Sekolah Gratis vs Pendidikan Mahal

2009 Juni 25

Ditengah gencarnya iklan sekolah gratis dari Departemen Pendidikan Nasional yang dipimpin Bambang S (kader PAN),  namun faktanya hingga saat ini tidak ada siswa normal yang mendapat pendidikan secara gratis. Orang tua para siswa harus membayar pakaian seragam, sejumlah buku, sepatu atau alat-alat keterampilan dari pihak sekolah. Dan biasanya, harga sekolah jauh lebih tinggi dari harga di pasaran. Namun, masih sedikit orang tua yang melakukan protes kepada pihak sekolah yang memanfaatkan momen gratis untuk meraup untung dari transaksi di awal tahun ajaran baru.  Fakta masih banyaknya praktik komersialisasi seperti ini menjadi paradoks ketika puluhan miliar rupiah habis untuk iklan sekolah gratis menjelang Pileg April silam dan dimasa kampanye Pilpres ini.

Biaya Seragam Sekolah Lima Ratus Ribuan

Dinas Pendidikan Nasional (Diknas) Kota Ambon menetapkan biaya pakaian seragam bagi siswa baru yang akan memasuki Sekolah Menengah Pertama (SMP) dan sederajat di ibu kota Provinsi Maluku yang disepakati oleh seluruh kepala sekolah di Kota Ambon.

Biaya seragam bagi siswa baru yang ditetapkan yakni sebesar Rp 575.000 per orang. Rinciannya, 2 pasang pakaian seragam SMP Rp 350 ribu, sepasang pakaian olahraga Rp 150 ribu, dan 2 pasang pakaian batik Rp 75.000.

Sedangkan, biaya administrasi, konsumsi dan transpor panitia penerimaan siswa baru dibiayai langsung dari dana Bantuan Operasional Sekolah (BOS).  “Sumbangan lain untuk pengembangan sekolah diatur tersendiri oleh komite sekolah masing-masing,” ujar dia.

………………… Sumber : Kompas

**************

Dari berita di Ambon dan begitu juga di berbagai wilayah Indonesia, maka sangatlah jelas bahwa tidak ada pendidikan yang gratis di Indonesia dalam setiap jenjangnya dari SD [TK] hingga SMP [SMA]. Yang ada adalah sekolahnya [tempatnya] gratis, bukan pendidikannya [kegiatan] yang gratis. Hal kedua adalah apakah harga yang tetapkan oleh Diknas Ambon sudah merupakan harga yang wajar dimana sekolah tidak mendapat komersialisasi dari pra-syarat seragam sekolah tersebut?

Dalam salah satu situs retail grosir seragam online, satu pasang seragam SMP lebih kecil dari Rp 40.000 per pasang. Jika dipasang nama dan identitas siswa, + kualitas bahan ditingkatkan satu hinga dua level [disparitas harga pengiriman baju dari Jawa], saya memprediksikan harga per pasang seragam SMP dapat dipesan seharga Rp 100.000 hingga Rp 125.000 per pasang. Ini artinya 2 pasang pakaian seragam SMP dapat dibeli dengan harga Rp 200.000Rp 250.000.  Namun, Diknas Ambon menetapkan angka Rp 350.000 untuk dua pasang seragam sekolah SMP. Dengan kondisi ini, berarti ada perbedaan sekitar Rp 100.000 per 2 pasang seragam sekolah. Saya tidak tahu apakah harga tekstil di Ambon memang semahal itu dengan selisih hampir 1.7 kali lipat dibanding pulau Jawa? Ataukah pihak sekolah mendapat keuntungan komersialisasi ini?

Jika saja, hal kedua yang terjadi [terjadi komersialisasi pada siswa baru], maka apalah makna iklan sekolah gratis  Depdiknas yang menghabiskan puluhan miliar rupiah Uang Rakyat di stasiun TV. Lalu untuk apakah iklan sekolah gratis terus digembor-gemborkan? Sudahkah birokrasi pendidikan ditata dan dikelola dengan baik? Masihkan anggaran siluman masuk ke sumbangan non-pendidikan seperti laporan BPK pada tahun 2007? Terlalu banyak bicara Sekolah Gratis, jika internal Depdiknas masih jauh dari reformasi dan dedikasi untuk “gratis” itu sendiri.

**************

Meskipun sejak awal saya merasa aneh ketika Iklan Sekolah Gratis menjelang Pileg April 2009 yang menyebutkan bahwa dengan memanfaatkan sekolah gratis, maka seseorang siswa dapat menjadi pilot. Padahal untuk menjadi pilot seseorang lulusan SMA harus melanjutkan pendidikan penerbangan atau melanjutkan pendidikan militer (Akmil). Setelah Pemilu 9 April 2009 berakhir, iklan sekolah gratis membisu dari layar TV, dan kembali bersuara ketika menjelang Pilpres 2009.

Saya hanya berharap bahwa tujuan Menteri Pendidikan Nasional kita yang begitu gencar menayangkan iklan sekolah gratis memang murni untuk kepentingan pendidikan bangsa, dan tidak ada sama sekali tujuan untuk kepentingan non-pendidikan bangsa (seperti kampanye terselubung untuk Pilpres). Jika ada setetes niat, seberkas harapan, setitik tujuan, 1% titipan untuk kepentingan politik, maka percayalah bahwa puluhan miliar rupiah UANG RAKYAT untuk iklan sekolah gratis di berbagai media  akan membuat hidup kalian penuh derita, dilaknat oleh Tuhan, dimurka oleh alam baik yang memesan, baik yang mendapat fasilitas, baik yang sengaja diam ketika mereka tahu dan sadar. Dan semoga, momentum penampilan gencarnya iklan sekolah gratis  (serupa dengan iklan Koperasi) yang bersamaan dalam momentum kampanye Pemilu dan Pilpres adalah suatu kebetulan yang langka di Indonesia. Semoga penayangan iklan sekolah gratis ini memang momentum yang hanya terjadi dalam setiap 100 tahun sekali.

Hmm….katanya sekolah gratis, tapi buktinya pendidikan mahal. Untuk apa pula slogan ini muncul di layar TV..haeh…

Salam Perubahan,
ech-wan, 26 Juni 2009

20 Tanggapan leave one →
  1. 2009 Juli 3

    Yang penting next presiden yang baik aja deh, yang bener ngurusnya.

  2. 2009 Juli 3

    kayanya cuman iklan doank, realisasinya sangan sulit

  3. 2009 Juli 7

    masalah murah dan mahal kan relatif tergantung kemampuan orangnya…. betul kan?

  4. 2009 Juli 18

    Tulisan yang sangat menarik, kritis serta membangun…. trim’s

  5. 2009 Agustus 5

    @ Generasi Patah Hati
    Silahkan berasal dari orang partai, tapi tidak boleh lagi berkepentingan dengan partai setelah menjadi menteri.
    Terima kasih masukannya.

    @ rahmanberau
    Ganti seorang pendidik non-partai. Setuju.

    @ Eka Situmorang-Sir
    Mendiknas sendiri mengakui bahwa “sekolah gratis” versi pemerintah.

    @ taufik
    Tetap ada uang pangkal di beberapa SMPN dan SMAN yang terkenal.

    @ Stop Dreaming Start Action
    Terima kasih. Sependapat.

    @ celotehanakbangsa
    Setuju Kang.

    @ predy
    Sebenarnya akan jauh lebih efektif jika masyarakat melaporkan kepada lembaga LSM seperti ICW.

    @ sistem informasi sekolah terpadu
    Benar juga dan Terima kasih.

Tinggalkan Balasan

Note: You can use basic XHTML in your comments. Your email address will never be published.

Berlangganan umpan komentar ini melalui RSS