra tentang seks di Barat, sehingga masih dapat dibendung. Kalau di Indonesia… kan masih tabu dibicarakan, dan anak-anak serta remaja hanya memahami secara sendiri-sendiri. Ini yang berbahaya.
      Kalau orang dewasa, no comment.

    • callighan permalink
      Juli 15, 2009 5:07 PM

      Ngomong-ngomong, di Jepang boleh beredar tetapi di sensor bagian bawahnya.
      Tapi mungkin anda juga sudah tahu.

      Wah, kalau bicarakan JAV seru deh. 😀

  9. Juli 15, 2009 12:48 PM

    met siang… lama nggak meninggalkan jejak nih..

    sepanjang berita yang saya lihat di TV dan koran hampir semua pemerkosaan yg terjadi, itu berlangsung setelah pelakunya melihat filem bokep..

    • Juli 15, 2009 3:05 PM

      Met Siang juga…
      Terima kasih meninggalkan jejak.
      Benar..pemerkosaan yang terjadi karena melihat film boket kerap terjadi pada kalangan ABG.

  10. KangBoed permalink
    Juli 15, 2009 12:53 PM

    Waaaakaakakakak.. situs porno.. bikin ciloko..
    Salam Sayang

  11. Juli 15, 2009 2:48 PM

    Kenapa bikin ciloko Juragan Wapres,,??hehe..

    Salam Perubahan..

    Salam Anak Bangsa..

    http://celotehanakbangsa.wordpress.com/2009/07/14/kalau-anggota-dpr-sok-tau/

    • Juli 15, 2009 3:10 PM

      @KangBoed
      Lebih kurang seperti itulah Kang Boed.

      @celotehanakbangsa
      Salam Perubahan dari dan untukAnak Bangsa.
      NB: ceriteranya lucu.. mantap dan kreatif.

  12. Juli 21, 2009 6:08 AM

    bagus itu, perlahan-lahan Indonesia bisa mengentaskan kemerosotan moral… 🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: