Skip to content

Pada Dasarnya, Dia Mungkin Orang yang Sangat Baik

Mei 11, 2009

Menyambung serial “Kisah Mengugah Hati : Bocah 6 Tahun Rawat Papanya yang Lumpuh“, ini merupakan sebuah artikel yang saya peroleh pada bulan Februari 2009 silam dari seorang rekan. Mungkin sebagian netter sudah pernah membaca tulisan ini via email atau komunitas tertentu. Untuk memberi tulisan yang berimbang tidak semata-mata menguras pikiran, namun perlu juga tulisan menguras “hati” seperti tulisan sebelum ini Cermin Hati : Cermin bukan Hati, Hati bukan Cermin.

***********

Pada Dasarnya Dia Mungkin Orang Baik

Beberapa bulan yang lalu di meja pemesanan kamar di sebuah hotel, saya melihat suatu kejadian yang menarik, bagaimana seseorang menghadapi orang yang penuh emosi. Saat itu pukul 17.00 lebih sedikit, dan hotel sibuk mendaftartamu-tamu yang baru datang. Orang yang persis di depan saya memberikan namanya kepada pegawai di belakang meja dengan nada memerintah..

Pegawai tersebut berkata, “Ya, Tuan, kami sediakan satu kamar ‘single’ untuk Anda.”

Single?!” bentak orang itu. “Saya memesan double!”

Pegawai tersebut berkata dengan sopan, “Coba saya periksa sebentar.”

Ia menarik permintaan pesanan tamu dari arsip dan berkata, “Maaf, Tuan. Telegram Anda menyebutkan single. Saya akan senang sekali menempatkan Anda di kamar double, kalau memang ada, tetapi semua kamar double sudah penuh.”

Tamu yang berang itu berkata, “Saya tidak perduli apa bunyikertas itu, saya mau kamar double.

Kemudian ia mulai bersikap ‘Anda-tahu-siapa- saya’ lalu berkata, “Saya akan usahakan agar Anda di pecat. Anda lihat nanti..Saya akan buat Anda di pecat.”

Di bawah serangan gencar, pegawai muda tersebut menyela,”Tuan, kami menyesal sekali, tetapi kami bertindak berdasarkan instruksi Anda.

Akhirnya, sang tamu yang benar-benar marah itu berkata,”Saya tidak akan mau tinggal di kamar yang terbagus di hotel ini sekarang, manajemennya benar-benar buruk.”  Lalu ia pun pergi keluar.

Saya menghampiri meja penerimaan tamu sambil berpikir, si pegawai pasti marah setelah baru saja dimarahi habis-habisan. Namun sebaliknya, ia menyambut semua dengan salam yang ramah sekali, “Selamat malam, Tuan.”

Ketika ia mengerjakan hal yang rutin, yaitu mengatur kamar untuk saya, saya berkata kepadanya, “Saya mengagumi cara Andamengendalikan diri tadi. Anda benar-benar sabar.”

Ya, Tuan” katanya. “Saya tidak dapat marah kepada orang seperti itu. Anda lihat, dia sebenarnya bukan marah kepada saya. Saya cuma korban pelampiasan kemarahannya. Orang yang malang tadi mungkin baru saja ribut dengan isterinya, atau bisnisnya mungkin sedang lesu,atau barang kali dia merasa rendah diri, dan ini adalah peluang emasnya untuk melampiaskan kekesalannya. “

Pegawai tadi menambahkan, “Pada dasarnya dia mungkin orang yang sangat baik. Kebanyakan orang begitu.”

Sambil melangkah menuju lift, saya mengulang-ulang perkataannya, “Pada dasarnya dia mungkin orang yang sangat baik. Kebanyakan orang begitu.”

***********

Saya tidak dapat marah kepada orang seperti itu. Anda lihat, dia sebenarnya bukan marah kepada saya. Saya cuma korban pelampiasan kemarahannya. Orang yang malang tadi mungkin baru saja ribut dengan isterinya, atau bisnisnya mungkin sedang lesu,atau barang kali dia merasa rendah diri, dan ini adalah peluang emasnya untuk melampiaskan kekesalannya… Pada dasarnya dia mungkin orang yang sangat baik. Kebanyakan orang begitu. “First Lesson

Sepenggal cerita diatas mungkin hanya menjadi cerita bagaimana sabarnya si pelayan hotel tersebut. Namun ada sisi lain yang menurut hemat saya kesabaran pelayaan hotel tersebut melebihi kesabaran kovensional yang umumnya kita kenal dan lakukan. Sebelum membahas lebih lanjut, saya akan membagi  2 jenis kesabaran menurut landasannya yakni dengan istilah:

  1. Kesabaran yang semu [palsu]
  2. Kesabaran yang sadar [sejati]

*****

1. Kesabaran Semu

Jenis pertama yakni kesabaran semu merupakan kesabaran yang muncul (dilakukan) karena mencoba untuk menentramkan suasana, mengalah atau kepasrahan disisi lain muncul depresi batin/perasaan. Depresi batin ini dapat berupa perasaan tersiksa, jengkel, marah, dendam, benci atau frustasi. Meskipun pahit/sakit, mereka yang bersabar dalam konteks ini muncul dari pemahaman bahwa mereka harus melakukan ini untuk kebaikan diri sendiri, mendapat pahala, atau setidaknya “jaim” (jaga image). Namun, kesabaran jenis ini sangatlah rapuh. Akumulasi depresi yang muncul karena menahan sabar jenis ini akan semakin membesar dan pada akhirnya ia [depresi] energi depresi akan kita tumpahkan kepada orang lain, kepada benda lain.  Sehingga, kesabaran jenis ini seperti pegas/bumper semata, ia akan meneruskannya energi depresi kesabaran ini kepada orang/benda lain. Inilah kesabaran palsu atau topeng.

Ada banyak contoh dan mungkin sering kita praktikkan kategori kesabaran yang pertama ini. Sebagai contoh : kita dimarah oleh guru/bos karena kesalahan kecil (atau bahkan disalahkan tanpa alasan), lalu kita pura-pura serius dan senyum menerima cercaannya. Namun, didalam lubuk hati kita terjadi perang pemikiran, pertempuran perasaan. Kita berpikir “Kok, aku kesalahan kecil dibesar-besarkan… Bos ini kurang asam. Mengapa ini dan itu….dst“. Lalu, perasaan tersebut kita pendam, sehari, 2 hari atau sebulan. Keessokannya datang lagi permasalahan dimana kita berusaha sabar, namun disisi lain kita terus menimbun depresi kesabaran ini. Dan datanglah hari/kondisi tepat, maka akumulasi depresi ini sangat mungkin kita buang/limpahkan kepada orang rumah jika tidak bawahan kita. Bawahan kita juga mungkin mengalami hal yang sama dengan diri kita, lalu ia pendam kemudian ia limpahkan kepada anaknya dan seterunya. Lalu, kapankah kontinuitas energi akan musnah?

*****

2. Kesabaran Sejati

Jenis kedua yakni kesabaran yang sejati [sadar]. Penggunaan kata sadar atau sejati disini karena kesabaran yang muncul dari jenis kedua ini bukan untuk menekan diri agar berhasil, jaim atau sejenisnya, namun atas dasar “kebangkitan/awakening/kesadaran” realitas yang sesungguhnya.  Ia sabar karena memahami realitas sesungguhnya. Ia sabar dari jiwa kasih yang sedang tumbuh dan dari pandangan yang benar. Kesabaran pemahaman realitas ini tidak memunculkan depresi, namun sebaliknya akan menimbun mental-mental positif.

Berbeda dengan kesabaran jenis pertama, jenis kedua menjadi tempat menetralkan “racun-racun” depresi dari mental-mental negatif pihak lain baik karena depresi kesabaran maupun depresi mental lainnya. Kontinuitas energi depresi yang jenis pertama akan dapat “dimusnahkan” dengan energi pengertian dan kasih yang muncul dari praktik kesabaran sejati (sadar). Orang yang sadar dan memiliki pengertian ketiak menerima marah, cacian dan sebagainya, ia akan berintropeksi sekaligus berusaha memahami kondisi yang mungkin pada subjek [pemarah, pencaci tsb]. Didalam pemikiran orang yang sabar jenis kedua ini adalah berpikir positif bahwa “orang yang marah [subjek] sebenarnya bukan marah kepada dirinya/saya [objek]. Saya [objek] cuma korban pelampiasan kemarahannya. Orang yang malang tadi [subjek] mungkin baru saja ribut dengan isterinya, atau bisnisnya mungkin sedang lesu, atau barang kali dia merasa rendah diri, dan ini adalah peluang emasnya untuk melampiaskan kekesalannya…Pada dasarnya dia mungkin orang yang sangat baik. Kebanyakan orang begitu

Dengan pemikiran dan pemahaman itu, maka bukan depresi, jengkel, benci atau dendam yang muncul pada diri orang yang sedang berlatih “sabar yang sadar”, namun akan muncul perasaan mengasihi, iba atau bahkan akan berusaha menolong orang tersebut dengan memberi senyum kasih, memberi perhatian yang hormat. Ia mengerti bahwa sangatlah mungkin si pemarah tadi juga merupakan korban. Pemarah tersebut sedang menderita, sedang depresi, namun ia tidak tahu cara untuk menangani depresi atau derita tersebut. Karena ketidaktahuannya [moha], maka iapun melakukan tindakan keliru/ khilaf dengan memarah orang yang tidak bersalah. Inilah artinya para master, para suci sering mengatakan bahwa  “saya mengasihi orang yang sedang marah terhadap diriku karena orang tersebut sedang menderita“.

Sehingga sangatlah jelas bahwa orang yang memiliki pengertian yang mendalam dan kasih yang besar akan memiliki sifat mental yang bebas dari kebencian, kemarahan ataupun serakah. Dan bahkan sangatlah mungkin bahwa ia tidak pernah akan memukul, mencaci, apalagi membunuh orang lain, membasmi orang lain hanya alasan “dirinya direndahkan, dirinya dirugikan, dirinya dipukul dsb”. Tidak ada kamus seperti itu bagi seorang yang belajar memiliki pengertian mendalam. Terlebih tidaklah mungkin memusuhi atau menghukum (mengucilkan) orang yang berbeda pandangan ataupun keyakinan.

*****

Dari kedua penjabaran kesabaran tersebut, maka saya mengidentifkasi bahwa kemungkinan besar sang pelayan tersebut mengembangkan kesabaran jenis kedua. Jadi, meskipun tampak sama-sama sabar, kesabaran jenis pertama (palsu) bukanlah solusi yang tepat karena kesabaran jenis ini pada akhirnya akan memberikan penderitaannya kepada pihak-pihak lain. Sedangkan kesabaran jenis kedua (sejati) merupakan salah satu bentuk praktik mendasar menentramkan hati, membahagiakan orang lain dan mendamaikan dunia. Apakah kita mau menjadi orang yang melatih kesabaran jenis kedua? Maka mulailah belajar dari pengertian mendalam mengenai dunia serta praktikkan juga sekarang. Bisakah? Mari belajar dan praktik bersama.

Deep Love,
10 Mei 2009, ech-nusantaraku

Iklan
7 Komentar leave one →
  1. Mei 12, 2009 11:07 PM

    Hmmm… Salut pada Mbaknya
    memang sulit sabar sejati.
    Dalam marah diawali dengan memarahi diluar dirinya, kemudian jika tidak ditemukan maka akan dimarahilah diri sendiri.
    Marah memang dapat memakan orang lain dan diri sendiri.
    Semoga kita menjadi orang yang sabar.
    Amin….


    To: Om-Blog

    Yah...Om.
    Amin

  2. Mei 15, 2009 11:52 AM

    SABAR!

    lebih huruf namun artinya sungguh luar biasa.

    semoga bertambah usia kita lebih sabar mengontrol diri dan emosi, demi kita sendiri dan orang-orang disekitar kita.

    thanks buat renungannya 🙂

    • Januari 10, 2010 5:19 PM

      memang benar kita harus sabar dalam menghadapi masalah

  3. wk24 permalink
    Mei 29, 2009 3:07 AM

    iya dakalanya sesuatu memang harus disikapi dengan kesabaran bukan ketergesaan atau terburu 2.

  4. rein permalink
    Oktober 18, 2009 7:27 PM

    “orang yang marah [subjek] sebenarnya bukan marah kepada dirinya/saya [objek]. Saya [objek] cuma korban pelampiasan kemarahannya. Orang yang malang tadi [subjek] mungkin baru saja ribut dengan isterinya, atau bisnisnya mungkin sedang lesu, atau barang kali dia merasa rendah diri, dan ini adalah peluang emasnya untuk melampiaskan kekesalannya…Pada dasarnya dia mungkin orang yang sangat baik. Kebanyakan orang begitu”

    cara berfikir seperti ini, harus ditempatkan pada posisi yang tepat, dan kepekaan yang tinggi. karna kalau tidak, bisa jadi merusak pribadi kita sendiri.

  5. awan permalink
    Januari 21, 2010 9:38 AM

    Bukankah berusaha untuk sabar dan tidak melampiaskan amarah dengan sengaja termasuk jenis sabar yang kedua ?!
    Kesabaran yang sesungguhnya, tanpa menimbulkan adanya penyaluran amarah terhadap orang lain, tidak bisa di timbulkan secara instan. Ada dua faktor yang mempengaruhi tingkat kesabaran seseorang dan aplikasinya dalam kehidupan, yaitu kondisi lingkungan sehari-hari dan basic genetic-nya. Lingkungan sangat berperan dalam membentuk kesabaran seseorang, kesabaran salah satunya. Demikian pula dengan genetik. Orang tua yang sabar cenderung memiliki anak yang berkarakter sama

  6. Sitai permalink
    April 4, 2011 8:36 AM

    hmm…Sabar sabar dan sabar..
    Adakalanya kita memang harus bersabar dalam menyikapi segala sesuatu. Tapi memang susah sekali untuk merealisasikannya. Teman teman saya bilang, saya memang termasuk orang yang begitu sabar,, namun pernah ada seseorang yang mengkritik bahwa jika kita terlalu sabar, maka tidak baik juga untuk kita sendiri karena kita akan di injak-injak oleh orang sebab kita terlalu sabar dan susah untuk marah..
    Jadi bagaimanakah seharusnya kita menggunakan kesabaran itu ???

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: