Lanjut ke konten

Ali Alatas : Biografi Sang Diplomat

Desember 11, 2008

Ali Alatas

Ali Alatas lahir 4 November 1932 di Jakarta. Ia meniti karirnya sejak 22 tahun sebagai diplomat di Sekretaris II Kedubes RI di Bangkok. Alumni Fakultas Hukum UI 1956 dan Akademi Dinas Luar Negeri ini sejak kecil bercita-cita ingin menjadi pengacara.
Mendiang Ali Alatas adalah salah satu diplomat handal Indonesia. Namanya tidak akan terlupa karena setiap kabinet Pembangunan era Soeharto selalu muncul namanya sebagai Menteri Luar Negeri dari 1987-1999. Karena kepiawaiannya dalam diplomasi Internasional, Beliau pernah didominasikan menjadi Sekjen PBB oleh sejumlah negara Asia tahun 1996.
Berbagai jabatan yang membidangin masalah luar negeri ia emban, hingga Ali Alatas dipercaya menjadi Wakil Tetap RI di PBB- Jenewa (1976-1978), Sekretaris Wakil Presiden (1978-1982), Wakil Tetap Indonesia di PBB, New York (1983-1987), dan menjadi Menteri Luar Negeri (1987-1999) di masa Soeharto dan Habibie.
Selesai tugas menjalankan misi sebagai Menteri Luar Negeri, di setiap era pemerintahan setelah Habibie, Ali Alatas dipercaya sebagai sebagai Penasehat Menteri Luar Negeri (Gusdur), Penasihat Presiden untuk Urusan Luar Negeri (Megawati), dan Ketua Dewan Pertimbang Presiden (SBY). Surat kabar utama Thailand, The Nation, memuji mantan Menteri Luar Negeri Ali Alatas, sebagai negarawan besar Asia terutama karena inisiatif-inisiatif diplomatiknya yang brilian di Kamboja dan perjuangannya memoles citra Indonesia ketika Insiden Santa Cruz di Timor Timur mencoreng pencapaian diplomasi RI yang fenomenal saat itu.

Kepergian Sang Diplomat Ulung
Almarhum Ali Alatas meninggal di Rumah Sakit Mount Elizabeth, Singapura, pada 11 Desember 2008 pagi pada usia 76 tahun karena terkena serangan jantung. Jenazah tiba di Bandara Soekarno-Hatta disambut oleh Menko Polhukam, Mensesnge, Menlu Hassan Wirajuda, dan anggota Wanpimpres.
Kepergian Ali Alatas meninggalkan duka mendalam bagi rakyat Indonesia maupun berbagai negara sahabat karena jasa-jasanya. Pemimpin dan duta besar negara-negara turut  menyatakan bela sungkawa atas kepergiannya. Jenazah dimakamkan secara militer di Taman Pahlawan Kalibata-Jakarta. Selamat Jalan…Sang Diplomat…Terima kasih atas pengabdiannya…..

Karir (alm) Ali Alatas, SH

- Korektor Harian Niewsgierf (1952-1952)
- Redaktur Kantor Berita Aneta (1953-1954)
- Sekretaris II Kedutaan Besar RI di Bangkok (1956-1960)
- Direktur Penerangan dan Hubungan Kebudayaan Departemen Luar Negeri (1965-1966)
- Konselor Kedutaan Besar RI di Washington (1966-1970)
- Direktur Penerangan Kebudayaan (1970-1972)
- Sekretaris Direktorat Jenderal Politik Departemen Luar Negeri (1972-1975)
- Staf Ali dan Kepala Sekretaris Pribadi Menteri Luar Negeri (1975-1976)
- Wakil Tetap RI di PBB, Jenewa (1976-1978)
- Sekretaris Wakil Presiden (1978-1982)
- Wakil Tetap Indonesia di PBB, New York (1983-1987)
- Menteri Luar Negeri (1987-1999)
- Penasihat Presiden untuk Urusan Luar Negeri (2001-2004)
- Utusan khusus Sekjen PBB, di Myanmar (2005)
- Ketua Dewan Pertimbang Presiden (2004 – 2008)

Jasa-Jasa Besar (alm) Ali Alatas bagi Indonesia dan Internasional:
– Mewakili Indonesia untuk berbagai diplomasi tingkat tinggi  seperti PBB, OKI, APEC, OPEC, sampai Gerakan Non-Blok sejak 1960-an.
– Mampu meredam dan memperbaiki citra Indonesia setelah terjadinya  insiden  Santa Cruz di Timor Timur yang menewaskan puluhan orang pada 12 November 1991.
– Berhasil meyakinkan pihak bertikai di Kamboja untuk berunding pada Juli 1988 di Istana Bogor.
– Memperjuangkan Piagam Asean atau ASEAN Charter (Perjuangannya hampir terwujud. Saat ini, DPR sedang meratifikasi Piagam ASEAN untuk disesahkan menjadi UU)
– Anggota EPG yang mampu mengikis salah paham, salah persepsi dan kecurigaan antar negara Indonesia-Malaysia.

Ali Alatas Lebur dalam Sejarah ASEAN

Awan gelap disertai gerimis menyelimuti Bandara Soekarno-Hatta Tangerang, Banten ketika Kamis sore (11/12) pesawat Garuda Indonesia 869 rute Singapura-Jakarta mendarat membawa jenazah salah seorang putra terbaik yang pernah dimiliki Asia Tenggara.

Sore ini memang bukan pertama kalinya Jakarta diguyur hujan seharian, namun suasana kelabu akibat mendung yang menggantung terasa lain dari biasanya karena disertai wajah-wajah sendu sejumlah menteri Kabinet Indonesia Bersatu dipimpin Menteri Luar Negeri Hassan Wirayuda, yang sore itu khusus berada di ruang VIP terminal I-B guna menyambut jenazah Ali Alatas.

Dilahirkan di Jakarta 76 tahun lalu, penerima anugerah Bintang Mahaputra Adipradana itu akhirnya menutup mata untuk selamanya di salah satu rumah sakit bergengsi di Singapura, saat 600an juta warga ASEAN hendak memulai aktivitasnya, pada pukul 07.30 waktu Singapura.

Selama puluhan tahun berkarir sebagai diplomat ulung, ayah tiga anak itu melawat ke Singapura dengan setumpuk agenda ASEAN di bahunya. Namun pada 24 Nopember 2008, dia terpaksa dirujuk ke Singapura setelah menjalani perawatan di sebuah rumah sakit di Jakarta sejak 20 Nopember 2008.

Ali Alatas tampak “lebih besar” dari Asia Tenggara atau ASEAN, sementara kiprahnya di kancah internasional adalah daftar panjang yang mungkin sulit ditandingi siapapun.

Ali Alatas telah malang melintang dalam setiap komposisi tim diplomasi Indonesia untuk beragam acara –mulai PBB, OKI, APEC, OPEC, sampai GNB– sejak 1960an hingga akhir hayatnya manakala Presiden Susilo Bambang Yudhoyono mempercayainya sebagai Ketua Dewan Pertimbangan Presiden dan salah seorang anggota delegasi “kelompok pakar” (EPG) Indonesia-Malaysia yang bertugas menghilangkan “kerikil” dalam hubungan baik kedua negara serumpun itu.

Berbicara ASEAN tanpa menyebut Ali Alatas bagai sayur tanpa garam, sehingga berita meninggalnya diplomat senior Indonesia itu yang hanya empat hari menjelang pengesahan pemberlakukan Piagam ASEAN pada 15 Desember 2008, meninggalkan kisah sedih bagi ASEAN.

Suatu kisah yang sedikit ironis mengingat Ali tidak hanya tokoh kunci dibalik “reformasi” ASEAN dari organisasi yang berbasis elite menjadi organisasi berbasis rakyat, namun juga saksi sejarah panjang pembentukan Perhimpunan Bangsa-Bangsa Asia Tenggara itu.

Dalam perayaan hari ulang tahun ke-41 ASEAN 8 Agustus lalu, Sekretaris Jenderal ASEAN Surin Pitsuwan dengan penuh hormat memberikan potongan kue pertama kepada diplomat senior yang mantan wartawan itu, diiringi tepukan tangan dan tatapan kagum para diplomat muda Asia Tenggara yang memadati Gedung Kesenian Jakarta (GKJ).

Bukan hanya karena Alex –panggilan akrabnya– menghabiskan dua tahun terakhir menggodok embrio dari Piagam ASEAN, suatu payung hukum yang telah dinantikan ASEAN selama 40 tahun namun juga karena romantisme masa lalu yang tak dapat diingkari para diplomat ASEAN.

Percaya atau tidak, Ali Alatas yang malam itu empatpuluh tahun lalu mengenakan jas berwarna gelap didampingi istri tercinta, juga hadir dalam kesempatan sama –untuk mendamping Menlu Adam Malik– ketika lima menteri luar negeri ASEAN menandatangani perjanjian bersejarah yang kemudian mengikat negara-negara Asia Tenggara menjadi satu “keluarga besar” di Bangkok.

Puluhan diplomat muda dari 10 negara ASEAN yang saling bersulang merayakan ulang tahun ASEAN boleh jadi tidak pernah berpikir bahwa malam itu adalah ulang tahun terakhir ASEAN bersama “sesepuh” ASEAN itu.

Semua pihak tentu masih berharap akan terus dapat menikmati tidak hanya senyum Alex ketika bercanda dengan Hun Lakorn Le (wayang Thailand) yang menggodanya dalam pegelaran seni “Best of ASEAN Performing Arts II” itu, tapi juga nasihatnya untuk semua kemelut di kawasan Asia Tenggara.

Bahwa di masa mendatang ASEAN tidak bisa lagi bersandar pada ide-ide besar yang dimiliki pria kelahiran 4 November 1932 itu sudah tentu merupakan kehilangan besar bagi ASEAN mengingat ASEAN akan memasuki “hidup baru” dengan Piagam ASEAN.

Tapi bahwa sebelum berpulang Ali Alatas telah memberikan Piagam ASEAN sebagai “kado” terakhir yang menjadi pondasi baru bagi para penerusnya dalam menjaga keutuhan “keluarga besar,” sudah pasti itu satu bukti komitmen besarnya untuk ASEAN.

Masih lekat di benak sejumlah orang yang berhubungan dekat dengannya bagaimana bersemangatnya Ali dalam perundingan-perundingan panjang menyusun embrio Piagam ASEAN di kawasan Ubud, Bali, sebagai salah satu anggota EPG Indonesia.

Ali Alatas diusianya yang ke 74 saat itu masih sangat sehat untuk memimpin para diplomat muda bernegosiasi mengenai cikal bakal aturan hukum yang akan mengikat 10 negara anggota ASEAN.

Tokoh yang dikenal ramah itu hampir tidak pernah terlihat lelah setiap kali keluar dari ruang perundingan.

“Ada apa lagi?”

Begitu selalu sapanya, setiap kali menyaksikan puluhan wartawan baik lokal maupun asing menyerbunya dengan pertanyaan-pertanyaan yang berkutat pada “akankah ASEAN memiliki suatu mekanisme HAM tersendiri”.

Bukan rahasia lagi jika, perlindungan HAM adalah salah satu titik lemah ASEAN yang memberi citra tidak bagus bagi organisasi itu di kancah internasional. Memburuknya kasus perlindungan HAM di Myanmar adalah salah satu sasaran empuk pihak barat untuk mempertanyakan eksistensi ASEAN.

Pada saat itu, sekalipun tidak secara terbuka menyatakan ASEAN akan memiliki suatu badan HAM, tapi Ali Alatas dengan optimis mengatakan ASEAN bukan jenis organisasi yang menomorduakan perlindungan HAM.

Dan sebuah senyum yang selalu menghiasi wajah Ali Alatas dalam setiap pertanyaan menyudutkan tentang memburuknya kondisi di Myanmar, seakan menjadi satu pertanda terwujudnya sesuatu yang awalnya dinilai sangat sulit dilakukan Asia Tenggara. Sesuatu hal itu bernama Badan HAM ASEAN. Suatu hal yang mencengangkan sejumlah pihak.

“Diplomasi itu seperti bermain kartu. Jangan tunjukkan semua kartu kepada orang lain. Dan jatuhkan kartu itu satu per satu.” Itu adalah sebaris kalimat bijak Ali Alatas yang mungkin menjadi rahasia di balik setiap optimismenya dalam menghadapi nada-nada pesimistis pada perjuangan diplomasi.

Mantan Menlu Indonesia periode 1988-1999 itu sesungguhnya bukan satu-satunya orang yang disebut “tokoh ulung” ASEAN dalam kelompok yang menamakan dirinya sebagai EPG ASEAN untuk menyusun rekomendasi Piagam ASEAN, namun tanpa mengecilkan kontribusi para tokoh ulung yang lain, pendapat seorang Ali Alatas mengenai satu batu sandungan penting bagi ASEAN sudah tentu perlu untuk didengar.

Optimisme Ali Alatas pada masa depan ASEAN dengan pengesahan Piagam ASEAN bahkan masih terungkap pada Juli 2008 lalu saat ia menghadiri diskusi pakar bertema “The Road to Ratification and Implementation of the ASEAN Charter: Its Strengths and Weaknesses”, yang diselenggarakan The Habibie Center dan ASEAN Studies Center, Institut Studi Asia Tenggara (ISEAS).

“Kekurangan dalam Piagam ASEAN bisa sambil jalan diperbaki,” katanya tanpa mampu menyembunyikan binar optimisme dibalik lensa kacamatanya.

Pada 15 Desember 2008, sepuluh Menlu ASEAN –Indonesia, Thailand, Malaysia, Singapura, Filipina, Brunei, Kamboja, Vietnam, Laos, dan Myanmar– akan berkumpul di Sekretariat ASEAN Jakarta untuk mensahkan pemberlakuan piagam yang semula diragukan akan betul-betul dapat disahkan sesuai rencana penghujung 2008 mengingat hingga medio November tiga negara kunci –Filipina, Indonesia dan Thailand– masih juga belum mendepositkan instrumen ratifikasi kepada Sesjen ASEAN dan memburuknya krisis politik di Thailand –ketua ASEAN periode 2008-2009– yang berakibat pada tertundanya penyelenggaraan pertemuan puncak ke-14 ASEAN di Chiang Mai.

Suatu peristiwa bersejarah bagi ASEAN yang sayangnya harus dilewatkan oleh seorang Ali Alatas, yang telah mencurahkan masa-masa terbaiknya demi kelangsungan keluarga besar ASEAN. Dan dengan segala tantangan yang menghadang –diantaranya krisis politik Thailand, macetnya peta jalan demokrasi Myanmar, sengketa Preh Vihear Thailand-Kamboja– di bawah bayang-bayang ancaman krisis keuangan global, ASEAN harus menyongsong masa depan tanpa pernah lagi dapat mendengar pendapat dari salah seorang “tokoh ulung”-nya.

Empat puluh satu tahun Ali Alatas menjadi pelaku sekaligus saksi sejarah perjalanan panjang dan jatuh bangun ASEAN.  Kini, tiba saatnya “singa tua” itu beristirahat untuk kemudian menjadi bagian dari catatan sejarah ASEAN itu sendiri sebagaimana pendahulunya yang tak kalah besar, Adam Malik.

Sumber : antara

ech – 11 Desember 2008

About these ads
5 Komentar leave one →
  1. Maret 11, 2009 2:07 PM

    its good writing
    saya cukup senang dengan tulisan-tulian tentang tokoh ataupun pejabat diplomatik.
    saya berharap berbagai tulisan baik mengenai tokoh maupun tips dan trik menjadi seorang diplomat lebih sering dimuat dihalaman ini. sehingga kesempatan untuk menjadi diplomat terbuka lebar untuk semua warga negara indonesia diseluruh penjuru tanah air.

  2. adhiT permalink
    Maret 12, 2009 7:16 PM

    saLut unTuk sang mantan mentri luar negri RI bpk ali alaTas,,jasa2 mu cukup disebuT sebagai pahLawan bangsa..(^_^)..mudah2an saya bisa seperTi bpk Alm ali alatas..menjadi menTri luar negri berikuTnya..”AMIN”!!,,

  3. re_Nhiy permalink
    Maret 19, 2009 2:38 PM

    aq bangga baNget sama diplomat Ne cZ Bpk Ali Alatas wd berhasil membuat bangsa ini patut di kenang……………………………………………………..selamat jalan pahlawan kami………………………………………….!!

  4. Rosanti P. permalink
    Januari 2, 2012 4:30 PM

    Semoga perjuangan beliau dapat menjadi contoh untuk para menlu dan pejuang diplomasi Indonesia di periode mendatang. Semoga juga suatu saat kelak, Indonesia bisa memiliki Mentri Luar Negri wanita yang handal,sehingga makin menyatakan bahwa emansipasi wanita Indonesia semakin baik:)

  5. BAGINDA permalink
    Oktober 19, 2012 9:41 PM

    insyaallah aku akan mengikuti karir bapak ..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 1.015 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: