Skip to content

Aneh…6 Pengacara Antasari Azhar adalah Mantan Pembela Koruptor!

Mei 5, 2009

Antasari Azhar, Rani Juliani, (Alm) Nasrudin Zulkarnaen, dan (terbaru) Kombes Polisi Wiliardi Wizard masuk dalam berita yang paling dicari

Antasari Azhar

Antasari Azhar

di dunia internet saat ini. Tidak terkecuali BOTD WP. Tidak sedikit ada yang menggunakan teknik SEO dengan menawarkan gambar mesum, video porno Rani Juliani yang sebenarnya belum [tidak] ada sama sekali. Persoalan menjadi bias tatkala masyarakat hanya melihat satu sisi permasalahan yakni Rani Juliani semata atau dengan sangat cepat langsung memutuskan pembelaan mati-matian atau dipihak lain mengutuk mati-matian terhadap Antasari Azhar (AA), padahal AA baru ditetapkan tersangka. Dalam hal ini semua kemungkin adalah mungkin. Mungkin AA terlibat, mungkin pula dijebak.  Dan artikel ini memberi persfektif lain yakni proses penyelidikan hukum yakni para pembela hukum AA.

Berikut ini daftar tim pengacara Antasari Azhar yang mana selama ini selalu menjadi lawan KPK dalam membela para tersangka maupun terpidana koruptor, mereka adalah Juniver Girsang, Muhammad Assegaf, Denni Kailimang, Hotma Sitompul, Ari yusuf Amir, dan Farhat Abbas.

Berikut daftar-daftar para pengacara Antasari Azhar yang pernah menjadi lawan KPK ketika membela para koruptor.

  • Juniver Girsang sebagai Ketua Tim Kuasa Hukum Antasari
    1. Juniver dikenal sebagai kuasa hukum membela para tersangka koruptor. Setidaknya ada 15 kasus korupsi yang ditangani oleh Juniver Girsang (JG)
    2. Pengacara kasus korupsi Mantan Bupati Kendal Hendy Boedoro dan Wakil Walokota Medan Ramli.
    3. Kuasa hukum Mantan Dirjen Administrasi Hukum Umum (AHU) Departemen Hukum dan HAM Romli Atmasasmita dalam kasus [korupsi] akses fee Sistem Administrasi Badan Hukum
  • M. Assegaf
    1. Sebagai salah satu pengacara Soeharto, Tommy Soeharto, dan anak Soeharto lainnya. Ketika Antasari menjadi kepala PN Jakarta Selatan, ia gagal melakukan eksekusi terhadap Tommy Soeharto yang mendapat dukungan hukum dari M. Assegaf.

      M Assegaf

      M Assegaf

    2. Pengacara kasus Korupsi dan Perdata Yayasan Supersemar, yang diduga melibatkan mantan Presiden RI Soeharto.
    3. Assegaf mantan pengacara eks Gubernur Aceh Abdullah Puteh dalam kasus Pengadaan Helikopter Mi-2, dengan Kerugian Negara Rp. 13,6 miliar.
    4. Assegaf  mantan pengacara Gubernur BI lainnya Syahril Sabirin dalam menangani kasus pencairan klaim Bank Bali Rp. 904,64 miliar terhadap BDNI.
  • Denni Kailimang
    1. Mantan pengacara Akbar Tandjung dalam kasus dana non bujeter Bulog senilai Rp 40 miliar dan berhasil membela Akbar Tandjung bebas dari dakwaan korupsi.
    2. Menangani kasus Bantuan Likuiditas Bank Indonesia dengan tersangka David Nusa Widjaya (Bank Umum Servitia) dengan dugaan kerugian negara  Rp. 1,29 triliun.
  • Hotma Sitompul
    1. Mantan pengacara Akbar Tandjungdalam kasus dana non bujeter Bulog senilai Rp 40 miliar dan membebaskan Akbar Tandjung dari dakwaan korupsi.
    2. Pengacara mantan Direktur Utama Perum Bulog Widjanarko Puspoyo.
    3. Pengacara mantan Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) Theo F. Toemion.
  • Ari Yusuf Amir
    1. Pengacara Mantan Menteri Agama Said Agil dalam kasus Dana Abadi Umat (DAU) yang merugikan negara Rp. 719 miliar.
    2. Pengacara Abdul Latief dalam kasus Kredit Macet PT Lativi Media Karya di Bank Mandiri senilai Rp. 328,5 miliar.
  • Farhat Abbas
    1. Mantan pengacara AKP Suparman, mantan Penyidik KPK yang terbukti melakukan pemerasan terhadap saksi oleh Penyidik KPK dalam kasus korupsi PT Insan.

******

Artikel ini tidaklah membahas foto dan kisah Rani Juliani, namun saya hanya ingin melihat profil hukum di Indonesia khususnya para pengacara. Selama ini saya sangat sangsi dengan “kemuliaan” tugas seorang pengacara handal. Banyak pengacara top justru membela yang salah, dan mereka memang dipilih dan dibayar untuk membela ketidakadilan dan ketidakbenaran. Berbagai kasus dimana peran tim pengacara berhasil membebaskan para koruptor dari kasus korupsi, para pembunuh dari kasus pembantaian, para perusuh dari kasus kekacauan dan masih banyak lagi. Saya sempat berpikir, para pengacara yang sering muncul di layar TV apakah benar-benar membela yang benar atau hanya benar-benar membela tulisan Rp pada kertas berukurang persegi panjang. Inikah hukum yang dapat dibeli?

Namun, kita haruslah bijak dalam menilai karena tidak semua pengacara buta akan kebenaran dan  hanya melek dengan rupiah. Saya mash percaya masih ada pengacara yang benar-benar membela hukum [benar], namun mereka ini jarang muncul. Maklum mungkin Indonesia merupakan tempat subur  bagi para pelaku kejahatan mendapat tempat spesial dimata hukum karena “mulut” para pengacara “rupiahan”. Mungkin….

Tanpa menghakimi kepada para pengacara Antasari, namun saya khawatir bahwa tim 6 pengacara Antasari ini muncul karena konflik kepentingan mengingat “track record” mereka selama ini sebagian besarnya adalah pembela hukum terdakwa korupsi. Merekalah yang sering berhadap-hadapan dengan KPK di pengadilan tipikor membela para tersangka koruptor (tidak sedikit berhasil mengurangi hukuman atau bahkan dibebaskan). Dan dalam beberapa media massa menyebutkan bahwa mereka yang selama ini membela para koruptor kini membela Antasari  dengan cuma-cuma (gratis). Jika bayar pun, dengan biaya yang “spesial”.  Namun ironis, jika dahulu mereka adalah lawan KPK [AA sebagai Ketua KPK], sekarang malah berbalik menjadi kawan terbaik AA dan berada di belakang Ketua KPK untuk memberikan pembelaan hukum.

Rupanya, pengacara Indonesia memiliki mental yang tidak jauh dari para politikus. Dalam politik tidak ada kawan yang abadi, yang ada adalah kepentingan permanen. Begitu juga, tidak ada lawan pengacara abadi, yang ada adalah kepentingan rupiah yang permanen. Mungkin karena peran yang luar biasa para pengacara serta kuatnya pengaruh seorang penguasa, maka dalam catatan saya, KPK pernah menghentikan penyelidikan kasus aliran dana nonbujeter Departemen Kelautan dan Perikanan (DKP) yang mana para Capres-Cawapres 2004 menerima uang haram tersebut. Kasus yang dapat menyeret Presiden SBY, Ketum PDI-P, Ketua MPP PAN Amien Rais, Ketum Hanura Wiranto akhirnya dapat diselesaikan dengan bersalaman di Bandara Halim Perdana Kesuma akhir 2007 silam. Dan anehnya, KPK hanya diam melihat “salaman alah pejabat” dan dengan frasa sederhana  “masalah korupsi DKP 2004 ditutup”. Disisi lain, kasus Agoes Condro pun tersendat-sendat begitu juga hanya segelintir tumbal pada kasus aliran dana BI serta BLBI. Coba saja jika saya sendiri menerima uang korupsi DKP, pasti sudah dibui… Benarkah kata ICW bahwa KPK masih tebang pilih? Mungkin….mungkin sekali.

Tanpa bermaksud menghakimi AA bersalah [karena statusnya masih tersangka], namun jika sebaliknya yakni AA benar tidak bersalah dan bersih dari keterlibatan dalam kasus ini, mengapa tim pengacara yang selama ini membela para koruptor justru saat ini merapat dan membela Antasari Azhar. Sebut saja M. Asshegaf yang cukup kontroversial dalam membela para koruptor. Saya jadi bingung, makna seorang pengacara “pembela hukum yang notabene adalah kebenaran itu sendiri” [catatan: perlu asas praduga tak bersalah karena bisa saja kasus ini merupakan suatu jebakan dari pihak tertentu agar AA melakukan kekeliruan].  Dan jika saja AA dinyatakan terbukti tidak terlibat, maka AA bisa menjadi Ketua AA kembali. Disisi lain “skill score” pengacara ini akan naik, maka ‘cost hire per hour” para pengacara ini akan naik. Dan para pengacara ini akan kembali di-hire oleh para koruptor. Dan bila pengacara ini berhadapan kembali dengan pak AA, bukankah ada rasa “terima kasih” [baca: balas budi] karene mereka sejak awal bersedia membela Antasari dengan cuma-cuma (bayar ala kadarnya) …. Hmm….bingung juga…

Bagaimana menurut Anda?

5-5-09, ech-nusantaraku
Referensi : ICW, Antara, dan Kompas

Artikel Terkait:
40 Berita Kronologi Antasari A, Nasrudin Z, Rani Juliani

Antasari Azhar : Dari Pemburu Koruptor m
enjadi Tersangka Pembunuh
Korupsi DKP : SBY-JK Bersih dari Korupsi?

About these ads
34 Komentar leave one →
  1. aima permalink
    Juni 25, 2009 12:44 PM

    kita haruslah bijak dalam menilai karena tidak semua pengacara buta akan kebenaran dan hanya melek dengan rupiah. Saya mash percaya masih ada pengacara yang benar-benar membela hukum [benar], namun mereka ini jarang muncul. Maklum mungkin Indonesia merupakan tempat subur bagi para pelaku kejahatan mendapat tempat spesial dimata hukum karena “mulut” para pengacara “rupiahan”. Mungkin….

  2. September 13, 2013 10:24 AM

    Wonderful beat ! I would like to apprentice while you
    amend your website, how could i subscribe for a blog
    web site? The account aided me a acceptable deal.
    I had been a little bit acquainted of this your broadcast offered bright clear idea

  3. Pencari Keadilan permalink
    Desember 4, 2013 12:09 AM

    Tanpa Barang Bukti
    DIVONIS 10 TAHUN
    EDIH MENCARI KEADILAN

    Edih Kusnadi,warga serpong Tangerang yang dituduh menjadi bandar narkoba,disiksa polisi,dipaksa mengaku lalu dijebloskan kepenjara.
    Semua itu dilakukan penegak hukum tanpa ada barang bukti dari tersangka Edih. Sialnya lagi fakta-fakta hukum yang diajukan Edih tak digubris dan hakim memberinya vonis 10 tahun penjara. Memang lebih ringan dari tuntutan jaksa yang 13 tahun,tapi Edih tetap tidak terima karena merasa tidak bersalah. Dia mengajukan banding namun dikuatkan oleh putusan Pengadilan Tinggi DKI mengajukan kasasi namun ditolak, Ia mendekam di Rutan Cipinang. Ditemui di Rutan Edih yang sangat menderita itu menyampaikan kronologi kasusnya. Dia menganggap kasusnya itu direkayasa oleh polisi “SAYA MOHON BANTUAN AHLI-AHLI HUKUM UNTUK MEMBANTU MEMBONGKAR REKAYASA KASUS INI” katanya. Sedihmya lagi, dan Edih tidak habis pikir mengapa hakim menjatuhkan vonis 10 tahun atas keterangan satu orang saksi. Padahal dia dituduh mau terima narkoba,ditangkap tanpa barang bukti. Saksi tersebut adalah iswadi yang ditangkap tangan membawa narkoba.
    Kasus ini bermula ketika Edih ditangkap di jalan Gajah Mada jakarta pusat,pada 14 mei 2011 “saya dituduh mau terima narkoba dari iswadi,tapi saya ketemu iswadi dipolda. Tidak ada barang bukti narkoba disaya maupun dikendaraan saya tetapi dibawa kepolda” kata Edih.
    Sebelumnya polisi sudah menangkap dua orang Iswadi Chandra alias kiting dan Kurniawan alias buluk. Ditemukan barang bukti sabu 54 gram yang sudah dicampur tawas, dia mendapatkannya dari pulo gadung. Saya hanya mengenal Iswadi dan tidak kenal dengan Kurniawan katanya. Edih menduga dia ditangkap lantaran dijebak oleh Iswadi. Saat polisi menangkap Iswadi dan Kurniawan kebetulan Edih menghubungi Iswadi,tapi tidak diangkat beberapa jam kemudian baru Iswadi yang menghubungi saya terus untuk ketemu,karena mau kekota saya janjian saja ketemu sekalian untuk membicarakan pekerjaan asuransi. Saya bekerja diperusahaan asuransi, ujar dia.
    “pada saat setelah penangkapan,sebelum dites urine, saya dikasih makan dan minum kopi 2 kali bersama kurniawan. Hasilnya positif tapi samar samar. Saya menduga itu direkayasa polisi memasukan amphetamine kedalam minuman saya. mereka kesal karena dinilai saya tidak kooferatif. Kata Edih.
    Edih mengatakan ia mempunyai hasil rontgen dan surat dokter dari poliklinik Bhayangkara yang menyatakan bahwa lengannya patah.
    Seluruh isi vonis hakim pengadilan Negeri Jakarta Timur itu dianggapnya tak masuk akal. AMAR PUTUSAN “MENYATAKAN TERDAKWA EDIH SECARA SAH DAN MEYAKINKAN BERSALAH TANPA HAK ATAU MELAWAN HUKUM MENERIMA NARKOTIKA SEBANYAK LEBIH DARI 5 GRAM MELALUI PEMUFAKATAN JAHAT” Ini aneh sekali, saya menyentuh barang itu saja tidak,apalagi menerimanya. Barang bukti dari saya sebuah ponsel, tidak ada sms atau pembicaraan tentang narkoba didalamnya. Ini sungguh tidak adil, kata Edih.
    Sementara dalam pertimbangannya majelis menyatakan: MENIMBANG BAHWA WALAUPUN PADA SAAT TERDAKWA DITANGKAP,TERDAKWA BELUM MENERIMA SABU YANG DIPESANNYA TERSEBUT, MENURUT HEMAT MAJELIS HAL ITU DIKARENAKAN TERDAKWA KEBURU DITANGKAP OLEH PETUGAS. DAN WALAUPUN TERDAKWA MEMBANTAH BAHWA DIRINYA TIDAK PERNAH MEMESAN SABU PADA ISWADI MAUPUN RIKI,NAMUN BERDASARKAN BERDASARKAN HASIL PEMERIKSAAN URINE NO B/131/V/2011/DOKPOL YANG DIBUAT DAN DITANDATANGANI OLEH dr. BAYU DWI SISWANTO TERNYATA URINE TERDAKWA POSITIF MENGANDUNG AMPHETAMINE”. Sedangkan terdakwa tidak pernah mengajukan dari pihak yang berkompeten.
    Saya dites urine 22 jam setelah ditangkap, sempat dikasih makan dan minum kopi 2 kali, saya menduga mereka mencampurkan amphetamine kedalam kopi saya. Bagi saya tidak masuk akal ada benda itu dalam urine saya karena saya tidak menkomsumsi narkoba. Kata Edih lagi. Dia cuma berharap para hakim bertindak adil dan mendengarkan keluhannya dan membebaskannya.

    “Demi Intervensi Berdasarkan Kedudukan Yang Berada” By @edih_one has been chirpified! http://t.co/AFZsXw5GLc

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 1.037 pengikut lainnya.

%d blogger menyukai ini: