Skip to content

Hilangnya Etika Moral Pemimpin Negeri Ini

Februari 26, 2009

Menjelang Pemilu 2009 ini, banyak pemimpin negeri di partai-partai politik yang tanpa etika berbicara (iklan) kepada rakyat bahwa hanya merekalah yang berhasil melakukan kemajuan di bidang ini atau bidang itu.  Dan yang paling konyol (brengsek) adalah mereka yang memaparkan data-data subjektif, data-data kebohongan, data-data yang mengabaikan jeritan jutaan rakyat Indonesia. Mereka asyik menyampaiakan nostalgia-nostalgia, namun pada intinya tetaplah sama, tidak ada perubahan signifikan yang berarti ini.

Hal yang sangat fenomenal adalah klaim keberhasilan sepihak Partai Demokrat atas Swasembada pangan yang baru dapat terealisasi di tahun ke-5 Pemerintah SBY (tanpa JK : dalam iklannya). Secara politik sah-sah saja, namun sesuai dengan jati diri bangsa Indonesia, berdasarkan nilai-nilai luhur nenek moyang bangsa Indonesia, nilai kejujuran, integritas, kebersamaan (bersama kita bisa), maka iklan Demokrat telah berusaha mendegradasi nilai-nilai luhur ini.

[Realita] Demokrat lupa bahwa puluhan ribu petani di desa-desa harus berjuang meneteskan darah dan keringat untuk memperoleh pupuk yang langka dan mahal. Demokrat lupa bahwa Menteri Anton Apriyanto bersama jajarannya di Deptan berusaha bekerja keras dengan sosialisasi benih unggul, lalu mengajukan rencana-rencana besar kepada Presiden SBY-JK. Disisi lain, Demokrat lupa bahwa peningkatan anggaran subsidi pupuk disuarakan oleh panitia anggaran DPR yang meliputi berbagai fraksi. Tanpa ada tekanan fraksi berbagai parpol di Senayan, maka kebijakan pemerintah SBY-JK sudah dapat dipastikan yakni mendengar dikte IMF, Word Bank, Amerika yang meminta mengurangi subsidi pertanian.

Tingkah laku tidak etis, juga dicontoh dengan sangat baik oleh iklan Partai Golkar, yang mengikuti jejak iklan Demokrat yang mengklaim secara sepihak telah berhasil swasembada pangan. Alasan-alasan keberatan saya, sama dengan [Realita]. Demikian juga iklan PKS, seolah-seolah pemerintah ini dipimpin oleh ribuan pemimpin. Pak Anton Apriyanto merupakan menteri dalam kabinet SBY-JK. Sehingga, mereka Demokrat-Golkar-PKS (dalam iklan ini), harusnya lebih mementingkan kepentingan bangsa daripada kepentingan partai.

Secara psikologis, kerja sama dan rasa kekeluargaan akan semakin jauh diantara para menteri di kabinet SBY-JK ini. Adanya iklan tandingan dari Golkar dan PKS  terhadap iklan Demokrat memberikan pelajaran kepada rakyat bahwa apa yang dilakukan oleh pemerintahan SBY-JK cenderung demi KEKUASAAN POLITIK, bukan KEPENTINGAN RAKYAT. Ini juga menandakan bahwa tiap pemimpin ini MENYOMBONGKAN DIRI SENDIRI secara terbuka dengan iklan. Pemimpin negeri ini menggangap masyarakat kita bodoh seperti sampah, tidak mengerti apa dibalik iklan parpol-parpol yang memalukan ini.

Jelas sudah, iklan-iklan 3 partai ini, secara keseluruhan akan menurunkan kinerja pemerintah demi rakyat, tapi akan meningkatkan kinerja pemerintah demi partai politiknya. Benih-benih perpecahan (tidak bersatu) akan mewarnai kinerja pemerintahan SBY-JK hingga Oktober 2009. Dan yang sangat berbahaya adalah parpol yang kehilangan ide visi-misi iklan politik, akhirnya menganggap Presiden adalah milik Partainya, Wapres adalah milik Partainya, Menteri adalah milik partainya. Padahal, baik presiden, wakil presiden, maupun menteri adalah milik rakyat Indonesia, mereka harus mengabdi untuk rakyat Indonesia. Seharusnya Presiden, Wakil Presiden dan para Menterinya harus fokus pada program-program mengurangi angka kemiskinan yang telah meningkatkan tajam sejak 2004. Dari 36.1 juta jiwa penduduk dengan pengeluaran Rp 6000 per hari/orang, kini meningkat menjadi 41,7 juta jiwa penduduk.

Dan sangat aneh dan absurd sekali, Bapak Presiden kita, Presiden SBY  (Dialog khusus SBY “AKhirnya SBY Bicara” di Metro TV) mengatakan bahwa angka kemiskinan turun selama 5 tahun ini.. Bapak, sebagai presiden jangan berbohong dengan data dan fakta. Saat ini penduduk miskin 41,7 juta jiwa (Desember 2008), bandingkan sebelum Bapak memimpin negeri ini 36,1 juta jiwa (2004). Anak SD saja akan tahu bahwa 36,1 juta menjadi 41,7 juta artinya meningkat bukan turun. Masa’ kalah secara hitungan dengan anak SD.

Belum lagi iklan anggaran Pendidikan 20% yang mengabaikan jerih payah PGRI yang melakukan gugatan ke MK pada Agustus 2008 menuntut sekaligus menggugat kebijakan pemerintah yang selama ini (hingga Agustus 2008) tidak merealisasikan anggaran pendidikan sebesar 20%.  Meskipun UU telah disahkan sejak 2003. PGRI menilai pemerintah SBY-JK telah melanggar konstitusi tertinggi. Ketika PGRI berbicara baik-baik dengan pemerintah SBY-JK, pemerintah menggubris. Akhirnya PGRI cukup cerdas dengan melakukan gugatan ke MK, dan akhirnya PGRI menang dan mungkin secara terpaksa SBY-JK harus merealisasikan anggaran pendidikan 20%. Jika anak SD diberitahu tentang hal ini dan iklan partai Demokrat, mungkin sebagian mereka tidak mau lagi belajar PKN (pancasilan dan kewarnegaraan)….toh, para pemimpin partai tidak pernah menghargai hasil karya orang lain (PGRI) yang berusaha menggugat untuk merealisasi anggaran 20%. Dan secara tidak langsung, iklan partai Demokrat “melanggar hak cipta” gugatan PGRI di MK.

Sudahlah!

Tulisan saya ini juga tidak akan ditanggapi oleh petinggi Demokrat. Juga tidak akan ditanggapi oleh pemerintah saat ini. Tulisan saya akan dianggap sebagai suara minoritas, suara oposisi, tidak mencerminkan penderitaan rakyat. Pemerintah dan parpol baru akan menanggapi jika ada ribuan demonstran. Kita bisa bayangkan bahwa anjuran-anjuran para pakar seperti Kurtubi, Kwik Kian Gie, Amien Rais, dan sejumlah tokoh dari tulisan ataupun dialog, dimasukin ke tong sampah.

Kita disini hanya bisa berdo’a dan berusaha memperbaiki diri agar tidak jatuh pada sifat-sifat yang saling menyikut, saling menyombongkan diri (klaim-klaim keberhasilan sepihak), suka menipu dengan iklan busuk (termasuk  juga iklan tidak bertanggungjawab tanpa identitas), lebih mementingan kepentingan golongan (partai) di atas kepentingan rakyat Indonesia, atau sikap saling curiga (kabinet yang tidak bersatu). Dan semoga, para pemimpin menyadari bahwa mereka dipilih bukan untuk figur parpol tapi untuk menyelamatkan bangsa dari keterburukan kemiskinan, pendidikan, kurang gizi, kesehatan (ex: fenomena Ponari), penjualan BUMN dan aset negara.

Janganlah parpol menggunakan image atau figur Presiden, Wapres, atau Menteri dalam iklan politik yang berpotensi mengurangi kekompakan dan kesatuan di kabinet ini. Meskipun saya bukan orang partai, saya sendiri sangat risih dengan iklan-iklan yang mengklaim keberhasilan secara sepihak. Sehingga, mungkin PKS pantas “marah” dengan iklan swasembada pangan. Dan PGRI juga pantas “marah” dengan klaim iklan Demokrat tentang anggaran pendidikan 20%.

Akhir kata, meskipun parpol atau pemimpin dalam pemerintahan tidak mau mendengar keluh kesah kita, maka kekuatan rakyat yang cerdaslah yang mampu menjadi pilar penyimbang mereka. Rakyat harus cerdas, pilih pemimpin, caleg, parpol yang hanya mengeluarkan kata-kata indah, tapi hati dan pikiranya tidak beretika moral. Sungguh miris, pemimpin di parpol maupun di pemerintah yang harusnya menjadi contoh bagi rakyat Indonesia dengan perilaku etis dan bermoral, kini sudah jauh dari harapan.

Wahai, parpol…berubahlah tuan dan puan…..mohon selamatkan bangsa ini….Jangan memberi contoh yang busuk dalam berkampanye.

echnusa – 26 Feb 2009

7 Komentar leave one →
  1. Februari 27, 2009 7:32 PM

    iklan sekarang lebih banyak menipu yach..
    salam kenal.. silahkan kunjungi blog sederhana saya di warnadunia.com 🙂


    Re: winsolu

    O..oh..
    Winsolu.wordpress-nya gimana?

  2. Februari 27, 2009 8:29 PM

    nampaknya kita perlu benahi nih sistem politik di negara kita

  3. kingandam permalink
    Maret 2, 2009 10:48 AM

    Yang miskin udah banyak yang mati kelaparan, kesakitan, dan lain sebagainya…..
    Kebutuhan pokok mahal, rumah sakit mahal…………., semua mahal……….
    Makanya jumlah orang miskin berkurang, wong sudah banyak yang MODAR….!

  4. Maret 3, 2009 5:03 AM

    wuekkkks, mabok kampanye, hambur hamburkan uang tuk politik, 60 % lebih calegnya aja nggak jelas latar belakangnya, apakah mereka siap membawa aspirasi rakyat bila yang dipikirkan dalam otaknya hanya golongannya sendiri,

  5. Maret 9, 2009 10:27 AM

    yah buat gw mah positif thinking aja lah. Contohnya kalo lo mau Indonesia berubah, LO ubah Indonesia, LO majuin Indonesia, LO jangan buang sampah sembarangan (contoh terkecil yang gw yakin lebih dari 50% org Indonesia abaikan), trus LO majuin pendidikan Indonesia lewat ilmu lo. Boleh lah mengkritik, tapi kalo isinya cuma kritikan tanpa aksi hasilnya nihil loh. Gw lebih suka kritikan yang membangun. Artinya kritikan yang disertai SARAN. Gw mang kurang percaya ma pemerintah, tapi hasil yang udah dicapai sama pemerintah udah lumayan (mnurut gw). Bukan cuma pemerintah, tapi LO juga harus berubah. Semut di sebrang lautan tampak, tapi gajah di pelupuk mata tak tampak.


    Re: Bramatyo

    Yup, kita harus bangun bersama saling membahu. Tapi sayangnya, pemimpin kita tidak pernah mau bangun bersama dengan rakyat kecil. Rakyat kecil menjadi warga kelas dua. Makanya, informasi dan kritik (jika pemerintah mau mendengar sih) perlu diutarakan dalam sistem demokrasi. Karena arah kebijakan pemimpin kita terletak pada warganya. Jika warganya mengangguk-ngangguk aja, lihatlah 32 tahun bangsa kita menjadi gudang utang, gudang tirani, dan gudang KKN dalam kroni pemerintah orba. Sekarang kita baru merasakan begitu getirnya hidup ini. Jika pemerintah saat ini masih saja sama, maka siap-siaplah kita menyesal 10-20 tahun lagi.
    Trims

  6. Maret 11, 2009 9:12 AM

    kalo’ sudah pada tahu dan cerdas,jangan mau dikibulii….

  7. kai permalink
    Mei 23, 2009 3:41 AM

    yang penting jangan golput, pilih aja yang menurut logoka kita paling mampu. Itung2 seperti beli barang dan stock yang ada terbatas dan kualitasnya ga bagus2 amat.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: