Skip to content

Rangkuman “Megawati Bicara II” di Kick Andy

Desember 28, 2008

Ketika saya nonton siaran ulang Kick Andy – Mega Berbicara II pada hari minggu, saya mencoba untuk menuliskan kembali sebagian isi yang menurut saya menarik.  Sebagian hasil wawancara, saya edit dan tambahkan seperlunya.  Meskipun, mungkin tayangan Kick Andy –  Megawati mengandung sisi politisnya, lebih baik kita hilangkan nilai-nilai politisnya. Kemunculan tokoh-tokoh politik di Kick Andy seperti Wiranto, Habibie, Gusdur, Harmoko pada episode-episode terdahulu pun sama yakni membicarakan sisi kehidupannya.

Begitu juga, saya menilai kemunculan seorang Mega di Kick adalah memberikan nilai-nilai kemanusiaan dan sisi tersembunyi dari pribadi seseorang. Tanpa Kick Andy, saya tidak tahu bahwa Soegiharto (mantan Menteri BUMN) adalah seorang siswa rajin yang ‘terpaksa’ menjadi tukang  parkir hingga jam 12 sampai 2 pagi. Demikian juga seharusnya kita menilai seorang Mega di acara Kick Andy. Saya melihat begitu banyak sisi kemanusiaan. Mungkin kita dapat menimalisasi sendi-sendi politis. Politis atau tidak, tergantung dari persfektif kita untuk ‘mencerna’ sumber informasi.
Huruf miring merupakan kutipan langsung dari bu Mega (dengan perubahan seperlunya).
Tulisan bold hitam = pertanyaan Andy F Noya.

Megawati Vs SBY

Ketika Anda menjadi Presiden dan SBY menjadi Menko Polkam, terlihat bahwa Anda menzalimi pak SBY. SBY mengungkapkan bahwa beliau tidak pernah ditegur, tidak disapa, tidak diajak rapat?
Menjawab pertanyaan itu, Megawati menyangkal statement yang disampaikan oleh SBY.
“…Bagaimana mungkin kalau dikatakan [SBY] tidak diajak rapat. Rapat saya itu rapat yang tertib“.
Setiap minggu Megawati mengadakan rapat rutin yang mewajibkan kehadiran menteri-menteri terkait, termasuk menko polkam pada saat itu.
Lalu, Andy F Noya menanyakan “Apakah pak SBY sebagai menko polkam ketika itu diajak?”
Ya, tentu dong. Lalu untuk apa yah.. beliau jadi menko polkam.. jika tidak diajak
Lalu, menurut Anda kenapa pak SBY ketika waktu itu merasa tidak Anda tegur dan diajak rapat?
Yah..karena untuk citra..”, jawab Bu Mega disambut applause.

Menanggapi kemelut yang disiarkan di berbagai media massa, termasuk SBY yang merasa “dizalimi” oleh Megawati bersama suaminya, Megawati hanya bisa berdiam diri. Ia tidak menanggapi sama sekali pemberitaan dan pernyataan SBY yang meluas itu. Mega yang diam saat itu, menimbulkan justifikasi opini masyarakat bahwa “memang benar Megawati telah menzalimi SBY”.

Dalam Kick Andy, akhirnya Mega mau berbicara. Ketika itu, Mega hanya diam karena ia hanya memfokuskan diri untuk menyukseskan penyelengaran pemilu 2004. Mega tidak ingin membuat polemik itu berkembang dan merusak kinerja pemerintah dalam persiapan pemilu maupun kinerja rutin kabinet. Karena menurut dia, pemilu 2004 merupakan momentum paling bersejarah dalam demokrasi Indonesia yakni pemilihan Presiden langsung. Disamping itu, Mega berharap pemilu 2004 berjalan sukses dan membawa citra Indonesia yang kelam selama 32 tahun di mata dunia internasional.

Menyikapi golput dalam khasanah demokrasi, Mega menyampaikan bahwa melalui pemilihan langsung, rakyat diberikan kesempatan dan kekuasaan secara langsung untuk memilih pilihannya. “Kalau belum baik, mari kita perbaiki. Inilah adalah proses kedepan

Politik Megawati

Definisi politik ‘yang sederhana’?
Berpolitik itu tidak harus selalu formal.  Ketika seorang warga yang sedang membicarakan hal-hal seperti ini:
“Mengapa harga cabe sekarang naik?”
“Mengapa tidak ada minyak tanah?”
“Mengapa saya harus membeli kayu bakar lagi?”
“Mengapa harga beras menjadi mahal?”
Maka, orang tersebut telah berkata dan [secara tidak langsung] telah berpikir secara politik yang paling mendasar.

Kondisi yang membuat Mega prihatin saat ini?
Hal yang membuat ia prihatin saat ini adalah kesempatan mengenyam pendidikan yang masih rendah. Sedangkan hal yang mendasar yang memprihatinkan yang terjadi di masyarakat saat ini adalah “demoralized” – krisis moral. Bangsa kita sedang mengalami degradasi mental. Dan yang menjadi tantangan terbesar dalam dunia pendidikan adalah mendeknya “transfer of knowlegde“. Atau dalam bahasa yang sederhana adalah pendidikan kita telah kehilangan esensi pokok yaitu mendidik (materi + mentalitas). Hal ini hanya bisa dirasakan di daerah-daerah, seperti kisah seorang Bu Muslimah yang mendidik “Laskar Pelangi”. Bu Muslimah tidak hanya mengajar (materi saja), tapi dia adalah seorang pendidik sejati.


Bung Karno dalam “teropong” Mega

Apakah Bung Karno seorang komunis?
Dalam hal ini Megawati tidak menjawab secara langsung. Ia hanya menyebutkan bahwa  hingga saat ini, ketokohan Bung Karno diakui oleh kaum nasionalis, kiri dan NU.
Sedangkan rumor yang menyebutkan Soekarno berkomplotan dengan komunis untuk mengkudeta, disanggah oleh Megawati bahwa dengan kekuasaan tertinggi yang dimiliki oleh Bung Karno (Panglima Tertinggi, Pemimpin Besar Revolusi, Presiden seumur hidup) maka opini yang mengatakan bahwa Bung Karno adalah komunis dan berusaha mengkudeta adalah hal yang absurd. “Mau kudeta kepada siapa?…. Bung Karno korban yang dipolitisi oleh penguasa” Dalam hal ini Bung Karno disudutkan oleh kekuasaan baru”

Bagaimana perlakuan yang diterima Bung Karno di detik-detik ajalnya?
Megawati mengungkapkan perlakuan yang diterima oleh Bung Karno cukup tidak layak sebagai seorang yang pernah memimpin dan memperjuangkan kemerdekaan bangsa Indoensia. Hal ini tentu berbeda dengan ‘service’ yang diterima oleh mantan Presiden Soeharto yang dirawat VVIP dengan 40 dokter spesialis. Hal ini berbeda dengan Mega dan keluarganya. Mereka dihalang-halangi oleh pihak penguasa untuk menjenguk Bung Karno yang sedang sakit. Meskipun begitu, tidak tampak jelas kebencian diraut wajah Mega…

Apakah Bung Karno diracun?
Dalam hal ini saya sangat tertarik dengan jawaban Bu Mega. Ia secara konsisten tidak menggunakan alasan sebagai anak Bung Karno dengan membenarkan secara langsung bahwa Bung Karno diracun. Hal ini berbeda dengan sikap yang dilakukan oleh Soeharto kepada Bung Karno yaitu dengan alasan politis bahwa Bung Karno mendukung PKI, maka Soekarno dipenjara dan diperlakukan tidak layak hingga “hasrat terakhir” Bung Karno untuk dimakamkan di Bogor pun tidak digubris oleh Soeharto.

Ketika ditanya : Apakah keluarga Mega percaya Bung Karno mati diracun?
Ini kan butuh suatu pembuktian. Dan sebenarnya saat ini sudah bisa dibuktikan jika keluarga mengizinkan [analisis forensik pada mayat Soekarno]. “

Jadi ada kecurigaan bahwa Bung Karno diracun?
Saya tidak bisa mengatakan kecurigaan atau apa. Karena itu diluar daripada kewenangan saya untuk melakukan hal seperti itu. Tetapi yang pasti, kecanggihan teknologi sekarang bisa membuktikan yakni dengan pembuktian secara ilmu forensik

Jadi, menurut Anda ini perlu dibuktikan?
Ah…kasihanlah pada bapak saya. Sudah digotong-gotong kiri-kanan. Saya pikir beliau juga sudah senang di sana. Pasti ketawa melihat ‘orang-orang itu‘”
Jadi, dari jawaban Bu Mega terdapat  pendidikan komunikasi publik  yang tersirat yakni “bicaralah ketika ada bukti“. Bu Mega bisa saja berkomentar bahwa ia yakin Bung Karno diracun, tapi ia tidak melakukannya, dan ia lebih mengedepankan pembuktian ilmiah daripada opini ataupun keyakinan yang membuta.

Ada anggapan bahwa yang harus bertanggungjawab atas perlakuan buruk Bung Karno adalah Pak Harto. Apakah betul?
Itu harus melalui suatu pengadilan. Tetapi ketika saya menjadi Presiden pada waktu itu, saya mengalami dilema. Banyak orang yang menanyakan, terutama mereka yang merasa dizalimi seperti kami, kenapa pada waktu itu tidak dilakukan hal seperti itu [pengadilan]?”
Saya berpikir untuk melihat masa depan. Masa depan atau future itu kan tidak hanya sepenggal, tapi akan berjalan terus, kalau bisa mudah-mudahan Indonesia bisa [berjalan] ribuan tahun. Jadi bayangkan, kalau kita mengangkat seorang presiden, tapi setelah tidak senang, presiden tersebut kita jatuhkan… Setelah dijatuhkan, lalu dia harus dinyatakan bersalah…”
Ada sisi kemanusiaan  dan hukum alam yang sangat mendasar yang ingin Megawati sampaikan kepada pembaca/penonton. Selama kita terus menghadapi lawan dengan kebencian dan dendam, maka siklus balas dendam tidak akan berhenti dan terus meninggalkan sedih dan dendam. Salah satu cara untuk menghentikannya adalah berhentilah untuk dendam dan kebencian.
Oke, Pak Harto waktu itu, karena saya tahu [pak Harto] sudah dalam proses pengadilan. Sebagai presiden, saya panggil, terutama saya panggil seluruh tim dokter yakni dari tim dokter independen, tim dokter kepresidenan, tim dokter militer. Dan semua tim saya tanya. Dan semua mengatakan sama. Mereka mengatakan bahwa beliau [Soeharto], secara fisik ia sehat. Tapi yang dialami beliau karena mengalami stroke, memori beliau itu seperti ‘damaging’ [hilang-muncul-hilang]. “
Jadi, mohon maaf. Kalau beliau ditanya yang rumit-rumit, lalu kita akan membuat presiden Republik Indonesia itu diperlakukan, dengan dilecehkan dan dicemoohkan. Lalu, nanti giliran Gusdur, Pak Habibie, saya…Karena orang tidak senang, karena ingin membalas dendam, revenge, kebayang nggak hal ini menjadi mata rantai yang tidak ada henti-hentinya
Saya tidak setuju dengan sikap pak Harto memperlakukan keluarga saya, bapak saya, karena ada suatu perlakuan terhormat yang seharusnya diberikan, apapun juga, kepada seorang presiden. Karena dia adalah pemimpin bangsa.”.

Megawati mengatakan bahwa beliau ingin melihat masa depan, dan hal terpenting adalah menapaki perjalanan bangsa dengan meletakkan fondasi dasar pembangunan yakni  “nation and character building” yang menjadi “konsepsi” utama Bung Karno.

Ketika ditanya, mengapa ketika Soeharto meninggal Anda tidak melayat?
Saya berada dalam dua sisi. Saya tidak akan membuang ‘pride’[kebanggaan] mereka yang telah membela ayah saya [Bung Karno], karena itu saya tidak datang. Tapi saya kirimkan utusan saya yakni anak saya, ‘kamu datanglah [melayat], berikan ‘pride’ pada dia [Soeharto]. Tapi saya tidak akan hilangkan ‘pride’ ayah saya dan pengikutnya“.
Berbicara tentang Bung Karno tidak akan habis-habisnya, karena telah lama diumpat”, kata Mega yang disambut tawa dan applause.

Salah satu hal yang cuplik lagi adalah pernyataan Jaya Suprana, budayawan serta pendiri MURI.
Kalau sampai ada orang yang menduga bahwa Mega itu tidak cerdas, saya kira orang itu yang tidak cerdas”, kembali disambut tepuk tangan dan tawa.
“Sejak awal saya bertemu dengan beliau, saya terkagum-kagum atas kecerdasan beliau”
Beliau[Megawati] memiliki kecerdasan estetika. Seperti peran beliau Kebun Raya yang menunjukkan kecintaan beliau kepada alam ini. Kedua, apa yang dia ucapkan mengenai pengampunan dan kasih sayang dalam politik. Semua itu adalah estetika. Kita lupa bahwa politikpun bisa berestetika. Dan itu yang ditunjukkan Megawati.”

Sedangkan bagian kehidupan hariannya di keluarga dan aktivitas politiknya untuk menjadi presiden dengan harapan kaum wanita mulai berpikir kembali untuk yakin pada kepemimpinan wanita, tidak saya masukkan. Anda dapat melihatnya pada sesi kampanyenya di TV. :)
Terima kasih. Semoga sisi kemanusian dan statement akhir dari Jaya Suparna dapat mengilhami para politisi untuk mulai memperbaiki diri, partai, dan sistem perpolitkan.
Sekali lagi, tulisan ini bukan untuk mengampanyekan Megawati sebagai capress. Tapi, semata-mata hanya untuk refleksi sisi kehidupan. Masih banyak tokoh  nasional selain Megawati yang benar-benar dapat menyelamatkan bangsa ini.

ech-wan (27 Des 08 )

About these ads
10 Komentar leave one →
  1. Januari 8, 2009 8:52 AM

    tks infonya…melihat squel 1 nya ….saya langsung tidak berminat nonton squel 2 nya……mantan presiden kok mau jadi presiden lagi………

    U’r welcome. :)

    • wahyudi permalink
      April 12, 2009 3:40 AM

      alergi sama yang baik² ya?!
      pantes negara ini nggak maju… nggak pernah open mind sih…

  2. agung santoso permalink
    April 27, 2009 3:20 PM

    artikelnya bagus bgt pak….
    saya dulu ga nonton.. ga da tv d kosan…
    wekekeke… baru tau tapi saya BU Mega seperti itu..
    terima kasih Pak Nusantara.. ^^

    Re: Agung Santoso
    Terima kasih juga.

  3. April 28, 2009 6:23 PM

    FOREVER MEGAWATI…

    • TIAN ILAHUDE permalink
      Juli 15, 2009 9:55 AM

      FOREVER Megawati too…. orang boleh bicara apa saja tentang beliau. karena mereka ga tau sejarah, ga tau Bu Mega.

  4. wawan permalink
    Mei 31, 2009 5:52 AM

    bung karno berjuang untuk kemerdekaan
    suharto “menzolimi” seokarno lewat kudeta…
    megawati juga menjadi korban soeharto dan orba..
    SBY sebenrnya ikut bertanggung jawab saat menyerang kantor PDI 27 juli
    megawati jadi korban amien rais yang menggagalkan jadi presiden dengan mengusung gusdur.
    akhirnya jadi presiden…
    setelah itu ditikam mentrinya sendiri… SBY.. yang mau nyapress pemilu 2004
    lagi ngetred yang dizolimi itu dipillih rakyat…
    SBY pura2 dizolimin… dan dubrak… bener… dia jadi presiden…
    Sekarang… kalo ikut pakemnya… mestinya JK.. menzolimi SBY..
    tapi bener2 gila…
    SBY menzolimi JK…

    KARENA ITU….
    HENTIKAN….!!!!!!!!!!!!!!
    JANGAN LANJUTKAN SBY…

    • Juli 15, 2009 9:58 AM

      Siip!!! Say no to SBY! kemenangan SBY 2009 ini lebih karena keawaman masyarakat yang masuh suka dengan penampilan. ingat ! penempilan bukan untuk dipilih!

  5. Juni 1, 2012 9:31 PM

    Suharto dan CIA beruntung,aku bukan megawati,seandainya aku anak bungkarno,aku akan ijinkan tim dokter forensik,bahkan menyuruh meneliti jenazah bungkarno,diracun atau tidak,jika diracun tuntut bangsa amerika yg konon terlibat lewat CIA,Suharto hanya boneka,bkn dalang,G30S itu imperialisme. terselubung,tujuannya menguasai SDA negara ini.lewat kontrak karya,selain itu,konon bungkarno punya dambaan tempat lain untuk disemayamkan,bukan di blitar,siapa tahu jika itu maksud pembicaraan takdir.pindahkan sesuai amanah beliau,temukan kebenaran,dimana salahnya?

  6. Januari 21, 2014 2:54 PM

    Penghianat negeri sdr menikahi wanita jepang,udah tahu indonesia dl bekas dijajah negara jepang.

Trackbacks

  1. Rangkuman tentang megawati | NUSWANTORO

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 1.033 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: