Skip to content

Tragedi Situ Gintung : Kejahatan Pidana oleh Pemerintah?

Maret 30, 2009

Semoga Korban Bangkit

Saya berdo’a semoga para korban jebolnya danau buatan (situ) Gintung di Tangerang pada 27 Maret 2009 memiliki kekuatan mental menghadapi “bencana” ini. Semoga tekanan mental atas kehilangan anggota keluarga, sahabat,  luka,  tempat tinggal dan harta materi dapat pulih dengan cepat. Dan mari kita bersama-sama menyisihkan materi kita serta dukungan moril kepada para korban agar bangkit dari tragedi ini.

Berdasarkan data yang disajikan di sejumlah media massa dan konferensi pers pemerintah, maka jumlah korban yang tewas dapat mencapai 150 orang lebih. Hingga minggu malam, jumlah korban meninggal mencapai 97 orang dan hilang sekitar 100 orang. Ratusan rumah hancur, ribuan orang kehilangan saudara, harta atau rumah.

Sekilas Situ Gintung (@ Kompas)

Situ Gintung Sebelum Jebol

Situ Gintung Sebelum Jebol

Situ Gintung adalah danau buatan seluas 21,4 ha yang terletak Kecamatan Ciputat Timur, Kota Tangerang Selatan- Banten.  Dibuat pada era penjajahan Belanda pada tahun 1932-1933 untuk menampung air air hujan dari kawasan perbukitan sekitarnya. Situ ini mampu menampung 2.1 juta meter kubik air yang umumnya berasal dari mata air Gunung Salak dan Gunung Pangrango (Bogor).

Letak Situ Gintung bersebelahan dengan Kodya Jakarta Selatan dan dibelakang kampus niversitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta. Sehingga tempat ini menjadi objek wisata taman dan perairan bagi orang-orang Jakarta dan sekitarnya yang melepaskan kejenuhan aktivitas mingguannya.

Pada akhir pekan dan hari-hari libur, lokasi ini biasanya ramai pengunjung. Bagi warga Jakarta yang kekurangan ruang terbuka hijau, berada di sini memang akan memberi suasana lain: alam hijau, semilir angin, dan danau. Tujuan utama orang ke sini bukan danaunya, tetapi taman rekreasi yang dilengkapi fasilitas kolam renang, gazebo dengan pemandangan danau, area outbound, serta motor dan motor ATV.

Tiket masuknya tergolong murah, hanya Rp 5.000, meski untuk menikmati aneka fasilitas yang ada pengunjung masih harus mengeluarkan biaya lagi. Untuk pemakaian banana boat, misalnya, pengunjung masih harus membayar Rp 50.000/trip, lapangan tenis Rp 25.000/jam, main motor atau mobil ATV bayar lagi Rp 5.000 per beberapa putaran. Atau, kalau mau mencoba permainan outbound bayar lagi, dengan pilihan paket mulai Rp 25.000 hingga Rp 35.000. Kalaupun hanya membayar tiket masuk, bermain di area kolam renang sudah cukup memuaskan karena dilengkapi berbagai permainan.

Bencana Bendungan Terbesar

Tragedi jebolnya bendungan Situ Gintung bak “Tsunami kecil Aceh” di Jakarta. Secara kuantitas dampak,  tragedi jebolnya bendungan Situ Gintung termasuk tragedi terbesar sepanjang sejarah berdirinya Indonesia sejak 1945. Dan pada tanggal 27 Maret 2009 dini hari, wilayah Situ Gintung mengalami hujan deras yang menyebabkan pihak keamanan memberikan peringatan bahaya banjir sekitar pukul 02.00 WIB. Namun demikian, tidak ada tindakan lanjut pengamanan, hingga terjadi kebobolan tanggul selebar 30 m dengan ketinggian 6 m pada sekitar pukul 04.00 WIB dan sekitar 2,1 juta meter kubik air melalui melanda pemukiman yang terletak di bawah tanggul.

Ponin (45 tahun), warga Kampung Gintung, mengatakan sudah dua tahun tanggul di utara danau longsor sedikit demi sedikit . Warga pun khawatir dan beberapa kali melaporkannya kepada pemda setempat. ”RT sudah lapor ke mana-mana. Mungkin menunggu anggaran, jadi belum ada respons,”.(Ponin @ Republika Online).

Kerusakan yang menahun itu terjadi dekat pintu air. Biasanya, air danau dialirkan ke Sungai Pesanggrahan. Namun, sudah beberapa hari ini pintu air tak lagi bisa bekerja optimal karena muka air danau sudah sangat tinggi.

Human Error atau Bencana Alam?

Sebelum memasuki abad 21, banyak contoh-contoh kasus kelalaian manusia menyebabkan bencana alam atau bencana transportasi. Mulai dari kasus meledaknya pesawat Challenger milik NASA pada Januari 1986, meledaknya pabrik kimia Bhopal di India pada 2 Desember 1984, keruntuhan selasar Hyatt Regency Kansas City (USA) pada Juli 1981 dan masih banyak lagi. Dari kasus-kasus tersebut, ada satu benang emas yang menghubungkan semua itu yakni “manajemen terutama kebijakan penghematan dan finansial”.

Gambar : Kawasan Situ Gintung Pasca Jebol

Gambar : Kawasan Situ Gintung Pasca Jebol

Tidak bisa dipungkiri bahwa penghematan biaya konstruksi ataupun biaya perawatan (maintenance) merupakan faktor terbesar dari sejumlah bencana-bencana “murka” alam pada manusia. Begitu juga kasus Lapindo, dimana manajemen Lapindo menghemat biaya dengan tanpa menggunakan casing pengeboran disamping kurang aplikasi AMDAL pada struktrur geologi Sidoarjo.

Dan dari pengakuan warga di sekitar Situ Gintung, maka dapat identifikasi bahwa jebolnya Situ Gintung bukanlah masalah alam semata yakni air hujan. Dan dalam kasus ini, saya (opini) meyakini bahwa jebolnya tanggul situ Gintung lebih disebabkan pada human error (kesalahan manusia). Kesalahan utamanya terletak pada rendahnya manajemen resiko dan kurangnya tanggapnya aparatur negara melihat berbagai resiko/dampak yang mungkin terjadi.  Apalagi sebelumnya sudah ada laporan/keluhan dari masyarakat atas kerusakan tanggul yang berada di area Situ Gintung. Sesuai dengan amanat Undang-Undang, pemerintah selaku penyelenggaran negara memiliki tanggungjawab melindungi hak dan keamanan penduduk. Dan menanggapi secara cepat masalah-masalah yang berpotensi menyebabkan bencana besar hingga kematian manusia.

Jadi, dalam kasus ini, saya tidak sepenuhnya setuju jika dikatakan bahwa jebolnya tragedi Situ Gintung merupakan bencana dari Tuhan sehingga dengan gampang/enteng kita mengatakan ini adalah cobaan dari Tuhan. Tanpa mengamati kronologis dan bukti lapangan secara seksama, maka orang-orang yang dengan mudah mengeluarkan kata “ini adalah bencana alam dari Tuhan” merupakan orang yang tidak bertanggungjawab. Dan aneh, mengapa ketika hampir setiap bencana datang yang menewaskan puluhan bahkan ratusan orang, kebanyakan orang masih mengatakan ini adalah dari Tuhan? Padahal dengan preventif dan usaha penanggulangan, dampak sebuah bencana dapat diminimalisasi secara maksimal. (baca : Faktor Mempengaruhi Dampak Bencana).

Disamping kebijakan pemerintah (anggaran), kita perlu juga melihat berbagai faktor penyebab lain misalnya pengelolaan tata kota (pantaskah pemukiman di sekitar bendungan?) atau apakah luas arae hutan/pohon mengalami penurunan sehingga menurunkan fungsi penyerapan air ketika musim hujan? Ataukah ada kelompok tertentu melakukan sabotase agar Situ Gintung ditutup dan dijadikan lahan komersial? Jadi, jangan selalu menyalahkan Tuhan dengan mengatakan bencana ini adalah cobaan dari Tuhan, padahal banyak faktor kelalaian yang mungkin secara tidak sadar kita telah membantu proses kecelakaan/bencana itu terjadi.

Tragedi Situ Gintung : Tindak Kejahatan Pidana?

Menanggapi apakah bencana atau tidak, saya berikan sebuah ilustrasi kasus kecelakaan lalu lintas yang dialami oleh dua orang yang berbeda.  Sebagai contoh : si A dengan hati-hati menyeberang jalan (atau menyetir) dan lalu tertabrak, dan pada kasus lain ada si B yang tidak hati-hati (misalnya lagi stress atau lagi mabuk) menyeberang jalan (atau menyetir) dan lalu tertabrak. Maka, mana yang lebih tepat disebut sebagai bencana kecelakaan? Dan mana yang disebut sebagai kelalain? Dari dua kasus tersebut, jelas si B merupakan orang yang lalai dan tidak mematuhi aturan yang berlaku. Akibat kelalaiannya si B akhirnya tewas tertabrak. Sedangkan si B, meskipun sudah hati-hati, namun tiba-tiba ia ditabrak, maka si B murni mengalami kecelakaan (cobaan dari Tuhan).

Begitu juga ketika kita menanggapi kasus jebolnya tanggul Situ Gintung. Terlalu dini untuk menyimpulkan tragedi ini sebagai bencana alam, begitu juga sebagai human error. Namun, kita harapkan aparatur hukum yakni kepolisian bersama para pakar bendungan, para pakar lingkungan bersama masyarakat melakukan penyilidikan dan laporan intensif atas tragedi ini. Jika pernyataan Ponin (45 tahun), warga Kampung Gintung itu benar, dan juga ada masukan  atau kerisauan masyarakat akan dampak yang mungkin terjadi pada bendungan tersebut (jebol), namun tidak ditanggapi oleh pemerintah setempat yakni pemda Tangerang, pemda Banten bahkan kementerian pekerjaan umum,  maka kasus ini merupakan tindakan pidana oleh para pejabat pemerintah.  Jika ini benar yakni pemerintah tidak menganggarkan dana untuk melakukan perawatan Situ Gintung secara tepat dan benar, maka sudah sepantasnya para pejabat pemerintah ini dibui, karena secara sadar maupun tidak sadar telah mengakibatkan kematian ratusan orang, kehancuran ratusan tempat tinggal dan kerugian puluhan bahkan ratusan miliar.

Kita tunggu payung hukum menaungi para korban ini.
Salam Perubahan.
ech.nusa – 30 Maret 2009

Referensi : antara.co.id, kompas.com, dan republika.co.id
Artikel Terkait :
10 Bencana Terbesar Indonesia

Updated (1 April 2009)

Tadi saya barusan nonton Barometer SCTV yang menghadirkan warga korban Situ Gintung, mahasiswa, perwakilan Departemen Pekerjaan Umum, perwakilan Pemkot Banten, dan wakil peneliti di BPPT.  Diakhir acara, wakil dari Dep PU menyatakan dirinya siap bertanggungjawab atas bencana ini. Saya mengapresiasi sikap yang diambilnya pada akhir acara (pada awal acara beliau mengatakan ini bencana alam). Namun, sayang sekali bahwa pejabat di pemkot Tangerang masih berusaha lari dari tanggung jawab dengan masih membawa isu hujan yang lebat. Padahal kita tahu bahwa curah hujan ketika Banjir Besar Jakarta pada Januari 2007 silam jauh lebih besar daripada yang saat ini.

Seharusnya pejabat negeri ini minimal mulai meniru sikap perwakilan Pekerjaan Umum tersebut (ada yang tahu gak namanya siapa? saya lupa) dalam menanggapi bencana Situ Gintung. Sebenarnya, yang dibutuhkan adalah tanggung  jawab. Bukan aksi saling lepas tangan dan saling tuding. Dalam hal ini, kita tidak bisa menyalahkan hanya satu pejabat yang bertanggungjawab, termasuk perwakilan Dep. PU yang hadir di Barometer SCTV. Karena sistem birokrasi pemerintah saat ini masih “tuli” mendengar aspirasi rakyat. Bisa jadi, bawahan-bawahan di Deplu yang memutus jaring aspirasi masyarakat hingga ke atas. Termasuk di birokrasi pemerintah Tangerang.

25 Komentar leave one →
  1. tukiyar permalink
    April 5, 2009 10:16 PM

    Kebiasaan ‘kita’,adalah sangat mudah men’tolerir’ keadaan (biasanya),meskipun menyangkut masalah keselamatan . Mungkin ‘kita’ berpikir; “Kan sudah bertahun-tahun tidak terjadi apa-apa.Tanggul juga tebalnya segitu.Ndak mungkinlah kalo jebol”. Pikiran seperti ini tidak hanya milik warga sekitar ‘situ’, tetapi ada pada banyak sekali orang. ‘Kita’ masih merasa bangga bila melakukan hal-hal yang membahayakan diri atau orang lain.Apakah kita harus mencari siapa yang salah?Apakah itu bencana ataukah ujian?Semua sudah terjadi.Mari kita mainkan peranan kita masing-masing.Bagi warga korban,semoga dapat tetap tabah dan segera bangkit menatap masa depan.Kehidupan harus senantiasa berjalan.Bagi Pemerintah (Daereah maupun Pusat) ,segeralah memfasilitasi warga agar keadaan segera kondusif.DOA tetap yang terbaik dari semua sikap agar kita senantiasa kuat menerima setiap keadaan.


    Re: Tukiyar

    Benar Mas…. Berdoa dan berusaha…

  2. anak negeri permalink
    April 7, 2009 10:35 PM

    mari sama2 berjuang agar generasi bgs ini lebih bermoral dan bertanggung jwb. Dan jika menjadi pemimpin tdk hanya cukup ucapkan bela sungkawa pd tiap tragedi.

  3. gatel permalink
    April 12, 2009 2:44 AM

    saling introspeksi diri


    Re: Gatel

    Maaf, tanggapan yang dicopy paste, saya delete aja..
    Terjadi duplikasi.
    Catatan : untuk membalas komentar cukup memberi nama yang memberi komentarnya saja.
    Trims

  4. April 12, 2009 5:06 PM

    ngga jelas siapa yang salah.. yang penting wayoutnya..
    balas komen saya ke blog saya saja ya

Trackbacks

  1. 12 Peristiwa Penting & Populer 2009 di Nusantara « Nusantaraku

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: