Skip to content

Anak Sutiyoso Dirikan Buddha Bar Jakarta

Februari 26, 2009

Halaman Depan Situs buddha-bar.co.id

Halaman Depan Situs buddha-bar.co.id

Saya cukup kaget ketika di salah satu forum (Kaskus) membahas restauran dunia malam yang menjual minuman alkohol dan memabukkan di Jakarta dengan nama Buddha Bar. Selain nama, bar tersebut juga menggunakan simbol-simbol agama Buddha, seperti patung Buddha. Buddha Bar Jakarta diluncurkan pada 28 November 2008 dan pemiliknya adalah anak Capres (mantan Gubernur Jakarta) Jend (Purn)  Sutiyoso yakni Renny Sutiyoso. Buddha Bar ini merupakan perusahaan Franchising orang Barat (Prancis) yang mereka mengartikan “Buddha Bar” sebagai “Enlightenment Bar” atau Bar yang Mencerahkan.

Sejak awal pendirian Buddha Bar (bekas kantor imigrasi), para birokrat kita telah  melanggar KUHP pasal 156 huruf A junto pasal 55 ayat 1 ke-1 KUHP, yaitu secara bersama–sama melakukan penodaan terhadap agama; kemudian pasal 56 ayat ke-1 KUHP, yaitu secara bersama-sama membantu penodaan terhadap suatu agama; dengan ancaman hukuman paling lama 5 tahun penjara. Tentu pihak-pihak terkait adalah Pemda DKI Jakarta, Menkeu, Mendag, Menkumham, pemilik (Renny Sutiyoso) serta pihak terkait lainnya  yang membiarkan nama dan simbol keagamaan umat Buddha di Indonesia digunakan dalam bar tersebut.

Meskipun para birokrat kita tahu ini merupakan penodaan agama di Indonesia, namun saya meyakini mereka lebih bergeming dengan dolar dan rupiah yang mereka terima ketimbang keberatan umat Buddha. Sangat mungkin sekali institusi ini melakukan tindak KKN terselubung. Hmm…sudah jadi rahasia umum. Untuk membuka hutan lindung, uang berbicara. Untuk pengadaan kapal, uang berbicara. Untuk izin majalah playboy, juga uang berbicara.  Namun bisa juga karena faktor lain, yaitu apakah pemda Jakarta takut dengan Jend (Purn) Sutiyoso sang mantan Gubernur DKI Jakarta? Mendengar sekaligus melihat iklan yang disampaikan oleh Pak Sutiyoso sangatlah miris dengan kenyataan. Pak Sutiyoso sendiri tidak mampu mendidik anaknya untuk menjaga keharmonisan, sikap menghargai pemeluk agama lain dalam menjalankan bisnisnya.  Dan parahnya, anak Capres memiliki bisnis bar. Apa kata dunia?? Bagaimana mampu memimpin Indonesia jika putra-putrinya dengan mudah mendapat izin usaha karena bapaknya adalah mantan jenderal, mantan gubernur atau capres???

Sangat ironis, walau perwakilan umat Buddha telah menyampaikan protes dengan damai (surat) kepada pemerintah sejak 22 Januari 2009 silam, ternyata sampai saat ini Bisnis Anak Sutiyoso masih ramai dikunjungi pencari kenikmatan dunia malam. Tentu, umat Buddha akan sangat merasa terhina, karena dalam ajaran Buddha secara jelas tidak memperbolehkan meminum minuman alkohol, apalagi ada patung Buddha di dalam bar tersebut. Hal ini sangat bertentangan, lihat saja halaman depan situs http://buddha-bar.co.id/ Jakarta. Sangat tidak etis menggunakan simbol keagamaan untuk melakukan bisnis alkohol dan sejenisnya. Apakah pemerintah saat ini lebih ekonomi kapitalis dengan menghilang nilai-nilai keagamaan dan budaya? Apakah pemerintah bertindak setelah ada demonstrasi? Tidakkah pemerintah lebih cerdas?

Saya cukup yakin, semua pemeluk agama akan merasa tersinggung jika nama Agama atau nabi (pembawa ajaran) serta simbol-simbol keagamaan dijadikan nama dan objek di tempat-tempat tidak etis (menjual minuman alkohol, disko dan sejenisnya). Terlebih tempat sejenis bar kerap kali menjadi ajang tindakan tidak senonoh, tindakan tidak suci bagi semua pemeluk agama di Indonesia.  Umat Buddha akan tersinggung jika ada bar bernama Buddha Bar yang di dalamnya terdapat orang mabuk-mabukan. Begitu juga umat Islam akan tersinggung jika ada bar bernama Islam Bar atau Muhammad Bar. Hal sama umat Kristiani akan tersinggung jika ada bar bernama Kristen Bar atau Yesus Bar. Tidak terkecuali umat Hindu dan Kongfucu di Indonesia.

******

Fenomena bisnis yang melecehkan nama atau simbol keagamaan tidak boleh terjadi di Indonesia. Sumber filter pertama yakni pemerintah (pemda, menkeu, dephumkam, dan lain-lain)  tidak boleh gagal menjalankan UU dan hukum pidana di Indonesia. Sudah banyak UU  dibuat yang menghabiskan anggaran miliaran rupiah, namun pemerintah lebih cenderung untuk mengoleksinya saja, tidak pernah diterapkan karena lebih mementingkan kepentingan pengusaha dan sekelompoke elit. Sebut saja UU Pornografi atau ITE untuk menfilter internet, majalah, program TV, toh sekarang masih berkeliaran konten yang tidak mendidik.

Selain isu pelecahan agama, budaya dan nilai-nilai luhur bangsa Indonesia sedang tergerus oleh para pengusaha demi mencari keuntungan. Nilai-nilai santun, menghargai, hormat, tata krama, toleransi antar sesama warga masyarakat menjadi semakin luntur dengan tayangan TV, isi majalah, konten internet, tempat-tempat hiburan malam, dan sejenisnya. Dan saya khawatir, jika hal ini tidak ditanggani secara cermat, maka keharmonisan masyarakat akan luntur. Sikap saling menghargai akan sirna. Dan secara bertahap pihak asing (maupun pengusaha)  akan mulai melecehkan agama-agama di Indonesia secara halus dan sistematis.

Menanggapi fenomena ini, setiap pihak harus berpikir jernih, dengan tetap menjunjung nilai kesantunan, etika moral, sikap saling menghargai bukan melecehkan. Dan apakah upaya diplomasi umat Buddha dengan pemerintah (pemda dan terkait) berhasil tanpa aksi demonstrasi? Apa sikap orang tua Renny Sutiyoso, sang Capres RI 2009 kita ini?  Saya harap pemerintah harus tegas, jangan lebih mementingkan rupiah, dollar, atau sang jenderal daripada etika moral! Dan saya yakin, masih banyak kasus yang serupa di negeri ini yang menyangkut pelecehan budaya, perusakan lingkungan, pengambil alih lahan warga dan sebagainya atas nama RUPIAH DAN KEKUASAAN.

Jelas sudah, seperti apa kondisi negara dan pemerintah saat ini. Sudah saatnya generasi muda bangkit dari keterburukan dan membangun bangsa dan negara ini maju dengan tetap menjunjung nilai-nilai etika, moral, kesantunan, dan saling bahu-membahu membangun negeri ini. Ciptakanlah bisnis yang meningkatkan kualitas SDM dan citra moral Indonesia, bukan judi, bar, diskotik, porno, dan sejenisnya (termasuk rokok).

Disusun dari berbagai sumber (echnusa)
26 Feb 2009

Update 28 Feb 2009
Teman-teman netter, rupanya pemilik Buddha Bar Jakarta bukan saja anak Sutiyoso, namun Buddha Bar juga dimiliki putri Capres sembako murah yakni Puan Maharani. Saya telah menulisnya di Rupanya Putri Megawati Miliki Buddha Bar bersama Renny Sutiyoso

Trims untuk komentator : Kawan Baru atas link infonya

Iklan
159 Komentar leave one →
  1. Oktober 29, 2011 9:56 PM

    Mari dukung kreatifitas.

  2. Maret 19, 2012 10:13 AM

    kurang ajar banget ni orang<cocoknya sih mereka dihukum mati aja gk usah dikasihani lagi !!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!

    • AMMJPS permalink
      September 24, 2013 3:38 PM

      Biarin aja bos. Gk perlu marah2. Mempermainkan nama budha dgn sadar dan sengaja. Bahkan yu huang shang di. / giok hong tay tee. saja tdk berani lo udh menghadap yam ong di alam baka dari astana 1 sampai 10 sulit dapat keringanan.

  3. sindhu permalink
    September 24, 2012 3:41 PM

    dancok anak.na mantan gubernur SUTIYOSO
    saya sebagai umat BUDDHA
    merasa dileceh kan…
    atas pendirian buddha bar,,,,

  4. AMMJPS permalink
    September 24, 2013 3:32 PM

    Umat budha umat damai tdk akan ada kontoversi apalagi fisik sungguh beda dgn umat islam. Dengan sadar dan sengaja melecehkan nama budha akibatnya sulit dibayangkan. Menertawakan hukum karma dan kuasa alam baka. Jika tidak menyadari saat ini kelak menyesal pun sdh terlambat.

  5. AMMJPS permalink
    September 24, 2013 3:43 PM

    Umat budha bkn seperti islam dgn fpi nya yg suka merusuh. Semua perbuatan ada karmanya mempermainkan budha dosanya ratusan tumimbal lahir belum tentu terlunasi. Biasanya setelah proses 10 astana bisa Masuk neraka avichi. Karma dalam kehidupan saat ini pun belum tentu sanggup menanggung.

Trackbacks

  1. Kaos Playboy Kaskus - Kaos Wanita Murah

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: