Skip to content

Makna Kehilangan

Juni 7, 2009

Ini adalah sebuah email yang dikirim rekan saya disebuah milis. Mungkin sebagian pembaca pernah membacanya. Dan saya termotivasi untuk menyampainya ke lebih banyak orang yang belum pernah membaca sebelumnya.

Skenario 1

Andaikan kita sedang naik di dalam sebuah kereta ekonomi. Karena tidak mendapatkan tempat duduk, kita berdiri di dalam gerbong tersebut. Suasana cukup ramai meskipun masih ada tempat bagi kita untuk menggoyang-goyangkan kaki.  Kita tidak menyadari handphone kita terjatuh.
Ada orang yang melihatnya, memungutnya dan langsung mengembalikannya kepada kita.  “Pak, handphone bapak barusan jatuh nih,” kata orang tersebut seraya memberikan handphone milik kita.

Apa yang akan kita lakukan kepada orang tersebut?
Mungkin kita akan mengucapkan terima kasih dan berlalu begitu saja.

Skenario 2

Handphone kita terjatuh dan ada orang yang melihatnya dan memungutnya. Orang itu tahu handphone itu milik kita tetapi tidak langsung memberikannya kepada kita.  Hingga tiba saatnya kita akan turun dari kereta, kita baru menyadari handphone kita hilang.
Sesaat sebelum kita turun dari kereta, orang itu mengembalikan handphone kita sambil berkata, “Pak, handphone bapak barusan jatuh nih.”

Apa yang akan kita lakukan kepada orang tersebut?
Mungkin kita akan mengucapkan terima kasih juga kepada orang tersebut. Rasa terima kasih yang kita berikan akan lebih besar daripada rasa terima kasih yang kita berikan pada orang di skenario pertama (orang yang langsung memberikan handphone itu kepada kita).  Setelah itu mungkin kita akan langsung turun dari kereta.

Skenario 3

Pada skenario ini, kita tidak sadar handphone kita terjatuh, hingga kita menyadari handphone kita tidak ada di kantong kita saat kita sudah turun dari kereta. Kita pun panik dan segera menelepon ke nomor handphone kita, berharap ada orang baik yang menemukan handphone kita dan bersedia mengembalikannya kepada kita.

Orang yang sejak tadi menemukan handphone kita (namun tidak memberikannya kepada kita) menjawab telepon kita.
Halo, selamat siang, Pak. Saya pemilik handphone yang ada pada bapak sekarang,” kita mencoba bicara kepada orang yang sangat kita harapkan berbaik hati mengembalikan handphone itu kembali kepada kita. Orang yang menemukan handphone kita berkata, “Oh, ini handphone bapak ya. Oke deh, nanti saya akan turun di stasiun berikut. Biar bapak ambil di sana nanti ya.” Dengan sedikit rasa lega dan penuh harapan, kita pun pergi ke stasiun berikut dan menemui “orang baik” tersebut. Orang itu pun memberikan handphone kita yang telah hilang.

Apa yang akan kita lakukan pada orang tersebut?
Satu hal yang pasti, kita akan mengucapkan terima kasih, dan seperti nya akan lebih besar daripada rasa terima kasih kita pada skenario kedua bukan?
Bukan tidak mungkin kali ini kita akan memberikan hadiah kecil kepada  orang yang menemukan handphone kita tersebut.

Skenario 4

Pada skenario ini, kita tidak sadar handphone kita terjatuh, kita turun dari kereta dan menyadari bahwa handphone kita telah hilang, kita mencoba menelepon tetapi tidak ada yang mengangkat. Sampai akhirnya kita tiba di rumah.

Malam harinya, kita mencoba mengirimkan SMS :
Bapak / Ibu yang budiman. Saya adalah pemilik handphone yang ada pada bapak / ibu sekarang. Saya sangat mengharapkan kebaikan hati bapak / ibu untuk dapat mengembalikan handphone itu kepada saya. Saya akan memberikan imbalan sepantasnya. ” SMS pun dikirim dan tidak ada balasan.  Kita sudah putus asa.

Kita kembali mengingat betapa banyaknya data penting yang ada di dalam handphone kita. Ada begitu banyak nomor telepon teman kita yang ikut hilang bersamanya. Hingga akhirnya beberapa hari kemudian, orang yang menemukan handphone kita menjawab SMS kita, dan mengajak ketemuan untuk mengembalikan handphone tersebut.

Bagaimana kira-kira perasaan kita?
Tentunya kita akan sangat senang dan segera pergi ke tempat yang diberikan oleh orang itu. Kita pun sampai di sana dan orang itu mengembalikan handphone kita. Apa yang akan kita berikan kepada orang tersebut? Kita pasti akan mengucapkan terima kasih sebesar-besarnya kepadanya, dan mungkin kita akan memberikannya hadiah (yang kemungkinan besar lebih berharga dibandingkan hadiah yang mungkin kita berikan di skenario ketiga).

*****************

Apa yang kita dapatkan dari empat skenario cerita di atas?
Cobalah pikirkan, di antara keempat orang di atas, siapakah yang paling baik?
Manakah orang yang paling tidak baik?
Mengapa kita lebih memberi apreasiasi kepada orang yang paling tidak baik daripada yang paling baik?

Sudahkah skenario kita sudah tepat dalam memilih para capres/cawapres pada 8 Juli mendatang?

Salam Perubahan, 7 Juni 2009
Ech

Tambahan (Updated)

Mari kita perhatikan lagi 4 skenario tersebut :

  1. Orang pertama menemukannya dan langsung mengembalikannya kepada kita. Kita berikan dia ucapan terima kasih.
  2. Orang kedua menemukannya dan memberikan kepada kita sesaat sebelum kitaturun dari kereta.Kita berikan dia ucapan terima kasih yang lebih besar.
  3. Orang ketiga menemukannya dan memberikan kepada kita setelah kita turun dari kereta. Kita berikan dia ucapan terima kasih ditambah dengan sedikit hadiah.
  4. Orang keempat menemukannya, menyimpannya selama beberapa hari, setelah itu baru mengembalikannya kepada kita. Kita berikan dia ucapan terima kasih ditambah hadiah yang lebih besar.

Dari 4 skenario tersebut, salah satu kesimpulan adalah “konsep waktu” dalam pikiran kita. Semakin lama kita kehilangan sesuatu yang berharga, maka rasa kehilangan seolah-olah bertambah besar. Jadi, “rasa kehilangan” yang menjadi dasar kita memberikan reward, bukan pada objektivitas kebaikan si penemu. Rasa kehilangan yang kita alami semakin bertambah di setiap skenario, maka reward yang kita berikan sesuai dengan rasa kehilangan tersebut.

  1. Pada skenario pertama, kita belum berasa kehilangan karena kita belumsadar handphone kita jatuh, dan kita telah mendapatkannya kembali.
  2. Pada skenario kedua, kita juga sudah mulai merasakan kehilangan karena saatitu kita baru sadar, dan kita sudah membayangkan rasa kehilangan yang mungkin akan kita alami seandainya saat itu kita sudah turun dari kereta.
  3. Pada skenario ketiga, kita sempat merasakan kehilangan, namun tidak lama kita mendapatkan kelegaan dan harapan kita akan mendapatkan handphone kita kembali.
  4. Pada skenario keempat, kita sangat merasakan kehilangan itu. Kita mungkin berpikir untuk memberikan sesuatu yang besar kepada orang yang menemukan handphone kita, asalkan handphone itu bisa kembali kepada kita.

************

Dalam kasus ini dan kasus-kasus serupa, subjektivitas perasaan melebihi objektivitas kejadian. Kita lebih terlarut dalam gejolak perasaan daripada realita yang lebih mendalam.  Diantara keempat orang di atas, siapakah yang paling baik? Tentunya orang yang menemukannya dan langsung memberikannya kepada kita (orang para skenario pertama).  Namun ironisnya, dialah yang mendapatkan reward paling sedikit di antara empat orang di atas. Sedangkan, orang yang kurang baik dari 4 skenario tersebut adalah orang pada skenario keempat. Dia telah membuat kita menunggu beberapa hari dan mungkin saja memanfaatkan handphone kita tersebut selama itu. Namun, ternyata dia adalah orang yang akan kita berikan reward paling besar.

Dalam konteks memilih calon presiden, ada satu hal yang sangat penting yakni objektivitas realitas. Kita perlu menelusuri secara mendalam karateristik para capres/cawapres, tidak hanya sekadar personality-nya, namun kepada perilaku-perilaku yang tersembunyi masa lalu hingga masa kini. Adakah perubahan dari sosok tersebut? Masihkah ia sama dengan yang dahulu? Benarkah program-program akan/telah ia jalankan sesuai dengan janji? Untuk menilai itu, kita harus objektif. Untuk objektif, kita butuh data, fakta dan realitas. Jangan memilih hanya karena “perasaan kita” hanya senang dengan sosok ini atau pokoke saya milih dia, tanpa penelusuran yang mendalam “benarkah ia pemimpin yang baik” padahal ada realitas yang belum terungkap dari sosok tersebut?

14 Komentar leave one →
  1. Juni 7, 2009 4:17 AM

    dari skenario HP ke Capres … rada mudeng nich ??
    mohon penjelasan .. ma’lum OON n OOT he he he he

    Salam

    yang penting pertamaxxxxxx …… 😀

  2. Juni 7, 2009 6:06 AM

    Kuncinya adalah waktu kehilangan. Semakin lama kita kehilangan barang berharga, semakin tinggi harga yang berani kita bayar.

    Barangkali kita terlalu merindukan kepemimpinan masa lalu, merasa kehilangan karena pemimpin tersebut mau memberikan ketulusan untuk melayani dan sikap yang lebih pro-rakyat.

    Dibandingkan dengan pemimpin yang baru saja memberikan BLT/PNPM, pengurangan utang atau pemberantasan korupsi.

    Itu hanya barangkali.

  3. Juni 7, 2009 6:13 AM

    i ya yac… kok jadinya… malah begitu..

  4. Juni 8, 2009 12:01 PM

    Bener juga ya kenapa yang paling tidak baik malah dapat banyak hadiah? Mungkin ini kata yang tepat Secara mata telanjang mungkin hadiahnya lebih banyak tetapi secara perhitungan pahala mungkin malah banyak skenario 1 He he he…

  5. defrimardinsyah permalink
    Juni 9, 2009 4:30 AM

    Jadi milih sapa yah….

    • Juni 10, 2009 2:34 AM

      To: kopral cepot
      Terima kasih, sudah saya tambahkan.

      To: omblog
      “mata telanjang”

      To: defrimardinsyah
      Kembali kepada kejelian kita.

  6. KangBoed permalink
    Juni 10, 2009 12:47 PM

    Begitu banyak manusia berjalan seorang diri meninggalkan sahabat sejatinya sang hati nurani.. mereka tidak menyadari saudaranya sudah berhenti berbicara.. terduduk diam tak berdaya.. menangis sedih dan mati..
    Salam Sayang

  7. Juni 11, 2009 3:17 PM

    Keren Om, bener juga ya, ternyata begitu ya jalan kerjanya hati ini selama ini.

    BlackBerry Tips and Development Personality

  8. Juni 12, 2009 9:14 PM

    saya menjumpai hal serupa dgn yang anda tuliskan…
    hampir setiap hari saya bertanya kepada beberapa teman ttg capres yg dia pilih dan alasan dia memilih capres tsb.
    saya mendapat hasil sbb:
    – Beberapa teman saya yang memilih calon nomor 1 dan 3, hampir sebagian besar dari mereka mampu memberikan alasan yang logis. Paling tidak mereka mampu menunjukan 1-2 alasan yang menurut saya rasional.
    -Beberapa teman saya yang memilih calon no2, mereka tidak dapat mengungkapkan alasan yang logis, Kebanyakan alasan mereka adalah karena melihat bentuk fisiknya yang gagah dan kecakapan dalam menyampaikan pidato yang artikulatif. Hampir seluruhnya tidak ada yg mmpu mnyebutkan keberhasilan2 maupun visi misi dari kandidat trsbut. Kalaupun ada yang menyampaikan keberhasilan2 kandidat tersebut, mereka tidak dapat menunujuka data maupun fakta, mereka hanya menyebutkan jawaban subjektiv, Bahkan ketika saya menunjukan data dan fakta ttg keburukan kandidat yg mereka pilih, mereka justru marah dan tidak dapat melakukan pembelaan yg rasional.

    • Juni 13, 2009 4:36 AM

      To: KangBoed
      Salam damai.

      To: Arief
      Yah..umumnya begitu

      To: rifqi
      Terima kasih memberi contoh kasus. Saya pikir, tiap pasangan capres memiliki pendukung fanatik seperti yang mas contohkan, tidak semata SBY-Boediono.

  9. Juni 12, 2009 9:17 PM

    ralat: saya tidak menunujukan keburukan namun menunjukan kenyataan bahwa ttg kandidat yang mereka pilih.

  10. Juni 14, 2009 12:20 AM

    Pemikiran yang bagus. Kita seringkali menyesal kalau sudah benar-benar kehilangan.

    🙂

  11. hamisahtaddo permalink
    Juni 15, 2009 8:03 PM

    ya.. bagus ku posting juga yang ini ya…

  12. achmad.hasan permalink
    Juli 7, 2009 3:19 PM

    mengapa bisa terjadi sesuatu yang bukan miliknya masih merasa kehilangan
    apa ya….. yang kita punya

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: