Skip to content

Megawati vs Demokrat Semakin Memanas

Januari 29, 2009

Megawati

Megawati

Megawati Kritik Kebijakan SBY

Menjelang pemilu 2009, situasi politik semakin memanas. Aksi saling memojokkan dan saling mengembar-gembor keberhasilan pun menjadi barang dagangan kampanye dan iklan. Perang mulut antara Mega dan SBY telah terjadi sejak 2007 silam. Baru-baru ini, Megawati mengkritik kebijakan SBY, langsung saja para pendukung kebijakan  SBY [Demokrat] meradang. Dalam pidato pembukaan Rapat Kerja Nasional Rakernas PDI Perjuangan di Solo, Megawati Soekarnoputri menyatakan bahwa kebijakan Pemerintahan SBY sekarang sepertinya menjadikan rakyat bagai `yoyo`.

“Pemerintah telah menjadikan rakyat seperti permainan, yaitu yoyo yang terlempar ke sana kemari. Kelihatannya indah, tetapi pada dasarnya membuat rakyat tak menentu hidupnya.”

Disamping itu, pemerintah dinilai gagal mengendalikan harga kebutuhan pokok  rakyat (sembako). Kebijakan penurunan harga BBM pun merupakan kebijakan setengah hati untuk menarik simpati publik. Lebih lanjut, Megawati juga mengatakan bahwa pemerintah tidak berkorban lebih banyak bagi kepentingan rakyat.

Rupanya Megawati Menggunakan Data Statistik

Mengenai perkembangan ekonomi Indonesia, Megawati menggunakan data statistik beberapa sumber. Kebijakan dan manajemen pengelolaan anggaran pemerintah yang tidak bersubjek pada rakyat membuat kehidupan masyarakat semakin sulit. Meskipun anggaran penanggulangan kemiskinan naik dari Rp 18 triliun (2004) menjadi Rp 70 triliun (2008), jumlah orang miskin tidak berkurang secara signifikan (proporsional).

“Data Badan Pusat Statistik menyebutkan orang miskin pada 2004 mencapai 36 juta orang, sedangkan 2008 menjadi 35 juta orang (hanya turun 3%, padahal anggaran dinaikan hampir 400%). Ini data BPS, jadi saya tidak asal bicara,
Bahkan Megawati menyebutkan bahwa berdasarkan data Departemen Sosial, orang miskin jauh lebih besar lagi, yakni 19.1 juta rumah tangga atau setara 76 juta orang.

Dengan menggunakan data Asosiasi Pengusaha Indonesia, Mega membandingkan penguasaan pasar domestik dibanding asing. Pasar lokal di era Megawati lebih besar daripada penguasaan pasar lokal di SBY. Pada 2005-2007, penguasaan pasar domestik oleh produsen lokal hanya 22%, sedangkan di masa pemerintahnya, mencapai 74%.

Demokrat Menangkis Serangan

Partai Demokrat melalui Ketua DPP Demokrat, Anas Urbaningrum-pun balas mengkritik pada Ketum PDI-Perjuangan, dengan mengatakan partai oposisi hanya produktif dalam melahirkan ibarat dan perumpamaan seperti `poco-poco` serta `yoyo`.

Hemat saya, pernyataan itu menjadi tanda yang nyata bahwa Ibu Mega panik dengan kebijakan Pemerintah yang populis. Sebagai pimpinan partai politik (Parpol) yang mengaku pro wong cilik, mustinya berani mengapresiasi kebijakan Pemerintah yang menguntungkan rakyat kecil.”

Anas Urbaningrum menyanjung kebijakan penurunan BBM yang sangat populer dan menyenangkan hati rakyat (?????) : “Jangan karena analisis popularitas Pemerintah naik lantaran harga bahan bakar minyak (BBM) turun, lantas panik dan memproduksi penilaian yang tidak tepat.”

Sebelumnya pada 31 Januari 2008 di Palembang, Megawati SP juga memberi masukan kepada pemerintah agar lebih mengedepankan swasembada pangan ketimbang impor terkait impor kedelai, beras dan lain-lain. Karena itu, Megawati mengatakan bahwa kinerja pemerintah dalam menanggani kemiskinan ibarat penarai poco-poco. “Maju satu langkah, mundur satu langkah. Maju dua langkah, mundur dua langkah. Artinya tidak pernah berangkat dari tempatnya,“.

Oposisi Penting dalam Demokrasi

Pemerintah tanpa oposisi yang cerdas, tegas dan kuat, akan membuat pemerintah akan menjalankan kebijakan dengan semena-sema seperti di era orde baru. Tanggisan masyarakat dibungkam. Aparat kepolisian menjadi budak. Tentara menjadi perisai menghadapi suara mahasiswa. Petrus menjadi pencabut nyawa yang ‘kurang ajar’ terhadap pemerintah.

Sedangkan di era reformasi  demokrasi ini (tapi terlalu bebas), oposisi dan para pakar dibidang masing-masing perlu mengingatkan pemerintah agar tidak sombong, semena-mena, dan mengganggap negara ini adalah miliknya, lalu mengiring opini yang menyesatkan. Masak penyesuaian harga BBM dianggap prestasi…. Yang parah lagi, harga BBM 2009 tidak jauh berbeda dengan harga BBM di Amerika…. Bandingkan di tahun 2002, 2004, dan 2005, silam dimana harga BBM di Indonesia hanya 1/3 – 1/2 harga BBM di Amerika..

Tentunya, jika Demokrat bersama SBY tidak mengiklankan ‘BBM turun 3 kali’ yang terkesan membohongi masyarakat, maka sebenarnya tidak ada celah bagi Megawati untuk mengkritik pemerintah. Iklan penurunan BBM Demokrat rupanya menjadi boomerang Demokrat sendiri.

Jadi, adanya lembaga oposisi akan menjadi penyeimbang dari hegemoni penguasa jika saja penguasa telah salah langkah, salah ucap, salah iklan, dan lain-lain. Di negara demokrasi manapun, selalu ada pihak oposisi yang terkadang mengkritik berlebihan. Namun jika pihak pemerintah mau mendengar kritikan konstruktif dari oposisi yang cerdas, maka negarapun akan menjadi semakin maju dan berkembang.

Ber-oposisi yang  Solutif

Tokoh-tokoh oposisi hendaknya menyampaikan kritikan yang membangun dan solutif. Tidak hanya memberi kritikan kesalahan pemerintah, namun yang jauh lebih penting adalah kritikan yang disertai solusi kreatif dan inovatif. Dan hendaknya kritikan yang dilontarkan tidak memecah nilai-nilai persatuan dan merusak nilai moralitas. Maka, kritikan Megawati akan berarti besar jika dia [Megawati] sendiri memberikan solusi yang kreatif kepada rakyat maupun pemerintah.  Tentu, kita tidak mengharap seseorang hanya bisa mengkritik tanpa memberi solusi yang cerdas.
Akhir kata, keberadaan oposisi sangatlah penting dalam  pemerintah demokrasi ini. Adanya oposisi  cerdas maupun para ahli di bidangnya yang terus meninjau dan memberi kritik solutif-konstrukfi, maka pemerintahpun akan lebih hati-hati dalam membuat kebijakan. Sehingga kebijakan-kebijakan yang dikeluarkan pemerintah tidak  merugikan rakyat kecil,  tidak membohongi masyarakat miskin, atau mencederai amanat UUD 1945.

Selamat bersuara. Selamat berkomentar yang konstruktif – solutif.

echnusa – 28 Jan 2009
Referensi : Antara, Media Indonesia dan Liputan6

Iklan
20 Komentar leave one →
  1. robby permalink
    Juni 11, 2009 1:31 PM

    Mega cm bs ngomong doank…dikit2 WONG CILIK, klo g wong cilik Ekonomi Kerakyatan…..klo kyk gitu anak kecil jg bs……dari dulu berkoar trs g da buktinya sama sekali…rakyat sudah kenyang ma bualan2 yg g bertanggung jawab…

  2. Firda Amalia permalink
    Juni 15, 2009 11:41 AM

    suksezzzzzz aja dch bwt pak sby mga mnang dlm pemilu 2009. sbyqu hilangin sistem ekonomi NEOLIBnya dunk……………!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: