Skip to content

Kasus Achmad Mubarok : SBY Sudah Berbohong dan Melanggar UU

Juni 14, 2009

Tidak banyak yang membahas topik ini. Hanya beberapa situs dan media seperti Indosiar yang membahas hal ini. Dalam blog, saya lebih senang membahas sesuatu berdasarkan ranah hukum atau tataran pencapaian angka-angka dalam ekonomi seperti utang. Tidak hanya sekadar opini, namun semestinya didasari oleh data, fakta yang tertulis ataupun tercapai.

Belang pelanggaran ini muncul ketika Tim Kampanye Nasional SBY-Boediono mencopot Achmad Mubarok, dan Ruhut  Sitompul dari daftar Timkamnas SBY-Boediono. Hal itu tertuang dalam surat bernomor 08/TIMKAMNAS/VI/2009 tertanggal 1 Juni 2009 kepada KPU. Terhitung 2 Juni, posisi Mubarok dalam daftar anggota Tim Kampanye SBY-Boediono digantikan Achdari. Sedangkan Ruhut diganti Amir Sambodo.

Achmad MubarokSudah kita ketahui sebelumnya bahwa Ruhut Sitompul akhirnya dipecat setelah somasi dan gugatan sebagian masyarakat atas pernyataan rasisnya dalam dialog di Gedung DPD Jakarta beberapa minggu silam. Ketika itu, Ruhut berdebat kusir dan menghina etnis Arab di Indonesia dengan mengatakan “orang Arab tidak berkontribusi apa-apa bagi Indonesia. Justru Amerika yang bantu Indonesia.”

Lalu, publik bertanya-tanya, mengapa sosok fenomenal Wakil Ketua Umum Achmad Mubarok dipecat dari struktur Timkamnas SBY-Boediono? Apakah ia dipeceat karena pernah membawa kisruh Demokrat-Golkar karena merendahkan Golkar dengan mengatakan partainya JK hanya mendapat 2.5% suara di pileg. Bukan…bukan itu. Karena Demokrat sudah merasa sudah cukup memberi hukuman kepada Mubarok melalui “nasehat’ SBY.

Lalu apa alasannya? Menurut Marzuki Alie, Sekjen DPP Partai Demokrat, menyampaikan bahwa PD mencoret nama Mubarok karena ia masih berstatus Pegawai Negeri Sipil (PNS) yakni sebagai Guru Besar (Profesor) di UIN Jakarta.

“Kalau Pak Mubarok itu kan masih PNS, jadi karena takut melanggar jadi kita tidak masukan tapi hanya mendampingi dari luar saja,” ungkap Marzukie Alie pada 10 Juni 2009 [inilah.com]

“Persoalan PNS menjadi pengurus parpol itu kan Undang-Undang PNS yang melarang. Kalau Undang-Undang Parpol tidak ada larangan itu. Artinya Demokrat sebagai parpol mengacu pada Undang-Undang Parpol. Kalau soal Mubarok langgar UU PNS itu urusan pribadinya.lanjut Marzuki Alie pada 10 Juni 2009 [inilah.com]

Wow… inikah pernyataan seorang politikus yang mengatakan partainya menjunjung tinggi hukum dan perundangan serta Good Governance? Inikah paradoks antara iklan SBY-Boediono yang mengatakan Pemerintah yang Bersih dalam hukum, tapi kenyataannya orang-orang dalamnya dapat melanggar produk Undang-Undang? Tidakkah mereka tahu bahwa untuk apa UU PNS dibuat? Mengapa PNS tidak boleh masuk dalam partai politik? Apakah Pak SBY tidak tahu itu hingga sebagai Ketua Dewan Pembina ia bisa memberi kepercayaan seorang Dosen berstatus PNS menjadi pengurus partai.

Mungkin, UU yang selama ini dibuat dan disahkan hanya dikoleksi dalam gudang. Sekarang saya tuliskan kembali isi UU PNS tersebut.

“Untuk menjamin netralitas Pegawai Negeri sebagaimana di maksud dalam ayat (2), Pegawai Negeri dilarang menjadi anggota dan atau pengurus partai politik.
Pasal 3 ayat 3 UU 43/1999 Tentang PNS

Ironisnya, Achmad Mubarok tidak hanya sebagai kader partai Demokrat, tapi ia menjadi pengurus inti yakni Wakil Ketua Umum yang sampai saat ini masih tercantum dalam daftar Dewan Pimpinan Pusat  Partai Demokrat. Kita tahu bahwa Achmad Mubarok sudah bertahun-tahun menjadi Pengurus Partai Demokrat. Berarti selama ini, Marzuki Alie yang tahu bahwa Mubarok masih berstatus PNS adalah bentuk kebohongan publik dan ketidakpatuhan partai seorang Presiden terhadap UU PNS, meskipun UU Parpol tidak tertulis. Inilah fakta-fakta tersembunyi yang selama ini selalu dipendam-pendam oleh partai penguasa dan celakanya masyarakat tidak tahu akan hal ini.

Sudahlah, jangan membohongi rakyat dengan iklan-iklan dengan segudang janji dan segunung fakta gading bersih yang penuh retak dan kebusukan. Bagaimana mungkin, setelah bertahun-tahun melanggar setidak-tidaknya 3 produk hukum yakni UU 43/1999, PP 37/2004,  dan UU 10/2008? Inilah bukti-bukti bahwa produk hukum hanya dibuat untuk menjerat rakyat kecil, sementara penguasa dengan mudah menginjak-injaknya. Itu pula kasus yang menimpa Buddha Bar Jakarta yang menyeret nama Aleg DPD RI Jakarta Djan Faridz, Aleg DPR RI Puan Maharani dan Reny Sutiyoso. Begitu juga skandal Per.Pres 14/2007 mengenai Luapan Lumpur Lapindo yang membawa nama SBY-JK-Bakrie.

Seperti kita ketahui reputasi seorang Achmad Mubarok selama ini. Selain dikenal ketika mengatakan Golkar hanya akan mendapat 2,5 persen suara dalam Pileg dan berusaha tidak mengakui pernyataan tersebut meski SBY akhirnya menegurnya. Ia juga dikritik ketika menyebut hanya 1 persen di tangan Tuhan terkait kemungkinan adanya perubahan nama cawapres SBY, karena 99% ditangan SBY. Kini, menyangkut kasus ini, Achmad Mubarok menyangkal bahwa ia masih menjadi anggota PNS. Mubarok sendiri berkilah sudah pensiun dari status PNS. Ketika ditanya kapan akhir masa tugas sebagai abdi negara, ia tidak menjawab tegas. “Saya sudah pensiun,” ujarnya singkat sebelum mengakhiri percakapan melalui telepon.

Saya tidak tahu apakah pernyataan Mubarok jujur, karena ia masih menyandang sebagai guru besar di UIN. Dalam peraturan UU 14/2005 tentang Guru dan Dosen disebutkan bahwa usia pensiun dosen  adalah 65  tahun dan sebagai  profesor yang berprestasi dapat diperpanjang batas usia pensiunnya sampai 70  tahun. Jika bukan karena keinginan pribadi untuk pensiun dini, maka tidak tertutup kemungkinan Achmad Mubarok masih menjabat sebagai PNS seperti yang disampaikan Sekjen Partai Demokrat Marzukie Alie. Atau, database Sekjen dan Wakil Ketua Umum Partai Demokrat amburadul? Kalau bukan itu, mengapa pula Achmad Mubarok dipecat dari Timkamnas SBY-Boediono?

*****************

Saya pikir kita tidak perlu mendikte Partai Demokrat atau SBY untuk melakuakan investigasi dan mengambil tindakan tegas atas status Achmad Mubarok. Menurut pengamat politik Abdul Gafur Sangaji, kasus Mubarok tidak lagi bisa dianggap main-main. Harus dicek status Achmad Mubarok. Kapan ia masuk Partai Demokrat. Kapan pula ia pensiun? Seharusnya, SBY sebagai kepala negara sekaligus ketua dewan penasihat memecat Mubarok. “Ini yang harus bertanggung jawab adalah SBY karena dia sebagai kepala negara yang harusnya menegakkan disiplin para PNS. Ini tidak etis, SBY membiarkan anak buahnya menjabat 2 jabatan sekaligus,” tegas Gafur.

Mencuatnya kasus ini, di mata Andul Gafur, menunjukkan SBY tidak jujur kepada publik. Karena itu, capres incumbent itu harus segera mengklarifikasi kasus ini.
Ini luar biasa fatalnya, SBY sudah berbohong dan melanggar UU,” [sumber inilah.com]

Saya khawatir, status PNS Mubarok yang disampaikan oleh Marzukie Alie hanyalah fenomena gunung es di partai-partai besar/penguasa. Sekali lagi, tampak sekali UU menjadi ompong ditangan penguasa. Dasar iklan pembual.

Salam Perubahan, 14 Juni 2009
ech-nusantaraku

Silahkan baca sumber berita resmi lain!

96 Komentar leave one →
  1. Juni 17, 2009 5:26 PM

    wah manteb banget ulasannya.. saya setuju banget. dari pertama kali SBY jadi presiden sudah terjadi kecelakaan beruntun di jalan tol yang dikarenakan presiden mau lewat.

    okelah itu kesalahan dari pengawal yang memberhentikannya.

    Tapi gila aja, memberhentikan secara mendadak lalu lintas di jalan tol yang rata2 kecepatannya minimal 80KM/jam karena presiden mau lewat???

    Saya lupa pastinya berapa orang yang meninggal akibat kecelakaan beruntun tsb, tapi rasanya setelah kejadian itu saya \”tongkrongi\” berita di tivi menunggu MINIMAL ucapan belasungkawa dari presiden, tapi sampai sekarang saya belum pernah nemu ucapan belasungkawa tsb di koran atau di tivi.

    Saya bingung dg teman2 yang terus2an tidak suka sby dikritik. Kalian dapat apa dari membela sby?

    Saya cuma minta kalian bayangkan seandainya kalian adalah sodara2 kita yang korban tsunami, korban lapindo, korban situgintung, dll.. sengsara bertahun2 tapi sby sbg presiden cuek2 aja.

    Kalian harus rasional, apa yang harusnya sby sbg presiden dapat membantu mereka tapi tidak pernah dia lakukan.

    Buat apa kalian bela mati-matian sby? Kalaupun kalian bela SBY sampai kalian sekaratpun, SBY cuek2 aja. Gak percaya? 🙂

    Kira2 gini kali ungkapan yang biasa saya pake sehari-hari, \”kenal juga gak, sodara juga bukan\”. Kacian banget yah…

  2. Haqiqa permalink
    Juni 17, 2009 8:26 PM

    Kyk’a ada urusan yg lebih penting lagi deh bagi SBY dari pada ngurusin mubarok?

    Bagi yg ngerti ttg politik menganggap hal ini salah, tp mengapa SBY yg disalahkan? Knp tidak mubarok saja yang dsalahkn karena ia udah masuk kepengurusan parpol dan mau untuk menjabat. Harusnya dia juga nolak, kalau tidak, berarti ia jg setuju untuk melanggar hukum donk?

    Pendapat nak sma, ia gag?

  3. Bowo permalink
    Juni 17, 2009 8:51 PM

    Anjing Lo semuanya…..

    Mending Golput Ajah….

  4. Juni 17, 2009 9:18 PM

    Mmm…bgt ya!

  5. DANIEL permalink
    Juni 18, 2009 10:19 AM

    Lho..kok baru tahu..bgm dgn BLT & PMPN dana diambil dari UTANG…… tp SBY msh ngeles..apa mungkin ketua BPK salah ngomong..wong itu hasil audit….. sdh lah yg salah kita jg msh pilih org suka bohong.
    msh ingat wkt SBY menjabat Menkopolhukan (Mega) dia menolak disebut pendiri Partai Demokrat..tp belakangan mengaku sbg pendiri dan pendiri asli lain pd dibuat tdk betah (Yance Rumangkang, SNs, dll)..eh..eh..buka dulu topengmu…

    • Albert permalink
      Juni 20, 2009 10:38 AM

      Ternyata ada juga yang bisa melihat ketidakjujuran pemerintahan ini.

  6. yulindawati permalink
    Juni 18, 2009 2:21 PM

    sudah lah kenapa kita justru meributkan hal-hal yang bukan wewenang kita…kalo dah ngak simpati ya diam aja…dari pada kita yang dosa asyik ngomongin orang aja…
    seharusnya orang-orang yang pandai mengkritik orang lain itu di kasih kerjaan, nanti kita liat apa dia bisa berbuat lebih baik dari yang sudah di buat SBY…introspeksi diri dong…jangan hanya pandai kritik orang aja….
    coba liat..sudah berapa orang yang memimpin negeri ini…semua tidak ada yang baik…justru semakin terpuruk….!!!dan yang paling aneh kenapa justru di akhir kepemimpinan justru bukan kinerjanya yang di hargai tapi malah justru di fitnah dan di olok-olok….

    kalo seperti ini memang bangsa kita adalah bangsa yang tidak pernah bisa menghargai kerja dan jerih payah orang lain…kalo seperti ini apakah bangsa kita masih di anggap bangsa yang bermartabat dan bermoral….??????

    tapi selama SBY memimpin belum pernah kita dengar ada perang saudara… kalo pun ada utang luar negeri itukan rakyat juga yang menikmati….
    tolong jangan lagi racuni pikiran rakyat dengan komentar-komentar yang ngak jelas dan propokatif…pada akhirnya rakyat juga yang memilih dan menentukan siapa pemimpin kedepan…
    cuma bagi pemimpin yang pernah gagal…jangan terlalu PDlah…!!!!

  7. Juni 18, 2009 5:39 PM

    @ Yulindawaty

    kenapa sewot sih terhadap kritik dan orang yang mengkritik. Kalau tanpa kritik, kita masih tinggal di goa-goa, masih primitif, dan merasa minder terhadap binatang buas. Bersyukur dong masih ada yang berpikir kritis, daripada semua orang di negeri ini menjadi beo…

    • Juni 18, 2009 6:50 PM

      Untuk Sdr. Yulindawati, saya sependapat dengan Sdr. Tobadreams.
      Dalam sistem pemeritahan demokrasi, sistem check and balance sangat diperlukan. Tanpa check-balance, support and criticise, maka negara demokrasi akan pincang. Demokrasi akan berubah menjadi diktator. Masyarakat akan digiring pada sosok pemimpinnya sebagai dewa, sebagai malaikat. Meskipun ada kesalahan atau pelanggaran hukum, maka orang-orang sekitarnya akan berusaha mengatakan ia bersih, ia adalah bayi yang baru lahir dengan segala kekuldusannya. Baik benar atau salah, maka hasilnya dan klaimnya adalah benar dan suci.
      Sistem demokrasi pincang ini akan membawa tirani, akan menginjak-injak kebenaran.
      Selama kritik dan masukan itu untuk perubahan yang lebih baik, maka kita sudah semestinya melakukan itu. Meskipun dia adalah anak kita sendiri, maka jika ia berbuat salah, maka dengan kebaikan anak kita, kita semestinya menegur, dan menasehatinya. Bukan jika anak kita salah, lalu kita dia itu anak yang baik. Kalau begitu, maka tidak perlu lagi berbicara tentang kebenaran.
      Trims.

  8. adi isa permalink
    Juni 18, 2009 8:53 PM

    udalah, ngapain ribut terus soal begini…
    sby tetap akan menang.

    • Juni 21, 2009 1:40 AM

      Yang menang belum tentu benar dan tanpa noda.
      Dulu jaman Pak Harto, tiap pemilu dan pemilihan presiden di MPR, beliau pasti menang.
      Ini bukan hanya soal menang kalah.
      Tapi soal jujur dan kebohongan publik.

  9. swanggie permalink
    Juni 22, 2009 7:07 AM

    katanya Gus Dur, capres yg debat di TV kemaren gak layak, padahal Gus Dus gak nonton karena ketiduran, jadi yang layak jadi capres adalah GUS DUS heheheheehehh

  10. Horisworo Adhi permalink
    Juni 23, 2009 2:49 PM

    Sdr Yulindawati, ini pernyataan anda, coba liat..sudah berapa orang yang memimpin negeri ini…semua pemimpin tidak ada yang baik…justru semakin terpuruk….!!! dan yang paling aneh kenapa justru di akhir kepemimpinan justru bukan kinerjanya yang di hargai tapi malah justru di fitnah dan di olok-olok….
    kalo seperti ini memang bangsa kita adalah bangsa yang tidak pernah bisa menghargai kerja dan jerih payah orang lain…kalo seperti ini apakah bangsa kita masih di anggap bangsa yang bermartabat dan bermoral….??????

    Apakah Bapak H. Baharudin Yusuf Habibie juga anda katakan tidak baik? coba pelajari sejarah, beliau memimpin dalam waktu sesingkat itu, tapi karyanya salah satunya pemilu langsung, dollar dari 15 ribu ke 7 ribu, UU pemberantasan Koprupsi, dll, baca sendiri.. pantas negeri ini jadi seperti ini…… karena termakan oleh omongannya sendiri dan jadi doa

  11. EHHH permalink
    Juni 24, 2009 2:41 PM

    memang sangat susah kalo benar & salah dianggap sesuatu yg nggak penting ……(yg penting enak dech…). hhhhahaha.

    welcome to jungle !

  12. siahaan permalink
    Juli 8, 2009 11:28 PM

    Coba liat aja pernyataan si Yuli ini “…tapi selama SBY memimpin belum pernah kita dengar ada perang saudara… kalo pun ada utang luar negeri itukan rakyat juga yang menikmati….”.Buat si Yuli ini,gak apa apa ngutang yg penting makan…Andai aja era Soeharto gak gila ngutang…Mungkin bangsa ini lah yg menjadi Amerika.Karena sebenarnya kita bangsa besar,krn kita punya Sumber Daya Alam yg maha melimpah,krn kita punya Sumber Daya Manusia yg banyak,krn kita punya LAUTAN yg paling luas,krn kita punya HUTAN yg paling luas,krn kita punya,krn kita punya karakter PEJUANG,krn kita punya HARGA DIRI,krn kita punya RASA PERSATUAN…tapi…semua itu lenyap karena…HUTANG!
    Ketika kita berhutang,maka itu artinya kita menggadaikan HARGA DIRI kita.Namun apa daya…32 thn (dan sekarang diLANJUTKAN lagi) kita telah dinina bobokkan HUTANG.Kenapa kita tidak pernah belajar dr tetangga kita Malaysia yg begitu pesat kemajuannya, atau dr sebuah tanah yg kecil (SINGAPURA)?Mereka negara yg mandiri.Sedang kita cuma negara yg punya bank mandiri.Kapan kita mulai belajar?…….Saat semua Yulindawati Yulindawati terbangun dr mimpi2 basahnya!!!

  13. Agustus 19, 2009 4:51 PM

    perut besar mawsih saja lapar…

  14. helmy permalink
    Juli 29, 2010 4:49 PM

    menurut saya itu wajar2 saja…
    mubarok adalah orang yang hebat di mata partai dan rakyat.
    kenapa hanya hal seperti ini saja mubarok mesti di pecat?
    saya yakin sby melakukan itu karna maksud nya, mungkin karna mubarok cukup hebat untuk mengisi jabatan sebagai wakil ketua partai.
    saya sangat mengenal ahmad mubarok, bahkan ia tidak berani menerima suapan dari oknum2 yang ingin berkuasa.
    waktu itu ada orang yang datang ke rumah mubarok, ia adalah anggota dpr, lalu ia menawarkan pak mubarok uang senilai ratusan juta( maaf saya tidak tahu pasti jumlah nya), orang itu hanya ingin menjadi pengurus partai lewat saya dengan cara yang kotor, dan saya menolak nya, ujarnya.
    karna saya orang yang cukup dekat dengan beliau, bahkan tiap hari saya bertemu.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: