Skip to content

Hati-Hati..Olahraga Pagi di Bandung Kurang Sehat dari Persfektif Mixing Height

April 9, 2009

Pendahuluan

Mungkin bagi sebagian orang belum pernah mendengar pernyataan “Olahraga di pagi hari (ruang terbuka) kurang sehat untuk warga Bandung”. Awalnya saya juga heran, kok bisa? Bukankah sejak SD kita diajarkan untuk berolahraga di pagi hari? Apa alasannya?

Pertama kali saya mendengar pernyataan tersebut dari salah satu dosen Biologi yang mengajar Pengetahuan Lingkungan terutama berbicara tentang udara dan atmosfer. Lalu beliau menjelaskan secara garis besar (karena mata kuliah ini bukan khusus membahas kualitas udara) mengapa olahraga di pagi kurang baik. Salah satu alasannya adalah kualitas udara di Kota Bandung cukup buruk, terlebih di era yang mana industri-industri tumbuh pesat disertai ledakan jumlah penduduk di Kota Bandung. Hal senada juga disampaikan  oleh dosen dari Teknik Lingkungan. Lalu, apakah bedanya Bandung dengan kota lain, sehingga muncul pernyataan bahwa udara pagi hari di kota Bandung buruk?

Latar Belakang dan Permasalahan

Secara geologis, Dataran Tinggi Bandung  terletak pada ketinggian 700 meter di atas permukaan air laut (dpl), sehingga memiliki suhu yang lebih rendah sekitar 4 derajat celcius  dibanding wilayah pantai. Angka ini sesuai dengan rumusan fisika di lapisan udara di permukaan bumi yakni setiap kenaikan 100 meter dpl, maka terjadi penurunan suhu sekitar 0.6 derajat celcius pada ketinggian tersebut[(700/100)*0.6 = 4.2]. Jadi, jika suhu rata-rata Jakarta (tepi pantai) adalah 27 derajat celcius, maka suhu Bandung adalah 23 derajat celcius.

Gedung Sate- Bandung

Gedung Sate- Bandung

Salah satu hal yang unik dari geografis Bandung adalah wilayahnya berada dalam area depresi antar gunung (intermontane depression) yang cukup luas dan lebih dikenal sebagai Cekungan Bandung (Bandung Basin). Dari wilayah Dago atas akan terlihat bahwa kota Bandung seperti cekungan atau lebih tepatnya adalah lembah-lembah dari gunung-gunung yang mengelilinginya seperti Tangkuban Perahu, Papandayan, Manglayan, Ceremai. Sehingga tidak salah jika menyebut Lembah Bandung atau “Bandung valley city”.

Pada awalnya kota Bandung didesain oleh kolonial Belanda untuk menampung maksimum sekitar 700 ribu orang (kalo gak salah), namun kini jumlah penduduk Bandung di siang hari mencapai 3,5 juta orang dan pada malam hari sekitar 3 juta orang. Peningkatan jumlah penduduk Bandung dan wilayah sekitarnya (Cimahi) yang mencapai 5.4 juta ditambah 500-an aneka jenis industri di kawasan selatan Bandung menyebabkan cekungan Bandung mengalami daya tekananan fisik yang besar. Belum lagi pembangunan berbagai pusat perbelanjaan sejak tahun 2000-an yang mengurangi lahan hijau. Hal ini diperparah dengan jumlah kendaraan yang meningkat pesat disertai kuantitas pencemaran juga meningkat.

Eksploitasi maupun kebutuhan akan sumber daya ekologi, fisik, dan geologi yang tinggi menyebabkan daya dukung lingkungan menjadi berkurang. Kini Bandung hanya memiliki luas lahan penghijauan hanya 8,76 % dari total wilayah jauh dibawah standar luas lahan penghijauan kota yakni 20%. Hal ini menyebabkan kualitas udara Bandung menjadi buruk. Memburuknya kualitas udara Bandung pernah disampaikan oleh Dr. Setiawan Wangsaatmaja (pakar Lingkungan Badan Pengendalian Lingkungan Hidup Daerah Jawa Barat) pada Oktober 2004. Ia menyebutkan bahwa dari data stasiun pemantau otomatis ( indeks standar pencemar udara, selama selama 310 hari atau 85% dari 365 hari dalam setahun, kualitas udara di Kota Bandung tergolong buruk karena berada di atas baku mutu. Jadi hanya 55 hari dalam setahun yang masuk kategori sehat.

Paramater kualitas udara yang buruk ditunjukkan adanya kelebihan sejumlah  kontaminan/pencemar di atmosfir dengan kuantitas dan durasi yang menyebabkan gangguan kesehatan (ataupun ketidaknyaman) terhadap manusia, kerusakan terhadap tumbuhan, menyebabkan penyakit pada hewan, kerusakan terhadap material. Senyawa kontaminan yang umumnya berbahaya adalah carbon monoksida (CO), timbal (Pb),  SO2, NO2,  HC dan beberapa senyawa lainnya. Kandungan pencemar/kontaminan yang tinggi apabila terhirup terlalu banyak dan dalam tempo/durasi yang lama oleh manusia akan menjadi penyebab berbagai penyakit seperti pernafasan, hipertensi, penurunan IQ,

Fokus : Analisis Kualitas Olahraga Pagi Kota Bandung dari Mixing Height

Bandung Basin (sumber : LIPI)

Bandung Basin (sumber : LIPI)

Sekarang kita fokus pada masalah olahraga pagi di Bandung. Kita tanyakan kembali mengapa olahraga pagi di Bandung kurang sehat? Secara umum, olahraga pada sore hari jauh lebih baik dibanding pada pagi hari di Bandung. Hal ini berbeda dengan daerah pesisir, dimana olahraga dipagi hari lebih baik dibanding sore hari. Tentunya hal ini bukan saja karena faktor pencemaran udara (objek polutan) dari kendaraan atau industri, namun karena faktor geografi alam yang berhubungan dengan metereologi.

Salah satu alasannya adalah teori mixing height. Mixing Height (MH) merupakan level ketinggian dari permukaan tanah dimana terjadi suspensi atau pembauran berbagai partikel atau senyawa. Level suspensi yang rendah (low level mixing height)  berarti udara cenderung stagnan atau diam (tidak mengalami suspensi/pembauran) yang ditandai dengan terperangkapnya polutan di permukaan tanah. Kondisi low level MH, membuat antara udara di atas permukaan dan polutan di sekitar permukaan seolah-olah membentuk lapisan terpisah. Hal ini dapat dianalogi terpisahnya minyak  dan air. Minyak (atas) dalam hal ini adalah udara bebas, sedangkan air (bagian bawah) adalah polutan yang terperangkap.

Hal ini berbeda untuk kondisi high level MH (level suspensi yang tinggi) dimana udara dan polutan mudah bercampur. Jadi, kondisi level tinggi memungkinkan kadar polutan di permukaan bumi berkurang karena polutan dapat naik ke atas permukaan dan tersuspensi dengan partikel udara bebas.

Perlu dicatat bahwa faktor yan mempengaruhi MH (artinya yang menentukan nilai high atau low) adalah struktur geografis  (bentuk dan tinggi alam) dan waktu (pagi, siang, sore, malam). Jadi antara Kota Jakarta dan Bandung akan memiliki karateristik MH yang berbeda.

Low level dan high level dari MH berbeda dari satu wilayah dengan wilayah lain. Berikut hasil penelitian G Holtworth dalam “Mixing Heights, Wind Speeds and Potential for Urban Air Pollution Throughout the Contiguous United States” yang dipublikasikan pada tahun 1972 serta penelitian Ferguson dan Peterson, “Automated, realtime predictions of cumulative smoke impacts from prescribed forest and agricultural fires” pada 2001.

  • Karateristik Mixing Height untuk Wilayah Lembah dan Basin
    Studi kasus kota Bandung
    Low level terjadi pada malam hari dan menjelang pagi, sedangkan high level terjadi pada siang hingga sore hari.
    Jadi untuk wilayah basin seperti Bandung, kondisi udara pada pagi hari adalah low level MH yang berarti polutan-polutan dari industri dan kendaraan motor pada sore dan malam hari kemarin akan terjebak (berkumpul) di permukaan tanah. Atau udara-udara kotor (berbahaya) tidak bisa naik dan bercampur dengan udara lain yang lebih tinggi. Hal ini menyebabkan udara pada pagi hari (dipermukaan tanah) memiliki kadar kandungan polutan/pencemar yang lebih tinggi dibanding sore harinya.
    Rata-rata ketinggian MH pada pagi hari adalah 300 hingga 900 meter.
  • Karateristik Mixing Height untuk Wilayah Lembah/basin
    Studi kasus Kota Jakarta, Surabaya, Semarang, Yogyakarta, Medan dan kota-kota pesisir Pantai
    Mixing height di pesisir pantai sangat dipengaruhi oleh kondisi udara dan awan di laut yang menghambat radiasi pendinginan pada malam hari.
    Di daerah pesisir pantai, high level MH terjadi pada pagi hari, dan low level MH terjadi pada sore hari terutama pada musim dengan temperatur yang lebih dingin. Jadi untuk kasus kota Jakarta, kualitas udara pada pagi hari lebih baik dibanding sore hari, karena pada pagi hari polutan naik ke atas dan bercampur dengan udara bebas.

Catatan :
*Selain untuk menentukan kualitas udara sesaat (pagi, siang atau malam), dengan karateristik mixing height suatu wilayah, kita dapat menentukan sebaran  (ketinggian) dari asap/kabut dari suatu kota/wilayah.
**Saya hanya menggunakan teori Mixing Height untuk menilai kualitas udara pagi dan sore Bandung (padahal ada aspek- aspek lainnya)

Kesimpulan

Kesimpulan pertama dari analisis tersebut hanya mengubah streotife bahwa olahraga pagi lebih sehat dibanding sore hari atau dalam bahasa umumnya adalah udara dipagi hari lebih baik dibanding udara sore hari di perkotaan. Ingat, kasus-kasus ini hanya memiliki dampak perubahan yang besar antara high level dan low level untuk daerah perkotaaan yang memiliki pencemaran udara dari kendaraan dan industri yang tinggi. Sedangkan untuk wilayah pedesaan yang jauh dari polusi, maka udara di pagi hari lebih baik mengingat dunia flora (tumbuhan) mulai melepaskan oksigen secara besar-besaran untuk fotosintesis. Sedangkan pada sore hari, kadar oksigen akan menurun seiring menghilangnya matahari dari langit bumi.

Kesimpulan kedua adalah analisis ini hanya menentukan perbandingan kualitas udara pada pagi, siang, sore atau malam hari di suatu kota. Sedangkan total kualitas udara tahunan (bulanan) antara satu kota dengan kota lain tidak bisa ditentukan dengan metode Mixing Height ini.  Kualitas total udara tahunan sangat ditentukan oleh aktivitas manusia dan juga alam sekitarnya (misalnya di pegunungan). Jelas, kualitas udara Bandung lebih baik dengan Kota Jakarta yang super padat, sibuk, ratusan ribu kendaraan dan puluhan ribu industri.

Kesimpulan ketiga, khusus untuk kota Bandung, kualitas udara di pagi hari kurang baik dibanding sore hari mengingat terjadinya low level MH pada pagi hari. Jadi, khusus untuk Bandung, olahraga pada sore hari tampaknya lebih baik dibanding pagi hari. Hal ini tentu berbeda ketika Bandung di era 90-an dimana Bandung masih asri. Ketika Bandung di era 90-an, bisa dipastikan udara di pagi hari masih lebih baik dibanding sore hari.

Kesimpulan keeempat sekaligus saran adalah kurangi polusi udara dari berbagai aktivitas kita dari rumah hingga ke sekolah, kantor atau pasar. Gunakan “kaki alami” untuk menempuh tempat dengan jarak kurang dari 100 hingga 200 meter. Jika tidak mendesak, gunakanlah transportasi umum. Jika mau berhemat sekaligus menyelematkan bumi, hematlah kantong plastik, kertas, air, listrik dimana semua pemakaian tersebut berhubungan baik langsung maupun tidak langsung pada udara dan lingkungan.

Anda warga Bandung, akankah paridgma Anda akan berubah?
Untuk warga non-Bandung, bagaimana dengan kota Anda?

Terima kasih,9 April 2009
Salam Perubahan yang Lebih Baik – ech for nusantaraku

9 Komentar leave one →
  1. April 9, 2009 10:38 AM

    Terima kasih infonya… Hum ya… pernah mendengar info seperti ini, dan kali ini dijelaskan dengan begitu terperinci.


    Re: Ihwan

    Yah….lebih rinci lebih baik..
    Terima kasih juga.

  2. alan permalink
    April 10, 2009 1:12 PM

    wah gtu yah… sering lari pagi di sabuga … g sehat brati ya…

    nice info!!!


    Re: Alan

    Secara fisikal (jantung dan otot) akan sehat, namun pernafasan menjadi tidak sehat.
    Jika ingin tetap olahraga pagi, solusinya adalah olahraga indoor.
    Terima kasih kembali

  3. samat permalink
    April 10, 2009 3:58 PM

    Tapi kalau lari sore hari di sabuga juga banyak polusi tuh ?? Jadi mana yang bener yah ??

  4. islamarket.net permalink
    April 11, 2009 6:06 AM

    kalo banyak polusi, ya pake masker, dhong!

  5. Treante permalink
    April 11, 2009 1:01 PM

    jadi bandung yang tampaknya… ternyata buruk kualitas udaranya?!
    bahkan di saat pagi pun!!!

  6. April 16, 2009 11:27 AM

    salam kenal…tukeran link yukk…..

    Re: Madzz
    Sudah saya tautkan link Saudara. Terima kasih.

  7. April 16, 2009 11:28 AM

    yang ini juga……………..yaa……………

  8. andi permalink
    Mei 25, 2009 4:05 PM

    Hmmm. Kudu agak cermat buat ngebaca artikel ini.

    Berdasarkan pengalaman olahraga saya sejak taun 2001, pagi ato sore gak jadi soal. Tergantung kapan kita punya waktu buat olahraga. Siang ato malem pun oke2 aja. Yang pasti, setiap waktu tsb perlu persiapan yang berbeda. Ini berdasarkan pengalaman lho.

    Jangan banyak menimbang2 untung rugi dalam hal olahraga. Seperti kata iklan, Just do it. Tapi, jangan juga maksain badan. Kalo lagi demam, yaaaa wayah na wee eureun heula. Ini juga berdasarkan pengalaman pribadi.

    Lebih baik olahraga di waktu yg ngga tepat daripada ngga olahraga sama sekali.

  9. Desember 15, 2010 8:45 AM

    sekrang dah ga bandung saja, saya aja yang tinggal d pedesaan sulit olahraga pagi dengn udara segar karena terlalu banyak orang pnya motor

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: