Skip to content

10 Alasan SBY Memilih Boediono Sebagai Cawapres

Mei 13, 2009

SBY-Boediono (Kompas)

SBY-Boediono (Kompas)

Pendamping SBY untuk melaju Pilpres 2009 yakni Dr. Boediono(Gubernur BI) yang sudah beredar di media massa bukanlah hal yang mengejutkan.  Menurut saya, pilihan Capres SBY memilih Cawapres Boediono sudah tepat dalam tataran kepentingan partai Demokrat khususnya dan kelangsungan kabinet pada umumnya jika SBY-Boediono terpilih.Tapi tentu saja belum tepat dalam tataran mewakili kepentingan koalisi.

Sejak awal partai Demokrat memberi kewenangan penuh kepada SBY untuk memilih pendampingnya pada Pilpres. Berbondong-bondonglah nama-nama cawapres dari partai maupun profesional hingga 19 nama yang akhirnya mengerucut 3 nama : Boediono, Hidayat Nur Hidayat, dan Hatta Radjasa. Sejak pengumuman hasil pemilu yang menempatkan Demokrat menjadi satu-satu partainya yang berhak mengajukan capres-cawapres sendiri (suara nasional >20%, kursi parlemen >25%), maka posisi tawar partai menengah PKS, PAN, PPP, PKB  (selanjutnya ditulis : 4 Partai) menjadi ‘murah’. Dan akhirnya, PKS menjadi pihak pertama yang mendapat konfirmasi cawapres dari SBY adalah Doktor Ekonomi dan juga Gubernur Bank Indonesia saat ini : Dr. Boediono. Mengapa SBY memilih Boediono?

Menurut saya, minimal ada 10 alasan mengapa SBY memilih Boediono

  1. SBY ingin cawapresnya “patuh”, ‘setia’ dan tidak dominan secara politik.
    Boediono merupakan sosok profesional yang fokus pada pekerjaannya dan tidak “bergairah” dengan perpolitikan. Inilah yang dibutukan SBY untuk menjalankan kabinetnya mendatang (jika terpilih) agar fokus, terarah, dan satu komando. Jangan sampai “ada 2 nakhoda dalam 1 kabinet”, dan Boediono yang pasti bukan orang yang akan/berambisi menjadi “nakhoda”, namun sebatas co-pilot.
  2. SBY membutuhkan cawapres yang ahli dalam bidang ekonomi.
    Selama ini kebijakan ekonomi kabinet Indonesia Bersatu lebih didominasi Wapres Jusuf Kalla bersama tim Ekonomi Kabinet. Tentunya kapabilitas SBY dalam kemajuan ekonomi masih kalah jauh dari para ekonom-ekonom ahli di negeri ini. Dan memang SBY bukanlah seorang ekonom, karena beliau adalah seorang Jenderal TNI yang terjun dalam politik pemeritahan. Mengapa ekonom Boediono dan bukan Sri Mulyani, karena hanya Mulyani lah satu-satunya menteri yang berani mengancam SBY untuk mengundurkan diri ketika SBY bersikokoh membela kepentingan saham grup Bakrie di BEI Oktober 2008 silam. Jadi, Boediono lebih ‘setia’ dan ‘patuh’ daripada Mulyani.
  3. SBY tidak menginginkan wakilnya adalah sosok yang memiliki pengaruh ketokohan dan politik yang besar atau berpotensi membesar.
    SBY sudah merasakan bagaimana Wapres saat ini memiliki pengaruh politik dan  ketokohan yang dalam beberapa sisi cukup mendominasi daripada SBY. Dan bila saja disusupin kepentingan tertentu (politik), maka keretakan dan non-sinergis akan muncul. Disisi lain, mungkin SBY tidak ingin mendengar pernyataan masyarakat bahwa Cawapresnya adalah “The Real President
  4. SBY memilih Boediono karena Boediono adalah ekonom liberal-kapitalis yang handal dan dihormati terutama negara-negara neoliberalis kapitalis seperti Amerika Cs.
    Nama Boediono sangat terkenal dikalangan negara kapitalis asing, bahkan ia sempat diundang dalam forum internasional. Kepiawaiannya dalam mengembangkan ekonomi makro serta sistem pasar yang bebas merupakan langkah-langkah yang sejalan dengan WTO ala Amerika.
  5. SBY memilih Boediono merupakan suatu langkah untuk mengokohkan Sistem Presidensil Utuh.
    Sesuai dengan UUD 1945 Amandemen bahwa sistem pemerintahan kita adalah presidensil, maka SBY berusaha membuka lembaran baru untuk menerapkan sistem presidensil yang utuh. SBY mungkin memiliki pemikiran bahwa Capres-Cawapres seharusnya menjadi satu perpaduan utuh. Hal ini mirip dengan pasangan Capres-Cawapres di Amerika dimana berasal dari satu paket (satu partai). Namun, karena Demokrat hanya menguasai 26% kursi, tentu ia tidak dapat memilih cawapresnya dari Demokrat. Win-win solution adalah memilih kalangan non-partai. Dan bisa jadi, ini merupakan suatu “tes kesetiaan” yang dilakukan SBY kepada 4 partai. Tentu SBY beralibi bahwa Boediono “telah” memenuhi 5 kriteria Cawapres seperti yang ia sampaikan sebelumnya dalam “sayembara” cawapres.
  6. SBY berhak penuh memilih siapa pendampingnya (Boediono) dan tidak perlu bermusyawarah pada 4 Partai untuk memutuskan siapa Cawapresnya.
    Karena  hal ini sudah menjadi bargaining SBY dan Demokrat sejak awal “silahkan kalian daftar kader terbaik kalian, hanya SBY-lah satu-satunya orang yang memiliki sense yang paling baik menentukan siapa pasangan pendampingnya.”Secara tidak langsung, tersirat bahwa 4 Partai dalam beberapa kondisi dan situasi, tidak boleh mendikte keputusan Capres SBY. Dalam urusan pemilihan Cawapres, kader Demokrat berkata “Hanya SBY dan Tuhan yang tahu”. Wow…. Ini juga menunjukkan sinyal dari kubu SBY kepada 4 partai “Ingat, saya adalah pemimpin kalian. Saya punya otoritas penuh menentukan kebijakan dalam hal presiden kedepan. Cukuplah kalian menjadi pendukung, penimbang sekaligus pelengkap”
  7. SBY memilih Boediono merupakan langkah strategis SBY untuk menjaga kepentingan Partai Demokrat di masa mendatang yakni periode 2014.
    Jika saja SBY terpilih kembali pada periode kedua, maka tahun 2014 SBY tidak bisa mencalonkan diri lagi. Sedangkan hingga saat ini, belum ada kader populer dan kompenten Demokrat yang siap menggantikan SBY nantinya. Sedangkan saat ini, bisa dikatakan 80% Demokrat adalah SBY itu sendiri. Menyikapi itu, maka SBY akan jauh lebih aman memilih wakil yang tidak berpotensi menjadi “rising star” dan menjadi pemimpin di tahun 2014. Jika SBY memilih 1 tokoh populer dari 4 partai, berarti SBY sedang membesarkan “macan” di kandang Demokrat yang mana akan menjadi potensi Capres di 2014 mengalahkan kepemimpinan dari Demokrat.
  8. SBY memilih Boediono berarti membuka peluang besar koalisi Demokrat-PDIP
    Ini juga menjadi harapan SBY agar PDIP merapat ke Demokrat. 1 minggu sebelumnya SBY maupun Taufik Kiemas secara terang-terangan mengatakan “koalisi Demokrat-PDIP” merupakan langkah yang baik.  Andai saja “deadlock” PDIP-Gerindra tidak ada “key”nya. Boediono adalah orang yang dekat dengan PDIP. Baik Demokrat maupun PDIP sama- sama mengklaim partai nasionalis, meskipun faktor kapitalis tampak dalam berbagai kebijakannya.
    Hal ini juga saya bahas di bagian akhir dari artikel :Inilah Politik : Yoyo vs Gasing Ingin Berkoalisi
  9. SBY memilih Boediono dengan harapan memberi nilai “tengah” kepada 4 partai dan 3 usulan cawapres
    Agar netral dalam “menimbang-nimbang” dari utusan cawapres  3 parpol yakni dari PKS (Hidayat Nur Wahid), PAN (Hatta Radjasa), dan PKB (Muhaimin Iskandar).  Disisi lain, SBY berusaha menepis opini publik bahwa SBY terlalu mengakomodir kekuatan “hijau” sehingga secara bertahap SBY akan “dikeroyokin” oleh perwakilan yang mengsuarakan perubahan “Sila 1 Pancasila”. Disisi lain, SBY pasti sudah tahu bahwa akan ada reaksi dari PKS dan PAN. Dan ternyata sebagian opini publik yang berkembang adalah PKS dan PAN  adalah partai yang “gila” kekuasaan. SBY memang hebat “satu panah, 4 burung yang kena”.
  10. SBY tidak memilih salah satu dari 3 kader partai karena :
    • Hidayat Nur Wahid (HNW): dikenal tokoh yang terlalu “hijau” dan kurang kapabel dalam ekonomi yang menjadi fondasi dasar pemerintahan. Disisi lain, banyak potensi negatif yang akan dituju HNW seperti beberapa rumor yang telah beredar beberapa waktu silam.
    • Hatta Radjasa (HR) : HR memiliki “cacat” tatkala terjadi banyak kecelakan ketika menjadi Menhub. Disisi lain, memilih HR berarti mengikuti “instruksi” Amien Rais yang notabene bahwa SBY setuju dan menerima kebijakan pro-rakyat, suatu kebijakan yang berhaluan dengan SBY yang lebih pro-kapitalis. Meskipun HR adalah “speaker”-nya SBY.
    • Muhaimin Iskandar (MI) : MI adalah Ketum PKB yang notabene tidak begitu dihendaki SBY mengingat Wapres dari ketua partai akan berpengaruh pada kinerja kabinet (bisa pecah). Disisi lain, SBY pun menimbang, apakah MI tidak berpotensi “tidak menghormati SBY”, karena MI pernah dan sedang bersiteru dengan “tuannya” Gus Dur, meskipun Cak Imin dekat dengan SBY.

*********

Itulah 10 analisis saya mengenai mengapa SBY memilih Boediono dan bukan memilih wakil kader dari partai PKS, PAN, PKB, PPP (tidak mengajukan). Karena sejak awal Demokrat dan PKS sudah menjalin koalisi flatform yang  mengedepankan kepentingan bangsa daripada kursi  kekuasaan, maka dalam posisi ini PKS “terpaksa” ikut arus SBY. Sudah sangat jelas posisi SBY cukup tinggi dan “mahal’ dibanding partai-partai kecil ini. Gemparnya isu ini meninggalkan kesan bahwa “koalisi di kubu Demokrat” tidaklah kokoh. Komunikasi dan konflik kepentingan masih sangat kental dalam koalisi yang cenderung mementingkan kepentingan partai masing-masing. Dan tampak sekali bahwa pemerintah SBY akan “cukup” tegas-otoriter dalam mengambil keputusan.

Oleh karena itu, sangatlah wajar jika PKS, PAN, PPP agak kecewa. Ini juga menunjukkan persepsi publik bahwa manuver “Koalisi Lanjutkan” tidaklah jauh berbeda dengan “Koalisi Besar”. Sama-sama menghitung kekuatan untuk merebut kekuasaan dan akhirnya koalisi yang terbentuk sangatlah rapuh karena lebih berdasarkan jumlah kursi di kabinet. Parade para politikus partai ini merupakan pelajaran buruk bagi masyarakat yang kurang mengerti tentang politik. Dan dengan kondisi carut-marut kekuasaan ini, maka sangatlah wajar jika Golput menjadi pemenang dengan Angka mencapai 50-66,7 juta penduduk pada Pileg 2009 silam.

Untuk PKS harus bisa menerima ini, karena sejak awal mereka mengatakan telah mengajukan cawapres melalui amplop tertutup seraya mengatakan “dipilih atau tidak, itu tidak terlalu penting (ada 4 alasan koalisi). Yang penting adalah flatform. Kita berkoalisi bukan hanya mengincar cawapres”. Ini menjadi konsekuensi, dan kedepan saya pikir posisi SBY akan tetap dominan seperti saat ini. Dalam hal ini, wajar PKS berpikir dua atau tiga kali. Bagaimana juga PKS harus tetap bisa menerima keputusan SBY.
Untuk PAN, hmmm… Pak Amien Rais harus bisa menerima konsekuensinya. Menurut saya, pemilhan Boediono merupakan tamparan cukup keras bagi  Amien Rais, karena Boediono adalah sosok pro-liberali-kapitalis, bukanlah sosok yang pro-nasionalis dan ekonomi kerakyatan yang menjadi harapan  Amien Rais. Tampaknya, Soetrisno Bachrir (SB) berada di track yang benar, sementara (maaf) pak Amien tampaknya keliru (memang Amien dan Prabowo sulit duduk bersama mengingat perjuangan 1998 ). Pilihan sulit bagi Amien Rais…

Demikianlah 10 analisis saya atas alasan mengapa SBY memilih Boediono sebagai pasangan Cawapresnya. Sangatlah mungkin ada kekeliruan dalam analisis saya ini. Dan saya harap ada masukan dari rekan-rekan. Jika ada kurang, silahkan tambahkan. Jika ada tidak tepat, mohon dikoreksi juga.

Salam Perjuangan Para Aktivis dan Mahasiswa pada 12 Mei 1998
Salam Perubahan,
13 Mei 2009, ech-nusantaraku

Iklan
220 Komentar leave one →
  1. Andreas permalink
    Mei 26, 2009 11:18 PM

    siapapun yang memimpin Indonesia pasti tujuannya demi kemajuan Rakyat, yang paling penting siapapun yang memimpin – SBY lah Presidennya. Doa kan ya agar beliau tetap konsisten dan komitmen on the right track

    Non Partai/Non Kader

    Andreas

  2. anson permalink
    Mei 27, 2009 11:24 PM

    Anda selaku pengamat tidak akan pernah bisa memasuki alam pikiran orang-orang PKS. Analisis anda adlah analsisi kapitalis yang tida historis. PKS memiliki mekanisme internal yang jelas dalam memutuskan suata persoalan. begitu sudah di setujui dan diketuk palu oleh majlis suro seluruh terikat dan patuh. Lalu kenapa kader PKS seperti alam inilah yan saya maksud tidak akan bisa nad asentuh sebelum anda jadi kader PKS. coba tanya mana partai yang solid hari kalau bukan PKS. perbedaan yang muncul dari kader pks sebelum ketuk palu dewan suro itu adalah kekayaan PKS

  3. anson permalink
    Mei 27, 2009 11:30 PM

    Anda selaku pengamat tidak akan pernah bisa memasuki alam pikiran orang-orang PKS. Analisis anda adalah analsisi kapitalis yang tida historis. PKS memiliki mekanisme internal yang jelas dalam memutuskan suata persoalan. begitu sudah di setujui dan diketuk palu oleh majlis suro seluruh kader terikat dan patuh. Lalu kenapa kader PKS seperti ini alam inilah yan saya maksud tidak akan bisa anda sentuh sebelum anda jadi kader PKS. coba tanya mana partai yang solid hari ini kalau bukan PKS. perbedaan yang muncul dari kader pks sebelum ketuk palu dewan suro itu adalah kekayaan PKS

    • Mei 27, 2009 11:58 PM

      Kalau sebagian dari kita tidak mengerti alam pikiran PKS, itu wajar. Apalagi kalau bukan anggota, kader atau simpatisan.
      Ngomong-ngomong, apa ya definisi analisis kapitalis?

  4. mf amin fauzi permalink
    Juni 18, 2009 10:14 AM

    arogansi yang di bangun oleh SBY sangat ‘rakus kekuasaan’. terbukti SBY hanya ingin membelikan citra yang baik untuk dirinya saja, juga demokrat sendiri. memilih budiyono seperti yang sudah diketahui oleh kita semua, memberikan peluang neolib dan kapitalisme amerika untuk masuk secara dominan di negara Indonesia. 5 tahun kekuasaan SBY menyiratkan gerakan sesuai janjinya, ‘memperkecil angka pengangguran’ tanpa memperkecil angka kemiskinan. ini sama saja memberikan investasi luar negeri sebesar2nya, sementara bangsa kita tetap menjadi buruh2 kecil. walaupun sudah tidak menganggur tapi, tetap saja miskin.

    konflik ‘perang dingin’ yang terjadi antara SBY dan Jk adalah potret dimana SBY tidak mumpuni untuk memanage hubungan. belum lagi ditambah dengan pertarungan golkar vs demokrat soal lapak projek APBN maupun APBN.

    • Arga Samudro permalink
      Juli 10, 2009 5:29 PM

      sudah lama saya menahan diri untuk tidak berkomentar mengenai ketidaksimetrisan informasi ini, tapi lama2 kok tidak sabar juga.

      pertama, coba kita jernihkan segala hujatan atas nama setangkai ideologi tertentu. karena dalam bentuk dunia yang sangat tidak bebas nilai, ideologi merupakan sistem yang tidak lepas dari asumsi-asumsi serta ruang lingkup pelaku-pelaku kehidupan masyarakat pada saat paham itu dianut.
      maksudnya, tidak ada yang benar2 kanan atau kiri. yang ada hanya kepentingan pragmatis yang mencekram calon korban dengan memakai topeng kanan atau kiri. cuman kan yang sekarag lebih laku topeng kanan semenjak runtuhnya Uni sovyet.
      saya sangat yakin pak Boed percaya akan hal ini. itulah sebabnya dia selalu tidak cocok dengan kebijakan liberalisasi naif ala marie elka pngestu yang selalu taat aturan WTO walaupun merugikan negara kita. pada rapat2 koordinasi pun pak Boed yang selalu menjadi penentang bagi derasnya barang2 dumping membanjiri industri kita seperti baja misalnya. contoh kecil ini (yang menurut saya mungkin signifikan) merupakan sisi lain yang bisa jadi penyanggah bagi kaum fatalis picisan (istilah saya menggambarkan orang yang terlampau sinis terhadap ideologi tertentu tanpa mengerti benar esensi ideologi tersebut dan memegang sampai mati ideologi yang dia anut walaupun sebetulnya ideologinya tidak worth it amad untuk dibawa sampai mati) yang menjudge pak boed sebagai antek2 neolib..

      kedua, konsep neolib atau kerakyatan mungkin hanya akan menjadi konsumsi politik elit saja. selama angkatan kerja kita hanya 3% yang mengecap S1 dari total (mohon maaf untuk simplifikasi bukan maksud merendahkan lulusan sd-sma). maka boleh dibilang secara kasar rakyat tidak akan merespon secara berlebihan dibanding jika diisukan kalau pak Boed jadi wapres, maka harga minyak kita akan naik misalnya. grass root lebih butuh riil, dan mereka sudah punya pilihan sendiri sebelum 8 juli. dan buktinya sudah dapat dilihat di quick count yang hasilnya sperti sudah diperkirakan.

      3. terakhir, sebetulnya saling mengecam neolib atau saling mengklaim kerakyatan adalah bukti dari masih gagalnya indonesia dalam membentuk ideologi yang tidak banci. kenapa saya bilang banci karena satu sisi filosofi perekonomian kita adalah sosialisme UUD45, sisi lain kebutuhan untuk diakuinya persaingan juga dianut oleh kitab UU hukum perdata warisan belanda. kalau kita sudah sampai pada tahap menyerupai AS…maka so pasti neolib vs kerakyatan its gona be irrelavant anymore.

      makanya tugas generasi kita sebenarnya (sekarang usia 20-30) untuk kembali menegaskan apa sih ideologi bangsa ini???? pancasila? itu lebih banci lagi…

      • Maret 6, 2010 5:44 PM

        alasan utama SBY memilih Boediono adalah karena Boediono telah membantu membiayai SBY dalam pemilu.

    • Juli 10, 2009 6:23 PM

      Kenapa Pancasila dibilang banci?
      Alangkah baiknya suatu ideologi yang merangkul seluruh cara pandang beragam yang terdapat di bumi Nusantara ini.

      Alangkah baik pula bila memang benar Boediono melakukan usaha-usaha untuk menghambat masuknya barang-barang asing seperti yang mas Arga bilang. Baik pula bila kita bisa lihat di pemberitaan atau sumber yang terpercaya mengenai perjuangan baik Boediono tersebut. Jadi mohon berikan link atau sumber lain yang menunjukkan hal tersebut.

      On the matter of “neolib vs kerakyatan” being irrelevant, it will be relevant as long as the “trickle down effect” of the current form of market-based economic system is in place. As long as the top tier of society gets 80% of the income pie, the mid tier 15% and the bottom tier gets 5% of the trickled income pie, it will be relevant.
      What is sad and “banci” is the way we intellectuals and politically awake members of this great nation falls into the trap of ineffective debate and discussion-our somatic drug which lulls us into a state of inaction, skulduggery, and intellectual wankery-which we seem to be doing right now.

      The system which was brought in place by our founding fathers were made with great debate and care. It was meant to build us into a strong nation with strong character. But alas, we have fallen to the geopolitical machinations of the global powers-that-be.
      None of the candidates were free from this clutch. Not even Boediono.

      So until we are truly free, let those who wish to indulge in critique before thoughtcrime and doublethink become the norm, do so. You could also do the same. And it would be of weight if you would consistently do so in a blog and not in some spuriously wonky reply to an article.

    • Juli 10, 2009 10:08 PM

      Saya lebih cenderung untuk hanya membalas 50 komentar pertama atau komentar-komentar yang saya kira saya “terusik”… 🙂
      Sdr Arga Samudro yang baik,
      Sebelum berbicara jauh tentang ideologi Pancasila, saya bertanya Sila apa yang menjadi “banci”?
      Apakah Tuhan banci?
      Apakah Kemanusian itu banci?
      Apakah semangat persatuan itu banci?
      Apakah demokrasi dengan musyawarah sudah absolescent?
      Apakah keadilan bagi seluruh rakyat adalah banci?
      Atau sebaliknya? Keadilan seperti apa yang Anda katakan sebagai manful bukan sissy?
      —–
      Tidak ada suatu negara yang 100% sosialis begitu juga 100% neoliberalis. Yang ada adalah <bkecenderungan.
      Setiap orang memiliki kebebasan untuk survive, untuk berkembang, namun kita tidak hidup sendiri. Prinsip-prinsip kemanusiaan dan berkeadilan yang tersirat dalam sila-2 dan sila-3 menjadi “malaikat” penyeimbang. Itulah fungsi negara. Negara harus mengayomi rakyatnya. Begitu pula perlu adanya hukum dan aturan karena memberi hak dan kewajiban yang wajar, sekaligus menghindari adanya penggunaan hak yang berlebihan. Inilah moral message yang terkandung ideologi kita.
      Sosialisme atau neoliberalisme hanyalah sebuah “kata”, namun yang jauh lebih utama adalah dampak dan manfaatnya. Demi melindungi negara kita yang belum sepenuhnya “terbebas”, maka menjadi tanggungjawab negara beserta rakyatnya untuk saling bahu membahu meningkatkan “kualitas” manusia itu sendiri.
      Pesan untuk menitipkan aset-aset dan sektor strategis/vital seperti dalam UUD 1945, merupakan langkah negara melindungi warga negara.
      Disisi lain, pemerintah tetap memberikan ruang yang bebas kepada “bisnis pribadi” seperti tertuang dalam pasal Peralihan UUD 1945.
      Dan perlu kita lihat, pasca krisis finansial 2008, sudah berapa negara yang sudah mulai menerapkan sistem “banci” ini ke sistem keuangan mereka?
      Bagaimana Kevin Rudd di benua Kangguru dan Barack Husein Obama dari Paman Sam menerapkan kebijakan “proteksi” ala sosialisme disisi lain memberi kebebasan berusaha bagi perusahaannnya. Meski tidak sepenuhnya “berideologi Ekonomi Gotong Royong”, tapi setidaknya mereka sudah “realize”.
      Apakah mereka banci juga?…………

  5. Juni 25, 2009 6:07 PM

    ayo pilih presiden yg tidak cuman bisa pidato doank, tapi bisa mengaplikasikan apa yg di-misi-kan kedalam kehidupan nyata. bosan kami dengan jargon, pidato, upacara, sandiwara, nasehat yg cuman bisa ditonton doank tanpa hasil di dunia nyata.

    juga Jangan Kelamaan kalo bikin keputusan, keburu kabur dah kayak si djoko tjandra, atau keburu basi, atau malah keburu lupa tuh….. jadi numpuk deh masalah.

    lanjuuut maaaang………merdeka!

  6. satya permalink
    Juli 8, 2009 9:33 PM

    Inti dari neolib adalah kebebasan individu dan siapa yg mau menolak kebebasan ? Kita mendambakan kebebasan berusaha,kebesasn atas penjajahan,kebebasan dari kekangan negara dan kebebasan lain.Artinya liberal (kebebasan) adalah sifat hakiki manusia. Ga ada satu manusia pun yang tidak ingin bebas. Apakah itu di lapangan politik maupun di lapangan ekonomi.
    Di indonesia ekonomi liberal dianggap buruk.mulai dari bung karno dan founding fathers mengecam liberalisme. Dan liberalisme seolah-olah jadi kata haram seperti orba mengharamkan komunisme sampai anda betul2 ga mau dekat denagn komunisme …begitu juga liberalisme..di negara sosialis komunis dimusuhi..liberalisem juga dihujat…padahal kalu kita lihat lebih dalam..liberalisme adalah paham yang ,menjunjjung kebebasan individu ..salah satunya adalah HAM yang sering anda,saya dengung-dengungkan itu..itu adalah ciri liberalisme….
    saya lebih setuju dengan peran pemerintah terbatas (neoliberalisme ) . alasannya adalah karena sistem itu bisa memberi manfaat banyak pada orang2.dan negara seringkali mengatasnamakan untuk kepentingan rakyat.padahal siapa yg bisa mendefenisikan kepntingan rakyat itu sama dengan kepentingan negara ?. Adam smith berkata :kalau seorang mementingkan dirinya maka secara tak lansung membawa kepentingan publik. Karena ada kompetisi . Hebatnya dalam sistem pasar bebas.ketika anda makan roti,anda ga pernah berpikir apakah gandumnya atau berasnya ditumbuk oleh orang komunis,fasis,fundamantalis,pasar membuatnya tidak lagi relevan. Ekonomi pasar tidak menguntungkan bisnis besar karena ada kompetisi.
    Disni di ditekankan perlu adanya lingkungan yg bebas dari campur tangan negara yang memberi peluang untuk berarya dan mengembangkan inisiatif pribadi.
    Misalanya dalam sebuah perusahaan terdiri dari 2 pekerja yang satu bernama A dan yg satu B..dalam sistem sosialis,maka seberapa besar kerja keduanya gajinya akan tetap sama.sehingga mereka tidak ada gairah kreativitas .sedangkan dalam sistem neolib siapa yang yang lebih banyak kerja akan digaji besar pula sehingga ada motivasi berprestasi.
    Contoh salah kaprahnya intervensi negara adalah di negara polandia yang peemrintahnya pada saat itu melakukan kontrol harga terhadap barang2 publik. Bukannya malah stabil ,malah produsen ga punya insentif untuk memperoduksi barang karena toh harganya sudah dipatok pememrintah.sehingga karena malas berproduksi membuat barang2 langka.dan harga melonjak dan pasar gelap dan ekspor ke luar negeri marak. Ini adalah gambaran bahwa intervensi pememrintah bukan yang terbaik..
    Mekanisme pasar tidak menihilkan peran pememrintah.Pemerintah justru harus berperan menjaga dan membuat reguasi untuk pasar tetap kompetitif dan mengurangi distorsi pasar yang tidak sempurna..Dalam mekanisme pasar,adil dimaknai sebagai “proper” dan bukan “equal”, Kalau anda kerja banyak maka gaji anda juga banyak.berbeda dengan sosialis komunis dmn kerja banyak ya gaji tetap sama.sehingga tidak ada produktivitas. Jadi ekonomi harus diserahkan pada mekanisme pasar sehingga harga2 ditentukan oelh supply and demand sehingga menguntungkan bagi konsumen..jangan2 kita bukan menolak IDEOLOGINYA ..tapi hanya karena kita GA SIAP dan GA BERANI BERSAING..iya kan ?

    • callighan permalink
      Juli 8, 2009 9:51 PM

      Inti dari neolib adalah kebebasan individu untuk tetap mengkonsumsi barang produksi dan tidak menyimpan uang. Inti dari neolib adalah kenaikan kemakmuran dengan cara kenaikan pendapatan sampai bermultiply dengan catatan dinikmati strata atas yang sisanya akan trickle down ke bawah. Inti dari neolib adalah kemakmuran melalui konsumerisme yang membius kemanusiaan.
      Pernah baca Brave New World karya Aldous Huxley?

  7. Ali permalink
    Juli 9, 2009 1:09 PM

    SEMOGA INDONESIA AMAN, TENTRAM DAN DAMAI SELALU, TANPA LIBERALISME DAN KOMUNISME !

  8. mf. amin fauzi permalink
    Juli 12, 2009 6:42 AM

    mau boediyono atau srimulyani, yang jelas mereka tidak punya bargain apa2 kepada SBY, kecuali karena mereka wakil (baca; sales marketing/ broker/ pialang) IMF di Indonesia. terserah mau percaya atau tidak kpd IMF. yg jelas gue kagak percaya sama IMF. go to hell IMF!!!

  9. mf. amin fauzi permalink
    Juli 12, 2009 6:44 AM

    demi Allah, dzat yg maha agung. IMF itu ahli mencuri uang rakyat!!!

  10. huang belang permalink
    Oktober 21, 2009 8:56 AM

    seorang pemimpin telah diberikan untuk kita, berilah kesempatan bagi dia sekalai lagi untuk membuktikan kemampuannya, belajarlah sportif karena tanpa dukungan kita semua roda pemerintahan ini tidak akan berjalan sempurna…..

  11. Januari 31, 2010 12:11 AM

    Semua butuh proses… Apalagi untuk negara yang memang sangat besar, dengan jumlah penduduk yang kaya…ditambah dengan permasalahan yang turun menurun… Saya mendukung SBY beserta boediono walaupun beliau tengah menghadapi suatu masalah… tanpa mengurangi rasa hormat saya kepada kawan” yang berlainan pendapat… Jadi TUHAN telah memilihkan kita seorang pemimpin, marilah kita bersama” memberikan ide dan dukungan kepada beliau untuk mempertahankan pondasi kepemimpinan di Indonesia…

    Salam sejahtera sahabat” se-Nusantara yang cinta damai..

    DAMAI = INDONESIA… BUKTIKAN!!!

  12. Riyan permalink
    Februari 18, 2010 1:20 PM

    berjuanglah sby untuk menjadikan negara indonesia negara yang di berkahi sebagaimana yang di janjika Allah dalam dalam Al-qur’an.

    jangan menjadi pemimpin yang khinayat dan tidak bertanggung jawab

  13. Maret 6, 2010 5:52 PM

    saat ini siapa yang masih berharap SBY bisa diberkahi oleh tuhan sehingga rakyat Indonesia masih bisa jaya?

  14. Ian permalink
    Maret 7, 2010 12:27 AM

    itu kan untuk menggiring opini masyarakat… namun ada sesuatu kelicikan dibalik itu semua..
    Budiono dipilih karena budiono berperan besar dalam mengcurkan dana bailout 6.7 T yang dipergunakan untuk dana kampanye PD… bener kan??????????????

Trackbacks

  1. 12 Peristiwa Penting & Populer 2009 di Nusantara « Nusantaraku

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: