Wahidin Halim, Walikota Tangerang yang Hobi “Nyemprot”

Pada pemilihan Walikota Tangerang dan wakilnya pada Oktober 2008 silam, Wahidin-Arief menang mutlak dengan memperoleh 87.9% suara, mengalahkan dua pasangan rivalnya Bonnie Mufidjar-Diedy Faried Wajdi (PKS) dan Ismet Sadeli Hasan-Mahfud Abdullah (independen). Meskipun tingkat golput mencapai 33%, perolehan total suara sah sebesar 88% merupakan persentase yang cukup langkah dan mungkin persentase terbesar dalam pilkada di Indonesia. Wahidin merupakan calon incumbent yang telah menjadi wali kota Tangerang sejak 2003.
Kota Tangerang, Penghargaan Terbaik Nasional

Walikota Tangerang H. Wahidin Halim menerima penghargaan sebagai daerah berprestasi terbaik nasional dari Menteri Keuangan RI Sri Mulyani
Pimpinan Kota Tangerang Wahidin Halim – Arief R Wismansyah merupakan pasangan yang diusung oleh partai Golkar beserta 11 partai pendukung. Dengan mengusung tema kampanye menjadikan kota Tangerang “Akhlakul Karimah”,
pria kelahiran 14 Agustus 1954 Kecamatan Cipondoh Kota Tangerang ini berhasil membawa nama Kota Tangerang dikancah nasional. Pada 10 November 2009 silam, Pemerintah Kota Tangerang berhasil meraih penghargaan sebagai Daerah Berpretasi Terbaik Nasional 2009 dari Menteri Keuangan. Penghargaan sebagai daerah berprestasi terbaik ini diberikan, karena kota Tangerang memiliki peningkatan kinerja keuangan, peningkatan kinerja ekonomi dan kesejahteraan masyarakat di atas rata-rata nasional.
Untuk kinerja keuangan, Pemkot Tangerang berhasil yakni: (1) Meningkatkan Pendapatan Asli Daerah di atas rata-rata nasional, (2) Penyelesaian APBD tepat waktu, dan (3) Memperoleh opini Wajar Tanpa Pengecualian dari audit BPK atas laporan keuangan pemkot
Untuk kinerja ekonomi dan kesejaheraan sosial, Pemkot Tangerang berhasil: (1) Memiliki pertumbuhan ekonomi di atas rata-rata nasional yakni 6.8% pada 2008 dan 7.1% pada 2007, (2) Pengurangan tingkat pengangguran di atas rata-rata nasional dari 20%/2007 menjadi 12%/2008 dan (3) Tingkat inflasi daerah di bawah rata-rata nasional.
Selain penghargaan dari Menteri Keuangan, dibawah kepemimpinan Wahidin Halim, Pemkot Tangerang juga mendapat sejumlah penghargaan tingkat nasional lain:
- Penghargaan Kota Langit Biru 2009.
- Citra pelayanan kesehatan masyarakat tingkat nasional 2008.
- BPKP Award 2008 untuk pengelolaan keuangan pemerintahan kota terbaik 2008.
- Lencana Bhakti bidang Pendidikan Presiden RI 2007 (anggaran Pendidikan 48% APBD)
- Piala Citra Abdi Negara dari Presiden RI atas Pelayanan Publik Terbaik Tk. Nasional 2006.
Walikota yang Tegas, Amanah dan Profesional
Selain keberhasilan-keberhasilan di atas, ada suatu fenomena lain yang menarik dari kinerja Wahidin Halim dan Arief R W. Salah satunya adalah kegiatan Walikota Tangerang H. Wahidin Halim dan juga wakilnya Arief RW yang gencar turun ke bawah (turba) atau bisa juga disebut inspeksi mendadak (sidak) ke proyek-proyek APBD 2009.
Pada 20 Oktober 2009 silam, Wahidin Halim didampingi sejumlah pejabat teras seperti Wakil Walikota, Sekretaris Daerah (Sekda), Asisten Daerah Ekbang Kesra dan para kepala dinas memerintahkan agar proyek pembangunan Posyandu di wilayah Kota Tangerang dibongkar karena bangunan tersebut lantainya tidak sesuai dengan spesifikasi dan menggunakan keramik berkualitas rendah.
Walikota lulusan 1982 dari Fisip-Administrasi Negara Universitas Indonesia ini memulai kunjungannya (dan inspeksi) ke proyek-proyek di Kecamatan Cipondoh, lalu menyusul ke pengerjaan proyek-proyek di kecamatan lain. Hasilnya, dia menemukan banyak pengerjaan proyek tak sesuai spesifikasi atau dikerjakan kurang baik. Misalnya di salah satu posyandu di Cipondoh, terlihat pemasangan lantai keramiknya tak sesuai kualitasnya, maka dengan berbekal linggis yang ditemukan di lokasi proyek, walikota langsung membongkar sebagian lantai keramik. Setelah dia meminta agar pemborongnya untuk memperbaiki lantai itu dengan keramik sesuai kualitasnya.
“Pemasangannya tambal sulam dan miring. Kontraktor seperti ini sebaiknya di black list saja,” katanya terlihat marah. Tak hanya keramik yang dibongkar, plafon (langit-langit) bangunan posyandu yang setiap gedungnya menelan anggaran Rp 120 juta dari anggaran pendapatan belanja daerah (APBD) itu juga dibongkar oleh Wahidin.
“Kita perlu melihat apakah rangka besi telah dicat singkromat atau belum. Kalau belum bisa mengakibatkan karatan,”ujar Wahidin (tempo)
Wahidin lalu memberikan tanda X jika bangunan itu tidak beres, seperti plester tembok tidak rata. Proyek fisik itu dikerjakan pemborong CV Aldy Karya Persada. Perusahaan ini mendapatkan paket pengerjaan posyandu 16 unit. Tiga unit diantaranya di kelurahan Cipondoh Indah dan tercatat memiliki kualitas bangunan sangat buruk. “Perusahaan ini sudah kita tegur beberapa kali, tapi tetap tak mengindahkan,”kata Wahidin.
Pak Walikota memberi pesan “JE-LEK“
Kemudian saat dia melihat pengerjaan proyek pemasangan dinding kurang bergelombang di proyek posyandu lainnya, walikota yang kali ini membawa cat semprot – langsung menulis kata-kata “jelek” di dinding tersebut. Bahkan tanda silang pun diberinya kepada bagian-bagian proyek-proyek lain yang dinilai dikerjakan kurang berkualitas. Wahidin dan rombongan juga memeriksa turab saluran air dan pembangunan jalan Benteng Betawi, pembangunan gedung kantor Kelurahan Poris Gaga serta beberapa jalan lingkungan di Kelurahan Poris dan kelurahan Ketapang, termasuk pembangunan SDN Gondrong 3. Seluruh proyek pembangunan tersebut apabila terlihat jelek, Walikota memberikan tanda crossing serta mengukur setiap ketebalan dan lebar badan jalan yang disesuaikan dengan bestek/rencana teknis pengerjaan.
“Pemborong jangan main-main. Ini proyek dibiayai APBD. Pemkot tidak segan untuk menghentikan pembangunan fisik yang tidak sesuai dengan perencanaan teknisnya,” kata Wahidin.
Walikota H. Wahidin Halim yang didampingi oleh sejumlah pejabat pemkot Tangerang berulangkali mengutarakan dirinya tak akan segan-segan untuk menegur, memberi peringatan, bahkan menghentikan kontrak kerja bila pemborong yang mengerjakan proyek setelah ditegur dan diperingati tetap saja tak mengerjakan proyek sesuai spesifikasi
Tentu saja, aksi keras menuju kebaikan dari walikota ini membuat gerah rekanan pemborong proyek-proyek APBD Kota Tangerang 2009. Konon sebagian dari pemborong menjadi was-was kena semprot walikota. Namun tentu saja bagi yang telah mengerjakan sesuai spesifikasi tenang-tenang saja, karena yakin tak akan kena semprit walikota. Akhirnya di penghujung Oktober pun ada satu pemborong yang diputus kontrak kerjanya. Perusahaan hanya dibayar sesuai kualitas pekerjaan yang telah dikerjakannya melalui penilaian yang dilakukan tim penilai.
Warga Kota Tangerang yang melihat sendiri aksi walikota atau membaca laporan jurnalistik dari media-massa nasional dan lokal memberi dukungan kepada aksi walikota ini. “Ya memang jangan dibiarkan pemborong mengerjakan proyek dengan cari untung sebanyak-banyaknya dan mengabaikan kualitas pengerjaannya. Setuju pak, kalau perlu sering-sering disidak,” tutur M Kholidy, warga Batuceper.
Dukungan moral pun datang dari Wakil Ketua DPPRD Kota Tangerang H. Karnadi. Menurutnya sidak walikota sangat perlu untuk mengecek langsung pengerjaan proyek-proyek yang memanfaatkan dana APBD. Hal inipun memberi pesan agar pemborong harus bersungguh-sungguh dalam mengerjakan proyek.
Pak Bupati/Walikota di Indonesia, Belajar dan Tirulah Hal-Hal Positif dari Wahidin Halim
Meskipun ada beberapa kritikan yang ditujukan kepada dirinya, namun sebagian besar rakyat Kota Tangerang ‘mencintai’ kepimpinan Wahidin Halim. Sikap tegasnya dalam menjalankan roda pemerintahan layak untuk dicontoh oleh para bupati dan wali kota seluruh Indonesia. Reformasi birokrasi dan pengadaan proyek anggaran APBD merupakan langkah utama bagi para bupati/wali kota selain pencanangan program tepat guna bagi pengembangan dan pemberdayaan masyarakat wilayah tersebut.
Sampai saat ini, saya yakin masih banyak daerah di Indonesia yang mana para pimpinan daerah beserta jajarannya melakukan kong-kali-kong dengan para kontraktor proyek. Meski sang pemimpin daerah telah menunjukkan sikap tegas dan jujur, namun sangatlah mungkin bawahan dan klien (kontraktor proyek) memark-up nilai proyek terlalu tinggi. Dan sebagian dari para pejabat tersebut menikmati uang proyek (korupsi) bersama para pemborong. Hal ini menyebabkan kualitas proyek-proyek yang didanai dari pajak dan kekayaan alam + utang memiliki kualitas buruk. (Lihat juga deskripsi APBD Kota Tangerang secara online)
Bisa kita bayangkan, apabila setiap proyek terjadi mark-up yang tinggi, maka pembangunan dan kemajuan daerah maupun sumber daya manusia akan menjadi mandeg. Perekonomian menjadi lesu dan berakhir pada tingkat pengangguran tinggi yang membawa pada angka kemiskinan yang tidak kunjung turun. Kondisi ini pada akhirnya menjadi lingkaran setan pada pembodohan (edukasi), kemiskinan, kesehatan dan kejahatan (kriminalitas).
Berikut beberapa program utama bagi masyarakat yang dicanangkan oleh sang Walikota. Khusus bidang pendidikan, untuk bidang lain dapat dibuka di sini.
- Pembangunan 400 Gedung Sekolah bertingkat berikut meja dan kursi, serta kamar mandi/WC.
- Seragam Sekolah SMP rok dan celana panjang, dilatarbelakangi pemikiran bahwa anak-anak SMP baik putri dan putra sekarang ini telah menunjukkan kedewasaan yang sangat cepat sehingga perlunya penampilan mereka yang sopan dan santun seperti saat di kendaraan umum.
- Pembangunan Sekolah Menengah Kejuruan (SMK), karena lulusan SMU tidak dapat mengisi pasar kerja yang ada di Kota Tangerang (banyak yang tidak memiliki kemampuan dan keahlian di bidang pekerjaan yang dibutuhkan penyedia kerja)
- Pemberian Insentif Guru Negeri/Swasta/MTs setiap bulan.
Semoga melalui tulisan ini, para pembaca (sebagai masyarakat umum) dapat memberi masukan kepada para pemimpin daerah Anda dan juga kepada anggota dewan Anda untuk menerapkan langkah-langkah positif seperti yang dilakukan pak Wahidin Halim. Dan bagi para pejabat di instansi di pemkab/pemkot dan anggota DPRD Kabupaten/Kota untuk dapat bermusyawarah mencari cara-cara dan langkah kreatif untuk perubahan positif demi membangun dan memberdaya masyarakat agar cerdas, maju, adil dan sejahtera.
Terima kasih Pak Walikota Tangerang (meski saya bukan warga Tangerang), Wakil Walikota beserta jajarannya!
Salam Nusantaraku,
ech-wan, 13 Nov 2009
Referensi: Tempo — Pemkot Tangerang (1) — Pemkot Tangerang (2) — Walikota Tangerang





Tampilan : 




Wah, bagusnya walikota dan gubernur di seluruh Indonesia meniru Pak Wahidin nih.. Selamat deh..