Skip to content

Iklan Pilpres Satu Putaran Saja, Penghinaan Makna UUD 1945

Juli 2, 2009

Polemik iklan PilpresSatu Putaran Saja” sudah berlangsung lama. Dalam berbagai media baik cetak maupun elektronik, Denny J.A, Ph.D yang  menyatakan diri sebagai Ketua Umum Gerakan Nasional “Setuju Satu Putaran Saja” menyatakan ikhtiar Pilpres Satu Putaran Memilih SBY-Boediono. Mereka yang terlibat secara langsung maupun tidak langsung berusaha membalik opini, fakta diputarbalik dan pada intinya melakukan pembodohan publik.  Di setiap iklannya yang menghabiskan bermiliar-miliar rupiah, terdapat logo “setuju satu putaran saja” yang digambarkan dengan acungan dua jari yaitu jari telunjuk dan jari tengah didalam sebuah lingkaran. Di bagian kanan iklan tersebut ada gambar Pak SBY-Boediono sebagai calon presiden dan wakil presiden nomor urut 2 (dua) yang dilingkari dengan slogan “satu putaran saja”.

Dengan pemikiran rasional, maka sangatlah jelas Direktur Eksekutif Lembaga Studi Demokrasi (LSD) Denny JA mengajak khalayak untuk memenangkan SBY-Beodiono menang dalam satu putaran.  Tidak hanya mengajak publik untuk menyukseskan pilpres satu putaran, Denny dan para pengikut SBY juga berlasan, mewujudkan pilpres satu putaran sama saja menjadikan anggaran negara semakin efisien dan mempercepat kepastian politik di tanah air.

Pengiringan opini Denny J.A hanyalah satu dari sekian upaya tim SBY-Boediono untuk memuluskan ambisinya mempertahankan Istana Kepresidenan. Upaya lainnya yang tak kalah hebat, berupa rilis berbagai lembaga survei, yang menempatkan elektabilitas SBY di posisi paling tinggi, di kisaran 60-70%. Bahkan tak tanggung-tanggung, lembaga survei berani menegaskan, Pilpres 2009 hanya akan berlangsung satu putaran dengan kemenangan SBY. Belum lagi mengerahkan para pejabat BUMN menjadi tim sukses  nasional dan tim sukses bayangan, sebut saja pejabat BUMN yang mantan Kapolri menjadi bagian dari Tim Sukses Siluman bernama GPS, meski pada akhirnya terpaksa keluar didesak oleh Bawaslu dan media.

Satu Putaran Saja, Merendahkan Makna UUD 1945

Iklan “Pilpres Satu Putaran Saja” menjebak rakyat dengan pemikiran bahwa mereka yang tidak mendukung pemilu “satu putaran” adalah mereka yang memboroskan anggaran negara. Mereka yang tidak memilih SBY-Boediono adalah mereka yang memboroskan anggaran negara. Logika seperti apakah yang sedang digiring oleh orang yang cerdas dengan titel Ph.D-nya?

Semestinya dengan logika si Denny tersebut, bilang saja kepada rakyat “jangan menggunakan suara untuk memilih”, cukup menggunakan hasil survei saja, atau lebih penting lagi “Gunakan Cara Diktator Rezim Soeharto” dan menjadikan presiden seumur hidup.  Apakah itu logika yang terbersik dalam pemikiran Denny JA?

Saya percaya mestinya Denny JA menyadari bahwa opini kampanye terselebungnya itu secara tidak langsung dan  secara tidak sadar telah melanggar UUD 1945 pasal 6A. Inilah suatu pengiringan opini publik secara politis yang diback up oleh hasil survei.

Pasal  6A  UUD 1945
(1)  Presiden dan Wakil Presiden dipilih dalam satu pasangan secara langsung oleh rakyat.
(2)  Pasangan calon Presiden dan Wakil Presiden diusulkan oleh partai politik atau gabungan partai politik peserta pemilihan umum sebelum pelaksanaan pemilihan umum.
(3)  Pasangan calon Presiden dan wakil Presiden yang mendapatkan suara lebih dari lima puluh (50%) persen  dari jumlah suara dalam pemilihan umum dengan sedikitnya dua puluh persen  (20%) suara disetiap provinsi  yang tersebar di lebih dari setengah jumlah provinsi di Indonesia, dilantik menjadi Presiden dan Wakil  Presiden.
(4)  Dalam hal tidak ada pasangan calon Presiden dan Wakil Presiden terpilih, dua pasangan calon yang  memperoleh suara terbanyak pertama dan kedua dalam pemilihan umum dipilih oleh rakyat secara  langsung dan pasangan yang memperoleh suara rakyat terbanyak dilantik sebagai Presiden dan Wakil  Presiden.

Secara jelas, UUD 1945 pasal 6A ayat 3 dan 4, tidak menghimbau masyarakat untuk memilih satu putaran atau dua putaran. Justru dalam UU Pilpres 2009 adalah partisipasi masyarakat memilih salah satu dari tiga kandidat, bukan memilih satu dari dua opsi (1 putaran atau mahal atau 2 putaran). Sangat disayangkan ketika mereka yang berusaha mengiring opini publik dengan berusaha memaksa hak orang lain untuk memilih satu putaran atau dua putaran saja. Mereka yang mendukung keras 1 putaran atau 2 putaran saja dengan iklan politik, secara tidak langsung melanggar pendidikan politik rakyat untuk memilih pasangan yang visioner, bersih, berintegritas, jujur tidak bohong, track record, dan program-programnya.

Ditengah, kasus-kasus korupsi yang merugikan negara puluhan triliun, kasus-kasus penyelewangan anggaran negara di departemen, kasus triliunan rupiah utang luar negeri bermasalah, masyarakat diberikan isu politik murahan dengan opini satu atau dua putaran saja. Alasan menghemat yang bukan konstitisional pun dilakukan. Padahal jika sungguh ingin berhemat, maka semestinya masyarakat mendukung untuk memberangus pemborosan yang melanggar konsititusi kita seperti ini:
1) Jangan habiskan uang untuk kampanye 1 putaran.
2) Hemat triliunan anggaran dari pinjaman luar negeri yang bermasalah. [sumber1sumber2sumber3sumber4]
3) Inefisiensi anggaran APBN dan terjadi kebocoran dana di sejumlah instansi.
4) Penyelewangan Dana BOS Sekolah Gratis
4) Laporan Keuangan bermasalah.

Kasus-kasus yang saya sebut di atas, jika diperhatikan maka akan menghemat negara belasan triliun.  Justru meski Denny JA membuat ikhtiar memberantas penyelewangan dana dan inefesiensi dana-dana di departemen. Padahal penyelewangan dana tersebut melanggar UUD 1945. Dan justru sebaliknya,  apakah pilpres berlangsung satu putaran atau dua putaran, tidak ada pelanggaran UUD 1945.

Dan parahnya lagi, mereka yang diam dan tidak berkata-kata apa serta mendukung iklan “satu putaran saja” secara tidak langsung merendahkan UUD 1945. Kalau saja UUD 1945 direndahkan, apakah ini namanya negararawan? Semoga rakyat tidak ikut-ikutan merendahkan atau menghina makna UUD 1945.

Salam Perubahan yang Lebih Baik,
2 Juli 2009, ech-wan

Updated (tambahan) 6 Juli 2009

Ada  satu hal yang saya lupa. Selain alasan di atas, saya akan mengajak rekan-rekan membaca UU 42 tahun 2008 tentang Pilpres 2009. Kampanye politik (termasuk iklan) merupakan usaha terorganisir untuk mempengaruhi keputusan para pemilih untuk menentukan pilhan. Adapun materi yang semestinya diiklankan adalah visi, misi, dan program. Jika pemilih belum tahu siapa kandidatnya, maka salah satu usaha kampanye adalah memperkenalkan sosok kandidat tersebut ke masyarakat dengan titik berat “penokohan, kepribadian, testimoni dsb”.

Dalam UU 42 tahun 2008, Anda akan menemukan definis kampanye :

Pasal 1 Ayat 22 : Kampanye Pemilu Presiden dan Wakil Presiden, selanjutnya disebut Kampanye, adalah kegiatan untuk meyakinkan para Pemilih dengan menawarkan visi, misi, dan program Pasangan Calon.

Pasal 33 : Kampanye dilakukan dengan prinsip jujur, terbuka, dialogis serta bertanggung jawab dan merupakan bagian dari pendidikan politik masyarakat.

Pasal 37 ayat (1) : Materi Kampanye meliputi visi, misi, dan program Pasangan Calon.

Dari uraian tersebut, maka sangatlah jelas bahwa semestinya iklan politik menawarkan visi, misi, dan program serta penyampaian pesan yang mendidik. Lalu, bagaimana dengan iklan “pilpres satu putaran”? Maaf saja, tidak ada visi, misi, program, kepribadian capres-cawapres yang disampaikan. Yang ada hanya pendidikan politik yang keliru. Memilih capres-cawapres seolah-olah hanya ditentukan faktor uang, faktor materialisme. Bukan lagi esensi demokrasi  yang paling mendasar. Terjadi pendidikan politik yang buruk bagi masyarakat. Pemilih di’bawa’ untuk memilih bukan karena alasan visi, misi, program spesifik, karena alasan penghematan 4 triliun. Tapi Denny JA tidak berbicara penghematan 25 triliun dari angka 49 triliun….

Dari berbagai jenis iklan kampanye politik, maka ada 4 kategori iklan berdasarkan kualitasnya:

  1. Berisi visi, misi, program (diawali kondisi realita)
    Hampir di setiap iklan mega-prabowo menyampaikan program yang diawali kritikan kondisi saat ini sebagai pijakan perubahan. Sayangnya, telinga masyarakat anti dengan kritikan. Sedangkan SBY dan JK lebih mengedepankan sosok dan khususnya JK lebih pada program-program kreatif yang pernah ia inisiasi.
  2. Memperkenalkan diri ke khalayak ramai (sosok, integritas,kepribadian).
    Iklan SBY dan JK lebih banyak masuk di area ini. SBY mengakhiri dengan katan Pemerintah yang bersih dan lanjutkan. Iklan JK memperkenal dirinya yang disertai program yang telah ia rintis.
  3. Iklan “kosong”
    Misalnya iklan Jingle Indomie , tidak ada pesan program, visi, misi yang menghabiskan waktu 1 menit.
  4. Iklan Tidak Mendidik
    Memilih salah satu pasangan hanya karena ingin berhemat 4 triliun dari 24 triliun yang dianggarkan. Padahal anggaran tersebut sudah dihematkan dari angka Rp 49 triliun. Mendidik atau membodohkan?
Iklan
39 Komentar leave one →
  1. Juli 4, 2009 11:06 AM

    Saran saya buat pendukung SBY-BOEDIONO.
    Jangan anda jerumuskan pemimpin anda, angkatlah beliau ketempat yang terhormat dengan cara-cara yang terhormat. Bukan dengan kampanye murahan seperti satu putaran apalagi mengatakan bahwa orang sulawesi selatan belum waktunya memimpin negeri ini…?

    Salah satu contoh pernyataan dari tim sukses SBY-BOEDIONO yang saya sesalkan adalah, seorang Andi Mallarangeng yang bergelar DOktor Ilmu Politik sekaligus sebagai Juru bicara Presiden (incumbent) SBY. karena beliau secara langsung maupun tidak langsung telah menganggap orang Sulawesi Selatan sebagai warga negara kelas dua di negeri ini.
    Andi Mallarangeng mencoba berkilah dengan menyatakan bahwa pernyataannya itu bukanlah pernyataan Rasialis. Coba anda simak, bagaimana jika seseorang menganggap dan berkata bahwa,

    orang dari suku A belum saatnya menjadi pemimpin di negeri ini….?

    bukankah sama artinya dengan menganggap orang dari suku tersebut sebagai warganegara kelas 2, karena tidak diberi kesempatan yang sama….?. Hentikan silat lidah anda bung Andi, bagaimanapun pernyataan anda tersebut telah mengiris dada setiap kami yang menganggap bahwa negara ini bukan milik suku A atau suku B, bukan milik agama A atau agama B tetapi negara ini milik kita bersama, rakyat Indonesia.

    Saran saya, minta maaflah kepada rakyat Sulawesi Selatan yang telah anda sakiti hatinya. Permohonan maaf juga adalah bentuk JIWA BESAR seorang pemimpin, jika untuk hal tersebut saja anda tidak meminta maaf bagaimana bisa anda mengatakan bahwa diri anda seorang yang berjiwa satria, dan itu juga berarti bahwa pemimpin anda telah salah memilih orang sebagai juru bicaranya.

    • Juli 4, 2009 11:10 AM

      Saya sependapat dengan Bung Daeng Limpo:
      Belum saatnya orang kulit hitam jadi presiden Amerika 2009. Apakah Anda-anda setuju?
      Tidak saatnya orang Aceh bayar pajak?
      Belum saatnya orang Bugis menjadi pahlawan seperti Hasanuddin?
      Belum saatnya orang Batak menjadi Profesor?
      —-
      Bangkit dan sadar-lah wahai manusia yang berhati nurani, yang berakal budi, yang berjiwa sosial.
      Begitu lancangnya seorang manusia menilai kapabilitas hanya dari suku atau agama.
      Begitu lancangnya seorang manusia mendiskreditkan kodrat Tuhan atas kelahiran manusia sebagai suku ini atau itu?
      Sadarkah kalian wahai manusia?
      Apakah karena mata hati kalian sudah dibutakan karena mendewakan seorang sosok?
      Begitu arogankah manusia Indonesia saat ini? Semoga keadilan, kebenaran, atau Tuhan memberi secercah cahaya…

  2. Juli 4, 2009 2:54 PM

    Artikel yang sangat menarik, yang penting bagi saya mudah2an Indonesia makin maju bukan sebaliknya… piss ah 😀

  3. khudori permalink
    Juli 4, 2009 10:42 PM

    aku bingung tuh ama kampanye hitam kemarin aku lihat ada spanduk besar bertuliskan jerigen minya kosong = jk tapi apa tindakan panwaslu dan kpu mereka kayaknya diam aja kagak percaya deh pada pemilu 2009 yang amburadul mulai dari legislatif sampai pemilihan presiden………………………….kasihan banget bangsaku

  4. Juli 5, 2009 12:54 AM

    demokrasi politik tanpa demokrasi ekonomi hanya melahirkan pseudo demokrasi.

  5. Juli 5, 2009 12:18 PM

    Yang penting dalam memilih presiden adalah memilih siapa yang akan menentukan arah kebijakan makro negara untuk masa lima tahun sekali.
    Menghemat anggaran demi pemilu satu putaran saja itu hanya kepentingan keuangan jangka pendek.
    Jadi, sebaiknya kita memilih berdasarkan setuju atau tidaknya kita terhadap rencana pembangunan salah satu calon.

  6. Juli 5, 2009 1:45 PM

    saudara nusantara(maaf saya tidak tahu nama anda) yang baik, saya sudah sejak lama membookmark link anda ini, sungguh menarik melihat pendapat dari pandangan yang berbeda dari apa yang di hembuskan media yang katanya di intervensi itu

    saya sangat setuju dengan beberapa pendapat anda tentang pilpres satu putaran yang menurut anda adalah penggiringan opini publik yang tidak baik

    memang benar jika adanya upaya penggiringan opini yang tidak di amanahkan oleh UUD 45, namun bisa saja dan sah2 saja jika masyarakat atau lembaga masyarakat mencetuskan pendapat yang memang mereka berhak mengeluarkan dan mempublikasikan pendapatnya dan hal ini pun dilindungi undang-undang pula

    yang ingin saya tegaskan disini adalah jangan sampai ada penggiringan opini yang mengatasnamakan masyarakat atau mengaku sebagai lembaga independent untuk mendukung pilpres satu putaran dengan HANYA MEMBERIKAN SATU ALTERNATIF CALON PRESIDEN DAN WAKIL PRESIDEN SAJA, hal ini jelas akan berujung pada pembingungan publik.karena lembaga yang mengeluarkan iklan itu jelas menegaskan bahwa dia independent dan SBY menjelaskan jika iklan itu bukan dari timses atau jurkamnasnya, padahal yang berhak mengeluarkan iklan untuk memberikan dukungan kepada kandidat tertentu hanya lah timses,jurkam, atau lembaga yang di suruh oleh jurkam/kandidat, betul bukan?
    pilpres boleh berjalan satu putaran dan semua pasangan kandidat berhak menang satu putaran, baik itu mega-pro, sby berboedi, jk-win berhak menang jika memang pilpres berjalan satu putaran

    saya tidak tahu apakah (iklan) ini by order atau hati nurani sang pemilik iklan??

    hanya Tuhan yang tau 🙂

    salam demokrasi

    Lafa

  7. Juli 5, 2009 2:25 PM

    o,iya saya selalu berharap agar blog ini tidak melakukan penggiringan opini untuk tidak mendukung satu atau beberapa kandidat yang sedang berjuang di panggung politik. . . . .

    semoga bisa tetap netral, amiin 😀

    thx

    Lafa

    • Juli 5, 2009 3:24 PM

      Sdr Lafa yang baik.
      Pertama saya ucapkan terima kasih atas bookmark sebagai bentuk kepercayaan, sehingga merupakan tantangan saya untuk menjaga hal itu.
      Kedua, saya sependapat dengan pernyataan Saudara mengenai pilpres satu atau dua putaran. Saya tidak setuju adanya wacana 1 putaran saja atau lebih baik dua putaran. Hal ini bukan topik penting dan cerdas bagi masyarakat, mestinya iklan dukungan program dan visi misi.
      Ketika, meskipun saat ini saya tidak sepenuhnya golput (ada sreg di hati dari salah satu calon), namun saya tidak akan meminta para pembaca mendukung salah satu pasangan. Yang bisa saya lakukan adalah mengkritik jika saja hal itu tidak sesuai dengan realitas.
      Keempat, terima kasih atas pesan dan nasehatnya.
      Terima kasih atas perhatiannya.
      Salam
      endra.

  8. Juli 5, 2009 4:25 PM

    Ada yang bilang SBY disihir, itu tidak ada buktinya. Tapi kalau pemilu disihir saya ada buktinya silahkan cek di:

    http://ada2apa.wordpress.com/2009/07/05/sihir-pemilu-2009/

  9. HAPOSAN SITUMORANG, permalink
    Juli 5, 2009 10:13 PM

    PILPRES 1 (SATU) PUTARAN:

    Iklan PILPRES 1 putaran, merupakan tindakan pembodohan terhadap rakyat dan merupakan penyimpang dari KEILMUAN.
    Tujuan SURVEI merupakan salah satu cara untuk PENCERAHAN kepada Rakyat namun Survei yang dilakukan oleh LSI (dengan iklanya Pilpres 1 Putaran) jelas jelas perbuatan yang memalukan para cendikiawan.
    Kalau model Survei yang dilakukan oleh LSI tidak perlu memperoleh pendidikan tinggi seperti Para petinggi LSI bergelar Doktor dan PhD
    Kalau menurut saya L S I = LEMBAGA SURUHAN foxINDONESIA

    Demikian dan mohon keseluruh Rakyat Indonesia agar mengabaikan oleh Survei yang dilakukan oleh PARA SURUHAN yg dapat diopersamakan dengan KACUNG nya FOXINDONESIA.

    trims HAPOSAN SITUMORANG

  10. HAPOSAN SITUMORANG, permalink
    Juli 5, 2009 10:15 PM

    PILPRES 1 (SATU) PUTARAN:

    Iklan PILPRES 1 putaran, merupakan tindakan pembodohan terhadap rakyat dan merupakan penyimpang dari KEILMUAN.
    Tujuan SURVEI merupakan salah satu cara untuk PENCERAHAN kepada Rakyat namun Survei yang dilakukan oleh LSI (dengan iklanya Pilpres 1 Putaran) jelas jelas perbuatan yang memalukan para cendikiawan.
    Kalau model Survei yang dilakukan oleh LSI tidak perlu memperoleh pendidikan tinggi seperti Para petinggi LSI bergelar Doktor dan PhD
    Kalau menurut saya L S I = LEMBAGA SURUHAN foxINDONESIA

    Demikian dan mohon keseluruh Rakyat Indonesia agar mengabaikan Survei yang dilakukan oleh PARA SURUHAN yg dapat diopersamakan dengan KACUNG nya FOXINDONESIA.

    trims HAPOSAN SITUMORANG

    • Juli 6, 2009 10:42 AM

      Kalau memang salah satu capres dalam satu putaran sudah memenuhi kriteria untuk menang kenapa harus dua putaran ?

  11. Nanang Heriyanto permalink
    Juli 7, 2009 9:58 AM

    From: Arda PW <pwardana2000@ yahoo.com
    To: undisclosed- receptions

    Betul sekali, rakyat sebaiknya menuruti & menjalankan pilpres cukup 1 putaran, demi keselamatan bersama.
    Rakyat harus langsung pilih & Menangkan SBY dalam pilpres 1 putaran = hemat uang negara
    Tidak pilih SBY = boroskan uang negara = pembangunan bisa tidak lancar = tindakan pengkhianat negara = tidak boleh menikmati hasil pembangunan

    Pembawa usul yang tidak demokratis dan mengusung isu anti neoliberalisme, biasanya adalah kaum Komunis/PKI. Mungkin sekarang para kaum kaum Komunis/PKI ini panik, karena tahu jago2 mereka pasti akan kalah dengan pak SBY. Maka mereka buat isu kecurangan, neoliberal dan lain2 isu yang tidak sehat.

    Salam
    APW
    08155021064
    ____________ _________ _____
    ___
    From: Rahmat
    Subject: Tidak usah ada Pilpres: Langsung Tetapkan SBY_Boediono sbg Presiden & Wapres
    To: undisclosed- receptions

    Posting email dibawah ini pasti dari penentang pemerintah, yakni mereka yang tidak mau ada pembangunan berkelanjutan.
    Mereka yang menentang pak SBY itu tidak mengerti atau tidak mau demokrasi.
    Maka mereka selalu menghubungkan demokrasi dengan Amerika Serikat.
    Karenanya mereka membawa isu hutang, neolib dsb
    Dari situ sebenarnya, bisa ditebak, bahwa mereka adalah komunis/PKI
    Karena hanya kaum komunis yang anti liberalisme
    Karena mereka tahu bahwa dukungan penuh Amerika Serikat pada pak SBY akan semakin membuat kaum komunis/ PKI yang sudah hancur semakin hancur lebur

    kesimpulan:

    * Hanya orang paling bodoh, yang bisa dipengaruhi oleh para pengikut/ keturunan komunis/PKI.
    * Hanya orang paling bodoh yang tidak memilih pak SBY,
    * Hanya orang paling bodoh yang tidak mau mendukung dan melaksanakan pilpres 1 putaran, karena sudah jelas pak SBY pasti menang
    * Hanya orang paling bodoh yang memilih calon presiden lain, daripada memilih calon lain, lebih baik Golput, sehingga pilpres dapat berlangsung 1 putaran. Karena selain hal ini dapat menghemat uang negara, juga agar pak SBY bisa segera melaksanakan tugas sebagai presiden. Agar pembangunan segera bisa diLANJUTKAN
    * Pilpres lebih dari 1 putaran = boros = tindakan rugikan negara = ini hanya ulah para pengkhianat negara = hanya Komunis/ PKI yang berkhianat pada negara untuk rugikan negara
    * Jadi: tidak pilih SBY agar menang 1 putaran = pengkhianat negara = Komunis/PKI = orang paling bodoh = tidak layak hidup di Indonesia = karena hanya merugikan negara dan jadi beban negara

    tks
    Rahmat
    HP: 08123299030
    ____________ _________ ______________
    From: Bambang Wanu
    Subject: Tidak usah ada Pilpres: Langsung Tetapkan SBY_Boediono sbg Presiden & Wapres
    To: undisclosed- receptions

    Langsung tetapkan SBY-Boediono sebagai Presiden & Wakil Presiden

    A. Karena pasti menang

    1. Dengan Daftar pemilih Tetap utk pilpres yg diduga ada jutaan pemilih ganda (meski sering dikemukakan bahwa masyarakat berhak mengkoreksi DPS sebelum menjadi DPT, tapi fakta menunjukkan bahwa sesuai aturan KPU tidak punya kewajiban memperlihatkan DPS/DPT) Jadi jika ada orang yang kehilangan hak pilih krn tdk ada dlm DPT, atau ada jutaan pemilih ganda, ini sudah sesuai aturan yang berlaku
    2. penerima BLT dan pegawai negeri, pensiunan, honorer daerah dll penerima gaji ekstra (gaji ke 13) jelas akan memilihyang telah memberi uang
    3. seluruh pegawai BUMN atau perusahaan negara, khususnya pegawai rendahan dan yang terisolir seperti di daerah perkebunan dsb, sangat besar kemungkinan diarahkan memilih oleh para pimpinan BUMN, perusahaan negara dsb, yang sekarang menjadi anggota tim sukses dari SBY, yang mengangkat mereka (tim suksesnya, dan keluarga Bu ani SBY) sebagai komisaris, pimpinan dari BUMN, perusahaan2 negara dsb.
    4. pencitraan positif kepada SBY oleh hampir seluruh media massa cetak maupun elektronik, yang berlomba2 dekat kepada SBY, karena pimpinannya ingin kebagian kapling. Dan pencitraan negatif kepada pesaing SBY, secara langsung maupun secara tidak langsung yang secara perlahan menurunkan citra para pesaing.
    5. Dalam pilpres tidak ada tabulasi nasional, artinya yang tahu perolehan suara yang sebenarnya, hanya KPU. Yang diumumkan ke masyarakat adalah data yang sudah diolah KPU. tahu sendiri bukan peran KPU dalam pemilu legislatif yang menggelembungkan perolehan suara partai Demokrat

    B. daripada Hutang negara bertambah besar

    1. untuk kampanye atau money politics alias politik sogok (Uang BLT = ternyata uang hutang, Gaji ke 13 Pegawai negeri, pensiuan dll = ternyata juga dari hutang baru dari ADB yang cair bulan Juni 2009 = 10,46 trilyun).
    2. daripada uang negara, BUMN dll habis untuk kampanye dan menjaring suara (membeli suara).

    C. Daripada beban bunga dari hutang semakin membuat negara melotot hampir mati.

    1. Karena hutang zaman SBY bunganya 14-15% (bandingkan dg hutang zaman orde baru yang bunganya 5%).
    2. Infonya, patut diduga dalam setiap pembayaran cicilan hutang ada fee 2,5% (jika zaman Orba, fee ketepatan dalam pembayaran kepada personal pucuk pimpinan negara 1%, dan tidak diterima, tapi dibayarkan kembali sebagai cicilan hutang) zaman sekarang fee tidak dibayarkan kembali sebagai cicilan hutang, dan juga tidak perlu dilaporkan kepada negara, karena memang kebijakan pihak luar negeri itu ditujukan kepada pejabat yang berprestasi) .
    3. Nah daripada semakin menambah semangat yang rajin dari pak SBY berhutang, karena iming2 fee.. mendingan tidak usah ada pilpres, karena yang tampak didepan mata saja, utang untuk BLT sebagai produk unggulan kemenangan partai demokrat & Gaji ke 13 untuk pegawai negeri dll sebagai produk unggulan pencitraan SBY, sudah puluhan trilyun rupiah)

    D. Untuk itu, seharusnya Megawati-Prabowo, JK-Wiranto, tahu diri dikitlah…

    1. daripada sibuk kampanye tapi jelas pasti akan kalah. Tindakan Mega-Pro, JK-Win, ini hanya akan menguras uang dari pak SBY dkk untuk mengimbangi langkah2 pesaing.
    2. daripada uang pak SBY habis untuk kampanye, pencitraan dll, bukankah lebih baik untuk kemakmuran rakyat?

    E. Untuk itu sadarlah anda hei.. Mega-pro, JK-Win…

    1. bahwa anda hanyalah calon pendamping, dari Calon jadi yakni SBY-Boediono, biar keliatan demokratis.
    2. Tindakan anda yang kampanye all out hanya sia2 karena dukungan Loby Yahudi melalui AS sangat kuat dalam pemilihan Presiden kali ini.
    3. Sebab jika anda sangat all out dalam persaingan pilpres, dana dari para loby yahudi akan semakin besar, dan itu diperhitungkan dengan sumber daya alam yang akan dikeruk oleh mereka, yakni yang sudah berlangsung Freeport, dan kalau berhasil memenangkan SBY nanti, natuna dll semakin banyak yang dikeruk mereka.
    4. Kalau anda tidak all-out, khan tidak terlalu banyak dana dan kekuatan dari Loby Yahudi melalui AS yang diberikan untuk pemenangan pak SBY. Otomatis jika tidak banyak, tentunya tidak banyak pula kompensasi yg diberikan untuk kaum yahudi.

    F. Untuk itu agar hemat kekayaan negara, uang rakyat dll,

    1. Pilpres cukup satu putaran aja deh…
    2. kalau perlu daripada habis uang banyak, tidak usah ada pilpres, dan segera saja Mega-Pro, JK-Win, mengundurkan diri dari persaingan Pilpres dan meminta Presiden SBY sebagai kepala negara mengesahkan SBY-Boediono sebagai kepala pemerintahan.

    G. kalau perlu nantinya menjelang tahun 2014

    1. jika Putra2 SBY (yang karirnya melesat dan sudah semakin dipersiapkan dengan berbagai fasilitas) belum siap sebagai Calon presiden, kita semua rakyat Indonesia akan meminta Presiden SBY mengeluarkan Dekrit Presiden, kembali ke UUD 1945, sehingga bisa diangkat menjadi presiden lagi, sampai putra2 beliau siap menjadi Calon Pengganti.
    2. Tapi bisa dengan proses pemilu wajar jika putra2 SBY siap jadi Presiden, dengan sudah melesatnya karir Putra SBY yang di militer, mungkin 5 tahun lagi sudah jadi jenderal dan memegang posisi strategis di militer, juga putra yang sipil sudah jadi politisi dengan posisi kunci dan kekayaan hasil berbisnis, sebagaimana diungkap oleh sebuah tabloid ibu kota (baca http://www.indonesia- monitor.com yang mengungkap bisnis anak2 SBY dan keluarga SBY serta keluarga Ibu Ani SBY di berbagai perusahaan swasta maupun BUMN serta perusahaan negara) yang begitu mau beredar sudah diborong habis puluhan ribu eksemplar oleh orang2 misterius, sehingga tidak sempat beredar di masyarakat.

    Setuju Bukan??? tidak usah ada pilpres… untuk penghematan uang rakyat
    jika perlu ada pilpres untuk sekedar formalitas bahwa seolah2 sudah ada demokrasi, ya cukup 1 putaran aja.. biar tidak ada pemborosan uang rakyat.

    Daripada ada pilpres, tapi ibarat seperti Liga Indonesia.

    * Penonton yang boleh masuk sudah diatur hanya untuk mendukung kesebelasan tuan rumah.
    * wasit, hakim garis, tukang pasang skor, bahkan petugas keamanan sampai wartawan peliput berita petandingan sudah merupakan pegawai dari klub tuan rumah
    * sudah begitu 2 hari sebelum petandingan, tim tamu tidak dikasi makan dan minum, tapi digiring dan dipaksa bertanding
    * maka lihat saja betapa Liga Indonesia begitu sering jadi ajang mafia judi dan ajang tawuran massal,
    * karena kecurangan begitu, rapi terorganisir, maka sportifitas tidak ada, mutu sepakbola hancur

    Coba pilpres seperti Liga Inggris/ Liga Italia

    * meski dimungkinkan ada kecurangan, tapi kecurangan tidaklah sistematis, terorganisir. mungkin ada ketidak puasan karena kurang jeli wasit, atau ada kecurangan pemain yang tidak tampak wasit
    * Maka didalam stadion begitu hingar bingar saling ejek antar suporter atau mungkin antar pemain… tapi selesai pertandingan. .. kalah menang tetap happy, meskipun mungkin ada rasa kecewa, sedih karena timnya kalah… tapi hanya sesaat. karena yang penting telah disuguhkan sebuah tontonan pertandingan yang menarik..
    * Hmmm kompetisi sepakbola akhirnya menjadi dunia hiburan bagi masyarakat.. . maka mutu sepakbola terus meningkat.

    Kalau kecurangan secara sistematik dan terorganisir dalam dunia sepakbola… yang hancur adalah mutu sepakbola..
    Tapi kalau kecurangan secara sistematik itu dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa bernegara. Yang hancur adalah masa depan rakyat Indonesia beserta anak cucunya…

    Coba saja tengok sebuah fakta yang mengerikan yang jelas terlihat didepan mata, yakni propinsi Papua dengan penduduk hanya 2juta jiwa, termasuk pendatang…
    Ratusan trilyun dikeruk oleh AS sebagai kompensasi karena berjasa menumbangkan Soekarno dan mengesahkan Presiden penggantinya. .
    Orang papua yang hidup dipinggir kompleks benteng asing (freeport), beli baju saja susah, hidup miskin, penyakitan. mau makan daging saja, harus menunggu sisa dari makanan penghuni benteng komplek freeport yang makanannya berstandard internasional. .
    padahal APBD propinsi saja berapa trilyun? belum APBD masing2 kabupaten di 2 propinsi papua…
    Belum lagi dana Comunity Develepment (Comdef) dari adanya penambangan yang jumlahnya ratusan milyar,

    Tapi hasil yang dirasakan rakyat adalah…
    Dulu ada yang namanya gunung yang sangat tinggi…
    sekarang berubah menjadi jurang yang sangat dalam
    Rakyatnya dapat bagian racun logam berat

    • danz permalink
      Juli 9, 2009 4:12 PM

      waw..ideologi kita PANCASILA bung..di semua aspek (ekonomi,sosial,budaya,hankam,pendidikan,kesehatan dll) bukan komunis..bukankah kalau demokrasi dalam hal pemberian suara selalu diukur dengan uang bukankah sangat kapitalis??usaha untuk penggiringan opini malah itu yang disebut komunis(pemaksaan kehendak)..
      @rahmat:seharusnya anda belajar menghargai semua pendapat yang ada,jangan lupa kita di lahirkan dan besar di bumi Indonesia yang sangat beraneka ragam (bagaimana bisa mengatakan komunis kalau anda sendiri menyebut hanya orang yang bodoh yang tidak memilih SBY,radikal sekali bung!!!!)
      @nanang:kita harus terbiasa dengan data dan fakta,dan bila ada fakta yang ada pahit dan tidak sesuai dengan harapan seharusnya kita kritisi jangan malah membuat komentar sepihak dengan menyatak PKI dan sebagainya..jangan lupa Gerakan 30 September (dalam misteri sejarah) masih abu2 pelakunya…
      @bambang wanu: kita masih berada dalam intervensi asing yang kuat,kita belum mandiri.yang kita perlukan sesungguhnya adalah revolusi di semua aspek karena kita perlahan2 melenceng dari Pancasila..nah kalau pendapat yang anda berikan tentang kegagalan dan kecurangan kubu SBY itu tidak kita sikapi (kritisi,dan malah berpandangan ya sudahlah mereka pasti menang dan kita ngga usah berbuat apa2) masyarakat kita akan semakin masuk dalam ilusi dan menuju arah yang tidak lebih baik..

      saat ini 60%rakyat sudah makan indomi dan itu selama 5 tahun kedepan..tahukah dampak indomi yang terlalu sering dikonsumsi??

  12. Juli 9, 2009 6:25 AM

    memang susah cari orang yang mau menerima kekalahan, seakan slogan kuno Jawa selalu diusung TIJI-TIBEH. artinya MATI SIJI-MATI KABEH. dalam hal ini perspektif digunakan adalah ‘gak mau melihat orang menang’ lalu seandainya kalah ‘semuanya harus mati-harus kalah’ dengan sibuknya mencari-cari kesalahan untuk menjatuhkan lawan yang udah jelas menang. menurut gue, terima saja kekalahan dengan LILO-LEGOWO sambil tak lupa memperbaiki kesalahan kecurangan jika ada dengan yuridis-proporsional.
    terlepas dari semua itu, masyarakatlah yang menilai, bukan ditentukan oleh sebarapa gencarnya kampanye digalakan, seberapa banyaknya WARAGAD dana kampanye yang harus dikeluarkan per-pasangan untuk maju sebagai kandidat CAPRES-CAWAPRES.
    sekali lagi, rakyat bukan objek apalagi selalu menjadi ‘alamat fiktif’ pengatasnamaan kepentingan…
    mau satu putaran lagi–agar genap menjadi dua putaran pun–hasilnya akan sama… yang kalah tetap kalah, yang menang tetap menang!!!

    • andrewiwanto permalink
      Juli 10, 2009 1:00 AM

      Wahhh2 orang2 yang pro SBY sangat fanatik bener….sekarang memang terbukti satu putaran tetapi hal hal yang paling prinsip adalah apa anda pernah menjadi team salah satu calon walikota atau bupati itu adalah cara ukur anda sangat fanatik terhadap setuju 1 putaran, bila anda belum pernah berpolitk praktis ya..tapi intinya tau ga dari mana dana sby dan demokratnya bisa banyak seperti itu…kalo ternyata dukungan kuat US dan RRC begitu besar seperti itu bagaimana……….

      kalua mo fair seh ga usah ad iklan itu

      tau keputusan MK kan gmn itu

Trackbacks

  1. SBY Menang ????? « Andre-Penta Visi Group

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: