Skip to content

Gerakan CICAK dan Sejarah Kisah Cicak Melawan Buaya (KPK vs Polri)

Juli 13, 2009

“…cicak kok mau melawan buaya…”
(Kabareskrim Mabes Polri Komjen Pol. Susno Duadji, Majalah TEMPO 6-12 Juli 2009)

Dalam beberapa hari terakhir ini, kemunculan Cicak menjadi perhatian unik tatkala Cicak dikatakan akan melawan Buaya. Yang pasti, bukanlah cicak dan buaya yang sesungguhnya. Cicak merupakan gerakan Cinta Indonesia Cinta KPK yang muncul sebagai respons pernyataan Kabareskrim Mabes Polri Komjen Polisi Susno Duadji (Kabareskrim SD) dalam wawancara majalah Tempo Edisi 6-12 Juli 2009 yang mengatakan KPK sebagai Cicak, sementara Kepolisian adalah Buaya.

Kita tahu bahwa dengan kasus Antasari, lembaga KPK mulai terasa digembosi oleh berbagai pihak. Jauh sebelumnya, pada April 2008, Ahmad Fauzi- anggota DPR dari Partai Demokrat meminta KPK dibubarkan [sumber]. Dua bulan yang lalu, Nursyahbani Katjasungkana, anggota DPR dari fraksi PKB meminta KPK tidak mengambil keputusan alias tidak usah kerja lagi untuk proses penyelidikan korupsi yang membutuhkan keputusan terkait kasus Antasari [sumber]. Dan 3 minggu yang lalu 24 Juni 2009, Pak SBY mengatakan KPK telah menjadi lembaga superbody sehingga wewenangnya butuh diwanti (dikurangi wewenangnya).  [Kompas Cetak] Dan terakhir pernyataan Kabareskrim SD yang mengatakan “ibaratnya, di sini buaya di situ cicak. Cicak (KPK) kok melawan buaya (Polisi)” [sumber]

Pernyataan SD langsung menuai antipati dari para aktivis LSM anti korupsi dengan menggantikan simbol tikus sebagai koruptor dengan simbol buaya [simbolisasi lembaga kepolisian dari Komjen Pol. SD]. Selama ini, tikus selalu diidentikkan dengan koruptor karena sifatnya yang suka menggerogoti barang. Namun, sekarang tikus harus mengalah dari buaya. Sebab, koruptor, saat ini diidentikkan dengan buaya.

Cikal Bakal Cicak vs Buaya [sumber]

 

”]Seorang partisipan gerakan Cinta Indonesia Cinta KPK sedang memakan roti buaya sebagai simbol keganasan koruptor

 

SD gerah ketika telepon genggamnya tersadap oleh KPK. Penyadapan itu terkait dengan penanganan kasus Bank Century.  Dalam pembicaraa tersebut, SD deal-dealan dengan pihak Boedi Sampoerna yang akan memberi Rp 10 miliar bila depositonya berhasil dicairkan dari Bank Century.

Susno menyatakan dirinya tak marah atas penyadapan itu. ”Saya hanya menyesalkan,” ujarnya. Lulusan Akademi Kepolisian 1977 ini menyebut penyadapan itu sebagai tindakan bodoh. Sehingga, ujarnya, ia justru sengaja mempermainkan para penyadap dengan cara berbicara sesuka hati.

Sebelumnya, polisi memeriksa Wakil Ketua KPK Chandra Hamzah lantaran disebut-sebut melakukan penyadapan tak sesuai prosedur dan ketentuan. Pemeriksaan Chandra dituding sebagai upaya polisi untuk melumpuhkan komisi yang galak terhadap koruptor itu. Apa yang terjadi sebenarnya? Pekan lalu, wartawan Tempo Anne L. Handayani, Ramidi, dan Wahyu Dhyatmika menemui Susno Duadji di ruang kerjanya untuk sebuah wawancara. Berikut petikan wawancara tersebut.

Polisi dituduh hendak menggoyang KPK karena memeriksa pimpinan KPK dengan tuduhan penyalahgunaan wewenang penyadapan. Komentar Anda?

Kalangan pers harus mencermati, apakah karena dia (Chandra Hamzah) pimpinan KPK lalu ada masalah seperti ini tidak disidik. Katanya, asas hukum kita, semua sama di muka hukum. Jelek sekali polisi kalau ada orang melanggar undang-undang lalu dibiarkan. Kami sudah berupaya netral dan menjadi polisi profesional.

Apa memang ditemukan penyalahgunaan wewenang untuk penyadapan itu?

Saya tidak mengatakan penyalahgunaan atau apa. Silakan masyarakat menilai. Menurut aturan, yang boleh disadap itu orang yang dalam penyidikan korupsi. Kalau Rhani Juliani, apa itu korupsi? Dia bukan pengusaha, bukan pegawai negeri, bukan juga rekanan dari perusahaan. Kalau korupsi, korupsi apa, harus jelas.

Tapi sikap Anda ini dinilai menggembosi KPK?

Kalau kami mau menggembosi itu gampang. Tarik semua personel polisi, jaksa. Nanti sore juga bisa gembos. Lalu Komisi III nggak usah beri anggaran. Kami berteriak-teriak ini supaya baik republik ini.

Kami mendapat informasi, saat diperiksa Antasari membeberkan keburukan pimpinan KPK yang lain.

Saya tidak tahu, tanya ke Antasari. Lha, sekarang kalau pimpinannya yang mengatakan lembaga itu bobrok, berarti parah, dong. Dia kan yang paling tahu. Dia kan pimpinannya.

Ada kesan polisi dan KPK justru berkompetisi, bukan bersinergi. Benar?

Tidak, yang melahirkan KPK itu polisi dan jaksa. Saya anggota tim perancang undang-undang (KPK). Kami sangat mendukung. Tapi karena opini yang dibentuk salah, seolah-olah jadi pesaing. Padahal 125 personel yang melakukan penangkapan dan penyelidikan (di KPK) itu kan personel polisi. Penuntutnya juga dari kejaksaan. Kalau nggak gitu, ya matek (mati) mereka. Jadi, tak benar jika dikatakan ada persaingan

Anda, kabarnya, juga akan ditangkap tim KPK karena terkait kasus Bank Century?

Ah, ya enggak, itu kan dibesar-besarkan. Mau disergap, timbul pertanyaan siapa yang mau menyergap. Mereka kan anak buah saya. Kalau bukan mereka, siapa yang mau nangkap? Makanya, Kabareskrim itu dipilih orang baik, agar tidak ditangkap.

Kalau penyidik KPK yang menangkap?

Mana berani dia nangkap?

Karena adanya berita itu, Anda katanya marah sekali sehingga kemudian memanggil semua polisi yang bertugas di KPK?

Tidak, saya tidak marah. Mereka kan anak buah saya. Mereka pasti memberi tahu saya. Saya cuma kasih tahu kepada mereka, gunakan kewenangan itu dengan baik.

Apa benar Anda minta imbalan untuk penerbitan surat kepada Bank Century agar mencairkan uang Boedi Sampoerno?

Imbalan apa? Apanya yang dikeluarkan? Semua akan dibayar, kok. Bank itu tidak mati, semua aset diakui dan ada. Terus apa lagi yang mesti diurus? Yang perlu diurus, uang yang dilarikan Robert Tantular itu.

Jadi, apa konteksnya saat itu Anda mengirim surat ke Bank Century?

Konteksnya, saya minta jangan dicairkan dulu rekening yang besar-besar. Kami teliti dulu. Paling besar kan punya Boedi Sampoerna, nilainya triliunan rupiah. Kami periksa dulu, kenapa Boedi Sampoerna awalnya nggak mau melaporkan.

Menurut Anda, kenapa ada pihak yang berprasangka negatif kepada Anda?

Kalau orang berprasangka, saya tidak boleh marah, karena kedudukan ini (Kabareskrim) memang strategis. Tetapi saya menyesal, kok masih ada orang yang goblok. Gimana tidak goblok, sesuatu yang tidak mungkin bisa ia kerjakan kok dicari-cari. Jika dibandingkan, ibaratnya, di sini buaya di situ cicak. Cicak kok melawan buaya. Apakah buaya marah? Enggak, cuma menyesal. Cicaknya masih bodoh saja. Kita itu yang memintarkan, tapi kok sekian tahun nggak pinter-pinter. Dikasih kekuasaan kok malah mencari sesuatu yang nggak akan dapat apa-apa.

Ada Apa dengan Aparat Kepolisian [sumb-1, sumb-2]

Dua lembaga penegakan hukum di Indonesia yakni Kejaksaan dan Kepolisian selama ini mendapat cap buruk sebagai sarang korupsi dan sarang tindakan kriminal. Pada tahun 2008, Polri mendapat peringkat pertama sebagai lembaga publik terkorup di Indonesia [TII, 2008]. Sedangkan 2009, giliran lembaga peradilan/kejaksaan mendapat Cicak‘juara” kedua sebagai lembaga terkorup setelah DPR. [TTI, 2009]. Belum cukup sampai disana, pada 24 Juni 2009, Amnesti Internasional merilis dokumen setebal 89 halaman berjudul “Urusan Yang Tak Selesai: Pertanggungjawaban Kepolisian di Indonesia” dengan inti laporan adalah kepolisian Indonesia melakukan penyiksaan, pemerasan, dan kekerasan seksual terhadap tersangka yang mana perilaku ini sebagai budaya melanggar hukum pada 2008 dan 2009 [sumber,2009]

Dan blunder yang paling panas adalah pernyataan Kabareskrim MSD yang menyatakan petinggi kepolisian tidak dapat disentuh oleh KPK. Pernyataan SD ini membawa ingatan kita pada perseteruan antara polisi dengan Independent Commission Against Corruption (ICAC), lembaga pemberantasan korupsi di Hongkong (Kompas, 2 Juli 2009).

Pada tahun 1977, “KPK Hongkong” tersebut membongkar kasus korupsi Kepala Polisi Hongkong yang tertangkap tangan menyimpan aset sebesar 4,3 juta dollar Hongkong dan menyembunyikan uang 600.000 dollar AS. Akibatnya, beberapa saat kemudian, Kantor ICAC digempur oleh polisi Hongkong. Setelah pengadilan memutuskan bahwa Kepala Polisi tersebut memang terbukti bersalah dan ICAC terbukti bersih, maka Hongkong pun kini dikenal sebagai negara yang relatif bersih dari tindak pidana korupsi. Dan fakta ini tak lepas dari kinerja ICAC.

Gerakan CICAK [sumber]

Berikut petikan wawancara dengan seorang aktivitis CICAK yang dirilis di Politikana.

Kenapa ada gerakan solidaritas CICAK untuk KPK? Bukankah, sebagaimana diberitakan media, KPK lembaga super?

KPK memang betul lembaga super, karena superioritas KPK ini, kami dari CICAK yakin, banyak pihak yang tidak suka dan mulai menyarangkan serangan tersistematisir terhadap KPK. Ini bukan kami mendramatisasi atau lebay lho, tapi coba Anda lebih jeli deh. KPK adalah lembaga super yang bertugas memberantas korupsi di Indonesia. Kenapa disebut super? Karena KPK berwenang melakukan penyelidikan, penyidikan, penuntutan sampai pemeriksaan di pengadilan. Kewenangan penyelidikan dan penyidikan selama ini dikerjakan oleh kepolisian. Sedangkan penuntutan dan pemeriksaan di pengadilan dikerjakan oleh kejaksaan. Jadi kerja dua instansi penegak hukum dikerjakan oleh KPK.
Tambah lagi, dalam UU KPK no.30/2002, disebutkan untuk mengadili penuntutan kasus korupsi yang dilakukan oleh KPK, pengadilan yang berwenang adalah pengadilan korupsi. Artinya, dibentuk pengadilan baru. Kekhususan pengadilan korupsi ini terutama dari komposisi hakimnya yang terdiri dari hakim pengadilan negeri dan hakim ad-hoc serta proses beracara. Hakim ad-hoc adalah hakim tambahan yang bukan berasal dari hakim karir, dari unsur masyarakat.
Kewenangan super KPK lainnya adalah KPK berwenang untuk mengambil alih penyidikan yang sedang dikerjakan polisi. Apabila KPK mengambil alih penyidikan kasus, maka pihak kepolisian harus menyerahkan kasus tersebut dalam kurun waktu 14 hari pada KPK dan kepolisian tidak berwenang lagi menangani perkara tersebut.

Waks! Betul-betul super ya KPK ini. Bisa banyak musuh dong KPK?

Iya. Terutama musuh KPK adalah para koruptor, oknum pejabat dan aparat yang korup. Hal ini menjelaskan mengapa kami beranggapan ada serangan tersistematisir pada KPK

Ah, dasar cicak paranoid. Lembaga super begitu gimana mau diserang?

Anda sudah baca kan betapa superiornya kewenangan KPK dibanding aparat penegak hukum lain? Belum lagi kewenangan KPK lain seperti penyadapan, pencekalan, blokir rekening, perintah pemecatan sampai membina kerjasama dengan Interpol. Dengan sedemikian banyak kewenangan, para koruptor tentu perlu merapatkan barisan untuk melumpuhkan KPK.

Tadi Anda bilang ada upaya sistematisir penyerangan terhadap KPK. Seperti apa sih?

Contoh paling mudah dengan tertunda-tundanya pembahasan RUU Pengadilan Tipikor. Memang betul sekarang ada pengadilan korupsi, tapi berdasarkan putusan Mahkamah Konstitusi (MK), untuk peradilan korupsi, harus diatur dalam UU tersendiri, tidak bisa menclok dalam UU KPK seperti sekarang. Nah masalahnya, dalam putusan MK tersebut ada jangka waktu, yaitu paling lambat tanggal 19 Desember 2009, harus sudah terbentuk UU Pengadilan Korupsi baru. Sedangkan nasib RUU itu sendiri sekarang masih dibahas oleh Panitia Khusus (Pansus) DPR. Dari limapuluh (50) anggota Pansus, hanya duapuluh (20) orang yang terpilih kembali. Masa sidang yang tersisa adalah dari 14 Agustus 2009 sampai 30 September 2009. Singkat kan? Itu baru sekedar contoh.
Kemudian seperti yang diberitakan oleh majalah Tempo edisi 6-12 Juli 2009, dilakukan pemeriksaan atas Wakil Pimpinan KPK Bagian Penindakan Chandra M. Hamzah atas dugaan penyadapan handphone Rhani dan Nasrudin. Menurut kami, pemeriksaan tersebut terlalu mengada-ada. Bukankah penyadapan bagian dari kewenangan KPK? Bisa dilihat di UU KPK No.30/2002 pasal 12 ayat 1 huruf a.

Nah waktu itu ada wawancara di majalah mingguan terkemuka nasional, yang mewawancarai seorang petinggi kepolisian. Di wawancara tersebut, bapak polisi menyebut soal cicak dan buaya. Apakah ada hubungannya?

Oh, maksud Anda berita di majalah Tempo 6-12 Juli yang judulnya Ramai-Ramai Gembosi KPK? Terus terang kami dari gerakan CICAK merasa berterima kasih karena berdasarkan wawancara itu istilah ‘cicak’ pertama kali muncul dan membuat kami makin terinspirasi untuk membuat suatu gerakan.

Apakah gerakan CICAK ditunggangi parpol?

Coba Anda perhatikan, selama ini justru kami para cicak yang menunggangi parpol. Sayangnya tunggang-menunggang sulit efektif kalau melibatkan parpol, apalagi mereka menyuarakannya hanya lima tahun sekali. Tolong catat ya.

Apakah “Kami CICAK” ini gerakan anti aparat?

Tentu tidak. Mengapa kami harus anti aparat penegak hukum? Tidak masuk logika dong, pemberantasan korupsi tanpa melibatkan aparat penegak hukum seperti kepolisian, kejaksaan dan pengadilan. Jangan membuat orang berfantasi yang tidak sehat ah.

Lho, kalau begitu, kenapa sebut-sebut buaya? Terus apa hubungannya dengan cicak? Kan buaya tidak makan cicak?

Pertama, tahu darimana Anda buaya tidak makan cicak? Memang Anda buaya? Kedua, buaya itu personifikasi semua yang buruk dari korupsi/koruptor. Memang kasihan sih buayanya, tapi kami yakin penampakan buaya dimanapun pasti bikin ngeri. Sama seperti koruptor. Ketiga, cicak itu melambangkan kami yang jumlahnya banyak tapi sering tak diperhitungkan partisipasinya, sering dilupakan tapi sering apes terjepit pintu atau tertindih lemari. Persis seperti cicak. Keempat, meski buaya dan cicak sama-sama reptil, sama seperti kami dengan koruptor yang sama-sama manusia, tapi kami tidak mau mengambil apa yang bukan hak kami, tidak seperti koruptor.

Menurut Anda, penting ya mendukung gerakan KAMI CICAK ini?

Sekarang coba jangan gunakan kata “Anda” lagi. Gunakan kita. Karena kita sama-sama anti korupsi, kita percaya Indonesia kita ini, yang kita harus rawat sebaik-baiknya, akan lebih baik tanpa korupsi. Dan kita, seperti cicak yang sering tak berdaya, tidak dianggap dan terjepit, mampu dan berani bersuara melawan buaya koruptor

Wah, sepertinya Anda kompor betul ya!

Jangan gunakan Anda lagi! Anda, saya, kita semua, para cicak, akan mendeklarasikan GERAKAN CICAK. Tunggu tanggal mainnya.

Tunggu, tunggu, pertanyaan terakhir. Jadi siapa sebenarnya cicak?

Siapa itu cicak? Cicak itu anda, saya dan kita semua! Hidup CICAK (Cinta Indonesia, Cinta KPK)

——————————

Kita tahu apa dan siapa yang dimaksud sebagai cicak. Perumpamaan ‘cicak’ jelas merupakan upaya pengkerdilan dan melemahkan gerakan anti-korupsi. Bila untuk mendukung gerakan anti-korupsi harus menjadi ‘cicak’, marilah kita semua menjadi cicak. Anda cicak, saya cicak, kita semua cicak. Dan mereka buaya.

Beberapa catatan penting, sudah saya bold atau beri warna pink dan merah.
Namun, sekali lagi diingatkan bahwa gerakan cicak bukan berarti gerakan anti kepolisian. Gerakan CICAK adalah gerakan solidaritas atas upaya melemahkan fungsi KPK untuk memberantas korupsi secara independen! Yang menjadi perlawanan CICAK adalah oknum yang berusaha mengkerdilkan KPK!
Bangkit dan lawan segala bentuk tindak pidana korupsi di negeri ini!

Tulisan-tulisan di atas merupakan kumpulan tulisan di :
Majalah Tempo Edisi 6-12 Juli 2009
Ayo Dukung Cicak Lawan Buaya!
Tanya Jawab Dengan Seekor CICAK
Lebih Ganas Daripada Tikus, Koruptor Kini Disimbolkan Buaya

Salam Nusantaraku,
ech-wan, 13 Juli 2009

Kok, Pejabat Polisi suka dengan analogi buaya. Apakah memang betul polisi itu “buaya darat”, “buaya peradilan” dan “buaya uang negarai”?

108 Komentar leave one →
  1. Ito Mirna J. Simbolon permalink
    November 16, 2009 8:39 AM

    EGGY SUJANA cs vs. AHMAD RIFAI cs
    Aku setuju kali dengan opini kisskiss cs.
    Kali ini aku ingin kritisi argumen Eggy, yang sering diburk-burukkan sebagai pengacara hitam, versus Ahmad cs. Aku lihat Eggy orang logis dan hebat. Di TV bang ONE pagi ini Eggy tetap memperlihatkan hal itu, Eggy cerdas kali dengan berkata bahwa proses hukum atas Bibit Chandra, atau menurut saya terhadap siapapun yang sudah ada bukti-bukti awal sangkaan tindak pidana musti dilanjutkan. Negara ini negara hukum, Bung! Bukan negara opini dan perasaan yang menggampangkan alasan situasi darurat! Sebab siapapun sama di hadapan Hukum, ya nggak? Proses paling benar dan adil haruslah melalui pengadilan.
    Ahmad Rifai dan Amir Syamsudin dari Tim 8 merekomendasi proses itu dihentikan jelas salah besar apapun alasannya. Amir melihat kondisi saat ini darurat, itu bohong besar, tak pantas pengacara ternama bicara macam itu; Tim 8 terjebak terperangkap total diperalat SBY, yang mengikuti pola-pola cari aman gaya Suharto! Ini kesalahan besar pendekar-pendekar pengacara/pembela gaek seperti Buyung dan juga Todung ML. Tim 8 harusnya sadar bahwa mereka diperalat oleh SBY dan mundur demi rakyat dan kita mahasiswa. Amir maupun Tim 8 telah mendefinisikan keadaan darudat seenak udelnya. Tidak ada hal apapun saat ini apalagi mengatas namakan keresahan masyarakat dijadikan alasan keadaan darurat. Ini negara hukum! Bayang-bayang keresahan masyarakat kalaupun kelihatan dan ada tidak boleh membatalkan proses hukum, disni polisi dan jaksa ditantang untuk mampu membuktikan. Karena kalau tidak maka justru rakyat dan kita mahasiswa akan mengamuk tidak terkendali. Proses peradilan jalan terus, dan kasus baiout ilegal Bank Century juga harus dijalankan! Kita anggap argumen Eggy jitu dan benar 1000 persen bahwa semua harus diproses dalam pengadilan. Bukti-bukti awal cukup menyeret Bibit Chandra. Mereka hanya mengelak begitu ketahuan, sama seperti Antasari, yang dijebak dan terjebak. Setiap pejabat KPK harusnya waspada, sebab mereka mendapat gaji tinggi dan akses besar dan fasilitas cukup. Mereka manusia biasa yang bodoh menjebakkan diri. Seperti Antasari, Bibit Chandra pun terlena dan lalai, terjebak dalam iming-iming suap. Sikap lalai berat menyangkut kepentingan negara/publik ada proses hukumnya. Semua proses harus berjalan cepat dan jangan sampai memberi kesempatan kepada SBY menjabat 5 tahun lagi tanpa membangun negara seperti maraknya pembangunan era Suharto; Suharto jelas, SBY tidak jelas! Proses hukum Bibit Chandra dan Antasari jalan terus, dan harus bisa menjebloskan mereka dalam bui, begitu pula proses Bank Century harus jalan terus untuk menjebloskan Budiono ke Cipinang. Kita harus sadar itulah sebabnya Budiono diberi kursi empuk sebagai wapresnya SBY, ada apa? Banyak yang melihat sebagian dana talangan Bank Century untuk membiayai kampanye SBY, karena waktu itu tim SBY ketakutan dikroyok Mega, Prabowo dan Wiranto, maka Budiono dijanjikan jabatan wapres.
    Proses hukum di pengadilan ini harus jalan terus. Semua akan ketahuan nanti siapa salah siapa benar. Kalau di Caina, mereka langsung ditembak mati. Kalau SBY berani menempuh jalan itu maka negeri rakyat dengan 1001 derita ini akan berhenti, dan majulah Indonesia. Tapi kali ini negeri ini lagi lagi mendapat pemimpin negara yang palsu. Semua musti kita hentikan sekarang juga, kita musti jalankan People Power, dengan berbagai siasat dan cara, jangan patah arang, kawan, kita selalu solid dan bersama, kita ambil keputusan bila Tim 8 hanya sekadar alat SBY dan SBY tetap tidak jelas! Tak ada kekuasaan sekalipun di dunia ini yang seenaknya dan boleh mengentikan proses hukum. Ini negara hukum, kawan! Segala hal penyalahgunaan negara hukum harus berhenti. Eggy benar, ujung permasalahan negara kita kali ini adalah Presiden SBY itu sendiri yang tidak mennjukkan ketegasan. Kita semakin paham SBY selalu berbohong dan penuh kepura puraan. Tiap hari, tiap jam, tiap detik, dengan lidahnya yang tak bertulang! 5 tahun berlalu tanpa prestasi siginfikan, dan 10 tahun pada 2014 akan lewat tanpa pembangunan signifikan. Suhato berakhir dengan pembangunan pembangunan masif dan luar biasa, kami akui, masih lebih baik daripada SBY yang seperti kentuty dan kurang ajar kepada rakyat dan kita semua. SBY pandai berbohong dengan permainan kata kata dan mengelabuhi kita mahasiswa dan seluruh rakyat negeri ini, sehingga kita tidak mendapat apa-apa yang berarti. Hanya si kaya yang menikmati, si miskin mati. Tidak seperti Malaysia dan negara-negara lain di Asia ini yang justru merdeka lebih belakang, Indonesia sengaja tidak dibagun fasilitas fasilitas ramah publik seperti jaringan KRL dan monorail yang banyak, yang handal, aman dan nyaman dan murah, sementara di negeri dengan rezim biadab ini, listrik dengan alasan macam macam selalu dipadamkan bergilir terus-menerus, Uli benar kok. Kami tambahkan, juga GDP disini tidak meningkat dengan nyata kecuali statistik bohong, ini selalu dibesar besarkan SBY dan menteri ekonominya semakin menunjukkan kebohonga mereka untuk mebohongi media nasional dan internasional, dan tidak ada matauang bernilai. Rupiah tetap di kisaran di atas Rp8000 per satu dolar, ini sesungguhnya sudah kiamat, tidak bisa rezim ini disebut pemerintah atau negara ini disebut negara kecuali kampung besar yang dikuasai boneka mafia pemeras hasil bumi rakyat/negara pemilik sah, rupiah tak ada nilai sama sekali. Rakyat terpaksa mengeluarkan banyak rupiah itupun kalau mereka ada rupiah cukup). Hal kecil saja, SBY membiarkan pimpro pimpro tidak menyediakan fasilitas fasilitas publik pokok seperti WC WC umum yang harusnya gratis (lazim di semua negara manapun) yang bersih tanpa dipungut bayaran, dan rupanya inilah negaranya di bawah rezim SBY yang tidak jelas, negara yang membiarkan abadinya permakelaran, markus-markus, dan yang lain banyak lagi. Maka PROSES HUKUM TERMASUK KASUS TERPENTING BAILOUT ILEGAL BANK CENTURY HARUS JALAN TERUS. HAJAR BUDIONO YANG SOK SUCI TAPI BAJINGAN! KALAU TIDAK, KITA LAKSANAKAN PEOPLE POWER, MENGUGAT DAN MENJATUHKAN SBY YANG TIDAK BECUS DAN TIDAK JELAS.

  2. Dian permalink
    November 17, 2009 6:01 PM

    Emang dari dulu yang namanya polisi dan aparat lainnya tuh suka ga bener. yang salah dibilang bener yang benr dibilang salah. dan sekarang semuanya dibalik sama mereka. jahat deh. bibit sama chandra yang ga salah dibilang salah. pokonya hidup kpk!!!!!

    • maria permalink
      Maret 1, 2012 11:46 AM

      tapi g smua’y polisi atw aparat ntu g bnr mbak..
      emang mbak tau kasus ini sprti apa…
      sblum bicara qta hrus liat dngn logika bkn dngn emosi..trima kasih mbak….

  3. Mirna Jay permalink
    November 25, 2009 4:09 PM

    Kita semua, seluruh mahasiswa, sekarang sadar dan semakin tahu betul kemahalicikan SBY, bukan keraguan aau jalan tengah, tetapi sudah merupakan kemahalicikan, dengan alasan lagi-lagi pembohongan untuk menyelamatkan bangsa. Apa hubungannya? Tidak ada.

    Sebetulnya dia hanya mencari aman tetap ebrkuasa menjadi presiden hingga 2014, tanpa masalah, dan etap bisa jalan-jalan ke lar negeri dengan fasilitas kenegaraan yang nyaman. Menjadi presiden 10 tahun cukup kaya dari segi materi juga.

    Juga tak perlu membela rakyat walaupun rakyatlah yang membawa dia ke kekuasaan yang kedua. SBY selalu menunjukan karakternya itu karena toh belum ada dalam sejarah Indonesia, kita mahasiswa melancarkan demo besar tanpa bantuan kekuatan asing yang berkepentingan.

    Itu maka kita lagi lagi dibohongi, dikentuti. Saat kita desak copot Kapolri dan Jagung, SBY panggil keduanya agar hanya copot Susno dan membuat blunder pembohongan klasik, yakni membuat mutasi, putar sana putar sini dengan alasan klasik juga, tour of duty, hal yang bukan substantif. SBY memelihara paradigma usang. Tidak seperti pemimpin-pemimpin dunia, yang berparadigma universal, cepat dan adil dengan sistem tanpa cacat yang disiapkan cepat dengan ebrbagai UU universal, SBY justru memanfaatkan paradigma lama tersebut. Tentu tunggu akan kita protes terus hingga dia menyerah mundur. SBY tidak hanya berparadigma usang ala Suharto, yang juga merangkul cendekia-cendekia bunglon macam Daniel Sparinga, Denny Indrayana dan Andi Malrangeng, agar tidak vokal lagi maklum mereka sempat miskin kalau di luar posisi sekarang, tetapi juga mengadopsi cara-cara Suharto memutar-mutar bawahan bila ada tekanan mahasiswa atau rakyat, sisi paradigma yang harusnya sudah ditinggalkan. Tetapi Suharto lebih berguna, berani mencopot langsung.

    Melihat pemimpin payah SBY, kita harus protes terus; kita sudah jauh tetringgal. Kalau di Thailand, pergantian rezim bisa lebih cepat bahkan 2 tahun saat seorang pemimpin membuat kesalahan serius, di Indonesia harusnya begitu. Bayangkan kalau 5-10 tahun baru ebrganti satu persiden dan dia payah begini, apa kata dunia! Kalau tidak kita ganti, kita orang-orang muda yang berparadigma nievrsal pastilah tidak mungkin meraih kekuasaan, karena akan selalu didominasi yang tua-tua yang sudah tertinggal, negara yang gagal, dan akan runtuh, kalau ettap dengan cara pikir mereka. Indonesia sudah sangat jauh tertinggal di segala bidang, khususnya negeri ini tidak punya state corporates berteknologi rendah apalagi tinggi yang mampu berproduksi ekspor. Negara yang hanya bisa berkomsumptif dan tidak memiliki sumber ekspor cukup pastilah hancur. SBY tidak ad pikir ke sana. SBY juga tidak punya mata hukum dan keadilan. Bagaimana bisa berpikir mengembangkan sebuah negara ke tahap begitu? Di negeri ini orang hanya tertipu denganpesona ketampanan dan gelar, doktornya (an sich), doktor macam apa? Ejabat baru polisi itu pun bergelar doktor juga, tetapi lihat bkti nanti dia bisa apa? Apa bedanya dengan SBY, yang selalu tidak berani bersikap berpihak kebenaran? SBY bahkan tidak ada wawasan kenegaraan dan pemerintahan. Nol raksasa! Apa yang bisa diharapkan dari orang macam ini tapi duduk di puncak sebuah negara. Demi reformasi sejati, demi people power, kita fokus terus satu-satu. Maju terus! Satu per satu kita tekan, kita libas oknum-oknum elite jahat ini termasuk dan khususnya SBY bila dia tidak tegas terus. Kita hajar dulu SbY supaya mundur apabila tidak segera copot kapolri dan jagung. Kita jangan kalah dengan kemahalicikan SBY.

  4. ardi lanet permalink
    November 26, 2009 4:01 PM

    aq PUNYA USULAN biar kejadian ini gg terjadi lg!
    KITA GUNAKAN aturan ALLAH S.W.T yg melanggar POTONG TANGANnya ky d ARAB! kan SEREM tuh pasti pada TAKUT!klo aturan MANUSIA mana ad yg TAKUT!”manusia paling bisa apa? mukul?masukin penjara?itu SEPELE” y kira2 gitu lah pemikiran para PENJAHAT!

    • maria permalink
      Maret 1, 2012 11:48 AM

      setuju tuh mas..,tpi hrus qta pahami dlu sapa ya bersalah dan yg tdk bersalah….

  5. Siti Mardiyah permalink
    Desember 8, 2009 6:35 PM

    M e l e n g s e r k a n S B Y – b i s a !

    Tergantung komitmen dan upaya keras kita semua, khususnya kawan-kawan sesama mahasiswa seluruh Indonesia. Juga tergantung bekas-bekas dan jenderal-jenderal, tokoh-tokoh masyarakat, terutama yang di luar kekuasaan, apakah mereka memang masih punya hati nurani melihat banyak rakyat sudah bunuh diri, anak-anak busung lapar, ketidakadilan menjadi-jadi, kini setelah Indonesia di bawah SBY yang berkarakter dan bersikap bukan negarawan.

    Kawan-kawan harusnya jeli dan jangan mau dibodohi dosen kita yang penakut, itu tu pak Effendi Ghazali. Dosen-dosen yang lain tidak boleh bersikap mendua seperti pak Effendi dan harus berani dengan siasat cerdas meraih tujuan reformasi sejati. Melihat berkembangan terakhir sudah saatnya kita semua turun ke jalan untuk agenda tersembunyi yang cerdas. Kita setidaknya saat ini masih suka dengan bung Fadjrul yang selalu vokal dan berani, kita juga suka abang Massardi yang juga berani, setidaknya untuk saat ini, sampai mereka membuktikan mampu melengserkan SBY boneka itu.

    Gerakan 9 Desember tetap dan harus beragendakan pelengseran SBY. Poster-poster berbahasa Indonesia dan Inggris harus dibuat masif dan komunikatif: LENGSERKAN SBY! SBY STEP DOWN! dan sebagainya. Kalau sekadar demo damai basa-basi anti korupsi justru akan menguntungkan SBY yang tidak akan membawa negeri ini baik.

    Sudah enak dia 5 tahun, jangan ditambah berkuasa 5 tahun lagi sampai 2014. Kita semua sudah mengenali watak tidak jelas itu ada pada SBY. Watak tidak mungkin berubah. Kalau selalu ragu dan tidak jelas, Indonesia tidak akan mampu bangkit. Menjatuhkan SBY untuk situasi saat ini justru sejalan, seirama dan seuasi dengan UUD 1945. Lihat, tidak ada satu saja kebijakan SBY yang sesuai dengan UUD 1945. SBY kapitalis tidak, sosialis tidak, agama tidak. Kebijakan ekonomi dan politik SBY justru bersifat makelar dan koruptif masif tersembunyi.

    SBY tidak akan membawa perubahan signifikan dan sengaja membiarkan semuanya liar. SBY membiarkan semakin banyak ketidakadilan hukum dan ekonomi. Karakter tidak mungkin berubah. SBY berkarakter ragu, penakut, pengecut, namun selalu saja mencoba menyusun kata-kata berbunga-bunga, di saat menghadapi berbagai dilema yang harusnya dia pecahkan dengan memuaskan rakyat.

    SBY terinfeksi berbagai sindrom dan penyakit. Sindrom penakut, penyakit menular miskin wawasan kenegaraan dan miskin pengawasan dan pelaksanaan dalam kebijakan pemerintahan. Yang dia kenal, tahu sama tahu. Pejabat atau menteri melaksanakan program sekadar menuruti tren omongan orang tanpa wawasan pembangunan kenegaraan yang benar dan tanpa target manfaat rakyat. Seluruh dana aman dikorupsi bersama, inilah tahu sama tahu.

    Pemimpin negara yang terinfeksi sindrom dan penyakit menular tersebut tidak mungkin membangun negara. Ini sebab SBY nyaman dan menatang terus dengan semakin banyak menyusun kata-kata pidato bohong, menonjolkan pribadi seolah-olah negara miliknya.

    Di facebook dan yang lain, ini tentu saja normal, SBY dibilang l-e-m-o-t, lemah otak. Tetapi SBY tidak menyadari dan malah pura-pura tidak tahu dan tetap merangkai kata-kata pidato mencoba merayu rakyat, dan bersikap defensif.

    5 tahun itu berlalu rakyat tidak mendapat manfaat dari SBYdan 5 tahun lagi mungkin akan berlalu sama. Lambat dan tidak ada tindakan substantif kecuali pembohongan-pembohongan, pembodohan-pembodohan, cara-cara lama yang terus dipakai SBY. Dia tidak menyadari zaman sudah berubah, dan rakyat sangat cerdas. Pasti SBY akan diturunkan di tengah jalan dan tidak lama lagi kalau terus begini.

    Mencermati wataknya selama ini jelas SBY tidak akan berbuat banyak untuk rakyat Indonesia. SBY bukan tipe pemimpin dan apalagi bapak pembangunan seperti Suharto.
    Kepandaian menutupi borok-boroknya adalah khususnya karena abang kita yang pandai bicara dan menutupi kelemahannya, abang Andi Malarangeng, yang maaf ketularan oportunis dan licik. SBY dan abang Andi hanya jenis manusia saleman kata-kata.

    Tentu saja kalau ada di audit komprehensif maka semua proyek periode 2004-2009 bocor banyak, dikorupsi tidak nampak, atas nama proyek-proyek yang tidak ada manfaat untuk kecuali disunat sana sini. Maka SBY terpilih lagi. Korupsi terjadi justru banyak orang ambil manfaat dari pembiarannya. Korupsi merajalela justru karena SBY juga tidak ditakuti.

    SBY mengartikan reformasi sekadar slogan untuk dimanfatkan di pidato bukan memahami makna sejatinya dan luasnya dan dilaksanakan dengan maksimal. Ini juga kesalahan sistem, negara ini tidak punya MPR dalam arti sebagai majelis tertinggi yang bisa “menggantung” presiden buruk dan tidak ada GBHN.

    SBY parah kalau dibandingkan Suharto. SBY mengatakan tidak hutang tapi tetap hutang. SBY pinjam dari ADB dan World Bank tentu bukan dari IMF meskipun saat ini IMF menawarkan hutang baru dengan syarat longgar.

    SBY benar kalau dibilang lemot. Suharto memang pinjam ke IMF dan World Bank tetapi benar-benar untuk pembangunan masif dan tidak banyak bocor. Suharto punya pengawasan dobel tripel. Suharto tegas dan memecat siapa saja yang tidak beres. Dalam kabinet SBY, dana-dana menguap habis. Konon juga untuk mengongkosi kampanye 2009 antara lain dengan pelanjutan program BLT ini. Pemerintahnya konon juga terlibat skandal talangan tak perlu atas Bank Century, yang duitnya konon masuk ke putranya sendiri dan pembantu-pembantunya termasuk ke orang-orang KPU. Penuduh-penuduh bisa salah bisa benar. Mereka mengaitkan itu karena Budiono jadi wapres dan Mulyani kembali ditunjuk.

    SBY tidak mampu apalagi secepat dan setingkat Suharto. Suharto masif membangun termasuk mendirikan industri dan bisnis Batam yang kini sudah memudar, dan Suharto membangun jalan-jalan raya dan yang lain bukan sekadar sebelum kampanye, dalam merayu rakyat. SBY juga tak melanjutkan pembangunan proyek jalan layang dan tol signifikan yang terhenti setelah sekian lama sejak Suharto lengser.

    Di masa Suharto, semua jalan tol, layang dan jalan raya dibangun bagus dan awet karena dana tidak banyak bocor, bukti konkrit Suharto. Dia mengawasi dan memecat pejabat teras yang tidak beres. Suharto tidak kata berbunga tetapi tindakan.

    SBY lebih suka kata-kata berbunga. Suharto bernasionalisme dengan bukti konkrit tersebut. Kalau saja dahulu Suharto tidak dilengserkan pasti Indonesia sekarang sudah sama dengan Malaysia atau sedikit dibawah Singapura. Betapa tidak berartinya SBY saat ini dan dia seallu menutupi malunya bukan dengan lengser tetapi dengan membuat kata-kata berbunga dalam setiap kesempatan pidato. Samasekali tidak lucu. Dan lihat jalan layang Kalimalang itu yang sampai sekarang tetap tidak selesai dibangun, sekian lama setelah Suharto lengser dan sekarang sudah meninggal. SBY membuktikan tidak mampu meneruskan pembangunan manapun.

    Justru presiden boneka seperti SBY yang harus dilengserkan bukan Suharto yang kita sadari ternyata lebih cinta dan perduli rakyat.

    Bangsa ini memang tidak mampu mengenali pemimpin dan negarawan sejati atau bohongan. Suharto cinta pembangunan, Sukarno cinta rakyat, dilengserkan. Sementara, SBY boneka imperialis dan pembohong, dibiarkan, tidak dilengserkan. Kitas selalu dibodohi memaksa lengser presiden adalah makar dan melanggar Konstitusi UUD 1945 adalah kata-kata pertahanan penguasa. Justru menjatuhkan presiden macam SBY yang tidak perform dan tidak menjalankan amanat UUD 1945 adalah menegakkan kosntitusi tersebut. Lihat, tidak ada kebijakan SBY yang sejalan dengan UUD 1945.

    Suharto dalam beberapa tahun terakhir berkuasa berhasil membangun masif untuk rakyat dan bangsa Indonesia, SBY bahkan sampai 2014 juga tidak akan mampu. SBY asyik dengan pidato kata-kata. Ini karean SBY tidak diberi pelajaran oleh kita yang bersikeras menuntut dia lengser.

    Sebagai mahasiswa kita malu punya negara dengan presiden seperti ini yang tidak hanya boneka imperialis tapi juga miskin wawasan bernegara untuk kepentingan rakyat.

    Di facebook dan tv-tv, bahkan SBY dibilang, dan ini wajar saja, l-e-m-o-t. SBY sebenarnya pandai mengambil keuntungan pribadi dan dia telah menganggap dirinya pemilik Indonesia, sebuah sindrom yang lain. Beberapa kawan kita telah membuat analisa psikologis sifat dan watak SBY melalui pidato-pidato SBY.

    SBY menegakkan HAM sebatas HAM kebebasan berekspresi dan inipun sangat lemah karena membiarkan tim hakim di sebuah pengadilan negeri menggangsir kebebasan ini, renungakan kasus Prita Mulyasari vs RS Omni Internasional, dan SBY tidak minta hakim ketua tersebut dipecat, hanya untuk menunjukkan dia tidak boleh campur tangan, sebuah kepura-puraan dan kebodohan. Padahal jaksa agung dan ketua MA sekalipun diangkat oleh Presiden. Ini mebodohan kepada rakyat. Separah ini tidak mungkin terjadi di masa Suharto.

    SBY bukan menegakkan HAM secara komprehensif dan substantif. Buktinya siapa pembunuh Munir tidak terungkap dan kasus ini lenyap di telan lupa. Tidak substantif, karena jutaan rakyat dibiarkan tidak berubah nadib mereka, ini pelanggaran HAM masif.

    SBY juga membiarkan merajalela korupsi berjamaah dengan memarkup dan menyunat dana-dana proyek pemerintahannya sendiri. Sedangkan ketidakadilan hukum dan ekonomi menjadi-jadi, karena SBY dilihat tidak tegas, dilecehkan. Banyak pejabat dan menteri menjalankan proyek dengan dalih memperbaiki taraf hidup masyarakat, namun yang ada di kepala mereka sesungguhnya hanya bagaimana caranya mendapat jalan sukses berkorupsi tidak kelihatan, dan SBY tahu itu. SBY aman tidak dilengserkan. Indonesia dunia terbalik. Hasil pemilu 2009 sesungguhnya tidak sah karena hasilnya bukan mencerminkan kebenaran, dan juga karena politik duit antara lain jartingan pengaman sosial terselubung, BLT, dan sebagainya. Inilah yang merusak sistem demokrasi. Demokrasi menjadi tidak disukai karena selalu diselewengkan penguasa, dalam hal ini, SBY sendiri.

    Di Iran hari ini kita menyaksikan demo masif yang digerakkan pemimpin oposisi kalah pemilu saat melawan Ahamdinejad. Demo tersebut persis sama sebelum pelengseran Suharto. Gerakan di Iran kali ini didanai CIA dan bertujuan menjatuhkan Ahmadinejad, yang bersikeras tetap memperkaya uranium ke kadar senjata nuklir dan tidak mau menghentikan program ini.

    Di Indonesia esok 9 Desember dan dalam waktu dekat ke depan gerakan mahasiswa itu mungkin tidak akan mampu melengserkan SBY, karena tidak ada negara dan lembaga kuat dari luar yang berkepentingan. Amerika belum ada yang meyakinkan lebih nyaman kalau bukan dengan SBY. Dengan SBY presiden RI, Amerika tetap bisa mangangkuti berton-ton emas dari Papua dan migas dari daerah-daerah yang lain di Indonesia, membantu mengatasi ekonominya yang hancur lebur akibat krisis finansial. Jadi harus ada yang meyakinkan bahwa tanpa SBY kepentingan negeri Paman Sam itu jauh lebih selamat. Belum ada kelompok itu.

    Tetapi Tuhan bisa menghendaki lain, kalau seluruh umat beragama di Indonesia berjuang keras, bangun dan sadar, bahwa negerinya di bawah rezim boneka dan tidak becus, rakyatnya menajdi sengsara, walaupun Indonesia merdeka sejak tahun 1945.

    Yang pasti SBY bisa, bisa dilengserkan, juga atas nama UUD 1945 dan cara lain apa saja kalau mantan jenderal-jenderal terbuang tidak takut; seluruh rakyat menunggu, dan kalau mereka mau bersama-sama jaringan mahasiswa dalam arti luas, dan kalau juga mengajak seluruh tokoh masyarakat penting seperti pak Amien Rais dan pak Gus Dur serta tokoh-tokoh pendemo masa lalu, turun jalan tetapid engan poster-poster jelas, berbagai bahasa, komunikatif, dengan agenda pelengseran SBY.

    Pak gus Dur dan pak Amien punya basis massa masif dan signifikan. Bersama kita mahasiswa seluruh Indonesia dan kalau didukung perwira-perwira TNI dan polisi terbuang dan juga yang aktif, atas nama berbagai pelanggaran dan penyelewengan, kita bisa bersama-sama melengserkan SBY. Lebih cepat lebih baik. Mereka juga harus meyakinkan CIA dan Amerika, bicara jelas jangan mendua, saat ditanya agen-agen CIA. Mereja juga harus rajin mengirim email ke lembaga-lembaga internasional. Mreka juga harus aktif berkomunikasi bisa lewat email dengan CIA dan bertemu dengan agen-agen CIA di Bangkok dan Singapura bahwa SBY bukan harapan rakyat dan rakyat bisa marah masif dan kepentingan Amerika tidak dijamin aman. Amerika pasti tidak ingin kepentingan banyak industri masifnya di Indonesia terganggu akibat pemimpin yang membuat marah rakyatnya. Pak gus Dur dan pak Amien tidak boleh anda-anda orang sekadar bicara tetapi buktikan turun ke jalan dan teriakkan lengserkan SBY juga. Jangan biarkan rakyat itu menderita terus-menerus. Ayooolah, maju terus, sampai SBY benar-benar mundur. Setuju yang mengatakan bahwa pangkal masalahnya adalah sikap dan karakter SBY. Memang.

  6. ramli permalink
    Desember 13, 2009 7:00 PM

    Sebenarnya perusak bangsa dan undang2 itu adalah polisi,coba lihat di daerah2 terpencil.hukum bs dibayar dengan uang,polisi itu semua bodoh,mereka tidak tahu betapa Hinanya harga dirinya mau terima suap dari pihak2 yg bersalah,klo menurut saya POLISI ITU SENGAJA INGIN MEMBUBARKAN KPK

    • maria permalink
      Maret 1, 2012 11:50 AM

      maaf mas,,tpi tdk smua polisi itu sprti yg mas pikir.,jahatlah,bodohlah,mau trima suaplah,,tpi kenyataan’y tdk smua polisi bgtu..jadi saya sarankan pada mas klo mau bicara tolong d pikir dulu..ok….trima kasih….

  7. Muzrikah binti Rachmad permalink
    Desember 28, 2009 1:25 PM

    Sejak semula awak rakan-rakan mahasiswa dan kaum intelektual cerdik pandai Indonesia, dan kami pun, dah tahu bahawa SBY menang undi 2009 kerana politik wang [money politic].

    George Aditjondro memang betul di saat berkata kemenangan SBY kerana politik wang khususnya dari yayasan milik Cikeas. Keyakinan kita semakin terang selepas terbit buku baru George Aditjondro. Malang sangat buku tu sengaja digagalkan beredar, tak boleh dibeli publik luas, kerana semua dah dibeli tangan-tangan SBY. Presiden tu membiarkan terjadi dan tak perintahkan menghentikan tangan-tangan dia tu tetapi justeru berkata seolah-olah SBY tak melarang.

    Amir Syamsuddin bekerja untuk SBY. Mustinya dia membela kebenaran, sebagai tugas pengacara. Amir nampak takut sangat kelaparan apabila tidak bekerja untuk SBY. Amir berkata buku George sampah. Ini justeru menggaris bawah bahawa Amirlah yang sampah tu. Pernyataan Amir mencoreng wajahnya sendiri dan wajah SBY.

    George Aditjondro dikenal luas dunia sebagai peneliti ulung dari negeri jiran Indonesia. Buku-bukunya di masa Soeharto berhasil mengungkap cancer-cancer kecurangan Soeharto yang memenangi pemilu berkali-kali dengan politik wang bagi menyalahguna banyak yayasannya. Ini diterusi SBY. Sesungguhnya hasil undi ’09 boleh dianggap ilegal dan dibatalkan. SBY pun bisa di-impeach. Cara-cara tu melumpuhkan erti dan makna demokrasi yang benar macam di Amerika Syarikat.

    Dalam buku baru George berhasil menunjukkan dengan terang sangat dan tak terbantahkan bahawa sesungguhnya SBY presiden ilegal. SBY menang lagi kerana politik wang. Boleh jadi dengan wang yang didalih bagi mem-bailout Bank Century.

    Kalau awak rakan-rakan Indonesia mahu berenung SBY sesungguhnya jauh lebih licik dibandingkan dengan Soeharto. Banyak sangat kes-kes yang menunjukkan kelicikan daripada rezim tu Termasuk buku baru George gagal beredar pun kerana sisastan ru, dengan semua dibeli orang yang disuruh SBY, macam Amir. Maka Amir menjilati klimis bokong presiden tu, berkata hilangnya buku George di pasaran yalah gimik marketing penerbit tu. MasyaAllah.

    Sejak awal harusnya awak tahu SBY bukan berbakti kepada rakyat. Dia pun membuat blunder dengan mempekerjakan terlalu banyak penasihat dan pembantunya, sehingga bermakna memboros-boroskan wang negara besar sangat pada saat, tengoklah, rakyat tu berkesulitan ekonomi dimana-mana. SBY juga berkabinet gemuk.

    Macam dari raibnya buku George bererti bahawa SBY tidak berbeda dengan Soeharto. Rezim ni lebih tidak menghargai HAM. Mungkin awak berkata kami Malaysia pun tidak begitu menghargai HAM tetapi, ingat, kerajaan pemerintah kami bagaimanapun membuat kami rakyatnya makmur merata dan wang kami ringgit macho sangat dibandingkan dengan wang awak rupiah yang hancor tidak kembali sedia kala semasa Soeharto [US$1 = Rp 2500] ataupun semasa Soekarno [US$1 = Rp 60]. Hancor negeri awak oleh SBY, sang oportunis, pem-blunder dan sangat tukang dusta, pandai berkata-kata dalam pidato-pidato tak bererti tak nyata.

    Lagipun HAM yang dipahami oleh SBY dan rezimnya hanyalah dalam erti misalnya sekadar tidak membunuhi rakyat macam yang berlaku di Soeharto.

    HAM oleh SBY dimaknai sekadar rakyat diperolehi berkebebasan bicara semata, ini satu penafsiran naif HAM yang dikacau oleh rezim SBY. SBY justeru membuat banyak pembunuhan. Banyak sangat anak-anak dan orangtua mati justeru semasa SBY ni. Pengkhabaran nyata bahawa di NTB dan NTT anak-anak tu mati kerana busong kelaparan, di saat rezim SBY. Di ibu negara Jakarta dan sekitarnya beberapa orangtua dimiskini tu membunuh keluarga mereka dan bunuh diri sendiri kerana ekonomi rezim Indon memburok menjadi-jadi akibat SBY yang tidak becus mengelola negara. Jangankan mensejahtera rakyat macam kami Malaysia.

    Dia bererti lebih burok dibandingkan dengan Soeharto. SBY hanya sekadar menghargai kebebasan bicara, contoh dalam interaktif stesyen radio dan tv, dan tidak menghargai satu HAM yang sesungguhnya macam kebebasan berekspresi mengungkap dan menyebarkan kebenaran.

    Senario jahat macam tu bermakna tidak hanya buku baru George Aditjondro, buku-buku lain yang mengungkap kebenaran juga digagalkan beredar. Benar George berkata buku-buku daripada beberapa pengarang asing dah digagalkan beredar di Indonesia oleh SBY. Presiden ni tetap membiarkan tangan-tangan liar tu, mungkin seliar yayasan-yayasan Cikeas. Keliru bila awak misalnya berkata bahawa SBY menghargai HAM. HAM macam mana? Tak ada.

    Buku baru George Aditjondro tu kemungkinan nak boleh beredar di toko-toko buku di sana, namun buku-buku daripada pengarang asing yang lebih dahsyat tu nampak nak tetap dicekal. Satu lagi bukti daripada rezim SBY jaug lebih licik. Sebagai serumpun kami tak nak dapat menyokong banyak, kecuali berdoa rakyat tu dan rakan-rakan nak bangkit melawan. Awak semua harus bersatu dan jalankan the People Power. Tanpa tu negeri awak tak boleh sejahtera dangan rezim macam SBY tu. Negeri awak terpurok terus-terusan macam tu. Sedih melihat awak semua. Lagipun SBY perusak sistem. Macam mana artis-artis boleh jadi governor dan city officers macam pula kini kandidat Ayu Azhari dan yang lain, ini perusakan oleh tangan-tangan presiden tu. Awak tahu mereka siapa-siapa. [Opini beda bolehlah dimajukan ke email kami: muzrikahbintirachmad@msc.my].

    • Desember 30, 2009 8:58 AM

      Terima kasih atas tulisan dan komentarnya.
      Muzrikah tinggal di Indonesiakah?

  8. Zaenab permalink
    Januari 5, 2010 2:29 PM

    Hanya Fitnah & Cari Sensasi? Macam mana opini awak dengan buku baru yang mencuba melawan kebenaran George Aditjondro tu?

    Buku Setiardi pengarang tak sohor tu pasti memalukan, kerana mencari-cari perkara bagi melawan kebenaran mutlak bukunyo George, Membongkar Cikeas Octopus. George yalah peneliti kaliber dunia.

    A m i e n R a i s turut berkomen dalam buku Setiardi? Rupanya, semasa-masa, Tun Amien selalu tersesat, terutama selepas dan sejak bertemu presiden di Cengkareng airport di saat berlaku kontrovesi wang ilegal pula dari kementerian laut jauh sebelum undi 2009. Banyak bertanya-tanya masa tu ada apa dengan Amien mahu berdamai dengan presiden tu. Sekarang, Amien tersesat lagi setelah dalam pelukan hangat presiden bersama Tun Hatarajasa, Amien mahu sahaja berkomen di buku burok Setiardi. Macam ni dimanakah moraliti Amien?

    Apabila macam ni terus-terusan, George musti lebih berani lagi, maju terus, dengan tekat kuatnya bagi memasukkan kebenaran-kebenaran baru daripada buku barunya nanti. George tak perlu tunduk bagi merevisi, kecuali justeru bagi memperlihatkan bergudang-gudang kebenaran baru lebih banyak lagi, lebih menerjang lagi, sehingga presiden tu mundur ataupun dijatuhkan.

    Tengoklah, menteri keuangan Sri Mulyani, lagi-lagi mencuba-cuba bagi mengelak dan menyembunyikan kesalahan dia orang turut membuat bagi membailout Bank Century. Melihat dusta mudah sangat, tengoklah gerakan mata, mulut dan tubuhnya, berdansa dusta.

    Kita semua tahu, awak tahu, kami budak-budak mahasiswa seMalaysia pun tahu, bahawa jelas inti persoalan tu yalah bahawa terdapat wang 6,7 trilyun, bahkan jauh lebih besar lagi, yang diterbitkan berdasar keputusan kebijakan yang direka-reka diada-adakan. Berkatalah Anwar Nasution: “Yalah tak masuk diakal kepada saya mengapa sebuah bank kecil… membutuhkan bailout dengan wang daripada publik yang besar sangat.” Lagipun dah berkata eks wapres Jusuf bahawa jelas itu “Perampokan.”

    Tapi budak-budak penyokong kerajaan sengaja dan berniat membelokkan perkara membantah kebenaran daripada buku George dengan berkata George hanya memakai data sekunder, methodologi tidak tepat dan sebagainya dan sebagainya macam-macam. Itu jelas berniat busuk untuk membelokkan daripada makna penting terobosan besar daripada buku George yang mencerahkan. Inti persoalan terang sangat: dana besar sangat yang diterbitkan, masa itu di bawah Boediono, berdasar keputusan kebijakan yang sengaja diciptakan, bertujuan supaya Rp 6,7 triyun boleh cair. Ini kejahatan terhadap keadilan dan rakyat, membohongi publik dengan menyalahgunakan peraturan, undang-undang dan hukum. Kemana rinci-rinci daripada perginya 50 prosen lebih daripada wang tu pun haruslah dibongkar. Wang terbit di saat menuju undi 2009. Bank baru tu pun boleh kolaps lagi, kerana walaupun bunga dibuat menarik sangat, tetapi terlalu tinggi sangat, sementara wang yang disalurkan ke syarikat-syarikat dan individu pasti nak macet lagi, kerana Indonesia dibawah presiden saat ini tak mampu pulih kecuali dalam angka-angka palsu rekaan badan statistik negara yang lagi-lagi dipidatokan dia presiden. Pengkhabaran berkata bahawa Bank Century dibailout bagaimanapun kerana terdapat wang besar daripada yayasan daripada bank sentral dan beberapa badan usaha negara yang dikeranjangkan disana, berharap perolehi untung bunga besar sangat dan itulah antara lain yang memicu penyelamatan bank tersebut, sementara upaya tersebut dibuat tepat menuju undi 2009, dan Boediono dan Sri Mulyani selalu berdalih bank itu nak mengancam seluruh sistem kewangan tu.

    Tetapi George dah membuka boks pandora ni. Awak semuanya musti membela George. Dia orang yalah pahlawan, bukan hanya Gus Dur. Tetapi penyokong-penyokong kerajaan SBY, termasuk sang cebol Deni Indrayana yang rupanya cebol otak, selalu dan lagi-lagi berkata buku George hanya membuka data sekunder dan sebagainya dan sebagainya. Ah, abang cebol….

    Data sekunder, ataupun tersier sekalipun, persaoalan tak, selama benar wujut. George nyata-nyata menunjukkan realiti ataupun kebenaran mutlak tu. Lagipun pengkhabaran berkata wang berjumlah besar sangat tu berguna sangat bagi membuat ribuan anak melarat pemiskinan sistemik rezim Indon negeri tu boleh bersekolah. Pencairan dana tu tepat menuju undi 2009. Di saat menang, eks governor bank sentral Boediono langsung ditunjuk sebagai wakil presiden, dan Sri Mulyani dipertahan. Penyokong-penyokong daripada presiden, seperti sang cebol Indrayana, hanya mencari-cari dalih saat ditanya perkara buku George. Dia orang lagi-lagi dan selalu berkata bahawa buku George memakai data sekunder dan tidak mempunyai kemaluan diantaranya berani nekat meminta George merevisi bukunya. Boleh tapi George nak merevisi dengan bukti-bukti baru lebih dahsyat lagi.

    George satu peneliti ulung kaliber Barat, dia orang menggunakan paradigma Barat. George selalu cerdas membuat kesimpulan, macam banyak peneliti berparadigma Barat yang lain. Paradigma, cara berpikir keilmuan Barat, belum tertandingi semasa-masa di dunia ni. Beruntunglah awak kerana masih ada George yang mahu meneliti perkara-perkara delikeit, perkara-perkara yang memerangkapi Indonesia, termasuk proses perolehi kekuasaan daripada undi 2009 lepas yang diperolehi dengan kecurangan yang rapi. Indonesia perlu 10 George baru terbongkarlah mafia kecurangan kekuasaan. Undi 2004 pun hasil rekayasa pemenangan. Kalau ada 10 George dan kalau ada masing-masing 10 Sri Bintang, 10 dakter Hariman, 10 Kwik Gie, dan awak diam sahaja? George dah tunjukkan awal kebenaran mutlak tu bagi membuats ebuah gerakan, apapun, atas nama the people power ataupun yang lain, semua terserah awak semuanya, sebelum 10 tahun memperkaya pejabat dan presiden semata. Apabila presiden tu selalu pandai membuat pelbagai perkara “atas nama” untuk membelok-belokkan, macam mana awak tak mampu membuat satu perkara yang dashyat “atas nama” rakyat?

    Tengoklah, aakah presiden tu membawa negeri anda siap dengan persetujuan-persetujuan ASEAN plus China Tiongkok di masa g l o b a l i s a s i ni? Berkonsep macam Soeharto ataupun Soekarno, presiden tu pun tak. Lama sedari menang undi 2009, lima tahun dah lepas tanpa makna, sekarang masuk masa jabatan kedua presiden tu sibuk bicara terus-terusan, pekerjaannya hanya membantah, tong kosong ynaring bunyi, hanya bagi menjaga imej. Sekarang tiga, empat, lima bulan berlalu diisi sangkalan-sangkalan bagi menjaga imej dan dia orang mula beramal membangun tak. Banyak peristiwa dah dia sebagai presiden bukan bagi membangun, tetapi semata rubbish belaka dan dia orang suka membelokkan pelbagai perkara penting yang tidak dia amalkan, dengan pidato terus-terusan, supaya awak semuanya turut sibuk mendengarkan dan menonton dia sahaja, sehingga nanti awak baru menyedari 10 tahun (2004-2014) berlalu tanpa dia orang membangun negeri awak. Dia membawa awak dengan pidato-pidato omong kosong semata, dia orang tidak bekerja tetapi terus-terusan mengaku “bekerja 24 jam.”

    Tengoklah, b a r a n g a n C h i n a T i o n g k o k dah membanjir bebas lepas ke negeri awak, presiden awak membuat kebijakan berkonsep kenegaraan yang baik macam yang diperjoangkan Soekarno pun tak. Tengoklah negeri kami, pelancongan kami maju sangat, pantai-pantai kami bersih, daratan-daratan kami bersih rapi, nyaman dan aman, majoriti rakyat berpenghasilan cukop, tidak ada berjualan sebarang, tidak ada berjualan di bus-bus umum, pemimpin kami menyusun kebijakan-kebijakan kenegaraan yang baik, ramah buruh dan pendidikan. Macam tu ada di otak pejabat=pejabat dengan pemimpin yang peragu dan lemah? Tak lah. Lagipun, macam mana eks tentera menjadi presiden pembangunan? Kecuali Soeharto. Macam mana eks tentera yang peragu dan penakut macam presiden saat ini yang tidak berbiasa berlatih berpikir berkemampuan membangun negara? Mana mungkin pintar dan muncul konsep dan pelaksanaan kebijakan bernegara yang baik? Jangankan berkemampuan macam pemimpin dan pejabat-pejabat Tiongkok dan melayani rakyatnya dan menghukum mati mereka yang benar-benar korupsi? Mengapa tak awak makzulkan presiden tu dan segera pilih atau tunjuk presiden baru: presiden sipil yang eks bisnesman ataupun eks tentara yang berjiwa dan eksekutif bisnesman. Tak pahamkah awak dengan pesan baik kami ni?

    Presiden tu selama ni masih terselamatkan dari banyak peristiwa pembelokan oleh alam maupun pembelokan-pembelokan yang dia rekayasa. Mulai dari kejadian bencana Aceh sehingga perkara-perkara pembelokan hasil rekayasa macam memusnahi anak bangsa sendiri tidak berdosa “atas nama” teroris (Kontras dan NGO yang lain musti ungkap itu semua) dan yang lain yang sengaja dibuat agar orang tidak terus-terusan mengkritisi dia orang. Tetapi macam menengok situasi makin teruk saat ini dapatkah presiden tu boleh terselamatkan? Di saat semua rakyat merata berkesukaran ekonomi? Presiden tu, sedar ataupun pura-pura tak tahu, telah semakin menestapa rakyatnya. Bukti nyata sangat. Banyak yang dah mati kerana bunuh diri kerana utamanya berkesulitan ekonomi. Kali ini, di pertengahan jabatan kedua ni, mungkin tak lagi terselamatkan. Rakyat akan marah sangat. Mereka akan mengamuk dahsyat sangat. Pembelokan yang nak tangan-tangan presiden tu buat tidak akan mampu membendung gerakan massa. Tetapi ni pun masih tergantung pemantik dan awak terutama kelompok-kelompok lawan yang berkepentingan. Sejarah membuktikan bahawa rakyat tu sukar dihasut tanpa terlebih dulu ada rekayasa demo maupun rekayasa kerusuhan masif yang berlaku. Tanpa perkara yang satu ni dia orang masih terselamatkan sehingga 2014. Semoga tak. Kerana kami pun turut bersedih melihat nasib menderita berpanjang-panjang terus-terusan rakyat negeri jiran tu. Kasihan rakyat tu. [Opini lain sila dimajukan ke saya: zaenabbintiibrahim@msckl.my].

  9. Januari 5, 2010 2:47 PM

    Sepertinya memang sudah tidak tau diri dan keras kepala dan ditambah lagi dg aksi2 kepolisian utk mengalihkan masalah dan bekerjasama dg para birokrasi tsb ,hanya people power yg bisa menyadarkan dan meruntuhkanya.

  10. Slamet Julianto permalink
    Januari 28, 2010 8:01 PM

    setelah saya membaca testimoni dari mantan Kabareskrim SD, saya sanat prihatin bagaimana nantinya Indonesiaku di masa-masa mendatang, seorang sekaliber pejabat tinggi, bisa berbicara demikian enjoynya tanpa rasa risih dengan apa yang disampaikan dalam testimoninya yang menurut pandangan saya testimoni tesebut merupakan skenario paket kedua setelah paket skenario pertama gagal, skenario paket pertama yang gagal, adalah memang terjadi kriminalisasi terhadap KPK, karena KPK dianggap terlalu garang dalam menangkapi para koruptor kakap dinegeri ini, sehingga KPK dan dan komandan KPK target susulan (target utama untuk dihancurkan), adapun cara untuk menghancurkan mereka yang gemar menngkap koruptor. adalah dengan cara membentuk opini masyarakat, bahwa KPK tidak bersih, bahwa KPK ada yang disuap, maka cara untuk membukrikan, bahwa KPK tidak bersih dan KPK gampang disuap harus ada buktinya . . dan siapa buktinya, maka skenario pertama dijalankan, pertama harus ada orang yang ahli dalam acara loby-loby sekaligus harus ada yang ahli mencari kambing hitam dan ternyata ada figur yang pas sebagai ahli mencari kambing hitam dan orang tesebut adalah anggodo, yaitu (adik dari anggoro wijoyo yang merupakan orang tang dicari KPK karen adapat dibuktikan oleh KPK telah merugikan negara dengan cara melakukan tindakan pidana merugikan negara dengan cara memanipulasi Sistem Komunikasi Radio Terpadu Departemen Kehutanan yang anggarannya pada waktu itu sebesar kurang lebih Rp. 700 milyar) dan anggodo adalah sosok yang sangat piawai dalam membuat orang yang salah menjadi benar dan sebaliknya orang yang benar menjadi salah, sebab untuk menjalankan peran dalam menyalahkan orang yang benar dan membenarkan orang yang salah, anggodo mempunyai segala sarana dan prasarana yang ada yaitu berlimpahnya modal yaitu uang yang bergelimangan disekitar anggodo serta didukung oleh situasi dan kondisi yang ada, antara lain banyaknya sochib-sochib kental di berbagai departemen, terutama yang berhubungan dengan Yudikasi, antara lain oknum-oknum pejabat, baik dikepolisia, Kejaksaan, Pengadilan, atau didepartemen-departemen lain bahkan mungkin berhubungan dengan oknum-oknum pejabat di Mahkamah Agung RI termasuk mempunyai hubunan yang kuat dengan oknum-oknum pengacara yang hanya membela yang bayar tanpa melihat yang dibela itu salah atau benar yang penting dalam benak oknum-oknum tesebut adalah yang bayar dan tidak mau tahu apakah yang dibela itu pantas untuk dibela atau tidak karena mereka hnyalah mmikirkan dirinya saja yang penting dalam pikiran mereka bagaimana menumpuk kekayaan saja . dan tidak ada pikiran lain, pendek kata, orang-orang seperti itu tidak mungkin memikirkan orang lain apalagi memikirkan masa depan bangsa tidak akan ada sedikitpun rasa simpati terhadap masa depan bangsa melekar dipikiran atau hati orang – orang seperti itu, sehingga sangat pantas dan sangat cocok orang-orang yang sejenis itu bergaul, berkumpul dan berdiskusi serta konkow-konkow dengan orang yang sejenis dengan mereka.

    setelah figur ahli mencari kambing hitam telah ditemukan yaitu anggodo dan kawan-kawan, langkah selanjutnya adalah figur mencari kambing hitam yang cocok dijadikan kambing hitam yaitu orang yang bisa dituduh menerima suap, maka ahli mencari kambing hitampun berkiprah menghancurkan sasaran sela dulu sebelum menghancurkan sasaran utama, sasaran sela mereka yang cocok dan pas untuk dijadikan kambing hitam adalah KPK yaitu lembaga yang tidak permanen namun getol mencari mangsa yaitu para koruptor dan selanjutnya siapa-siapa figur yang dianggap paling lemah dan mudah dikriminalisasi di dalam Lembaga KPK tersebut dan setelah diamati secara cermat oleh mereka yang anti terhadap pemberantasan korupsi, maka ditemukan figur yang akan dijadikan kambing hitam, yaitu figur Bibid Samad dan Candra Hamzah, maka pada saat itu dikejar-kejarlah Bibid Samad dan Candra Hamzah oleh oknum – oknum pejabat di kepolisian (makanya saya bertanya-tanya “apakah benar SD tidak dilibatkan dalam penyidikan pimpinan KPK non aktif pada waktu itu ?”, sebagaimana ditulis dalam testimoni SD, padahal SD adalah Kabareskim Polri pada waktu itu) dan apabila berhasil melumpuhkan Pimpnan KPK nin aktif pada waktu itu, maka pikiran mereka pada waktu itu KPK pasti lumpuh dan tidak bisa bergerak, padahal tidak seperti itu halnya, meskipun seluruh Pimpinan KPK dilumpuhkan semuanya, KPK tetap akan tetap berjalan, karena sesuai dengan UUNo.: 30 tahun 2002 tentang Komisi Pemberantasan tindak pidana Korupsi (KPK) pasal 33 ayat (1) yang berbunyi : “dalam hal terjadi kekosongan Pimpinan KPK, Presiden Republik Indonesia mengajukan calon Pengganti kepada Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia” artinya meskipun secara pribadi Pimpinan KPK berhasil dilumpuhkan, namun secara kelembagaan tidak bisa dihentikan karena Presiden Republik Indonesia bisa mengajukan nama-nama calon Pimpinan KPK sebagaomana diatur dalam UU tentan KPK jadi apa yang dilakukan Presiden pada waltu itu adalah sangat prosedural sesuai dengan UU yang berlaku.

    selanjutnya yang menggelitik saya lagi tentang testimoni SD adalah yang mengatakan tentang cicak adalah polei dan buaya adalah KPK dengan alasan bahwa KPK diberi wenang yang lebih besar daripada Polri, memang kelihatan secara sepintas adalah benar, namun kenyataan yang dikatakan oleh SD pada waktu itu dengan nada meremehkan artinya dalam pikiran saya pada waktu itu, meskipun KPK diberi wenang yang besar ibaratnya adalah Lembaga kemarin sore karena didirikan baru pada tahun 2002, apalagi KPK adalah Komisi, yaitu suatu lembaga yang tidak permanen, yang mana dibutuhkan karena dalam situasi dan kondisi tertentu karena lembaga yang berhubungan dengan komisi tersebut tidak berjalan maksimal, sehingga diperlukan suatu lembaga yang tujuannya adalah membantu lembaga yang sudah permanen namun belum bisa mengoptimalkan kinerjanya, dan suatu ketika apabila lembaga-lembaga permanen yang berhubunan dengan Komisi tersebut mampu mengoptimalkan kinerjanya, maka Komisi tersebut pasti sudah tidak diperlukan lagi, sehingga sangat tidak ketemu nalar apabila SD menyebut KPK adalah buaya dan Polri adalah cicak, karena jelas Polri baik sarana dan prasarana dengan infra strukturnya yang tersebar diseluuh Indonesia jauh lebih kuat dan lebih besar daripada KPK, sehingga saya sangat sulit menerima testimoni SD.

    menyngkut masalah bepergian ke Singapura, yang mana SD menyatakan bahwa anggoro wijoyo menurut kepolisian hanyalah sebagai saksi korban, itu adalah haknya SD untuk menyatakan bahwa anggoro adalah saksi korban, padahal apabila pernyataan bahwa anggoro hanyalah saksi korban, berarti anggoro wijoyo adalah korban pemerasan, kalau dikatakan bahwa anggoro wijoyo adalah korban pemerasan berarti anggoro wijoyo pernah diperas, lalu kita kejar terus apabila benar-benr diperas, maka pertanyaannya pertama. “Siapa yang memeras ?” dan pertanyaan kedua “siapa yang menyatakan anggoro diperas ?”, dan apabila kita hubungan dengan kejadian pembukaan sadapan antara anggodo dan lain-lain, maka jawabannya jelas yaitu Anggodo yang menyatakan bahwa kakaknya diperas dan siapa yang memeras, maka jawabannya adalah beberapa pimpinan KPK, berarti memang seperti apa yang saya sampaikan diatas, bahwasanya beberapa Pimpinan KPK sengaja dijadikan kambing hitam untuk melumpuhkan KPK dan siapa yang ahli dan pas dijadikan sebagai figur mencari kambing hitam, yaitu anggodo karena anggodo adalah adik dari saksi korban (menurut SD) yaitu anggoro sebagai korban pemerasan dari apa yang disampaikan oleh SD, bahwa angoro hanyalah saksi korban, maka sangat tidak sesuai dengan kejadian sesungguhnya karena anggoro wojoyo jelas-jelas telah ditetapkan oleh KPK sebagai tersangka kasus korupsi anggaran Sistem Komunikasi Radio Terpadu Departemen Kehutanan karena anggoro telah memanipulasi proyek SKRT Departemen Kehutanan, sehingga ditetapkan oleh KPK sebagai tersangka dan karena buron lalu dicekal oleh KPK, (sebagai lembaga KPK tidak mempunyai SP3 yaitu Surat perintah penghentian penyidikan sebagaimana dikepolisian dan karena tidak ada SP3, maka KPK dalam menetapkan tersangka lebih hati-hati dan lebih cermat, karena penyidikan yang dilakukan KPK tidak bisa dihentikan, sehingga KPK akan lebih cermat, lebih hati-hati dan lebih akurat dalam melakukan penyidikan terhadap siapapun, termasuk kepada anggoro wijoyo, artinya apabila KPK sudah menetapkan anggoro wijoyo sebagai tersangka, berarti pihak KPK sudah mempunyai bukti kuat dan akurat apabila anggoro wijoyo tesebut telah melakukan manipulasi terhadap anggaran SKRT Departemen sebagai bukti anggoro wijoyo melarikan diri ke singapura untuk menghindari pemeriksaan apalagi Singapur dan Indonesia tidak mempunyai perjanjian ektradisi dengan Indonesia sehingga anggoro wijoyo akan merasa aman dan terlindungi di negeri tersebut dan bagi saya apapun alasannya ketika SD atau siapapun juga pejabat negara khususnya pejabat Yuridis bertemu orang yang sudah ditetapkan tersangka oleh suatu lembaga termasuk lembaga KPK (yang dianggap SD sebagai buaya) adalah sangat tidak benar dan memalukan, karena saya ibaratkan aparat yang mau menangkap maling bertemu dengan maling diluar lembaga yang bersangkutan, apapun alasan SD, bahwa tindakan tersebut apabila diteropong atau diamati apalagi diekspos oleh pihak asing, maka hal tesebut diakui atau tidak diakui telah mencoreng citra Indonesia dalam pergaulan di Luar Negeri, selain itu SD yang mengatakan perjalanannya ke singapura adalah perjalanan dinas yang dibeayai negara yang tujuannya adalah mempertemukan penyidik dengan anggoro, namun SD juga menyatakan apa hasil penyidikannya saya tidak tahu dan tidak harus perlu tahu karena bukan tanggung jawab saya, setelah bertemu tim penyidik, saya langsung pulang ke Jakarta, dari apa yang disampaikan dalam testimoni SD ini, saya betul-betul prihatin, sebab sangat tidak selayaknya seorang Pimpinan Penyidik yang mengakui bepergian ke Singapura atas beaya negara, hanya untuk MENGANTAR ANAK BUAH (dikatakan oleh SD dalam testimoninya mempertemukan penyidik dengan anggoro) untuk bertemu dengan seorang tersangka, apalagi menyatakan TIDAK HARUS PERLU TAHU KARENA BUKAN TANGGUNG JAWAB SAYA, padahal sebagai Pimpinan pada waktu itu seharusnya bertanggung jawab atas tindakan anak buahnya sekaligus sebagai pimpinan harus mengetahui apa yang dibicarakan antara penyidik (yang menjadi anak buahnya) dengan anggoro.

    dari testimoni SD ini yang saya berprediksi, bahwa testimoni tersebut sebagai skenario kedua yaitu memunculkan gerakan-gerakan untuk menurunkani SBY (yang menurut saya merupakan gerakan yang berurutan), karena dari testimoni SD ada beberapa pernyataan baik langsung maupn tidak langsung menyebut nama SBY, seperti . . . . pemaksaan kepada Kapolri untuk membebaskan CH dan BSR menangkap anggodo dan menonakrifkan SD . . . dan secara langsung menyebut nama SBY yang mana SD menyatakan dalam testimoninya “Isu ini adalah fitnah yang keji yang bertujuan untuk membunuh karakter saya karena dari transkrips pembicaraan tersebut kalau kita perhatikan dengan seksama tidak ada satu kalimatpun yang menyatakan saya merekayasa kasus pimpnan KPK, saya tidak pernah berbicara langsung pertelpon dengan Sdr. anggodo yang ada nama saya disebut anggodo sama halnya dengan Presiden SBY namanya juga disebut”, apa yang disampaikan oleh SD baik langsung maupun tidak langsung menyebut SBY, terkesan dalam rabaan saya kenapa kalau masyarakat menuding saya kok ke SBY tidak, padahal yang disampaikan anggodo waktu telponnya dibuka di MK, tidak sama seperti waktu nama SBY disebut, sebab apabila nama SD disebut oleh anggodo dalam pembicaraan tersebut terkesan bahwa SD dikesankan oleh percakapan anggodo, bahwa SD terlibat dalam kriminalisasi KPK, sedangkan pada waktu menyebut nama SBY, yuliana ong lah yang menyakinkan kepada anggodo bahwa RI 1 mendukung, yang pada waktu itu yuliana ong mengesankan ke anggodo bahwa RI 1 mendukung yang anatara lain yuliana ong menyatakan. . . . “ngerti yo RI 1 mendukung kita”. . . dan anggodo menjawab . . . “ojo ngarang” jadi apa yang disampaokan SD tentang dirinya dibandingkan dengan SBY jauh berbeda.

    dengan testimoni itulah saya berprediksi bahwa gerakan-gerakan 28 Januari adalah gerakan yang berniat menurunkan SBY karena SBY menurut pandangan saya masih berusaha keras memberantas korupsi, namun masih belum mampu mmperbaiki sistem pemerintahan yang lebih bagus dari sekarang khususnya dalam mengentas kemiskinan, namun saya juga bertanya pada pemimpin-pemimpin gerakan apabila SBY dijatuhkan sebelum saatnya, “SIAPA PENGGANTINYA” Kedua APAKAH TIDAK PARA OPOSAN ATAU SIAPA SAJA TIDAK SALING BEREBUT KEKUASAAN DAN SALING MENJATUHKAN DIANTARA SATU DAN LAINNYA Ketiga APAKAH RAKYAT TIDAK MENJADI KORBAN SELAMA TERJADI PEREBUTAN KEKUASAAN Keempat APAKAH YANG MENGGANTI NANTI BISA BERBUAT LEBIH BAIK DARI SBY.

    demikian komentar saya dan mohon direnungkan dengan apa yang saya prediksi dan saya sampaikan dan terima kasih atas perenungan dan perhatiannya

  11. kadir permalink
    Februari 6, 2010 9:34 PM

    Semua kejadian di tanah air ini termasuk terorisme sudah dikondisikan agar anggaran untuk Polri besar sehingga cukup dana untuk membayar DPR dalam meluluskan kebijakan/peraturan dan uu kepolisian, dan agar masyarakat yakin akan kemampuan Polri. Bulsit semua biar Alam dan rakyat yg akan menghukum mereka. KaBin mantan Kapolri jadi lengkap sudahlah permainan mereka

Trackbacks

  1. Testimoni Lengkap Susno Duadji, Kejutan dan Analisis Keanehannya « Nusantaraku
  2. Pak Polisi, Beri Satu Alasan Saja Kami Masih Bisa Mempercayaimu « Wiedz

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: