Skip to content

3 Keanehan Kecelakaan Hercules C-130: Bawa Penumpang Berlibur

Mei 21, 2009

Dalam satu semester tahun 2008 ini, telah terjadi 3 kali kecelakaan pesawat milik TNI AU. Baru sebulan yang lalu, tepatnya 6 April 2009 pesawat Fokker 27 TNI AU jatuh di Bandara Husein S Bandung dan menewaskan 24 orang . Lalu pada 11 Mei 2009, Pesawat Hercules 130 B TNI AU kembali mengalami kecelakaan di landasan pacu Bandar Udara Wamena, ibu kota Kabupaten Jayawijaya, Papua. Dan hari ini tanggal 20 Mei 2009, bertepatan dengan 101 Tahun Kebangkitan Nasional, Pesawat Hercules C-130 TNI AU jatuh di daerah persawahan Magetan. Sedikitnya 102 orang meninggal akibat kecelaakaan tersebut.

Pesawat Hercules milik TNI Angkatan Udara. (Foto Kompas)

*********

Saya mengucapkan bela sungkawa kepada korban dan para keluarga korban kecelakaan pesawat tersebut. Tentunya saya tidak akan berhenti hanya ucapan belas sungkawa semata.  Dan selanjutnya, saya akan mengulas sisa yang janggal atau aneh. Ada beberapa catatan yang menjadi pertanyaan-pertanyaan pikiran saya atas jatuhnya serangkaian pesawat dalam dua bulan terakhir. Setidaknya ada 3 keanehan atau kejanggalan:

  • Anak-anak dan warga sipil ikut dalam penerbangan Hercules TNI AU.
  • Tidak adanya penanganan serius pasca kecelakaan Fokker 27 TNI AU di Bandung, sehingga dalam waktu kurang dari 2 bulan sudah terjadi 3 kali kecelakaan.
  • Kontra-opini antar pejabat negara atas penyebab-penyeban kecelakaan pesawat militer TNI AU

Pesawat Sipil atau Militer?

Hercules C-130 merupakan pesawat TNI yang penggunaanya sangatlah jelas.  Hercules  dengan segala kelebihannya memang digunakan dalam berbagai keperluan untuk kepentingan negara. Hercules C-130 digunakan sebagai pesawat angkut pasukan,  pesawat perang untuk melancarkan serang udara,  evakuasi medis dalam pencarian dan penyelamatan (SAR), pengangkut barang, penelitian, pendeteksi cuaca, pengisian bahan bakar di udara, pemadam kebakaran dan patroli maritim.  Dari fungsi dan tujuannya, sangatlah jelas bahwa pesawat Hercules TNI harus digunakan untuk kepentingan militer, sosial, penelitian dan bencana alam. Yang menjadi perhatian utama saya adalah mengapa dalam kecelekaan ini pesawat Hercules TNI membawa penumpang anak-anak dan warga sipil. Hercules C-130 TNI AU bukanlah pesawat penumpang. Padahal misi perjalanan Hercules Jakarta-Madiun bukan dalam rangka evakuasi anak-anak akibat bencana alam atau sejenisnya. Apakah TNI AU memang kekurangan dana sehingga membawa penumpang? Bukankah ada pesawat komersial? Mengapa selain keluarga anggota  TNI ada pula warga sipil biasa yang ikut dalam penerbangan ini?

Semestinya sebuah pesawat militer hanya digunakan untuk kepentingan nasional dan militer justru digunakan juga untuk membawa penumpang untuk sekadar berkunjung dan berlibur. Bagaimana seorang warga sipil yang tidak  memiliki hubungan keluarga dengan seorang prajurit TNI  mendapat akses menggunakan fasilitas militer meskipun membayar sekian persen?

Di saat sedang mempersiapkan diri untuk kerja, Letkol TNI AU Asep Gunawan dikejutkan dengam berita jatuhnya Hercules, yang di dalamnya ada Nuryani isteri tercintanya. Rencana liburan ternyata berujung maut.

Demikian dikisahkan Muslim Mardoyo (48), saudara tertua Nunung, panggilan akrab Nuryani saat dijumpai di rumah duka, Kompleks Perumahan TNI AU Lanud Halim Perdana Kusuma Jl. Beranjangan IV/3 Jakarta Timur, Rabu (20/5).

Nunung adalah anak kelima dari sembilan  bersaudara. Asep sendiri berada di Lanud Iswahyudi. Rencananya, Nunung bersama lima temannya hendak ke Makasar. “Mereka mau ke Makasar, mengunjungi salah satu keluarga temannya yang tergabung dalam club senam jantung,” kata Muslim. [kompas]

Yang menjadi pertanyaan, apakah boleh fasiliter militer negara digunakan oleh anggota keluarga seorang militer dan non anggota keluarga militer? Bukankah yang memiliki tugas militer hanya prajurit, bukan anak-anak, bukan pula isterinya? Inilah  kejanggalan yang saya pikir terjadi ketimpangan dalam menggunakan fasilitas negara dan  khususnya dalam penggunaan fasilitas militer. Jika fasilitas militer yang vital telah digunakan secara komersial, maka kedaulatan dan kekuatan militer sangatlah rapuh. Sudah semestinya ada anggaran khusus untuk kesejahteraan anggota dalam bentuk lain. Apakah KSAU tidak tahu? Apakah Menhan tidak tahu? Apakah Presiden juga tidak tahu?

Sudahkah Memberi Perhatian Khusus Pasca Kecelakaan Fokker di Bandung?

Kedua, hanya dalam waktu kurang dari 2 bulan, sudah terjadi kecelakaan pesawat milik TNI AU dan ketiga-tiganya menyebabkan jatuh korban, 2 kecelakaanya menyebabkan total korban meninggal 126 0rang (24 orang di Bandung dan 102 orang di  Magetan) dan kecelaakaan di Papua menyebabkan 2 orang luka parah.  Dan yang sangat menyedihkan adalah para korban umumnya adalah prajurit TNI yang handal. Mengapa rentetan tragedi ini terjadi dalam waktu yang relatif singkat? Apakah tidak ada evaluasi yang intensif dan serius pasca jatuhnya pesawat TNI Fokker 27 di Bandung?

Kita tahu bahwa pasca kecelakaan pesawat Fokker 27 di Bandung, hampir tidak ada media yang intens meliput dan pemerintah serta TNI terkesan menenggelamkan kasus ini. Hal ini terjadi karena kecelakaan pesawat TNI terjadi 3 hari sebelum Pemilu Legislatif 9 Aril 2009 sehingga “mata publik” lebih tertuju pada Pileg. Begitu juga pemerintah dan parpol asyiik berpolemik atas Pemilu terburuk sepanjang sejarah reformasi. Dan akibatnya kasus kecelakaan TNI AU di Bandung seolah tidak dijadikan sebagai pelajaran berarti untuk evaluasi dan pencegahan, terutama pejabat berwenang. Apakah karena even “pesta demokrasi”, lalu hal krusial seperti ini dilupakan? Pasca kecelakaan Fokker 27 di Bandung, aparat dan pemerintah  seyogianya menangani kasus ini dengan serius sehingga dampak kejadian ini dapat diminimalisir.

Pemerintah tidak Kompak atau Melepas Tanggung Jawab?

Ketiga, terjadi kontradiksi opini antara Presiden SBY, Wakil Presiden JK, Dephan Juwono Sudarsono, dan Marsekal TNI Purn Chappy Hakim. Berikut kontradiksi yang janggal:

Marsekal TNI Purn Chappy Hakim mengatakan bahwa pengetatan anggaran militer merupakan salah satu sebab kecelakaan Hercules seperti dalam tulisannya di Kompas.com:

Apabila ditelusuri lebih jauh maka akan mudah terlihat bahwa peluang terjadinya kecelakaan pesawat terbang di TNI itu cukup besar. Anggaran maintenance yang rendah telah mengakibatkan kesiapan pesawat yang sedikit. Sedikitnya kesiapan pesawat dihadapkan dengan kebutuhan yang besar mengakibatkan training para penerbangnya tidak memadai. Dengan kualitas penerbang yang “pas-pas”an maka mudah sekali untuk ditebak bahwa peluang kecelakaan akan menjadi terbuka.”

SBY dan Menterinya Juwono Sudarsono mengatakan tidak ada pengurangan biaya maintenance Alutsista. Anggaran bukan menjadi penyebab langsung. Dalam pernyataan ini, maka faktor teknis dan alamlah yang biasanya dipersalahkan. Sebagian publik menangkap sinyal bahwa ini merupakan pernyataan yang berusaha melepas tanggungjawab.

Soal anggaran pertahanan terkait dengan efisiensi dan optimalisasi itu yang dipangkas. Bukan biaya operasional ataupun pemeliharaan pesawat. Tapi yang dipangkas adalah pembelian alutsista. Sedangkan untuk biaya rutin seperti pemeliharaan dan sebagainya itu tidak dikurangi“. [yahoonews]

JK secara terang-terangan mengatakan bahwa salah penyebab kecelakaan pesawat TNI yang beruntun adalah kecilnya pemerintah menganggarkan untuk alutsista seperti dikutip di Kompas.

Jatuhnya pesawat angkut jenis Hercules C-130 TNI AU akibat tidak adanya anggaran yang cukup untuk pembelian alat utama sistem senjata (alutsista) di Indonesia.
Ini akibat tidak diberi porsi yang cukup untuk alutsista kita
Ini (anggaran alutsista) harus segera. Saya jamin itu,” kata Wapres  JK.

Mana yang pernyataan yang benar, mana yang salah dari empat sumber diatas, kita tidak tahu secara pasti. Yang pasti adalah usia pesawat C-130 sudah 29 tahun. Usia yang relatif tua bagi ‘burung besi” untuk menjalankan misi-misi berat dalam mempertahankan negara serta kegiatan penting lainnya bagi bangsa dan negara.  Anggaran 3 triliun yang diterima oleh TNI AU tentu bukan angka yang besar untuk melindungi sekitar 5 juta km persegi teritori kepulauan Indonesia. Dan sangatlah mungkin bahwa membawa penumpang secara komersial merupakan usaha yang dilakukan TNI AU demi menutupi anggaran yang sangat minim. Dan harusnya pemerintah bisa secara jujur dan fair mengatakan itu, dan tidak usah berpolemik apalagi mempertahankan citra semata.

Hercules C-130 Jatuh di Area Persawahan, Magetan pada 20 Mei 2009 (Foto Kompas.com)
**********

Itulah tiga pertanyaan dan kejanggalan saya. Dan paling misterius adalah “mengapa anak-anak dan warga sipil ikut dalam penerbangan militer ini? Mengapa pesawat militer diizinkan membawa penumpang yang memiliki tujuan berlibur atau tidak urgen? Mengapa pula pesawat militer digunakan secara komersial?

Dan sebenarnya, kejanggalan pertama cukup sering saya temui di masyarakat kita sendiri. Salah satu fenomena umum adalah penggunaan kendaraan dinas. Banyak pegawai negeri yang diberi fasilitas kendaraan dinas tetapi digunakan untuk kegiatan non-negara seperti berlibur ke Puncak ataupun ke kebun binatang. Padahal, kendaraan tersebut hanya diperuntukkan untuk keperluan mempermudah pekerjaan negara. Dan tidak sedikit sebuah kendaraan dinas digunakan oleh anaknya untuk keperluan berkeliling bahkan membaca pacar.

Sebagian lagi kendaraan plat merah justru digunakan anaknya untuk ke kampus. Yah..mereka paling bayar  uang  premium.  Lalu, siapakah yang membayar biaya depresiasi kendaraan dinas tersebut? Siapa yang membayar biaya maintenance? Ingat..jika Anda yang sedang membaca adalah orang-0rang yang sering menggunakan kendaraan dinas untuk keperluan non-dinas, berarti Anda telah mencuri uang rakyat, mencuri kepercayaan negara. Itulah korupsi. Dan sekali lagi, jangan hanya berkoar mengkritik pejabat negara menggunakan fasilitas negara ketika berkampanye jika Anda sendiri tetap menggunakan fasilitas negara untuk kepentingan pribadi.

Akhir kata, saya harap, pemerintah, institusi TNI beserta pihak-pihak berwajib dan berwenang mengungkap kasus ini secara jelas dan cepat. Kecelakaan aneh di hari Kebangkitan Nasional….  Kedepan, TNI semestinya memperlakukan pesawat militer selayaknya untuk militer, dan pemerintah + DPR memberi kesejahteraan kepada TNI yang setelah berpisah dengan Polri mengalami  penyusutan persentase dana. Dan perlu dipertimbangkan kembali apakah pesawat militer dapat secara bebas digunakan untuk kepentingan penumpang sipil. Ada yang memiliki pemikiran yang berbeda atau aneh dalam kasus ini?

Selamat Hari Kebangkitan Nasional ke-101,
Selamat Jalan Para Prajuritku,
21 Mei 2009, ech-nusantaraku

Seputar Hercules dan Kecelakaannya:
Marsekal TNI Purn Chappy Hakim – Sejarah Hercules, Si Perkasa yang Banyak Jasa
C-130 Hercules, Angkut, Serang, sampai Pemadam Kebakaran
Nama-nama Korban Kecelakaan Hercules (Versi 96 orang)

81 Komentar leave one →
  1. Adi Is permalink
    Mei 30, 2009 12:45 AM

    He heheh.
    Sudah lama tuh pesawat ngompreng, kan sekarang baru ketahuan kalau banyak membawa penumpang bukan tentara.

    Melalui koneksi orang dalam, Halim ke Maospati cuma pe’ceng heh..heh

  2. JUFRI LAVA permalink
    Juni 14, 2009 6:48 PM

    pesawat hercules sebenarnya sangat membantu khususnya di Kabupaten Jayawijaya Propinsi Papua, sebab kalau tidak ada Pesawat Hercules , berarti Pembangunan di Wilayah ini tidak akan ada, sebab transfortasi Darat Belum ada. Untuk Mengangkut Alat Berat satu-satunya Pesawat Hercules. Yang salah menurut saya kalau Pesawat Hercules Mengangkut Penumpang SIPIL. Kalau untuk Kepentingan Pembangunan menurut saya sah-sah saja.demi kesejahteraan Rakyat di daerah yang sulit dan terpencil seperti Wilayah Pengunungan Papua.

  3. herkymania permalink
    September 8, 2009 3:48 PM

    asdasfdgfadgfagg

  4. Agustus 16, 2010 7:24 PM

    Wow…. hebat … bapak2 cuman ahli kritik … tapi sayangnya alur pikir dan kritikanya tidak komprehensif dan berdasar… kenapa… barang kali bapak cukup kaya … untuk membeli tiket… pesawat … sehingga dapat pulang pergi … meskipun dari daerah terpencil sekalipun… bapak bisa… lenggang kangkung…. dengan pesawat carter.. kalau perlu…
    Saya sering kali bertugas di daerah terpencil… bener2 berterima – kasih… dengan keberadaan Wing Angkut TNI AU… yang milik rakyat dan dekat dengan Rakyat… karena beliau2.. lah.. dengan anggaran dari pemerintah yg sangat minim…. saya tetep dapat menjalankan tugas dengan baik…..
    Mudah2an bapak2 jago kritik tersebut dapat .. berpikir jernih dan kmprehensif… bahwa.. banyak sekali orang2 yg sangat membutuhkan keberadaan wing Angkut tersebut… apapun yang telah dilakukan … tapi sedikit – banyak telah banyak membantu masyarakat yang berkantong tipis.. dan petugas2 didaerah terpencil.. melaksanakan tugasnya… Bravo TNI AU….

  5. Agustus 16, 2010 9:49 PM

    Disinilah terlihat begitu pintarnya berkomentar dg teknik bakar2 ,cara pandang yg stereotip,hipokrit dan tidak komprehensip… tetapi pintar menguasai media masa dengan menciptakan opini kontra produktif… memprihatinkan…klo di indonesia ada 100 org seperti ini… niscaya mau jadi apa negara ini….
    Pak .. yang pandai… Negara Kita ada 13 000 lebih Pulau…. tidak semua bisa di jangkau dg jalan darat .. dan laut…coba berpikir sedikit secara komprehensif… dan bertindak dan berpikir secara smart.. dengan melihat situasi kondisi dan realita… barangkali bapak bisa memberikan jalan keluar yang terbaik bukan hanya sebuah kritik dan menggali – gali kesalahan.. kalau bpk ingin belajar omong secara pintar … salurkan misalnya menjadi pengacara…. kayak bang Luhut Sitompul… dia pantas disebut jago omong….

    • September 21, 2012 5:20 PM

      sudah kamu ga perlu komentar tentang hercules membawa penumpang, itu warga sipil adalah anggota keluarga tni au, saya waktu kecil sering menggunakan hercules, bahkan hingga kini walaupun saya sendiri bekerja diperus penerbangan. masih menggunakan hercules. jadi kamu diam aja ya

  6. arafah permalink
    Desember 18, 2011 10:58 AM

    namanya kecelakaan (musibah), kita ga tau, biarpun naek pswat baru, kalo dah ajal, ya jatoh juga, trus tewas, msuk tipi deh…… . Ga usah juga d tanya np hercules TNI AU ngangkut penumpang sipil. Soalnya pmerintah taunya korupsi doang, ga merhatiin kebutuhan angkatan bersenjatanya n rakyatnya. Hercules juga sangat membantu msyrakat d daerah t4 tinggal sy (wamena, papua), krn hercules (TNI AU) bersedia ngangkut sembako ke wamena (akses untuk msuk ke wamena hanya lewat udara), dengan daya muat banyak, maka kebutuhan sembako d wamena jd tercukupi. pokoknya hercules is the best lah, trims to TNI AU.

  7. widi Riyanti permalink
    Februari 28, 2012 5:10 PM

    Kami sdh melaksanakan seribu hari kepergian orang tua kami dengan pesawat Hercules C-130, kami sudah ikhlas tetapi kami sulit sekali untuk melupakan kejadian itu karena rumah kami memang berada di pinggir landasab Halim P.K. BIla waktu subuh terdengar suara pesawat Hercules terbang hati saya sangat bergetar sambil memandang lampu pesawat itu hingga tidak tampak. Selamat jalan Ibu, Bapak dan keponakanku, semoga do’a2 anak-anakmu akan meringankan jalan IBu dan Bapak, Ya Allah ampunilah dosa orang tua kami Amin………

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: