Skip to content

Penolakan Iklan Mega Prabowo, Infiltrasi Orde Baru dalam Media?

Juni 17, 2009

Empat dari 7 seri iklan televisi pasangan capres-cawapres Megawati-Prabowo ditolak sejumlah stasiun televisi untuk menayangkannya. Empat seri tersebut bertitel Bangkrut, Mencintai, Harga, dan Pekerjaan. Sementara tiga materi iklan pemilu lainnya berjudul Persatuan, Maju dan Tim, dapat diterima oleh semua stasiun televisi.

Pengakuan bahwa iklan Mega-Prabowo ditolak disampaikan oleh Sekretaris II Tim Kampanye Nasional Mega-Prabowo, Hasto Kristianto.

Memang ada iklan yang mengkritik. Tapi kritik itu juga bagian dari pendidikan politik, tapi 3 stasiun televisi menolak dengan berbagai alasan. Kami juga sadar, kalau mengkritik terlalu vulgar, rakyat tidak senang,”
“Ada yang mengakui bahwa ada telepon kepada media elektronik tersebut sehingga iklan kami yang sudah lulus sensor ditolak. Padahal sudah diorder, dan tinggal pembayaran,
” ungkap Hasto. [kompas]

Menurut tulisan jurnalis Kompas Pepih Nugraha di blognya, iklan pemilu Bangkrut hanya diterima Indosiar, sementara stasiun lain menolaknya. Iklan Mencintai ditolak antara lain oleh RCTI, Global, Trans, dan Trans7. Iklan Harga dan Pekerjaan ditolak antara lain oleh SCTV, Trans dan Trans7.

Menurut humas SCTV, Budi Darmawan, pihaknya menolak iklan Mega-Prabowo karena  dinilai provokatif. “Yang saya lihat waktu itu, ada dua materi iklan. Salah satunya menampilkan gambar incumbent yang bilang ‘bangkrut’, padahal kalimat itu belum selesai, lalu iklan tersebut dilanjutkan dengan hal lain. Kami sih melihat ini ada potensi melanggar UU tentang Pemilu,. Tapi perlu diingat, SCTV menolak bukan hanya materi Bangkrut, tapi termasuk Harga dan Pekerjaan.

Dari 4 materi iklan kampanya Mega-Prabowo yang ditolak, ada satu iklan yang diupload di youtube yakni tentang “Harga“.

Setelah Anda menyaksikan iklan tersebut, mari investigasi isi/kalimat iklannya.

  • Tingginya harga sangat menyengsarakan kita semua. # Merupakan fakta bagi 40 juta rakyat miskin [tulisan terkait]. Total inflasi selama lebih 4 tahun mencapai 66% padahal total pertumbuhan ekonomi baru mencapai 19.71%
  • Setiap pagi para pekerja tidak mampu membeli bahan bakar minyak dan transportasi. #Faktanya bagi sebagian besar masyarakat ketika BBM naik 120% pada Mei 2008. Tapi videonya cukup mendramatisir.
  • Uang mereka terus menepis. Fakta terkait inflasi vs pendapatan dan pertumbuhan ekonomi
  • Setiap malam kekurangan pangan. #Ini cukup mendramatisir, terlebih makanan di meja mulai menghilang satu persatu
  • Sementara pemerintah berkata bahwa ekonomi kita kuat #Benar..melalui iklan manipulatif partai Demokrat pada Februari silam. [fakta 1, fakta 2 ]
  • Bahan bakar dan pangan jauh lebih murah #Sama pernyataan sebelumnya, kebohongan partai pemerintah bahwa harga lebih murah (turun) dalam iklan politiknya pada Februari 2009.
  • Kenyataannya setelah 5 tahun hanya janji kosong belaka. #Terlalu berlebihan.
  • Sembako hampir 50% lebih tinggi dari tahun 2004. #Juga fakta
  • Dan Ini berarti uang Anda hanya bisa membeli sedikit saja. # Logika pendapatan vs belanja terinflasi
  • Kita tidak bisa hanya makan janji. #Pesan.
  • Saatnya perubahan. Mega-Prabowo ……………. #ini iklannya.

Dari analisis 10 konten kritikan yang disampaikan oleh Mega-Prabowo 85% merupakan fakta. Hanya saja dalam beberapa bagian, terjadi dramatisir kondisi. Jika ini berdasarkan fakta dan realita di masyarakat, maka semestinya stasiun TV yang harus independen seperti SCTV tidak perlu menolak iklan Harga ini. Masih mending iklan ini dibanding dramatisir iklan penurunan BBM tiga kali yang juga SCTV tayangkan. Begitu juga fakta-fakta skenariotis iklan Demokrat sepanjang Februari-Maret silam. Mengapa fakta yang didramatisir Demokrat bersama SBY bisa diterima oleh stasiun TV tapi iklan dengan dramatisir yang hampir serupa (namun berisi fakta 5 tahunan) ditolak oleh lembaga TV?

Apa yang disampaikan oleh Hasto Kristianto semestinya menjadi perhatian masyarakat, karena sulit mendapat kepercayaan dari polisi tampak yang memihak incumbent. Silahkn baca : Polri Hentikan Kasus Pelanggaran Pemilu SBY-Boediono. Padahal pidato SBY yang memaparkan visi-misi dilakukan sebelum jadwal kampanye. Hal ini telah melanggar UU 42/2008 tentang Pilpres 2009. Tapi, polisi menghentikan kasus pelanggaran Pemilu. Tampak sekali polisi telah menjadi tameng bagi partai pemerintah, bukan tameng bagi keadilan rakyat!.

Yang menjadi perhatian kita adalah pengakuan Hasto Kristianto yang mendapat konfirmasi bahwa “ada telepon kepada media elektronik tersebut sehingga iklan kami yang sudah lulus sensor ditolak. Padahal sudah diorder, dan tinggal pembayaran.” Ini sangat penting. Mengapa? Jika pernyataan Hasto benar, maka mereka yang menelepon tersebut telah memenjara keadilan bagi semua rakyat, telah menginjak konstitusi dan kebebasan, telah menerapkan rezim otoriter atau Neo-orbaisme. Tidak hanya neoliberalisme yang telah melanda hingga saat ini, tapi sekali lagi “Selamat Datang Intelijen Neo-Orbais” dan “Selamat Jalan Demokrasi dan Kebebasan Berpendapat“. Sebagai masyarakat, kita harus menolak semua bentuk kelahiran tirani, diktator dan neo-orbaisme di Indonesia. Sudah lebih 30 tahun Indoensia dibawah pemerintah diktator, dengan lebih 500.000 masyarakat awam tewas dibunuh.

Namun, bagaimana jika pernyataan Hasto Kristianto tentang adanya pihak penelepon itu tidak benar? Bagaimana kalau Hasto tidak dapat menyebut siapa orang/pihak yang memberitahu kepadanya bahwa iklannya tidak bisa ditayangkan karena ada pesanan? Jika hal ini terjadi, maka Hasto Kristianto telah melakukan kebohongan publik, telah melakukan fitnah, dan sudah semesti Hasto harus dibui dibalik jeruji lembaga pemasyarakatan. Karena pernyataannya merugikan citra SBY-Boediono sebagai pasangan incumbent.

Jangan hanya berhenti pada polemik dan misteri. Kita perlu mendesak para pihak yakni timnya Hasto Kristianto dan media yang katanya menerima telepon untuk mengungkap kasus ini secepat mungkin. Jika Hasto Kristianto berbohong, maka ia harus diseret ke penjara. Jika Hasto Kristianto benar, maka mereka yang menginstruksikan untuk menolak iklan Mega Prabowo via telepon harus dipenjara, karena ia adalah agen diktator baru di negeri ini.

Atau ini adalah murni kesalahan media. Karena media televisi memiliki mental penakut dengan pihak tertentu (atau penguasa), maka pihak media menolak menerima iklan Mega-Prabowo yang mengkritik pemerintah. Lalu, dari pihak media sendiri beralibi bahwa ada penelepon. Dalam UU 42/2008 pasal 51 ayat 3 “Media massa cetak dan  lembaga penyiaran wajib memberikan kesempatan  yang  sama  kepada  Pasangan  Calon  dalam pemuatan dan penayangan iklan Kampanye.” dengan catatan Pasal 51 ayat 1 UU tersebut “Iklan  Kampanye  dilarang  berisikan  hal  yang  dapat mengganggu  kenyamanan  pembaca,  pendengar,  dan/atau pemirsa” antara lain iklan bersifat fitnah, menghasut, menyesatkan dan/atau  bohong, menonjolkan  unsur  kekerasan, cabul,  perjudian,  atau mempertentangkan  suku,  agama,  ras,  dan antar  golongan,  memperolok-olokkan,  merendahkan,  melecehkan, dan/atau  mengabaikan  nilai-nilai  agama,  martabat  manusia Indonesia, atau merusak hubungan internasional. Yang sering saya temukan adalah yang menyesatkan, penuh tipuan angka-angka yang membodohi pemirsa. Jika media melakukan kesalahan ini, maka sesuai UU, pihak media dapat didenda. Dan jika melakukan pembohongan publik, maka pihak media semestinya dipenjara.

Yang saya harapkan adalah memenjarakan salah satu pihak yang bersalah dari “Hasto K, pihak Media atau si-penelepon neo-orbais“. [karena setidak-tidaknya hanya ada satu pihak yang memiliki kesalahan dominan]

Salam Nusantara,17 Juni 2009
ech-wan

Iklan
16 Komentar leave one →
  1. Agustus 23, 2011 4:55 PM

    nice…………………..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: