Skip to content

Etiskah Gambar Megawati Bertanduk di FB: Say “NO!!!” to Megawati?

April 7, 2009

Pada Sabtu malam blog saya khususnya artikel mengenai Puan Maharani, Renny Sutiyoso dan Caleg DPD Djan Faridz  Miliki Buddha Bar mendapat refer dari account facebook (FB) Say-NO-to-Megawati (sudah diganti). Awalnya artikel tersebut berjudul “Rupanya Anak Megawati Miliki Buddha Bar bersama Renny Sutiyoso”, lalu saya update judulnya menjadi  Puan Maharani, Renny Sutiyoso dan Caleg DPD Djan Faridz  Miliki Buddha Bar. Artikel tersebut saya tulis pada akhir Februari dan hingga Maret memiliki trafik sekitar 104 pengunjung per hari. Dan hingga hari ini (6 April) telah mencapai 4094 pengunjung. Dan kemarin tulisan mendapat 301 pengunjung karena link facebook

Megawati

Megawati

Artikel tersebut saya tulis karena sangat prihatin dengan kondisi pemerintah, penguasa, petinggi partai, dan saudagar kaya. Pemerintah dengan mudah memberikan izin lantaran saudagar berbicara didampingi penguasa atau petinggi partai. Bahkan, yang sangat mirisnya adalah seorang pengurus ormas keagamaan sekaligus saudagar kaya yakni Djan Faridz dengan mudah memiliki bisnis bar yang notabene “haram”. Disamping itu, Djan Farids bisa dipastikan akan menjadi salah satu pemenang pemilihan DPD RI periode 2004-2009 asal Jakarta (dari lembaga survei). Sangat disayangkan bahwa wakil rakyat di DPD adalah seorang pengusaha Bar. Dan pencalegkannya didukung oleh Partai PPP.

Selain Djan Faridz, sudah menjadi rahasia umum bahwa Puan Maharani dan Renny Sutiyoso memiliki andil berdirinya Buddha Bar di Jakarta. Renny Sutiyoso yang mengusulkan kepada bapaknya yakni Capres Sutiyoso untuk mendirikan Buddha Bar setelah pulang dari Paris. Sedangkan Puan Maharani diakui dalam berbagai media massa sebagai salah satu pemilik saham franchising Buddha Bar di Jakarta. Hal ini erat kaitannya dengan bangunan “Mega Institute” merupakan milik pengusaha kaya “Djan Faridz”. Dan bisa kita duga bahwa pendirian bar tersebut menjadi sarang “skandal” politik-kekuasaan-kepentingan-uang.

Pada tulisan tersebut, saya kritik terhadap orang tua Puan Maharani yakni Mantan Presiden RI sekaligus Capres 2009 yakni Ibu Megawati serta Capres Sutiyoso yang “tidak berhasil” mendidik anaknya untuk menghargai simbol dan eksistensi agama lain, disamping “kok hanya bisa bisnis dunia hitam?” Bagaimana bisa menjadi pemimpin bangsa, jika masalah anak saja tidak bisa diselesaikan dengan baik dan benar? Namun, dibagian akhir tulisan saya kemukan bahwa bagaimanapun juga kita tetap menghargai kedua sosok tokoh negeri ini mengingat beliau-beliau pernah memimpin di negeri ini sebagai Presiden RI dan Gubernur DKI Jakarta.

Gambar Megawati Bertanduk

Menangapi “Facebook : Say No to Megawati”, sah-sah saja seseorang untuk tidak menyukai seorang Capres dan menyatakan opini ketidaksukaanya dalam masa kampanye Pemilu di dunia maya selama orang tersebut bukan kader partai. Jika mereka adalah kader partai, maka mereka telah melanggar UU 10 tahun 2008 dan dapat dikenai sanksi penjara. Oke, kita ambil bagian positif yakni “Semua Supporter Say No to Megawati” di FB adalah masyarakat biasa (bukan partai) yang dalam berbagai komenter menyebut diri sebagai orang cerdas.

Namun, saya tidak setuju dengan gambar yang ditampilkan pada halaman depan FB tersebut yakni “gambar Megawati yang diberi tanduk“. Dan saya tidak akan menampilkan gambarnya karena ini merupakan bentuk pelecehan yang tidak etis bahkan jauh dari intelektualitas yang didengung-dengung oleh mereka yang berkomentar di FB tersebut. Meskipun saya tidak mendukung Megawati, bukan berarti saya bisa melecehkan seseorang dengan gambar yang berafiliasi dengan hewan terlebih Mbak Mega pernah menjadi Presiden RI.

Sebelumnya, kasus-kasus pelecehan serupa pernah saya temui. Sebagian orang menghina Gus Dur karena matanya. Menghina Megawati dengan mengatakan pantatnya besar. Mereka yang mengakui bermoral dan beragama serta mendengung-dengungkan bahwa manusia merupakan makhluk ciptaan Tuhan yang sempurna diantara makhluk-makhluk lain, serta berkayakinan bahwa tidak ada manusia sempurna di dunia. Namun, faktanya mereka saling menjelekkan fisik ciptaan Tuhan. Mereka dengan mudah menghina seseorang karena ‘cacat fisik’. Mereka yang berpendidikan S1 atau S3 bahkan menghina seseorang yang berpendidikan SD karena perbedaan status pendidikannya.

Cobalah berhenti sejenak….. Tanyalah kepada diri kita : sempurnakah fisik kita? Bagaimana perasaan Anda jika foto orang tua Anda diberi gambar tanduk? Bagaimana perasaan Anda jika orang tua Anda tuli, bisu atau buta, lalu orang tua Anda dihina? Tidak cukupkah penderitaan yang dialami oleh mereka yang cacat? Mereka yang cacat telah berusaha payah menghadapi dunia, lalu dengan enteng kita menambah beban penderitaannya dengan hinaan dan cercaan fisik?

Pantaskah kita disebut intelektual, jika dalam diri kita masih penuh kesombongan dan menghina orang lain? Saya akan jauh menghargai seorang tukang sampah yang membersihkan lingkungan daripada kita yang bangga dengan “intelektualitas” namun merasa fisik kita adalah sempurna dan orang lain yang memiliki fisik jelek kita hina-hina.

Jadilah Intelektual yang Membangun dan Berhati

Hmm…. setelah 1 dekade pasca reformasi, tampaknya kebebasan telah salah diartikan, telah salah digunakan. Saya pikir sejak SD kita mendapat pendidikan moral (PMP, PPKN atau PKN) ditambah pendidikan Agama yang mengajarkan nilai-nilai luhur dalam kehidupan pribadi maupun bermasyarakat. Untuk menyampaikan aspirasi, ada banyak cara dan tahapan. Mulai dari musyawarah, diskusi, pernyataan pendapat, orasi, hingga demonstrasi. Untuk dunia maya, tulisan penyampaian data dan fakta, himbauan, kritikan, hingga petisi merupakan langkah-langkah menyampaikan aspirasi.

Petisi atau ajakan untuk menolak Megawati sebagai Capres seperti yang dilakukan FB intinya tidak ada masalah. Yang menjadi masalah adalah “bumbunya”, bukan “masakannya”. Saya yakin bahwa sebagian besar FB’ers tersebut tulus melakukan dukungan. Namun, sayangnya tidak sedikit yang berkomentar pelecehan harkat martabat. Dan hal yang paling menonjol adalah foto Megawati Bertanduk. Ini yang seharusnya tidak boleh dilakukan.

Kritiklah seseorang karena kebijakannya yang salah, sikap yang diambilnya keliru, koruptif dan sejenisnya. Kritiklah dan tunjukkan rasa kekecewaan Anda karena Pemerintah Mega menjual BUMN, KPK di masa pemerintah Megawati tidak bekerja semestinya, dan sebagainya. Lalu, berikan solusi bagaimana prinsip berdirikari, bagaimana mengembalikan aset-aset nasional kita? Dan jika terjadi kesalahan masa lalu, maka jangan sampai BUMN kita dijual kembali. Itulah yang harusnya dilakukan. Jangan kita menunjukkan ketidakcerdasan kita dengan menghujat “OMDOL” padahal kita tidak memberi solusi sama sekali.

Dan terakhir, sebelum berkomentar dan berpetisi, sudahkah kita “berdoa” dan mendekati diri dengan Sang Pencipta? Marilah kita sama-sama belajar dan saling mengingatkan untuk berbuat hal-hal baik. Disini saya juga sedang belajar, dan harapanya bersama rekan-rekan kita bentuk pribadi kita yang lebih baik. Mohon maaf, jika ada kata-kata yang tidak berkenan dengan saudara pembaca.

Jadilah masyarakat Indonesia yang lebih baik, santun dan beretika dengan selalu mencamkan “bagaimana perasaanku jika faku dhina karena fisikku?”, “bagaimana jika foto orangtua kita diberi tanduk atau ekor?”, “bagaimana jika aku dimarah?”. Marilah kita belajar mengkritik orang dengan bahasa dan cara santun serta memiliki solusi… Jadikan setiap komentar kita menjadi faktor “surga”, bukan faktor “neraka”.

Terima kasih – Untuk Blogger Sehat dan Nusantaraku yang Lebih Baik
7 April 2009

*** Catatan – 8 April 2009
Forumnya telah diganti, dan foto Megawati Bertanduk sudah tidak terpasang lagi di forum FB yang baru.

50 Komentar leave one →
  1. Mamat Penjol permalink
    April 18, 2009 9:12 AM

    Dimasa peresiden manapun,…kehidupan rakyat gak ada enaknya. Gak usah pakai presidenpun rakyat tetap bisa hidup. Sejak dijajah Belanda hingga terbentuk negara Indonesia sekarang, belum ada presiden yang peduli pada rakyat Indonesia. Bukti pernyataan saya hanya akan dimengerti oleh orang yang berfikir jernih dan menghargai manusia.

  2. Ibodonksmart permalink
    April 18, 2009 11:35 AM

    Jangan sok pikun bro…!!!
    Tragedi bom bali pada masa pemerintahannya siapa sih..?
    Tragedi bom mariot pada masa kekuasaanya siapakah…?
    GAM,RMS,Gerakan Papua Merdeka,Pembantaian di Poso & Almahera. Itu smua muncul/terjadi pada saat pemerintahan Megawati SP, bukan…???

    • Agustus 9, 2012 11:08 PM

      KALAU RAKYAT MAKMUR PASTI TIDAK AKAN ADA SEMUA YANG AGAN SEBUTKAN TU. TIDAK AKAN ADA ORANG YG MAU DI AJAK JADI PEMBERONTAK KLW PERUTNYA KENYANG ,,,,,, DASAR NEGARA EDAN !!!!

  3. Ujang Ch permalink
    April 18, 2009 12:18 PM

    bendera kita sama “merah-putih”
    lambang negara kita sama “garuda”
    dasar negara kita sama “pancasila”
    maka bersatulah untuk menuju masyarakat Indonesia adil dan makmur
    merdeka………………….!

  4. kaka_0807 permalink
    April 18, 2009 2:47 PM

    memang kesemuanya benar tapi menurut mereka sendiri.
    Cobalah perbaiki diri sendiri,, itu lebih baik..
    Jika tiap orang bisa memperbaiki diri sendiri,, pastilah lebih cepat berkembang dan lebih baik negara ini..

    Memperbaiki diri sendiri lebih sulit daripada menghujat orang..

    • curiouz permalink
      April 19, 2009 3:58 AM

      ooowww.. so sweet banget @kaka_0807… :mrgreen:
      *nggiiikuuut ngedukung @kaka_0807*.. halah

  5. rihandi permalink
    April 19, 2009 7:07 PM

    hidup SBY lanjutkan!!!!!!!!!!!!!!..bnr ga?

  6. ghozy permalink
    April 19, 2009 8:12 PM

    Jadi orng yang fair dong………!!!!!!!!!!!

  7. Damai permalink
    April 22, 2009 11:34 AM

    Di AS-Eropa wanita kulit cokelat Latin dan keturunan Afrika tetap berkulit…………..*************************


    Re:Damai/Haha

    Terima kasih atas kesediaan Anda datang dan memberikan tanggapan.
    Maaf, 99% isi komentarnya saya delete, karena saya pikir komentar Anda merupakan sebuah tulisan yang harusnya masuk dalam postingan, bukan komentar. Dengan konten sepanjang 1462 kata dan 9081 karakter/huruf, lalu dicopy paste dan masuk dalam beberapa tulisan saya, saya pikir sudah keluar dari koridor. Maka dengan segala etikad baik, sebaiknya tulisan Saudara yang berisi konten menarik mengenai Ras, etnis, warna kulit dipostingkan di blog gratisan seperti wordpress, blogspot, multiply dan lain-lain. Tulisan ini tidak membahas masalah ras,etnis ataupun warna kulit.
    Terima kasih atas pengertiannya.

  8. April 23, 2009 11:26 PM

    silakan mampir ke blog penulis idola saya (best seller waktu ngeluarin bukunya ‘jomblo’),
    http://www.suamigila.com

    coba liat pembahasan mengenai mobil & presiden…

    sory boz ga masukin link lengkapnya, cari sendiri kan bisa, hehee.. ^^v

    Re: Adodo AKA
    Sipp...thanks linknya.

  9. cinta indonesia permalink
    April 26, 2009 1:07 PM

    Kadang saya juga mikir, banyak yg kebablasan dalam mengkritik. Tentu tidak etis memberi tanduk pada manusia tak bertanduk, even saya sendiri bukan fans mega dan/atau partainya.
    Kesantunan mengkritik akan meningkatkan bobot kritik, bukan menjadikannya murahan ecek-ecek.

    Salam damai.

    Re: Ciinta Indonesia
    Sipp...mengkritik dengan damai dan cinta untuk Indonesia.

  10. joko permalink
    Juni 2, 2009 12:07 PM

    pak kalau ilmu dan pengetahuan masih dangkal jangan asal jawab. jangan terlalu membela sbylah BUMN dijual karena kontrak/kesepakatan lama orang lain lama yang harus dittd tapi yang ttd blok cepu siapa. GAM, RMS, Papua Merdeka, POSO, AMBON iru orde baru sudah begitu dan sebagai menkopolkam SBY disuruh Mega menyelesaikan tapi tidak mampu karena SBY terlibat dalam perancangan nya tapi JK disuruh Mega kok selesai dan aman ya. Kali disana SBY bukan menyelesaikan konflik ya tapi jual senjata TNI , ya makin rusuhlah. Tapi ketika menjabat presiden malah mengaku yang berjasa menyelesaikan konflik, JK aja gak mau sombong eh SBY malak sok berjasa. Ngapa kalian menjelekkan Mega padahal kalian tak tau apa apa soal konflik di Indonesia. Apa sih yang sudah dilakukan SBY. Selama menjabat kalaupun ada segelintir hasil ieu bukan prestasi dia tapi JK tapi ngaku ngaku di tv. Sekarang JK ngomong maka takutlah SBY. Lihat wajah SBY sekarang seperti orang ketakutan dan selalu tegang karena kedua saingannya tahu dia itu siapa, satu bekas presidennya satu bekas wakilnya

  11. callighan permalink
    Juni 2, 2009 12:19 PM

    Kusir la yau.

  12. syahdan permalink
    Mei 15, 2010 10:51 AM

    S’lagi Pak., SBY., Msih “Bsa” Ngpain Cri” Yg Laen Btul g”.,.,
    ,.,.,.,.Lanjutkan.,.,., No 31

  13. Januari 10, 2011 6:18 PM

    Bro……………. Ane nyang bahlul bosen denger orang pade berdebat rebut pepesan kosong. Menurut hemat ane, LEBIH BAIK NYALAKAN LILIN ATAWA OBOR DARIPADE NYEROCOSSSSSS MENGUMPAT KEGELAPAN.
    Siapapun nyang jadi pemimpinnya, selagi imperialis neo kolonialis dan berjuis gak di ganyang tetep aja……………

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: