Mendiknas Akui Belum Bisa Merealisasi “Sekolah Gratis”

2009 Juli 2
by nusantaraku

Bagi sebagian orang, menjadi tanda tanya besar mengapa iklan “Sekolah Gratis” gencar dilakukan menjelang Pileg April 2009 dan berdorman selama beberapa minggu dan mulai gencar lagi pada awal Mei hingga saat ini. Padahal anggaran untuk iklan gratis berasal dari pajak rakyat + kekayaan alam + utang negara + lain-lain. Biaya iklan untuk prime time mencapai 30-an juta per satu slot (30 detik). Dan kita asumsikan biaya iklan tersebut mendapat discount (karena sosialisasi program pemerintah) serta waktunya tersebar merata. Anggap per hari ada 8 slot dengan biaya rata-rata hanya Rp 15 juta per slot. Ada 11 stasiun nasional dan kita hanya menggunakan rata-rata 50%nya yakni hanya 44 slot per hari untuk 11 stasiun TV nasional. Maka biaya per hari untuk iklan “sekolah gratis” di TV adalah Rp 660 juta. Seminggu menghabiskan Rp 4.62 miliar atau sebulan Rp 18 miliar.  Ini hanya iklan sekolah gratis di TV, belum di koran, radio dan berbagai media lainnya.

Iklan Sekolah Gratis, Hanya Untuk Kepentingan Politik

Yang menjadi persoalan bukanlah hanya uang rakyat yang digunakan untuk sosialisasi dengan iklan “Sekolah Gratis, Pasti Bisa“, namun konten dan tujuannya. Dalam kutipan di situs Depkominfo RI, Mendiknas Bambang Sudibyo mengakui bahwa pemerintah masih belum bisa menyelenggarakan semua sekolah SD-SMP benar-benar gratis. Mendiknas  mengatakan bahwa “sekolah gratis juga bukan berarti gratis yang tidak terbatas, sebab selain biaya operasional  sekolah, siswa memerlukan biaya lain, yaitu transportasi, pakaian dan lainnya, apalagi  siswa di perkotaan.”

Bambang Sudibyo

Bambang Sudibyo

Meskipun tidak gratis sesungguhnya, namun Profesor Bambang Sudibyo tetap menggunakan istilah gratis dari usulan DPR dan kemamuannya sendiri ditambah embel “bisa” yang lebih menunjukkan kampanye untuk pemerintahan yang dipimpin Susilo Bambang Yudhoyono.

Padahal sudah ada anggota DPD yang meminta Mendiknas mencabut iklan tersebut lantaran sarat berbau politik. Salah satunya adalah Ketua PAH III DPD asal Sulteng, Faisal Mahmud. Faisal Mahmud menyayangkan iklan bernuansa politis tersebut, “Iklan Mendiknas tentang sekolah gratis di televisi setiap hari melebihi rating iklan capres, padahal kami sudah sepakat menggunakan kata sekolah gratis. Iklan tersebut bernuansa politis karena menggunakan kata Bisa“.

Namun Mendiknas berkilah bawah sewaktu raker dengan DPR telah disepakati bahwa wajib belajar gratis perlu diiklankan sebagai bentuk sosialisasi kepada masyarakat akan adanya sekolah gratis. Saya sependapat jika Mendiknas menggunakan sosialisasi “biaya operasional gratis”, bukan “sekolah gratis”. Karena pada faktanya,tidak ada program nasional menyeluruh untuk bersekolah gratis, yang ada hanyalah biaya operasional sekolah yang gratis.

Dengan iklan tersebut, maka lambat laun sebagian masyarakat akan mulai mengerti bahwa “pernyataan pemerintah hanyalah omong kosong”. Sekolah gratis hanya ada di TV, tapi bukan di sekolah tempat siswa belajar. Terlebih masih banyak sekolah yang menerapkan biaya masuk yang tinggi dengan segala pernak-pernik persyaratannya seperti kewajiban siswa membeli baju seragam dari pihak sekolah. Begitu juga buku atau pernak-pernik tugas (keterampilan/kesenian) sekolah. Contohnya adalah Dinas Pendidikan Nasional (Diknas) Kota Ambon menetapkan biaya pakaian seragam bagi siswa baru yang akan memasuki Sekolah Menengah Pertama (SMP) adalah Rp 575.000 per orang. Jauh diatas harga rii. [klik artikel]

Terakhir, maaf pak Bambang, jangan hanya mengadakan “sekolah gratis di TV”, tapi sekolah berbayar di masyarakat.

Salam Perubahan, 1 Juli 2009
ech-nusantaraku

Lanjutan artikel : Fakta-Fakta Penyelewangan Dana BOS, Ironi “Sekolah Gratis”

15 Tanggapan leave one →
  1. 2009 Juli 2

    PilPres 2009 benar-benar membingungkan..
    Saya sbg Golongan Muda yg br terjun ambil bagian, merasa benar-benar dibutakan (bkn buta, tp dibutakan)..
    Semoga Indonesia terus maju..!

    Salam,
    classically

  2. 2009 Juli 4

    belum bisa di realisasikan kok iklanya sudah kemana-mana..jadi inget tadi di koran seorang ibu menangis baru mau mendaftar sekolah saja di tolak apalagi gratis??

  3. 2009 Juli 4

    mendaftarkan anaknya maksud saya.. :)

  4. 2009 Juli 5
    Titisari permalink

    ehm…bingung….kayanya nggak ada hal yang nggak jadi ajang kampanye mereka berdua ya…

  5. 2009 Juli 7

    susah juga bila semua biaya pendidikan gratis
    banyak sektor yang harus dikorbankan
    salam hangat

  6. 2009 Juli 8
    Rorogo halawa permalink

    Pendidikan gratis, biaya kesehatan murah,pelayanan masyarakat di permudah,korupsi di berantas,hukum di tegakkan. Mudah-mudahan peryata’an ini dapat tercapai sampai kiamat dunia…

  7. 2009 Juli 10
    Mr Thie permalink

    sekolah gratis ?, sekolah murah kali lebih tepat

  8. 2009 Juli 12

    paling tidak ada usaha dr mendiknas untuk merealisasikan sekolah gratis

  9. 2009 Juli 16
    Abu Fiqhan permalink

    Masa seeee… sekolah gratis…. wong kencing aja bayar. Mimpi kale yeeee….
    Coba kalau berani, tulis di spanduk yang ada kata SEKOLAH GRATIS, Apabila masih ada pungutan apapun, laporkan ke …..(Sebut aja Dept atau bagian mana di pemerintah). Ini IKLAN DOANG..,.. pas disuruh bayar, bingung mau lapor kemana ? ama siapa ?….Dari pada sakit hati, do’akan saja mudah-mudahan dapat bagiannya dari ALLAH SWT. Biar yang makan duit anak sekolahan guru-2 nya pada beloon semua. Gimana mau pintar, yang ngajar aja korup. Tidak akan berkah dari barang haram yang dimakan. Kaciaaannn deh tuh guru-2. Sekali lagi, TIDAK AKAN MENJADI KAYA DENGAN MEMAKAN UANG ANAK SEKOLAH, DAN TIDAK AKAN MEMBUAT MISKIN ORANG TUA MURID APABILA SEMUA ITU DIKEMBALIKAN KEPADA ALLAH SWT.
    Mudah-mudahan ALLAH SWT selalu memberikan balasan yang setimpal kepada hambanya. Amin.

  10. 2009 Juli 17

    wah…..
    bahaya nih pendidikan di Indonesia………
    MENDIKNAS aja sudah menipu banyak orang…
    secara tidak langsung MENDIKNAS telah memberikan pengajaran gratis,,,, tentang bagaimana cara berbohong/menipu banyak orang dengan baik dan benar.
    he..he…he………. :p

  11. 2009 Agustus 8

    Masyarakat harus hati-hati dengan kata-kata yang dikeluarkan oleh pejabat pemerintah karena Makna dan Arti yang dimaksud akan berbeda, contoh kata GRATIS belum ditemukan definisinya oleh Departement Pendidikan dan Kebudayaan Indonesia, karena umumnya yang dipakai masyarakat indonesia yang mayoritas dianggab bodoh oleh pejabat dimana kata GRATIS berarti tidak bayar 100%, Namun pemerintah mempunyai arti yang berbeda sesuai dengan apa yang mereka mau. Untuk itu bersiaplah bangsa Indonesia MENUJU KESENGSARAAN karena “SATU KATA SERIBU MAKNA”

  12. 2009 Agustus 22
    rioseto permalink

    Horee, Sekolah Bisa Gratis di blog juga di Kompasiana, mula-mula hanya sebuah impian, namun berubah menjadi konsep, dan berubah menjadi motivasi untuk bisa membuktikan sekolah “gratis” itu bisa, kalau kita mau berpikir jauh.

    Kehadiran rioseto’s blog sesungguhnya adalah untuk menggugah itu, tak cuma pendidikan. Silakan lihat-lihat…

    Salam,

Lacak Balik & Ping Balik

  1. 5 Fakta Penyelewengan Dana BOS, Ironi Sekolah Gratis « Jakarta 45
  2. Penyelewengan Dana BOS……Busyet « Amiktridharma

Tinggalkan Balasan

Note: You can use basic XHTML in your comments. Your email address will never be published.

Berlangganan umpan komentar ini melalui RSS