Skip to content

Mahasiswa ITB Tewas : Perlukah Ospek?

Februari 10, 2009

Saya turut bersimpati atas meninggalnya teman, sahabat, generasi muda,  mahasiswa Indonesia, (Alm) Dwiyanto Wisnugroho (22 tahun) pada Minggu malam, 8 Feb2009. Dwiyanto merupakan mahasiswa Teknik Geodesi  ITB angkatan 2007 yang menghembuskan nafas terakhir dalam serangkaian kegiatan pelantikan Ikatan Mahasiswa Geodesi (IMG) di Desa Pagerwangi, Kecamatan Lembang, Kabupaten Bandung Barat.

Sampai saat ini, masih belum dapat memastikan penyebab langsung kematian dari Dwiyanto. Pihak RS Borromeus Bandung kesulitan memberikan penjelasan lebih lanjut penyebab kematian, karena keterbatasan bukti medis disisi lain keluarga korban menolak jenazah (Alm) Dwi diautopsi. Namun, kisah tragis tersebut terjadi tatkala dalam kondisi sakit, Dwiyanto tetap mengikuti serangkaian kegiatan (sejenis outbond) berat di medan yang memiliki kontur permukaan yang berbukit. Dengan perjalanan panjang (dengan jalan jongkok), tentu menguras energi ekstra dan kondisi tubuh yang fit.

Tentu saja, dengan kondisi yang tidak fit mengarungi alam Lembang, berbagai kemungkinan fatal dapat terjadi, hingga yang namanya maut masuk dalam daftar kemungkinan fatal tersebut. Meskipun sempat mendapat pertolongan Tim Medis lapangan di Lembang dan kemudian langsung di bawa ke RS Borromeus Bandung, ternyata detakan jantung Dwiyanto telah berhenti untuk selama-lamanya. Meninggalkan luka sedih mendalam pada keluarga, kerabat dan kawan.

Kematian mahasiswa Dwiyanto dalam rangkaian acara kaderisasi/ospek/orientasi untuk menjadi anggota IMG ITB mendapat respons negatif baik dari masyarakat luar maupun petinggi kampus “Ganesha”. Sebagian masyarakat beropini (bahkan menvonis) bahwa kematian Dwiyanto merupakan bentuk pembunuhan, kebiadapan, ataupun dismoralisasi mahasiswa terpelajar terhadap sesamanya. Pihak kampus pun berusaha melepaskan tanggung jawab dengan menyatakan bahwa kegiatan acara tersebut adalah ilegal. Namun, sampai saat ini, pihak kepolisian masih belum bisa memastikan dan membuktikan apakah terjadi pembunuhan, penganiayaan atau merupakan kecelakaan yang disebabkan rendahnya koordinasi dan pemantauan acara.

Terlepas apakah tragedi kematian Dwiyanto menjelang Dies Natalis ITB ke-50 sekaligus wacana pemberian gelar doktor kehormatan pada Pres. SBY (akhirnya ditunda setelah Pilpres 2009 ) merupakan tindakan pidana ataupun kecelakaan, diharapkan semua pihak dapat melihat dan mempelajari tragedi ini secara telaten dan serius. Jika terbukti kematian Dwiyanto merupakan tindakan kekerasan atau penganiayaan, maka ranah hukum dan kebijakan kampus menjadi solusi mendasar (selain solusi komplementer). Namun, dari informasi dan berita yang telah dirilis,  tidak ada unsur kekerasan/pemukulan/penganiayan atas kematian Dwiyanto. Namun  lebih pada rendahnya kualitas ‘risk management’ panitia acara dalam menanggapi segala kemungkinan yang terjadi.  Selain itu, hal ini terjadi akibat adanya jurang kepentingan aspirasi yang berbeda antara himpunan (ikatan) mahasiswa dengan pihak rektorat.

Perlukan Ospek?

OSPEK atau Orientasi Studi dan Pengenalan Kampus merupakan program khusus bagi mahasiswa baru sebelum masuk kampus untuk mengenyam pendidikan. Selain OSPEK untuk kampus, terdapat juga Ospek Jurusan (Osjur) di ITB yang menjadi program untuk menerima anggota baru dalam Ikatan/Himpunan Mahasiswa setiap jurusan. Selama ini, program OSPEK untuk Kampus merupakan program yang sangat bermanfaat bagi mereka yang baru melepaskan pakaian seragamnya (masa SMA) menuju dunia edukasi kebebasan yang bertanggungjawab (perguruan tinggi). Dari sinilah, mahasiswa baru dibekali semangat-semangat (value and morality spirit) tentang mahasiswa dan kampus itu sendiri. Hal yang mendasar adalah memberikan pemahaman baru kepada mahasiswa baru bahwa mengembang nama “MAHA-SISWA” bukanlah gelar biologis atau tahta Namun, “maha-siswa” merupakan gelar seorang pelajar yang secara bersamaan mengabdi dan meneliti untuk masyarakat.

Kemuliaan kegiatan tersebut kerap kali disalahgunakan oleh segelintir mahasiswa dengan melakukan penyelewengan dan penyimpangan dari tujuan yang sesungguhnya yakni “menabuh benih” Tri Dharma Perguruan Tinggi  (pendidikan, penelitian, pengabdian masyarakat). Dan selama ini program ospek untuk Kampus mampu memberikan bekal kontribusi bagi mahasiswa. Dan dalam beberapa tahun terakhir, tidak ada tindakan kekerasan yang terjadi pada kegiatan orientasi kampus ITB (OSKM – Orientasi Studi Keluarga Mahasiswa). Sedangkan kegiatan yang diikuti oleh (Alm) Dwiyanto merupakan Ospek Jurusan (kepentingan ikatan mahasiswa jurusan sekaligus meningkatkan “social networking” dan “skill perfomance’ bagi anggota baru).

Melalui tragedi kematian Dwiyanto bukan berarti semua kegiatan Ospek di kampus mengandung unsur kekerasan, pembodohan, kriminalitas, premanisme, dan segala bentuk hal-hal negatif. Jika menelusuri sejarah Ospek (sebelumnya PROSa- Program Orientasi Studi Mahasiswa,  POS- Pekan Orientasi Studi, atau Mapram – Masa Pra Mahasiswa), maka ospek kampus (OSKM) masa kini (misalnya di ITB) telah mengalami reformasi sistem, kegiatan yang sangat progresif. Tidak ada kegiatan kekerasan, justru mahasiswa mendapat bekal ‘Anda adalah MAHA-SISWA” yang tidak akan terlupakan. Tidak akan lupa dengan “Mentari”**, dan menjadi ‘memory alam bawah sadar” bahwa aku belajar demi untuk masyarakatku, bangsaku dan almamaterku.

Sehingga dalam hal ini, saya berpendapat bahwa program OSPEK masih penting dilaksanakan mengingat tujuan dan manfaatnya yang besar. Namun, jika terdapat penyelewengan dan penyimpangan kegiatan, maka kegiatan tersebut harus direformasi, dirombak dan seterusnya.  Agar kegiatan ini memiliki manfaat dan menghindari tindakan yang menyimpang, maka sangat diperlukan komponen Rektorat, KM (Keluarga Mahasiswa) atau BEM (Badan Eksekutif Mahasiswa) dan Senat Mahasiswa untuk melakukan pengawasan program-program kaderisasi atau ospek.

Mengapa Ospek Masih Perlu?

Seperti dijelaskan di atas, manfaat mendasar dari kegiatan sejenis Ospek Kampus (ataupun beberapa ospek jurusan) adalah turut mentriger pembentukan karakter mahasiswa terpelajar dengan nilai-nilai sosial masyarakat yang hampir tidak diperoleh dari para dosen. Kita tahu bahwa, sebagian besar dosen hanya mengajarkan ilmu pengetahuan, mengariskan topik-topik kuliah, materi UTS dan UAS, lalu mahasiswa hanya belajar untuk mendapat nilai terbaik A atau B. Jika hanya ini yang diperoleh dari kampus, maka ini membuat mahasiswa  cenderung menjadi kurang peka terhadap sosial, menjadi apatis terhadap kesengsaraan masyarakat. Hal ini akan membuat mahasiswa cerdas  (IQ tinggi), namun mental sosial (social quotient), kepribadian (EQ) menjadi lemah. Ini bukan berarti mereka yang mengikuti kaderisasi memiliki sikap yang lebih baik, namun kaderisasi (direformasi) menjadi hal yang menunjang atas perbaikan.

Sehingga, kemahasiswaan hanya menjadi alat untuk mendapat pekerjaan dengan gaji yang besar, kedudukan tinggi, dan kemewahan yang menggiurkan. Kemahasiswaan hanya akan menghasilkan entreprenuer ataupun profesional employer yang hanya menisbakan masyarakat yang telah membantu pembiayaan pendidikan mereka (alokasi anggaran pendidikan). Terlebih lagi, dengan mahalnya pendidikan, maka tidak sedikit mahasiswa kini yang hanya mencari balik ‘investasi’ yang ditanam selama perkuliahan, hanya mencari pekerjaan untuk memperkaya diri, namun jarang menciptakan lapangan pekerjaan bagi masyarakat pengganguran. Dan fenomena ini telah menjadi fenomena umum, dimana kampus hanyalah menjadi alat untuk mengembleng seseorang secara profesionalitas agar mendapat pekerjaan. Kampus telah kehilangan menjadi pencetak  “sinar mentari” bagi “kelamnya” kehidupan masyarakat.

Oleh karena itu, sudah seyogyanya aktivitas Ospek kembali pada nilai-nilai luhur yang akan mentriger ‘sinar-sinar harapan baru” bagi masyarakat. Setiap ospek hendaknya dibekali nilai-nilai ini yang tidak akan pernah diperoleh dari text-book kuliah, slide internet, ataupun media TV kita yang hanya berisi gosip,kekerasan dan penipuan.  Idealisme mahasiswa kian hari kian luntur. Hilangnya ruh mahasiswa pun terlihat, ketika kasus meninggalnya Ketua DPRD Sumut, Aziz Angkat, ternyata mendapat bantuan dari kalangan mahasiswa yang mendapat bayaran. Apakah ini namanya mahasiswa? Apakah dengan begitu mudah seorang mahasiswa dibayar untuk melakukan demonstrasi demi kepentingan politik dan ekonomi oleh golongan tertentu??

Jadi tanpa OSPEK, maka mahasiswa cenderung menjadi mesin pekerja. Dengan OSPEK yang menyimpang, maka mahasiswa cenderung menjadi perusak dan penghancur pendidikan. Namun, dengan reformasi OSPEK serta sinergi antara pihak Rektorat, Senat Mahasiswa, BEM, beserta unit kemahasiswaan, maka akan terlahirlah “Mahasiswa berilmu pengetahuan” yang disertai dengan etika dan pengabdian sosial masyarakat. Ini bukanlah tanggung jawab mahasiswa semata, rektorat semata, pemerintah semata, atau masyarakat semata. Namun, ini adalah tanggungjawab kita bersama. Telusurilah dengan seksama, apakah “OSPEK masa kini” (secara umum di perguruan tinggi negeri) memiliki manfaat yang lebih besar atau sebaliknya?? Adakah hal-hal yang perlu dirombak??
— Kematian Dwiyanto bukan berarti pembekalan nilai-nilai kekuatan mahasiswa (kontrol kebijakan pemerintah dan sumbangsih masyarakat) menjadi mati.
— Kematian Aziz Angkat bukan berarti tidak ada demonstrasi yang bijak dalam demokrasi yang dinamis.

echnusa , 10 Feb 2009

Sebuah lagu dari Iwan Abdurahman “Mentari”

Mentari menyala disini,
Disini… di dalam hatiku,
Gemuruh apinya di sini ,
Di sini.. di urat darahku

Meskipun tembok tinggi mengurungku
Berlapis pagar duri di sekitarku
Ttak satupun yang mampu menghalangiku
Bernyala di dalam hati ku

Hari ini, hari milikku
Juga esok masih terbentang
Dan mentari kan tetap menyala
Disini, di urat darahku

Update:
Kronologi Kematian (Alm) Dwiyanto (Sumber : TempoInteraktif.com)

Berikut kronologis tewasnya Dwiyanto Nugroho yang disampaikan Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan dan Alumni ITB Widyo Nugroho Sulasdi dalam jumpa pers di Gedung Rektorat ITB, Selasa (10/2). Kronologis ini, menurut Widyo, berdasarkan keterangan sejumlah panitia acara mahasiswa saat dipanggil Komisi Penegakan Norma Kemahasiswaan ITB kemarin.

5 Februari
Ketua kegiatan Ikatan Mahasiswa Geodesi mengajukan izin ke Kepala Desa Pagerwangi untuk kegiatan out bound di wilayah tersebut pada 7-8 Februari. Acara pada Sabtu dan Minggu itu disetujui Ketua Program Studi Geodesi dan Geomatika Wedyanto Kuntjoro namun tidak dilaporkan ke Fakultas.

7 Februari, mahasiswa angkatan 2007 sebanyak 82 orang dikumpulkan panitia acara di Lebak Siliwangi pada pagi hari. Sebelum berangkat ke desa Pagerwangi, Lembang, seluruh calon anggota Ikatan Mahasiswa Geodesi yang akan dilantik itu diperiksa kesehatannya oleh Atlas Medical Pioneer dari Fakultas Kedokteran Univeristas Padjadjaran. Hasilnya, ke-82 mahasiswa tersebut dinyatakan dalam kondisi sehat.

Pukul 12.00 WIB, seluruh mahasiswa diberangkatkan dengan angkutan kota ke lokasi yang disebut lapangan dua. Perjalanan kemudian dilanjutkan dengan berjalan kaki antara 1-2 kilometer. Baru berjalan sekitar 400 meter, Dwiyanto terjatuh. Ia lalu diminta untuk minum dan istirahat sebentar. Selanjutnya ia dipapah dua orang ke lokasi.

Pukul 14.10-14.40 WIB, panitia meluangkan waktu bagi peserta acara untuk makan dan sholat. Sesudah itu, saat melanjutkan perjalanan ke Pos 1, Dwiyanto masih sulit berjalan. Ia kembali dipapah dua orang melewati jalan menanjak, dan punggungnya diketahui sakit. Singkat cerita, ketika sampai di Pos 6, Dwiyanto hanya duduk-duduk dan belajar jalan. Keadaannya sudah parah.

18.20-18.45 WIB, Dwiyanto dibawa ke pos kesehatan dan diperiksa tim Atlas Medical Pioneer. Pinggang kirinya dikeluhkan sakit. Walau begitu, ia tetap melanjutkan perjalanan ke pos terakhir panitia di SMA Mekarwangi.

19.40-20.30 WIB, Dwiyanto pingsan. Tubuhnya dibaluri minyak kayu putih namun tetap tidak bisa berdiri.

00.00 WIB, Dwiyanto kembali diperiksa tim kesehatan. Ketika sadar dan ditanya, Dwiyanto menyatakan ingin pulang.

01.30 WIB, Dwi dibopong ke jalan pulang.

02.30-02.55, sambil menunggu kendaraan pengangkut dan tim medis, kondisi Dwiyanto makin kritis. Dia tidak bisa lagi berkomunikasi. Dari mulutnya keluar busa kekuningan, detak nadi tidak teraba oleh tim medis, reflek terhadap cahaya minus, badannya telah dingin, dan sudah tidak bernafas. Selanjutnya korban dilarikan dengan kendaraan bak terbuka ke Rumah Sakit Santo Borromeus Bandung yang dekat dengan kampus ITB

**Catatan**
Dari kronologi tersebut, tidak ada tanda-tanda kekerasan pada Dwi. Yang ada adalah Dwi harus mengarungi medan yang berat dalam kondisi tubuh yang tidak fit. Oleh karena itu, jauh lebih baik jika pihak keluarga memberi izin otopsi jenazah Dwi, untuk mengetahui penyebab pasti kematiannya.

Revised : 14 Feb 2009

About these ads
45 Komentar
  1. Mahasiswa permalink
    Februari 18, 2009 11:23 AM

    Dikampus saya OSPEK diadakan 3 KALI!!!
    1) Ospek menjadi mahasiswa baru (TPB)
    2)Ospek Fakultas
    3)Ospek Jurusan
    Saya justru menikmati kegiatan itu dan bagi saya pengalaman itu menjadi kenangan yang tak terlupakan selama saya menjadi Mahasiswa. Saya juga yakin teman-teman kampus saya merasakan hal yang sama. It’s really fun and enjoyable activity ^_^

    Saya tidak tahu apa yang menyebabkan Ospek dilarang di ITB sejak beberapa tahun lalu. Tapi saya kira itu terlalu berlebihan karena kegiatan kaderisasi tetaplah penting. Mungkin isi kegiatan OSPEK nya yang perlu diperbaiki.

  2. Bapaknya stabilisator negara permalink
    Februari 19, 2009 2:08 PM

    Untuk anakku stabilisator negara..

    Nak sudah ku pesankan ke padamu.
    1. Klo ga lulus masuk itb jangan dendam kepada sainganmu yang dulu.
    2. Klo ga dapat kerjaan juga karena alumni itb. Hiks..hiks..tetap tabah ya nak..Memang garis nasibmu sudah ditakdirkan seperti itu.
    3. Tenangkan dirimu nak..Hidup masih panjang..

    Untuk anakku yang malang..”Stabilisator Negara”

  3. Stabilisator Negara Spec Ops 2 permalink
    Februari 19, 2009 2:38 PM

    Makna Ospek yg sebenarnya adalah :
    1. Mengubah perilaku lama menjadi perilaku yang baru (ke arah yang positif).
    2. Mencuci Otak ; perubahan dari Pikiran Anak SMA menjadi Pikiran yang terintegrasi pada lingkungan yang baru.
    3. Perubahan Mental ; dari Mental anak SMA menjadi Mental Calon Sarjana.
    Pada dasarnya Ospek adalah UP DATE Etika, Logika dan Estetika seorang Individu agar siap secara fisik dan mental dalam menekuni bidang profesi yang telah DIPILIHNYA !.
    Negara sangat membutuhkan orang2/Pemuda/Pemudi Indonesia yang berdedikasikasi tinggi, profesional, jujur dan mengerti kata Amanah yg sebenarnya.
    Sampai disini Jelass …….. jadi Ospek tidak boleh dihapuskan hanya ditinjau ulang saja & 3 point diatas harus ada dalam Kurikulum Ospek. Bila seorang Individu telah teruji secara fisik & mental, stabil dalam Emosionalnya maka dia siap untuk dikritik bahkan dicaci-maki, kenapa ? karena dirinya adalah Cermin bagi Individu lain dan Lingkungan sekitarnya. disamping itu Individu yg seperti ini lebih banyak bekerja daripada bicara, cepat & tanggap dalam merespon setiap keadaan sekitar, mampu membuat pemecahan masalah secara lugas, tuntas & jelas, mampu memilah-milah isu2 yg berkembang di masyarakat & menanggapinya dengan pemikiran yg Nasional lepas dari fanatisme sebuah ideologi & SARA. Tidak condong ke satu pemahaman saja tapi anti Militansi. Ini semua adalah hasil dari Ospek, jadi jangan sekali-kali menghapuskan Ospek dari bagian Kurikulum pendidikan kita.


    Re: Stabilisator Negara Spec Ops 2

    Alangkah baiknya, jika nama (nick)nya tidak diganti-ganti. Trims.

  4. Swasta01 permalink
    Februari 20, 2009 10:09 AM

    Turut berduka cita

    Apapun bentuknya, apapun alasannya, korban telah jatuh kepada panitia kaderisasi IMG serta pengurus IMG, kalian harus bertanggung jawab…

    nb :ngapain juga bawa bawa nama alumni…., biarkanlah kami para alumni menikmati kekayaannya dengan tenang…

  5. Keseimbangan; Rise of Borneo permalink
    Februari 20, 2009 11:49 AM

    To Swasta01 ; sampean ni pasti alumni ITB, kok ngomongnya nggak kaya orang sarjana (konyol gitu, pantes aja kan kerjaannya jalan jongkok melulu kaya tukang bersih kakus) ya jelas lah membawa nama Alumni ITB, semuanya kan keluaran Kampus itu, coba liat ketika peristiwa kasus IPDN nama Alumninya juga ikut terbawa kan !. Bedanya kalo alumni IPDN kerjaannya jelas & langsung ada gunanya di masyarakat, bahkan siap ditempatkan di Pelosok/pedalaman, contohnya kaya Sekretaris Camat tetangga gue nggak pernah mukul orang tuh, orangnya ramah tamah jauh dari kata kejam, malahan dia sering jadi penengah kalo ada bentrok atau kisruh di daerah kami. Nah Kalo Alumni ITB jadi apa ??? paling2 jadi pengusaha konstruksi yang sering nyuap pejabat atau yang lagi marak skarang kan Jadi CALEG, coba aja liat kebanyakan dari para pengusaha (“Alumni ITB = pengangguran terselubung tapi tajir & sombong”) yg lagi cari status, coba liat aja omongan si SWASTA01 ini katanya alumni bermutu,profesional dll tapi nyatanya sama aja pikirannya ama tukang ospek, jangan2 ini anaknya koruptor manja yg tajir tapi munafik …

  6. Fenny Intani permalink
    Februari 20, 2009 12:10 PM

    Tuh liat commentnya alumni ITB kok sombong gitu ya, kan tidak smua mahasiswa anaknya orang kaya, kalo gitu aku tidak sudi deh deket2, apalagi berinteraksi dengan orang2 ITB, jijik iih…

  7. GabanX permalink
    Februari 20, 2009 12:13 PM

    Perlukah ITB dipertahankan ? jwbnya : TIDAK PERLU, Bubarkan aja !!!!!!!!!! Buuuuubbbbbbaaaaaaaaaaaarrrrrrrrkaaaannn ……. sama aja lu smua alumni ITB pada begoo …

  8. Yosef AP Angk IX IPDN permalink
    Februari 20, 2009 12:19 PM

    Ini ujian bagi ITB, bisakah Saudara2 di Civitas Akademika ITB mengatasi hal ini, saya harap bisa & pasti bisa. Mari kita selesaikan masalah ini dengan kepala dingin dengan pikiran yg jernih tanpa harus ribut2 dan saling mengejek, karena itu sangat tidak baik.


    Re: Yosef AP Angk IX IPDN

    Alangkah baiknya, jika menggunakan nick(nama) yang sama. Trims

  9. Anak ITB bukan GD permalink
    Februari 21, 2009 1:10 AM

    Wah wah, saya jadi sedih ni. Komen yang cukup bijak di awal2 ternyata ‘dikotori’ oleh komen lain yang ga tau kondisi ITB gimana ya..

    pertama, klarifikasi dulu nih. Alm. Wisnu masih usia 19, bukan 22. Dia pintar (menurut teman2 SMA nya dulu) dan tidak harus menunggu bbrapa tahun untuk masuk ITB. Beliau jg tercatat sebagai anggota ilmu bela diri, maka kalau persoalan ga kuat jalan nanjak yg menyebabkan kondisinya payah, saya rasa masih harus dipertanyakan lagi. Tanpa bermaksud menyalahkan, saat ia terlihat sakit, ada pernyataan dari tim medis yg berasal dari univ lain bahwa kondisi Wisnu baik2 saja. Wallahualam, ntah apa lah sebabnya…

    Yang dipermasalahkan adalah IMG mengadakan kegiatan yang izinnya belum jelas. Kenapa belum jelas? Ternyata ada miskom dari pihak prodi dengan dekan. Selanjutnya,, bisa dibaca lah di web itb atau bbrapa sumber lain yang sekiranya terpercaya. Tentang pertanggungjawaban IMG terhadap meninggalnya Wisnu, tunggulah hasil resmi dari kepolisian, jangan terlalu banyak nge-judge dulu.

    Kemudian, saya dari dulu tidak suka dengan kaderisasi. Karena apa? solidaritas yang dibangun hanyalah solidaritas karena terpaksa. Dan beberapa alasan lainnya lah.

    Tapi disini, saya menemukan manfaat dari kaderisasi dan saya rasa sangat disayangkan kalau manfaat2 tersebut tidak diteruskan. Setahu saya, sejak OSKM dilarang, BANYAK dari himpunan mahasiswa di ITB yang meniadakan atau setidaknya jauh mengurangi kegiatan fisik dan kekerasan. Paling ya olahraga di sabuga atau sekedar keliling kampus. Lebih banyak materi yang bersifat diskusi dan training. Ada pula penaikkan motivasi dari danlap.

    Jadi sebenarnya, sistemnya saja yang perlu dipoles sedikit lagi. Kaderisasi itu penting dan seharusnya tidak hanya berjalan di awal penerimaan anggota baru. Memang perlu banyak dirumuskan tentang kaderisasi ini agar makin efektif.

    Ada kaderisasi saja alumni2 ITB banyak yg dicap tidak bertanggung jawab pada negara, korupsi, dll……. apalagi kalau tidak ada?

  10. Adi permalink
    Februari 21, 2009 7:28 AM

    Hehehe..lucu jg liat komen2 negatif dan tendensius ttg itb dan alumni2nya…

    Sptnya memang ungkapan orang2 yg iri karena tidak bisa bersaing dengan alumnus

  11. Stabilisator Negara Spec Ops 3 permalink
    Februari 23, 2009 1:08 PM

    From: Rusdi excell@mitra.net.id
    Subject: DOSA MAHASISWA

    DARI DULU SAMPAI SEKARANG MAHASISWALAH SALAH SATU FAKTOR YANG TELAH BANYAK MENUMPAHKAN DARAH DINEGERI INI UNTUK SUATU KESIA-SIAAN!

    SEMOGA TUHAN MEMBERIKAN KUTUKAN KEPADA SELURUH MAHASISWA MAUPUN MAHASISWI YANG TERUS TERPUSATKAN PADA EGOSENTRIS DIRINYA SENDIRI!

    SENGSARA DIDUNIA DAN HUKUMAN DIAKHERAT ADALAH IMBALAN YANG PANTAS!

    DASAR MAHASISWA GOBLOK DAN TIDAK BERMORAL

    AMIN!

  12. Februari 23, 2009 11:41 PM

    perasaan di UI ospeknya nyaman2 aja..fun,ceria, dan pastinya edukatif..ga ada tuh namanya kontak2 fisik, atau hukuman fisik kalo nglakuin kesalahan..

  13. Mhsw TPB ITB permalink
    Februari 24, 2009 8:36 PM

    Sedikit Update.
    Pihak rektorat menjatuhkan sanksi pada mhsw Geodesi angk. 2007 berupa pengurangan sks yang mereka ambil.
    Saya sangat bersimpati pada mhsw Geodesi angk. 2007.
    Karena selain harus mengalami proses kaderisasi(sebutan resmi “Ospek” di ITB) mereka harus menunda kelulusan mereka dari ITB selama setidaknya satu semester karena hal yang, menurut saya, sangat konyol.
    Sebagai mahasiswa kita seharusnya ingat bahwa kita bisa kuliah bukan karena kemampuan kita sendiri saja.
    Kita harus ingat bahwa kita dapat sampai disini karena biaya orang tua kita. Coba bayangkan betapa kecewanya ortu di rumah sana ketika mengetahui bahwa kelulusan kita harus ditunda(sy berasal dari Sumatra sehingga saya sangat tahu bagaimana rasanya hidup tanpa ortu).
    Menurut saya, sangat konyol kalau kelulusan harus ditunda gara-gara kesalahan orang lain yang tidak dapat mempertanggung-jawabkan perbuatan mereka.
    “Manusia bertanggung jawab atas hidup mereka sendiri” Saya sangat berpegang teguh pada kata-kata itu. Namun, kenyataan terkadang tampak menyedihkan bagi beberapa orang. Dan kini, mhsw Geodesi angk. 2007 harus menerimanya…..
    Menerima konsekuensi dari perbuatan orang lain menurut saya tak jauh berbeda dengan difitnah.

    Sebagai mhsw tahun pertama yg blm dijuruskan saya hanya bisa harap-harap cemas pada kelanjutan acara “kaderisasi” di ITB ini.

    Saya pribadi berharap acara seperti ini diubah konsepnya. Karena sudah tidak cocok lagi diterapkan pada jaman ini.
    Kita dapat mengambil contoh beberapa negara maju. DI Jepang, Amerika, bahkan Cina yang mulai menguasai ekonomi dunia tidak ada yang namanya ospek(bahasa ITB: kaderisasi).
    Jadi mengapa kita harus meneruskan tradisi yang tak positif ini?
    Apa kita mau cuma jadi bangsa yang bisanya bersatu kalau disuruh seperti ketika diospek?
    Apa sudah tidak ada lagi inisiatif untuk bersatu?

  14. Anak ITB bukan GD permalink
    Februari 24, 2009 9:46 PM

    @ Anak TPB

    Adekku sayang,, saya pernah jadi kamu ko. Saya tau rasanya cemas, takut2 jadi anak TPB, penasaran ntar kader diapain aja.. (tapi kalo kamu ga ngerasa gitu ya syukurlah)

    Kamu fakultas apa? Mau masuk jurusan apa? Udah tau belum kaderisasi calon jurusan kamu kaya apa? Kalo belum… coba tanya2 deh…

    Di kaderisasi itu akan ada nilai-nilai yang ditanamkan. Kepemimpinan, solidaritas, blah blah blah…. (ga usah saya sebutkan juga pastinya tau sendiri lah ya…). Beberapa dari nilai-nilai itu menurut saya Bull Shit (*pardon my language :P), tapi banyak yang berguna.

    Kalo ga ada kaderisasi, saya ga akan repot-repot ke taman lansia untuk cari tau apa masalah dan potensi yang bisa dikembangin disana. Saya ga akan ngerasain susah tapi asiknya bikin baliho bareng-bareng secara manual. Saya dan teman-teman se-angkatan ga akan bikin project bareng yang inovatif dan bermanfaat untuk diri sendiri dan masyarakat kampus. At least, tanpa kader, saya ga akan ngobrol dengan kahim(ketua himpunan) dari jurusan lain dan tau gimana kemahasiswaan ITB itu. Semua emang tergantung pribadi masing2, tapi tanpa kader, orang-orang yang apatis untuk cari tau gimana sih kampus mu yang sebenarnya, ya ga akan pernah tau.

    Kalo yang kamu maksud adalah cara-cara kekerasan yang tidak mendidik (seandainya pun ada yah di ITB), saya setuju untuk dihilangkan. Tapi kalo kamu ingin menghilangkan kaderisasi secara keseluruhan, wah…. kamu cari tau dulu deh apa aja isi kader itu, dek…

    Kaderisasi itu hanya sebuah nama, sebutan untuk proses pembelajaran, penanaman nilai, pelatihan, dan persiapan. Ikutan training2 leadership, diklat kepengurusan ato lainnya yaa sama aja dengan kaderisasi, tapi jangka waktunya paling yang beda. Kalo dipikir-pikir lagi, selama hidup kita juga akan terus dikaderisasi oleh pengalaman…

    Turut sedih juga atas keputusan yang telah dijatuhkan pada temang-teman GD 2007. Semoga kebenaran segera terungkap dan apapun hasilnya bisa diterima semua pihak dengan DEWASA dan LAPANG DADA…. TANPA perlu ada CACI MAKI lagi..

    Nuhun lah sekiranya… :)

  15. Maret 15, 2009 1:14 AM

    Karena telah beberapa kali komentar yang tidak mendidik dengan menggunakan bahasa yang tidak etis, maka komentar ini saya tutup tertanggal 15 Maret 2009.
    Terima kasih yang telah memberika komentar yang konstruktif.

Komentar ditutup.

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 1.028 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: