Skip to content

Menkeu : Indonesia Negara Pengutang Terbesar di ADB. Suatu Prestasikah?

April 23, 2009

Dari informasi vivanews.com disebutkan bahwa Menteri

Foto ADB

Foto Gedung ADB

Keuangan Sri Mulyani mengatakan Indonesia sebagai negara pengutang terbesar di ADB atau Asian Development Bank (Bank Pembangunan Asia). Prestasi rangking pertama sebagai negara pengutang rupanya telah menjadi tradisi turun temurun, karena pada tahun 2004 Indonesia juga termasuk negara pengutang terbesar di ADB seperti diberitakan tempointeraktif. Selama kurun waktu 1995-2005 nilai total utang Indonesia kepada ADB mencapai US$ 20,7 miliar (atau sekitar Rp 186,3 triliun pada kurs 2005).

ADB merupakan lembaga keuangan yang merupakan bentukan Amerika untuk “menguasai” kebijakan perbankan di Asia dengan sekutu terdekatnya Jepang. Agar kelihatan independen, maka ADB merangkul 65 negara Asia Pasifik untuk bergabung di ADB (Jadi total ada 67 negara). Dari 67 negara, Amerika (1) dan Jepang (2) masing-masing memilik saham 15,57%, disusul China 6,4% (3), India 6,3% (4), Australia 5,7% (5) , Indonesia 5,4% (6) dan sisanya 45% tersebar di 61 negara anggota.

Kepemilikan saham Indonesia di ADB hanya 5,4% pada urutan ke-6, sedangkan besaran utang berada pada rangking pertama dengan persentase utang terbesar yakni:

  1. Utang Indonesia di ADB : USD 9,4 miliar (30.5% dari total piutang ADB)
  2. Utang China di ADB : USD 7.4 miliar
  3. Utang India di ADB :  USD 5.0 miliar
  4. Utang oleh negara-negara lain : 8.5 miliar

Dalam hal utang mengutang, Indonesia memang memiliki rekor yang “baik”. Mau siapapun presidennya, utang menjadi andalan utama. Padahal masih banyak cara yang dapat dilakukan negara Indoensia yang kaya dan berdaulat ini dalam mengefisiensikan anggaranya. Salah satunya adalah penghapusan 30% utang najis korup dari lembaga asing, penghapusan obligasi rekap BLBI, pengurangan mark-up APBN yang terlalu besar, mengurangi belanja departemen yang tidak sesuai fungsinya dan masih banyak lagi yang harusnya negara yakni Presiden pilihan rakyat 2004 (Bapak SBY) berani dan sigap mengambil keputusan.

Dalam berita tersebut, tersirat bahwa mantan Direktur eksekutif IMF yang saat ini menjadi Menteri Keuangan sekaligus pejabat sementara di Menko Perekonomian, Sri Mulyani sangat “cinta” dengan utang dan produk kapitalis-liberalis. Wajar sih….karena back ground Bu Sri Mulyani adalah “almamater” IMF, lembaga keuangan yang berhasil memporak-porandakan perekonomian negara-negara berkembang di Asia, Amerika Latin dan Afrika.

Hanya saja, apakah saat ini masyarakat kita telah tertular mental utang?
Ataukah kita mau berkata “Katakan tidak pada utang” serta “mendesak pemerintah agar “merestrukturisasi ulang segala bentuk utang najis dan inefisiensi anggaran

23 April 2009, ech-nusantaraku

Sumber Referensi: vivanews.com , tempointeraktif

7 Komentar leave one →
  1. tekafc permalink
    April 23, 2009 8:56 AM

    Yang ngutang kan pemerintahan yang sekarang, yang ngelunasin Pemerintahan yang akan datang..dan yang terpenting yang ngebayar adalah RAKYAT dengan PAJAK..

  2. April 23, 2009 4:16 PM

    Dan utang itu paling banyak dinikmati oleh para konglomerat….
    Kalo rakyat kecil paling cuma dapat kredit usaha kecil…

    Re: Abdul Ghofur
    Jika hitungannya adalah rupiah/individu, maka benar para konglomerat yang menikmati lebih besar.

  3. April 23, 2009 11:39 PM

    Seandainya saya jadi Presiden RI…… Saya akan pinjam uang diluar Negeri setiap tahun. Hasil pinjaman akan saya bagi-bagikan dari atas sampai kebawah. Dengan cara ini Negara pasti aman, Rakyat hidup tentram dan dapat makan…..dan yang penting Posisi saya juga aman…he..he..he….

    Maaf saudara2 ku….hanya itulah yang bisa saya lakukan sebagai Kepala Negara. Karena kita hanya punya 2 pilihan yaitu:

    1. Kerjasama dengan Dunia Luar. ( Negara akan aman, tapi kita akan miskin selamanya dan kita tidak akan bisa merdeka seutuhnya)

    2. Berdiri sendiri dan mementingkan kepentingan Nasional. (Negara akan kacau dan akan banyak gangguan dari luar, tapi kalau berhasil kita akan menjadi Bangsa yang Besar dan Kuat juga kaya raya)

    Jadi supaya Negara aman dan tidak terjadi perang dan agar posisi saya tidak goyang, maka saya pilih yang ke 1 (satu)…he…he..he….

    Re: Jawaipost
    Konsekuensi pilihan 1 :
    Berat kamu pikul, ringan saya dijinjing.
    Bersenang-senang dahulu, bersakit-sakit kemudian. he..he..he

  4. April 26, 2009 10:07 PM

    Kan, setiap transaksi hutang ada fee … Hmm, besar tapi kerdil.

  5. allpulsa77 permalink
    April 29, 2009 2:33 AM

    Begitulah negara ini sukanya hutang. Kalau hutang itu digunakan untuk kepentingan rakyat kecil itu tidak jadi soal, tapi kenyataannya untuk para konglomerat. Entah sampai kapan presiden di negeri ini bisa peduli terhadap rakyat kecil?

  6. ijal pasmer permalink
    Desember 2, 2010 5:34 PM

    seharusnya utang untuk kesejahteraan rakyat bukan utk para konglomerat.

  7. cotton permalink
    April 17, 2013 12:53 PM

    tulisannya kasar sekali. coba sebutkan negara mana yang bisa hidup tanpa hutang? nggak ada. kalo tidak hutang, jumlah uang yang muter jadi tetap, naik gaji bakal jadi mitos belaka. hutang yang terlalu banyak memang tidak baik tapi tidak hutang itu mustahil.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: