Skip to content

John Pilgers – Sang Penguasa Dunia Baru di Indonesia

April 10, 2009

Sang Penguasa Dunia Baru atau New Rulers of The World  (tahun 2002) merupakan film dokumenter karya John Pilgers [biografi di wikipedia], seorang jurnalis terkemuka dunia berkebangsaan Australia yang bekerja di Inggris. Dari berbagai pengalaman dan menjadi saksi hidup pada berbagai peristiwa yang ia liput, membangkitkan semangat dasar nurani John Pilgers untuk membongkar segala ketidakadilan terutama yang dilakukan oleh Amerika dan sekutunya (termasuk Inggris dan Australia tempat dimana ia lahir dan tinggal).

Film ini bercerita tentang globalisasi yang didesain agar menguntungkan negara-negara maju dengan tema utama adalah buruh yang dibudakkan serta utang luar negeri. Pilgers menceritakan bahwa inilah era penguasa baru dunia (the new rulers of the world), khususnya pengaruh bagi sebuah negara : Indonesia.

John Pilgers

John Pilgers

Mengenai buruh, Pilgers memaparkan kondisi buruh pabrik di Indonesia yang mengenaskan yang bekerja di perusahaan multinasional (MNC = multinational company) seperti Nike, Adidas, GAP, sedangkan disisi lain perusahaan MNC dan distributor di negara-negara maju meraup keuntungan yang sangat besar.

Untuk kasus utang luar negeri, John Filger memaparkan bagaimana utang luar negeri telah menjerat Indonesia menjadi negara penghutang (idealnya sepanjang masa) sejak rezim Soeharto. Untuk hal itu, Pilgers melakukan wawancara langsung dengan petinggi IMF dan World Bank (WB). Ia mempertanyakan alasan lembaga keuangan tersebut tetap memberikan punjaman kepada rezim yang jelas korup dan dengan mekanisme yang tidak transparan. Yang jelas dari kebijakan tersebut, World Bank dan negara-negara kreditor mengambil keuntungan yang besar dari mekanisme yang tidak transparan dan cacat hukum tersebut melalui proyek-proyek yang dikerjakan oleh perusahaan multinasional dari negara-negara asal masing-maisng. Jadi, meskipun WB dan negara kreditor memberi pinjaman 100%, namun sebenarnya sebagian besar uang tersebut digunakan untuk membuka lapangan pekerja negara kreditor dan hanya sekitar separuh uang pinjaman tersebut benar-benar masuk ke negara miskin tersebut.

Pada pembukaan film dokumenter tersebut, John Pilgers menyajikan sebuah lagu mengenai globalisasi. Inikah makna globalisasi sesungguhnya?

Keuntungan dunia baru kini
Pemimpin industri besar
Katanya memiliki visi dan misi mulia
tapi kejam kepada ku
Mereka menjanjikan dunia dimana setiap orang menjadi kaya, pintar dan muda
Namun, seandainya pun aku hidup dapat merasakannya
Bagi ku itu sudah sangat terlambat

Itulah fakta yang terjadi di Indonesia. Dan pada awal tahun 2000-an, terjadi gerakan jutaan manusia menentang globalisasi di berbagai penjuru dunia. Globalisasi yang didengung-dengungkan oleh Amerika dan negara kapitalis liberal bahwa akan membawa kemakmuran bagi umat manusia ternyata mengakibatkan jurang pemisah yang begitu besar antara si kaya dan si miskin.

Fakta-fakta tersembunyi globalisasi :

  • Sekitar 10% penduduk dunia menikmati dan memiliki 90% kekayaan dunia, sedangkan sisa 90% penduduk dunia harus merebut 10% uang untuk menghidupi keluarganya.
  • Total kekayaan sekelompok kecil orang yang berkuasa ternyata lebih besar dari total kekayaan seluruh penduduk benua Afrika.
  • Seperempat (1/4) kegiatan ekonomi dunia dapat dikuasai hanya dengan 200 perusahaan MNC.

Efek Globalisasi di Indonesia

Banyak pembeli yang tidak menyadari bahwa di jalan-jalan besar atau di supermarket, berbagai produk dengan merek terkenal, mulai sepatu olahraga, kaos hingga pakaian bayi hampir seluruhnya dibuat di negara-negara yang sangat miskin dengan upah buruh yang sangat rendah, nyaris seperti budah. Fakta : Untuk marketing produk Nike, perusahaan membayar pegolf Tiger Woods lebih besar dibandingkan dengan upah seluruh buruh yang membuat produk Nike di Indonesia.

Sehingga kita perlu tanyakan kembali, inikah globalisasi yang menjadi harapan masa depan dunia?

The New Rulers of The World

The New Rulers of The World


Ataukah globalisasi hanyalah kedok penguasa saat ini yang menggunakan cara-cara lama yang dulunya dilakukan raja-raja dan sekarang diteruskan oleh (perusahaan) MNC dengan bantuan berbagai lembaga keuangan dunia dan pemeritah (Indonesia) sebagai penopangnya?

Itulah penggalan awal sekitar 3 menit film dokumenter John Pilgers sebagai pengantar. Sisanya adalah isi yang sangat menarik kurang lebih 49 menit dengan uraian dan fakta yang mencengangkan. Dari buruk pabrik negar yang kaya dengan sumber daya alam melimpah yang terpaksa bekerja long-shift selama 36 jam di perusahaan rekanan MNC. Ditambah lingkungan kerja yang panas (hingga 40 derajat), dan harus berdiri selama-lama berjam-jam. Dimanakah hati penguasa? Inikah cara menarik investasi asing ala pemerintah dengan menjadikan pekerja sebagai budah dan memperkaya perusahaan MNC?

Lalu, bagaimana dengan utang luar negeri? Benarkah utang luar negeri yang diberikan dari lembaga dan negara asing kepada negara-negara yang kaya sumber daya alam seperti Indonesia memang secara absolut memberikan kemakmuran bagi rakyatnya? Benarkah paradigma utang yang dikeluarkan oleh institusi Amerika seperti WB, IMF, CIA dan sebagainya membawa kesejahteraan dunia? Saksikanlah film dokumenter tersebut, dan bangkitlah paradigma baru. Anda dapat mendownloadnya secara gratis di bawah ini…

John Pilgers – New Rulers of The World

Setelah Anda membaca atau menonton film dokumenter tersebut, apa pendapat Anda?
Sudah benarkah arah kebijakan ekonomi dan politik kita saat ini? Apa yang bisa kita lakukan sebagai rakyat biasa?

10 April 2009 – ech for nusantaraku
Catatan : saya tunggu komentarnya sebagai referensi untuk tulisan selanjutnya “Langkah-Langkah Nyata untuk Membendung Globalisasi Kapitalis” dalam menanggapi “The New Rulers of The World”

Artikel Terkait :  Fakta-Fakta Tersembunyi SBY-JK (3): Utang Indonesia Membengkak 1667 Triliun Rupiah

Iklan
30 Komentar leave one →
  1. April 11, 2009 9:16 AM

    Globalisasi yang oleh mayoritas masyarakat ini disalah artikan dengan kebebasan yang sebebas-babasnya dan tidak adanya sensor budaya.
    Menurut aku Indonesia harus berani merubah sistem yang telah ada, sistem yang ada tidaklah untuk kepentingan rakyat dan bangsa Indonesia melainkan kepentingan Asing dan Kapitalis.
    Konsep kemandirian dan nasionalis yang telah di canangkan dan menjadi semangat oleh Foundingfather saat pertama kali memproklamasikan Indonesia 17 agustus 1945 telah digrogoti oleh orang-orang dan negara yang menginginkan kehancuran NKRI.
    So, Kalau mau dunia baru di Indonesia haruslah sistem yang sesuai dengan Pancasila, Pembukaan UUD 1945, dan Indonesia raya. Itu semua akan berhasil selama semua unsur bersatu padu tuk menghancurkan orang-orang munafik dan penghianat negeri ini.


    Re: Trinil

    Terima kasih tanggapannya.

  2. April 12, 2009 5:37 PM

    “….globalisasi hanyalah kedok penguasa saat ini yang menggunakan cara-cara lama yang dulunya dilakukan raja-raja dan sekarang diteruskan oleh (perusahaan) MNC dengan bantuan berbagai lembaga keuangan dunia dan pemeritah (Indonesia) sebagai penopangnya?…. ”
    Tidak salah lagi memang itu yang terjadi di negeri ini, kita lihat saja apa bisa berubah lebih baik setelah pemilu 2009 ini??

  3. April 14, 2009 1:36 PM

    siap bos.. ket TKP download dolo… 😀


    Re: Dobelden

    Yah….mas Denden…filenya cukup besar…:)

  4. capung_daun permalink
    April 14, 2009 5:41 PM

    ijin sedot gan…

    thanx pencerahannya..
    mengingatkan kebodohan jaman abg dulu…betapa bangganya pake sepatu merk contreng tersebut ke sekolah..malu kalo inget…
    apalagi transfer pricing para mnc umumnya sulit untuk terdeteksi

  5. April 16, 2009 11:19 AM

    Kunci utamanya adalah pendidikan dan skill, kalau penduduk mayoritas berpendidikan tinggi, punya skill atau bisa menciptakan lapangan kerja sendiri apakah masih ada yg mau digaji rendah utk jadi buruh pabrik dgn shift yg kurang manusiawi tsb??

    Demikian sedikit pendapat dari saya yg awam… 🙂

  6. Bayhaki permalink
    April 18, 2009 12:57 PM

    ikut memberikan pandangan:

    Para Presiden Indonesia selama periode Sukarno, Suharto, Habibie, Gus Dur, Megawati, SBY asumsi saya, beliau-beliau kurang memahami skenario Ekonomi dunia, termasuk saya juga. Walhasil perekomonian Indonesia tidak maju-maju, Rupiah jauh diatas batas kewajaran 10ribu lebih untuk 1dollar Amerika. It’s nonsense.

    Latar belakang pendidikan beliau-beliau, bukanlah ekonomi, beliau-beliau punya semangat besar menciptakan lapangan kerja, membangun perekomonian rakyat, dan lain sebagainya, tapi rapuh “berpegang pada akar rumput yang basah”. Beliau-beliau juga mempercayakan saja rancangan ekonomi sepenuhnya pada para konseptor negara plus jeratan skenario ekonomi yang melilitnya, sehingga terjadilah siklus berulang-ulang dari zaman kemerdekaan sampai saat ini: PRESIDEN tidak paham Uang, NEGARA digadai para Ekonom, INDONESIA dikeruk, dikeroyok habis-habisan oleh para konseptor negara yang notabene mungkin pakar ekonomi,politik,keamanan, tapi masalahnya kecenderungan mereka, membangun Indonesia dengan sistem ketidakseimbangan. Karna jeratan global mengkehendaki demikian.

    Kalau Indonesia ingin maju pada kelanjutan tahun 2009, Maka kita butuh Presiden Alternatif berlatar belakang Ekonomi, yang bisa membawa Negara kita “Terbang Bebas” dari jeratan belenggu-belenggu. Kita mencari Calon Presiden Baru yang mempunyai semangat anti neokolonialisme, masih banyaknya hasil bumi Indonesia yang masih tersisa untuk terus diproduksi, idealnya mengetuk kesadaran Presiden kedepan untuk lebih memperhatikan rakyat.

    Rakyat butuh Skema Pendidikan Baru, dan Skema Kesehatan Universal, sehingga dengan 2 skema baru ini, akan terwujud Negara Indonesia baru yang rakyatnya Terpelajar, Sehat dan Percaya Diri, sehingga akan sulit untuk diperintah, dibodohi oleh pihak penguasa baik didalam dan dari luar.

    = > Penekanannya pada bagaimana upaya kita (orang-orang yang masih punya hati nurani) dapat memobilisasi massa rakyat Indonessia 230juta orang itu, agar percaya, agar mau turun ke jalan secara sukarela tanpa memandang warna apa pemikiran mereka, secara bersama-sama serentak se-Indonesia meneriakkan “Katakan tidak untuk Megawati, dan SBY dicalonkan lagi menjadi Presiden.” Rakyat mempunyai kekuasaan untuk meruntuhkan pemerintahan, ini yang harus disadarkan, Presiden itu dibawah kendali rakyat, bukan sebaliknya, rakyat dibawah kendali presiden.

    Sebagai penutup

    Demokrasi Indonesia pada pilpres 2009 mendatang yang harus didorong adalah kebebasan pilihan rakyat dalam memilih, tanpa dibelenggu oleh ketakutan,hutang, iming-iming duit, primordial suku terbesar, dan pragmatisme representasi wong cilik. Jika rakyat Miskin di Indonesia bisa memilih orang-orang yang mewakili kepentingan mereka, akan terjadi revolusi demokrasi yang sebenarnya di Indonesia nantinya.


    Re: Bayhaki

    Terima kasih atas pandangannya yang sangat membantu dalam memecahkan solusi.
    Saya sependapat bahwa perlu skema baru dalam "melahirkan" presiden-presiden baru.
    Seorang presiden tidak harus mampu memahami ekonomi, namun ia harus mampu me"manage' orang-orang yang handal dalam ekonomi, uang yang benar (pro-rakyat). Hal ini pernah dialami oleh Soekarno bersama Bapak Koperasi Bung Hatta. Begitu juga Habibie dengan Adi Sasononya. Dan hal ini hampir saja terjadi di zaman Gusdur ketika beliau berusaha duduk sejajar di internasional dengan membentuk poros Jakarta-Beijing-New Delhi.
    Jadi, tim ekonomi haruslah orang yg percaya kepada kekuatan rakyat, bukan kekuatan kapital ataupun virtual ventura semata.

  7. dodol garut permalink
    April 18, 2009 1:37 PM

    numpang memberi komentar….

    mengenai buruh, serba repot. menaikkan gaji berarti meningkatkan biaya. biaya naik, harga jual tetap. apalagi kalau biaya banyak dalam dollar. nanti perusahaan bangkrut.

    jalan satu-satunya….turunkan nilai tukar. GILA kalau sampai seperti saat ini.

    gaji buruh 1 bulan di indonesia = 1 jutaan atau sekitar 100 dollar.

    di amerika mungkin hanya untuk gaji 1 hari.

    GAK MASUK AKAL.

    semiskin-miskinnya buruh di amerika, bisa jadi raja di indonesia.
    trus…buruh indonesia mesti pindah kemana supaya bisa jadi raja?

    kalau ada yang salah dalam komentar saya, mohon maaf….

  8. Bayhaki permalink
    April 20, 2009 12:40 PM

    “….Hal ini pernah dialami oleh Soekarno bersama Bapak Koperasi Bung Hatta….”
    Saya kira Hal ini yang membuat Hatta Hengkang dari Pemerintahan Soekarno, karna terlalu “mengkerdilkan” kapasitas beliau, beliau tidak diberikan kesempatan oleh Soekarno tuk mengurusi masalah kebijakan luar negeri yg saat itu semuanya dipegang oleh Soekarno sndiri, menurutHatta daripada ngurus koperasi lebih baik bikin buku saja. hihi.

    Karna situasi negeri saat itu konteksnya dibutuhkan kemampuan Menguasai bidang Kerjasama Luar Negeri, daripada Koperasi. Seperti Syahril yang “didepak” oleh Soekarno, padahal kemampuan kerjasama Luar Negerinya Outstanding, dengan membantu Kelaparan di India, hal ini menjadi Turning Point bagi Gema Indonesia di Luar Negeri (Poros India-Jakarta) terbentuk. Lagi-lagi Soekarno merusak segalanya. what a pity… “Syharil mati ditembak oleh ???” –> rahasia sejarah yg harus diluruskan, siapa benar, siapa salah.

    Solusi terbaik memang perlu Presiden dari latar belakang Ekonomi saat ini bagi Indonesia, berikan kesempatan pada pakar ekonom tuk memimpin indonesia selama 5 tahun kedepan, serta “KATAKAN tidak tuk SBY, MEGA calon PRESIDEN kedepan <— Sekadar wacana.

    Tokoh Besar indonesia, seperti Pak Adi Sasono saya mengagumi beliau, kesalahan kita tidak memberikan mereka akses “JALAN TOL” Tuk mengurusi ekoomi negeri ini secara cepat, tapi sistem menjebak beliau dengan jeratan birokrasi yg membuat sulit utk melakukan gebrakan besar secara radikal, fakta yg buruk utk negeri yg telah merdeka selama ini.

    • dukung sby permalink
      Juli 5, 2009 5:50 AM

      saya rasa itulah alasan sby milih boediono sbg pendampingnya…
      boediono adalah orang ekonomi,, beliau jauh lebih paham masalah ekonomi daripada jk yang paham ekonomi dari pengalaman bisnis pribadinya bukan pengalaman mengurus ekonomi secara nasional….
      cuma bisa ngomong janji2 yang tak pasti….ehh bukan ngomong dink tapi ngemeng…hihihi
      kalo emang kredibel n pantas jadi presiden ngapain ngelakuin kampanye hitam….menyedihkan…..hihihi

  9. April 20, 2009 5:40 PM

    Re: Bayhaki
    Terima kasih Mas.
    Yah…selama hampir 2 dekade kita merdeka, beberapa pihak asing tidak senang (ingin menjajah kembali) seperti Belanda, NICA, dan “sekutu gelap”.
    Berbagai pemberontakan yang didanai luar (tertembaknya 2 pesawat CIA) di Sulawesi, serta aksi saling tidak percaya antara kubu-kubu kiri, kanan, dan tengah menguncang pemerintah. Kabinet-kabinet yang rata-rata berusia setahun-an membuat negara kita seperti Thailand saat ini.
    Soekarno memang ingin seperti “raja” pada awal pemerintahan, karena terlalu khawatir Indonesia pecah karena telah disusupi pihak-pihak tertentu. Bagaimanapun 3 serangkai Soekarno, Hatta, Syahrir “cukup menyelamatkan” nyawa masyarakat dengan lebih mementingkan kecerdasan diplomasi melawan imperaliasme.(Salute deh…).
    Kabinet Habibie pun mengalami hal sama. Habibie mengangkat menteri dari grup kerakyatan didampingi grup kapitalis orba. Pernah terjadi perdebatan hangat antara Adi Sasono dengan Ginandjar Kartasasmita mengenai arah kebijakan ekonomi. Berbekal pengalaman tersebut, maka seorang presiden harus jeli memilih menterinya. Seperti saat ini, mayoritas anggota kabinet diisi karena sharing power, bukan karena sharing mission for making Indonesia better.
    ***
    Say No S atau M, memang hanya wacana untuk 2009-2014. Karena bisa diprediksikan siapa yang menang 2009 ini, kalo bukan S. 🙂
    Benar, sistem demokrasi dengan partai yang lebih mementingkan kekuasaan menjadi hambatan bagi orang-orang yang benar dalam bertugas.
    Harapan perubahan memang tergantung pada sistem partai dengan elit politik yang benar. Tentu kita tidak mengharapkan revolusi untuk menggantikannya.
    Terima kasih atas masukannya.
    ***
    Tambahan mengenai buruh pada film dokumenter John Pilgers.
    Buruh pabrik kita terlampau murah. Masa’ produk sepatu yang dijual 250.000 di outlet Nike, buruk hanya mendapat 5000 (2%). Sedangkan biaya iklannya sangat tinggi seperti kasus Nike. Masa’ honor Tiger lebih besar daripada total gaji buruh afiliasi Nike di Indonesia. Setidaknya perusahaan bisa menspare anggaran yang lebih bijak, misalnya menaikkan upah menjadi 10.000 persen (naik 2% saja dari omzet per unit). Tapi, bagi buruh sudah naik 100%.

  10. Bayhaki permalink
    April 21, 2009 11:38 PM

    “……Harapan perubahan memang tergantung pada sistem partai dengan elit politik yang benar. Tentu kita tidak mengharapkan revolusi untuk menggantikannya…..”

    Berarti sia-sia donk Reformasi ’98. Karna Mahasiswa belum berhasil menggulung melipat-lipat “merah,kuning,hijau” 3 Mesin Politik buatan Produk Orba yg seharusnya telah ditutup, 11 tahun Reformasi 3 Pabrik Cat tersebut, masih eksis sampai sekarang, aneh bin Ajaib!! Tak heran kalau Pewarna Negara kita masih dipegang oleh kaum tukang.

    Indonesia butuh REVOLUSI untuk bisa MAJU. Seyogianya merah,kuning,hijau harus ditutup, kalaupun ingin tetap eksis harus merubah Flatform nama Partai, Jangan menggunakan nama yg sama <— Wacana.

    Kalau bisa, kenapa rakyat tidak mengulangi kembali sejarah seperti Gerakan Tiga Komando Rakyat (Trikora) 2009: TUTUP 3 pabrik cat, Tolak S&M, Rakyat Menuntut GBHN masa kini (seperti Skema Pendidikan, kesehatan,dll)

    Indonesia butuh Tsunami untuk kedua kalinya baru bisa SADAR, bahwa apa yg diperjuangkan oleh segelintir orang-orang tersebut, hanya mewakili sebagian kecil dari 240juta penduduk Indonesia. Yang telah GAGAL Menjabat, tidak punya keberanian untuk mengundurkan diri, Mentalitas yg harus diperbaiki kedepan, demi kepentingan Yg lebih besar…

    PS: Mengenai Buruh, seyogianya Indonesia di tahun 2020 tidak menerima lagi mekanisme perburuhan, karna Bangsa Kita bukan bangsa Buruh, KITA BANGSA Besar yg punya sumber daya alam yg melimpah, seharusnya Negara-Negara G-20 itu yg kita bayar tuk menjadi Buruh dalam mengolah hasil bumi kita.

    Terima kasih atas Balasan komentnya 🙂


    Re: Bayhaki

    Terima kasih Mas atas masukan yang inspiratif dan "segar".
    Tidak semua orang memiliki pemikiran komprehensif seperti Mas Bayhaki. Jika saja lebih dari 7m5%asyarakat mengerti keadaan dan situasi negeri, maka revolusi memang solusi yang menarik seperti mas sampaikan. Namun, dengan kondisi masyarakat saat ini ditambah elit politik dalam sistem partai yang amburadul, maka opsi revolusi akan membawa mudharat yang jauh lebih besar yang menimpa pada sebagian besar rakyat yang tidak berdosa.
    ***
    Mengenai buruh --> mantep Mas... Kedepan Indonesia bukan bangsa buruh... tapi menjadi bangsa profesional. Ide-ide dan planning yang bagus untuk disampaikan luas kepada generasi muda. Mungkin bisa direalisasikan melalui pendirian unit-unit pelatihan kerja dan kewirausahaa yang mandiri terutama bagi masyarakat kurang mampu dan berpendidikan rendah yang didanai sekitar 0.05% dari APBN. Maka dampaknya akan besar bagi kualitas tenaga kerja dalam waktu 1 dekade ke depan.
    Terima kasih sedalamnya karena telah berbagi di blog ini dan juga berbagi kepada seluruh pembaca.
    Selamat Berjuang.

  11. reizky permalink
    April 27, 2009 12:33 PM

    Mangkanyah, jangan ngubah2 pendirian dunk!
    Klu udh ada identitas dan kebijakan ekonomi yg komperhensif dr dlu, teruskanlah kau begitu!
    Jangan mudah jatuh cinta ama iming2 clan Rum and Judas!!!
    Huh’
    thx mr.pilgers!

    Re: Reizky
    Yup...terima kasih mau menyampaikan kepada kita semua.

  12. dedemit permalink
    Mei 18, 2009 6:28 PM

    ciple movie..four thumbs up to this movie

  13. obi permalink
    Mei 27, 2009 9:32 PM

    Negara IndoNesia akan maju bila penguasa lama yang berfikiran primitif benar-benar sudah musnah dari tanah air tercinta ini?order baru go to hel?

  14. juman permalink
    Mei 30, 2009 10:17 AM

    coba lihat film dokumenter ZEITGEIST DAN ZEITGEIST ADDENDUM sebagai tambahan …..lihat saja di youtube ….

    • Mei 30, 2009 12:19 PM

      1/3 pertama film Zeitgeist kurang bermanfaat. 1/3 terakhir film Zeitgeist addendum juga kurang bermanfaat.
      Informasi paling baik dari keduanya adalah mengenai fractional reserve ssytem dalam Zeitgeist dan wawancara dengan John Perkins, sang economic hitman dalam Zeitgeist addendum.

Trackbacks

  1. Kronologi BLBI dan 4X Indonesia Dirampok! « Nusantaraku

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: