Skip to content

Kronologi Meretas Jalan Menuju Koalisi SBY-Mega

Mei 9, 2009

SBY-Mega

Episode 1: SBY-Mega (inilah.com)

Hari ini saya baca sebuah berita “menarik” di suryaonline berjudul  Mega Tolak Tawaran 6 Menteri, Taufik Kiemas Temui SBY. Menarik dalam tanda petik karena belang dari ambisi politik semakin tampak di permukaan. Berikut inti sari perkembangan politik nomor 31 dan 28 : Mensesneg Hatta Radjasa ke kediamanan Ketua DPP PDI Perjuangan Megawati Soekarnoputri, Rabu (6/5), ternyata membawa misi khusus. Kabarnya Hatta membawa pesan untuk menawarkan posisi politik penting bagi para petinggi PDIP.

  • 6 Mei 2009 : Mensesneg Hatta Radjasa (HR) “mewakili pesan” Istana Negara mengunjungi kediamanan Ketua DPP PDI Perjuangan Megawati Soekarnoputri membawa “misi khusus”
  • HR membicarakan soal rumah dinas yang sudah menjadi milik Megawati dan politik.
  • Dalam hal politik dikabarkan HR menawarkan posisi politik penting bagi para petinggi PDIP jika PDI-P berkoalisi dengan Demokrat yakni:
    1. Megawati SP sebagai Ketua Dewan Pertimbangan Presiden (Wantimpres)
    2. Taufik Kiemas sebagai Ketua MPR-RI 2009-2014 (dukungan suara pemilihan)
    3. Enam (6) kursi menteri dari politisi PDI-P
  • Namun tawaran “politik kekuasaan” ini secara resmi ditolak oleh PDI-P sebagai imbalan jika berkoalisi dengan Partai Demokrat (PD), namun disebutkan juga bahwa beberapa petinggi DPP PDI-P sangat tertarik dengan “bayangan” kursi kekuasan.
  • 7 Mei 2009 : pada Kamis sore, Ketua Dewan Pertimbangan PDI-P Taufik Kiemas (TK) bertemu SBY di sebuah Padang Golf. Kabar ini semakin menguat, ketika SBY meninggalkan Istana Negara sekitar pukul 15.00 WIB. Seorang supir yang ikut rombongan SBY mengatakan, SBY akan menuju sebuah lapangan golf. Dikabar lain, TK dikatakan telah menjumpai SBY di Cikeas.
  • 8 Mei 2009: Jum’at malam direncanakan pertemuan petinggi partai Demokrat dan PDI-P
  • 10 Mei 2009 :  Ada Keinginan SBY Berkoalisi Dengan PDIP
    Susilo Bambang Yudhoyono dalam pidato di Cikeas menyatakan peluang untuk terjadinya koalisi antara Partai Demokrat dan Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) sangat terbuka dalam pemerintahan dan di parlemen ke depan.
    Saya rasakan komunikasi berjalan (dengan PDIP). Ada jalan yang cukup terbuka untuk kemungkinan bisa bersama-sama dalam upaya lanjutkan pembangunan bangsa,”
    Upaya rekonsiliasi atau menyambung kembali hubungan terus dilakukan. Kalau Tuhan menakdirkan kita bersama membangun negeri ini, itu jalan yang baik. Kami mohon bimbingan dan petunjuk agar terjalin koalisi yang baik untuk rakyat, untuk negeri ini, sejarah dan masa depan kita.”
SBY-Mega

Episode SBY-Mega???

Sikap Politisi Partai

  • 8 Mei 2009 – Ketua Dewan Pimpinan Pusat (DPP) PKS Zulkieflimansyah berharap PDIP benar-benar bisa masuk koalisi Demokrat, PKS, dan PKB. Kata Zulkieflimansyah “Kami berharap PDI P benar-benar bisa masuk dalam koalisi Demokrat, PKS, dan PKB,”
  • 8 Mei 2009 : Kemungkinan langkah koalisi antara Partai Demokrat dengan Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan untuk memenangkan pemilihan presiden dinilai positif oleh fungsionaris Partai Golkar Siswono Yudo Husodo sebagai sesama partai politik yang mendapat perolehan suara besar, keduanya dapat membangun pemerintahan yang kuat jika berhasil menang.
  • 11 Mei 2009 : JK Hormati Keputusan PDIP Bergabung ke Demokrat
    Jusuf Kalla akan menghormati keputusan apa pun yang diambil PDI Perjuangan terkait upaya pendekatan yang dilakukan Partai Demokrat untuk melibatkan PDI Perjuangan dalam koalisinya.

Meretas Jalan Menuju Koalisi SBY-JK

Dari liputan sejumlah media, saya melihat bahwa gerakan partai Demokrat untuk mendekati PDI-P merupakan langkah antisipasi membendung Koalisi Besar yang dicanangkan PDI-P, Golkar, Hanura, Gerindra. Koalisis Besar 4 Parpol dapat dipastikan memiliki suara sekitar 45% di parlemen. Semenjak keteguhan Golkar-Hanura mendeklarasikan JK-Win sebagai Capres-Cawapres 2009-2014, maka tampaknya kubu Demokrat khawatir jika keteguhan Koalisi Besar terus berlanjut. Dan jika saja SBY menang sebagai Capres 2009, maka Pemerintah SBY akan menghadapi oposisi parlemen yang lebih dari 2/5 suara. Hal ini tentu membuat pemerintah tidak mudah bergerak bebas.

Ketika JK-Win maju sebagai Capres-Cawapres, dan PDI-P-Gerindra “deadlock” dalam pengasungan Capres-Cawapres tampaknya Demokrat secara tidak langsung berusaha mengoyahkan “iman” koalisi besar untuk mengajak PDI-P keluar dari koalisi di Teuku Umar. Ketidakstabilan dasar pemikiran PDI-P tampak akan bermunculan, tatkala Demokrat menawari “blok-blok kekuasaan” kepada PDI-P jika mau mendukung “Lanjutkan!” tanpa J-K (Lanutan). “Umpan” kekuasaan ini akan membuat sebagian politisi PDI-P seolah mendapat angin surga mengingat elektabilitas Capres yang diusungnya (Megawati) masih sangat rendah, padahal Pilpres tinggal 2 bulan lagi. Kejadian akan membuat ketidakharmonisan antara sesama politisi PDI-P sendiri.

Andai saja koalisi SBY-Mega tidak terjadi, maka politisi PDIP yang sudah “terhipnotis” dengan kue kekuasaan Demokrat akan mulai “tidak setia”. Jika hal ini tidak dibendung dengan baik oleh para politisi PDIP, mak aakan menyebabkan perpecahan di kubu PDIP sendiri. Jika ini terjadi, maka pada hakikatnya PDIP terdaftar sebagai partai ke-4 yang merasa perpecahan karena tergiur oleh kekuasaan akan kemenangan SBY sebagai Capres 2009. Partai-partai yang sempat tidak solid yakni Golkar (sudah tenang sejak Deklarasi Capres), PAN, PPP, dan PDI-P?

Jika kita telusuri lebih lanjut, bersatu dan pecahnya kesolidan partai dikarenakan “kue kekuasaan”. Sebut saja Amien Rais yang lebih tergiur akan kekuasaan daripada mempertahankan semangat perubahan bagi anak bangsa. Buku tebal dengan 298+XV halaman berjudul  “Selamatkan Indonesia – Agenda Mendesak Bangsa” tampaknya perlu disimpan dalam gudang dahulu. Jika tetap dibaca, mungkin lebih baik judulnya diganti “Merebut Kekuasaan Indonesia – Agenda Mendesak “Partai” Bangsa”. Karena jika Anda membaca isi buku tersebut, maka kita tidak melihat semangat perubahan mendesak seperti yang pernah didengung-dengungkan oleh Pak Amien Rais. Kini tinggal Rizal Ramli dan Fadjroel Rahman yang masih gencar melakukan isu perubahan untuk Indonesia baru.

Berbeda dengan nasib yang akan dialami Golkar-JK jika PDIP mulai membidik Demokrat. Ini akan menjadi pukulan berat bagi JK karena sebelumnya telah ditinggalkan oleh Demokrat. JK pasti kecewa baik dengan Demokrat maupun (akan) PDI-P. Selama 4.5 tahun memimpin bersama di Kabinet Indonesia Bersatu, JK selalu mendapat “kepahitan”, sedangkan SBY mendapat “madu”nya. Meskipun Lee Kuan Yew pernah memberi gelar “JK is the Real President”, ia tetap dianggap memberi kontribusi hal-hal buruk karena kontribusi kebijakannya yang “dikenal baik” sudah patenkan partai Demokrat di iklan Pilegnya.

Perubahan Hanya di Partai, Tidak Ada Perubahan di Bangsa

Berdasarkan perkembangan politik  yang saya amati, saya merasakan tidak ada perubahan  besar bagi kemajuan dan kemandirian bangsa dari para tokoh politik seperti disebutkan diatas. SBY, Mega, JK merupakan orang-orang lama yang telah memegang tampuk kekuasaan masing-masing SBY (10 tahun sejak menjadi Mentamben), Mega (5 tahun sejak menjadi Wapres), dan JK (10 tahun sejak menjadi Memperindag). Isu-isu perubahan dan kebijakan yang telah mereka ambil sejak menjadi Menteri hingga Presiden dan Wakil Presiden masih jauh dari agenda reformasi 1998, masih jauh dari Agenda Penderitaan Rakyat.

Berbagai produk kebijakan yang tidak mementingkan rakyat telah tertuang dan bisa kita lihat dalam  berbagai peraturan perundangan hingga APBN. Peraturan perundangan tersebut masih takhluk oleh kekuatan pemodal baik asing maupun lokal.  Salah satu kasus yang menjadi perhatian saya adalah kebijakan utang dan kesetiaan tetap membayar utang najis + utang 30% korup. (Penjelasan Lanjut : silahkan klik ini).

Salam Perubahan,
9 Mei 2009, ech-nusantaraku (update 11 Mei)

Sumber Referensi:
SuryaOnline ; Vivanews ; Kompas

15 Komentar leave one →
  1. Mei 9, 2009 1:14 PM

    Belum masuk dalam imajinasi saya SBY – Mega. Sungguh !
    Koq kayaknya agak mustahil. Tapi di politik apa aja mungkin sich.
    Banyak yg udh rame2 soal cawapres… nampaknya Demokrat masih adem ayem..
    Koq saya punya feeling kekuatan kuing yang lain yang akan mendekati Demokrat ya. Yang 5thn lalu sempet mo jadi pres juga.
    (Duuuch EKA emang lu mama Loren apa…???? hahhaha, pake feeeling2an)

    Anw lets just wait and see.

  2. pimpii permalink
    Mei 9, 2009 8:19 PM

    betul ya kata orang? dalam politik tidak ada musuh abadi dan tidak mengenal teman sejati…..

  3. Mei 10, 2009 9:00 PM

    Pilihan yang berat bagi rakyat. Pilih yang jelek diantara yang paling jelek.

    Atau ikut aja mbahnya Golput Sri Bintang Pamungkas.

  4. Mei 10, 2009 9:01 PM

    Saya kecewa berat..tidak suka dengan PD-PDIP…memilih tetap memajukan Mega atau Prabowo-Puan..Prabowo juga tidak punya banyak pilihan, karena deadlock tentu membuat dia juga bingung mau dapet 20% dari mana? PAN dan PPP sudah berhasil ‘kena’ sama devide et impera..
    BTW liat ga Pidato syukuran kemenangan PD?hmmm..Image yang dimunculkan lagi…tapi let’s positif..Lanjutkeun A’a…

  5. Mei 10, 2009 10:05 PM

    To: Ekaria27
    Seorang politisi memang dilatih untuk membuat kejutan.. 🙂

    To: Pimpii
    Ya…yang ada adalah kepentingan abadi.
    Harusnya diubah : memperjuangkan kesejahteraan dan keadilan rakyat adalah perjuangan abadi politik.

    To: Qflee
    “Maju kena, mundur kena”
    Selain memilih, lebih baik kita memberi edukasi kepada masyarakat bawah.

    To: RomailPrincipe
    Mereka telah terpilih sebagai 3 besar pemenang. Mau tidak mau kita harus menerimanya. Namun, menerima dengan satu catatan : tetap mengkritisi kebijakan politik kekuasaan yang mementingkan penguasa-pengusaha. Namum, selama kebijakan itu lebih mementingkan rakyat banyak, maka kita dukung dengan bijak.
    ***
    Gak lihat, capek lihat manuver politik yang tidak tahu kemana arahnya

  6. Mei 10, 2009 10:45 PM

    Hmmm…politik..politik…politik…semakin pooolll…semakin menggelitik….
    Hihihihihihihihihihi……=)

    http://sendit.wordpress.com

  7. Mei 11, 2009 8:19 AM

    jika niat mereka itu tulus membangun negeri ini, ada di posisi apapun -baik pemerintahan ataupun oposisi- seharusnya tidak menjadikan masalah dalam menyumbangkan karyanya. mereka memang bukan negarawan melainkan kacung-kacung kekuasaan belaka.

  8. Inang-nya Paslah permalink
    Mei 11, 2009 9:36 AM

    Sby-Mega……???? Halah!!!!!!!!

  9. regina permalink
    Mei 11, 2009 10:16 AM

    Pak sby hati dalam menjalankan amanah dari rakyat dan jangan ada konspirasi politik

  10. Mei 11, 2009 11:35 AM

    To: sendit
    Ha..ha..

    To: ~noe~
    Yah….Mereka punya hak untuk melakukan koalisi.

    To: regina
    Semoga.

  11. Mei 11, 2009 11:48 AM

    Jika PDIP bergabung ke PD Cs berarti kekuasaan parlemen dipegang penuh Pres SBY. Dapat disimpulkan DPR akan lumpuh, tidak ada lagi kontrol, yang ada ABS. Pemerintahan akan berpihak ke rakyat banyak apabila penguasaan DPR oleh Presiden hanya 51 %. Kondisi ini akan menyebabkan Pres akan berupaya mempertahankan citranya. Jika Parlemen dikuasai, ada kemungkinan masa jabatan Presiden akan diperpanjang lebih dari dua kali, era orba akan pulih kembali.

  12. Mei 11, 2009 8:57 PM

    “Garuda kawin dengan sapi, apa kata dunia … Musim kawin telah datang berulang-kali, tapi salah, salah, dan salah terus…”. Mereka harus digiring beramai-ramai masuk ke kandang masing-masing, salam.

  13. eko permalink
    Mei 20, 2009 3:35 PM

    saya harap pak SBY bisa menduduki lagi kursi RI 1……..
    tapi inget,, klo jadi presiden lg, tolong kunjungi kami-kami yang ad di Mempawah, kab pontianak, KalBar…….

  14. September 14, 2009 1:56 PM

    biasa di indonesia pasti ada konflik kepentingan setiap ada pergantian pimpinan, rakyat sudah bosan dengan tipu muslihat para pemimpinnya,sekarang yang harus kita lakukan adalah lawan…. lawan….

  15. September 14, 2009 2:04 PM

    pimpinan politik harusnya saudara diri bukan hanya berebut kekuasaan dengan rakyat sebagai tamengnya ingat pak hidup bukan hanya di satu tujuan saja masih ada tujuan yang lebih hakiki yaitu akhirat,kalau menurut pangeran kebenaran sebaiknya di pilih menteri2 yang profesional dibidangnya jangan karena kepentingan kelompok, kalau hanya kepentingan kelompok maka yang terjadi adalah kerusakan yang sangat parah dan amat menyiksa masyarakat kita seperti sekarang ini, sy bicara bukan bedasarkan retorika seperti anda2 para pemimipin tapi berdasarkan kenyataan coba anda renungkan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: