Hasil Rekapitulasi Resmi Pemilu Legislatif 2009
Berikut Hasil Perhitunga/Rekapitulasi Akhirl KPU hingga tanggal 9 Mei 2009 (22.00 WIB) untuk partai politik mendulang suara diatas 2.5% (Parliamentary Threshold) dengan total suara sah yang masuk mencapai 104.099.785 suara.
- P Demokrat : 21,703,137 = 20.85%
- P Golkar : 15,037,757 =14.45%
- PDIP : 14,600,091 = 14.03%
- PKS : 8,206,955 = 7.88%
- PAN : 6,254,580 = 6.01%
- PPP : 5,533,214 = 5.32%
- PKB : 5,146,122 = 4.94%
- Gerindra : 4,646,406 = 4.46%
- Hanura : 3,922,870 = 3.77%
KPU
Dari perolehan suara diatas dan berdasarkan UU 10/2008, maka jumlah kursi DPR RI yang akan diperoleh masing-masing partai sebagai berikut :
- Partai Demokrat: 148 kursi
- Partai Golkar : 108 kursi
- PDIP : 93 kursi
- PKS: 59 kursi
- PAN: 42 kursi
- PPP: 39 kursi
- Partai Gerindra: 30 kursi
- PKB: 26 kursi
- Partai Hanura: 15 kursi
Perbandingan jumlah kursi partai politik di tahun 2004-2009
(sumber www.dpr.go.id)
| Partai | Anggota | % Kursi | ||||
| Golkar | 127 | 23.1% | ||||
| PDIP | 109 | 19.8% | ||||
| PPP | 58 | 10.5% | ||||
| PD | 56 | 10.2% | ||||
| PAN | 53 | 9.6% | ||||
| PKB | 52 | 9.5% | ||||
| PKS | 45 | 8.2% | ||||
| PBR | 14 | 2.5% | ||||
| PDS | 13 | 2.4% | ||||
| PBB | 11 | 2.0% | ||||
| PPDK | 4 | 0.7% | ||||
| P-P | 3 | 0.5% | ||||
| PKPB | 2 | 0.4% | ||||
| PKPI | 1 | 0.2% | ||||
| PNI M | 1 | 0.2% | ||||
| PPDI | 1 | 0.2% |
Catatan :
Jumlah kursi DPR RI 2009-2014 : 560 kursi
Jumlah kursi DPR RI 2004-2009 : 550 kursi
Kesimpulan Awal
Dari perolehan suara sementara serta aproksimasi perolehan kursi di DPR dari 77 dapil, maka terlihat bahwa hanya Partai Demokrat dan PKS yang mengalami peningkatan jumlah kursi masing-masing 159% dan 24%. Sedangkan partai Golkar, PDI-P, PPP, PAN, PKB turun. Dua partai yang mengalami penurunan jumlah kursi secara signifikan adalah PKB dan PPP.
Angka Terbesar tetap Golongan Bersih
Dengan jumlah penduduk yang memiliki hak memiliki sekitar 171 juta serta total penduduk yang memberikan hak suara 121.588.366 (17.488.581 suara tidak sah) , dan 50 juta pennduuk sama sekali tidak menggunakan hak suara atau golber (istilah baru dari golput yakni golongan bersih = putih??). Dengan aproksimasi angka golput sekitar 33%, maka hasil yang perolehan absolut dari Pileg 2009 ini lebih kurang sebagai berikut:
- Partai “Golput” : 39,1% suara
- P Demokrat : 12.7%
- P Golkar : 8.8%
- PDIP : 8.5%
- PKS : 4.8%
- PAN : 3.7%
- PPP : 3.2%
- PKB : 3.0%
- Gerindra : 2.7%
- Hanura : 2.3%
Jika dari 17 juta suara tidak sama merupakan pemilih yang melakukan kekeliruan prosedural, maka angka golput sekitar 29%. Namun, jika hanya setengah dari 17 juta suara tidak sah adalah kesalahan prosedural, maka angka golput sekitar 34%. Dengan angka golput 34-39%, ini berarti angka “Golongan Bersih” (32.7% ) melebihi perolehan suara dari 3 partai besar yakni Demokrat, Golkar, PDI-P yakni hanya 29%. Wau….besar sekali angka “golongan bersih” yah? Suaranya melebihi setara dengan perolehan 3 suara terbesar….
Catatan Tengah
Saya menggunakan frasa “Golongan Bersih” untuk menggantikan penduduk yang tidak menggunakan hak suaranya pada Pileg 9 April 2009 karena berbagai alasan maupun kendala. “Golongan Bersih” digunakan mengingat ada stigma negatif yang diberikan oleh elit parpol bahkan Mejelis Ulama Indonesia yang menvonis “golput” adalah haram. Disini saya mencoba untuk membela hak para “golber” dan terbukti bahwa angka golber memang sangat tinggi. Lebih tinggi dari perolehan suara parpol manapun di negeri ini. Angka golber di tahun 2004 adalah 23.34 % naik drastis dari tahun 1999 sebesar 10.21%. Tanpa masalah DPT pun, saya percaya bahwa angka golber angka naik dari tahun 2004 yakni diatas 23,3% – 28%. Sedangkan warga yang “golber” karena DPT tidak lebih dari 5-10%.
Bisa dipastikan bahwa hanya 9 Parpol yang akan menduduki kursi Senayan dengan gaji dari uang rakyat masing-masing mencapai 50 juta per bulan per anggota DPR RI. Sedangkan jika kita flash back 1-4 bulan yang lalu, para caleg telah menghabiskan ratusan hingga miliaran rupiah. Mereka yang gagal telah banyak yang stress dan kecewa. Sedangkan mereka yang bisa dipastikan masuk ke Senayan telah menghabiskan uang tidak sedikit. Apakah benar mereka menjadi DPR karena memperjuangkan kepentingan rakyat?
Ha… masih jauh api dari pangangan. Jujur tidak jujur, mereka pasti akan memikirkan investasi mereka agar cepat kembali. Sedangkan kinerja, yah… pasti tidak jauh berbeda dengan DPR di tahun 1999 dan 2004 yakni suka bolos di waktu sidang, menjadi “preman” dalam meminta jatah proyek, skandal seks dan lain-lain. Karena sebagian besar mereka terpilih tidak lain tidak bukan karena faktor uang atau kepopuleran. Mereka yang benar-benar berkompenten dapat dihitung jari. Itu menurut pandangan saya, semoga prediksi saya mengenai tabiat DPR itu salah. Dan sebaliknya DPR memang sering menengok dan mencoba tidur serta makan bersama rakyat di pinggiran kali atau tempat kumuh. Mungkinkah ada anggota DPR 2009-2014 yang akan terjun langsung melihat kegentiran masyarakat pasca terpilih? Mungkinkah mereka masih rajin mencukur rambut dan menyapa rakyat-rakyat di waktu kampanye akan berlanjut?………. Waktulah yang berbicara.
7/10 Mei 2009, ech-nusantaraku



pertama salut dengan lembaga quick count — prediksi mrk tdk meleset, apa jadinya jika ada perbedaan signifikan antara quick count dengan perhitungan manual, wah… bisa pecah perang tuh!
berikutnya selamat untuk golongan bersih — cuman sayang tidak, meski menang tidak dapat satupun jatah kursi.
terakhir wahai caleg yang sudah pasti dapat kursi……. nasi uduk nasi bakmi, sudah duduk jangan lupakan kami.
terimakasih untuk menyatakan -secara tdk langsung- diriku golongan bersih
bisa narsis lagi nih…
Hm, ada istilah baru … golongan bersih. Moga dengan begitu, golongan putih menjadi lebih bersih. Ingat, golongan putih eh golongan bersih harus semakin giat berjuang untuk kemeangan Pilpres 2009. Salam.
To: pimpii
Kata Pak Sri Bintang Pamungkas jika angka golput diatas 50% (40-60%), kita duduki gedung MPR/DPR saja..
To: ~neo~
Yup.. golongan bersih…
To: Sugiarno
Yah… istilah baru untuk kaum “marginal”-nya.
Bagaimanapun juga pemerintah telah menjalankan kewajibannya melaksanakan PEMILU.Bahwa kemudian disana sini sangat banyak kekurangannya itu sudah pasti. Siapa yang tidak mau berkuasa dan menerima gaji tanpa perlu keluar energi. adapun investasi biaya kampanye, memang itulah perjudiannya. Kita maklumi saja rata2 Caleg berjudi jika jadi harus kembali MODAL, yang eleh ya stress.
Perjudian berikutnya selama jadi anggota DEWAN, kalau ke gep KPK bisa puluhan tahun dalam bui. Tapi banyak yang lolos kan, maka APAPUN NAMANYA yang tidak memilih CUEK. Jika beragama mereka yakin ada AKHIRAT yang akan menyelesaikan semua ini. ADA YG NAMANYA NERAKA MAN !
pak, tlg kasih tw nama” caleg yg diterima di DPR RI masa jabatan tahun 2009-2014
kapa politisi sumbar bisa jadi ketua ya?
acungan jempol wat KPU, setidaknya pemilu kali ini lebih baik dari pemilihan legislatif kemaren yang amburadul…………….!cayooooo
terimakasih Pak buat artikelnya, saya sedang butuh banget hasil ini..