Gaya Hidup Bebas Remaja – Seks, Rokok, Konsumerisme

2008 Desember 13

Keprihatinan : Gaya Hidup “Bebas” Remaja Masa Kini
(Hedonis, Rokok, Gamer, Narkoba hingga Seks)

ech-wan (nusantaraku)

Setelah kita memasuki era kehidupan dengan sistem komunikasi global, dengan kemudahan mengakses informasi baik melalui media cetak, TV, internet, komik,  media ponsel, dan DVD bajakan yang berkeliaran di masyarakat, tentunya memberikan manfaat yang besar bagi kehidupan kita. Setiap fenomena yang ada dan terjadi di dunia, tentunya akan memberikan nilai positif sekaligus negatif. Sangat tergantung pada pola pikir dan landasan hidup pribadi masing-masing.
Setiap individu dari kita akan merasa senang dengan kehadiran produk atau layanan yang lebih canggih dan praktis. Tidak terkecuali teknologi internet yang telah merobohkan batas dunia dan media televisi yang menyajikan hiburan, informasi serta berita aktual. Begitu juga, handphone yang telah membantu komunikasi sesama manusia untuk kapan saja meskipun satu dengan yang lainnya berada di dunia Utara-Selatan atau belahan Timur – Laut.

Teknologi + Kebebasan – Edukasi = Kehancuran

Setiap teknologi memberikan efek positif dan negatif . Maraknya penggunaan ponsel telah menurunkan interaksi individu secara langsung. Hal ini akan cenderung membuat pola hidup manusia menjadi indivualistis. Dampak negatif ini tentunya dapat dikurangi bahkan dihindari jika saja si pengguna memiliki pemahaman/pengetahuan, etika dan sikap yang kuat (bijak-positif) untuk memanfaatkan sesuatu secara selektif dan tepat guna.
Inilah titik permasalahannya bagi anak dan remaja. Penyaring internal (pemahamam, etika dan sikap) anak dan remaja kita masih sangat rapuh. Di era kompleksitas arus kehidupan saat ini, orang tua (terutama di perkotaan) telah kehilangan daya mendidik dan membangun keluarga bagi anak-anaknya. Hal ini diperparah dengan maraknya “racun-racun” yang diterima oleh anak-anak kita saat ini. Adegan-adegan kekerasan, seksual, mistik, dan hedonisme di media TV, koran dan internet, serta sistem pendidikan sekolah yang gagal membangun karakter anak, telah menyerang anak-anak kita saat ini.
Di sisi lain, rendahnya regulasi dan law inforcement dari pemerintah dan aparaturnya, telah menyebabkan oknum-oknum perusak generasi muda kita “berkembang biak: secara pesat. KKN antara pihak penguasa dengan pengusaha dalam regulasi, publikasi dan distribusi media menyebabkan jutaan pemimpin masa depan Indonesia di ujung kepunahan. Sederet keprihatinan anak dan remaja saat ini seperti kenakalan remaja, pola hidup konsumtif-hedonistik, pergaulan bebas, rokok, narkoba, dan kecanduan game on line hampir menuju budaya “gaya hidup” remaja masa kini.
Teknologi tanpa filtrasi (perlu regulasi agar kebebasan tidak jebol) dan rapuhnya edukasi/karakter manusia mengakibatkan kehancuran bangsa.

Rokok, Narkoba, Seks, dan AIDS

Ditengah berita siswa-siswi berprestasi dalam ajang penelitian, olimpiade sains, seni dan olahraga, anak muda Indonesia saat ini terancam dalam masa chaos. Jutaan remaja kita menjadi korban perusahaan nikotin-rokok. Lebih dari 2 juta remaja Indonesia ketagihan Narkoba (BNN 2004) dan lebih 8000 remaja terdiagnosis pengidap AIDS (Depkes 2008). Disamping itu, moral anak-anak dalam hubungan seksual telah memasuki tahap yang mengawatirkan. Lebih dari 60% remaja SMP dan SMA Indonesia, sudah tidak perawan lagi. Perilaku hidup bebas telah meruntuhkan sendi-sendi kehidupan masyarakat kita.
Berdasarkan hasil survei Komnas Perlindungan Anak bekerja sama dengan Lembaga Perlindungan Anak (LPA) di 12 provinsi pada 2007 diperoleh pengakuan remaja bahwa :
- Sebanyak 93,7% anak SMP dan SMU pernah melakukan ciuman, petting, dan oral seks.
- Sebanyak 62,7% anak SMP mengaku sudah tidak perawan.
- Sebanyak 21,2% remaja SMA mengaku pernah melakukan aborsi.
- Dari 2 juta wanita Indonesia yang pernah melakukan aborsi, 1 juta adalah remaja perempuan.
- Sebanyak 97% pelajar SMP dan SMA mengaku suka menonton film porno
.

Pengakuan Siswi SMA, Beginikah Remaja Kita?

Sekarang gue lagi jomblo. Sudah dua tahun putus. Sakit juga! Habis pacaran empat tahun, dan sudah kayak suami-istri. Dulu, tiap kali ketemu, gejolak seks muncul begitu saja. Terus ML (making love) deh. Biasanya kita lakuin kegiatan itu di hotel. Kadang di rumah juga, kalau orang rumah lagi pergi semua. Kalau rumah nggak lagi sepi ya paling cuma berani ciuman dan raba sana-sini. Buat gue, semua itu biasa. Gue nglakuinnya karena merasa yakin doi bakal jadi suami gue. Gue nggak takut dosa. Kan kita sama-sama mau, jadi nggak ada paksaan. Dosa terjadi kan kalau ada paksaaan. Gitu menurut gue!  Waktu putus, gue nggak nyesel sudah nglakuin itu, habis, mau gimana lagi! Santai saja! Tentang pendidikan seks, gue nggak pernah terima dari orangtua. Paling dari teman, majalah, buku, atau film”
Itulah penuturan Neila (samaran), pelajar kelas 3 sebuah SMA di Jakarta Timur, yang baru saja menjalani UAN. Tanpa beban, remaja manis bertubuh mungil ini menceritakan pengalamannya. Ia dan sang kekasih tahu harus melakukan apa supaya hubungan seks pranikah itu tidak membuatnya hamil.
Sampai saat ini, Neila yakin orangtuanya sama sekali tidak tahu perilaku putri keduanya itu. ”Gue nggak bakal ceritalah, bisa mati mendadak mereka. Teman malah ada yang tahu, tentu saja yang punya pengalaman sama,” katanya sambil memilin-milin rambutnya.

Menurutnya, ML di kalangan remaja sekarang bukan hal yang terlalu asing lagi. Malah, ada yang sengaja merayu pria dewasa yang bisa ditemui di mal dan tempat umum lain, untuk mendapatkan uang atau barang berharga, seperti telepon seluler model terbaru, jam tangan bermerek, baju, sepatu, tas, dan sebagainya.  ”Bukan profesi sih, cuma iseng. Hitung-hitung bisa buat gaya. Mending gue `kan, yang nglakuinnya cuma sama pacar dan bukan demi duit,” sergahnya.

Biarkan atau Bertindak?

Sudah seharusnya kita kembali ke akar budaya bangsa kita. Jauh sebelumnya, bangsa Indonesia adalah bangsa yang memiliki nilai akar (root value) budaya yang menjunjung tinggi nilai kemanusiaan dan kesusilaan seperti tertuang dalam falsafah dan nilai Pancasila. Kondisi yang menimpa generasi muda saat ini, harus dibina dan dididik agar mereka menjadi pemimpin yang memiliki moralitas yang tinggi untuk membangun bangsa dan negaranya.
Semua pihak haruslah merasa bertanggung jawab atas kasus ini. Disamping orang tua, peran masyarakat sangatlah penting. Sistem pendidikan kita juga harus diubah. Jangan naikkan anggaran tanpa meningkatkan nilai yang sesungguhnya dari pendidikan. Pemerintah sudah seharusnya tegas melaksanakan undang-undang, dan para pengusaha, pedagang, dan web internet cobalah berhenti menyebarkan hal-hal yang merusak (karena generasi kita masih rapuh).
Hal-hal yang harusnya dilakukan:
- Pemerintah filtrasi tegas sinetron, film atau iklan  yang berisi kekerasan seksual, pergaulan bebas, mistis-religi, kekerasan-religi, ramalan serta judi.
- Menindak tegas para pelanggar UU Perlindungan Anak
- menfilter situs-situs porno di Indonesia. Hingga saat ini saja ada 6 Situs Porno yang Paling Banyak diakses di Indonesia
- Membangun Youth Centre, pusat pendidikan dan kreasi bagi remaja-remaja agar beraktivitas yang positif.
- Secara aktif mengontrol promosi (iklan) dan peredaran rokok.
- Memprioritaskan program pencegahan perdagangan anak, eksploitasi seksual komersial anak, dan narkoba.
- Edukasi pada masyarakat bahwa jangan mengasingkan anak-anak (yang menjadi korban), bantulah mereka untuk keluar dari permasalahan mereka (material maupun moril).

Referensi: (Komnas PA, Media Indonesia, Suara Merdeka, dan Kompas)

27 Tanggapan leave one →
  1. 2009 Juni 20

    memang dizaman sekarang sangaat rentan,terutama dikalangan remaja.
    saya sangat prihatin jg ttg pergaulan para remaja sekarang.krn saya lihat apabila mereka pcran selalu saja di bumbui dgn sex for example:ciuman.
    mrka tdk thu bhwa ciuman itu adalah hal permulaan mrk melakukan hubungan sex yg berlebihan sehinng trjd MBA(MARRIED BY ACCIDENT).

  2. 2009 Juni 23

    ini smua dikarenakan kurangnya pendidikan agama… mereka smata2 hanya belajar ilmu non agama,, mreka branggapan bahwa dengn ilmu dunia dapat memajukan negri inì,, tpì lihat hasilny… betpa mngerikan haslny, bukan kemjuan yg kita peroleh tp kebobrokan moral bangsa kita yg kita peroleh. generasi muda kita hancur, padahal tulang punggung negara kita yang akan datang adalah para pemuda,remaja… sudah seharusnya kita kembali pada pancasìla yang mengajarkan nilai berbudi pekerti yang luhur, kita juga harus menanamkan kembali norma2 kesusilaan, kesopanan dan agama. kita harus bangun kembali bangsa kita yang telah “hancur” inì.

  3. 2009 Juli 2
    siti90 permalink

    utk cmua yg bglar rmja 2 igt la bhwa dunia nie bkn mlik kt n kt akn kmbli pdny bla2 ja,mmg ms nie la kt nk knl dunia tp igt la tlajak perahu blh brundur trlajak prbuatan…kt yg binasa…cinta 2 mmg indah tp xsmestinya kt kena serahkn sglanykan…….sy pun remja n penglman byk mengajar sy erti khdpn n erti percintaan…..

  4. 2009 Juli 3
    andienchandra permalink

    @donna : SETUUJUUU !!! Hahahahhaaaaaa…

  5. 2009 Oktober 9

    kemajuan dan kecepatan teknologi memang mempercepat pola pikir remaja masa kini, dan tentunya orang tua tidak mungking melarang mereka mengikutinya
    ada hal yang penting dilakukan oleh orang tua pada remaja:
    1. buatlah remaja nyaman di rumah dan menjadi sahabat bagi orang tua .
    2. dampingi mereka dalam menyelesaikan masalah yang menurut mereka itu sangat kelik jangan malah di marahi terlalu banyak.
    3. pendidikan psikologi semasa remaja harus diperkenalkan
    dll

  6. 2009 Oktober 16
    mrs.z permalink

    saya hal remaja ini belaku mungkin disebab kan faktor keluarga,rakan dan teknologi didalam zaman sekarang ni,

  7. 2009 Oktober 22
    aba permalink

    Menurut gue sich gak SULIT. kan familiarnya buah itu jatuh gak jauh dari pohonnya, jadi kalo mau anak kita baik n benar, lach kita sebagai ortu juga harus getoch, jadi anak bisa liat contoh. jangan, egois kali jadi orang tua, manusia mana yang gak suka yang enak2. cuma bedanya , yang satu mikir sebelum bertindak yang satu hajar aja ach, resiko belakangan. nach disitu peran orang tua, insy…

  8. 2009 November 6
    sayasukabaca permalink

    cuman satu yg mw saya katakan
    “we’re all living in amerika”
    keterbukaan jaringan komunikasi dan internet pastilah salah satu faktor dibalik semua ini
    bnr yg dikatakan seseorang kpd saya beberapa tahun lalu
    bahwa dimasa labil nya (remaja), gampang terpengaruh dgn artefak luar (film, musik, lifestyle, internet, delele)
    sungguh ironis..negara seperti Indonesia yg mengklaim dirinya bebas dr segala ini hal ini (UU ITE, anti-pornografi dan segalanya itu) belum bisa bebas dr masalah spt ini.

Lacak Balik & Ping Balik

  1. 6 Situs Porno yang Paling Banyak diakses di Indonesia « Intipaku’s Blog
  2. 6 situs bokep porno yang paling banyak dikunjungi « free software and antivirus bLog

Tinggalkan Balasan

Note: You can use basic XHTML in your comments. Your email address will never be published.

Berlangganan umpan komentar ini melalui RSS