Skip to content

Inilah Politik : Yoyo vs Gasing Berkoalisi dari Lawan Jadi Kawan

Mei 12, 2009

Dari Poco-Poco hingga Yoyo dan Gasing

Belum genap 1 tahun perang kata antara  kubu Megawati vs kubu SBY yang terkenal dengan istilah “Yoyo” vs “Gasing” menjadi konsumsi publik. Dalam Rakernas PDIP di Solo Januari 2009, Megawati mengatakan kebijakan pemerintah SBY seperti yoyo. Megawati berkata : “Pemerintah telah menjadikan rakyat seperti permainan, yaitu yoyo yang terlempar ke sana kemari. Kelihatannya indah, tetapi pada dasarnya membuat rakyat tak menentu hidupnya.” Pernyataan Megawati langsung dibalas SBYdengan sebuah Pantun yang intinya “Bu Mega harusnya mengaca dulu” di Jawa Timur. Dan secara terbuka, petinggi Demokrat seperti Sutan Bathoegana pun mengatakanIya, tapi, permainan `yoyo` itu jauh lebih baik ketimbang Pemerintahan Megawati pada masa lalu yang saya umpamakan seperti permainan `gasing`. Kan `yoyo` naik turun, sedangkan `gasing` berputar-putar saja di tempat, malah melobangi tanah hingga rusak”.

Sebelum pada tahun 2007, SBY dan Mega juga menarik perhatian publik dengan perang kata “Pemerintah SBY seperti Poco-Poco“, “Tebar Pesona“, “Jangan hanya bisa mengkritik, wong orang kerja keras.” Begitu juga balas membalas di iklan segede gajah tentang “Naik dan Turun” serta ditutup menjelang Pemilu dengan perang kata “BLT“. Belum lagi Megawati mengatakan SBY menikamnya dari belakang disisi lain SBY mengatakan dirinya terzalimi ketika Pilpres 2004.  Itulah perang antara dua tokoh sentral yang mempengaruhi persepsi publik dan menyita perhatian yang besar dari masyarakat.  Dan parahnya, sebagian masyarakat yang selalu mengaku cerdas terseret arus perang kata untuk mencapai ambisi kekuasaan.

SBY-Mega

Episode 1: SBY-Mega (inilah.com)


Tidak Ada Lawan dan Kawan Abadi

Perang kata dua tokoh ini mungkin akan segera berakhir di periode singkat ini atau untuk 5 tahun kedepan. Ini dikarenakan kubu SBY dan Mega sudah berusaha mengikat jalinan cinta untuk Pilpres 2009 seraya menghadang kubu JK-Win. Saya katakan singkat, karena dari gelagat politik di negeri masih menerapkan prinsip “yang penting berkuasa, tidak ada kata lawan atau kawan yang abadi, yang penting kekuasaan dan kepentinganlah yang abadi“. Ini telah dibuktikan melalui perjalanan

Capres SBY

Capres SBY

politik bangsa ini sejak pasca reformasi. Dimana awalnya Gusdur-Mega berselisih namun karena kepentingan akhirnya mendekat dan bersahabat. Bagaimana Amien Rais menjagokan Gusdur menjadi Presiden, lalu dicampakkan dan dipecat. Bagaimana Amien Rais dalam berbagai dialog dan buku dengan tebal lebih 300 halaman mengkritik “SBY-JK-Mega” merupakan tokoh yang tidak membawa perubahan, kapitalis dan entah apalagi, kini mendekat SBY karena chance SBY menang cukup besar.  Begitu juga begitu mesranya SBY-JK maju dalam pilpres 2004 menghadang Mega-Hasyim, lalu kini terjadi perang kata, saling klaim keberhasilan, saling mengejek.

Kini semuanya berubah hampir 180 derajat, yang dulu lawan kini jadi kawan, begitu sebaliknya yang dulu kawan kini menjadi lawan. Dulu mereka seperti burung jalak dan kerbau dengan simbiosis mutualismenya dan kini bak benalu dengan inangnya dengan simbiosis parasitisme. Inilah politik anak negeri yang sulit dipegang lidahnya, dan memang lidah itu lincah dan tidak bertulang. Sehingga masyarakat mestinya jangan begitu mudah mendengar janji dari lidah-lidah yang tidak bertulang dari para politisi meskipun ia adalah seorang Presiden ataupun Ketua Partai. Yang bisa kita pegang janji adalah ketidakpastian dari janji mereka.

******

Politik itu Berubah Cepat bak Kilat

Beberapa hari menjelang pengumuman hasil Pemilu yakni 1 Mei 2009, PDIP-Golkar-Gerindra-Hanura bersama beberapa partai kecil menandatangani kesepakatan koalisi besar yakni koalisi di parlemen. Dengan begitu percaya diri Megawati meyakini bahwa : kesepakatan yang telah terbangun di antara partai-partai itu bukan sekadar koalisi untuk kepentingan politik jangka pendek semata. Sekali lagi kita catat kata Bu Mega “bukan untuk jangka pendek semata”.

Namun, apa yang terjadi semingguan kemudian?

Ketika Hatta Radjasa bertandang ke rumah Megawati pada 6 Mei 2009 membawa misi “Istana Negara”, terungkaplah bahwa ada tawaran politik dari Kubu SBY kepada kubu Megawati. Dari kubu PDIP mengungkapkan bahwa ada tawaran kursi kekuasaan periode 2009-2004 yakni Ketua Wantimpres SBY (untuk Megawati) +  Ketua MPR-RI (u: Taufik Kiemas) +6 kursi menteri (u: kader PDIP), sehingga dengan tawaran kue kekuasaan ini, Koalisi Besar yang diusung 4 partai berada di ujung tanduk kehancuran. Dengan membawa nama Boediono sebagai Cawapres yang mewakili PDIP, untuk mendampingi Demokrat, maka janji dan kesepakatan koalisi besar untuk kekuasaan rupanya dapat diubah dan dibeli dengan kekuasaan juga. Kata-kata Megawati “koalisi yang buka untuk jangka pendek semata” menjadi usang dan kadaluarsa atau bisa dikatakan statement yang sudah membusuk

Megawati

Megawati

Yang menariknya adalah PDIP kini berusaha keluar dari kesepakatan Koalisi Besar yang awalnya sebagai koalisi untuk membendung “koalisi Lanjutkan”, namun kini justru mendekati “Koalisi Lanjutkan”. Komunikasi politik baru ini tentunya akan melukai partai koalisi besar lainnya yakni Golkar, Hanura, dan Gerindra. Hal ini juga dikarenakan koalisi besar hanya lebih mementingkan kepentingan kekuasaan semata, bukan kepentingan rakyat. Setelah JK-Win mendeklarasikan Capres-Cawapres, maka PDIP menjadi goyah, lemah, dan tidak berdaya tatkala Prabowo menginginkan tiket Capres bukan Cawapres. Deadlock kesepatakan PDIP-Gerindra inilah yang akhirnya dimanfaatkan oleh Demokrat melalui pancingan “Emang loe, gak capek jadi oposisi. Ayo gabunglah dengan kami, lawan JK-Win. Jika kita menang, loe gue kasih kursi Wantimpres, MPR RI, dan 6 kursi menteri….Ayo pikirkan. Lupakanlah ambisi koalisi besar.” Yah itulah lebih kurang inti dari tawaran politik dengan menggunakan istilah komunikasi politik.

******

Jalinan Cinta Yoyo dan Gasing

Tanggal 6 Mei 2009 menjadi hari bersejarah antara kubu ‘Yoyo’ (SBY) dan kubu ‘Gasing’ (Mega). Karena ada tawaran kursi kekuasaan yang dibawa oleh Hatta Radjasa, maka beberapa kemudian terjadi gerakan politik “bawah tanah” yang begitu cepat sehingga media massa tidak dapat mengejarnya. Secara sembunyi-sembunyi disebutkan bahwa terjadi pertemuan antara Taufik Kiemas (TK) dengan SBY di Bogor pada 7 Mei 2009. Meskipun berusaha ditutup-tutupin, rupanya gerakan mereka akhirnya tercium. Pertemuan antara petinggi “Yoyo” dan “Gasing” sudah dilakukan beberapa kali hingga tanggal 11 Mei 2009.

Baik dari kubu “Yoyo” maupun “Gasing” mengaku sedang melakukan pdkt untuk melangsungkan perkawinan ‘indah”. Secara terbuka SBY membuka keinginan untuk berkoalisi dengan PDIP pada 10 Mei 2009. Sehingga SBY mengurungkan niatnya untuk mengumumkan Cawapresnya pada tanggal 11 Mei 2009, tanggal yang ditunggu-tunggu oleh ratusan juta mata. SBY mengundurkan niatnya hingga tanggal 15 Mei 2009, tentu ada misi-misi tertentu.

Ketum Demokrat Hadi Utomo pun secara terbuka menyampaikan bahwa telah terjalin komunikasi yang intens antara Demokrat dan PDIP :

“Soal komunikasi dan lobi-lobi koalisi itu memang saat ini yang sedang kami laksanakan, dengan parpol manapun. Namanya juga kan pendekatan, bahwa menjalin silaturahmi itu kan tak mudah. Kalau pun nanti jika koalisi antara Demokrat dengan PDIP terwujud, pada dasarnya kami menginginkan koalisi yang sifatnya permanen,” kata Ketua Umum PD Hadi Utomo. (lihat sumber)
“Tak ada musuh yang abadi. Tak ada kawan yang abadi, tak ada lawan yang abadi dalam berpolitik. Kalau kami melakukan kunjungan politik, tujuannya untuk kepentingan bangsa bukan kepentingan pribadi,” kata Hadi Utomo. (lihat sumber)

Dan bahkan komunikasi politik malu-malu kucing antara Yoyo dan Gasing telah mencapai 70% tertanggal 9 Mei 2009 seperti disampaikan Ketua DPP PD Ruhut Sitompul

Pembicaraan tentang koalisi dengan PDIP sudah mencapai 70%. Dari PDIP masih harus ada menyelesaikan urusan internalnya dulu. Ya kita tunggu saja,” ungkap Ruhut Sitompul. (lihat sumber)

******

Jalinan Cinta atau ??

Meskipun akan kemungkinan merapatnya PDIP ke Demokrat karena PDIP lelah membentuk koalisi yang mana  popularitas Megawati masih jauh dibawah SBY, maka timbul sejumlah pertanyaan besar. Apakah koalisi baru PDIP-Demokrat ini tidak mengobok-obok Koalisi Besar dan Koalisi yang telah terjalin antara Demokrat-PKS-PKB-PAN yang telah mengajukan para cawapresnya? Bagaimana perasaan PKS yang memiliki 59 kursi berbanding 93 kursi PDIP, padahal selama ini PKS dan PDIP berbeda haluan? Namun, yang pasti jawabannya adalah “mereka semua sama-sama menginginkan kekuasaan”.

Dalam pandangan saya, ajakan Demokrat agar PDIP merapat ke SBY merupakan salah satu langkah [langkah 1] dari upaya membendung majunya JK sebagai Capres. Hal ini terkait hasil survei terbaru LRI di 33 provinsi dengan jumlah responden 2.066 orang dengan menggunakan teknik sampling dan kuesioner terstruktur dimana angka JK tidak jauh berbeda dengan SBY yakni:

  1. SBY-HNW memperoleh dukungan 36,2%,
  2. Jusuf Kalla-Wiranto 27,6%
  3. Megawati-Prabowo 19,1%
  4. 17,1% responden belum menentukan pilihan. (lihat sumber)

Langkah lainnya [langkah 2] adalah pengunduran SBY mengumumkan cawapresnya yang harusnya dilakukan pada 11 Mei kemarin, namun diundur hingga 15 Mei 2009. Ini merupakan salah trik SBY untuk menguji seraya mencegah niat partai pendukung koalisi SBY bergabung ke kubu Prabowo Subianto. Kalau diumumkan 11 Mei dapat menimbulkan ketidakpuasan mitra koalisi Demokrat yang namanya Cawapresnya tidak dipilih SBY. PKS, PKB, PAN, sama-sama mengajukan kader-kader terbaiknya untuk dipilih SBY. Jika pada 11 Mei wakilnya tidak terpilih, maka ada kesempatan   Prabowo menjalin mitra terutama PAN dan PPP yang mendukung pencapresan Prabowo.

Jadi, gerakan koalisi PDIP yang merapat ke Demokrat tidak hanya agenda kekuasaan semata untuk PDIP, namun salah satu langkah strategis SBY membendung langkah JK dan langkah Prabowo. Disisi lain, tentu sebagian pendukung SBY akan kecewa karena menerima kubu Megawati (kemungkinan Boediono) yang selama ini berbeda haluan dan mengkritik kubu Mega sebagai “penjual aset negara”. Disisi lain, sebagian pendukung PDIP akan kecewa karena bu Mega akan masuk ke prabon dan hanya menebar janji politik. Jika Boediono terpilih sebagai Cawapres SBY yang mewakili kepentingan PDIP, maka bukan tidak mungkin PKS dan PAN akan berang. Dan harusnya PKS dan PAN harus jeli dan cekatan membaca perkembangan politik, namun disisi lain mereka tidak bisa berbuat apa-apa, cuman bisa “menyodorkan nama cawapres” seperti melalui amplop “rahasia”.

Namun yang mungkin menurut saya adalah koalisi Yoyo atau Gasing bisa terjadi, karena politik itu adalah mencari kekuasaan dan kepentingan abadi. Maaf, bukan mencari kawan abadi. Yang pasti para politisi akan beralasan dengan selalu menyebut  atas nama rakyat “koalisi ini semata-mata untuk kepentingan rakyat, bangsa dan negara“.  Kita tunggu, pengumuman cawapres SBY pada 15 Mei 2009? Akankah gasing dan yoyo berjalan bersama? Bagaimana pula posisi PKS dan PAN?

Salam Perubahan,
12 Mei 2009, ech-nusantaraku

21 Komentar leave one →
  1. Mei 13, 2009 1:26 PM

    Sebuah analisis yang “cantik”. Moga beliau nggak salah pilih. Soalnya, “ular bisa mengalahkan elang jika ia berhasil masuk ke sarang elang dengan diam-diam dan mematuk elang di kala ia lengah”. Salam.

  2. Mei 14, 2009 10:36 AM

    lumayan kecewa dengan sikap demokrat yang seperti itu..
    mungkin kemaren saya terlalu berharap tinggi dengan SBY (dan HNW)..

    kok seperti jadi permainan orang demokrat ya,
    seperti main tebak2an “hayooo, siapa wakil gw….???”

    entahlah, wallohualam..
    semoga Alloh memperbaiki nasib bangsa ini ^^x

  3. Mei 19, 2009 6:49 PM

    Skr pasangan dah jelas: SBY ber Boedi, JKWin, MegaPro…. Nah, pasangan ini jgn jadi tertawaan rakyat karena PeeR kalian sungguh teramuaaaaat beruaaaaat…..!
    Kembalikan uang rakyat dari akibat kasus BLBI. Ok!?

    Nah, buktikan, bagi yang mengaku Poetra-poetra Terbaik Bangsa….! :)0

  4. edward Toga permalink
    Maret 11, 2010 9:32 AM

    Saya pikir SBY tidaklah berpikir panjang, ia cuman mikirin kemajuan partai nya DEmokrat, ia tidak mau atau tidak ingin melihat rakyatnya yang semakin menderita,
    Kalo rakyat bisa lepas dari penderitaan maka partai Demokrat bisa maju (tapi ini hanya mimpi)
    karena SBY hanya mikirin partainya aja

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: