Skip to content

Analisis Faktor Penyembuhan Air Ponari

Februari 22, 2009

Selayang Pandang

  • Pernahkah kita mengalami kondisi menjadi jauh lebih sehat sesaat atau bahkan sebelum diperiksa dokter langganan kita? Meskipun belum makan obat, tubuh kita sudah mengalami penyembuhan.
  • Pernahkah kita mengalami kondisi menjadi begitu kuat dan kreatif dalam beraktivitas, ketika kita dalam kondisi terdesak?
  • Pernahkah kita menjadi begitu mudah cerdas dan bersemangat, ketika seseorang yang kita idolakan datang dan memberikan pelajaran atau kuliah?
  • Mengapa seorang pasien yang mengalami penyakit kronis, akhirnya sembuh setelah menenemui seorang dukun atau percaya pada jimat?
  • Mengapa seseorang pasien juga bisa sembuh setelah bertemu dengan pemuka agama handal?
  • Mengapa juga seseorang dokter dapat menyembuhkan seorang yang kronis?

Namun:

  • Mengapa seseorang belum tentu sembuh meskipun telah berobat kepada dokter profesional?
  • Mengapa seseorang yang alim juga mengalami penderitaan sakit yang luar biasa meskipun telah menjalani praktik-praktik keimanan?

Obat dan Gula, Efeknya sama

Dalam salah satu penelitian tim psikologi di Barat mengenai sugesti pengobatan, memperoleh hasil yang sangat menarik dan mengejutkan. Penelitian ini melibatkan 1000 pasien dengan penyakit ringan (sakit kepala, deman, pusing dan sejenisnya). Dari 1000 orang pasien dengan penyakit ringan (kalau penyakit berat akan memiliki resiko dan pastinya melanggar kode etik) seperti di atas, sebagian pasien diberikan obat penurunan panas dan sakit (mengandung paracetamol dll), sedangkan sebagian lagi hanya diberikan “obat palsu”, obat yang terbuat dari gula dan komponen non-obat. Dan ternyata, sebagian besar mereka yang mengonsumsi “pil gula” mengalami penyembuhan yang serupa dengan mereka yang mengonsumsi obat sesungguhnya.

Dari penelitian tersebut, dapat disimpulkan satu hal yang penting yakni untuk sembuh, kita perlu mengembangkan energi/emosi/pikiran positif akan kesembuhan atau dalam alam bawah sadar dikenal sebagai sugesti. Kekuatan sugesti untuk sembuh, akan mentriger dan menaktifkan DNA-DNA penyembuh (penelitian Prof. Kazuo Murakami). DNA akan mengirimkan instruksi kepada sistem imunitas tubuh, lalu berkoordinasi dengan organ-organ tubuh untuk membuat kondisi yang menyembuhkan. Sehingga, dalam proses ini, sangat mungkin sekali racun-racun, dioksidan tubuh akan keluar dari tubuh kita. Makanan/minuman alami yang dikonsumsi akan sangat membantu proses pembersihan sel-sel atau zat racun dalam tubuh kita.Sehingga dalam dunia medis maupun pengobatan alternatif, air putih (mineral), sayur-mayur, buah-buahan, menjadi makanan/minuman pendampin dalam penyembuhan.

Misteri Ponari dan Pelajarannya

Cukup banyak orang Indonesia yang berpendapat bahwa fenomena dukun cilik Ponari merupakan murni kekuatan Allah/Tuhan yang dimanifestasikan oleh Ponari lewat batunya. Golongan ini cenderung menolak analisis yang lebih mendalam mengenai misteri batu yang dimiliki Ponari. Tentu, sah-sah saja jika banyak yang berpendapat seperti itu. Ini adalah alasan klasik, dan cenderung menghambat kemajuan seseorang untuk belajar dari hal-hal yang sedang terjadi dan mengabai usaha mencari pengetahuan yang lebi banyak.

Karena jika ingin berbicara tentang Allah/Tuhan, maka semua aspek kehidupan bersangkut paut dengan Tuhan/Allah itu sendiri. Hanya saja, apakah keyakinan kita kepada Allah/Tuhan menghambat kita untuk maju menjadi lebih baik atau sebaliknya. Kualitas keyakinan seseorang pada Tuhan/Allah, dapat membuat ia menjadi tertutup, arogan, berpikiran sempit. Namun, di sisi lain justru keyakinan seseorang pada Tuhan/Allah dapat membuat pribadi seseorang lebih terbuka, bersyukur, rendah hati, dan terus ingin maju. Pemahaman dan penghayatan seseorang terhadap ajaran agama yang membentuk keyakinan akan berbeda dengan orang lain. Meskipun memiliki agama yang sama, keyakinan, pemahaman dan penghayatan akan berbeda.

Dan menanggapi kasus batu pada Ponari, sebenarnya ada banyak hal yang dapat kita lakukan dan kita pelajari, bukan hanya sekadar berhenti dengan argumen dan ‘tembok’ keyakinan. Jika kita ingin berpikir secara lateral, fenomena Ponari dapat menjadi hikmah sekaligus bahan pelajaran yang (mungkin) sangat berguna. Jangan kita hanya berhenti dengan spekulasi, kesimpulan maupun  persepsi kita yang sempit.

Saya sendiri sangat prihatin ketika melihat tayangan Trans TV yang menunjukkan mereka sedang mengambil air omberan (bekas mandi) Ponari. Sedangkan dari ribuan orang yang menerima air celupan Ponari, anak-anak yang sakit kronis tidak mengalami penyembuhan sama sekali, bahkan seorang bocah tewas meskipun telah meminum air Ponari. Efek obat hanya dirasakan mereka yang percaya pada air dan kekuatan batu Ponari. Sedangkan, anak-anak yang sakit, tentu belum memiliki sugesti yang cukup untuk menyembuhkannya.

Pemerintah ataupun peneliti seharusnya dapat mengambil momen kesempatan ini untuk melakukan berbagai pengamatan dan pengujian . Pertama uji kimia, kandungan apa yang dimiliki batu Ponari tersebut. Kedua uji pasien, penyakit apa saja yang sembuh setelah minum air celupan batu tersebut. Apakah pasien tersebut benar-benar sembuh atau hanya berefek sementara. Jika, dalam penelitian dan pengamatan tersebut ditemukan bahwa batu tersebut (kandungan kimia) yang unik dan terbukti pasien sembuh jangka panjang, maka pemerintah bersama peneliti dapat mencari atau memproduksi zat-zat kimia yang sejenis dengan batu tersebut (dan jangan lupa dipatenkan atas nama peneliti Indonesia dengan nama produk Ponari).

Atau, kasus pengobatan Ponari hanya lebih pada kekuatan sugesti dan emosi positif setiap pasien, sehingga mampu mengaktifkan DNA penyembuhan dan secara bersamaan meminum air batu tersebut akhirnya sembuh (+ “penyembuhan” Tuhan/Allah).

Refleksi Akhir

Jadi, sebelum kita merasakan, mengalami pengobatan ala Ponari serta melalui hasil percobaan/penelitian, tidaklah etis untuk berspekulasi atau menghujat mereka yang menaruh harapan pada Ponari. Justru melalui fenomena ini, sangat mungkin Indonesia dapat memecahkan misteri ini sekaligus memproduksi obat “Ponari” setelah mengetahui kandungan kimianya.

Toh, disisi lain, ini hanya membuktikan bahwa iklan Partai Demokrat mengenai peningkatan fasilitas dan layanan kesehatan hanyalah bualan politik saja. Mereka yang menderita diabetes, hepatitis, TBC, struke, tumor, tidak mampu berobat ke rumah sakit atau dokter karena mahalnya biaya obat (sebenarnya diabeters, TBC dan berbagai penyakit lain dapat disembuhkan secara medis, namun biayanya terlalu mahal bagi 35 juta masyarakat miskin) . Sehingga, puluhan ribu orang hanya mencoba mengadu “keberuntungan” dengan biaya sangat murah, yakni rata-rata Rp 5000 rupiah.

echnusa -22 Nov 2009

About these ads
3 Komentar leave one →
  1. Februari 27, 2009 7:16 PM

    Trims infonya…
    Iyap bener,seharusnya pmerintah bs lbh mprhtkn rkyt kcl,,tdk hy mberi janji2


    Re: Rifa_19

    Trims kembali

  2. syaiful permalink
    Maret 5, 2009 8:38 AM

    Setuju dan trim,s,, skrng kita tunggu aja apa langkah dari Pemerintah kita tentang fenomena Ponari ini…………

  3. strett permalink
    Desember 29, 2009 2:09 PM

    ponari apaan sih?

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 1.038 pengikut lainnya.

%d blogger menyukai ini: