Skip to content

Selamat Jalan Siti Khoiyaroh

Mei 19, 2009

Pada hari Senin, 18 Mei 2009 Siti Khoiyaroh (4,5 tahun) menghembuskan nafas terakhir. Bocah kecil anak dari pedagang kaki lima Bakso akhirnya meninggal setelah seminggu dirawat di Ruma Sakit DR Soetomo Surabaya. Siti Khoiyarohh meninggal setelah pada  tanggal 11 Mei 2009 tubuhnya tersiram kuah bakso mendidih akibat ibunya lari menghindari segerompolan petugas Satpol PP di kawasan Boulevard WTC. Tidak kurang dari 67% tubuh mungil bocah ini dipenuhi luka siraman kuas bakso mendidih, dari kepala, badan, tangan dan kaki.

GB
Siti Khoiyaroh meninggal karena karena mengalami gagal organ multiple atau gagal multi organ setelah mengalami luka bakar 67 persen akibat arogansi Satpol PP di Jalan Boulevard WTC (Foto: Detik.com)

Selama seminggu pula Khoiyaroh merasa penderitaan sakit yang luar biasa dimana ia mengalami kegagalan fungsi sistem tubuh kompleks. Jantung, paru, dan ginjal korban tidak dapat berfungsi akibat luka bakar yang cukup serius. Pada hari naas itu, kebetulan Siti ikut ibunya, Ny. Sumarih, menjual bakso untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari di tempat yang dilarang oleh Pemkot Surabaya. Dan pada hari naas itu, Ayah Siti tidak menjual bakso dan digantikan oleh ibunya.

Sungguh sedih ketika saya melihat reka ulang animasi kronologi tersiramnya Siti oleh kuah bakso mendidih di salah satu stasiun TV. Ketakutan gerobak yang menjadi sumber mata pencahairan akan disita dan dihancurkan oleh satpol PP, maka Ibunya menaikan Hoiyaroh diatas gerobak dan barlari dari kejaran segerompolan satpol PP. Yang akhirnya, gerobak jatuh, Haiyaroh ikut jatuh, dan setelah jatuh tubuhnya tersiram kuah bakso mendidih. Dan begitu sedih juga luka yang dirasakan oleh kedua orang tua Siti. Atas kejadian ini pemkot  Surabaya akan menanggung seluruh biaya perawatan rumah sakit dan memberikan santunan Rp 6 juta. Dan kepala komandan satpol PP sudah ditahan sebagai tersangka. Dan saya cukup bisa menerima tatkala secara spontan komandan satpol PP langsung meminta maaf dan merasa menyesal. Maaf dan penyesalan merupakan tindakan yang cukup terhormat bagi komandan satpol tatkala para pejabat publik terhormat jika mereka berbuat salah hampir tidak pernah mengaku bersalah apalagi minta maaf. Terima kasih minimal pak Satpol telah menunjukkan sikap bertanggungjawab.

GB
Jenazah Siti Khoiyaroh dibaringkan bersama boneka kesayangannya di RSU dr Soetomo, Surabya (18/5).
Foto: Detik.com

*******

Tentunya, uang 6 juta atau penahanan tersangka komandan satpol PP bukan merupakan solusi yang paling tepat untuk Siti dan kedua orang tuanya. Sudah berkali-kali kejadian ini terjadi, yang intinya kembali ke permasalahan paling mendasar yakni “dapur harus tetap berasap“. Mandegnya ekonomi di level bawah dan jalan pintas telah menjadi pilihan masyarakat miskin, terlebih minimnya kualitas dari pendidikan serta lemahnya peran pemerintah dalam  memberdayakan potensi masyarakat kecil. Paradigma hidup di desa atau menjadi petani tidak bisa sejahtera harus diubah. Kedepan sangat diharapkan baik pemerintah pusat maupun pemerintah daerah giat meningkatkan lapangan kerja di sektor pertanian, perkebunan, industri pengolahan serta infrastruktur pendukungnya.

Ketimpangan perlakuan antara masyarakat miskin dan penguasa sangatlah timpang. Pembangunan Mall-Mall didekat kota tentu akan mematikan usaha para pedagang kecil. Pendirian Buddha Bar yang jelas-jelas melanggar peraturan justru diizinkan. Para obligor, bankir yang melalukan penyelewangan dana rakyat justru dibiarkan bahkan disambut di istana. Ketika menghadapi masyarakat kecil yang tidak tertib, aparat menyambut dengan pentungan. Tapi ketika menghadapi penguasa yang korup, justru dengan mobil VIP. Oke..kita tidak usah lagi berbicara panjang lebar….

Yang penting, bagi Siti Khoiyaroh semoga do’a sebagian besar rakyat Indonesia mengiringmu agar tenang dan bahagia di sisi-Nya. Bagi ayah dan ibu Siti, kami berdo’a semoga tabah menghadapi ini, dan semoga semua terdekat dapat memberikan dorongan baik moril maupun materil. Dan bagi pemerintah beserta satpol PP, mari berbenah diri, dorong solusi  ekonomi merakyat tidak sekadar rapat dan koalisi membangun pusat perbelanjaan hanya untuk pemilik modal semata. Mari untuk saling berintrofeksi diri dan saling berbenah diri. Semoga kejadian seperti kericuhan dan “stempel ” menakutkan rakyat kecil terhadap satpol PP akan tereliminasi. Dan juga baik korban maupun satpol PP sebenarnya juga “korban” dari “sistem”.

Semoga….semoga…
Selamat Jalan Dik..Khoiyaroh
Selamat Hari Kebangktian Nasional ke 101

Dari ech-nusantarku (19-05-09)

Iklan
33 Komentar leave one →
  1. Mei 20, 2009 6:57 PM

    Saya ikut berbela sungkawa. Moga keluarga korban tabah dalam menghadapi cobaan ini dan mendapatkan ganti yang lebih baik dari ALLAH SWT, amin. Pedagang, siapa yang melindungi? Pemerintah? Jangan pernah bermimpi untuk mendapatkan perlindungan. Selama “TAHI LALAT YANG TUMBUH DI MATA IBU PERTIWI TIDAK DICABUT”,pada akhirnya, pedagang harus bisa melindungi diri sendiri. Nasib mereka sama halnya seperti petani, guru, dokter, nelayan, militer, dan semuanya … Salam perubahan.

  2. Mei 20, 2009 7:37 PM

    Sediiih banget
    korbannya bayi tak berdosa seperti itu.

    Diskusi dulu napa, atau relokasi dunk
    jgn maen gusar – gusur dulu…

  3. Mei 20, 2009 8:02 PM

    Innalillahi wa inna ilaihi roji’un.

    Inilah negeri ironi. Pelanggar aturan kelas kakap bebas. Rakyat miskin dipersulit hidupnya. Semoga semua dapat menjadi ibroh (pelajaran) bagi kita semua.

    • Mei 21, 2009 3:39 AM

      To: alfarizi
      Hendaknya setiap kasus dpt diambil pelajaran dan hikmahnya. Amin.

      To: sugiarno
      Hm…. bagaimana jika kita juga berusaha untuk mencapai impian tersebut?

      To: Eka Situmorang-Sir
      Pencitraan buruk dari Satpol PP ke PKL, dan sebaliknya pencitraan yang menakutkan dari PKL ke Satpol PP. Jadinya…sulit berdiskusi.

      To: mus
      Itu juga yang selama ini saya sesalkan, meski kita telah merdeka 64 tahun, tapi diskriminasi aturan masih eksis seperti era kolonialisme.

  4. rony permalink
    Mei 21, 2009 4:10 AM

    Kebrutalan…inilah cermin dari hasil pembentukan karakter yang dilakukan oleh Suharto dengan rezim militernya…sampai kapan masyarakat sipil harus menggunakan cara2 militer yang tidak manusiawi ini…berubahlah masyarakat sipil…kita bukan militer…gunakanlah cara2 yang lebih manusiawi….jangan lagi ada korban….hanya untuk “jago2an” ssok kuasa……

  5. alfan permalink
    Mei 21, 2009 7:11 AM

    Ternyata dunia ini penuh dengan orang yang kejam, hanya untuk membuat ketertiban dijalan raya harus ada tumbal dari petugas. kenapa si petugas malah dengan menggunakan cara paksa kenapa ndak dimusyawarahkan, mana prinsip pancasila dan undang-undang????? katanya musyawarah untuk mencapai mufakat…ini malah ketertiban menghasilkan korban…….saya turut berduka atas kejadian ini semoga keluarga yang ditinggalkan diberikan ketabahan hati yang besar untuk menerima cobaan ini, amien….

  6. Mei 21, 2009 7:12 AM

    satpol PP memang biadab !! terlalu berlebihan, apa masih tidak cukup dengan memeras dan merampok barang pedagang !!

  7. Mei 21, 2009 8:00 AM

    semoga tak terjadi lagi.

    eEonomi sulit, rakyat jangan dipersulit.

    turut berduka cita, adik kecil, kau akan jadi bidadari kesayanggan di nirwana.
    semoga keluarga tabah dan dikuatkan.

  8. elexyoben permalink
    Mei 21, 2009 1:31 PM

    Turut berduka juga untuk mental Satpol PP yang tak lebih dari segerombolan pengecut dan beraninya keroyokan.

    FREEDOWNLOAD YANG BEJAD-BEJAD DISINI

  9. kaga perlu permalink
    Mei 21, 2009 1:57 PM

    SATPOL PP ANJING JAHANAM

    Re: Kaga Perlu
    Maaf, meskipun kita marah atas tindakan satpol PP, namun sebaiknya tetap menggunakan bahasa yang tetap santun.
    Trims

  10. diyo suen permalink
    Mei 21, 2009 2:09 PM

    diyo see on TV … there are news about cadger who chase each other in a police chase each civil service … and eventually drop out of children meatball cart and spill hot water ….. and then she was to the hospital …. ago she
    die ….

    farewell siti god wishes you to receive

  11. Mei 22, 2009 8:33 AM

    Turut berduka untuk keluarga Siti Khoiyaroh, semoga penderitaan yang dialaminya terganti dengan surga milik Alloh… Amien

  12. diyan permalink
    Mei 22, 2009 2:07 PM

    satpol PP hanya segerombolan orang yang menjalankan perintah. dalam kasus ini juga sudah meminta maaf, mesti di apresiasi.
    selamat jalan siti khoiriyah, semoga tidak perlu ada lagi kasus2 seperti dirimu..

  13. Mei 24, 2009 3:21 PM

    okelah mereka hanya menjalankan perintah. tapi apa itu jadi justifikasi dalam melakukan kekerasan, baik secara langsung maupun tidak?

  14. rheezu permalink
    Mei 25, 2009 9:37 AM

    Aparat Satpol PP masih bisa dikatakan beruntung, karena kejadiannya di Surabaya.
    Coba kalau penertiban PKL dilakukan di Madura (habislah mereka!), bisa2 mereka juga dibalas siraman kuah panas.
    Pada kasus2 tertentu, kebanyakan orang Madura percaya akan kekuatan kata “nyawa harus dibayar dengan nyawa”.
    Semoga ini kasus yang terakhir..

  15. dian permalink
    Januari 30, 2010 8:14 PM

    selamat jalan adik kecil,,,,
    buat satpol pp jangan croboh,,,, badan aja gede otak ky tai

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: