Skip to content

Lagu “Aku Cinta Rupiah” = Kekayaan Capres/Cawapres?

Mei 31, 2009

Aku cinta Rupiah, biar dollar dimana-mana.
Aku suka rupiah karena kutinggal di Indonesia.
Beli baju pakai rupiah, jajannya juga pakai rupiah,
Mau beli buku sekolah pakai rupiah.
Lihat tabunganku isinya rupiah, karena mamaku kasihnya rupiah.

Cindy Cenora – “Aku Cinta Rupiah”

Sewaktu krismon 1997-1998, lagu “Aku Cinta Rupiah” menjadi bagian dari lagu anak-anak. Aku Cinta Rupiah dinyanyikan oleh Cindy Cenora dengan lirik kurang lebih seperti diatas (maaf, jika liriknya salah). Lagu itu muncul sebagai antisipasi sekaligus himbauan agar masyarakat tetap setia menggunakan dan menyimpan uang rupiah. Tidak sedikit mereka menjual rupiah dan membeli rupiah karena dilandasi ketakutan kekayaannya merosot karena nilai tukar rupiah menurun. Aksi pembelian dollar yang begitu deras diiringin tingkah lakuh para spekulan untuk mencari keuntungan dari transaksi valas.

Di kuartal ke-empat 1997, tepatnya September rupiah sudah terjun bebas dibarengan merosotnya Bursa Efek Jakarta (sebelum Bursa Efek Indonesia). Meskipun krisis rupiah dimulai pada Juli dan Agustus 1997, krisis ini menguat pada November ketika efek dari devaluasi di musim panas muncul di neraca perusahaan. Perusahaan yang meminjam dalam dolar harus menghadapi biaya yang lebih besar yang disebabkan oleh penurunan rupiah, dan ditambah aksi para sepekulan menjual rupiah yang menganjlokan nilai rupiah lebih dalam lagi.

Karena krisis moneter inilah, pada akhirnya hegemoni Orde Baru ditumbangkan oleh para mahasiswa dan aktivitis pejuang hak asasi dan demokrasi pada tanggal 21 Mei 1998. Sebelumnya, kerusuhan 12-14 Mei 1998 telah menewaskan ratusan orang, wanita-wanita yang diperkosa dengan jumlah tidak terkira, gedung dan aset dibakar dan penjarahan terjadi di berbagai sudut kota terutama Jakarta dan Solo.

Rupiah Indonesia

Rupiah Indonesia

**********
Lagu “Aku Cinta Rupiah” ternyata tidak mampu secara signifikan memberi semangat rakyat Indonesia agar tetap cinta rupiah tanpa melakukan aksi-jual beli rupiah yang cenderung merugikan bangsa dan negara. Salah satu bentuk cinta produk dalam negeri tentunya adalah menyimpan semua aset dan kekayaan dalam mata uang Indonesia sendiri, yakni Rupiah. Bukan menyimpan harta dalam bentuk dollar Amerika, Euro Eropa atau Yen Jepang. Kondisi ini berbeda jika dollar digunakan  hanya sebagai transaksi perdagangan komoditas atau kepemilikan saham luar negeri.

Mari kita lihat Laporan Harta Kekayaan Pejabat Negara (LHKPN) para Capres/Cawapres 2009-2014 [kompas].

No

Capres/Cawapres

Nilai Kekayaan

% Kekayaan dalam US$

Miliar Rp Ribu US$

1

Prabowo Subianto

1579 miliar

7500 ribu

4.8%

2

Jusuf Kalla

314 miliar

25.7 ribu

0.1%

2

Megawati Soekarnoputri

256 miliar

0

0.0%

3

Wiranto

81.7miliar

378 ribu

4.6%

5

Boediono

22 miliar

15 ribu

0.7%

6

Susilo Bambang Yudhoyono

6.8 miliar

246 ribu

27.5%

  • Data tersebut saya olah dengan pembulatan nilai kekayaan
  • Kurs yang saya gunakan adalah Rp 10.500 per dolar AS
  • % kekayaan dalam US% menunjukkan rasio perbandingan kekayaan capres/cawapres dalam dollar terhadap total kekayaannya.
  • Dari tabel diatas, maka ada beberapa data yang perlu kita analisis:

    • Urutan kekayaan terbesar dalam bentuk US$ : Prabowo, Wiranto, SBY, Jusuf Kalla, Boediono, Megawati.
    • Rasio kekayaan dalam US$ : SBY, Prabowo, Wiranto, Boediono, Jusuf Kalla, Megawati
    • Prabowo dan Jusuf Kalla merupakan pengusaha (mantan). Prabowo memiliki bisnis di luar negeri sehingga mungkin kekayaanya dalam bentuk dolar. Sedangkan suami Mega dan istri Wiranto juga terjun dalam dunia bisnis. SBY dan Boediono hanya seorang birokrat nan pengusaha. Sehingga timbul pertanyaan mengapa SBY menyimpan 27.5% kekayaaan dalam bentuk dollar US$?
    • Mengapa Megawati tidak menyimpan kekayaannya dalam bentuk rupiah dollar?
    • Mengapa SBY, Wiranto dan Prabowo (sama-sama Jenderal berbintang) memiliki kekayaan yang begitu besar dalam bentuk dollar? Untuk apakah dollar? Apa untuk bisnis luar negeri, lebih bangga (cinta/love) memiliki kekaayaan dalam bentuk dollar atau jangan-jangan untuk spekulasi.

    Semestinya seorang pemimpin memberi contoh sikap nasionalisme kepada rakyatnya dalam berbagai aspek. Dari penggunaan produk dalam negeri (Aku Cinta Produk Indoneia), menggunakan tenaga/perusahaan dalam negeri untuk mengelola pertambangan, perminyakan, industri strategis, hingga “Aku Cinta Rupiah”… Dari fakta dan perbuatan, kita tahu apakah kampanye capres/cawapres hanya “jargon semata” bahwa ia seorang nasionalis atau pencinta asing(Amerika)… Silahkan mencari data dan fakta yang lebih detil, dan jangan tertipu iklan dan jargon titik

    Salam Perubahan,
    ech-nusantaraku, 31 Mei 2009

    Mari Dukung Penggunaan Produk Dalam Negeri dan Cinta Rupiah

    46 Komentar leave one →
    1. Robby permalink
      Juni 2, 2009 3:58 PM

      Wah yang punya blog habibie banget, anggota ICMI ya? kalau anda ngerti ekonomi mestinya paham apa yang dimaksud “rupiah yang rendah tidak baik untuk ekspor indonesia saat itu” disesuaikan dengan konteks neraca perdagangan saat itu, bukan saat rupiah 2000 atau malah masih 400. situasinya sudah berubah bung, anda tidak ngerti apa pura-pura tidak ngerti?

      Ekonomi yang kuat memang harus ditopang ekspor yang kuat, tidak pedului barang, jasa atau sumber daya alam, contohnya ekonomi jepang kuat karena menguasai ekspor, otomotif dan elektronik, negara arab ekonomi kuat karena ekspor minyak, indonesia ekonominya terbantu karena ekspor TKI… emmpphhh… sorry, tapi emang para TKI & TKW cukup banyak mengirim devisa ke tanah air.

      Lihat tuh amerika selalu marah-marah dan mengancam jepang dan china untuk mengenakan pajak tambahan terhadap produk ekspor mereka apabila nilai yuan dan yen dipatok terlalu rendah, jadi memang tidak selau nilai mata uang yang tinggi itu menguntungkan negara tersebut, beberapa negara malah dengan sengaja menurunkan nilai mata uang mereka sendiri untuk mendapatkan keunggulan komparatif, tergantung neraca perdagangan mereka saat itu, gak mungkin diterangkan disini karena bisa jadi bahan kuliah 2 semester.

      • Juni 3, 2009 1:36 AM

        Saya kayaknya cukup beruntung 🙂 😀
        Dalam beberapa artikel, saya disangka bahkan dipaksa mengaku bahwa saya pendukung/kader PDIP, lalu pendukung etnis tertentu, pendukung/kader PAN, pendukung/kader Demokrat, pendukung/kader PKS, pendukung Amien, pendukung Mega, pendukung SBY, pendukung JK, dan terakhir (?) pendukung ICMI.
        Terima kasih atas koreksinya. Saya hanya sedikit mengerti tentang rupiah-ekspor-impor. Jika sektor utama adalah ekspor, maka tentu diharapkan dollar yang mahal terhadap rupiah, dan harus clear bahwa konsumsi dan ketergantungan asing haruslah kecil. Yang menjadi pertanyaan, apakah benar satu-satunya alasan bahwa “rupiah yang rendah tidak baik untuk ekspor indonesia saat itu”? Jawaban komentar saya diatas, ingin mengajukan sebuah pertanyaan yang dalam beberapa aspek sudah menjadi rahasia umum bahwa terjadi transaksi uang dengan uang. Tidak sedikit kebijakan intervensi, untuk keuntungan bisnis golongan tertentu. Anda mungkin jauh lebih tahu seberapa parahnya para spekulan dalam transaksi uang vs uang. Disamping faktor neraca perdagangan exim yang positif/negatif.
        Menjadi pertanyaan kedua, apakah equlibirium rupiah pada saat itu memang setinggi itu? Rupiah yang lemah akan menguntungkan sebagian pihak, tapi perlu dicatat juga akan merugikan pihak lain.
        ******
        Justru yang saya inginkan adalah kurs rupiah dipatok tetap, bukan berpatokan pada dollar, sehingga tidak terjadi transaksi membeli uang dengan uang. Sesuatu yang awalnya dibuat hanya untuk sebagai alat bantu, kok dijadikan komoditas perdagangan?
        Terima kasih atas koreksinya.

    2. charly permalink
      Juni 2, 2009 4:55 PM

      Buat saya yang mengagetkan bukan jumlah kekayaan prabowo, tapi kenapa prabowo berterus terang mempunyai uang sebanyak itu, sebelum muncul pemeriksaan kekayaan capres/cawapres, saya memperkirakan yang paling kaya adalah yusuf kalla, karena dia sudah lama terjun jadi pengusaha dan lebih terkenal sebagai pengusaha, baru kemudian diikuti prabowo.

      Yang aneh juga adalah kekayaan SBY yang jumlahnya paling sedikt, maaf ya ini bukan soal korupsi atau tidak, tapi SBY itu kan presiden, kemana-mana boleh pakai fasilitas negara (sama seperti JK dan Boediono) baik trasportasi atau penginapan, yang berarti tidak perlu keluar duit lagi, lho kok bisa kekayaannya jauh lebih kecil (sepersepuluh) dari wiranto yang bukan apa-apa, cuma mantan menko polkam sama seperti SBY. Boediono yang cuma menteri aja juga lebih kaya dari SBY kok.

      Yang aneh juga adalah kenapa dollar yang dimiliki JK lebih sedikit dari SBY, dan Wiranto, padahal JK seorang pengusaha, sama seperti prabowo, ini juga tidak ada hubungannya dengan nasionalisme, tapi apa iya megawati tidak punya dollar cepek sekalipun?

      Jadi ingat waktu Agum Gumelar diwawancarai TV ONE
      + “Waktu jadi cagub jawa barat, bapak calon yang terkaya ya pak?”
      – “Saya tidak tahu itu, tapi mungkin saya calon yang paling jujur, apa mungkin ada calon gubernur kekayaanya cuma ratusan juta saja?”

      Masuk akal juga pernyataan Agum ini, kalau ada calon gubernur kekayaannya cuma ratusan jut, dari mana biaya buat kampanye, karena buat kampanye caleg saja Tantowi Yahya mengaku menghabiskan 1 milyar

    3. Robby permalink
      Juni 3, 2009 7:34 AM

      Kalau persepsi orang tentang anda berubah-ubah mungkin karena pernyataan anda juga berubah-ubah… hehehe…just kidding, nyantai aja kawan,

      di tulisan awal kan anda bilang ada pejabat yang bilang rupiah yang terlalu kuat tidak baik untuk ekspor saat itu, menurut saya iya

      tapi dibagian akhir tulisan (dan anda ulangi lagi ditulisan yang kedua) dibalik jadi apakah benar satu-satunya alasan bahwa “rupiah yang rendah tidak baik untuk ekspor indonesia saat itu”

      coba anda periksa tulisan anda diatas, perhatikan kata KUAT dan RENDAH yang kontradiktif antara pernyataan pejabat dan pertanyaan anda, ini tulisan anda sendiri lho, saya cuma copy-paste dan tidak mengada-ada, coba tenangkan emosi anda dan periksa sekali lagi

      Yang baik memang nilai tukarnya stabil, karena antara penanda tanganan persetujuan pembelian dan pengiriman barang akan selalu terdapat jeda waktu yang panjang, kalau nilai rupiah berubah dari hari ke hari ya refot, tapi karena kita menganut sistem mengambang ya begitulah konsekuensinya, karena kalau diubah jadi sistem tetap (fixed) pun tidak mudah dan ada konsekuensinya juga, itu yang ingin dilakukan pak harto diakhir pemerintahannya dengan CBS tapi banyak ekonom yang tidak setuju

      • Juni 3, 2009 10:57 AM

        Maaf, Mas Robby, saya sudah berusaha menarik nafas panjang dan membaca dua kali tulisan saya, saya tidak menemukan ada kata kuat dalam tulisan saya. Lalu, saya penasaran dan searh keyword “kuat” dan saya tidak menemukan kata “kuat” baik dalam komentar maupun tulisan. kuat?
        Saya jadi binggung, apakah tulisan yang saya ditulis didisplay para pembaca menjadi berubah? Maaf, saya menjawab pertanyaan keluar dari konteks tulisan diatas. 🙂

    4. Juni 3, 2009 3:54 PM

      Jadi siapa donk yang neolib, anehnya yg kayak gini gak pernah dibahas di TV 🙂

    5. robby permalink
      Juni 3, 2009 6:43 PM

      Ah mosok tidak ada, ya tulisan anda emang berubah kali ditempat saya hehehe…tulisan itu memang bukan kata dasar KUAT, tapi menguat yang pada dasarnya sama saja, mosok kita mesti debat kusir masalah awalan me dan meng sih, diskusi kita kan substansinya soal kuat-lemahnya rupiah bukan pelajaran bahasa indonesia tentang awalan me didepan kata kerja dengan awalan huruf k:) saya copy-paste ya, nih:

      “Ada beberapa indikasi terkesan bahwa ada orang dalam kabinet tempo dulu yang “mungkin” tidak senang jika Rp menguat”.

      satu lagi nih:
      Di masa kinerja Presiden Habibie, Rp menguat luar biasa

      satu lagi biar jelas:
      Akibatnya penguatan terhenti

      satu lagi:
      di masa Megawati, rupiah menguat kembali

      Sekarang tarik nafas lebih panjang lagi, kalau perlu disambung-sambung:) dan perhatikan kalimat ini: (Tanda kutip tambahan dari saya)

      Jika pada umumnya suatu negara akan bangga dengan “penguatan” mata uangnya, maka statement bahwa rupiah yang “rendah” tidak baik untuk industri ekspor adalah hal yang agak ganjil (ini yang saya maksud kontradiktif)

      Tulisan anda seharusnya:
      Jika pada umumnya suatu negara akan bangga dengan “penguatan” mata uangnya, maka statement bahwa rupiah yang “kuat” tidak baik untuk industri ekspor adalah hal yang agak ganjil. Ini baru kalimat yang benar secara tata bahasa, Tapi menurut saya tidak ganjil kalau rupiah yang kuat tidak baik untuk industri ekspor saat itu, gethuuuu, sudah jelas tho?

      • Juni 3, 2009 7:31 PM

        Oke, saya akan menjawab topik tulisan.
        1) Komentar Anda yang diatas : “di tulisan awal kan anda bilang ada pejabat yang bilang rupiah yang terlalu kuat tidak baik untuk ekspor saat itu, menurut saya iya”, justru yang saya tulis ada pejabat yang bilang rupiah yang rendah tidak baik untuk ekspor saat itu
        2) Komentar bagian ini:
        Mengapa saya bertanya kata “kuat”, karena anda mengatakan copy-paste, bukan copy-paste edit pada bagian atas. Oke lah, tidak usah berdiskusi kusir (maaf, tidak mau berdebat). Dan setelah saya baca komentar Anda, rupanya masalah terbesar adalah kata “rendah”.
        Jika pada umumnya suatu negara akan bangga dengan penguatan mata uangnya, maka statement bahwa “rupiah yang rendah” tidak baik untuk industri ekspor adalah hal yang agak ganjil. Mungkin persepsi bahasa yang saya gunakan berbeda dengan Saudara Roby dan sangat mungkin bahasa yang saya gunakan tidak tepat sehingga menimbulkan ambiguisitas, dimana “rupiah yang rendah” berarti “nilai rupiah melemah” yang merupakan lawan dari “rupiah yang menguat”.
        Saya tidak tahu mana yang benar sesuai kaidah bahasa Indonesia, sekali lagi maksud saya dalam frasa ini:
        – Rupiah yang rendah = nilai rupiah yang melemah.
        – Rupiah yang tinggi = nilai rupiah yang menguat.
        ***
        Keganjilan muncul dari permasalahan menyeluruh yakni “makna kurs itu sendiri” bagi bangsa secara umum, bukan rupiah secara parsial yakni ekspor semata (padahal ada impor + pembayaran utang LN).
        Trims.

    6. robby permalink
      Juni 3, 2009 9:01 PM

      wah gimana sih ini, sekarang saya betul-betul bingung dengan tulisan anda, very-very-very confusing

      kita pakai definisi anda:
      – Rupiah yang rendah = nilai rupiah yang melemah. misal $1 = Rp 7.000
      – Rupiah yang tinggi = nilai rupiah yang menguat. misal $! = Rp 6.700

      jawaban anda
      1) justru yang saya tulis ada pejabat yang bilang rupiah yang RENDAH tidak baik untuk ekspor saat itu
      terjemahan:
      *justru yang saya tulis ada pejabat yang bilang $1 = Rp 7.000 TIDAK baik untuk ekspor saat itu

      padahal aslinya begini:
      Di masa kinerja Presiden Habibie, Rp menguat luar biasa menjadi Rp 6700
      Tapi, tiba-tiba eks. Ketua Bappenas Ginandjar Kartasasmita berteriak “nilai ideal buat rupiah adalah Rp 7000 /USD,

      berarti ginanjar menganggap nilai rupiah 6700 terlalu KUAT dan perlu direndahkan jadi 7000, karena RP yang KUAT tidak baik untuk ekspor saat itu, yang sampeyan maksud pejabat itu habibie atau ginanjar??????????????

      di masa Megawati, rupiah menguat kembali, Namun ketika rupiah menyentuh 8425 per dollar, Deputi Gubernur BI Miranda S Goelthom berteriak juga “nilai yang bagus buat rupiah agar perusahaan bisa ekspor adalah Rp 8500-8900 per dollar

      Berarti Miranda berpendapat 8425 terlalu KUAT dan tidak baik untuk ekspor sehingga perlu direndahkan jadi 8500-9000, yang anda maksud pejabat megawati atau miranda????, tolong teman-teman ikut menengahi yang bingung saya atau yang punya blog

      2) No comment, sebetulnya anda ini mau dikusi nilai rupiah atau diskusi kusir? mau cari kebenaran atau cari kemenangan dalam berdebat? , terus terang saja kalau debatnya sudah lebih kusir dari kusirnya ruhut-permadi-fuad kayak gini saya malu kalau dibaca teman-teman yang lain, ini merupakan komentar saya yang terakhir, saya sudah tidak tertarik sama sekali dengan blog anda.

      Salam

      • Juni 3, 2009 9:47 PM

        Baik, saya sudah coba search di google, dan ada kasus lain dimana ekspetasi eksportir vs importir. Dalam kasus Ginandjar dan Miranda, ia beralasan untuk “menyelamatkan” eksportir.
        http://els.bappenas.go.id/upload/other/Apresiasi%20Rupiah%20tidak.htm
        http://www2.kompas.com/kompas-cetak/0705/23/ekonomi/3551835.htm
        Harapan cari benar.
        Kalau begitu, terima kasih atas sharing-sharingnya selama ini. Terima kasih.

      • Juni 4, 2009 2:04 AM

        Salah komunikasi nih. Wajar lah.

      • Benny A permalink
        Juni 4, 2009 2:49 AM

        Ikut nimbrung. Buat kalian berdua, cara diskusinya cukup emosional yang terlihat dari pilihan kata-kata yang digunakan, meskipun sama-sama mencari hal terbenar menurut versi masing-masing.

        Sdr Robby# Cara saudara menanggapi tulisan ini cukup emosional. Agak kurang tepat jika dengan hanya satu tulisan ini, lalu berprasangka bahwa si penulis adalah orang ICMI. Meskipun dari gaya tulisan saudara, saya berkesimpulan bahwa saudara telah membaca beberapa artikel di blog ini yang mana saudara tidak sependapat. Dan ini menjadi tempat melampiaskan ketidaksetujuan. Pernyataan bahwa ” anda tidak ngerti apa pura-pura tidak ngerti?” dan “gak mungkin diterangkan disini karena bisa jadi bahan kuliah 2 semester.” memberi kesan bahwa saudara langsung benar dan si penulis blog langsung salah. Bagi banyak orang, metode ini tidak tepat. Dan memang dari sejak awal, saudara memiliki pemahaman kata yang berbeda.

        Sdr Nus # Kalimat jawaban pembuka Saudara memancing emosional, karena hanya untuk mengungkapkan bahwa saudara bukan pendukung ICMI, saudara menggunakan kalimat yang cukup basa-basi. Ini dapat membuat orang kesal. Dan beberapa tulisan saudara dapat membingungkan pembaca, karena cara saudara berpikir tentu tidak sama dengan orang lain. Sehingga penggunaan kata dalam beberapa aspek harus diperhatikan. Dari tanggapan saudara, terkesan defensif habis-habisan atau tidak mau kalah. Meskipun pada hakikatnya isi tulisan saudara tidak kontradiktif, namun cara saudara menjawab menimbulkan antipati. Saudara terlalu frontal dalam menjawab. Dan alangkah baiknya, jika Sdr Nus berfungsi sebagai moderator. Dan kedepan, saya sarankan saudara mempelajari cara komunikasi yang lebih “damai” dari buku Dale Carnegie. Jika tidak, maka citra saudara akan menjadi buruk seolah-olah saudara anti kritik dan masukan. Akibatnya, lawan diskusi saudara antipati dan mengatakan “saya sudah tidak tertarik sama sekali dengan blog anda.”

        Semoga kita semua dapat belajar menyampaikan opini yang lebih tepat. Dan maju terus tulisan-tulisan yang cukup kritis.

    7. Hendrik permalink
      Juni 4, 2009 1:52 AM

      Wajar SBY punya dolar yang banyak, karena bagi SBY Amerika adalah negara keduanya.
      Dalam suatu kesempatan mengunjungi Amerika di tahun 2003, sebagai Menko Polkam, SBY berkata, ‘’I love the United State, with all its faults. I consider it my second country’’. Terjemahan bebas penulis: “Saya cinta Amerika, dengan segala kesalahannya. Saya menganggapnya negeri kedua saya.

    8. budi anduk permalink
      Juni 4, 2009 8:58 AM

      @Benny A
      Halah gimana sih bro bukan meredakan ketegangan malah sok menggurui mereka berdua. tulisan anda lebih emosional dan memancing emosi, garing banget, udah deh gak usah dikomentarin yang satu udah diem satunya lagi udah pergi juga, tulisan ente kagak kebaca

    9. Juni 4, 2009 1:30 PM

      Mas…
      semoga ini bukan kampanye terselubung capres tertentu ya?

      Biasnya mas selalu netral, kelihatan dari gaya bahasa dan penuturannya, tapi postingan yang ini kenapa saya merasa ada keberpihakan walaupun sangat haluuuus sekali

      • Fajar basuki permalink
        Juni 4, 2009 2:28 PM

        yang halus itu justru sudah lama saya rasakan sejak awal yang netral justru komentatornya

      • Juni 6, 2009 3:53 AM

        To: Eka S
        Data kekayaan dalam bentuk dollar ini saya ambil tertinggi yakni nominal dan persentase [Prabowo dan SBY]. Dalam hal Jenderal, dolar ketiga-tiga capres-cawapres saya pertanyakan [Prabowo, SBY, Wiranto]. Pileg kemarin saya golput, dan pilpres ini mungkin golput kembali. Kampanye?

        To: Fajar basuki
        Pengamat yang baik. 🙂

    10. Kang Slamet permalink
      Juni 4, 2009 2:28 PM

      Suatu hari saya bertemu dengan seorang tokoh intelijen tua. Raut muka sudah keriput tapi berbicara lantang. Dengan urut orang tersebut menceritakan peristiwa-peristiwa yang terjadi di Indonesia.

      Kasus KUDATULI penyerbuan kantor DPP PDIP pada 27 Juli 1996 – Penyerbuan yang memakan banyak korban. Orang-orang yang bertahan di kantor tersebut ditembak dan untuk menghilangkan noda-noda darah dilakukan penyemprotan di seluruh ruangan kantor tersebut. Siapa yang dapat mengkoordinir kasus tersebut ? Seseorang yang mungkin merancang dan membuat kasus itu sukses hanyalah seorang yang ahli intelijen dan mengetahui detail permasalahan. Hanya ada satu yaitu Kepala Staf Panglima Kodam Jaya.

      Kasus Kerusuhan 13-15 Mei 1998.
      Kerusuhan yang membuat semua mata terhentak, mengapa Indonesia menjadi Negara yang biadab. Tentara tak mampu mengatasi. Ketika saya bertanya siapa yang mampu melakukan itu, dijawab oleh pak tua. Hanya satu orang yang dapat mengendalikan yaitu lagi-lagi yang mengetahui detail dunia intelijen, dan mengetahui detail lokasi-lokasi di Jakarta. Bapak itu menunjuk kepada satu orang yaitu Kepala KASUM ABRI.

      Terlepasnya Timor Timur.
      Sebagaimana kita ketahui bahwa Indonesia mempunyai diplomat ulung yaitu Ali Alatas. Selama Ali Alatas sehat beliau yang melobi kepada PBB agar jangan dilakukan Pemilihan Umum di Timor Timur. Sayang sekali Ali Alatas terkena sakit. Diutuslah seseorang untuk menjadi negosiator handal. Yang katanya dekat sekali dengan SekJen PBB Koffi Annan. Tapi apa hasilnya ? Diplomasi gagal total dan PBB memerintahkan dilakukan Pemilihan Umum di Timor Timur.
      Saya bertanya apa motifnya ? Pak tua itu menyebutkan itu hanya untuk memperburuk citra Wiranto, karena Wiranto adalah satu-satunya orang yang menghalangi ambisi dan orang itu. Harus dibuat jelek itu citra Wiranto di masyarakat.

      Bola Panas penjualan Gas dan Asset-asset perminyakan
      Pak Tua itu menjelaskan kontrak-kontrak penjualan kepada Negara-negara Asing telah dirintis jauh-jauh hari. Yang fungsinya adalah untuk menjatuhkan presiden saat itu maupun yang saat datang. Sebagai Menteri Pertambangan dan Energi dengan mudah dia dapat melakukan kontrak-kontrak.

      Terlepasnya Pulau Ligitan dan Sipadan.
      Persoalan Ligitan dan Sipadan diserahkan kepada Mahkamah Internasional pada tahun 1997. Jauh-jauh hari sudah akan diketahui bahwa Indonesia akan kalah karena pertimbangan kemenangan adalah pertimbangan effectivitee, yaitu pemerintah Inggris (penjajah Malaysia) telah melakukan tindakan administratif secara nyata berupa penerbitan ordonansi perlindungan satwa burung, pungutan pajak terhadap pengumpulan telur penyu sejak tahun 1930, dan operasi mercu suar sejak 1960-an.
      Bola panas harus dilemparkan kepada Presiden yang berkuasa.
      Ada Habibie, Gus Dur dan Megawati.
      Mengapa Megawati yang kena bola panas ? karena untuk menjatuhkan Megawati harus dipakai issue menjual Negara. Harus dijatuhkan melalui berita-berita yang kurang nasionalis. Bapak Tua itu menunjuk, hanya ada satu orang yang dapat menghubungi Mahkamah Internasional yaitu Menko Polkam dan Menlu.

      Saya Bertanya wah, sungguh mengerikan sekali yang terjadi di Indonesia. Lalu siapakah tokoh-tokoh yang Bapak sebutkan tadi. Bapak itu menjawab. Tokoh itu nggak banyak tapi hanya SATU ORANG saja. Yaitu orang yang sangat berambisi, sangat maruk kepada kekuasaan, segala sesuatu dilakukan untuk mencapai TUJUAN-nya.

      Pak… Pak.. Siapa sih tokoh itu ?

      Pak Tua itu tiba-tiba lenyap. Saya terhentak dan tersadar. Mimpikah ini ?

      • Fajar basuki permalink
        Juni 4, 2009 2:45 PM

        anda memang mimpi kang, cerita pak tua gak logis atau mungkin pak tua sudah pikun, provokasinya terlalu vulgar, semua orang udah tau tokoh yang ingin anda bidik

      • Juni 4, 2009 2:57 PM

        Hmm… saya suka postingan tentang Pak Tua.

    11. Juni 5, 2009 6:31 AM

      ow….

      prabowo = memperkaya diri

      • firman permalink
        Juni 9, 2009 7:04 PM

        wajar lahh prabowo kaya .. lah toh dia mah dah kayak duluan dari warisan bapak nya Prof. Dr. Soemitro …

    12. Juni 9, 2009 4:47 PM

      saya merasa ganjil dengan SBY karena ditengah hartanya yang terkecil yakni (9 miliar termasuk dolar sebesar 250 ribu ) kenapa SBY menyimpan uang dalam bentuk dolar sebanyak itu ? aset kan pasti paling banyak terdiri atas harta seperti mobil, rumah, tanah, dan surat berharga. Kenapa menyimpan kas dalam bentuk dolar sebanyak itu ? dia bukan pengusaha dan setahu saya tidak ada anak yang sekolah di luar negeri..pas krisis yang ditandai dengan ditutupnya bursa rupiah melemah seiring dengan keluarnya hot money dari indonesia dan BI berdarah-darah mengintervensi rupiah dan masyarakat malah banyak yang panik memborong dolar membuat rupiah semakin terpuruk sampai seorang pengamat mengatakan ” kepada masyarakat masa kita mau membiarkan BI sendirian berjuang, bagi anda yang menyimpan uang dalam bentuk dolar, mungkin sekarang saat anda melepasnya , untuk membela mata uang kita ..” saya langsung bilang ke ayah saya yang menyimpan dolar untuk tabungan naik haji agar melepas sebagian, nah SBY..kenapa menyimpan kas dalam dolar senilai $ 250 ribu..saya gak mitnah lo, ini fakta..

    13. engeldvh permalink
      Juni 10, 2009 7:57 AM

      Wah, truthly saya tidak merasa kalo blog ini melakukan black campaign secara halus…… biasa aja sih, cuma mengungkapkan fakta berbasisi investigasi. Bagus bos….terusin aja 🙂
      Oiya, gw senag baca komentar pak tua….manteb!!
      http://engeldvh.wordpress.com

    14. cinta damai permalink
      Juni 11, 2009 12:06 PM

      buat minggat ke us kalo ada apa-apa…siapa tahu kan?

    Tinggalkan Balasan

    Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

    Logo WordPress.com

    You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

    Gambar Twitter

    You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

    Foto Facebook

    You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

    Foto Google+

    You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

    Connecting to %s

    %d blogger menyukai ini: