Skip to content

Buku Kwik Kian Gie – INDONESIA MENGUGAT JILID-II (2)

Juni 14, 2009

“INDONESIA MENGGUGAT JILID-II” ? (Bagian 2)

Menjabarkan Pidato Proklamasi Calon Wakil Presiden Boediono

Oleh Kwik Kian Gie

PROSES PENJAJAHAN DALAM PERUNDANG-UNDANGAN DAN KEBIJAKAN-KEBIJAKAN OLEH ELIT BANGSA INDONESIA SENDIRI

Menuju ke arah liberalisasi sejauh mungkin

Sejak Republik Indonesia berdiri sampai tahun 1967 tidak pernah ada rincian konkret dari ketentuan pasal 33 UUD 1945 yang bunyinya : “Barang yang penting bagi negara dan cabang-cabang produksi yang menguasai hajat hidup orang banyak dikuasai oleh negara dan dipergunakan untuk sebesar-besar kemakmuran rakyat.”

Undang-undang nomor 1 tahun 1967

Penjabaran yang konkret sampai bisa menjadi peraturan tidak pernah ada sampai tahun 1967. Dalam tahun itu terbit UU no. 1 tahun 1967 tentang Penanaman Modal Asing. Terbitnya UU tersebut sebagai tindak lanjut dari Konferensi Jenewa bulan November 1967.

Saya kutip pasal 6 ayat 1 yang berbunyi : “Bidang-bidang usaha yang tertutup untuk penanaman modal asing secara pengusahaan penuh ialah bidang-bidang yang penting bagi negara dan menguasai hajat hidup rakyat banyak sebagai berikut :

a. pelabuhan-pelabuhan;
b. produksi, transmisi dan distribusi tenaga listrik untuk umum;
c. telekomunikasi;
d. pelayaran;
e. penerbangan;
f. air minum;
g. kereta api umum;
h. pembangkitan tenaga atom;
i. mass media.

UU tentang Penanaman Modal Dalam Negeri di tahun 1968

Undang-undang nomor 6 tahun 1968 mengenai Penanaman Modal Dalam Negeri pasal 3 ayat 1 sudah mengizinkan investor asing memasuki cabang-cabang produksi yang jelas disebut “menguasai hajat hidup orang banyak” itu asalkan porsinya modal asing tidak melampaui 49%. Namun ada ketentuan bahwa porsi investor Indonesia yang 51% itu harus ditingkatkan menjadi 75% tidak lebih lambat dari tahun 1974.

Peraturan Pemerintah nomor 20 tahun 1994

Di tahun 1994 terbit peraturan pemerintah nomor 20 dengan pasal 5 ayat 1 yang isinya membolehkan perusahaan asing melakukan kegiatan usaha yang tergolong penting bagi negara dan menguasai hajat hidup rakyat banyak, yaitu pelabuhan, produksi dan transmisi serta distribusi tenaga listrik umum, telekomunikasi, pelayaran, penerbangan, air minum, kereta api umum, pembangkitan tenaga atom dan mass media.”

Pasal 6 ayat 1 mengatakan : “Saham peserta Indonesia sebagaimana dimaksud dalam pasal 2 ayat (1) huruf a sekurang-kurangnya 5% (lima perseratus) dari seluruh modal disetor perusahaan pada waktu pendirian.”

Apa artinya ini ? Artinya adalah bahwa pasal 6 ayat 1 UU no. 1/1967 mengatakan bahwa perusahaan asing tidak boleh memasuki bidang usaha yang tergolong penting bagi negara dan menguasai hajat hidup orang banyak beserta perinciannya. UU no. 6/1968 pasal 3 ayat 1 secara implisit mengatakan bahwa asing boleh memiliki dan menguasai sampai 49%. UU no. 4/1982 melarang asing sama sekali masuk di dalam bidang usaha pers. PP 20/1994 lalu dengan enaknya mengatakan bahwa kalau di dalam perusahaan kandungan Indonesianya adalah 5% sudah dianggap perusahaan Indonesia yang dapat melakukan kegiatan usaha yang tergolong penting bagi negara dan menguasai hajat hidup rakyat banyak beserta perinciannya, termasuk media massa Jadi PP no. 20/1994 menentang UU no. 1/1967, menentang UU no. 6/1968, menentang UU no. 4/1982 dan menentang jiwa pasal 33 UUD 1945.

Dalam aspek lain PP 20/1994 juga menentang UU no. 6/1968 pasal 6 yang berbunyi : “Waktu berusaha bagi perusahaan asing, baik perusahaan baru maupun lama, dibatasi sebagai berikut :

a. Dalam bidang perdagangan berakhir pada tanggal 31 Desember 1997;
b. Dalam bidang industri berakhir pada tanggal 31 Desember 1997;
c. Dalam bidang-bidang usaha lainnya akan ditentukan lebih lanjut oleh Pemerintah dengan batas waktu antara 10 dan 30 tahun.”

PP no. 20/1994 menentukan bahwa batas antara boleh oleh asing atau tidak adalah kepemilikan oleh pihak Indonesia dengan 5%. Tidak ada lagi pembatasan waktu tentang dikuranginya porsi modal asing.

Yang sangat menyakitkan juga ialah diambilnya rumusan pasal 33 UUD 1945 secara mentah-mentah, yang lalu dikatakan bahwa itu sekarang boleh ada di tangan asing dengan kandungan Indonesia 5%. Jadi seperti menantang atau meremehkan UUD 1945.

Infra Struktur Summit I

Posisinya hari ini ialah yang dikumandangkan di Infra Struktur Summit oleh Menko Perekonomian ketika dijabat oleh Aburizal Bakrie di Hotel Shangrilla. Intinya mengumumkan kepada masyarakat bisnis dan korporasi di dunia bahwa Indonesia membuka pintunya lebar-lebar buat investor asing untuk berinvestasi dengan motif memperoleh laba dalam bidang infrastruktur dan barang-barang publik lainnya. Kepada masyarakat bisnis dan korporasi diberitahukan bahwa kebijakan akan dijuruskan pada terbukanya hampir semua public goods and services bagi investor swasta, termasuk investor asing.

Infra Struktur Summit II

Dalam Infra Struktur Summit II yang Menko Perekonomiannya dijabat oleh Boediono, pengumuman pendahulunya diulangi lagi. Namun sekarang ditambah dengan penegasan bahwa tidak akan ada perbedaan perlakuan sedikitpun antara investor asing dan investor Indonesia.

Kebijakan pemerintah dalam bidang infra struktur dan public goods pada umumnya hanya akan ditangani oleh pemerintah kalau penyediaannya tidak menguntungkan secara komersial. Melalui reformasi sektoral lambat laun semua barang publik dan infra struktur akan dibuat menguntungkan secara komersial, sehingga bisa disediakan oleh swasta dengan motif mencari laba.

Ini berarti bahwa rakyat Indonesia akan dijuruskan hanya dapat menikmati barang dan jasa publik dengan membayar harga yang tingginya memungkinkan investor swasta memperoleh laba daripadanya. Falsafah bahwa perlu ada barang dan jasa publik yang penyediaannya diadakan atas dasar gotong royong, yaitu dibiayai oleh seluruh rakyat sesuai dengan kemampuannya masing-masing melalui sistem perpajakan lambat laun harus diperkecil. Semuanya harus diserahkan pada mekanisme pasar. Dengan demikian, secara perlahan-lahan bangsa Indonesia yang miskin tidak akan dapat menikmati barang dan jasa publik dengan cuma-cuma.

Apa lagi kalau kebijakan semacam ini ini tidak bersifat liberalisme yang primitif dan masih liar? Di seluruh dunia kita mengenal jaringan jalan raya bebas hambatan sangat luas yang digunakan oleh siapa saja dengan cuma-cuma. Di Indonesia tidak. Namanya saja “jalan tol”, yang implisit berarti barang siapa ingin menggunakan jalan raya bebas hambatan harus membayar tarif tol.

Undang-Undang tentang Penanaman Modal nomor 25 tahun 2007

Undang-Undang tersebut menggantikan semua perundangan dan peraturan dalam bidang penanaman modal. Butir-butir pokoknya dapat dikemukakan sebagai berikut.

Pasal 1 yang mendefinisikan “Ketentuan Umum” yang mempunyai banyak ayat itu intinya menyatakan tidak ada perbedaan antara modal asing dan modal dalam negeri.

Pasal 6 mengatakan : “Pemerintah memberikan perlakuan yang sama kepada semua penanam modal yang berasal dari negara manapun yang melakukan kegiatan penanaman modal di Indonesia…..”

Pasal 7 menegaskan bahwa “Pemerintah tidak akan melakukan tindakan nasionalisasi atau pengambilalihan hak kepemilikan penanaman modal, kecuali dengan undang-undang.”

Pasal 8 ayat 3 mengatakan “Penanam modal diberi hak untuk melakukan transfer dan repatriasi dalam valuta asing”, yang dilanjutkan dengan perincian tentang apa semua yang boleh ditransfer, yaitu sebanyak 12 jenis, dari a sampai dengan l, yang praktis tidak ada yang tidak boleh ditransfer kembali ke negara asalnya.

Pasal 12 mengatakan bahwa semua bidang usaha atau jenis usaha terbuka bagi kegiatan penanaman modal, kecuali produksi senjata dan bidang usaha yang secara eksplisit dinyatakan tertutup berdasarkan undang-undang.

Hak atas tanah menjadi 95 tahun untuk Hak Guna Usaha, 80 tahun untuk Hak Guna Bangunan dan 70 tahun untuk Hak Pakai.

KECENDERUNGAN LIBERALISASI PENUH DAN SURVIVAL OF THE FITTEST

Dengan seluruh rangkaian kebijakan yang telah dikemukakan tadi, menjadi sangat jelas garis kebijakan yang konsisten sejak tahun 1967. Kebijakan itu ialah semakin mengecilnya peran pemerintah dalam bidang pengadaan barang dan jasa yang tergolong dalam barang dan jasa publik, atau barang dan jasa yang pengadaannya membutuhkan dana sangat besar, tetapi merupakan kebutuhan pokok manusia. Karena kebutuhan dana yang sangat besar itu, sifatnya selalu menjadi monopolistik. Karena sifat monopolistik itu dipegang sepenuhnya oleh perusahaan swasta yang motifnya mencari laba, maka rakyat yang sangat membutuhkannya harus membayar dengan harga yang tingginya mencukupi untuk memberi laba yang menarik bagi investor swasta. Karena itu, yang mampu menggunakan barang dan jasa publik ialah perusahaan-perusahaan besar dan perorangan yang tergolong kaya.

Kewajiban pemerintah untuk mengadakannya secara gotong royong melalui instrumen pajak setahap demi setahap dibuat minimal. Banyak sekali barang dan jasa publik yang akan dijadikan obyek mencari laba, dan dalam berlomba mencari laba itu tidak ada lagi perbedaan antara investor asing dan investor Indonesia.

Semuanya didahului dengan mempengaruhi pikiran dan pembentukan opini publik dalam bidang mekanisme pasar, liberalisasi, swastanisasi dan globalisasi yang cakupannya sebanyak dan tingkat keterbukaannya sejauh mungkin, yang harus memusnahkan nasionalisme dan patriotisme. Elit negara-negara mangsa harus diyakinkan dan diberi pemahaman bahwa nasionalisme dan patriotisme sudah sangat ketinggalan zaman. Orang modern harus memahami globalisasi yang merupakan the borderless world. Nasionalisme dan patriotisme bagaikan katak dalam tempurung dengan wawasan yang sangat sempit. Demikianlah pikiran, paham, penghayatan yang berlaku pada elit bangsa yang memegang kekuasaan ekonomi sejak tahun 1967 sampai sekarang.

Pusat dari indoktrinasi paham seperti dikemukakan di atas adalah………..bersambung ke halaman 2

Iklan

Laman: 1 2 3 4 5 6 7

39 Komentar leave one →
  1. iwan permalink
    Juni 22, 2009 1:46 AM

    Jujur sy dr dulu suka sama Bpk KKG, sebetulnya kita harus malu pada beliau, banyak org keturunan justru sangat membela tanah air Indonesia. Jadi meskipun beliau org keturunan ternyata lebih Indonesia dari orang WNI Asli. Ternyata apapun leluhur kita kalau pengabdiannya untuk bangsa Indonesia wajib dinyatakan WNI Asli.

  2. Rio permalink
    Juni 22, 2009 1:52 AM

    Sejak sy banyak masukan dr luar (termasuk tulisan diatas) sy pindah halua dlm menentukan pilihan 8 Juli nanti. Banyak org melihat hanya pilih berdasarkan pemimpin yg suka Jaim/tebar pesona. Pilihanku semoga benar berdasarkan sumber data yg valid tidak berdasarkan data yang dipoles (BLT tapi Utang, hutang = bantuan, penjajahan ekonomi dll) hidup presiden yang mandiri rakyatlah yg berkuasa. Semoga rakyat indonesia insyaf akan hal ini.

  3. Juni 22, 2009 5:54 PM

    Masyarakat kecil lah yang jd korban politikus busuk ini..
    Para pejabat hanya bisa menghambur2kan uang..coba tengoklah masyarakat pinggir desa yang selalu susah untuk makan yang hanya di bodohi oleh orang2 besar..Meraka bisa menengok kalau ada keinginan nya saja setelah itu,,mana janji nya???

  4. kuzot permalink
    Juni 22, 2009 6:42 PM

    postingan yang sangat keren! trims nusantara! pak kwik kian gie menjelaskan secara rinci, tepat dan lugas. rinci,karena semua kalimat memiliki penjelasan yang mendalam. tepat, karena pak kwik menjelaskan semuanya memakai dasar yang jelas(undang undang), tidak asal asalan. lugas, karena pak kwik berani mengutarakan pendapatnya seperti tanpa tekanan dan tentunya memberikan solusi dan pendapat yang pas, tidak muluk muluk!

  5. Juni 23, 2009 11:16 AM

    KKG adalah kutu loncat. Mau kemana lagi kau bah..setelah tidak dipake di PDIP.
    Pintar-pintar goblok lho…Jangan cari gara-gara bozzzzz

  6. Horisworo Adhi permalink
    Juni 23, 2009 3:52 PM

    Bravo Pak KKG, semoga Alloh mendengarkan hambanya yang mengajak menuju Baldatun Toyibatun wa robbun gofur.. Terima kasih Nusantaraku.. telah memberi benih-benih nasionalisme lewat pandangannya Pak KKG, semoga 5 tahun kedepan bangsa Indonesia mendapat Pemimpin yang Amanah, Sidiq, Fathonah, Bekerja keras untuk bangsa dan rakyatnya, sehingga menjadi Bangsa yang berjaya sentosa moralnya, budayanya, kepribadian bangsanya, kemandiriannya, kesejahteraan rakyatnya, Semoga….. Allohuma Amiin..

  7. Akusaja permalink
    Juni 23, 2009 6:37 PM

    KKG itu cuma bisa berasumsi, berteori, dan berargumentasi…dia mah memang orator, kritikus, dan penulis….Waktu beliau menjabat dulu apa yang sudah diperbuat? Gebrakan apa yang sudah dia lakukan… Begitulah kalo tidak dipake lagi nyerang balik…
    Tulisannya dia itu hanya menyudutkan orang lain saja, SBY, JK, Mega, Boed, Sri Mul, dll… Yang namanya menjelek-jelekkan orang lain pasti berasala dari orang yang jelek juga. Saya rasa KKG itu pinter tapi tidak bisa berbenah.
    Banyak sekali orang (tokoh2)di republik ini yang melebihi kepintaran KKG, namun mereka salurkan kepintarannya untuk membangun negeri, bukan menjelekkan orang lain. Bukan cuma berasumsi. Mungkin sesuatu yang riil kita bangun berdasarkan sebuah asumsi tanpa membuat sebuah verifikasi yang kon krit? ingat KKG, bangsa ini bukan bangsa yang bodoh, anda pintar memang yang berusah ‘menggiring’ bangsa ini ke dalam kebencian yang tak ada ujung, dalam mimpi yang hanya berdasarkan asumsi…. KKG, kalau boleh saya kasih nasehat, berbuatlah demi Republik tercinta ini walaupun sedikit, dan mulailah dengan hal yang paling kecil yaitu dari diri anda sendiri…jangan memperkeruh suasana dengan menjelek2kan pemimpin2 kita di masa lalu… Terima kasih.

    • Juni 23, 2009 7:18 PM

      Sdr Akusaja, saya tanya kepada Anda, sudahkah Anda membaca habis dua bagian tulisan ini?
      Apakah Anda tidak dapat membaca penelusuran Undang-Undang?
      Apakah Anda juga tidak bisa membedakan bahwa penjualan 51% saham BCA dengan harga ekivalen 10 triliun 97% saham BCA padahal didalam BCA tersebut terdapat 58 triliun obligasi negara?
      Apakah Anda juga tidak bisa menelusuri fakta-fakta BLBI?
      Apakah Anda juga tidak bisa melihat privatisasi dan penjualan saham-saham perbankan BPPN yang merugikan negara sebagai fakta?
      Mengenai asumsi (mungkin BBM) dan kerjanya, saya sudah menjawabnya di jawaban komentar ini .
      Mari, kita berargumen dengan data beserta asumsi. Jika dari awal Anda mengatakan KKG hanya bisa berteori, berasumsi dan beragumentasi, namun Anda mengabaikan fakta-fakta yang disampaikan.
      Namun, jujur bahwa Anda lebih menampilkan opini dan argumentasi, daripada memberi data dan fakta sanggahan.
      Terima kasih untuk berdiskusi secara faktual.

  8. Juli 10, 2009 4:20 AM

    emang budiono dkk itu agen asing, agen kredit merangkap pejabat negara

  9. Juli 17, 2009 6:19 PM

    wah… serujuga baca blog nya…
    success yah….

  10. budisulistya permalink
    Juli 21, 2009 2:22 AM

    Panjang sekali tulisannya pak Kwik… mungkin karena banyak kasus-kasus yang dibahasnya. Meski begitu saya sangat menikmatinya karena sudah lama tidak baca tulisannya yg dulu pernah dimuat di kompas.

    Saya melihat tulisan ini adalah semacam rekapitulasi ketidakadilan ekonomi yang telah diderita bangsa kita, dan dengan memanfaatkan momen pergantian kekuasaan sekarang, beliau (dengan tidak putus-putusnya) coba mengingatkan kita semua untuk sadar, dan sukur-sukur mau berubah.

    Karena Boediono adalah cawapres (yang sekaligus akan berpeluang besar dalam menentukan kebijakan ekonomi) 2009-2014, maka diletakkanlah harapan2nya dalam tulisan ini. Ini bisa dilihat dengan berkali-kali membuat ‘perbandingan’ antara aktor jaman dulu, dan era ’67-sekarang, yang dititikberatkan aktornya adalah Boediono sendiri.

    Sayang sekali bahwa ekonom yang nasionalis seperti pak Kwik ini tidak bekerjasama dengan para birokrat ekonomi yang profesional seperti Boediono dan Sri Mulyani. Andaikan mereka bersinergi (dengan tetap menghormati perbedaan prinsipil diantara mereka), mungkin perekenomian Indonesia akan lebih berdaya, terutama dalam kerangka melawan pengaruh/kekuatan asing. Saya rasa ekonom-ekonom nasionalis yang seperti pak Kwik masih ada, tapi herannya kenapa mereka tidak terdengar baik kiprahnya maupun suaranya ya?

    • Juli 21, 2009 8:56 PM

      @ivenxadytia
      Terima kasih kembali..

      @BudiSulitya
      Yah.. secara tersirat Kwik pun mengatakan bahwa ada peluang yang besar bagi Boediono menjadi Wapres 2009-2014, sehingga ia mengkritik sekaligus berharap.
      Banyak kok ekonom-ekonom Nasionalis seperti Pak Kwik yang ngajar di UI, namun tidak mendapat tempat. Jika mau bersuara, maka mereka harus berpolitik.
      Kalau bicara politik…banyak hal yang harus diperbuat bahkan ideologi pun harus dilepaskan jika mau sukses dalam kepentingan politik.

  11. farid bara permalink
    September 7, 2009 3:48 AM

    Salut buat Pak Kwik yang tak pernah henti coba buka wawasan kita lengkap dengan data akurat. Tulisan ini termasuk salahsatu buah karya nyata bapak yang sungguh tak ternilai yang akan sangat bermanfaat jika bangsa ini mau berkaca diri.

    Tetaplah berkarya Pak.. jangan hiraukan hujatan yang tak berdasar ciri khasnya orde zombie yang sulit diajak berpikir analisis akibat kecanduan sihir citralisasi.
    Bantahannya semua seragam; kelabakan lihat fakta yang diangkat… lalu menghujat tanpa dukungan fakta dan data.

    KAMI TETAP DUKUNG PAK KWIK DAN PEMIKIRAN NASIONALISNYA YANG TAK KUNJUNG PADAM DAN PANTANG MENYERAH.

  12. J Paat permalink
    November 25, 2009 10:59 AM

    Semua yg bpk Kwik tulis itu betul2 pejelAsan yg sangat tak ternilai harganya. Terima kasih atas usaha2
    Dan tulisan2 anda Selama ini, semoga bpk terus menulis jadi Kami yg terus bisa belajar memahami keadaan yg sebenarnya di Indonesia.

  13. J Paat permalink
    November 25, 2009 11:02 AM

    Terimakasih Nusantara atas kesempatan saya bisa membaca blog2 yg Ada sajikan.
    Salam sejahtera selalu

  14. Toto Wida permalink
    Januari 3, 2011 2:59 PM

    Apakah Kwik Kian Gie mempunyai hubungan dengan Sue Hok Gie yang lahir 17 Desember 1942….???

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: