Skip to content

Puan Maharani, Renny Sutiyoso dan Caleg DPD Djan Faridz Miliki Buddha Bar

Februari 28, 2009

Bagian 2 [Tinjauan Etika Pemimpin]

Tadi pagi, saya baru cek komentar teman-teman di tulisan saya mengenai Anak Sutiyoso Dirikan Buddha Bar Jakarta. Dan ternyata ada tambahan link ke detiknews yang memberitakan bahwa Eko Nugroho (Ketua Umum PP Himpunan Mahasiswa Buddhis Indonesia) akan melayangkan surat protes ke sejumlah instansi pemerintah yang telah melanggar UU No 1/1965 tentang Pencegahan Penyalahgunaan dan/atau Penodaan Agama karena memberikan izin pendirian Buddha Bar Jakarta.

Surat itu akan dilayangkan ke Menteri Agama Maftuh Basyuni, Menteri Pariwisata Jero Wacik, Menteri Dalam Negeri Mardiyanto, dan Gubernur DKI Jakarta Fauzi Bowo. Dan  tidak terkecuali pemilik franchise Buddha Bar Jakarta yakni Renny Sutiyoso dan Puan Maharani serta H. Djan Faridz.

Rupang Buddha di depan Meja Untuk Minuman Alkohol (sumber: buddha-bar.co.id)

Rupang Buddha di depan Meja Untuk Minuman Alkohol (sumber: buddha-bar.co.id)

Kronologi Buddha Bar

Berdasarkan rilis Dirjen Bimbingan Masyarakat Buddha Departemen Agama yang dikutip Sabtu (21/3/2009), pemanfaatan gedung bekas kantor Imigrasi DKI Jakarta itu berawal dari ide Sutiyoso saat menjabat Gubernur. Saat itu, Bang Yos ingin merenovasi dan memanfaatkan gedung tua di Jalan Teuku Umar No. 1 Jakarta Pusat itu.

Untuk mewujudkannya, diadakanlah lomba kepada masyarakat umum untuk dapat merencanakan, merenovasi, dan memanfaatkan gedung itu agar lebih baik. Kepada pemenang, nantinya akan diberi kesempatan untuk mengelola tempat itu sebagai bisnis yang berhubungan dengan pariwisata.

“Maka keluar pemenang pertama DJAN FARIDZ yang merupakan pemilik Tanah Abang Plaza dan pemenang kedua ANHAR SETJADIBRATA, pemilik hotel Tugu, Malang, Jawa Timur, DAPUR BABAH, LARA DJONGGRANG” kata Dirjen Bimbingan Masyarakat Buddha Budi Setiawan dalam rilisnya. Berpegang pada sayembara ini, publik Jakarta kemudian menantikan saat realisasi. Sekitar lima tahun setelah sayembara, muncullah nama Buddha Bar tadi. Jadi pemenang sayembara asli tidak digubris, tapi karena Reni Sutiyoso pernah ke paris, dan masuk ke buddha bar, dia menyukainya sehingga dia meminta bapaknya untuk buka cabang di jakarta, lalu timbullah ide memakai ex kantor imigrasi ini.

Kedua pemenang akhirnya bersepakat untuk membuka usaha hiburan dengan nama Buddha Bar. “Pak JF akhirnya menghubungi pusat Buddha Bar di Paris untuk bisa membuka franchise di Jakarta dan juga mengusahakan izin-izin dan rekomendasi dari institusi yang berwenang,” lanjut Budi. Dari situlah, penolakan terhadap Buddha Bar mulai terjadi. Sekelompok massa mengatasnakaman mahasiswa Buddha sempat beberapa kali mendemo agar bar tersebut ditutup.

Dua Putri Capres RI 2009 Miliki Buddha Bar dan Caleg DPD Dukungan PPP

Sangat disayangkan sekali bahwa pemilik franchise Buddha Bar bukanlah masyarakat biasa, tapi anak kesayangan dari “pemimpin” negeri ini, Puan Maharani, Renny Sutiyoso dan Iyan Farid (Caleg DPD 2009-2014 ).  Puan Maharani merupakan putri mahkota dari mantan Presiden RI ke-5 Megawati Soekarno Putri (Ketua Umum PDIP) dan  Renny Sutiyoso adalah putri makhota mantan Gubernur DKI Jakarta Jend (Purn) Sutiyoso.

Kedua-kedua orang tua mereka mencalonkan diri sebagai Presiden RI ke-7 pada pilpres 2009. Megawati membawa bendera PDIP, sedangkan Bang Yos membawa bendera Partai Indonesia Sejahtera.  Sedangkan Puan Maharani menjadi caleg DPR RI dapil Jateng. Tidak bisa dipungkiri bahwa mereka merupakan publik figur di negeri ini. Sebagian besar rakyat Indonesia bahkan akan memilih Bu Mega dan Bang Yos serta partai pendukungnya.

Sedangkan Iyan Farid adalah calon anggota DPD RI 2009-2014 yang saat ini didukung partai Agamais yakni PPP. Djan Faridz merupakan  pengusaha kaya keturunan Betawi Pakistan, mantan Ketua Dewan Pembina DPD I Partai Golkar DKI Jakarta, Dirut PT. Priamanaya, pengembang Pasar Tanah Abang Blok A dan Pakubuwono Square, Bendahara Tim Sukses Fauzi Bowo, dan juga pemilik Gedung Mega Institute atau Mega Center di Jl. Proklamasi, Kantor Tim Sukses Megawati Soekarnoputri.

Karena hampir semua pihak setuju bahwa bisnis Buddha Bar Jakarta merupakan pelecehan agama dan telah saya tulis di Anak Sutiyoso Dirikan Buddha Bar Jakarta, maka saya tidak akan membahas hal ini lagi. Saya akan fokus pada aspek bagaimana etika bisnis para pemimpin beserta keluarga dan kroni di negeri ini. Jika anak-anak dan kroni pemimpin ini (Presiden, Menteri, Gubernur,  Dewan, Jaksa, Polisi, Bupati) memiliki trend membuka bisnis hiburan malam, bar, diskotik, prostisusi dan sebagainya dengan begitu mudahnya, bagaimana nasib moral bangsa ini ke depan?

Pemimpin yang harusnya memberikan secercah harapan kepada masyarakat Indonesia, sebagai agent of change dari permasalahan sosial, etika, moral, agama, ekonomi dan berbagai aspek, justru sedang meraup keuntungan dari bisnis-bisnis dunia hitam, bahkan bisnis yang melecehkan budaya dan agama di Indonesia. Konsep bar bukanlah budaya timur. Begitu juga bermabuk-mabukan, apalagi berjoget dalam keadaan mabuk. Berdirinya bisnis Buddha Bar Jakarta yang sahamnya dimiliki oleh kader Golkar bersama putri mahkota Bu Megawati dan Bang Yos, merupakan bukti bahwa baik pemerintah maupun penguasa telah melecehkan konstitusi negeri ini, melecehkan kepercayaan yang diberikan masyarakat kepada para calon pemimpin bangsa ini. Apakah ini menunjukkan bahwa KKN  pengusaha dan penguasa serta anak-anak penguasa begitu mudah menghalalkan semua bisnis karena bapak atau ibunya memiliki kekuasaan??

Dan parahnya lagi, pemerintah saat ini tampaknya masih berkelut dan terbuai dalam skandal politik-ekonomi. Mengapa Menteri Pariwisata dan Kebudayaan Jero Wajik yang merupakan kader Partai Demokrat juga tidak memiliki sense of morality dan sense of law dengan memberikan izin bisnis hitam dengan nama Buddha Bar Jakarta. Tampaknya, pemerintah daerah Jakarta dan pemerintah pusat senang dengan intrik uang dan politik dalam kasus-kasus ini. Bagaimana mungkin, para birokrat yang katanya cerdas dengan mudah melanggar UU dan KUHP atas penodaan agama secara bersamaan? Apakah pelanggaran UU secara berjama’ah menjadi tabiat yang tidak dapat diubah sejak orba? Dimanakah reformasi itu?

********

Makanya, teman-teman tidak usah heran melihat fenomena banyaknya produk hukum (Undang-Undang, Perpu, KUHP dan sebagainya) yang dibuat dengan dana miliaran rupiah hanya untuk menjerat si miskin bertambah miskin dan tidak berdaya. Sedangkan penguasa beserta kroninya dengan mudahnya memiliki akses seluas-luasnya berbagai fasilitas negara dan berbagai izin yang melanggar hukum.  Dalam kasus  ini, coba jika yang meminta izin usaha Buddha Bar Jakarta bukan Tim Kemenangan Kampanye Fauzi Bowo, anak Sutiyoso atau anak Megawati, tapi anak seorang rakyat biasa. Saya jamin, anak tersebut tidak dapat membuka bisnisnya.

Dari sini jelas sudah, bahwa pola pemerintah saat ini masih merupakan kontinuitas dari kebiasaan pemerintah orde baru yang sarat skandal bisnis keluarga dan kroninya. Jika Si A adalaah anggota keluarga Presiden, Menteri, Gubernur, Jaksa, Kalolda, Bupati, maka mereka mendapat akses kemudahan dalam berbagai bidang. Dari jabatan, bisnis, hingga kekuasaan. Maka, sistematika pemerintah ini hanya akan “membesarkan” mereka yang telah “besar”. Membuat si kaya akan semakin kaya, dan membuat si miskin semakin miskin.

Dan bagaimana fakta di lapangan? Meskipun pertumbuhan ekonomi kita mendekati 6% selama 4 tahun ini, meski anggaran APBN telah dinaikkan hingga 2.5 kali dalam 4 tahun ini, apakah jumlah rakyat miskin berkurang?? Jawabannya TIDAK. Rakyat miskin semakin bertambah, dari 36.1 juta rakyat miskin (tahun 2004) kini meningkat menjadi 41,7 juta jiwa (Desember 2008 ). Bagaimana jumlah si kaya? Orang kaya di negeri ini semakin bertambah. Baik pengusaha maupun menteri masuk dalam jajaran orang terkaya di Indonesia dalam majalah Forbes Asia. Pemimpin negeri ini bangga bahwa Bang Ical, Pak JK, turut masuk dalam jajaran 40 orang terkaya di negeri ini, sementara 40 juta orang hanya mampu makan, minum, tinggal dengan uang Rp 6000 per hari. Jumlah kekayaan para konglomerat semakin meningkat drastis sejak 2004. Mengapa ini terjadi?? Inikah kinerja pemerintah yang berhasil mensejahterakan seluruh rakyat Indonesia? Siapakah rakyat Indonesia??

Dari sini jelas bahwa pemerintah hanya menganggap rakyat Indonesia adalah golongan si kaya dan si penguasa. Rakyat miskin kurang dianggap sebagai warga negara. Ini dikarenakan hanya mereka yang kaya dan penguasa yang mendapat akses lebih dibanding rakyat kecil dan miskin. Rakyat miskin dan kurang berpendidikan menjadi objek eksploitasi politik dan ekonomi. Rakyat ditipu dengan sejumlah iklan politik dan janji-janji palsu. Toh, puluhan ribu pasien miskin ditelantarkan, tidak dianggap sebagai manusia Indonesia. Rakyat miskin mencuri ayam diintegorasi secara keras di penjara dan dihukum tahunan penjara. Lalu, para koruptor, para pengusaha yang merugikan negara dan rakyat tidak sedikit mendapat kehormatan di Istana dan sebagian mereka dapat terbang bebas. Para tersangka koruptor menginap penjara VIP bak hotel bintag 4, sedangkan rakyat miskin yang menjadi tersangka pencuri ayam menginap bersama tikus dan bangkai di penjara. Inikah Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia? Apakah karena Agama Buddha merupakan minoritas juga tidak dianggap sebagai warga negara Indonesia, sehingga dengan mudah pemerintah dan penguasa melecehkan penganut minoritas ini?

Beginikah nasib negeri yang kita cintai ini dibawah pemimpin yang haus kekuasaan dan kekayaan? Inikah buah dari idaman para pejuang dan pahlawan kita yang telah gugur untuk merebut kemerdekaan dari penindasan dan diskriminasi penjajah?
Wahai pahlawanku yang telah tiada, apa yang harus kami perbuat untuk negeri ini? Kondisi cucu-cucu-mu hidup di era reformasi ini tidak jauh berbeda dari masa penjajahan kolonial.  Kami warga miskin hanya menjadi warga negara kelas dua. Ketika kami sakit, kami dilemparkan dari rumah sakit satu ke rumah sakit lain. Ketika kami tidak memiliki rumah tetap, rumah kami dipinggir kali dibumihanguskan oleh petugas berseragam. Ketika cucumu menjual makanan di kaki lima untuk menghidupi sesuap nasi, gerobak mereka dibawa dan digusur, tanpa memberikan solusi mengentas kemiskinan. Ketika “sang penguasa” mendirikan Buddha Bar Jakarta, majikan cucumu (pemerintah) menyambut dengan senyum seraya berkata “Ini bukti bahwa pertumbuhan ekonomi semakin membaik, wahai orang miskin lihatlah  statistik perkembangan bisnis yang terus meningkat

Apa mau dikata Bujang, Lukman (pemerintah) itu anak “ABS” (gelar DR, kaya, dan berpendidikan), sedangkan awak tidak bisa membaca dan menulis. Bagaimana aku (rakyat miskin) bisa menang berdebat dengan si Lukman? Semua fakta dapat dibalikkan atas nama harta dan kekuasaan

*********

Untuk Djan Faridz

Sayang sekali Anda yang pernah menjadi pengurus salah satu ormas Islam justru mendirikan bisnis yang dilarang dalam ajaran Islam. Anda memperdagangkan bisnis haram, lalu pada Oktober silam Anda menggunakan dana haram untuk berbuka puasa.  Dan kini Anda ingin mencalonkan diri sebagai DPD  RI (survei terakhir Si Pemilik Bar mendapat dukungan 9% suara atau perolehan suara nomor 2 terbesar).  Pantaskah seorang anggota DPD RI memiliki bisnis merusak mental bangsanya sendiri? Karena Anda kaya, karena Anda telah mengeluarkan banyak biaya untuk kemenangan Gubernur Jakarta Fauzi Bowo, dan juga pemilik Gedung Mega Institute, maka Anda memperalat para penguasa di negeri ini. Dan sangat disayangkan bahwa mengapa masyarakat Jakarta buta memilih pemimpin yang memiliki bisnis haram? Bisnis yang merusak moral dan mental bangsa Indonesia. Dan sangat disayangkan bahwa “hukum” dinegeri ini telah diinjak-injak oleh para pemimpin negeri ini.

Untuk Puan Maharani

Anda menjadi caleg DPR RI 2009 Dapil Jawa Tengah, apakah bisnis Buddha Bar pantas bagi seorang caleg DPR? Saya sendiri tidak sudi memiliki anggota dewan terhormat 2009-2014 yang memiliki bisnis menjual barang haram dan melecehkan agama lain. Saya tidak rela  Senayan yang menjadi tempat penampung aspirasi aspirasi rakyat Indonesia diisi oleh orang-orang yang tidak memiliki hati nurani. Dan sebaiknya Puan Maharani mengundurkan diri dari pencalegan DPR RI? Dan untuk PDIP, inikah namanya reformasi partai Anda yang sesungguhnya?

Untuk Bu Mega dan Pak Taufik dan Bang Yos

Bagaimanapun juga, kami tetap menghormati Anda (Bu Mega) yang pernah menjadi presiden di negeri ini, begitu juga Bang Yos yang selama dua periode menjabat sebagai Gubernur Jakarta. Namun, jangan kurangi rasa hormat kami kepada Anda dengan Anda diam terhadap tingkah lakuh putri kesayangan Anda.

Putra-putri terbaik Anda telah memiliki saham bisnis Buddha Bar yang menjual minuman memabukkan sejak 3 bulan silam. Apakah ini contoh pemimpin baik dalam mengurus keluarganya? Jika belum jadi Presiden saja, anak-anak Anda dengan mudah mendapat izin bisnis dunia hitam dengan melecehkan suatu agama, APAKAH INI PANTAS DISEBUT PEMIMPIN DI INDONESIA? Jika pernah menjadi Gubernur Jakarta,  lalu anak Anda mendirikan Buddha Bar di Jakarta, lalu jika Anda memimpin Indonesia, apakah anak dan kroni Anda tidak tergiur mendirikan “Buddha Bar”- “Buddha Bar” di setiap daerah Indonesia?

Dan apakah rakyat Indonesia pantas memiliki Presiden dengan sembako murah, namun disisi lain anak-anaknya berbisnis bar? Apakah rakyat Indonesia yang miskin pantas dipimpin oleh pemimpin yang memiliki keluarga bermasalah? Dan akhir kata, wahai pemerintahku dan partai-partai politik, tobatlah…….jangan kau selalu bersembunyi dibawah selimut ketika ada masalah dan baru tampil dalam iklan-iklan besar untuk saling mengklaim keberhasilan!!

Terakhir……… jika Djan Farids dan Puan Maharani terpilih sebagai anggota DPD dan DPR RI, dan begitu juga calon-calon wakil rakyat yang bermental seperti mereka, kita akan tahu seperti apa Indonesia ke depan? Jika para wakil rakyat di DPR dan DPD serta para pemimpin seperti Bupati, Gubernur, Menteri hingga Presiden bermental ‘bar dan KKN’, maka tidak heran jutaan penduduk Indonesia semakin miskin, sedangkan mereka para penguasa akan bertambah kaya.

echnusa – 28 Oktober Februari 2009
Terima kasih:

Update  (Sampling Balasan komentar)

Terima kasih atas komentar dan masukan teman-teman yang telah mencapai lebih dari 100 komentar yang masuk. Ini merupakan pandangan pribadi saya secara meluruh terhadap fenomena ini. Saya hanya ingin mengulas sebuat akibat dari suatu sebab-sebab yang saling terkait.
*******
Tiap orang akan memilik persepsi tersendiri terhadap fenomena ini, apakah large minded atau narrow minded, tergantung persepsi Anda dan saya. Karena menurut saya dan saya tanya kepada teman-teman Buddhis, patung Buddha merupakan simbol dalam Agama Buddha, bukan Buddha sesungguhnya. Namun simbol tersebut dihormati oleh umat Buddha.
Begitu juga kain merah dan putih (Sang Merah Putih), suatu karya seni sederhana, namun kita menghormati sebagai lambang negara Indonesia. Merah Putih bukanlah Tuhan Indonesia, tapi makna dibalik merah dan putih sangat berarti bagi Indonesia. Bahkan jika Anda sengaja membakar dan melecehkan Bendera Merah Putih, maka Anda siap untuk dipenjara. (padahal cuma dua lembar kain) Itulah Bung, dalam ruang lingkup ini, nilai simbolis lebih tinggi daripada nilai realnya. Sehingga sungguh tidak etis jika kita menghina simbolis-simbolis yang telah menjadi konvensi, tradisi, kultur bahkan kepercayaan masyarakat.
*******
Begitu juga, bagi umat Buddha, patung Buddha memiliki makna yang tidak hanya sekadar artistik, tapi lebih dari itu yakni spiritualitas. Mohon, teman-teman dapat mengerti hal ini, saya rasa sejak SD kita sudah dikenalkan tentang makna simbol-simbol negara, budaya, dan agama. Begitu halnya lambang salib, meskipun terbuat dari kayu, namun bagi umat Kristiani memiliki makna lebih dari sekadar kayu.
Menjadi bagian dari human society, seharusnya kita peka dengan lingkungan interaksi kita, peka terhadap norma, dan peka terhadap toleransi. Jika kita telah kehilangan nilai ini, maka itu akan mempengaruhi keluarga kita, sahabat kita. Lalu meluas ke masyarakat dan akhirnya bangsa Indonesia. Ingat, tindakan kekeliruan satu orang saja dapat mengakibatkan kefatalan luar biasa. Karena Hitler sendiri, maka jutaan orang tewas dalam Perang Dunia. Karena seorang pengaruh Mahatma Gandhi, maka rakyat India bersatu padu melawan imperaliasme Inggris. Sehingga, kecacatan yang mencolok pada diri seorang pemimpin dapat mengakibatkan cacat yang luar biasa bagi negeri ini.
*******
Karena saya dalam proses belajar menulis, maka saya memberi kesempatan rekan-rekan untuk memberi tanggapan dan masukan, sehingga semua kritik konstruktif rekan-rekan menjadi referensi pembaca yang lain.
Dan berhubungan saya lahir dan besar di Indonesia dan menjadi warga negara Indonesia, maka saya berhak untuk beropini dan berpolitik selama opini saya dapat dipertanggungjawabkan. Melalui tulisan ini, saya berusaha untuk saling berbagi dan belajar sesama rekan, terutama dalam pendidikan demokrasi kita yang lebih baik.
*******
Khusus untuk tanggapan Sdr. Bruno, saya harap proses hukum dapat membongkar semua sebab musabab ini, sehingga pernyataan bahwa Renny Sutiyoso tidak memiliki saham sepersenpun pada franchise Buddha Bar perlu diselidiki secara mendalam.  Mengenai kok masalah Buddha Bar saya kaitkan dengan isu kemiskinan dan sejenisnya, sudah saya jelaskan bahwa adanya kong-kali-kong kebijakan dan izin usaha yang menambah daftar kemerosotan ekonomi bangsa. Kebijakan-kebijakan pro-pengusaha kaya dan asing dengan mengabaikan kepentingan  bangsa dan negara merupakan tindakan menjeremus kemiskinan rakyat kecil.  Ini merupakan hubungan saling terkait atau dependen arising.
Seperti Sdr. Mitha jelaskan mengenai etika penggunaan nama Agama, saya kira sudah cukup jelas. Umat beragama umumnya masih mentolerir penggunaan nama Agama untuk bisnis-bisnis yang tidak melanggar etika dan akidah agama yang bersangkutan. Misalnya Sekolah Kristen ***, Rumah Sakit Islam ****, Buddha Vegetarian Restaurant ****. Namun, jika penggunaan nama atau tokoh agama dalam bidang-bidang ekonomi yang melecehkan nilai-nilai agama maka hal ini sangatlah tidak etis dan sudah sepantasnya dijerat hukum sesuai UU yang berlaku, seperti Buddha Bar and Night Club, “Nama Agama” Discotic, “Nama Nabi” Gambling, “Nama Agama” Prostitution Centre, dan sejenisnya.
Dan saya kurang sependapat dengan Sdr. Bruno yang mengatakan bahwa “
pendirian usaha semacam itu (restaurant), adalah merupakan kreasi dan inovasi serta penciptaan lapangan kerja bagi masyarakat Indonesia yang sangat membutuhkan untuk menolong terlepas dari krisis ekonomi.” Secara pribadi, saya kira opini seperti ini tidak cocok diterapkan dalam kultur Timur. Apakah etis membangun perekonomian diatas pelecehan agama dan budaya? Apakah cukup kreatif membangun bisnis dunia hitam untuk menopang perekonomian nusantara ini? Masih banyak usaha kreatif, inovatif yang dapat dilakukan oleh para pemimpin negeri ini agar dapat dicontoh oleh anak bangsa kita. Berbagai industri pengolahan dan rekayasa pertanian dan perkebunan, industri hiburan refreshing alam (back to nature) bagi masyarakat kota, industri rekreasi anak-anak, toh…sama-sama hiburan, namun yang satu adalah merusak mental bangsa, namun yang satu lagi “menentramkan sekaligus mendamaikan” jiwa anak bangsa agar dapat merasakan rekreasi alam.
So….berinovasi dan kreasi dalam ekonomi dan bisnis itu penting, namun jangan sampai bisnis tersebut menghancurkan mental bangsa (bar, diskotik, prostitusi, narkoba, dvd porno, judi) serta melecehkan baik secara langsung maupun simbolis terhadap unsur agama, budaya, suku dan negara.|

Trims – 18 March 2009

******

Update Tulisan 6 April 2009

About these ads
192 Komentar leave one →
  1. kevin permalink
    Juli 18, 2010 2:53 PM

    gak pnya otak, pergi aja kelaut…
    pantesan rakyat2 indonesia masih tertinggal dibanding negara2 lain
    yang jadi presiden aj tak bsa mendidik anaknya, apalagi mendidik bangsa dan negara ?
    SLAMAT YA bgi pra pendiri Buddha Bar, karma menanti di akhirat

  2. Juli 20, 2010 12:36 PM

    Tokoh negaranya aja begitu…………….?

  3. robert permalink
    Juli 28, 2010 11:58 AM

    Keren tulisan Anda, cukup berbobot melambangkan intelektual sejati yang menulis ini, semuanya didasarkan fakta dan saya sangat mendukung tulisan Anda ini. Salam

  4. yohanna permalink
    Agustus 5, 2010 3:56 PM

    ooooo gitu toh critanya.hmmmm makasih. Untuk penulis: Anda cukup sopan dalam menuliskan semua uneg2.sebaiknya memang tidak menggunakan simbol-simbol agama. semoga ada follow upnya n segera selesai

  5. Agustus 5, 2010 6:47 PM

    jabon

    ok lah kalau begitu salam kenal saja ya dari saya …

    jabon

  6. Dharma Sinha permalink
    Agustus 6, 2010 12:18 AM

    dasar manusia2 munafik ! jan fariz , kamu ngaku dari PPP, Partai Islam kok kelakukan kaya orang Israel, tokoh2 PPP kok diem aja??? udah disumpel pakai duit? Pantesan pemilu kaah melulu, tidak diridhoin Allah !
    Megawati! anakmu si puan brengsek kaya gitu kok didiemin aja ! kamu membela wong cilik atau wong licik??? jangan omdo ! Sok suci, sok pinter!
    Sutiyoso ! Anak mau apa kok diikutin aja ?? Pikir, pantes engga ? Bikin malu tau !

    kalian semua ! ngaku tokoh nasional, tapi engga tau malu ! perkataan tidak sesuai dengan kelakuan ? Kenapa tidak ganti aja pakai nama milik kalian sendiri? Muhamad bar . Soekarno bar? Busway bar? Takut yah ama FPI? kasian kalian semua ..takut sama uang dan ormas tapi tidak takut dengan Allah, buat apa sholat ? Buat apa puasa? cuma agar kelihatan seperti orang alim padahal kelakuan bejat!

  7. racing permalink
    September 13, 2010 8:54 PM

    yg penting enak di dunia, ngak mikir di akherat dan rakyatnya,
    padahal hidup pakai duit dari rakyat
    mau jadi pemimpin pakai duit, jadi sudah jadi lupa slogan dan janjinya, yg korban rakyat
    klu org partai jujur bnyk musuh,klu oke saja bareng2 bagi duit unt tutup mata dan mulut

  8. Februari 17, 2011 5:12 PM

    indormasinya menarik .. ;-)

  9. November 7, 2012 11:51 AM

    This is very interesting, You’re a very skilled blogger. I’ve joined your rss
    feed and look forward to seeking more of your wonderful post.
    Also, I have shared your site in my social networks!

  10. Maret 27, 2014 11:43 PM

    Semua orang yang mendukung berdirinya BUDHA BAR.mereka termasuk orang yang tidak sepenuhnya beragama.karena jelas umat budha keberatan dengan nama itu.kita hidup di negara yang beragama.seharusnya saling menghormati.

Trackbacks

  1. Top Posts « WordPress.com
  2. Siapa bilang SBY-JK Bersih, Nih datanya.. « Revoltase, Sang Murid Alam

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 1.039 pengikut lainnya.

%d blogger menyukai ini: