Skip to content

Ironis, Anggota ‘Partai Dakwah’ Tertangkap di Panti Pijat

Februari 5, 2009

Sudah beberapa hari ini saya tidak menulis hal-hal yang berbau politik (maklum, kata beberapa teman, tulisan saya sangat keras), namun kali ini saya ingin menulis kembali setelah dua hari kemarin di Antara News (saya langganan berita antara.co.id) memberitakan seorang anggota DPRD Jambi sekaligus Caleg PKS tahun 2009 tertangkap razia polisi di panti pijat. Beliau adalah Zulhamli Al Hamidi, seorang kader partai PKS yang dikenal sebagai “Partai Dakwah” di Indonesia.

Satu hari kemudian (4 Feb 2009), Zulhamdi dilaporkan mengundurkan diri sebagai anggota DPRD Prov Jambi. Meskipun tertangkap basah setelah asyik dipijat di panti pijak, masih saja ada kader PKS yang berupaya membela Zulhamdi, seperti ungkap Ahmad Mabruri (Humas DPP PKS), “Namun, kami membantah yang bersangkutan melakukan tindakan asusila. Panti pijat itu legal dan bukan panti pijat terselubung atau mesum. Akan tetapi, sebagai partai dakwah, tidak seharusnya yang bersangkutan berada di tempat seperti itu,

Jika panti pijat tersebut memang bersih, tentu polisi tidak akan merazia secara rutin tempat tersebut. Mengingat bahwa polisi hanya selalu merazia tempat-tempat yang kerap kali terjadi maksiat. Yang sangat ironis adalah bahwa ia adalah seorang kader PKS yang selama ini mendapat simpati suara masyarakat karena ‘partai dakwah’, partai yang anti maksiat dan seterusnya. Dan menyadari fakta bahwa Zulhamdi menjadi Caleg PKS di pemilu 2009 membuktikan bahwa sistem internal partai PKS tidak bekerja efektif.

Zulhamdi, Fenomena Gunung Es kah?

Yang menjadi pertanyaan adalah apakah tertangkapnya Zulhamdi (kader PKS) secara basah merupakan fenomena kebetulan belaka atau fenomena gunung es di negeri ini? Jika saja polisi tidak merazia pada hari Rabu, 3 Feb 2009, bisa dipastikan Zulhamdi (DPRD incumbent) dapat dengan mudah mendulang suara atas nama ‘partai yang suci’. Lalu, dengan kebodohan masyarakat kita memilih calon-calon “suci dalam kampanye” yang ternyata “busuk dalam mental”, maka bukankah memilih ‘tikus busuk’ menjadi pemimpin adalah tindakan yang bodoh atas nama “fatwa haram MUI”.

Seperti saya katakan pada tulisan-tulisan sebelumnya, setiap warga seyogyanya memilih pemimpinnya demi mendapatkan sistem pemerintah yang lebih baik. Maka hak pilih sangatlah penting, namun bukan berarti mereka yang “linglung” memilih siapa pemimpin yang lebih baik dari terbusuk diwajibkan memilih atas nama ‘surga’ atau ‘neraka’. Sehingga dalam hal ini, MUI, pemerintah dan parpol, jangan hanya mengecam mereka yang golput tanpa melakukan usaha pembersihan mesin dan sistem parpol yang sarat dengan kebusukan. Selama ini partai-partai hanya mementingkan kepentingan segelintir kelompok, kepentingan partainya, kepentingan politis ketimbang memikirkan isak tangis kepedihan hidup masyarakat. Hah….masih banyak elit partai yang hanya mempermainkan makna suara rakyat demi lembaran rupiah dan kursi kekuasaan. (bukan berarti semua elit partai busuk, masih ada segelintir elit partai di DPR yang masih baik namun dikalahkan oleh pembusuk). Ibarat harumnya bunga mawar tetaplah menyebarkan bau busuk ditengah onggokan bangkai.

Rakyat sebenarnya sangat sulit menilai mana pemimpin yang baik dan tidak. Pemimpin yang baik harus dinilai dari sikap mental dan bentuk perilakunya. Sayangnya, para caleg negeri ini hanya muncul dan berinteraksi di kala kampanye, sehingga secara praktis, masyarakat tidak akan mampu menilai mental dan perilakunya dalam waktu beberapa bulan saja (lagipula mereka/caleg semuanya berpenampilan bak “malaikat” menjelang pemilu). Bentuk perilaku mudah terlihat (contohnya Zulhamdi), namun bentuk mental siapa yang tahu… Iniah yang paling bahaya….Mental/paradigma pemikiran… Tidak jarang apa yang dikatakan tidak sesuai dengan hati….
Dan saya meyakini banyak politisi yang tipe ‘apa yang dikatakan tidak sesuai dengan hati” demi mendapat simpati masyarakat.

Sikap Zulhamdi dan PKS

Sikap yang ditunjukkan Zulhamdi yang langsung mengundurkan diri jauh lebih baik ketimbang Max Moein dan Al Amin Nasution. Sikap Zulhamdi mengundurkan diri mirip dengan Anggota DPR RI yang membidangin keagamaan, Yahya Zaini, yang melakukan tindakan memalukan bersama ‘artis hot’ yang terbongkar dari video rekamannya. Namun, dalam hal ini kita perlu memberi apresiasi kepada PKS yang teguh menerapkan pilar dan anggaran dasar Partai untuk menindaktegas kader yang telah menyimpang. Dengan segera melakukan investigasi dan pengadilan internal kepada Zulhamdi, merupakan langkah yang tepat.

Namun, dengan tercuatnya fenomena gunung es (mungkin), maka kejadian ini akan menjadi  ‘gempa bumi besar’ bagi  PKS karena selama ini membawa nama agama. Sehingga, semakin kokohlah kekhawatiran sebagian orang yang mengatakan, “Ingat jangan sampai kalian menjual Agama demi partai”. Dan kekhawatiran ini akhirnya muncul menjelang Pemilu 2009. Dan khusus untuk Mas Zulhamdi, kenapa sih gak pulang ke rumah minta istrinya memijat??? Mengapa lebih memilih orang yang bukan muhrimnya untuk memijat???????

Akhir kata, saya hanya ingin menyampaikan bahwa “JANGAN TERJEBAK DENGAN SIMBOL DAN JARGON PARTAI”, tapi “LIHATLAH MENTAL DAN PERILAKU MEREKA SEHARI-HARI”. Lihat dan pelajari juga Apakah Visi, Misi dan Strategi Pembangunan Partai tersebut SMART (specific, measurable, achievable, reliastic, timeable).  Dan terakhir, jika pemerintah dan partai politik menginginkan masyarakat agar aktif berpartisipasi dalam pemilu mendatang, maka fasiltasilah  rakyat dengan memberi akses seluas-luasnya mengenai siapa calon pemimpinnya (mental dan perilaku : sejarah, biografi, dan jejaknya).  Dan diharapkan adanya lembaga independen yang mampu mengorek sisi terang dan gelap sang Caleg. Sebagai contoh : masyarakat kecolongan,  masa’ Taufik Kiemas yang jarang mengunjungi Senayan (padahal merupakan kewajiban seorang DPR 2004-2009), dicalonkan kembali sebagai anggota DPR Dapil Jabar. (dan konon dari survei beliau di urutan ke-3 mengalahkan banyak caleg lain).

ech.nusa – 5 Feb 2009

Sumber Referensi berita:
Kader PKS Jambi Tertangkap di Panti Pijat
Anggota DPRD Jambi dari PKS Mengundurkan Diri Setelah Tertangkap Basah di Panti Pijat

Mengenai partai dan politisi pemalas, saya telah menulisnya di:
Daftar
Politisi DPR PDIP yang Pembolos (3)

Partai
Partai Pembolos di DPR (2004-2007) « Indonesia News and Opinion

Daftar Politisi DPR yang Pembolos dari Golkar (2)

Update (7 Feb 2009)

Saya minta maaf, atas kesalahan menafsirkan ‘panti pijat’ resmi (bersih). Dari PKS sendiri mengatakan bahwa ‘Panti Pijat” resmi itu bersih. (bersih dari hubungan intim saja??)
??? Bukannya banyak club, disktotik semuanya mendapat izin (resmi) dari pemda setempat???

30 Komentar leave one →
  1. sri permalink
    Februari 10, 2009 12:24 PM

    setuju, ini fenomena gunung es.sebenarnya masih banyak mental dan prilaku caleg yang harus dicermati, jangan hanya memenuhi kuota saja.sayang banyak sekali yang jual nama agama manis dimulut tapi tingkahnya jauh dari agama.

  2. Februari 10, 2009 9:22 PM

    PKS bukan partai malaikat, PKS adalah partainya manusia , makhluk Allah tempat penuh khilaf dan dosa, oleh karena itu sangatlah wajar kalau PKS melakukan sedikit kekeliruan, dan ternyata yang sedikit itu telah menjadi sesuatu yang besar….
    Saudaraku yang dimuliakan Allah, ada hal yang lebih penting dari hanya sekedar menguliti kesalahan, yakni berlomba – berlomba untuk membangun negeri ini, karena harapan itu masih, dan senantiasa ada. membangun kejayaan Indonesia lebih berharga daripada hanya sekedar membicarakan hal tersebut…Do’akan agar Partai Keadilan Sejahtera ini tetap berusaha untuk Bersih, Peduli, dan Profesional

  3. tinorustino permalink
    Februari 11, 2009 10:27 AM

    Selalu saja ada yang pro dan ada yang kontra. Memang kepala sama hitam, pendapat berlainan. Bukan hanya tentang PKS dan Zuilhamdi, tapi disegala bidang. Dua pendapat yang berbeda tak akan pernah bertemu pada satu titik. Pertemuan pada titik itu baru bisa terjadi apabila ‘toleransi’ bisa diterapkan disana, dimana satu sama lain akan saling menghormati pendapat masing2. Kalau tidak?…… Ya lebih baik diam aja. Kalau pemilu nanti ya GOLPUT lah…..

  4. Februari 11, 2009 10:51 AM

    gini lho.. mas. lihat saja banyak mana fositif dan negatifnya jika partai setelah dikaji ternyata banyak negatif ketimbang positifnya, mbok ya jangan dipilih toh…. tapi ini yang penting… kalo udah ketahuan salah ya jangan dibela toh apalagi pakai alasan segala…. waduh pening kalie…..

  5. Februari 11, 2009 8:40 PM

    sebagai pengamat politik lokal….Ha…
    bagi kader PKS biarkan saja apa kata dunia toh lebih banyak dunia lain yang menilai lebih. buktikan saja 2009 bahwa pks lebih.

  6. wiratara permalink
    Februari 12, 2009 4:06 AM

    Arif dan bijak dalam menyikapi suatu hal. Bersikaplah obyektif dalam mengurai suatu masalah. Kasus2 seperti ini memang kental berbau politis, ahai..sungguh membuai dan melenakan. Tujuannya jelas, meraih kemenangan pihak2 tertentu di pemilu mendatang. Blow up dan black campaign adalah sebuah fenomena politik. Sebagai orang awam, saya hanya bisa mengatakan: “Setiap orang akan mempertanggungjawabkan sendiri segala sesuatu yang diperbuatnya didunia kelak di Yaummil Akhir nanti, so buat Bapak Zulhamdi: Ini adalah urusan pribadi anda dengan Rabb!”. Dan saya sekali-kali tidak akan membenarkan atau menyalahkan…

  7. mantantukangpijat permalink
    Februari 14, 2009 7:42 PM

    Pertanyaan: Apa beda tukang pijit jaman dulu dengan tukang pijit jaman sekarang?
    Jawab: Tukang pijit jaman dulu ahli melemaskan otot yang tegang, tukang pijit jaman sekarang pandai membuat tegang otot yang lemas……..
    hua hauahauaaa….
    jangan suudzon sama kader PKS, dia itu ke panti pijat karena sedang berdakwah. sodara-sodara jangan lupa mbak-mbak yang di panti pijat itu juga mad’u yang harus diselamatkan dari api neraka dan sekaligus sebagai calon pemilih nanti pada pemilu 2009, kalo sudah langganan dipijat masak tidak pilih pelanggannya seh?? jadi menurut dunia persilatan itu namanya jurus sekali tepuk dua, tiga musuh mati sekaligus, sambil dakwah, badan terasa segar, dapat suara pula…. jadi polisi aja yang ga paham .sehingga salah tangkap…. mustinya biarkan aja ustadz kita ini meneruskan dakwahnya….

  8. pksmargadana permalink
    Februari 23, 2009 11:32 PM

    ZULHAMLI ALHAMIDI YANG SAYA KENAL
    Purwani

    http://pur76.multiply.com/journal/item/37/ZULHAMLI_ALHAMIDI_YANG_SAYA_KENAL

    Sudah belasan tahun saya mengenal sosok dan pribadi Zulhamli Alhamidi tanpa pernah menemukan kesalahannya sedikitpun kecuali satu kali ini saja. Saya prihatin dan bertanya-tanya apakah manusia memang tidak boleh khilaf suatu saat? Tulisan ini saya niatkan dalam rangka memenuhi salah satu hak-hak ukhuwwah beliau sebagai saudara saya sesama muslim.

    Uda Zul, begitu panggilan akrabnya di kalangan anak-anak Rohis sejak jadi aktivis da’wah di kampus UNJA. Saya pun sekampus dengan beliau, cuma saya FE 93 sedangkan beliau Fapet 94. Tapi sejak sama-sama ngantor di Fraksi PKS, saya ikut memanggilnya Uda Zul karena memang usia beliau lebih tua 1 tahun dari saya. Saya juga satu majelis ta’lim dengan istri beliau, Mbak Lisa.

    Da Zulhamli adalah anggota dewan paling miskin di DPRD Kota Jambi menurut ekspos LHKPN versi BPK tahun 2004 dengan asset pribadi ‘hanya’ Rp.3,5 juta saja (diikuti 3 rekan F-PKS lainnya yang sama-sama termasuk paling miskin, selain mas Hizbullah). Berita itu juga bikin polemik di koran lokal saat itu, karena Uda Zul memang sangat sederhana. Selain masih tinggal numpang di rumah mertua walau sudah punya 2 anak, Da Zul juga punya motor ‘butut’ yang selalu menemaninya ke manapun. Bahkan motor tua milik Da Zul sempat menginspirasi saya untuk bikin puisi (maaf file-nya belum ketemu). Dan motor tuanya itu sempat patah jadi dua saat suatu malam beliau ditabrak oleh pemuda yang sedang ngebut di dalam gang dalam perjalanan beliau menuju tempat Mabit ikhwan.

    Ada dua momen yang paling berkesan tentang Da Zul dalam interaksinya dengan saya. Pertama, saat suatu hari saya datang ke Fraksi pagi-pagi dalam keadaan sangat lapar dan lemah karena tidak makan malam dan belum pula sarapan padahal saya sedang hamil. Dalam keadaan pusing dan gemetar karena benar-benar tak sanggup berdiri dan melangkah kuatir mendadak pingsan, Uda Zul tiba-tiba muncul di Fraksi. Saya sempat sungkan dan malu ingin meminta tolong Uda Zul memesan makanan ke kantin, tetapi pandangan mata saya sudah mulai agak gelap. Akhirnya dengan suara agak pelan, terucap juga permintaan tolong itu ke Da Zul. Saya pikir kalau saya akhirnya pingsan, bukankah Da Zul juga yang repot? Saya sangat merasa kurang sopan menyuruh seorang bapak dua anak, apalagi dengan level kaderisasi lebih tinggi dari saya, melakukan hal sepele seperti beli sesuatu ke kantin. Tapi alhamdulillah Da Zul benar-benar membantu saya pagi itu.

    Yang kedua, saat polemik Pansus Struktur Organisasi dan Tata Kerja (SOTK) Penerapan PP.41/2007 di mana saya dipercaya menjadi Ketua Pansus di DPRD Kota Jambi. Posisi saya sangat sulit waktu itu, dilematis. Kesediaan Da Zul menjadi juru bicara Pansus, membacakan hasil kesimpulan Pansus di Rapat Paripurna walaupun berbeda pendapat dengan sikap akhir (stemmotivering) Fraksi PKS, sangat saya hargai. Pansus maunya ada penghematan anggaran melalui perampingan dinas sehingga sepakat dengan 9 Dinas saja dari Formasi 13 Dinas yang ada. Tetapi PKS pada menit-menit terakhir setelah masa lobi yang cukup alot, justru fix di formasi 14 Dinas mengikuti Golkar sebagai rekan koalisi Pilwako saat itu. Saya dan Da Zul sebetulnya utusan Fraksi yang tidak terlalu sepakat dengan hasil kesimpulan Pansus, tetapi toh khalayak juga taulah sikap pribadi kami tentu berafiliasi ke sikap akhir Fraksi PKS.

    Beliau sosok yang pendiam, hanya bicara jika perlu saja. Dia orang yang sensitif, mudah tergugah hati. Da Zul pernah pingsan dalam suatu muhasabah sewaktu ada Dauroh Aleg PKS di Bengkulu. Da Zul juga pernah tiba-tiba menangis saat pidato membacakan Pandangan Umum Fraksi PKS saat santer menolak rehab gedung DPRD yang bakal menghabiskan dana APBD belasan miliar rupiah. Dan sehari setelah musibah dirinya dirazia di panti pijat itu, Da Zul juga 2 kali pingsan sebelum akhirnya datang ke DPW PKS Jambi untuk menghadapi konfrensi pers, lalu menyatakan mundur dari DPRD Kota Jambi sekaligus mundur dari pencalegannya di Dapil Jambi Timur-Pelayangan.

    Jabatan terakhir Da Zul di DPRD Kota Jambi selain beliau adalah Wakil Ketua Fraksi PKS, beliau akhir Desember 2008 kemarin baru menyelesaikan tugasnya sebagai Wakil Ketua Komisi B. Di struktur partai, beliau adalah salah seorang Ketua Bidang di DPW. Beliau juga aktif di berbagai kegiatan di DPD dan DPC.

    Saya tidak melihat ada gaya hidup yang berubah signifikan setelah Da Zul menjadi Aleg. Hingga saat ini beliau dan keluarganya masih ngontrak rumah sederhana di Talang Banjar (karena ada tuntutan Aleg PKS harus tinggal di Dapilnya). Di rumahnya pun tidak ada barang mewah. Selain motor tuanya itu, hanya tampak satu lemari penuh buku, televisi di ruang keluarga, room set anak-anak dan seperangkat kompor gas di dapur si ummi. Tidak ada sofa di sana, boro-boro koleksi keramik mewah!! Tamu yang datang terpaksa duduk lesehan di atas karpet sederhana. Kalaupun Da Zul sesekali bawa mobil Carry edisi lama, itu sebetulnya mobil milik mertuanya, kadang-kadang dipakai untuk menjemput anak-anaknya: Ainun, Ahmad dan si kecil Aziz.

    Uda Zul memang sangat gemar olahraga Badminton seperti bapak-bapak anggota dewan yang lain. Kantor kami memang punya gedung olahraga sendiri, sehingga keluarga besar DPRD Kota bisa leluasa memanfaatkan waktu luang di situ. Di kantor, teman-teman Fraksi lain mengakui Da Zul cukup lihay main bulu tangkis ini. Mungkin saking semangat, badan Uda Zul sering pegal-pegal, saya yakin bapak-bapak sparing partner dia juga begitu jika terlalu menguras energi. Diakui oleh rekan-rekan sejawat, kalau pegal mereka kadang mampir rame-rame ke Panti Pijat Sehat Bersih yang lokasinya cukup dekat dari kantor dan memang punya izin operasional resmi dari Pemerintah Kota. Bahkan sesekali bapak-bapak itu bawa istri mereka sekedar pijat refleksi karena memang pengunjung laki-laki dan perempuan dibedakan tempat dan petugas yang melayaninya, harus sama-sama laki-laki atau sama-sama perempuan (Itulah yang saya heran mengapa pada kasus Da Zul koq justru petugasnya lain jenis? Menurut wartawan yang ikut Razia tetapi tidak ikut menjelek-jelekkan Aleg PKS di media, ada kemungkinan razia itu direkayasa. Tapi maaf saya tidak ingin buka di sini karena kuatir pencemaran nama baik pihak tertentu).

    Yach… siapa sangka hobby berolahraga ini justru menjadi sandungan di belakang hari. Mungkin Allah ingin mengingatkan bahwa ada tupoksi Aleg yang lebih penting daripada sekedar riyadhoh. Wallohu a’lam.

    Yang pasti, kinerja dan keikhlasan Uda Zul dalam beramal jauh lebih baik dibandingkan saya. Apa yang telah terjadi atas Da Zul adalah pertanda Allah masih sayang sama beliau, Allah mungkin sedang mempersiapkan rencana yang lebih baik untuk beliau dan keluarganya.

    Tetapi terus terang kami di Fraksi belum siap kehilangan… Seseorang yang pergi begitu saja karena media lokal, nasional, cetak, elektronik, bahkan internet secara sistematis telah terlanjur membunuh karirnya tanpa ampun sampai beliau sangat malu dan tak punya muka lagi untuk sekedar datang ke kantor. Padahal tidak ada Perda dan aturan KUHP / KUHAP yang beliau langgar saat peristiwa di Panti Pijat itu. Beliau sedang pijat tradisional di tempat resmi dan petugas resmi, tidak ada asumsi razia yang dia langgar tapi Satpol PP dan Poltabes – dengan alasan mengamankan Pejabat Daerah – telah menggiring publik menuduh dia berbuat mesum dengan pemijat. Astaghfirullah… Kasihan Uda Zul. Sebagai kader Partai Da’wah, Dewan Syari’ah PKS lebih berhak menilai sejauh mana kesalahan beliau. Dan inisiatif pengunduran diri dari DPRD maupun dari pencalegannya di Pemilu 2009 adalah sebuah inisiatif yang patut dihormati. Bahkan itu sebetulnya masih terlalu berlebihan.

    Kali terakhir saya bertemu dengan Uda Zul di DPRD – subhanalloh saya rasanya mau nangis lagi… – kami berlima duduk bersama di Fraksi PKS di Lantai 2, ngumpul saja karena Jum’at pagi itu tidak ada agenda rapat. Bang Dede sedang ngonsep Pandangan Umum RPJP di laptop, Mas Hiz baca koran, saya baca majalah Ghoib buat persiapan ngisi Rohis sejam lagi, sedangkan Bang Zay seingat saya baca printout PP.8/2008. Lalu Uda Zul? Dia serius memperhatikan HP-nya menyetel tilawah Qur’an (kalo gak salah, surat Al.Anfaal, taujih robbani yang paling mengena jelang Pemilu 2009). Murottal itu distel Da Zul agak keras sehingga saya yakin terdengar dari lantai bawah ruang Fraksi. Dan kami berlima cukup lama saling diam menyimak ayat-ayat Allah di sela kegiatan masing-masing, sampai menjelang jam 11 siang saya pamit duluan mau ke SMA 5….

    Ah, Da Zul!! Ketika saya menjenguk ke rumahnya pasca pemberitaan itu untuk bertemu dengan istrinya (Mbak Lisa), hanya sekilas saya lihat Da Zul membukakan pintu untuk kami. Selebihnya, beliau lebih memilih masuk ke dalam. Hanya ada Mbak Lisa dan anak-anak yang menyambut kami dengan sejuta kesabaran di antara suara tertahan dan sesak di dadanya. Sementara mereka tegar, kami yang memandangi malah menangis. Sama seperti Da Zul, saya juga sudah belasan tahun mengenal Mbak Lisa sejak di Kampus, kami seangkatan 93. Selain dikenal sangat sabar dan pendiam, istri Da Zul juga seorang pekerja keras. Beliau guru SD Islam Terpadu Nurul Ilmi. Bayangkan bagaimana Mbak Lisa harus menghadapi ratusan wali murid yang bertanya-tanya tentang kejadian itu. Sementara anak-anak bertanya, “Ummi… Mengapa Abi tidak ngantor?”

    Kasus razia panti pijat itu pahit banget yak!! Tidak terbayang kalau dalam sisa masa jabatan yang tinggal sekitar 5 bulan ini mendadak harus menghadapi drama voting di ruang Paripurna, sementara suara PKS kurang 1 orang… Walaupun saat ini isu pemecatan Kepala Satpol PP akibat salah ringkus di razia itu sudah disepakati oleh semua Fraksi di DPRD Kota Jambi (di sini total ada 40 kursi), kecuali Fraksi PKS memilih abstain untuk menjaga objektivitas. Saya masih tidak habis pikir, bukankah istri Kepala Satpol PP itu juga seorang akhwat PKS? Ah, otak saya masih bebal membaca situasi politis terselubung di balik penangkapan berdalih pengamanan Pejabat itu. Tapi semua respon dan dukungan dari internal DPRD Kota Jambi tidak akan mengembalikan kehidupan Da Zul seperti sedia kala. Mungkin butuh bertahun-tahun untuk pulih, entahlah.

    Saya ingin katakan bahwa mungkin Uda Zul bersalah secara syari’ah (baca: berdosa) dan kasus ini sudah diambil alih DPP. Tetapi tidak layak kita ikut-ikutan memojokkan beliau. Dalam hearing Komisi A sepekan setelah kejadian itu, saya katakan kepada perwakilan Poltabes, Satpol PP, dan rombongan wartawan PWI yang hadir, “Al insaan makaanul khotho’ wa khoiru khothoo-ihaa at tawwabiin.” (Manusia adalah tempat berbuat salah dan sebaik-baik orang yang bersalah adalah mereka yang mau bertaubat).

    Sebagai sesama muslim, beliau adalah saudara kita yang punya hak-hak ukhuwwah dan harus kita tunaikan. Cukuplah beban vonis sosial yang ditanggungnya. Ingatlah istri dan anak-anak serta keluarga besar beliau ikut menanggung apa yang dirasakan Uda Zul. Sementara apa yang sudah kita lakukan hari-hari ini? Apakah memang kita merasa lebih baik akhlaqnya dibanding beliau? (Terutama untuk saya pribadi dan 1112 Aleg PKS se-Indonesia, kiranya lebih berhati-hati terhadap potensi jebakan dari lawan-lawan politik)

  9. Februari 24, 2009 2:28 PM

    manusia ialah makhluk yg TiDAk luput dary dosa, mungkin saja LaGi capek kan harus dipijat.tapi benar2tukang pijat.

  10. Abu zahra permalink
    Maret 4, 2009 5:47 PM

    Aswrwb. Alhamdulillah disini saya berkesempatan untuk menyampaikan kekhilafan saya atas sikap yang terlalu responsif terhadap pemberitaan yang saya sendiri belum tahu persis kejadiannya. Kini saya lebih bisa memahami makna : “cukuplah dikatakan seseorang itu pendusta jika ia mengatakan apa yang tidak ia lihat”. Semoga Allah mengampuni saya dan tidak menjadikan saya sebagai pendusta. Amin. Mohon maaf saya untuk rekan2 di PKS. Saya yakin semuanya bisa mengambil hikmah atas kejadian ini. Terima kasih. Wswrwb.

  11. Ida Rosmayati permalink
    Maret 4, 2009 5:56 PM

    GOLPUT = MILIH MAKHLUK GHAIB

  12. Ida Rosmayati permalink
    Maret 4, 2009 6:02 PM

    Menilai anggota dewan sama dengan malaikat adalah keterlaluan.
    Tapi menilai semua anggota dewan itu seperti setan, itu jauh lebih keterlaluan.
    Kalo berpikir seperti itu terus, ya sudah, ga usah ada negara.. bubar saja.. jangan ada yang ngurusin masalah moral, ekonomi, keamanan, dsb.
    Hidup masing-masing saja deh…

  13. Ida Rosmayati permalink
    Maret 4, 2009 6:04 PM

    Menilai anggota dewan sama dengan malaikat adalah keterlaluan.
    Tapi menilai semua anggota dewan itu seperti setan, itu jauh lebih keterlaluan.
    Kalo berpikir seperti itu terus, ya sudah, ga usah ada negara.. bubar saja.. jangan ada yang ngurusin masalah moral, ekonomi, keamanan, dsb.
    Hidup masing-masing saja deh…

  14. Bunda permalink
    Maret 4, 2009 6:12 PM

    Setuju, GOLPUT adalah pilihan kaum emosional.

  15. September 6, 2014 7:31 AM

    ada yang sedang di cari dan di uber uber kayaknya tad yi ya

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: