Skip to content

63 Tahun Merdeka…Infus dan Kantong Darah Tetap Impor

Maret 27, 2009

Beberapa minggu yang lalu, saya mengunjungi teman saya yang sedang sakit di sebuah rumah sakit negeri Bandung (RSHS). Teman saya terkena kompilasi thypus dan harus dirawat beberapa hari di rumah sakit. Namun, ada satu hal yang membuat saya cukup prihatin hingga saat ini, yakni paket infus + cairannya merupakan produk impor dari Malaysia. Saya cukup sedih mengingat bahwa infus merupakan salah satu kebutuhan yang sangat penting di rumah sakit, namun untuk infus saja kita harus impor dari luar negeri.

Cairan Infus

Cairan Infus

Cukup sedih mengingat hal yang serupa juga saya alami dan amati beberapa bulan silam ketika saya  untuk pertama kali ikut donor darah PMI. Sebelum proses donor darah, saya diberikan sebuah kantong/tabung darah untuk diberikan kepada panitia/perawat yang akan mengambil darah saya. Lalu, sayapun melihat tulisan-tulisan yang tertera di kantong dan mulai mengamati cairan-cairan apa saja yang ada di kantong tersebut. Lalu sayapun bertanya mengenai fungsi cairan pada kantong tersebut. Dan akhirnya pun saya bertanya kepada petugas : “Kok,tabungnya buatan dari Singapura?”

Dari dialog singkat, saya mendapat informasi bahwa dulu ada kantong darah hasil produksi Indonesia. Namun, entah mengapa produk Singapura yang akhirnya menjadi standar PMI. Katanya kualitas lebih baik, lalu biaya produksi di Indonesia lebih mahal dibanding di Singapura, sehingga harga dari Singapura sangat kompetitif dibanding lokal. Padalah dari informasi yang saya dapat, sehari saja PMI kota Bandung membutuhkan lebih dari 300-400 kantong darah. Bayangkan berapa jumlah kantong darah yang dibutuhkan untuk wilayah Indonesia?

63 Tahun Merdeka, namun Infus dan Kantong Darah Masih Impor

Mengapa meskipun kita telah 63 tahun merdeka dari penjajahan, cairan infus dan kantong darah harus impor dari luar negeri. Padahal kebutuhan cairan infus dan kantong darah memiliki urgensi yang sangat vital bagi nyawa dan kesehatan para pasien. Berbicara tentang kualitas, oke…kita akui produk kita mungkin kurang baik dibanding negara-negara maju. Namun ini bukan berarti bahwa selama-lamanya produk kita tetap jelek. Jika semua komponen bangsa memiliki mental kaizen (continous improvement),  maka kita akan mampu memiliki produk yang unggul. Jepang dan China menunjukkan hal tersebut. Meskipun pada awalnya produk Jepang relatif buruk dibanding produk Eropa di awal tahun 60-an hingga 80-an, namun produk Jepang kini terkenal sangat baik. Begitu juga pada China, pada awalnya produk China relatif buruk secara kualitas, namun beriringnya waku, produk-produk China semakin membaik.

Bagaimana produk kita bisa langsung bagus jika tidak mengalami proses pembuatan, modifikasi, perbaikan yang lebih baik? Bagaimana ada produk yang bagus jika kita tidak pernah membuatnya? Bagaimana kita bisa sukses mencapai puncak gunung yang tinggi, jika kita hanya berdiri diam menatap puncak salju di gunung?

Oleh karena itu, marilah kita bersama-sama bangkit dari keterburukan kondisi ekonomi dan industri yang mandiri. Marilah kita mulai menggunakan produk dalam negeri meskipun pada awalnya kualitas produk tersebut kurang bersaing. Disisi lain, kita berharap para produsen memiliki sensitivitas menanggapi masukan dari konsumen seraya melakukan perbaikan (kaizen) produk yang lebih baik. Sementara, pemerintah dapat melakukan stimulus pembangunan industri strategis seperti pembuatan infus dan kantong darah. Meskipun harga produk satuan infus atau kantong darah relatif lebih mahal (pada awalnya), namun secara integrasi, pembangunan industri tersebut memberikan “snow ball effect” pada berbagai bidang.

Dari segi ekonomi, kita mulai mandiri menghasilkan produk yang berteknologi dalam bidang kesehatan (tidak tergantung pada asing). Pembangunan industri juga memberikan efek positif dengan adanya lapangan kerja profesional dibidang industri kesehatan. Hal inipun mengurangi pengangguran, sekaligus meningkatkan daya beli masyarakat. Jadi, meskipun pada awalnya produksi lokal untuk infus dan kantong darah relatif mahal, namun ini akan memberikan efek ekonomi yang jauh lebih besar disamping meningkatkan martabat bangsa yang telah merdeka lebih dari 6 dekade. Dan saya percaya bahwa, jika semua komponen bangsa memiliki etikad, disiplin,  dan keberanian yang tinggi, maka kitapun mampu menciptakan barang produksi yang murah.Kita tunggu gebrakan dari pemerintah terutama kementrian kesehatan, perindustrian, ristek dan BUMN seraya mengubah pola belanja kita yakni beli dan gunakanlah produk dalam negeri untuk kemakmuran bangsa ini.

Btw, apakah rumah-rumah sakit di daerah rekan-rekan pembaca juga menyiapkan infus yang diimpor? Apakah Anda mengamati hal yang sama pada kantong donor darah? Bagaimana Anda menyikapinya?

Terima kasih (ech.nusa) – 27 March 2009

Iklan
10 Komentar leave one →
  1. Maret 27, 2009 12:10 PM

    -> Marilah kita mulai menggunakan produk dalam negeri meskipun pada awalnya kualitas produk tersebut kurang bersaing.

    Setuju sekali !! saya awam mengenai bidang kesehatan, tapi produk lokal saya mulai dari menggunakan tas buatan tajur bogor, baju buatan usaha kecil masyarakat, sepatu (heeem yang ini belum bisa :p mungkin satu saat nanti)

    Melihat kondisi kesehatan masyarakat Indonesia & pelayanannya, miris hati ini.
    Belum lagi mal praktek terjadi di mana – mana.

    Good posting ! 😉

    http://ceritaeka.wordpress.com


    Re: Ekaria27

    Oke, terima kasih yah…

  2. Maret 27, 2009 5:18 PM

    bikin RUU dulu, capek deh ngarepin kesadaran bersama-sama bangkit dari keterburukan, etc


    Re: Hastu

    Meskipun sulit membangkitkan kesadaran kolektif, minimal mulai dari diri kita dan para pembaca dapat berusaha membangkit kesadaran tersebut (meskipun tidak mudah).
    Kalo terus mengharap UU, maka akan terasa sulit. Kita dapat belajar realita bahwa banyak UU yang telah dibuat, namun masih “tidur” alias tidak diterapkan.

  3. bumikitta permalink
    Maret 27, 2009 9:00 PM

    Saya juga pernah. Kejadiannya sama karena disuruh ngambil infus, sekalian diteliti kandungannya itung2 menandingkan ilmu yang dipelajari waktu sma. memang barang luar.
    Sistem ekonominya tuh yang perlu diperbaiki. Untuk produksi barang baguskan butuh modal, nah modalnya datang dari pemerintah. Modal yang diberikan tergantung dari kemampuan manajemen perusahaannya. Seperti serangan partai G ke SBY tapi modalnya diberikan ke usaha industri.
    Kok ga ada ide baru ya? Karena saya bukan orang ekonomi. Intinya sih perbaikan sistem manajemen.

    @hastu
    RUU?
    UU dan turunannya setau saya cuma tentang ekspor-impor. Indonesia cukup protektif kok soal barang impor, dengan maksud melindungi produksi dalam negeri. Cuma untuk barang keperluan kesehatan seperti infus malah dipermudah(BMnya dibebaskan).
    Pelaksanaannya oleh Bea dan Cukai kata orang dalam sih baik(niatnya).

  4. bumikitta permalink
    Maret 27, 2009 9:17 PM

    TYPO.
    menandingkan =membandingkan.

    Tambahan.
    Kekurangan kita adalah pada masa sebelum ada peraturan kepabeanan(1995) barang dengan mudah diimpor, karena peraturan yang dipakai adalah peraturan ordonasi belanda. Jadi masyarakat sekarang punya kebiasaan untuk mengkonsumsi barang impor.
    Saya awam jadi bila ada fakta yang lebih tepat mohon dibenarkan.
    Terima kasih.

  5. dionbarus permalink
    Maret 28, 2009 3:00 AM

    @ Peraturan Ordonansi Belanda masih dipakai dalam KUHPerdata dan KUHDagang daan Peraturan Kepabeanan bukan lagi merupakan produk Ordonansi Belanda namun sudah menjadi produk legislatif nasional Indonesia.

    Mengenai produk lokal Indonesia, saya jujur gak bisa komentar apa-apa karena memang gak bisa lagi dikomentari. Tapi yang jelas, untuk negara yang baru berkembang seperti Indonesia yang diperlukan adalah usaha yang PADAT KARYA bukan PADAT MODAL, sehingga bentuk hasil dari usaha itu adalah produk yang lebih sederhana dan cenderung kebutuhan sehari-hari bukan produk yang Sophisticated. Ini ada hubungannya dengan mikro ekonomi.

    Jadi ketika produk infus dan kantong darah itu masih diimpor sebenarnya bukan salah masyarakat Indonesia karena saya yakin kita dapat membuatnya, namun sekali lagi ini adalah industri PADAT MODAL yang mayoritas masyarakat Indonesia sulit untuk menjangkaunya.

    Kalau tidak percaya, silahkan lihat produk-produk impor dari luar semuanya adalah produk dari usaha yang PADAT MODAL.

    Sedikit penjelasan dari saya.

    Re: Dionbarus
    Hm…..kalo bicara KUH **, saya no comment (tidak ngerti).
    Saya setuju bahwa pemerintah dan pengusaha harus mengedepankan industri padat karya, tapi tetap harus mengedapankan industri strategis/pokok (meskipun padat modal). Seperti PT Pindad dan PAL, industri telekomunikasi dan satelit, begitu juga industri kesehatan yang urgensinya sangat tinggi (menyangkut hidup-mati pasien). Lagipula, investasi untuk infus dan tabung darah tidak membutuhkan dana yang tidak terlalu besar. Tentu kita tidak mungkin membangun industri produsen chip yang membutuhkan investasi USD 1 miliar.
    Trim atas informasinya

  6. bumikitta permalink
    Maret 28, 2009 7:44 AM

    Memang ordonansi Belanda masih dipakai di peraturan kita, karena memang hukumkan kiblatnya di Belanda.
    Tapi untuk kepabeanan Indische Tarief Wet Staatblad 1873 no.35, Rechten Ordonnantie Staatblad 1882 no.240, dan Tarief Ordonantie Staatblad 1910 no.628 yang semuanya tentang kepabeanan tidak dipakai walaupun sudah direvisi beberapa kali, karena terlalu banyak yang mau diubah dan berbeda dasar dengan Pancasila, maka diubahlah dengan uu no.10 1995 dan sekarang uu.17 2006.

    Setelah mendapat pencerahan, saya setuju dengan mas dionbarus. Untuk permulaan usaha micro dulu, tapi ditambah sistem manajemen.

  7. Maret 28, 2009 12:09 PM

    ya, saya bangga pakai produk dalam negeri.

  8. Maret 29, 2009 8:56 AM

    I Love Produk Indonesia.
    Menurut aku mindset orang Indonesialah yang harus dirubah, Karena kita dah di cekokin 32 taun lebih tergantung pada produk asing.
    Kita lebih percaya akan produk Asing dari pada produk Indonesia, dengan alasan ga percaya kualitas bahakan yang lebih banyak menurut aku adalah Gengsi.
    Coba kita lihat pada mainan anak kecil dari plastik yang harganya murah aja produsennya lebih suka pasang “Made in Cina” bukan “Made In Indonesia”, apalagi yang lain.
    Aku sepakat “marilah kita bersama-sama bangkit dari keterburukan kondisi ekonomi dan industri yang mandiri. Marilah kita mulai menggunakan produk dalam negeri meskipun pada awalnya kualitas produk tersebut kurang bersaing.”
    Kalo bukan dari kita sendiri yang mencintai n pakai produk dalam negeri siapa lagi?

    Klo tuk UU atau yang berbau Hukum “no comment”.
    Yang jelas mari kita kembali ke Pembukaan UUD 1945, Pancasila, UUD 1945, karena amandemen saat ini ga perpihak dengan rakyat atau ga sesuai dengan jadi diri bangsa, klo mo diamandemen harus sesuai dengan jadi diri bangsa yaitu sesuai dengan yang tercantum dalam Pembukaan UUD 1945.
    Terima Kasih


    Re: Trinil

    Benar, kita harus bangkit memulainya.
    Namun, yang tidak kalah pentingnya adalah pengusaha-pengusaha lokal yang harus secara kreatif dan responsif memperbaiki produknya agar lebih baik.
    Trims

  9. April 1, 2009 1:33 AM

    katanya menteri perindag kita harus menggunakan produk dalam negeri???? mana yaaaaa???????????????????

  10. muliawan permalink
    April 15, 2009 1:58 PM

    Sebetulnya produk infus dan jarum suntik sudah diproduksi dalam negeri oleh PT Rajawali Nusantara Banjaran , namun karena kebutuhan untuk Indonesia sangat buaaanyak sekali jadi sebagian perlu dipenuhi dari import , mungkin yang saudara temui adalah barang yang ex-import. Saya yakin kalau produk2 kita sudah dipakai oleh masyarakat kita namun karena jumlah penduduk kita yang banyak jadi tetap saja masih kurang , dan inilah peluang buat temen2 pengusaha yang kreatif. Yuk kita jadi manusia yang kreatif sajalah dan jangan jadi komentator doang dan selalu mengeluh serta menjelek-jelekan bangsa sendiri kaya politikus di TV . OKKKK


    Re: Muliawan

    Thans infonya yg tidak saya alami. Saya berharap agar produksinya dapat ditingkatkan, kan pasarnya besar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: