Skip to content

Foto Demonstrasi di ITB Menyambut SBY-Boed

Mei 15, 2009

Kebetulan tinggal di Bandung, ah…jadi sekitar jam 15.00 ada rekan-rekan mahasiswa dari BEM KAMMI Se-Bandung raya mengelar aksi kedatangan SBY-Boediono yang mereka kecam sebagai antek-antek neo-liberalisme-kapitalis. Ini menjadi pengalaman pertama kali saya melihat aksi demonstrasi dari jarak dekat. First experienced. Tidak ketinggalan saya “jepret2′ kejadian pertama kali ini. Awalnya saya was-was karena dalam persepsi saya, setiap demonstransi cenderung meninggalkan kekisruhan, suasana yang mencekam terlebih polisi siap dengan senjatanya.

Polisi Sudah Lengkap dengan Peralatannya

Polisi Sudah Lengkap dengan Peralatannya

Sebelum aksi massa masuk ke persimpangan utama tempat mahasiswa berorasi, saya sempat berbincang-bincang dengan polisi. Sebagian polisi memang menganggap demonstran sebagai musuh. Namun, beberapa cukup bijak dengan mengatakan bahwa “kita hanya sebatas mengawasi mereka saja sebagai wujud demokrasi..dan menjaga kondisi agar tidak menganggu ketertiban umum”. Great! Sudah semesti baik polisi maupun demonstrasn memiliki pemikiran yang sama.  Sekitar pukul 13.00, didaerah Taman Sari tepatnya pertigaan Jalan Taman Sari – Ganesha, telah dipenuhi mobil, panser, truk milik Polisi dengan pasukan lengkapnya, dari pentungan, tameng hingga senjata api yang terselip di saku kanannya.

Mahasiswa KAMMI melakukan Orasi

Mahasiswa KAMMI melakukan Orasi

Ini menjadi kali pertama saya melihat di daerah sekitar ITB begitu “mencekam”, begitu banyak aparat polisi dengan persenjataan lengkapnya. Dipertigaan antara Kebun Binatang, Gedung BNI ITB, dan Kampus ITB, para elemen mahasiswa melakukan orasi yang menolak kehadiran SBY-Boediono. Tampak sekali jalan macet, dan jalan Taman Sari dari arah Sabuga ITB ditutup.

Mahasiswa dan Polisi Terlibat Aksi Saling Dorong

Mahasiswa dan Polisi Terlibat Aksi Saling Dorong

Aksi para mahasiswa dan beberapa elemen masyarakat ini berada hanya tidak lebih 500 meter dari Gedung Sabuga ITB (Sasana Budaya Ganesha), tempat berlangsung deklarasi SBY-Boediono. Dari rekan-rekan mahasiswa ITB yang saya temui, banyak mereka yang tidak setuju pengunaan Gedung Sabuga ITB untuk deklarasi Capres-Cawapres. Ini terkait seolah-olah ITB mendukung SBY-Boediono. Terlebih dalam peliputan media akan selalu menyebutkan Gedung Sabuga ITB. Bagi masyarakat yang tidak mengerti, maka timbul persepsi bahwa lembaga Perguruan Tinggi ITB yang harus bebas dari Politik seolah-olah mendukung pasangan Capres-Cawapres ini. Dan skenario ini saya kira telah dirancang sedemikian rupa oleh Tim Demokrat dengan begitu lihai…

Mahasiswa Membuat Barikade untuk Menjaga Para Polisi Sholat Ashar

Mahasiswa Membuat Barikade untuk Menjaga Para Polisi Sholat Ashar

Jika selama ini, persepsi masyarakat bahwa demonstrasi selalu beringas dan tidak beraturan, namun saya melihat ada sisi yang berbeda dalam aksi Demo Menentang SBY-Boediono datang ke Bandung untuk mendeklarasikan Pilpres. Sisi tersebut adalah para peserta aksi mahasiswa memberi waktu dan tempat agar para polisi untuk melakukan sholat. Awalnya para polisi sangat curiga dengan skenario ini, mereka was-was takut ketika mereka (polisi) sholat, aksi akan beringas. Setelah ditunggu bebeberapa menit dan adanya pernyataan resmi dari Koordinator Lapangan mengatakan ia menjadi penjamin atas ketentraman sholat para polisi, maka akhirnya polisi ring-4 bersedia sholat Azhar.

Foto bagian akhir ini mungkin jarang diberitakan media. Media selama ini sering meliput aksi bagian gambar nomor 2 dan 3, sehingga terkesan demonstasi adalah tindakan emosional. Saya tidak tahu apakah aksi-aksi demonstrasi para mahasiswa selama ini seperti gambar ke-4 atau tidak. Dari sini, saya melihat bahwa aksi demonstrasi ini cukup elegan dalam sisi bahwa mahasiswa tetap memiliki etika dan rasa kemanusiaan yang tinggi. Mahasiswa melakukan demonstrasi bukan karena dibayar seperti para politisi, tapi mereka ingin menyampaikan pendapat dengan elegan di muka umum.

*******

Mahasiswa ITB Lanjutkan Demonstrasi

Ratusan mahasiswa Institut Teknologi Bandung (ITB) menyambut para undangan pendeklarasian capres-cawapres Susilo Bambang Yudhoyono dan Boediono yang berlangsung Jumat (15/5) malam di Sasana Budaya Ganesha ITB, Bandung, dengan aksi demonstrasi.

Ratusan mahasiswa dengan bermodalkan spanduk-spanduk yang dibentangkan di depan Sabuga dan Pusat Akademik ITB menolak masuknya sejumlah wajah lama, seperti Susilo Bambang Yudhoyono, Boediono, Jusuf Kalla, dan Wiranto pada bursa pemilu presiden 2009.

Demonstrasi yang menyita separuh jalan dan melubernya kendaraan para undangan mendekati waktu penyelenggaraan pendeklarasian membuat arus masuk menuju Sabuga macet. Bahkan, sebagian undangan terpaksa turun dari mobil dan berjalan kaki menuju lokasi acara.

Ratusan polisi dan Satpol PP tampak berjaga-jaga di pintu masuk Sabuga, lengkap dengan pentungan. Suasana di sekitar Sabuga ramai oleh undangan dan pagar ayu. Ratusan wartawan dan kru media juga bersiap gedung pertemuan tersebut. (suryaonline)

***********

Semoga demonstrasi para mahasiswa selalu berjalan seperti ini. Dan satu lagi, setiap aksi demonstasi rupanya tidak selalu mencekam, seperti aksi demonstasi yang satu ini. Dan ada banyak cara untuk mengkritisi sebuah kebijakan  atau aksi selain demonstasi, salah satunya adalah media blog yang selama ini saya gunakan. Saya sendiri tidak terlalu “sreg” dengan demonstasi, namun jika ada hal-hal yang tidak sesuai dengan idealis kemahasiswaan, maka saya tulis dalam blog ini untuk dibaca oleh seluruh masyarakat (harapan). Selain mengandalkan otot mulut dan otot tubuh dalam menyampaikan pendapat, saya lebih senang yang bagian otak. Kedua cara tersebut memang (mungkin) masih dibutuhkan. Dan untuk itu, saya ucapkan terima kasih kepada kawan-kawan mahasiswa yang telah mengeluarkan energi, waktu untuk aksi penolakan ini secara damai. Hidup Mahasiswa. “Bangkit, Lawan, Hancurkan Tirani!” Itulah yel-yel para mahasiswa tadi sore yang masih saya ingat.

Mengenang Perjuangan Para Aktivis dan Mahasiswa 1998,
Salam Perubahan, 15 Mei 2009
Bandung, ech-nusantaraku

Iklan
21 Komentar leave one →
  1. Amat permalink
    Mei 21, 2009 12:37 AM

    Masalah kenapa para Capres/Wapres terlihat santun, ya orang bodo pun tahu…lha wong lagi mengkapanyekan diri kok. Namanya saja Pencitraan. Yang dikuatirkan justru para jurnalis2 bodong, meng ekspos sedemikian dasyatnya sehingga orang awam begitu saja percaya dengan pencitraan itu. Sebagian rakyat jelas sudah pusing kalo harus disuguhi kalkulasi yg njlimet. Banyak media bilang baik…mereka akan ikut “ooo baik ternyata” demikian sebaliknya.

    Maaf keluar topik nih…habis gatel juga yg diatas pada ngomongin, santun sederhana dsb dsb

  2. Mei 22, 2009 11:38 PM

    Kelemahan terbesar kita adalah “TIDAK BERANI MENERTAWAKAN DIRI SENDIRI” karena kita takut dianggap orang gila.

  3. Henny P. permalink
    Mei 28, 2009 7:50 AM

    Kenapa ya…… koq pak SBY dan pak Bud memilih untuk deklasikan diri di lingkungan kampus? Idenya mereka atau partai demokrat? Apakah ingin menunjukkan bahwa pasangan calon dari golongan akademisi? Hati-hati kalau terjebak pada kesombongan akademis dan arogansi. Mengingat persoalan rakyat Indonesia yang sangat kompleks ini, maka tidak cukup hanya membutuhkan orang pandai untuk berkuasa. Tetapi bangsa Indonesia membutuhkan pemimpin yang dilegitimasi rakyat dengan proses demokrasi yang berdaulat dan berbudaya maka akan melahirkan seorang pemimpin yang bisa menjadi pahlawan bagi rakyat dan bangsanya dengan mewujudkan pancasila sebagai ideologi, sistem dan hasil yang akan dicapai hingga 2014. Semoga sukses.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: