Apa itu Teknologi Sixth-Sense (Indra Ke-6)?
The complexity for minimum component costs has increased at a rate of roughly a factor of two per year. Certainly over the short term this rate can be expected to continue, if not to increase. Over the longer term, the rate of increase is a bit more uncertain, although there is no reason to believe it will not remain nearly constant for at least 10 years. That means by 1975, the number of components per integrated circuit for minimum cost will be 65,000. I believe that such a large circuit can be built on a single wafer.
–Gordon E Moore--(Electronics, Volume 38, Number 8, April 19, 1965)
Oleh : ech-wan (nusantaraku), 30 Nov 2009
Pengantar
Sulit dipercaya bahwa hingga saat ini, paper yang ditulis oleh Gordon Moore pada April 1965 menjadi inspirasi bagi industri semikonduktor dalam memproduksi transistor menjadi chip (IC). Dalam analisisnya, Moore menyatakan bahwa trend kemajuan teknologi industri perangkap keras (hardware) khususnya transistor meningkat dua kali dalam kurun 2 tahun. Bahkan dalam beberapa periode, trend peningkatan teknologi terjadi dalam kurun 18 bulan (1.5 tahun).
Peningkatan teknologi yang dimaksud adalah kapasitas transistor per area meningkat dua kali dengan harga produksi yang sama setiap 2 tahun (atau 1.5 tahun). Artinya, bila diawal tahun 2008 kapasitas usb flash disk rata-rata 2 GB, maka diakhir 2009 kita akan memperoleh usb flash disk 4 GB (2009) dengan harga yang sama dengan 2 GB pada tahun 2008.
Kemampuan memperkecil ukuran transistor dalam chip berdampak pada ukuran dan kecepatan hardware. Pada tahun 1995, sebuah chip mikroprosesor hanya memiliki 9.3 juta transistor. Enam tahun kemudian (1999), chip mikroprosesor sudah memiliki lebih dari 40 juta transistor. Dan berdasarkan hukum Moore, maka pada tahun 2015 jumlah transistor mampu menempus 10 juta per chip mikroprosesor. Kecepatan frekuensi kerja transistor mungkin dapat mencapai 200-400 GHz.
Ketika perkembangan teknologi transistor semakin maju, maka ukuran perangkat-perangkat elektonik digital akan semakin kecil yan diiringin dengan perfomance yang tinggi. Bila ENIAC, komputer pertama yang hanya bisa operasi aritmatika denganukuran sebesar ruangan, maka dengan smartphone seukuran 1/2 telapak tangan, kita dapat mengerjakan operasi yang jauh lebih cepat dan kompleks. Dan tentu, perkembangan teknologi yang begitu pesat diikuti dengan aplikasi yang lebih dahsyat lagi. Salah satunya adalah teknologi sixth sense (indera ke-6).
Teknologi Sixth Sense
Sepintas teknologi sixth-sense tampak mengandung hal-hal mistis. Dengan teknologi ini, kita bisa tahu apa saja, informasi apapun (kecuali rahasia negara dan private) di dunia ini tanpa dibatasi ruang dan waktu. Melalui teknologi ini, kita yang berada di Batam serasa berpindah dari Bandung, lalu Bali dan kemudian Beijing atau New Delhi dalam hitungan menit. Melalui teknologi ini pula, kita tidak perlu membawa uang tunai atau membawa perangkat komunikasi ukuran besar (dibanding saat ini). Kita tidak perlu bertanya jalan atau informasi kepada orang lain, karena semua informasi dapat kita akses melalui sistem jaringan global. Kita tidak perlu lagi membawa kamera untuk memotret, namun cukup dengan gerakan tangan tertentu, kita sudah bisa memoto apapun lalu menyimpannya di database kita.
Perpaduan antara teknologi digital dan komunikasi manusia ini dikembangkan oleh Pranav Mistry, seorang mahasiswa IIT India yang melanjutkan studi master dan Ph.D di MIT USA. Penemuan teknologi sixth sense ini membawa namanya terkenal dan dinobatkan sebagai “satu diantara 3 penemu terbaik di dunia dekade ini”.
Berdasarkan prinsip sistem komunikasi indera pada manusia ini, maka dibuatlah rancangan sistem kerja digital hardware yang serupa. Aplikasi dari sistem ini pertama kali digunakan secara luas pada sistem internet yang menghimpun data, informasi dan pengetahuan manusia tentang apapun. Data dan informasi ini dapat diakses secara online kapanpun. Sebuah peralatan seperti komputer, laptop, PDA, ponsel dapat digunakan untuk memperoleh data informasi ini. Namun, penggunaan peralatan ini masih terbatas pada ‘manusia-mesin’. Tidak ada hubungan interaksi secara langsung data dan informasi terhadap respons indera kita (kecuali jari-jari tangan yang mengetik). Output dari hasil ‘ketikan’ muncul di layar yang ‘mati’ (tidak interaktif).

akan memproses data video stream yang diambil oleh kamera. Sementara kamare akan terus mengikuti jejak pergerakan marker (visual tracking fiducials) yang dipasang pada ujung 4 jari tangan.
***************
Dengan beriringnya waktu, teknologi sixth sense akan terus berkembang. Sampai suatu saat, visi microsoft 2019 benar-benar bisa terwujud dalam 10-15 tahun ke depan. Sekadar informasi, harga perangkat sixth-sense ini diperkirakan sekitar USD 350 atau sekitar Rp 3.5 juta.
Referensi:
- Video Presentasi Pranav Mistry – Sixth Sense Technology (Download-64 MB)
- Wikipedia – Moore’s Law
- Pranav Mistry – Sixthsense
- New York Times – At TED, Virtual Worlds Collide With Reality
Tambahan : Microsoft Office Labs 2019 Vision Montage



keren banget,, udah liat filmnya,,nyoba dari mouse sederhana berkembang jadi new technology,,
cuma satu kata deh,, WOW
Kemampuan menggunakan indra ke enam sangat sulit.Palagi orang awam.Butuh usaha kerja keras supaya dapat berhasil
Mantap……
Saya kira indera ke enam hanya untul melihat mahluk halus ternyata bisa juga untuk technologi, hehe…
-Makasih Bro-
d perluas donk,, teknologinya
Reblogged this on lucakristiani.