Skip to content

Rupanya Tuhanlah yang “Memilih” Boediono via Istikharah SBY

Mei 14, 2009

Perbincangan mengenai cawapres SBY sudah hangat dibicarakan beberapa hari  pasca pemungutan suara April 2009.  Untuk menampilkan kesan publik bahwa Partai Demokrat adalah partai religius, “Istikharah” selalu muncul dalam wacana pemilihan cawapresnya SBY. Shalat Istikharah adalah shalat sunnat yang dikerjakan untuk meminta petunjuk Allah oleh mereka yang berada diantara beberapa pilihan dan merasa ragu-ragu untuk memilih. Setelah shalat istikharah, maka dengan izin Allah pelaku akan diberi kemantapan hati dalam memilih [wikipedia].

Berikut pernyataan-pernyataan dari petinggi Demokrat :

Sabar dulu saja. Secara pribadi SBY sedang istikharah (salat minta petunjuk) untuk mendapatkan yang terbaik….
ungkap Ketua Bidang Politik DPP PD Anas Urbaningrum pada 17 April 2009. [sumber]

Dari 21 nama yang diusulkan, sekarang sudah mengerucut menjadi 3 nama. Saya tidak tahu siapa saja nama itu, karena yang tahu hanya Pak SBY dan Allah,…..
“Hasil survei internal, ketiganya bagus. Memiliki kekurangan dan kelebihannya masing-masing. Tetapi penilaian manusia kan belum tentu benar menurut Allah, karena itu Pak SBY meminta petunjuk siapa yang terbaik menurut petunjuk Allah lewat salat istikharah

ungkap Wakil Ketum DPP PD Ahmad Mubarok pada 11 Mei 2009. [sumber]

Dan pada 12 Mei 2009, nama Boediono resmi keluar sebagai cawapres pendamping SBY dan PKS pertama kali mendapat konfirmasi dari “orang” SBY. Saya pun menganalisis setidak-tidaknya ada 10 alasan SBY pilih Boediono

Dr Boediono

Dr Boediono

sebagai Cawapresnya. Namun, terlepas dari analisis rasionalitas politik-sosial-ekonomi, pada kesempatan ini saya akan mempertanyakan kembali “Benarkah Boediono telah terpilih oleh Tuhan via Istikharah SBY?”. Merujuk tulisan Bang Nirwan yang berjudul SBY, Jangan Main-main dengan Istikharah!, maka ada banyak persepsi yang muncul ketika Demokrat menggunakan “simbol religius” dalam berpolitik. Apakah SBY benar-benar  dan ikhlas menjalankan sunah religius atau hanya sekedar manuver politik atas nama “religi”?

*******

Seperti yang Bang Nirwan tulis, “Istikharah tidak dibolehkan main-main. Dia harus dilakukan serius, super serius, fokus dan yang terpenting adalah keikhlasan.” Lalu muncul pertanyaan, apakah SBY melakukan ini secara serius dan ikhlas sepenuhnya untuk kepentingan rakyat dan bangsa ini atau sebaliknya semata hanya kepentingan pribadi/politik belaka.  Dan kita tahu bahwa akhirnya SBY memilih Boediono sebagai cawapresnya dengan mengendarai “istikharah”. Dengan membawa keagungan dan kesucian “istikharah”, tentu ini merupakan kartu truf SBY kepada partai-partai yang berlandaskan religi bahwa keputusan SBY sudah tepat bahkan sangat tepat karena berlandaskarn “nasehat” Tuhan. Dan jika PAN dan PKS kecewa dengan putusan SBY berarti secara halus memberi citra kepada publik bahwa orang PKS  dan PAN terkesan tidak religius karena terlalu lancang untuk kecewa pada “putusan” Tuhan?

PKS dan PAN yang bersuara lebih lantang menolak Boediono daripada PPP dan PKB yang “cenderung no-comment“.  Tentu saja dua partai ini tidak begitu saja menerima statemen bahwa pilihan Cawapres Boediono murni dari “Tuhan” . Mereka akan beralasan bahwa “Bukankah Tuhan lebih memilih pemimpin yang religius daripada seorang ekonom kapitalis?“. Jika saja alibi PKS dan PAN benar, maka SBY dan Demokrat telah menjual “Istikharah” demi politik kekuasaan. Namun, jika saja SBY dan Demokrat benar, maka mungkin saja Tuhan tidak “berkenan” dengan kader PKS dan PAN untuk memimpin negeri ini.

Apakah benar bahwa “Tuhan” lebih menginginkan Boediono mendampingin SBY ketimbang tokoh-tokoh lainnya? Benarkah Boediono merupakan sosok terbaik bagi bangsa ini? Mari kita telusuri secara mendalam sepak terjang Biografi Boediono secara singkat.

******
Jika bagian awal kita berbicara mengandalkan “pilihan religius” dalam cawapres, mari kita telaah secara manusiawi, apakah Boediono merupakan sosok yang paling pas mendampingi SBY? Berikut saya kutip sebagian dari Inilah.com, Kompas

[1] Ekonom Kwik Kian Gie pernah menilai, prestasi Boediono hingga kini tetap diragukan karena dia tak mampu mengatasi kasus BLBI. Resep ekonomi yang disodorkan Boediono untuk mengatasi krisis moneter Indonesia 1997-1998 pun dianggap keliru, karena hanya mengandalkan buku diktat ekonomi dan resep IMF-Bank Dunia. [selengkapnya]

Adalah Megawati semasa menjabat sebagai presiden, yang menemukan dan menarik Boediono dalam kabinet sebagai Menkeu, Dan ia (Boediono) memang patuh melayani IMF,” kata Kwik dalam sebuah diskusi.

[2] Wakil Ketua Umum Kadin Indonesia Bambang Soesatyo mengakui bahwa pencitraan terhadap Gubernur Bank Indonesia Boediono dan Menteri Keuangan Sri Mulyani sebagai orang IMF atau kaki tangan Bank Dunia sudah lama berlangsung. [terlebih Mulyani merupakan mantan pejabat IMF Asia sebagai Direktur]. “Anda tentu masih ingat bagaimana ekonom sekaliber Kwik Kian Gie menilai sejumlah ekonom kita yang selalu tunduk pada kehendak IMF maupun Bank Dunia. Kwik bahkan berkali-kali mengkritik Boediono,”.

[3] Para analis ekonomi-politik seperti Hendri Saparini melihat Boediono, yang kini menjabat gubernur BI sudah lama dibina oleh IMF, ADB, dan Bank Dunia, melalui jaringan Mafia Berkeley untuk menjadikan Indonesia sebagai negara neolibreal-kapitalis. Akibatnya, utang negara yang kaya raya ini bertambah Rp 400 triliun dalam periode 2004-2009 [selengkapnya].
Menurut Hendri Saparini, ekonom lulusan UGM dan doktor ekonomi lulusan Jepang, “Belum lagi meluasnya deindustrialisasi dan hancurnya sektor pertanian dan UMKM akibat paradigma pembangunan Boediono-Sri Mulyani yang mengutamakan sektor finansial dan utang, bukan sektor riil dan kemandirian ekonomi,”

[4] Dalam warta Jakartapost, pada 27 Februari 2002 Boediono [sebagai Menkeu] dalam pernyataan pers menunjukkan bahwa ia adalah “pengidola” segala bentuk arahan IMF. Berikut kutipan asli dari Jakarta Post:

Minister of Finance Boediono expressed optimism on Tuesday that the government would be able to meet a list of “”prior actions”” set out by the International Monetary Fund (IMF) as prerequisites for maintaining the Fund’s support… “Prior actions are something the government must implement . But I’m convinced we’ll be able to complete all that before too long,”

He [Boediono] confirmed that a credible process in the sale of the government’s 51 percent stake in Bank Central Asia (BCA), and a clear strategy on how to resolve the huge debts owed by ex-bank owners to the government were included in the list. While the BCA sale process is nearing its conclusion, the government is still divided over a controversial policy to ease the repayment terms of the ex bank owners’ debts.
JakartaPost – Feb 2002
.

******

Pada poin pertama [1] Kwik Kian Gie, sebenarnya sudah pernah saya ulas secara garis besar di artikel Pembayaran Utang Najis oleh SBY dan Mega. Namun, agar saling melengkapi dan sistematis, maka pada bagian ini saya akan mengambil tulisan AB Kusuma, Peneliti Senior di Pusat Studi Hukum Tata Negara, Fakultas Hukum Universitas Indonesia [SinarHarapan].

Prof Dr Boediono adalah seorang ekonom profesional yang mumpuni dari mazhab trickle down effect. Penganut mazhab ini umumnya lebih mementingkan membantu para pengusaha besar daripada membantu para petani, para pekerja yang bergaji rendah, dan para pencari kerja. Kepiawiaannya dalam pasar uang dan ekonom kapitalis neo-liberalisme membawa namanya menjadi menteri yang sangat disanjung oleh para kapitalis terutama asing. Karena itupula, Boediono sangat disukai oleh lembaga-lembaga Amerika Cs seperti WB, ADB.
Pada waktu menjabat sebagai Menteri Keuangan saat pemerintahan Megawati Soekarnoputri, dia menyatakan bahwa pada dasarnya subsidi bagi rakyat harus dihapus. Dan ketika para petani tebu meminta proteksi, Boediono dengan enteng menyatakan, ”Kalau petani tebu merasa bahwa menanam tebu kurang menguntungkan, tanamlah komoditas lain yang lebih menguntungkan.”
Tampaknya pendapat Boediono sejalan dengan Taufiq Kiemas, suami Megawati, yang menyatakan subsidi seperti candu. Pada kenyataannya mereka tak konsisten, mereka malah mensubsidi para bankir.

Secara singkat, menurut Prof. Mubiyarto, sejak private debt  (utang bank swasta) dijadikan public debt (utang negara), sejak utang para konglomerat ”ditalangi” pemerintah, perbankan selalu mendapat subsidi, industri perbankan yang seharusnya menghasilkan pendapatan (revenue) ternyata menjadi beban (expenditure) negara. Pada tahun 1998, ”bunga utang” para konglomerat yang dibebankan kepada APBN besarnya Rp 60 trilliun, empat kali lipat dari anggaran untuk pendidikan yang hanya sekitar Rp 15 trilliun.

Mazhab trickle down effect yang dianut oleh doktor-doktor tamatan Universitas Berkeley dan pengikutnya, pada awalnya membawa kemajuan bagi perekonomian kita meskipun melanggar UUD 1945. Mereka itu melupakan asas koperasi sebagaimana diamanatkan oleh Pasal 33 UUD 1945 dan sepenuhnya membantu pengusaha besar, yang dibiarkan menggaji di bawah upah minimum. Itulah sebabnya Bung Hatta menamakan kelompok ini Mafia Berkeley. Jelas, ekonom-ekonom Mafia Barkeley bertentangan dengan UUD 1945, bertentangan dengan Mazhab Ekonomi Kerakyatan Bung Hatta. Dan ekonom Berkeley Amerika sendirilah yang menghancurkan ekonominya dan krisis global 2008. Ini juga membuktikan kegagalan mazhab Barkeley yang mengagung-agungkan Kapitalis dan neo-liberalisme.

Mafia Berkeley berasumsi pemerintah perlu menyubsidi pengusaha besar agar mereka sukses. Dan bila mereka sukses, keuntungannya akan menetes ke bawah. Tetapi ketika mereka telah menjadi konglomerat, ketika mereka diimbau oleh Presiden Soeharto agar memberikan 25 persen sahamnya kepada koperasi karyawan, mereka menolak, dan hanya bersedia memberikan 1 persen. Hanya beberapa pengusaha, di antaranya Jusuf Kalla, yang bersedia memberikan 2 persen saham, artinya mereka tidak ikhlas membagi keuntungan kepada karyawan sendiri.

Sindiran Presiden Soeharto kepada mantan tokoh mahasiswa yang telah menjadi konglomerat bahwa modal mereka hanya ”jaket kuning” tidak menggerakkan hati mereka untuk mengucurkan keuntungan kepada karyawan.  Ironisnya, ketika terjadi krisis moneter, para konglomerat bersekongkol dengan kroni Soeharto agar seluruh rakyat Indonesia yang menanggung dan menalangi utang mereka sebesar Rp 650 trlliun berikut bunga. Besar bunganya sekitar 10 persen setiap tahun dan diperkirakan baru lunas pada 2030.

Inikah keadilan dan kebenaran bagi rakyat??

******
Sebagai negara demokratis, maka apapun keputusan SBY memilih Cawapresnya adalah hak asasi SBY. Sebagai rakyat non-partai, maka kita tidak  memiliki hak wajib untuk menolak ataupun mendukung pilihan yang telah SBY tentukan. Dan saya sendiri kurang setuju dengan adanya aksi demonstrasi sejumlah massa non-partai yang menolak pemilihan Cawapres Boediono. Siapapun cawapresnya, itu adalah hak SBY titik. Hargai itu.

Paradigma ini tentu berbeda jika kita adalah seorang kader atau simpatisan partai tertentu. Bagi seorang kader partai hal ini pasti akan merasakan  ‘cita rasa’ manis (mendukung) atau pahit (menolak). Wajar-wajar saja jika ada pro dan kontra dalam keputusan SBY oleh partai politik. Namun perlu diingat bahwa SBY memiliki kartu truf tersendiri yakni pesan tersirat yang ingin disampaikan ke Partai Menengah seperti PKS dan PAN : “Jangan kau salahkan SBY, itu adalah petunjuk Tuhanmu“.

Perlu ditekankan bahwa tulisan ini sama sekali tidak mengeluarkan analisis opini kemungkinan bahwa pilihan SBY pada Boediono karena “orderan” dari pihak Asing agar SBY tidak memilih wakil dari tokoh Islam. Sebagian pihak Barat tentu  khawatir bila saja NKRI berubah menjadi negara Islam, hal yang tidak tidak diinginkan Barat untuk menangani “Afganistan-Afganistan” lainnya. Hal ini tidak saya masukkan karena saya hanya meninjau bahwa SBY memilih pilihan terakhir yakni Boediono berdasarkan petunjuk dari shalat istikharah seperti dilansir ke media oleh petinggi Demokrat : Anas Urbaningrum dan Ahmad Mubarok.

Namun, bagi saya sebagai rakyat non-partisan, maka saya perlu menyampaikan juga bahwa profil Boediono cukup berseberangan dengan kalangan ekonom kerakyatan Bung Hatta, dan jauh dari cita-cita sistem ekonomi yang tertuang dalam UUD 1945 [sumber]. Informasi ini juga penting bagi rakyat luas untuk mengetahui profil pemimpinnya sebelum memilih untuk masa jabatan lima tahun kedepan. Mungkin wajar bahwa penilaian Boediono ditinjau secara track record dan mazhab ekonomi yang telah ia kerjakan selama 10 tahun terakhir sejak menjadi Ketua Bappenas di tahun 1998. Dan apakah sosok ekonom seperti Boediono memang merupakan pilihan Tuhan untuk memimpin negeri ini? Apakah Tuhan memang memilih sosok ekonom yang enggan membantu rakyat kecil disisi lain senang membantu pengusaha kaya? Atau sebaliknya, “istikharah” hanyalah kedok politik atas nama Agama? Atau kata Bang Nirwan, SBY, Jangan Main-main dengan Istikharah!

Salam Perubahan, Mengenang 11 Tahun Reformasi 12-14 Mei 1998
14 Mei 2009 – ech-nusantaraku

Iklan
65 Komentar leave one →
  1. Firman Syah Ali permalink
    Mei 18, 2009 10:01 AM

    jangan banyak bacot loe, dasar islam pemula, tidak tau apa-apa tentang dalem-dalemnya ajaran islam, juga tentang luas-luasnya kearifan islam. Ente pasti pendukung “kaum islam jenggot” untuk jadi Cawapres, mau kamu apakan negaraku tercinta ini. kubacok, kubunuh kau ! aku pecinta islam dan pembenci islam jenggot

    • heru permalink
      Mei 20, 2009 1:48 PM

      Buat bapak firman… maaf sebelumnya…kalimat bapak serasa kurang pas…”aku pecinta islam dan pembenci islam jenggot”. Kalo memang pecinta islam seharusnya tidak membenci islam jenggot, karena berjenggot itu salah satu ajaran islam.

  2. Mei 18, 2009 12:04 PM

    Istikharoh memang suatu pintu untuk komunikasi langsung dengan Allah dus memang sepantasnyalah seorang pemimpin selalu menggunakannya sebelum mengambil keputusan penting.

    Boediono adalah pribadi yang sederhana, bersih, tegas dan rendah hati. Bekerja sama sekali tidak didasari pamrih, baik jabatan maupun kekayaan. SBY apa ada bukti beliau bekerja tidak ikhlas??? Sampai sekarang kekayaan beliau hanya 10% dari kekayaan Wiranto. SBY dan Boediono adalah pribadi2 yang bertanggung jawab dengan tugas yang diembankan kpd mereka dan ingin yang perfect, keduanya bukan pemburu kekayaan tapi pemburu prestasi!!

    Kalo seorang bukan pengejar kekayaan, lalu apa mungkin mau jadi boneka IMF ,WB atau Amrik? Untk apa bagi mereka?Orang yang gampang disogok karena tujuan hidupnya menjadi kaya! Kalo yang dikejar prestasi, prestise dan kemulyaan masak mau jadi kacung asing??? 😦

    • Mei 18, 2009 12:57 PM

      To: ngengek, Firman Syah Ali
      Saya kira tulisan saya tidak mengatakan seperti itu.. Karena saya memberi dua sisi. Trims

      To: dimejo,TATANG
      Tulisan pak Faisal Basri sudah saya ulas di https://nusantaranews.wordpress.com/2009/05/15/menelusuri-sisi-sisi-lain-pak-boed-yang-saya-kenal/

      To: dimejo
      Terima kasih atas tambahannya.
      Namun, saya ingin bertanya, jika alasan 1 dan 2 benar, maka mengapa pimpinan Demokrat masih dipenuhi oleh orang-orang militer?

      To: Jundy
      Sah-sah saja berspekulasi. Banyak orang masih bertanya mengapa keputusan menjual saham BCA dengan sangat murah ke Farallon, Djarum dengan memberi 58 T obligor. Mengapa ketika petani tebu meminta proteksi, justru bilang kalo rugi ganti yang lain. Sisi baik, santun, rendah hati adalah salah satu sisi. Namun, sisi lainnya juga tidak bisa dilupakan. Seperti dua sisi mata uang kan Bung?

  3. Mei 18, 2009 10:42 PM

    Dalam paradigma Presidensil peran seorang wakil tidak lain adalah : awak + sikil = badan dan kaki doang, tak punya kepala, karena kepalanya ada pada Presiden, dia tidak boleh berkepala dua.

    Seorang wakil yang mengerti seluk beluknya ekonomi global tentu signifikan dalam memberikan masukan, agar tidak terperosok dalam jebakan yang dipasang kaum kapitalis. Presiden sekaliber SBY tidak akan seperti kerbau dicocok hidung, karena cita2 beliau memajukan Indonesia, yg sejahtera, disegani dan bermartabat.

    Tidak perlu dikotomi neolib dan kerakyatan, nyatanya ada sejumlah kebijakan pro rakyat yang dilakukan SBY. Jargon neolib, nekolim, birokrat kapitalis adalah jargon komunis tempoe doeloe. Justru yang cerdik itu bukan berdikotomi ria, tetapi dapat berselancar di arena ekonomi global dengan gesit dan lincah, itu akan membuat kekaguman bangsa2 lain.

    Siapa pandai meniti buih sampailah badan keseberang, menutup diri dan konfrontatif tidak akan mendapat apa2 kecuali pengucilan dari masyarakat dunia serta pengepungan dengan segala embargo dan tetekbengek.

    Pesan reformasi adalah berantas KKN, maka pimpian yang dibutuhkan adalah : yang CLEAN, CREDIBLE, COMPETENT, CAPABLE dan Integrity. Itu terpenuhi oleh SBY-Berbudi.

  4. Mei 19, 2009 8:03 AM

    So far, have we surfed the waves of world economy? It’s more like surfing the waves of debt.
    I’d rather shut our doors like China and suffer for 2 decades to emerge with pride, creating our own waves in world ecnomy.

  5. Mei 19, 2009 6:16 PM

    Ya semoga ajja SBY gak salah pilih.,
    Tapi nampaknya mereka berdua pasangan yang serasi,.
    😀

  6. Mei 20, 2009 10:38 AM

    apakah dari ketiga capres-cawapres ngak ada yang baik?mana yang lebih mendingan?apakah harus golput sedangkan golput adlah salah.mengapa SBY tdk memilih Hidayat nw?mana yang harus kita percaya?

  7. Mamad permalink
    Mei 20, 2009 11:01 PM

    Heran,knapa bnyak orang benci militer???
    Apa semua mantan meliter jahat??
    Apa smua n0n meliter baik???

  8. erv permalink
    Mei 21, 2009 1:07 AM

    tulisannya ga imbang bung! hrs ada sisi positif ny jg donk. to d point aja g stju ma pak boediono kah?

  9. Mei 23, 2009 12:21 AM

    Umat jgn dipake utk kepentingan politik, namun politik dipakai utk kepentingan umat.

  10. Kesatria cyber permalink
    Juni 21, 2009 3:52 PM

    Hmm…
    Knp c pada brantem (kayaknya), tp satu hal yg saya yakini bhw smua “demi kepentingan bangsa dan negara yg lebih baik”.
    Saya meyakini Org bijak tdk akan mencaci opini (atw fakta bagi penulis), krn smua ni hanyalah sudut pandang dalam melhat sesuatu.
    Melihat, mencerna dan menilai fakta seharusnya dilandasi “etikat yg baik” tidak menyudutkan. Jika penulis menulis “fakta” coba uraikan dg opini dr 2 sisi (positif dan negatif). InsyaAllah pembaca lbh bisa menerima.

    JAYALAH INDONESIA-KU

  11. Kesatria cyber permalink
    Juni 21, 2009 4:03 PM

    Saya adalah pengagum sosok2 para pemimpin bersahaja. Karena itulah yg dicontohkan Nabi qt. Kalau disini saya menguraikan pertanyaan, saya ingin bertanya :
    1. Apakah seorang penuntut Ilmu di tempat yg dianggap berbau liberal. Dia pasti mengadopsi semua pemikiran dr liberalsm tu?
    2. Apakah benar sosok yg mengusung ekonomi kerakyatan justru kehidupanya jauh dr rakyat pada umumnya (ex : kuda kuda milyaran walau mengatakan memberi sumbangsih dlm bidang olah raga”, beli belasan mobil dalam stahun)?

  12. Kesatria cyber permalink
    Juni 21, 2009 4:15 PM

    “…tuntulah ilmu sampai negri china…” Why?
    Knp g ke pondok?
    Maknanya cukup dalam bhw ilmu pengetahuan tu luas jd jangan hanya mencari dr satu tempat.

    Kalo qt kaitkan apakah Pak Boediono jg sepenuhnya mengambil sisi negatif?

    Apakah seorang yg bersahaja senaif itu?
    Apakah seorang yg beberapa bln lalu mengunjungi SMA-nya dg celana “bolong kecil diberapa tempat” berfalsah hidup mewah seperti para kapitalis?

    Saya sungguh bsedih hati mendengar hujatan2 yg da

    Ttg kebijakn, tanyakan beliau saja, jgn cm opini

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: