Skip to content

Pemuda Perkosa Nenek Tua hingga Berkali-kali, ditangkap

Februari 2, 2009

Apa kata dunia?? Saya pilih berita ini untuk diulas karena ini fenomena yang menarik untuk disimak dan dikupas. Seorang pemuda berinisal Ph (21 tahun) melakukan perampokan dan pemerkosaan pada seorang nenek berinisial Sn (80 tahun) pada hari Rabu (28 Jan) di Desa Banjar Sari, Kec. Warunggunung – Lebak, Banten. Pemuda Ph ini mendatangi dan mendobrak rumah Sang Nenek (tinggal sendirian)  pada malam hari. Lalu ia menodong senjata serta mengikat sang nenek Sn. Setelah nenek tua tidak berdaya, pemuda tersebut menyeret Sn ke kebun dan memperkosa sang nenek berkali-kali hingga tak sadarkan diri.

Setelah melampiaskan nafsu bejatnya, sang pemuda mengambil perhiasan kalung yang digunakan sang nenek dalam keadaan tak sadarkan diri. Dan setelah siuman, nenek pun berteriak minta tolong. Dan selidik demi selidik, pemuda yang telah mencuri emas beserta kehormatan sang nenek adalah tetangganya sendiri. Selama 4 hari buron, akhirnya ia ditangkap oleh aparat kepolisian.

Beyond Phenomenon

Kejadian pemerkosaan seorang pemuda terhadap nenek tua merupakan fenomena unbelievable. Sulit dipercaya namun itu terjadi. Saya gak tahu secantik apa paras wajah sang nenek berusia 80 tahun, sehinga sang pemuda begitu bernafsu memperkosa…memperkosa….memperkosa lagi pada diri nenek tua (hhmmm, mirip iklan ‘blue party” diturunkan…diturunkan…diturunkan lagi.. . Di sisi lain, apakah sang pemuda sama sekali tidak tersirat dalam batinnya ‘sense of humanity‘, nilai kemanusiaan dan nilai-nilai persamaan bahwa ia juga memiliki seorang nenek. Bagaimana jika nenek saya (Ph) diperkosa oleh orang yang dikenalnya (tetangga).

Yang pasti adalah sang nenek telah menjadi korban, dan kita berdoa semoga sang nenek segera pulih dari  memori ‘malam yang menakutkan’. Sedangkan pemuda Ph yang masih berusia 21 tahun, tentu ia telah melakukan kesalahan dan melanggar konstitusi yang ada. Ia perlu dihukum menurut undang-undang. Namun disisi lain, kita perlu bertanya: “Mengapa ia tega melakukannya?”

Umumnya, kasus-kasus kejahatan yang terjadi selalui disebabkan oleh frustasi dalam diri. Frustasi muncul sebagai reaksi batin yang lemah atas kondisi atau realita yang sedang menghadapi kehidupannya. Kurangnya pendidikan agama dan etika yang benar, menyebabkan batin seorang sangat rapuh dan sempit. Meskipun sama-sama divonis kanker, dua orang berbeda akan merespons dengan cara yang berbeda. Meskipun sama-sama menghadapi PHK, si A dan B akan mencari solusi yang unik. Meskipun memiliki iman yang sama, tiap orang akan memiliki sikap batin yang berbeda. Dan tidak tertutup kemungkinan bahwa meskipun iman yang berbeda, dua orang akan memiliki sikap dan cara yang sama dalam menghadapi masalah. Agama yang tertera di KTP bukanlah menunjukkan kualitas batin orang tersebut, namun sejauh mana ia memahami dan melaksanakan ajaran-ajaran yang bernilai dalam kesehariannya.

Pelaku Juga Korban

Pembahasan artikel ini mungkin mengundang reaksi pro-netral dan kontra. Namun saya tetap ingin menyampaikannya. Mengapa saya katakan bahwa pelaku juga korban?? Ini saya dasari dari motif dan kondisi yang dialami sang pelaku (catatan : asumsi saya adalah pelaku kejahatan pada umumnya). Seperti yang saya singgung di atas, pelaku-pelaku kejahatan seperti pembunuhan, pencurian, korupsi, pemerkosaan, kekerasan dan apa saja, sebenarnya mereka-mereka sedang ‘sakit’. Mereka sedang sakit secara mental (bukan gila), namun mereka tidak menemukan ‘obat batin’ atau bahkan tidak ada ‘dokter batin’ yang mau merawatnya.

Umumnya mereka lahir dan besar dari kondisi keluarga yang berantakan, dari masyarakat amburadul, dari sistem pendidikan kasat-kusut dan memudarnya pengaruh seorang tokoh agama dibanding seorang artis di sinetron atau gosip. Atau mereka adalah orang-orang yang ‘terbina’ dari sejumlah media yang ‘brengsek’, hanya mementingkan popularitas atau uang dan mengacuhkan nilai moralitas, etika dan estetika berita/konten yang disebarkan. Semua ini belumlah cukup membuat seseorang frustasi. Sistem kehidupan bermasyarakat dan bernegara yang luput dari perhatian masyarakat dan pemerintah, merebak hingga sisi ekonomi, sosial, politik dan hukum yang sering memarginalkan hak-hak rakyat kecil.

Secara tidak disadari namun masuk dalam otak bawah sadar, fenomena-fenomena yang sering diberitakan yang berhubungan dengan hal-hal, kata-kata, dan kalimat negatif secara perlahan merasuk dalam jiwa dan pemikiran manusia. Berita yang awalnya netral (seperti pisau dapur), yang dapat ditangkap secara positif (memotong sayur) ternyata lebih meninggalkan jejak hitam kelam (pisau untuk membunuh orang). Meskipun ini hanya suatu hipotesa opini, namun saya memiliki keyakinan hal ini. Dan dalam hal ini, secara eksplisit saya ingin mengatakan bahwa jika tiap hari media (TV, majalah, internet) membeberkan berita negatif  (mutilasi, cara pencurian, cara perampokan, pemerkosaan, foto bugil, adegan mesum siswi SMP dsb), maka secara tidak sadar, media sedang menabur  “benih-benih” tersebut di “ladang-ladang pemikiran” masyarakat.

Yang menjadi pertanyaan adalah apakah masyarakat kita lebih cenderung memiliki ladang yang subur untuk menumbuhkan benih kotor tersebut atau sebaliknya? Dengan kondisi masyarakat saat ini (terutama generasi muda-mudi : pelajar SD-SMA), saya percaya mereka (generasi muda) lebih cenderung memiliki ladang yang subur, bukan gersang. Sehingga, hal ini akan menjadi ancaman yang serius mental anak bangsa kita dalam beberapa tahun ke depan. Jika tiap hair anak-anak mendapat konsumsi media yang berisi negatif, maka paradigma pemikiran yang muncul adalah ‘oh….begitu yah Indonesia..kok, aku belum mencoba??”

Pelaku juga Tanggung Jawab Kita Bersama

Dari pemaparan di atas, maka dapat saya simpulkan bahwa sebab-musabab lahirnya embrio kejahatan tidak lain tidak bukan dari proses lingkungan yang tidak kondusif (maaf, saya hanya membahas kondisi fenomenal tanpa mengikutsertakan peran ‘makhluk setan‘). Seseorang menjadi pencuri karena : menghidupi kebutuhan keluarga, niat + kesempatan bertemu, desakan pihak internal untuk memperoleh sesuatu lebih, dan aji mumpung (mumpung gue jadi Sekda, bupati, gubernur, dewan..yah curi-curi dikit uang rakyat).

Yang terakhir adalah faktor kesalahan pribadi. (iman). Namun, faktor-faktor sebelumnya adalah dampak dari lingkungan. Mungkin saja karena anaknya sakit, lalu ia berusaha pinjam ke perusahaan atau tetangga. Namun perusahaan atau tetangga tidak mengubris. Tidak ada uluran tangga, tidak ada komunikasi yang tepat,  maka iapun merasa hidupnya sangat pahit. Sejenak ia menyalahkan dirinya, lalu ia menyalahkan orang tuanya yang tidak memberi pendidikan yang tinggi, lalu ia menyalahkan lagi sikap pemerintah yang tidak membuat kehidupan ekonomi yang lebih baik, lalu menyalahkan lagi orang sekitarnya yang memang tidak peduli dengannya. Bahkan teman-temannya pun tidak begitu simpati terhadap dirinya. Sehingga jalan pintaspun dilakukan yakni mencuri.

Andai saja, masyarakat kita saling memberi perhatian dan memberikan ‘obat’ ketika mereka sedang ‘sakit’, maka kondisi-kondisi tidak perlu terjadi di negeri yang subur ini. Jika saja sistem pendidikan yang lebih baik diterapkan, maka persentase kejahatan di negeri ini dapat diturunkan. Andai saja, pengajaran agama lebih difokuskan pada pelaksanaan yang substansial (bukan sekedar bisa menghapal), maka kasus ini pun tidak perlu terjadi.
Akhir kata, tindakan salah dan kejahatan muncul dari kekhilafan, ego, kebodohan, dan kebencian diri sendiri yang ditriger oleh lingkungan. Karena manusia adalah makhluk sosial, maka lingkungan dan batin adalah hal yang saling berkaitan.

echnusa-2 Feb 2009
for : Indonesia News and Opinion

6 Komentar leave one →
  1. Februari 3, 2009 2:15 PM

    pemuda yg tidak beradab…

    memang pendidikan moral sangat dibutuhkan di negeri ini. sayangnya pendidikan di negara ini lebih mementingkan pendidikan yg saya kira sangat “menguras otak”. terutama lebih condong ke “otak kiri” saja.

    klo seandainya pemerintah tidak bisa menyediakan pendidikan moral, maka lingkungan keluarga dan masyarakat wajib memberikannya.

    tapi timbul pertanyaan baru! bagaimana bisa, masyarakat yg belum pernah diberi pendidikan moral bisa memberikan pendidikan moral pada generasi muda?

    jelas tidak bisa!

    ada sebuah kejadian berantai. dan itu harus ada yg memulai. Untuk itu saya kira pemerintah harus menyediakan wadah pendidikan moral mulai saat ini. karena dengan generasi muda yg saat ini lah mereka baru bisa mengajarkan pendidikan moral pada generasi berikutnya dan seterusnya….

    sayangnya, pemerintah hanya mengandalkan Ujian Nasional yg tidak adil bagi siswa (seperti saya). ada yg sgt berbakat dan pinter musik tp tidak bisa tersalurkan gara2 harus belajar Fisika yg teoritis jauh dan dari praktik. buat apa dipelajari…?

    uda ah jadi curhat… sekian komentar saya… (T_T sedih dg pendidikan yg buruk di negeri ini)

    mohon dikomentari tulisan saya, http://www.gagmwkalah.co.cc/2008/11/proses-vs-tujuan.html

    Re:Riphqi
    Pemikiran anak muda yang keren…Yakin loh masih SMA?? 😀
    Pendangan pemikiran Anda sudah sangat complicated di usia yang masih muda belia..Salute deh..
    Teruskan ide kreasimu

  2. Februari 3, 2009 7:47 PM

    wah,, moralnya udah ancurrrr banget tuh pemuda..

  3. Februari 3, 2009 7:50 PM

    walah walah penghuni dunia dah keblinger…

  4. Februari 4, 2009 8:44 PM

    Buseeett !!!
    mungkin penglihatan si Ph bermasalah, malam kan gelap, si nenek terlihat secantik Luna Maya !

    Re: Yuddie
    Aya-aya waek.. 🙂

    • Februari 20, 2011 4:46 PM

      yahhh………………itu lah ke lebihannn manusia……?,,,gmn dunia mau kiamat…………….???

  5. herryhermawan949 permalink
    Juni 30, 2014 3:21 PM

    Obat Pembesar Penis # Obat Pembesar Penis Import # Obat Pembesar Penis Vimax #Obat Pembesar Penis Viagra #Obat Pembesar Penis Levitra# Obat Pembesar Penis Arabian Oil # Alat Pembesar Penis # Vakum Pembesar Penis.

    Kami Menjual Obat Pembesar Penis Terlengkap

    Kami Menjual Obat Pembesar Penis Original

    Untuk Info lebih lamjut, silahkan klik
    http://www.obatpaten.com
    HP 085960088877
    085772001444

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: