Diplomasi Bill Clinton di Korea Utara
![]()
Bill Clinton, Presiden Amerika Serikat ke-42, merupakan presiden yang sangat famor bagi rakyatnya karena keberhasilan dalam ekonomi, kesejahteraan, reformasi kesehatan, perdamaian, serta anggaran berimbangan bahkan surplus. Dimata internasional, kebijakan politik Bill Clinton jauh lebih sejuk dan damai dibanding pendahulunya George HW Bush dan penerusnya George W Bush (junior) yang suka perang. Inilah yang membuat pribadi Bill Clinton cukup disegani oleh kalangan internasional.
Oleh: ech-wan @nusantaraku
-6/8/09-
Kedatangan Bill Clinton ke Korea Utara menjadi berita besar di seantoro dunia. Wajar saja..bahwa selama ini Pemerintahan George Bush menabur benih konfrontasi dengan negara komunis semenanjung Korea dengan memberi sanksi, pengucilan dan memasukkan negara ginseng ini sebagai negara “poros setan/teroris” bersama Irak dan Iran. Dan kedatangan mantan Presiden Amerika Serikat ke-42 ini membawa pesan awal untuk sebuah “rekonsiliasi” dan cara-cara damai khususnya untuk membebaskan dua wartawan Amerika Serikat beretnik Korea yang dipenjara oleh Pemerintah Korea Utara pada Maret 2009 silam.
Karena ketegangan antara Korea Utara (Korut) – Amerika Serikat beraliansi Korea Selatan, maka “kehadiran” dua wartawati AS yakni Euna Lee dan Laura Ling di wilayah Korea Utara (perbatasan dengan China) secara ilegal pada Maret 2009 dikenai sanksi sangat berat. Dua wartawan tersebut dijatuhi hukuman 12 tahun kerja paksa dan dituduh melakukan kejahatan besar. Euna Lee dan Laura Ling merupakan wartawan Current TV- AS, yang ikut didirikan oleh mantan wakil presiden AS Al Gore, ditahan ketika mereka bertugas untuk menyusun laporan di dekat perbatasan antara Korea Utara dan China.

- Wartawati AS yang dibebaskan : Euna Lee dan Laura Ling
************
Kedatangan Bill Clinton terlepas apakah misi pribadi atau misi pemerintahan Barack Obama dalam mengupayakan pembebasan dua wartawannya merupakan suatu tindakan yang menurut saya mestinya menjadi pelajaran yang berharga. Pelajaran pertama adalah gunakanlah cara-cara yang damai dalam memecahkan perang kepentingan, salah satunya dengan diplomasi yang berkarakter. Kedua adalah mengutus orang yang tepat dalam suatu diplomasi, yang pasti adalah orang yang memiliki karakter. Ketiga adalah berusaha menurunkan derajat ego atau arogansi demi kepentingan bangsa meski hanya membebaskan “satu atau dua” warga negara yang dipenjara.
Kecepatan diplomasi Bill Clinton dalam menyelesaikan suatu persoalan relatif cepat, hanya butuh waktu kurang dari 24 jam. Clinton datang ke Korea pada 4 Agustus 2009, dan langsung menemui pemimpin Korut Kim Jong-il. Pertemuan hanya beberapa jam saja berhasil dan akhirnya dua wartawan yang ditangkap sejak Maret 2009 dibebaskan melalui “pengampunan khusus” Presiden Kim Jong Il setelah berunding dengan Bill Clinton. Kantor Berita Korut menyatakan bahwa Bill Clinton mewakili kedua wartawan menyatakan permintaan “maaf” atas keteledoran keuda wartawati yang tidak memiliki maksud melakukan kejahatan.
Kesuksesan Clinton tidak terlepas juga bahwa track record Clinton yang cukup baik bagi Kim Jong Il. Ketika menjadi Presiden Amerika 1992-2000, Clinton pernah mengupayakan perbaikan hubungan dengan Korea Utara, bahkan saling menukar utusan tingkat tinggi pada menjelang akhir masa jabatannya. Langkah itu mencuatkan perkiraan bahwa Washington dan Pyongyang akan mengakhiri permusuhan mereka selama berpuluh tahun dan melakukan normalisasi hubungan. Namun hubungan yang mulai mencair itu tidak berlangsung lama. Hubungan kembali memburuk setelah George W. Bush menjadi presiden AS dan mengumumkan Korea Utara sebagai bagian ’poros setan’ bersama Iran dan Irak.

- Mantan Presiden AS Bill Clinton (kiri) dan Presiden Korut Kim Jong-Il (kanan) duduk mengabadikan gambar pertemuan di Pyonyang 4 Agus 20009 (Xinhua/Korean Central News Agency)
Rasa hormat yang masih tinggi dibuktikan Kim Jong Il yang masih dalam keadaan sakit bersedia menjamu makan malam bersama Bill Clinton. Bill Clinton menjadi pejabat tertinggi AS yang mengunjungi Korea Utara sejak menteri luar negerinya, Madeleine Albright, pergi ke negara itu pada 2000. Begitu juga, ketika keluar dari pesawat, Bill Clinton disambut langsung oleh Wakil Ketua MPR-nya Korea Utara dan ketua perunding nuklir, Kim Kye-gwan, yang juga wakil menteri luar negeri.

Kunjungan mantan Presiden AS Bill Clinton yang disambut Wakil Ketua MPR Korea Utara di Pyonyang – 4 Agustus 2009.
***********
Langkah Bill Clinton baik sebagai pribadi maupun perwakilan Pemerintah Obama, patut dicontohi oleh pemimpin maupun pemerintahan Indonesia. Begitu berharganya “kehidupan/kebebasan” dari seorang warga negara Amerika di luar negeri. Berhubungan dengan luar negeri, Amerika begitu kuat memperjuangkan hak warga negaranya, terlepas dari sisi buruknya. Hal ini agak bertolak belakang dengan perlakuan hukum yang dilakukan oleh para duta besar ataupun pemerintah Indonesia dalam hubungan diplomatik luar negeri. Begitu banyak warga Indonesia sebagai TKI/TKW yang disiksa atau diperkosa dengan cara-cara tidak manusiawi, namun tidak ada perjuangan hukum yang berarti. Hal ini mengakibatkan hingga saat ini, gelar “Indon” masih terus diberikan kepada sebagian besar orang Indonesia yang berada di Malaysia.
Dibulan kemerdekaan ini, semoga diplomasi Bill Clinton di Korea Utara, yang datang jauh-jauh dari Amerika hanya ingin membebaskan dua wartawati sekaligus diplomasi awal bagi pemerintahan Obama menjadi ‘cambuk’ bagi pemerintah Indonesia untuk lebih memperhatikan nasib warga negaranya yang berada di luar negeri, terlebih bagi para ‘pahlawan devisa”.
Good job.. Mr Bill Clinton..Salute!



saya menanti pemerintah indonesia yang berani melindungi warganya di negara asing.
Ada yang janggal.
Hilary Clinton sebelumnya sempat bersitegang dengan Korea Utara dengan komentarnya yang mengatakan bahwa “Korea Utara bersikap seperti anak nakal” setelah peluncuran rudal mereka.
Kok sepertinya Korut bisa berbaikan secepat itu?
Saya rasa ada udang dibalik batu.
Yang agak pasti, sikap Bill Clinton dan Hillary dalam hal ini sedikit berbeda.
Wah, sekarang kelihatanya ada yang nggak sreg diantara mereka berdua:
http://blogs.abcnews.com/politicalpunch/2009/08/lost-in-translation-clinton-says-she-not-bill-is-the-secretary-of-state.html
Ada apakah gerangan?
The mind boggles
Pada hari kunjungan Bill Clinton, Hillary lagi di Afrika.
Hillary mengeluarkan statement yang agak arogan.
Dan pada artikel ini, saya lebih percaya bahwa Bill Clinton yang secara tersirat menyatakan “maaf” untuk membebaskan dua wartawati yang mana dibantah oleh Hillary dan Jubir di White House.
Saya cukup respect sama Bill Clinton, karena setau saya ketika menjadi Presiden Amerika ke-42, ia menyatakan permohonan maaf pertama kali secara resmi sebagai Presiden AS kepada rakyat Vietnam atas ‘arogansi’ selama perang Vietnam.
*mengangguk*
Dulu Bill Clinton pernah tampil di Oprah dan bercerita soal masa lalunya. Dia rupanya mengalami masa kecil yang sulit. Tetapi kepribadianya yang mempesona dan sederhana mengesankan dia orang yang tulus dan jujur.
Berbeda denga Hillary yang sebenarnya lebih “ganas” hahaha..
Oh… sempat nonton yah?
Saya belum pernah melihat acara talkshow yang di siar ulang oleh stasiun TV dalam Oprah Winfrey Show.
Saya cukup respek, karena arah kebijakan politik, ekonomi, hukum yang baik serta bersama AlGore yang ada etikad baik dalam pembangunan ekonomi yang oke.
Saya rasa, aura Bill Clinton layak mendapat apresiasi.
saya merasa aneh dengan mereka berdua
diplomasi tingkat tinggi indonesia hanya ada pada jaman sukarno, klo jaman suharto sampai skrg, pemerintah beraninya cm sama rakyatnya sendiri..