Skip to content

Industri Rokok Tumbuh Pesat di Pemerintahan SBY-JK

Januari 24, 2009

Angka-Angka Fantastis Rokok di Indonesia

no smoking
no smoking

Ditengah pro dan kontra fatwa merokok itu haram menjelang pergantian pemerintah baru 2009, ada satu hal yang menarik bagi saya mengenai rokok di Indonesia. Luar biasa…. Itulah frasa yang tepat untuk menggambarkan begitu suburnya perkembangan rokok di negeri Indonesia. Semuanya angka statistik tentang rokok menunjukkan peningkatan yang mencenggangkan. Selama kurun waktu 2004-2008, pertumbuhan produksi rokok  (18.6%) jauh melampaui pertumbuhan penduduk (6.0%). Lebih 225 miliar batang rokok diproduksi tiap tahun.  Tidak kurang Rp 100 triliun uang habis dibakar  untuk menyulut rokok.

Pertumbuhan Produksi Rokok Nasional Periode 2000-2008

Tahun Total Produksi % Tumbuh Sumber
2000 213 miliar batang no data Sinarharapan
2001 198 miliar batang 7.6% turun Sinarharapan
2002 186 miliar batang 6.5% turun Sinarharapan
2003 173 miliar batang 7.5% turun Sinarharapan
2004 194 miliar batang 10.8% naik Kompas
2005 202 miliar batang 0.5% turun Inilah.com
2006 220 miliar batang 8.2% naik Detikhot
2007 226 miliar batang 2.7% naik Detikhot & Detikfinance
2008 ~230 miliar batang ~1.7% naik Detikhot (Gappri)

*Catatan : adanya perbedaan angka produksi dari sumber situs yang berbeda.

Dari tabel di atas, dapat disimpulkan bahwa selama periode Gusdur+Mega, pertumbuhan rokok di Indonesia negatif yakni dari 213 miliar batang pada 2000 menjadi 194 miliar batang pada 2004 atau turun sebesar 8.9%.

Sedang selama periode yang sama [ 4 tahun), yakni 2004-2008, industri rokok malah tumbuh subur. Pemerintah SBY dan JK berhasil mendorong pertumbuhan produksi rokok naik  hingga 18.6% selama 4 tahun atau rata-rata tumbuh 4.6% tiap tahunnya. Tentu alasan pemerintah untuk meningkatkan produksi rokok semata-mata untuk meraup sumber pendapatan negara hingga 50-an triliun per tahun, namun di sisi lain uang/modal yang dimiliki masyarakat harus ‘terbuang’ untuk dibakar dengan rokok.  Padahal pengeluaran uang masyarakat untuk membeli rokok itu sangatlah besar.

Dari data tabel tersebut, secara gamblang dapat saya simpulkan, industri dan pengusaha rokok Indonesia akan sangat senang dengan “iklim rokok” pemerintah SBY-JK karena berhasil meningkatkan jumlah perokok Indonesia. Hal ini disebabkan selama bertahun-tahun reformasi (terutama 4 tahun terakhir), tidak adanya peraturan perundangan yang dikeluarkan pemerintah yang melarang anak-anak merokok. Apalagi kalangan industri rokok gencar beriklan dengan sasaran utama kalangan remaja. Jika tidak segera diantisipasi, maka jumlah perokok di kalangan anak dan remaja akan meningkat pesat dalam beberapa tahun ke depan.

Pertumbuhan Penduduk Kalah Besar dengan Pertumbuhan Rokok

Pada tahun 2000, jumlah penduduk Indonesia (sensus 2000) adalah 206 juta jiwa yakni 201 juta [terdata] + 5 juta [eror dan toleransi]. Pada tahun 2004, jumlah penduduk Indonesia 215 juta jiwa. Sedangkan pada tahun 2008, jumlah penduduk Indonesia diperkirakan mencapai 228 juta jiwa.
Dari perbandingan dua angka tersebut, selama 2000-2004, meskipun pertumbuhan penduduk 4.3%, namun pertumbuhan rokok turun hingga 8.9% selama 4 tahun.
Sedangkan selama 4 tahun berikutnya, 2004-2008, pertumbuhan penduduk sekitar 6.0% diimbangi meningkatnya produksi hingga 18.6% selama 4 tahun.

Kebijakan Pemerintah SBY-JK maupun Megawati sebenarnya jauh dari cita-cita Presiden BJ Habibie. Pada tahun 1999, Habibie mengeluarkan Peraturan Pemerintah (PP) 81/1999 tentang Penanggulangan Masalah Merokok bagi Kesehatan. Melalui PP ini, industri rokok cukup lesu, karena pemerintah membatasi maksimum kandungan tar dan nikotin pada rokok serta melarang iklan rokok di media massa, baik cetak maupun elektronik.

Kebijakan Pemerintahan Habibie untuk menangulangi rokok semakin tergerus sejak Pemerintahan Abdurrhaman Wahid melalui PP 32/2000 dan diperparah PP 19/2003 dimasa Megawati. Dengan PP 19/2003, Pemerintahan Megawati menyuburkan kembali industri rokok di negeri ini. Sebenarnya Menkes Achmad Sujudi di masa Pres. Megawati mengusulkan agar Indonesia mendukung FCTC, tapi ditentang oleh menteri dibidang ekonomi seperti Menkeu Boediono, Mentan, Men. Industri, Men. Naker. Dengan tetap membawa tim ekonomi pro-pasar/pemodal, maka pemerintahan SBY tetap melanjutkan kebijakan buruk dalam rokok. Tampaknya, baik Mega maupun SBY tidak bisa belajar hal baik dalam penanganan rokok dari Habibie.

Dampak Data

Sehingga wajar dalam beberapa tahun terakhir, jumlah perokok Indonesia meningkat drastis. Generasi penerus bangsa menjadi pecandu rokok, menghabiskan uang yang harusnya digunakan untuk membeli makanan bergizi, pendidikan, dan kesehatan, justru habis untuk membakar batang demi batang rokok. Disisi lain, pemerintah terkesan asyik mendorong peningkatan pajak bea cukai rokok dan kurang memperhatikan efek jangka panjang dari rokok dari segi kesehatan, perilaku masyarakat, ekonomi dan pendidikan.

Akhir kata, semoga angka-angka fantastis industri rokok di masa pemerintah SBY-JK ini menjadi masukan berarti bagi pembuat kebijakan, peran orang tua, pendidikan di sekolah serta peran agama selaku pengontrol ‘mental’ manusia.

Peningkatan jumlah usia perokok pemula di Indonesia  didominasi oleh kaum muda. Kondisi ini disebabkan tidak adanya peraturan perundangan yang melarang anak-anak merokok. Apalagi kalangan industri rokok gencar beriklan dengan sasaran utama kalangan remaja. Bahkan, Menteri Perindustrian Fahmi Idris (Kader Golkar) menyatakan dukungannya terhadap perkembangan industri rokok di dikarenakan rokok menyumbang Rp 52 triliun pada tahun 2006 melalui cukai dan pajak rokok, jauh diatas pemasukan bagi hasil Freeport yang hanya 3 triliun (sumber inilah.com).
Jika tidak segera diantisipasi, maka jumlah perokok di kalangan anak dan remaja akan meningkat pesat dalam beberapa tahun ke depan. Dan uang untuk membeli rokok hingga ratusan triliun dapat dialihkan untuk investasi dibidang pendidikan, ekonomi, dan ketahanan finansial masyarakat. Mungkin dengan fatwa haram merokok, dapat mengantisipasi meroketnya jumlah ‘pengemar’ rokok dari kalangan remaja.

Mengenai paradigma industri rokok harus ditumbuhkembangkan karena menjadi pemasukan utama bagi pendapatan negara, saya berusaha mengubah paradigma rokok itu dalam aspek kehidupan manusia ditinjau ekonomi, sosial, pendidikan dan kesehatan di Mitos Industri Rokok Sangat Penting Bagi Negara

Salam Perubahan,
echnusa – 24 Januari 2009

Iklan
15 Komentar leave one →
  1. Borjah permalink
    Januari 25, 2009 2:29 AM

    PERTAMAX… Rokok kan pajak nya besar, sekarang malah di tulisin di tiap bungkus nya rokok besaran nya pajak Rp35/batang. Rp35x230milyard batang jadi berapa kontener duit nya tuh? Orang yang beli rokok yang bayarin pajak nya, kan beli rokok berikut pajak nya. Kira kira di setorin semua ga ya duit nya ke kas negara… Nanti lama lama harga rokok nyamain harga emas, bertambah pula hasil pajak dari rokok. Tidak baik mengharam kan rokok padahal dia sendiri tidak bisa berhenti merokok. Karena ukuran halal dan haram sudah ada penjelasan nya. Yang perlu di perhatikan etika merokok, siperokok harus tau kapan dan di mana dia harus merokok.

    • April 2, 2009 3:53 PM

      Benar banget aku setuju banget dengan statementmu “Tidak baik mengharam kan rokok padahal dia sendiri tidak bisa berhenti merokok. Karena ukuran halal dan haram sudah ada penjelasan nya. Yang perlu di perhatikan etika merokok, siperokok harus tau kapan dan di mana dia harus merokok.”

    • blackhawk permalink
      Mei 28, 2009 3:02 PM

      Setuju sob..meskipun ga merokok bukan berarti saya benci perokok dan rokok, yang terpenting bukan urusan diharamkan atau gak nya, tapi bagaimana hak-hak orang yang ga merokok untuk menghirup udara bebas rokok terpenuhi, jadi yang diatur lebih ke tempat..misal jangan merokok di tempat2 umum..terlalu kompleks buat ‘membunuh’ industri rokok,bahkan mereka lebih peduli menyisihkan keuntungan untuk melakukan hal yang baik contohnya beasiswa, sponsor olahraga, atau mesupport kegiatan lainnya, yah meskipun didalamnya terdapat unsur promosi..jadi yang terpenting bagi para perokok jangan biarkan kami menghirup asap rokok mu!!!nikmati sendiri……..

  2. callighan permalink
    Mei 19, 2009 12:52 PM

    Mohon maaf sebelumnya kalau opini saya tidak didasari analisis.
    Cuma dari pengamatan saya, di beberapa negara eropa kontinental, industri rokok bisa tetap bertahan walau dibebani pajak yang sangat tinggi dan terdapat pelarangan merokok di kebanyakan tempat umum.
    Paling tidak di Austria, Jerman dan Belanda, larangan dan pajak bisa mengurangi atau mengendalikan jumlah perokok dan pada saat yang sama bisa “menghidupi” industri rokok.
    Jadi, pemerintah jangan takut lah menerapkan berbagai pembatasan rokok. Manfaat kesehatan dan ekonomi perorangan rakyat Indonesia lebih penting daripada pemasukan fiskal yang ujung-ujungnya disedot untuk bayar hutang asing.

    • Mei 19, 2009 2:17 PM

      @Borjah dan Jacklyn
      Saya sendiri juga tidak setuju juga bahwa fatwa merokok bagi mereka sudah terlanjur rokok. Tapi fatwa anak-anak merokok itu saya kira masih diperlukan.
      Justru yang perlu kita proteks adalah anak-anak. Dengan cara seperti ini, industri rokok akan tetap bertahan dalam jangka waktu belasan tahun mendatang. Dan secara bertahap, pemerintah merelokasi industri tembakau ke pertanian dan peternakan. Bayangkan 3/4 kebutuhan daging masih impor. Sebenarnya pasar yang sangat potensial seperti gula, jarak, tomat, dan mungkin rotan.

      @callighan
      Terima kasih, perlu pembatasannya secara bertahap. Secara dramatis agak susah. Saat ini Komnas PA sedang menuntut agar iklan rokok dihapuskan.
      Btw, apakah di negara Eropa diizinkan iklan rokok hampir di semua sudut kota dan di semua stasiun TV?


      Maaf jarang sekali bisa menjawab semua komentar yang masuk… 🙂

  3. callighan permalink
    Mei 19, 2009 2:50 PM

    Kalau di Wina, Austria, iklan rokok hampir tidak ada. Malah paling banyak iklan larangan rokok; kalau tidak merokok “kosten nicht” alias tidak ada biaya, tapi kalau merokok, “kosten” 50 euro!
    Cuma rokok masih dijual bebas dan masih boleh dihisap di bar dan cafe yang kalau di Indonesia ekuivalen dengan warung atau warung tegal karena merupakan tempat nongkrong rakyat sini (karena bar dan cafe berada di dalam ruangan-kan’ diluar dingin).
    Kira-kira kalau kondisinya di Indonesia mirip, tidak ada yang merokok di stasiun, halte dan tempat kerja. Tapi di trotoir jalan dan warung bisa merokok. Kalau itu bisa terwujud, paling tidak bisa lebih bersih lah fasilitas umum.

    • Mei 19, 2009 3:22 PM

      Oh…begitu…menarik…
      Itu yang saya cita-citakan, orang bebas untuk merokok tapi jangan di “sini”, ditempat ramai non-perokok.
      Dan tidak boleh ada persuasi mengajak seseorang untuk merokok terutama generasi muda. Sayang estimasi sedikitnya 100-an triliun dana masyarakat harus dikeluarkan untuk membeli rokok. Jika dana tersebut dapat dialih sebesar 10% saja ke sektor UKM, maka secara bertahap pekerja di sektor rokok dapat beralih. Indonesia selamat, duniapun selamat…..
      Sampai-sampai saya sempat berpikir, apakah ini namanya “perang candu” baru seperti di China di awal abad 20…?

  4. Desember 23, 2009 8:03 PM

    Mari kita dukung Misi dan Visi dari http://www.dilarangmerokok.com, Karena Kami tak hanya bisa melarang Anda untuk tidak merokok, tapi kami turut menawarkan bagi Anda solusi nyata untuk berhenti merokok. MAU?

Trackbacks

  1. Mitos Industri Rokok Sangat Penting Bagi Negara « Indonesia News and Opinion
  2. 10 Negara Jumlah Perokok Terbesar di Dunia « Nusantaraku
  3. 10 Negara dengan Jumlah Perokok Terbesar di Dunia « Putra Rafflesia
  4. 10 Negara dengan Jumlah Perokok Terbesar di Dunia | Love is beautifull isn't it ^_^
  5. Negara Perokok « Masyarakat Peduli Kesehatan Akibat Dampak Rokok
  6. 10 Negara dengan Jumlah Perokok Terbesar di Dunia | ghearofifah
  7. Daftar 10 Negara Perokok Terbesar » www.anomwibowo.com

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: