Langsung ke isi

Beruntunglah Susno Duadji Ditangkap!

April 13, 2010

Saya bertekad tidak akan mundur walaupun saya diancam dengan apapun juga. Jangankan di skor, mati pun saya siap.
- Komjen Pol Susno Duadji-

Sejak Komjen Pol Susno Duadji diberhentikan sebagai Kepala Badan Reserse Kriminal pada November 2009, aroma perseteruan antarperwira berbintang di markas polisi mulai ditebar. Aroma ini semakin kuat tatkala Komjen Susno Duajdi (SD) melakukan manuver-manuver dengan sasaran jenderal-jenderal di kepolisian.

Serangan pertama SD adalah kehadiran beliau sebagai saksi meringankan  kasus Antasari Azhar dalam persidangan di PN Jakarta Selatan pada 7 Januari 2010.  Dalam kesaksiannya, SD menghantam Irjen Hadiatmoko dan Kapolri Bambang Hendarso Danuri (BHD) dengan mengatakan bahwa sebagai Kabareskrim dirinya tak dilibatkan dalam tim yang menangani kasus Antasari. Kasus pembunuhan Nasruddin Zulkarnaen ditangani oleh Wakabareskrim Irjen Hadiatmoko,  yang langsung langsung bertanggungjawab di bawah Kapolri Bambang Hendarso Danuri (BHD). Serangan pertama SD ini disambut dengan kemarahan institusi Polri bahwa SD sudah melanggar kode etik karena tidak meminta izin ke Kapolri untuk hadir dalam persidangan Antasari Azhar.

Manuver kedua SD dilakukan ketika ia diminta hadir dalam Pansus Centry. Lagi-lagi Komjen SD menyerang institusi Polri. Meskipun topik Pansus adalah tentang Century, namun SD berbicara panjang lebar pengkambinghitaman dirinya dalam kisruh “Cicak vs Buaya”, tentang kriminalisasi Bibit S R dan Chandra M Hamzah.  SD yang sudah terlanjur ‘berdosa” dalam kisruh “Cicak vs Buaya” berusaha membersihkan bercak dosanya melalui Testimoni Susno Duadj. Disana tercantum ketidakbecusan Kapolri BHD dalam ‘menjilat’ Presiden SBY.

Dua manuver alias ‘kartu truf’ ala SD diatas setidaknya menjadi ‘hidangan pembuka’ bagi masyarakat untuk memberi simpati kepada Pak Susno. Kehadiran SD dalam dua peristiwa penting yang disorot media (Antasari dan Century) dimanfaatkan dengan baik Susno. Susno tampil sebagai ‘pembela’ kebenaran, Susno tampil melawan arus institusi Kepolisian yang tidak kredibel di mata masyarakat, Susno berusaha tampil sebagai “pahlawan’ bagi masyarakat. Berbagai kesempatan ‘dialog’, wawancara, pers conference dimanfaatkan Susno. Dengan menyerang institusi Kepolisian yang bobrok, simpati masyarkat  mulai mengalir. Dimata sebagian masyarakat, Susno menjadi “polisi hebat, bersih’ diantara “polisi yang kotor”. Dalam hal ini, Susno sudah menang bermanuver melawan atasannya Kapolri BHD dan sejawatnya (bintang-bintang di Mabes Polri).

Big Maneuver

Meskipun tidak ada jaminan dirinya bersih sebagai “Polisi Berbintang”, Susno berani membuka kartu truf lain yang fenomenal yakni kasus mafia pajak. Sebuah kasus ‘borok’ yang begitu bobrok di tubuh Dirjen Pajak, sub Departemen dibawah Menteri Keuangan Sri Mulyani yang melibatkan banyak petinggi Polri, konsultan pajak dan wajib pajak. Tidak tanggung-tanggung, manuver kali ini membuat SD semakin frontal berhadapaan dengan banyak mantan koleganya.

Akibat peluit mafia pajak, Susno harus menerima kenyataan 2  kali diperiksa Divisi Profesi dan Pengamanan Polri , sebelum akhirnya ditetapkan sebagai terperiksa. Ketika dipanggil untuk ketiga kalinya akhir pekan lalu, Susno menolak hadir. Tindak-tanduk Susno yang menantang membuat panas banyak jenderal. Kapolri BHD sempat berkeras tak mau menindaklanjuti laporan Susno soal dugaan makelar kasus dalam kasus pencucian uang oleh pegawai Direktorat Pajak, Gayus Tambunan. BHD baru melunak setelah Satgas Pemberantasan Mafia Hukum menemuinya dan BHD akhirnya mengakui bahwa memang ada kejanggalan dalam penyidikan kasus Gayus Tambunan.

Dalam kasus Gayus Tambunan, Susno kembali mendapat skor kemenangan.  Apa yang disampaikan “Whislter-blower” ini ternyata benar adanya. Benar bahwa terjadi kongkalikong aparat kepolisian hingga kejaksaan dalam kasus penyimpangan wajib pajak yang ditangani oleh Gayus Tambunan. Susno semakin fenomenal, tatkala dirinya hadir dalam rapat kerja Komisi III DPR.  Dihadapan para anggota Komisi III DPR RI, Susno mengatakan siap mati untuk menegakkan kebenaran dalm membuka kasus praktik mafia kasus di tubuh Polri.

Mabes Polri bukannya tidak berbuat apa pun untuk meredam Susno. Pertengahan Maret 2010 silam,  para jenderal melakukan pertemuan di sebuah hotel di kawasan Mahakam, tak jauh dari Mabes Polri. Di sana para jenderal dan komisaris besar dari angkatan 1977 ini membujuk Susno agar tak bikin ramai di luar institusi.  Susno saat itu tak banyak bicara. “Dia hanya bilang akan mempertimbangkan masukan kami,” kata Edward (Tempo).

Tapi tampaknya Susno tak peduli. Dalam berbagai kesempaan di media, Susno mengaku akan terus membongkar kebobrokan institusi kepolisian sebagai tanda “ia mencintai Polri”. Kesiapan membongkar kebobrokan Porli telah disusun secara matang. Sebagai mantan Kabareskrim, Susno sudah menghitung semua risikonya termasuk mempersiapkan “senjata” pamungkas dokumen yang tersimpan dalam 3 brankas. Susno tentunya akan mengeluarkan senjatanya tersebut ketika dia terpojok.

Dokumen 3 brankas ini mencuak ketika Mabes Polri gencar mencari kesalahan Susno. Sangatlah mungkin bahwa selama lebih 3 dekade di tubuh Polri, Susno pasti melakukan tindakan yang tidak bersih. Susno bukanlah polisi yang benar-benar polisi bersih. Meski tampaknya Susno merupakan jenderal polisi yang lebih bersih dan berani, tidak tertutup kemungkinan Susno termasuk polisi yang tidak bersih. Berbagai dugaan “dosa-dosa” Susno selama menjabat di Trunojoyo beredar. Soal kepemilikan rumahnya yang sampai 16 buah, kasus-kasus korupsi yang disetop penyidikannya selama dia menjabat Kabareskrim, sampai tudingan dia “memelihara” makelar kasus sendiri merupakan serangan balik dari Mabes Polri.

Susno Duadji Ditangkap!

Pada 12 April 2010 sore, whistle – blower kasus mafia pajak – Gayus Tambunan ditangkap (ditahan) oleh polisi Divisi Profesi dan Pengamanan Markas Besar Kepolisian RI di Bandar Udara Soekarno-Hatta saat hendak berangkat ke Singapura untuk medical check up (mcu).  Susno ditangkap  dengan tuduhan melanggar disiplin internal Polri (Detiknews), lebih tepatnya melakukan perjalanan ke Singapura tanpa izin pimpinan Polri (Yahoo).

Penangkapan (penahanan)  Susno merupakan puncak kegeraman Mabes Polri atas aksi-aksi nakal Susno. Selama ini Susno dituduh lalai menjalankan tugasnya sebagai anggota polisi dengan mangkir lebih dari dua bulan. Susno juga dianggap melakukan pencemaran terhadap institusi tempat ia bekerja.

Dari segi internal Kepolisian, tindakan Susno menyebar aib institusinya ke mana-mana merupakan tidak etis sebagai prajurit Polri. Susno mestinya membenahi dari dalam, bukan justru mengumbar keburukan institusinya keluar. Sebagai seorang yang pernah menduduki jabatan tinggi di Mabes Polri, Susno sebenarnya memiliki kesempatan untuk memperbaiki institusinya. Namun ia tidak melakukannya dan bahkan malah sempat mencoreng citra polisi ketika ia melemparkan kontroversi Cicak-Buaya.

Barulah ketika ia dipecat dari jabatan Kabareskrim, Susno muncul seperti ‘bayi baru lahir”. Setelah keluar dari Kabareskrim, Susno justru berkoar atas bobroknya institusi Polri. Susno membeberkan adanya mafia di tubuh Polri. Hal yang sangat berbeda  ketika ia menjabat Kabareskrim Polri. Ketika hadir dalam RDP Komisi III tentang Kriminalisasi pimpinan KPK,  Susno menyatakan dan menjamin bawah tidak ada mafia ditubuh Kabareskrim Polri. Hal yang sangat kontradiksi pasca jabatannya lengser.  Dari sini, kita bisa melihat motif dari seorang Susno Duadji. Karena ia dilempar dari kursi Kabareskrim meskipun ia sudah berusaha melindungi bobrok Polri, maka bagi Susno yang sudah tersingkirkan lebih baik membongkar semua kebusukan. Susno tidak ingin dia sendiri mendapat getah.

Dengan bermodal informasi dalam kasus Antasari, Century dan mafia pajak Gayus Tambunan, Susno berada diatas angin. Informasi yang disampaikan Susno kepada Satgas Mafia Hukum ternyata benar dan bahkan mampu mengungkapkan persengkongkolan besar yang merugikan keuangan negara. Polisi, jaksa, dan kemungkinan besar hakim ikut dalam pengaturan kasus Gayus Tambunan sehingga yang bersangkutan hanya dikenai hukuman percobaan, meski merugikan negara hingga Rp 28 miliar.

Pada awalnya baik polisi maupun jaksa menyangkal ikut dalam persengkongkolan kasus Gayus. Namun akhirnya polisi memberhentikan beberapa anggotanya termasuk Kapolda Lampung Brigjen Edmond Ilyas. Sementara Kejaksaan meski malu-malu dan yang tidak masuk akal menilai jaksa seniornya tidak cermat melakukan penuntutan, melepas jabatan  beberapa jaksa seperti Cirus Sinaga. Dari kasus Gayus kemudian terungkap beberapa kasus lain yang lebih besar di Direktorat Jenderal Pajak. Bahkan muncul perkiraan, kerugian negara akibat permainan orang-orang pajak bisa mencapai Rp 140 triliun.

Guliran informasi Susno tidak hanya berhenti di situ. Di depan anggota Komisi III DPR, Susno mengungkap makelar kasus yang lebih kakap karena ia adalah orang yang mempunyai akses di kejaksaan dan kepolisian dan dekat dengan pejabat tinggi di institusi tersebut. Dari mulut Susno muncul nama Syahrir Djohan yang pernah menjadi staf khusus Jaksa Agung Marzuki Darusman dan dekat dengan mantan Wakapolri Komjen Makbul Padmanagara.

Beruntunglah, Susno Duadji Ditangkap

Ditangkapnya (lebih tepatnya ditahan) Susno Duadji oleh Propam Mabes Polri di Bandara Soekarna Hatta merupakan momen yang menguntungkan bagi Susno Duajdi. Terlebih media sempat meliput detik-detik penahanan Susno. Manuver-manuver Susno dalam membongkar kasus mafia perpajakan, persidangan Antasari dan kisruh Polri vs KPK, telah memberi kesan simpati masyarakat kepada SD. Bahkan tidak sedikit masyarakat menganggap keberanian Susno yang berani membongkar kebobrokan institusi Polri sebagai tindakan pahlawan. Apalagi, selama ini lembaga Polisi mendapat citra yang begitu buruk dalam memberi pelayaan publik.

Meskipun noda hitam yang melekat pada dirinya ketika kisruh “cicak vs buaya”, namun gebrakan whistle-blower dalam kasus pajak Gayus Tambunan + petunjuk pada mega skandal mafia perpajakan di tubuh Polri membuat  mayoritas masyarakat berdiri dibelakang Susno. Dan Susno tentu tahu benar bahwa masyarakat kita akan memberi dukungan kepada mereka yang ‘sedikit berani kepada penguasa’ dan paling penting dalam posisi terzalimin.

Ditahannya Susno Duadji ketika akan berangkat ke Singapura untuk ‘berobat’ (apapun alasannya), merupakan salah satu puncak keemasan manuver Susno dalam memanfaatkan kemarahan (atau lebih tepatnya kebodohan) Mabes Polri. Ditahannya Susno justru membuat dukungan masyarakat kepada Susno akan semakin meningkat. Tentu kredit poin  yang diterima Susno ini berbanding terbalik dengan Kapolri BHD. Dengan pengaruh media, maka nama Kapolri akan semakin buruk. Desakan masyarakat agar presiden SBY untuk mencopot Kapolri BHD dan mereformasi tubuh kepolisian akan semakin santer terdengar. Apabila pemerintah SBY kurang dapat memanage kemarahan masyarakat kepada kepolisian dan institusi pemerintah (mafia pajak), maka kredibilitas pemerintahan SBY akan menurun.

Disaat itulah, mayoritas masyarakat akan mengelu-elukan Susno Duadji yang terzalimin diangkat menjadi Kapolri atau Ketua KPK. Namun, apakah usaha Susno Duadji merebut kursi KPK atau Kapolri berhasil?

Jawabannya sangat tergantung pada dukungan politik di parlemen. Dan tentu saja, konstelasi politik di parlemen dan manuver Susno Duadji merupakan masalah sangat serius bagi keberlangsungan bagi pemerintahan SBY. Karena sangat mungkin, Susno Duadji bersama ‘tim’-nya memiliki kartu truf yang akan menghancurkan citra Presiden SBY atau sebaliknya.

Bisa dikatakan, pasca ditangkap di Bandara Soekarno Hatta, praktis Susno Duajdi memegang kartu truf Kapolri  BHD bahkan SBY sekaligus. Kasus Susno bukan lagi masalah Susno dengan institusi Polri (Kapolri BHD), namun sudah masuk area Susno’ers vs SBY’ers. Semua pihak dibelakang itu sudah siap-siap bermanuver, mencari dukungan politik melalui media massa, masyarakat dan parlemen.  Oleh sebab itu, maka saya simpulkan bahwa ditangkapnya di Bandara Soekarno Hatta ketika akan berangkat “berobat”, merupakan buah manis dari manuver Susno alias menguntungkan.

Salam nusantaraku,
ech-wan, 13 April 2010

About these ads
107 Komentar leave one →
  1. Agustus 2, 2010 7:39 PM

    revormasi kemaren tanggung, revolusi tros… kalau revolusi susah masalahnya 80% mahasiswa UI, tri sakti atmajaya anak orang kaya di kuliahkan dari uang takjelas semua apa sanggup dia penggal kepala bapaknya…

  2. Ana binti Usman permalink
    September 20, 2010 7:32 PM

    Sejak masa sebelum merdeka, negara jiran itu realiti bodoh, rakyat dan negara ni nak dibawa kemana? Sesungguhnya presiden tak pandai dan tak mampu. Seorang Menkominfo itu tak berkualiti sangat. Teruk. Naiknya Tifatul Sembiring menteri itu kerana selepas ia hangat dengan aksi-aksi demo pro Palestin menentang Israel di depan kedutaan besar Amerika. Itu sahaja. Tak ebrkualiti. Lalu SBY ketakutan, padahal mestinya tak perlu, lantas tengok massa yang selalu besar dari PKS, maka “diamankan”lah Tifatul berkhidmat Menkominfo. Selebihnya orang Medan itu tak ada nilai sama sekali. Mungkin tampannya saja. Tapi awak tahu betul ia tak tampan juga. Sebagai perempuan muda pun aku tak lihat dia tampan. Sedangkan SBY akan dan terus selalu memakai strategi ini. Kalau ada menteri atau pegawai penting telah menjadi sasaran kritikan terus-terusan, akan digeser atau diganti. Menkominfo dahulu seperti itu. Begitu pula Kapolnas dan Ketua Jaksa diganti juga kerana desakan awam, terlebih bukan kerana prestasi atau keberanian dalam mengatasi persoalan-persoalan bangsa. Kepentingan-kepentingan sesaat seperti ini yang lebih dipilih Susilo Bambang Yudhoyono. Sementara berbagai hal penting sangat seperti pengangkutan awam massa, ingat kami punya segala angkutan baim macam monorail MRT, sedangkan kerajaan Indonesia dalam SBY tak. Masalah konflik agama, menteri-menterinya macam menteri agama tak diganti. Tengok di televisyen-televisyen itu, padat dan menjejal penumpang setiap hari raya dan tahun baru bercuti mengakibatkan juga ratusan korban kemalangan lalulintas tersungkur jatuh mati dan cedera di negeri jiran itu kerana ketidak pekaan SBY. Rakyat jadi korban, tidak mendapat kemudahan pengangkutan massa seperti di kami Malaysia dan negara-negara jiran macam Singapore dan Thailand. Kemana kerajaan SBY membawa Indonesia? Rakyat hanya tempat untuk mendapatkan kedudukan dan jabatan apabila pilihanraya dan janji-janji perbaikan bangsa dibuang ke sampah saat jawatan dan kerusi telah didapati. Lantas pendeta itu ditusuk dan pelaku dan dalangnya tidak ditangkap atau nanti salah tangkap. Lalu dimunculkan lagi adanya aksi teror. Lagipun hukuman-hukuman penjara untuk koruptor hanya dibawah atau sa dengan 5 tahun, mereka setelahnya bebas dan etap kaya. Betul saat dikata bahawa rakyat Indon memang bodoh sangat, diam tengok semua itu. Wang tidak perlu kembali ke kas negara. Sementara kes besar seperti skandal illegal bailout Bank Century, kini Bank Mutiara, 6,7 triliun dan kes besar yang lain, yang merugikan negara itu, adalah wang rakyat, tertutup dan sengaja ditutup dengan isu-isu baru. Atau dialihkan dengan licik ke perkara-perkara yang lain. Bolehkah dikata bahawa SBY bahkan lebih baik dari Soeharto yang berwawasam sangat membangun negara? Isu utama semata dialihkan dengan isu pembodohan macam bahawa Bank Mutiara akan dijual atau berpindah tangan. Televisyen itu mungkin dengan wartawan-waetawati tolol mahu ambil isu pengalihan macam tu. Semenara anggota DPR berkolusi diam-diam bersama eksekutif dengan menerima wang perjalanan dinas ratusan juta rupiah bahkan setelah tiap bulan menerima gaji bulanan besar puluhan juta ringgit. Kemana Indonesia dibawa SBY dan apa kerja Parlimen/DPR? Betul sangat dikata bahawa majoriti rakyat Indon memang bodoh dan telat berfikir, mahu sahaja ditololi kerajaan khususnya presiden SBY, yang tentu sahaja licik sangat, rakyat Indon bodoh, bernikmat tidur dan bernikmat hiburan-hiburan muzik tak berkualiti di televisyen-televisyen Indon. Takkah awak faham bahawa sesungguhnya polis kes lepas ditangkap kami Diraja Malaysia kerana mereka memeras nelayan-nelayan penduduk kami Malaysia, tradisi yang terus diamalkan oleh polis Indon terhadap rakyat sendiri maupun penduduk negara jiran, dengan pelbagai alasan, bagi meminta bagian upeti. Tapi macam ini, perkara yang muncul di media Indon berbeza dan menjadi lain sangat samasekali. [Awak ada opini lain, sila majukan ke kami: Ana binti Usman MSC Kinabalu, Malaysia].

    • November 7, 2011 3:28 PM

      hem sangat tajam ya ,,maaf tetangga urus lah urusanmu sendiri kami masih punya tangan dan kaki sendiri,tidak elok mengurus rumah orang sementara rumah sendiri tersiram air hujan,.aku tak ingin berdebat dengan engkau wahai ana,,apalagi engaku seorang muslimah,..simpan saja semua teorimu untuk negaramu sendiri, silahkan banggakan negaramu setinggi bintang tp dimata kami malysia tak lebih kecil dari kuku,..
      beni guntoro
      cirebon
      indonesia

  3. Zaenah binti Yaazid permalink
    September 22, 2010 7:58 PM

    Masih tidurkah bangsa tu, selalu lambat bertindak balas? 60 lebih merdeka dibodohi manusia bangsa sendiri. Sampai kapan? Atas nama membanteras jenayah pengganas?
    By Zaenah Liow Tiong binti Yaazidi dan Joana Situmorang
    Pandangan Hati dan Realiti Kami Orang-orang Malaysia Yang Paham Sangat. Dikabarkan bahawa kiamat akan datang terjadi pada 2012 betulkah? Boleh benar boleh tidak. Katanya itu kerana balasan Yahudi Zionis bagi membuat Perang Dunia III, sebagai balasan terhadap bangsanya yang katanya dahulu dibantai dengan gas beracun oleh Hitler sehingga hari akhir akan terjadi pada 2012 macam dalam filem baru Seronok.
    Boleh benar boleh tidak. Lantas mana yang benar? Yang benar yalah justeru bahawa kiamat terhadap Susilo Bambang Yudhoyono. Presiden Indon, pembiar dan Perekayasa ulung di negeri itu, justeru akan tamat jawatannya 2012-2011 apabila NGO-NGO dan parti-parti politik lawan di Indonesia menyedari dan sungguh-sungguh bergerak nyata melengseri terhadap presiden itu yang nyata-nyata terlalu banyak membuat kesalahan membuat kejahatan HAM akibat komander-komander polis bernama Densus salep 88 yang justeru makin menyalahgunakan kuasa justeru untuk memercepat kejatuhan Presiden.

    Untuk tengok kebenaran itu dengan sangat: huraian tendensius bahkan versi polis sengaja turut dibuat oleh majoriti televisyen-televisyen yang turut menyebar kebohongan yang dibuat polnas Indon, sementara Aljazeera televisyen, BBC televisyen dan tv-tv level dunia lain, tidak membuatnya apalagi sehingga tendendius. Ini membukti bahawa semua itu yalahbetul kejuruteraan dalam negeri Indon tak ada sankut paut dengan pengganas the Philippines MILF ataupun antarabangsa.

    Pada kes kehidupan lain iaitu kes kehidupan rakyat, Presiden itu tidak hanya semakin menambah banyak jumlah orang gila dan orang-orang minggat di dalam Indonesia kerana tak mmpu hidup kerana kemiskinan masif yang turut digalakkan SBY dengan data palsu bahawa Indonesia semakin sejahtera. Tetapi juga presiden tak becus itu membiarkan pegawai-pegawai utama membunuh rakyat. Presiden pun mebiarkan aparat dan menteri bagi membanteras jenayah keganasan hanya dengan laporan masyarakat yang jelas berbahaya kerana tentu sahaja tidak objektif dan majority hanya didasari kebencian ataupun pemerasan terhadap orang-orang baik yang mungkin tidak disukai preman-preman pencatut dan pemeras yang melaporkan mereka pengganas kerana tak mahu diperah, sementara aparat antiteror mudah percaya. Padahal sesungguhnya mereka penduduk awam dan kurang pendidikan, orang-orang desa.
    Bahkan teruknya hal itu dibuat seakan-akan membuat cinema action riel dengan pemain-pemain yang dibantai Benaran tak berperkemanusiaan, atas nama mereka pengganas. Masanya turun pembela undang-undang HAM seluruh Indonesia termasuk pembela-pembela di Indonesia dan seluruh media surat khabar bebas membela orang-orang tak berdosa itu. Teruknya, banyak media khususnya televisyen-televisyen Indonesia justeru mengikuti alur cerita rekaan buatan polis tersebut.
    Apabila nanti akhirnya diketahui bahawa ternyata yang selama ini puluhan orang yang disangkakan pengganas dan ditembak mati itu bukan dan semata orang-orang awam, jatuhlah image Presiden Indon SBY. Presiden lugu dan naïve atau pandai berpura itu nak jatuh betul pada 2011-2012. Dalam kes terkini sahaja yang macam mana tuntutan oleh Yusril Ihza Mendra, eks menteri undang-undang, telah dimenangi Mahkamah Perlembagaan [MK] bahawa Hendarman, Jaksa Besar, tidak berhak menjawat lagi, maka bermakna bahawa Presiden tersebut telah membuat kesalahan besar sangat dan mesti mundur.
    Walaupun pada saat tuntutan ini dikabulkan, Presiden sudah hendak menukar Hendarman, bererti presiden sudah sebelunya menyedari ia membuat kesalahan besar sangat bersangkut masalah ini, namun kesalahan macam ini, tak bleh tidak dibebankan padakelalaian besar sangat daripada Presiden itu. Jadi apabila NGO-NGO undang-undang dan sebahagian besar parti pembangkang di Indonesia sedar bahawa Indonesia di bawah Susilo B. Yudhoyono semakin hancur khususnya semakin pula menghancurkan ekonomi majotiti rakyatnya dan tidak ada perbaikan bererti bagi penegakan undang-undang dan pemberantasan korupsi keranakeraguan, ketidak tegasan dan khususnya langkah setengah-setengah itu, serta tidak ada keberpihakan besar kepada majority rakyat negeri jiran itu, maka diperlukan tekanan-tekanan yang dapat membuat Presiden itu berundur atau dijatuh pada 2011-2012.
    Nalar Maca mana?
    Tengok kes yang Presiden itu tak faham permainan.Mana mungkin pengganas yang selalu dikaitkan dengan pengganas di kami Malaysia dan dimereka the Philippnes, MILF, melalui ulema terima sial Basyir itu, mahu merampok bank iaitu CIMB Niaga Bank yang kapital permodalan dipunyai bisnezman Malaysia ? Jadi semua yang terjadi di Indonesia yalah tab macam sinetron-sinetron burok Indon, penuh rekaan-rekaan, bahkan tega membantai rakyat sendiri mereka. Itukah Pancasila dan amalan ugama di Indonesia oleh pegawai-pegawai “penjahat” kemanusiaan negeri jiran itu? Itukah mengaku pegawai-pegawai itu berugama? Bahkan seorang paderi ditusuk oleh orang-orang macam mana dibiarkan oleh aparat keamanan? Indonesia harusnya sudah tamat pelbagai kejuruteraan selepas era Suharto.
    Tetapi justeru pada era Susilo, lebih burok lagi dengan permainan Sadistic lebih keji lagi, membantai orang-orang awam tak berdosa. Dimanakah fungsi Kontras dan NGO-NGO undang-undang lain di negeri jiran itu? Sudah Butakah pemimpin-pemimpin daripada NGO-NGO itu? Sudah matikah gerakan dan tokoh-tokoh mahasiswa baru dan lama di Indonesia?
    Semoga doctor Hariman, Doctor Sri Bintang, Doktor Mokhtar Pakpahan, tidak buta tengok hal-hal biadab tersebut dan bangunlah, bangkitlah, ibi masanya saatnya, jangan lagi-lagi katakana kami Malaysia menghasut, kami untuk apa? Saatnya Indon bodoh bangun dan bangkit menggeraki seluruh mahasiswa bagi melengseri Presiden itu. Kamibudak-budak SeMalaysia jelas paham presiden itu sekadar mencaruselamat dan oportnistik sangat semata untuk keuntunga ribadi, keluarga dan kroni terdekatnya yang kini menjabat, tanpa memikiri nasib rakyat dan anak bangsa itu di masa pendek apalagi masa panjang.
    Lagipun, dimanakah doctor Prabowo Subianto, dimakaha doctor Wiranto dan lain-lain? Masih tidurkah? Sebagai budak-budak SeMalaysia kami membuat analsis macam ini kerana kami faham permainan di negeri jiran itu dah lama dan bukan bagi tanha anil munkar. [Apabila awak ada opini lain pun bolehlah dimajukan kepada kami: zaenahltbnyaazid@msckl.my ]

  4. Ina Ayu permalink
    September 23, 2010 2:50 PM

    Betul juga adik dari Malaysia itu. Tapi aku ingin bicara satu orag ini juga. Terus terang orang berbadan besar dan tinggi juga, kagak ada nilainya kagak bermutu. Contoh, Wimar Witoelar kagak ade isinye. Cuman bisa bahasa Inggris doang. Makna talk shownya kagak ade ama sekali. Kagak ade pesan yang mampu menggerakkan pikiran kita. Ama sekali. Nol besar. Die hanye menang badan besar doang dan rambut kribo. Ada pepatah bilang. Makin tambun badan orang dan makin sedikit jauh atau jaug antara otak dan dubur maka makin tolol dan lugu dia. Makin kecil dan makin deket antara kepala dan anus, maka makin cerdas pintar dan licik dia!!! Percayalah. Lihat orang macam Amien Rais dan orang-orang pendek pasti licik positipnye cerdas. Lihat orang seperti SBY dan badan-badan tambun besar lainnya bodoh dan lugu dia !!! Kedekatan antara anus dan otak kepala jadinye cerdas !!! Lihat orang-orang seperti itu di sekeliling kalian, mungkin pula ciri-ciri itu, lihat, sadar atau kagak, ada pada diri masing-masing kalian sendiri. Makanye jangan pilih pemimpin berbadan besar dan tinggi, kecil otaknye. Prabowo dan Amien Rais misalnye pasti lebih cerdas. Kalau pilih pemimpin perempuan, jangan. Lihat di dunia ini, sedikit pemimpin perempuan, dan dalam sejarah pemimpin-pemimpin perempuan kejam-kejam. Aku perempuan dan kagak mau jadi pemimpin. Aku ditakdirkan seorang ibu untuk anak-anak yang baik, laki-laki dan perempuan, dan yang laki-laki calon-calon pemimpin.

  5. deni syahputra permalink
    Januari 23, 2011 7:30 PM

    kini presiden pun minta naik gaji………

    sementara kasus bank century hilang di telan kasus VCD Porno y c ariel……

    nampak x permainan semuanya…..
    hanya mementingkan perut semata…….

    semua hanya rekayasa dari atas saja………

  6. Den Bagus Haryo permalink
    Januari 24, 2011 4:35 PM

    Sebenarnya kalau pejabat penegak hukum tidak gila harta hasil korupsi dan hasil pencaluan mereka tahu bahwa susno duadji sebaiknya diberi perlindungan kesaksian guna membuka borok-borok dan dajal-dajal para pejabat penegak hukum lainnya, tetapi saat ini kebenaran dan kejujuran kalah dengan dolar dan rupiah

  7. Januari 25, 2011 2:29 PM

    Memang benar semua kasus akan hilang dengan kasus yang baru.. itu permainan di atas, kita hanya rakyat jelata hanya bisa menyaksikan, wong para jendral nya saja asik menyaksikan.
    Sedih ya jadi rakyat indonesia.
    Kami dukung itu koment dari teman kita dari Malaysia.

  8. Maret 13, 2011 9:01 PM

    sebenar”‘nya negara kita itu telah terbodohi oleh nafsu-nafsu syetan yg memperdaya pemimpin-pemimpin negara kita yang lemah iman’nya.Mendingan negara ini dipimpin pemuda-pemuda yang kini hadir dipartai politik,daripada yg sudah tua tapi bezzaadd…

  9. Maret 21, 2011 11:51 PM

    permainan org elit nih,

  10. putera jiran permalink
    Mei 12, 2011 2:30 AM

    Awak dukung orang yg mau merubah keadaan borok jadi elok.
    Majulah Susno dan Susno lainnya.
    Tunjukan nyali anda, kalo anda benar2 punya nyali.
    Indon ini terlalu lama dibodohi, terlalu lama jd bangsa bodoh.
    Sehingga jadi budak tdk punya malu
    Bangsa besar, yg ada cuma bodoh besar
    Mana sarjana2 magister2 & doktor2 yg saban th tercetak
    Mana mana mana karyamu ????????? Bangsa bodoh

    • November 7, 2011 3:37 PM

      hai putera jiran aku akan membela bangsaku,,jgn km sebut kami bodoh,.kalau toh bodoh apa urusanmu?? urus negaramu sendiri tak usah repot mengurusi negara kami, apakh kalian kurang kerjaan selalu memicingkan mata kalian itu melihat kekurangan kami, sudah bersihkah kalian membersihkan pantat ratu elizabet inggris? kami rakyat merdeka tidak pernah dipengaruhi bangsa lain tidak sepertimu yang selalu bersembunyi di ketiak inggris jangn merasa kalian paling pandai,,diatas langit ada langit kalo berani satu lawan satu

  11. Mei 30, 2011 12:55 AM

    dan kita lihat sekarang hasilnya..

  12. Rudi permalink
    Juli 3, 2011 6:33 AM

    analisa anda tidak sepenuhnya benar, bahkan saya sangat tidak menyetuji kalimat ini : “Susno mestinya membenahi dari dalam, bukan justru mengumbar keburukan institusinya keluar. Sebagai seorang yang pernah menduduki jabatan tinggi di Mabes Polri, Susno sebenarnya memiliki kesempatan untuk memperbaiki institusinya. Namun ia tidak melakukannya dan bahkan malah sempat mencoreng citra polisi ketika ia melemparkan kontroversi Cicak-Buaya.”

    Jika anda memahami betul kultur kepolisian yang bertahun-tahun terdidik secara militer, bagaimana mungkin dia bisa membenahi internal dari dalam jika Pimpinan tertinggi nya (dalam hal ini Kaplori) tidak punya niat untuk itu? Ingat Pak, Hierarki di Kepolisian masih memegang Sistem Komando yang kuat. Dalam tulisan anda sendiri, anda menyebutkan bahwa bahkan untuk kasus Antasari, dia malah “dilangkahi” oleh Wakilnya sendiri yang ditunjuk langsung oleh Kapolri. Bagaimana dia bisa mereformasi Kepolisian, meskipun dia Bintang Tiga dan menjabat Kabareskrim, jika pimpinan Kepolisian yang lain mengeroyok dia? Maka satu-satunya jalan untuk mereformasi Kepolisian hanya dengan membongkar boroknya ke publik dan biar publik yang mereformasinya. Nggak semudah itu Bung mereformasi dari internal! Jangankan kepolisian, di kantor /. perusahaan swasta saja, untuk “memutus” rantai kebobrokan dibutuhkan Power yang sangat kuat dari Direktur Utama dan didukung Komisaris. General Manager disuruh memperbaiki perusahaan sendirian tanpa didukung Direktur Utama? Well, kalo ada GM yang bisa seperti itu, I bet He is SUPERMAN :)

  13. Agustus 11, 2011 9:46 AM

    Mudah2an tidak ada lagi hal2 yang membuat resah Warga….

  14. September 27, 2011 10:34 AM

    hidup aparatur negara, walaupun itu berita tahun sebelumnya, semoga tahun skr dapat meningkatkan untuk menangkap para perugi masyarakat ini, biar mereka jera dan tidak ada lagi hal orang yang merugikan negara kita

  15. Oktober 29, 2011 8:37 AM

    analisa anda tidak sepenuhnya benar, bahkan saya sangat tidak menyetuji kalimat ini : “Susno mestinya membenahi dari dalam, bukan justru mengumbar keburukan institusinya keluar. Sebagai seorang yang pernah menduduki jabatan tinggi di Mabes Polri, Susno sebenarnya memiliki kesempatan untuk memperbaiki institusinya. Namun ia tidak melakukannya dan bahkan malah sempat mencoreng citra polisi ketika ia melemparkan kontroversi Cicak-Buaya.”

Lacak Balik

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 957 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: