Skip to content

Kok Agamamu Begitu sih??

Januari 27, 2009

Kok Agamamu Begitu sih?
echnusa – 24 Januari 2009

Mengawali dengan Kata

Ketika konflik Poso mulai berkecamuk diera 1998 dengan membawa isu agama, maka ratusan orang tewas dan ribuan rumah musnah. Pada saat itu, sebagian umat Kristen berpersepsi bahwa semua umat Islam adalah penjahat, pembunuh dan penteror. Di sisi lain, sebagain umat Islam berpersepsi bahwa semua umat Kristen adalah penjahat, pembunuh, dan pantas dibunuh. Persepsi yang dibangun dan dibentuk ini, menjadi senjata pemusnah yang begitu dashyat. Ratusan orang tewas, ribuan orang terluka dan lebih 5000 rumah musnah. Puluhan ribu orang hidup dalam keadaan mental terjajah ketakutan.

Ketika tragedi Bom Bali I dan II menghantam Pulau Dewata (Bali), sebagaian besar orang Barat melabeli kita, orang Indonesia, sebagai teroris. Orang Indonesia menjadi begitu sulit mendapat visa kunjungan ke Amerika, terutama mereka yang berjenggot. Kehadiran orang Indonesia di keimigrasian Washington, Manila, London, menjadi sorotan tajam. Orang Indonesia mendapat pengawasan ekstra dari pejabat keamanan setempat. Pandangan sebagian besar orang Barat saat itu (setelah 11 September 2001 dan Bom Bali I & II ) menganggap setiap orang Indonesia (khususnya Islam) adalah kaum ekstrimis, radikal dan teroris.

Ketika kemelut Aceh (GAM) mencuat berdekade lamanya hingga terjalinnya perjanjian damai, sebagian besar dari kita menggangap orang Aceh adalah GAM, para pengkhianat bangsa yang ingin lepas dari Indonesia.

Ketika militer Amerika menghantam negeri “Seribu Satu Malam” pada tahun 2003, dan mencabut nafas ratusan ribu warga Irak. Maka sebagian besar orang Indonesia melabeli setiap orang Amerika adalah penjahat, kafir dan seterusnya.
Ketika Hamas meluncurkan roket ke wilayah Israel, maka warga Israel menyebut semua orang Hamas (termasuk pendukung) adalah teroris, penjahat, pembunuh dan seterusnya.
Ketika militer Israel menghantam wilayah Gaza dengan menewaskan lebih 1000 orang, maka sebagian dari kita mengecam Israel sebagai negara Yahudi yang semua Yahudi Israel harus dibasmi.

Menelusuri dengan Logika

Apa yang ingin saya kemukakan di atas hanyalah mengambarkan persepsi yang cenderung tertanam pada diri seseorang. Dan pada artikel ini, saya lebih memokuskan pembahasan mengenai ‘kecanduan’ atas persepsi kita pada keyakinan agama menurut kita sendiri.
Sebelum saya melanjutkan, silahkan cermati 2 buah gambar di bawah ini

Gambar 1

Gambar 1

Gambar 2

Gambar 2

Gambar apakah yang Anda lihat pada Gambar 1 dan Gambar 2??

Gambar 1 adalah wajah seorang nenek tua…Itu benar jika persfektif pandanganmu tegak lurus ke atas.  Namun, jika Anda melihat dari persfektif bawah ke atas (terbalik), maka Anda akan mendapati gambar seorang wanita muda seperti saya tunjukkkan gambar 3. Dengan sudut pandangan yang berbeda, gambar yang sama akan memiliki 2 persepsi gambar yang berbeda.

Hal serupa pun terjadi pada gambar 2. Gambar 2 akan memiliki 2 persfektif berbeda jika Anda melihat gambar tersebut dengan sudut warna yang berbeda. Jika Anda fokus pada warna hitam, maka Anda akan melihat gambar 2 sebagai gambar 2 wajah manusia. Sedangkan jika Anda fokus pada warna putih, maka Anda akan melihat gambar 2 sebagai gambar sebuah vas.

Apa yang ingin saya sampaikan dari kedua gambar diatas adalah fenomena sikap dan pandangan umum yang mengalir dalam diri kita. Kita selalu terjebak dengan persfektif diri kita sendiri. Kita sering seperti para buta yang berusaha mendeskripsikan seekor gajah dengan keterbatasan indera-nya. Dari 2 gambar diatas, kita peroleh bahwa untuk melihat fenomena di sekitar kita, kita hendaknya menggunakan berbagai persfektif dan cara pandang kita. Dunia gambar 2 dimensi saja masih memiliki berbagai persfektif pandang yang berbeda, apalagi dunia sesungguhnya.

Sedangkan dunia kehidupan kita bukanlah hanya sebatas dunia 2 dimensi atau 3 dimensi. Hidup kita dipenuhi berbagai dimensi ruang, waktu, perasaan, pikiran dan prasangka. Sehingga fenomena cara pandang di dunia dimensi kita mengakar pada kehidupan kita sehari-hari. Tidak heran jika kita selalu terjebak dengan dunia kehidupan kita. Kita lebih sering melihat fenomena yang terjadi hanya dari satu sisi saja, dan mengabaikan sisi lain. Kita lebih sering menyatakan kita yang paling benar, dan menyalahkan pihak lain. Kita sering mengeluarkan statement kebenaran-kebenaran, namun kebenaran tersebut hanyalah persfektif kita di sisi lain, kebenaran hanya berlaku untuk  diri kita saja. Kebenaran yang harusnya memberikan rasa damai, suka cita, dan ketenteram, justru menciptakan ‘chaos’, permusuhan, kebencian, dan rasa ketakutan.

Jadi, perlu lah kita pahami bahwa ada kebenaran subjektif atau saya sebut sebagai kebenaran relatif serta kebenaran universal atau disebut kebenaran absolut.  Contoh kebenaran relatif  yakni jika saya melihat gambar 1 dengan posisi tegak, maka gambar 1 adalah seorang wanita tua. Gambar wanita tua adalah kebenaran relatif. Contoh lain, mengendarai kendaraan harus di sebelah kiri jalan. Ini hanya kebenaran relatif di sebagian negara  di dunia termasuk Indonesia. Kebenaran ini tidak berlaku pada beberapa negara seperti Amerika Karena orang Amerika  mengendarai kendaraan di sebelah kanan jalan. Jika kita mampu memahami kebenaran-kebenaran relatif dengan apa adanya, maka diperoleh kebenaran absolut. Contohnya : mengendarai kendaraan dapat dilakukan di sebelah kiri atau kanan tergantung pada tempatnya. Kebenaran absolut memiliki jangkaun sangat luas, universal, dan tidak ‘allignment’ atau memihak satu sisi atau kepentingan.

Gambar 3 : Wanita Muda dari Wanita Tua

Gambar 3 : Wanita Muda dari Wanita Tua

Mendalami dengan Hati

Ketika Anda membaca bagian awal artikel saya, dan Anda membaca tulisan ini hanya dari satu persfektif (pro atau kontra), maka sangat mungkin sekali sebagian dari Anda berpikir bahwa tulisan saya hanyalah memperkeruh suasana, memprovokasi pertikaiaan dan seterusnya. Namun, jika kita dapat mau secara mendalam melihat sesuatu dari 2,3,4, atau 5 persfektif sekaligus, maka saya yakin kita dapat menjadi pribadi yang jauh lebih baik, sopan, dan penuh cinta dalam kehidupan, dan berharap Anda dapat mengambil makna dan manfaat dari artikel ini.

Untuk itu, hendaknya kita berusaha dalam kehidupan sehari-hari, belajar melihat segala sesuatu dari berbagai persfektif. Kita perlu melihat suatu fenomena bukan saja dari si subjek atau objek saja. Namun, kita perlu melihat sisi subjek, obyek, dan lingkungannya. Kecenderungan kita melihat fenomena kehidupan hanya dari satu sisi saja, yakni dari atas saja, dari bawah saja, dari hitam saja, dari putih saja, dari kiri saja, dan seterusnya, akan menyempitkan kearifan kita.

Menganggap Satu Fenomena Sebagai Kebenaran Absolut

Hal yang sangat fenomenal dari persfektif  ‘egosentris’ yang sering kita temui saat ini adalah kita selalu menganggap segala sesuatu berdasarkan kesimpulan dari satu sisi saja. Sebagian orang berpikir, merasa, mempercayai bahkan meyakini bahwa semua orang Indonesia adalah teroris. Orang Aceh adalah separtis. Orang Israel adalah kafir dan harus dibasmi. Semua orang Kristen merusak akidah. Anak-anak simpatisan PKI harus dipenjara dan diisolir. Orang Amerika brengsek. Orang komunis tidak bermoral dan tidak beretika. Dan sebagainya..

Lalu, apakah pernyataan, opini, atau keyakinan kita merupakan realitas sesungguhnya?? Benarkah orang Indonesia adalah teroris pasca Bom Bali? Benarkah semua orang Yahudi itu sangat jahat??
Di Indonesia masih ada Ulama, ada Pendeta, ada Biksu, ada Pastor, ada Romo, ada Kak Seto, ada Ibu Muslimah, ada Andy F Noya, dan masih ada banyak sekali orang atau individu yang memiliki cinta dan kasih dalam dirinya.
Begitu juga, masih ada banyak sekali orang Yahudi yang memiliki rasa kasih sayang dan cinta dalam dirinya. Sebut saja seorang Albert Einstein, ilmuwan sekaligus cerdas dalam estetika/moralitas kehidupan.
Begitu juga, tidak benar jika menggangap semua orang Hamas adalah teroris. Karena masih ada simpatisan Hamas yang memiliki kasih dan cinta dalam dirinya.
Sehingga tidaklah tepat mengganggap suatu fenomena umum, lalu kita menggeneralisasi dan menyimpulkan bahwa semua itu adalah ini dan itu saja.

Kebenaran Simbolis

Kita sering terjebak dengan simbol agama, suku, dan lainnya. Ketika kita melihat suatu simbol Agama yang tidak sama dengan kita, lalu kita langsung mencampakkan, merendahkan agama lain. Hal ini terjadi bukan saja di Indonesia, bahkan Amerikapun memiliki kultur yang sama. Masih banyak orang Amerika berkulit putih, ketika melihat mereka yang berkulit hitam, langsung mengganggap remeh dan menghina. Sebagain orang Amerika [kulit putih] masih sulit menerima Obama sebagai presiden mereka. Kita pun sering terjebak, ketika melihat seseorang dengan titel yang panjang, lalu kita muncul ras respek lebih besar kepadanya. Kita sering menganggap semua yang lebih muda dari kita memiliki pengalaman dan pengetahuan yang lebih rendah dari kita, sehingga kita jarang mau mendengar pendapat kita, kita menggangap remeh orang yang berusia muda. Kita sering mengganggap dan memvonis semua anggota DPR itu busuk, namun kita mengabaikan sekelompok anggota DPR yang berhati mulia, bekerja keras, dan berusaha mengaspirasikan suara rakyat.

Singkat kata, kita terjebak dengan sesuatu yang tampak di luar. Kita jarang melihat dan menilai sesuatu dari berbagai persfektif dan dari ‘nilai internal’ seseorang. Kita lebih sering menvonis seseorang karena label, simbol, penampilan daripada ‘hati’, jiwa, kebaikan, pengetahuan, kesabaran orang tersebut. Sikap mental negatif ini terus kita pupuk, sehingga semakin lama, moralitas kita semakin menurun. Kita menjadi lebih menghargai orang yang kaya dan berjabatan daripada seorang anak pemulung yang berjiwa penolong dan berbakti. Kita lebih menghargai teman kita yang jahat, korup, atau penuh kebencian daripada lawan atau orang lain yang baik hati namun memiliki “simbol” yang berbeda dengan kita.

Persfektif Egosentris

Kita meyakini semua orang dalam suku, agama kita adalah terbaik, dan menganggap semua orang diluar kita adalah paling jelek, busuk dan sebagainya. Yang parah lagi, saat ini tidak sedikit orang yang berbicara layaknya Tuhan. Mereka dengan mudah memvonis seseorang masuk surga atau neraka berdasarkan apa yang ia lihat, dengar, perhatikan, dan sebagainya. Mereka lupa bahwa “dalam lautan dapat diukur, dalamnya hati tidak ada yang tahu“. Dalam hal ini, kita lupa bahwa kita telah menjadi diri kita seperti ‘Tuhan’ dan menilai, menvonis, menjelekkan agama lain, lalu berkata, “Kok Agamamu begitu sih??”.. Jelek, salah, tidak benar, penteror, dan sebagainya.

Hal serupa pun saat kita melihat seorang penjahat dari sisi kita sendiri. Kita lupa untuk bertanya pada diri kita, apa dan mengapa motif dibalik orang tersebut berbuat jahat. Jika seseorang mencuri atau membunuh, maka kita lebih sering terjebak dengan pemikiran kaku kita, lalu melabeli orang tersebut sebagai pencuri atau pembunuh ‘abadi’ dalam seluruh hidupnya. Padahal seorang pencuri atau pembunuh, bukanlah tidak bisa berubah atau bertobat. Kita terjebak bahwa seorang pencuri tidak bisa menjadi seorang dermawan. Kita terjebak bahwa seorang teman seiman kita tidak bisa menjadi seorang pecundang. Kita terjebak bahwa seorang pintar tidak pernah salah dalam perilakunya.

Sesungguhya, setiap orang berubah dalam tiap hari hidupnya. Moralitas orang dapat berubah setiap saat. Hari ini mungkin dia baik, besok mungkin dia jahat, lusa dia baik lagi dan seterusnya. Inilah fenomena roda kehidupan. Dan untuk itu,  kita tidak perlu ambil pusing. Yang terpenting adalah bagaimana kita menyikapi fenomena tersebut dengan hati, pikiran, dan tindakan yang membawa manfaat bagi banyak orang.

Sehingga sungguh naif, jika kita terus berpikir bahwa karena kesalahan sekelompok orang Israel, Hamas, Taliban, Amerika, teror Bom, Inggris dan sebagainya, lalu kita menggangap semua orang di Israel, Palestina, Taliban, Rusia, Amerika, Aceh, Afganistan adaah jahat, brengsek, dan memupuk kebencian dalam batin kita. Kita sering salah menghukum orang yang tidak bersalah, serta melepas bahkan menyanjung orang yang tidak benar. Di Indonesia beberapa rekan-rekan, mengisukan boikot semua produk orang Israel dan Amerika, lantaran Israel menyerang Gaza dan mendapat dukungan Amerika. Siapakah yang menyerang Gaza?? Semua orang Israel?? Apakah semua orang Amerika mendukung penyerangan Israel ke Gaza???
Jika alasan ini, maka sebaiknya  mereka  tidak menggunakan Linux, Windows, Teknologi Internet, IC handphone, nonton TV, naik pesawat Boeing, dan sebagainya, karena toh….ada orang Amerika dan Israel yang berkontribusi dalam perkembangan teknologi. Jauh yang lebih tepat dan logis adalah memboikot perusahaan yang mendukung terhadap peperangan, penindasan hak asasi, perusakan lingkungan, dan monopoli pasar.

Saya sangat setuju agar kita lebih mandiri, tidak bergantung pada perusahaan asing. Tidak hanya perusahaan Israel, Amerika saja, tapi semua baik dari Jepang, China, Korea, Arab, Jerman, Rusia dan sebagainya. Namun, semua itu haruslah dilakukan secara bertahap dan didasari oleh kesadaran pribadi masing-masing untuk bangga dan mencintai produk anak bangsa sendiri. Mari kita setahap demi setahap melepas dari ketergantungan asing, dan secara simultan meningkatkan kuantitas dan kualitas anak negeri ini.

Mengakhiri dengan Kesimpulan

Kita hidup bukan di dunia satu dimensi, yang hanya memiliki satu persfektif saja. Namun, kita hidup di dunia multidimensi, begitu banyak persfektif yang perlu kita cermati dan sikapi. Selama kita terjebak dunia multidimensi sebagai unilateral dimensi, maka kejahatan, kebencian, pertikaian, peperangan, tidak akan berakhir bahkan semakin berkobar. Fenomena ini bukanlah sesuatu yang tidak bisa diobati atau diubah. Dan salah satu obatnya adalah gunakan ‘hati’ dalam melihat, mendengar, atau membaca. Gunakan persfektif multidimensi dengan sering bertanya, “Bagaimana aku jika diposisinya?…. Samakah tindakanku jika berada di posisinya?….Bagaimana jika aku diancam, dihina, dsb”. Peperangan, kebencian, saling balas dendam tidak akan ada akhirnya. Hanya cinta dan pengertian mendalam yang akan membawa kebahagian dan suka cita di bumi kita yang tercinta ini.

Salam damai dan bahagia
echnusa – 27 Januari 2009


One Comment leave one →
  1. mc_sea permalink
    Januari 27, 2009 9:31 PM

    “Gunakan persfektif multidimensi dengan sering bertanya, “Bagaimana aku jika diposisinya?…. Samakah tindakanku jika berada di posisinya?”..itu cara pandang yang sangat bijak…jika kita jadi kecoa apa kita tetep akan membunuh kecoa…???????

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: