Skip to content

Seorang Kwik Kian Gie pun “Dibinggungkan” oleh Kebijakan BBM Pemerintah

Januari 19, 2009

Pengantar

Satu lagi artikel edukasi dari Kwik Kian Gie (Koran Internet) bagi rakyat Indonesia mengenai seluk beluk kebijakan BBM Pemerintah. Pak Kwik Kian Gie secara spesifik memaparkan realitas harga BBM yang sesungguhnya. Edukasi yang dikemukan seorang pakar ekonomi dan juga mantan Menko Perekonomian mengenai kebijakan BBM menjadi ‘bom waktu’ terbongkarnya kebobrokan kebijakan pemerintah saat ini yang menjadi ‘penyembah’ Washington Consensus.

Kebijakan ekonomi pemerintah yang penuh politis [+penipuan lewat iklan oleh Demokrat], membuat seorang pakar ekonomi pun jadi ‘binggung’ apa sih maunya pemerintah SBY-JK dan Demokrat??
Jika beberapa pembaca telah memvonis saya tidak memiliki prestasi bagi bangsa ini lewat artikel saya terdahulu Iklan Penurunan BBM SBY dan Demokrat Busuk. Hentikan!! , maka Anda tidak bisa mengabaikan jasa, prestasi, pemikiran serta visi yang diberikan seorang nasionalis sekaligus negarawan sekaliber Kwik Kian Gie.
Terima kasih
echnusa (19 Januari 2009)

********* Selamat Membaca dan Membuka ‘Mata ‘ **********

Kebijakan BBM Semakin Membingungkan

Oleh Kwik Kian Gie

Kwik Kian Gie
Kwik Kian Gie

Ketika harga bensin premiun Rp 2.700 per liter, harga minyak mentah yang ditentukan oleh NYMEX US$ 61 per barrel dan US$ 1 = Rp 10.000. Ketika itu pemerintah mengatakan bahwa “subsidi” yang diberikan tidak tertahankan, sehingga harga BBM harus dinaikkan. Maka dinaikkanlah menjadi Rp 4.500 per liter. Secara garis besar, tetapi kadar realistiknya sangat besar, harga ini ekuivalen dengan US$ 61,5 per barrel. Perhitungan kasarnya sebagai berikut.

Biaya lifting, refining dan transporting keseluruhannya US$ 10 per barrel. 1 barrel = 159 liter dan 1 US$ = Rp 10.000.  Jadi biaya lifting, refining dan transporting = (10 : 159) x Rp 10.000 = Rp 628,93 atau kita bulatkan saja menjadi Rp 630 per liter.
Kalau Rp 4.500 per liter bensin kita jadikan harga minyak mentah per liter, maka harga baru yang Rp 4.500 harus dikurangi dengan keseluruhan biaya tersebut atau Rp 4.500 – Rp 630 = Rp 3.870 per liter (setara Rp 615.330 atau US$ 61,53 per barel). Seperti dikatakan tadi, ketika itu harga minyak mentah US$ 60 per barrel. Perbedaan yang hanya US$ 1,53 per barrel ini karena simplifikasi kalkulasi.

Ketika itu, harga bensin premium yang dikenakan oleh pemerintah kepada rakyatnya sendiri yang memiliki minyak mentah sama dengan harga minyak mentah yang terbentuk di pasar internasional, dan yang dikoordinasikan serta ditentukan kalkulasinya oleh New York Mercantile Exchange (NYMEX). Tim Ekonomi pemerintah yang liberal total dan penganut Washington Consensus itu memang itu maunya seperti yang ditulis dalam pasal 28 ayat 2 Undang-Undang tentang Migas.

Maka pemerintah lega dan memberi keterangan yang berbunyi:

“Nah, sekarang harga bensin yang dikenakan kepada rakyat Indonesia sudah tidak mengandung subsidi lagi, karena minyak mentahnya sudah persis sama dengan harga minyak mentah di pasar internasional. Karena itu mulai saat ini kita tidak mengenal subsidi lagi. Bensin akan naik dan turun harganya sesuai dan sama dengan naik dan turunnya harga minyak mentah di pasar internasional.”

Tidak lama kemudian harga minyak mentah turun menjadi sekitar US$ 56 per barrel. Wartawan bertanya kepada pemerintah apakah harga bensin premium akan diturunkan? Dijawab dengan tegas : “TIDAK.”

Setelah itu harga minyak mentah meningkat tajam sampai sekitar US$ 80 per barrel. Wartawan kembali bertanya apakah harga bensin akan dinaikkan? Pemerintah menjawab : “Tidak, harga minyak mentah boleh naik sampai 100 dollar AS, pemerintah tidak akan bergeming”.

Kemudian harga minyak mentah naik terus sampai mendekati US$ 150 per barrel. Ketika itu Presiden SBY berpidato mengatakan :

“Jika harga minyak USD 150 per barrel, subsidi BBM dan listrik yang harus ditanggung APBN Rp 320 trilyun”, yang diteruskan dengan mengatakan : “Kalau (harga minyak) USD 160, gila lagi. Kita akan keluarkan (subsidi) Rp 254 trilyun hanya untuk BBM.” (Indopos, Kamis, 3 Juli 2008).

Selanjutnya dikatakan bahwa pemerintah tidak mempunyai uang tunai sebesar itu, APBN akan jebol. Maka harga bensin premium dinaikkan menjadi Rp 6.000 per liter. Lho, belum lama yang lalu dikatakan kalau harga minyak mentah meningkat terus sampai melampaui USD 100 pemerintah tidak akan bergeming.

Mari kita ikuti terus perkembangannya dan semakin membingungkannya jalan pikiran dan kebijakan pemerintah dalam bidang BBM.

Gejolak harga minyak mentah memang luar biasa. Sekarang ini harganya di bawah US$ 40, tetapi kita ambil saja US$ 40 per barrel. Harga bensin premium diturunkan menjadi Rp 4.500. Kalau nilai tukar rupiah kita ambil Rp 11.000 per dollar AS, harga bensin premium sebesar Rp 4.500 per liter ekuivalen dengan harga minyak mentah US$ 55 per barrel. [red. faktanya harga minyak mentah saat ini USD 40-an per barel, kemana USD 15 per barel, kok berani bilang sukses menurunkan BBM]

Hitungan kasarnya sebagai berikut : Dengan kurs 1 dollar AS = Rp 11.000 dan biaya-biaya lifting, refining dan transporting = US$ 10 per barrel, maka per liternya menjadi (10 : 159) x 11.000 = Rp 692 per liter. Jadi kalau bensin premium yang harganya Rp 4.500 per liter dijadikan minyak mentah harus dikurangi dengan Rp 692, sehingga menjadi Rp 3.808 per liter minyak mentah. Per barrelnya menjadi Rp 3.808 x 159 = Rp 605.472. Dengan kurs Rp 11.000 per dollar AS, harga bensin premium Rp 4.500 per liter ekuivalen dengan US$ 605.472 : 11.000 = US$ 55. Jadi jelas  patokan harga minyak mentah oleh pemerintah jauh di atas harga minyak mentah internasional dewasa ini yang berada di bawah US$ 40 per barrel.

Tetapi kita ambil saja US$ 40 per barrel, karena harga inilah yang nampaknya akan dijadikan asumsi dalam penyusunan RAPBN 2009 atau bahkan APBN-P tahun 2008.

Jadi sangat jelas pemerintah memperoleh keuntungan sebesar US$ 15 per barrelnya. Ini kalau dalam menghitung harga pokok bensin per liter, metode kalkulasi yang dianut adalah replacement value method. Namun kalau yang dianut cash basis method, perhitungannya menjadi sebagai berikut :

Harga jual bensin premium Rp 4.500 per liter. Harga pokoknya sama dengan biaya-biaya lifting, refining dan transporting yang Rp 692 per liter seperti yang perhitungannya telah dijelaskan tadi. Labanya per liter bensin premium sama dengan Rp 4.500 – Rp 692 = Rp 3.808.

Konsumsi per tahun 60 juta kiloliter, sehingga keuntungannya 60 juta kiloliter dikalikan Rp 3.808 = Rp 228,48 trilyun.

Produksinya 960.000 barrel per hari, atau setahun = 350,4 juta barrel per tahun. Bagian Indonesia 70 % = 245,28 juta barrel. Konsumsinya 60 juta kiloliter atau dalam barrel = 377,36 juta barrel. Defisit yang harus diimpor per tahun = 377,36 – 245,28 = 132,08 juta barrel per tahun. Dengan harga US$ 40 per barrel menjadi US$ 5,2832 milyar, yang sama dengan Rp 58,1152 trilyun. Pemerintah kelebihan uang tunai sebesar Rp 228,48 trilyun – Rp 58,1152 trilyun = Rp 170,3648 trilyun.

Toh dikatakan bahwa defisit APBN akan membengkak (Kompas, 14 Januari 2009 halaman 20) dan dikatakan bahwa “Pemerintah Tidak Ambil Untung” (Kompas , 17 Desember 2008 halaman 1).

Lebih baik saya berhenti sampai di sini saja. Mohon bantahannya dari para pembaca, terutama dari para teknokrat, dan lebih terutama lagi dari para teknokrat yang mendukung pemerintah.

Last but not least, kalau saya benar, dengan harga bensin yang sudah diturunkan menjadi Rp 4.500 per liter, dari perhitungan kasar tadi akan ada kelebihan uang tunai sekitar Rp 170 trilyun. Dasar perhitungannya memang disederhanakan dengan asumsi semua minyak mentah dijadikan satu macam BBM saja, yaitu bensin premium. Maka katakanlah bahwa hasilnya akan berbeda kalau dihitung dengan semua data. Namun selisihnya tidak banyak. Taruhlah selisihnya 30%. Ini berarti masih ada kelebihan uang lebih dari Rp 119 trilyun.

Pertanyaannya : Uang itu disimpan di mana dan diadministasikan bagaimana? Bisa dilihat di mana? Di APBN? Di pos yang mana?

Tim Ekonomi pemerintah berbicara tentang “stimulus fiskal” yang Rp 60 trilyun, lalu menjadi Rp 12 trilyun, dan dikatakan juga bahwa anggaran tahun 2008 tidak terserap sebesar Rp 60 trilyun.

Sekarang ada kelebihan uang tunai sekitar Rp 119 trilyun yang tidak jelas ada di mana?

Sekali lagi, saya mohon dikritik kalau ada yang salah dalam jalan pikiran dan perhitungan saya. Supaya jelas betul, sekali lagi juga : saya hanya menghitung berapa uang tunai yang dikeluarkan dan berapa uang tunai yang masuk dari produksi BBM, setelah harus mengeluarkan uang untuk membeli minyak di pasar internasional, karena konsumsi kita lebih besar dari produksinya.

Oleh Kwik Kian Gie yang ditulis di Editorial Koran Internet -Jumat, 16 Januari 2009

*******************Catatan******************

Bagi yang ingin berkomentar tulisan dari Pak Kwik Kian Gie ini , silahkan memberikan komentar langsung di situs koran internet.
Silahkan klik ini : Kebijakan BBM Semakin Membingungkan

Perhatikan, Kwik Kian Gie memberikan tanda petik pada kata ‘subsidi’, suatu istilah yang menyesatkan : Subsidi BBM, Istilah yang Menyesatkan

Menurut saya, selama ini tulisan Kwik Kian Gie selalu mencerdaskan saya. Saya yang bukan lulusan ekonomi dapat sedikit terbuka apa sebabnya krisis keuangan global. Saya yang bukan bertitle sejarawan, akhirnya baru tahu bahwa Meskipun kita telah merdeka tahun 1945, namun secara ekonomi kita terjajah kembali tahun 1967 yakni  diberikanya kebebasan asing menjadi tuan rumah atas kekayaan alam kita, (sistem Liberalis-kapitalis). Kwik Kian Gie telah lama menulis dan memberikan buku “Platform Presiden 2009” secara gratis. Tulisan-tulisan pak Kwik dalam 2 tahun terakhir, saya tidak menemukan ia berkampanye untuk satu orang.  Meskipun ia pernah di Kabinet Gusdur dan Megawati, ia tetap mengkritik dan marah atas kebijakan menjual BUMN seperti Indosat, Telkom tanpa pembicaraan dengan beliau selaku menteri dibidang ekonomi.
Ia seorang ekonom yang ingin menyampaikan ide-idenya agar generasi mendatang lebih cerdas, peka, mandiri mengelola negeri ini. Banyak orang cerdas di Indonesia, namun mereka enggan menulis dan mencerahkan rakyat Indonesia. Adajuga yang menulis namun tulisannya dijual di toko buku.
Namun, pak Kwik berbeda, di usia senjanya, Pak Kwik  ia tetap mencurahkan ilmu dan pengalamannya bagi anak bangsa. Ia sama sekali tidak tertarik menjadi presiden atau apapun. Ia hanya bersedia jadi Dewan Pertimbangan Presiden untuk presiden siapa saja yang terpilih dengan harapan si presiden 2009 akan mau menerima masukan dan langkah-langkah penyelamatan ekonomi yang selama ini sering dilontarkan oleh Fajroel Rahman dan Amien Rais. [ada lagi??]

Silahkan baca pengakuan secara ekonomi perusak (Baca juga sumber aslinya : Confession of Economic Hitman – John Perkins dan Stevan Hiatt – As Games As Gold Empire)

Berikut daftar tulisan Pak Kwik yang dapat diakses secara gratis di Koran Internet (hingga 20 Januari 2009):
Platform Presiden 2009 (Artikel 1)
Platform Presiden 2009 (Artikel 2)
Platform Presiden 2009 (Artikel 3)
Krisis Keuangan Global (Artikel 1)
Krisis Keuangan Global (Artikel 2)
Krisis Keuangan Global (Artikel 3)

Tulisan-tulisan yang saya back up di blog ini:
Proses Terjajahnya Kembali Indonesia Sejak Bulan November 1967

Proses Terjajahnya Kembali Indonesia Sejak Bulan November 1967 (Bagian 4)

Thanks to :

Koran Internet

21 Komentar leave one →
  1. 2min2 permalink
    Januari 21, 2009 2:49 PM

    percaya atau tidak, negeri ini telah menjadi ladang Yahudi Internasional. negeri ini diperas setelah antek Free Masonry menggenggam negeri ini dengan kudeta militer 65. antek itu kemudian menamakan jaman kekuasaannya dengan nama “orde baru”. buktinya, sejak saat itu, tambang yang ada dinegeri ini satu persatu “disumanggaaken” pada zionis, kapitalis, imperialis, komunis! anda pasti tahu orang tersebut!

  2. Gue permalink
    Februari 18, 2009 7:39 PM

    Lantas kenapa polisi pada grebek pengusaha kecil yang beli solar dari pom bensin?

  3. andi permalink
    Juni 28, 2009 6:00 AM

    salut KKG.
    kebohongan ini didasari oleh penjagaan “citra”
    menjaga citra itu mahal.
    lihat saja raja-raja yang membangun istana-istana dan mengeruk upeti rakyat untuk menjaga citra.
    orang (spt SBY) kalau sudah kena demam citra, maka jangankan uang rakyat, darah rakyat pun dikorbankan utk menjaga citra SBY.

    Maksud saya: citra SBY di mata IMF.

    Sejarah sedikit: untuk mendongkrak citra saat di ABRI, SBY menikah dengan anak jendral Sarwo Edi (Ibu Ani). Sejak itu, dia dengan bebasnya menggunakan jabatan “menantu Sarwo Edi” untuk naik ke puncak menjadi jendral, mengalahkan teman-teman satu angkatannya. Hal ini juga dilakukan oleh Prabowo sebagai “menantu Soeharto”. Namun Prabowo sekarang “tobat” (?) sedangkan SBY masih terus menjaga citra….

  4. Januari 1, 2010 9:10 AM

    Memang peran si baik dan si jahat sudah bertukar 😳

  5. aul permalink
    Maret 14, 2012 4:04 PM

    maaf tapi coba di cek hitungannya deh…
    saya bukan ahli ekonomi, tapi engineer…
    dari segi hitungan aja banyak yang “terpeleset”

    biar paham coba hitung langsung di kertas..
    anda akan menemukan kesalahan yang entah disengaja atau tidak disengaja.
    kita tidak tahu.

  6. pencari kebenaran permalink
    November 28, 2012 6:56 AM

    Kok masih percaya ama kwik,semua analisanya diplintir,tengok kebelaakang almarhum wamen esdm,itu yg bs dipercaya…lah ini bodo banget mw diputer2 ama kwik

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: